- Beranda
- Stories from the Heart
Jelaga - Sehitam yang Rasanya Tidak Biasa
...
TS
robotpintar
Jelaga - Sehitam yang Rasanya Tidak Biasa

Bahkan Putih Pun Sudah Seperti Jelaga
"Marsal!"Petugas memanggil namaku asal-asalan.
Gua berdiri dan mendekat ke arah petugas sipir yang menatap ke arah lembaran kertas di atas meja kerjanya. Dengan kacamata baca yang turun hingga ke hidungnya, ia menatapku, lalu tersenyum.
"Tanda tangan" Ucapnya seraya menyerahkan lembaran kertas dari tangannya dan sebuah pulpen.
Gua meraih pulpen itu dan membubuhkan tanda tangan pada bagian bawah lembaran kertas, kemudian mengembalikannya ke petugas tadi.
Ia menerima kertas tersebut, memasukkannya ke dalam sebuah map berwarna hijau dan menumpuknya dengan map-map lain yang memiliki warna yang sama. Dengan gerakan yang lambat dan ogah-ogahan, petugas itu menarik laci, mengeluarkan map plastik transaparan yang di dalamnya terlihat beberapa lembar kertas.
"Nih..." Ucapnya seraya menggeser map transparan tersebut ke arah gua.
"Ada yang jemput, Sal? Nggak ada ya?" Tanya si petugas sambil mencari-cari sesuatu dari laci meja kerjanya.
Belum sempat gua menjawab pertanyaannya, ia lalu menyodorkan sebuah kartu nama. Gua meraih kartu nama tersebut, kartu nama berbahan kertas Ivory yang terlihat murahan. Gua mengernyitkan dahi dan mulai membaca tulisan pada kartu tersebut.
'Jaya Teknik' Gua membaca tulisan paling besar pada kartu tersebut, disusul informasi nomor telepon dan alamat di bagian bawahnya.
"Kang Jaya?" Tanya gua ke petugas itu.
"Iya. Kamu kesana aja, biasanya anak-anak yang baru 'keluar' diajak kerja sama dia" Tambah si petugas sambil tetap menatap ke arah gua.
"Oh..." Gua memberi respon singkat.
Petugas itu berdiri, mengulurkan tangannya. Gua menyambut dan menjabat tangannya.
"Hati-hati ya, Sal. Pokoknya jangan sampe kamu balik kesini lagi" Ucapnya, masih sambil menjabat tangan gua.
"Iya Pak Didi" Jawabku, kemudian bersiap pergi.
Sementara aku pergi, terdengar Pak Didi kembali memanggil nama lain. Seorang petugas menghampiri, membimbing gua melewati lorong berliku yang berpagar tinggi. Hingga akhirnya, kami tiba di sebuah pintu besi berukuran besar. Petugas itu, menekan tombol pada sisi pintu, menimbulkan bunyi meraung keras disusul suara 'cklek' dan pintu otomatis terbuka.
Petugas itu membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan gua untuk keluar.
---
Spoiler for Prolog:
Sebuah ruangan dengan atap tinggi, tanpa dinding dan riuh rendah dari para pengunjung yang tengah mengantri untuk membesuk keluarganya ditambah kerasnya pengumuman dari pelantang suara di ruang semi terbuka itu menyambut gua.
Beberapa mata langsung tertuju ke arah gua. Mungkin aneh melihat ada yang keluar dari pintu besar berukuran tebal itu. Dengan mengabaikan pandangan orang-orang, gua terus melangkah, menuju ke halaman gedung.
Dengan sebuah plastik berwarna merah berisi pakaian seadanya, dan map transparan yang diberikan oleh Pak Didi tadi, gua melangkahkan kaki keluar dari area bangunan itu, untuk pertama kalinya dalam 8 tahun.
Gua menyusuri jalan kecil yang mengubungkan bangunan ini dengan jalan utama yang berada di ujung sana. Sepanjang jalan terdapat beberapa tempat makan sederhana dan warung-warung kopi yang mungkin menjadi tempat para petugas makan dan beristirahat.
Di ujung jalan, terlihat sebuah gapura besar yang terbuat dari batang-batang besi. Pada bagian atasnya nampak motto; "Pasti Baik" dengan tulisan 'Lembaga Pemasyarakatan' di bagian bawahnya. Beberapa tukang ojek pangkalan langsung bersiul begitu melihat kehadiran gua, mencoba menawarkan jasanya.
Gua mengangkat tangan sambil menggeleng, memberi kode dengan cara sesantun mungkin untuk menolak tawaran mereka. Entah mungkin karena nggak ngerti kode yang gue berikan atau memang gigih, mereka tetap menawarkan jasanya. Malah kali ini lebih brutal, mereka menyalakan mesin motor dan langsung mengendarainya mendekat ke arah gua; "Ayok ojek Mas".
"Nggak mas, makasih"Gua menjawab, sambil kembali mengangkat tangan, kemudian melanjutkan langkah.
Akhirnya karena terus dipaksa, gua naik ke boncengan si abang tukang ojek itu. 'Ya emang rejeki dari kegigihannya' Gua membatin dalam hati.
"Kemana?" Tanyanya.
"Terminal" Gua menjawab singkat.
"Siap" Ia langsung memacu sepeda motornya.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya si tukang ojek ini mengajak gua bicara. "Abis besuk siapa? sodara? temen?" Tanyanya.
"Nggak, bukan" Gua menjawab singkat.
"Lah terus ngapain ke lapas?" Tanyanya lagi.
"Gua baru keluar"
"Hah?" Dari nada suaranya terdengar si tukang ojek ini sedikit terkejut. Nggak hanya nada suaranya yang terdengar kaget. Begitu mendengar jawaban gua barusan, sontak ia juga langsung melambatkan laju sepeda motornya.
"Situ Napi?" Tanyanya lagi.
"Bekas" Gua mengoreksi pertanyaanya barusan.
Sejak saat itu, si tukang ojek nggak pernah lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain. Ia hanya diam dan fokus pada jalanan.
"Ngojek deket lapas, emang nggak pernah bawa penumpang bekas napi?" Tanya gua memecah keheningan.
Si Tukang ojek menggelengkan kepala.
"Biasanya mah, yang keluar dari lapas di jemput sama keluarganya. Langganan ojek saya kebanyakan orang yang besuk" Si Tukang ojek berusaha menjelaskan.
"Oh... Pantesan"
Nggak berselang lama, kami akhirnya tiba di terminal bus. Gua turun dari goncengan sepeda motor, mengeluarkan plastik berisi gulungan uang dari saku celana jeans, bersiap untuk membayar. Namun, Si Tukang ojek sudah keburu memutar sepeda motornya dan bersiap untuk pergi.
"Eh, tunggu mas, mau kemana?" Tanya gua, berusaha memegang tangannya mencegah agar dia nggak pergi. Namun, dengan sigap ia menepisnya lalu kabur dengan kecepatan penuh.
Melihat kejadian tersebut tentu membuat gua geleng-geleng kepala, bagaimana tidak. Si Tukang ojek barusan merupakan gambaran umum dari masyarakat Indonesia. Yang punya ketakutan sebesar gunung terhadap para bekas narapidana. Atau jika terlalu 'kasar' menyebut kami sebagai bekas narapidana, mungkin bekas masyarakat binaan bisa menjadi kata ganti yang tepat.
Gua duduk di kursi bis menuju ke Jakarta. Sementara, satu persatu penumpang naik dan duduk dikursi kosong secara acak, mengabaikan nomor yang tertera pada karcis dan kursi. Riuh pedagang asongan yang bolak-balik di lorong antara kursi menjajakan dagangannya dan suara sumbang pengamen dibagian depan bus, membuat rasa kantuk yang sejak tadi hinggap kini hilang.
Cukup lama kami, para penumpang dibiarkan menunggu. Jadi, si supir bus hanya akan jalan jika semua kursi sudah terisi. Kalau masih ada yang kosong, sampai kiamat pun, bus nggak bakalan berangkat. Setelah beberapa saat, hampir semua kursi penuh, bahkan ada sebagian penumpang yang duduk di lorong antar kursi dengan menggunakan kursi plastik.
Raung mesih bus terdengar. Kami lalu perlahan melaju, meninggalkan terminal, menuju ke Jakarta.
---
Masih dengan pakaian yang sama, sambil menggenggam plastik merah, gua berdiri tepat di depan sebuah bengkel las dengan papan nama besar di bagian atas yang bertuliskan 'Jaya Teknik'.
"Sal, Marshall" Terdengar teriakan seorang pria yang samar dengan suara dentingan besi.
Gua menoleh dan mendapati Kang Jaya berdiri, melambaikan tangannya ke arah gua.
Menit berikutnya, kami berdua sudah terlibat obrolan seru di sebuah ruangan yang digunakan Kang Jaya sebagai 'kantor'nya. Di sela-sela obrolang, gua pun menyampaikan niat kedatangan gua kepadanya.
"Kang, bisa ajak gua kerja nggak?" Tanya gua.
Kang Jaya terdiam sesaat, lalu menatap ke arah gua.
"Kamu disana emang belajar nge-las?" Tanyanya.
Gua meresponnya dengan gelengan kepala.
"Terus ngambil sertifikasi apa?" Tanyanya lagi.
Gua lantas memberikan map transparan dari Pak Didi kepadanya. Ia lalu menyeka tangannya dengan ujung kaos dan dengan hati-hati mengeluarkan lembaran kertas dari Map transparan yang berisi sertifikat life skill yang gua pelajari sewatku di Lapas.
"Barista" Gumamnya, sambil menatap gua.
"Iya kang"
"Barista mau jadi tukang las?" Tanyanya.
"Gua mau belajar dulu kok, bantu angkat-angkat besi, ngapain kek..." Jawab gua, dengan nada memohon.
Kang Jaya menghela nafas panjang, kemudian meraih ponselnya dari atas meja.
"Saya ada temen yang baru aja ngambil alih kedai kopi, Siapa tau masih butuh barista. Mau?" Tanyanya.
Gua langsung mengangguk. "Mau!"
Kang Jaya lalu tersenyum dan mulai melakukan panggilan melalui ponselnya.
Beberapa mata langsung tertuju ke arah gua. Mungkin aneh melihat ada yang keluar dari pintu besar berukuran tebal itu. Dengan mengabaikan pandangan orang-orang, gua terus melangkah, menuju ke halaman gedung.
Dengan sebuah plastik berwarna merah berisi pakaian seadanya, dan map transparan yang diberikan oleh Pak Didi tadi, gua melangkahkan kaki keluar dari area bangunan itu, untuk pertama kalinya dalam 8 tahun.
Gua menyusuri jalan kecil yang mengubungkan bangunan ini dengan jalan utama yang berada di ujung sana. Sepanjang jalan terdapat beberapa tempat makan sederhana dan warung-warung kopi yang mungkin menjadi tempat para petugas makan dan beristirahat.
Di ujung jalan, terlihat sebuah gapura besar yang terbuat dari batang-batang besi. Pada bagian atasnya nampak motto; "Pasti Baik" dengan tulisan 'Lembaga Pemasyarakatan' di bagian bawahnya. Beberapa tukang ojek pangkalan langsung bersiul begitu melihat kehadiran gua, mencoba menawarkan jasanya.
Gua mengangkat tangan sambil menggeleng, memberi kode dengan cara sesantun mungkin untuk menolak tawaran mereka. Entah mungkin karena nggak ngerti kode yang gue berikan atau memang gigih, mereka tetap menawarkan jasanya. Malah kali ini lebih brutal, mereka menyalakan mesin motor dan langsung mengendarainya mendekat ke arah gua; "Ayok ojek Mas".
"Nggak mas, makasih"Gua menjawab, sambil kembali mengangkat tangan, kemudian melanjutkan langkah.
Akhirnya karena terus dipaksa, gua naik ke boncengan si abang tukang ojek itu. 'Ya emang rejeki dari kegigihannya' Gua membatin dalam hati.
"Kemana?" Tanyanya.
"Terminal" Gua menjawab singkat.
"Siap" Ia langsung memacu sepeda motornya.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya si tukang ojek ini mengajak gua bicara. "Abis besuk siapa? sodara? temen?" Tanyanya.
"Nggak, bukan" Gua menjawab singkat.
"Lah terus ngapain ke lapas?" Tanyanya lagi.
"Gua baru keluar"
"Hah?" Dari nada suaranya terdengar si tukang ojek ini sedikit terkejut. Nggak hanya nada suaranya yang terdengar kaget. Begitu mendengar jawaban gua barusan, sontak ia juga langsung melambatkan laju sepeda motornya.
"Situ Napi?" Tanyanya lagi.
"Bekas" Gua mengoreksi pertanyaanya barusan.
Sejak saat itu, si tukang ojek nggak pernah lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain. Ia hanya diam dan fokus pada jalanan.
"Ngojek deket lapas, emang nggak pernah bawa penumpang bekas napi?" Tanya gua memecah keheningan.
Si Tukang ojek menggelengkan kepala.
"Biasanya mah, yang keluar dari lapas di jemput sama keluarganya. Langganan ojek saya kebanyakan orang yang besuk" Si Tukang ojek berusaha menjelaskan.
"Oh... Pantesan"
Nggak berselang lama, kami akhirnya tiba di terminal bus. Gua turun dari goncengan sepeda motor, mengeluarkan plastik berisi gulungan uang dari saku celana jeans, bersiap untuk membayar. Namun, Si Tukang ojek sudah keburu memutar sepeda motornya dan bersiap untuk pergi.
"Eh, tunggu mas, mau kemana?" Tanya gua, berusaha memegang tangannya mencegah agar dia nggak pergi. Namun, dengan sigap ia menepisnya lalu kabur dengan kecepatan penuh.
Melihat kejadian tersebut tentu membuat gua geleng-geleng kepala, bagaimana tidak. Si Tukang ojek barusan merupakan gambaran umum dari masyarakat Indonesia. Yang punya ketakutan sebesar gunung terhadap para bekas narapidana. Atau jika terlalu 'kasar' menyebut kami sebagai bekas narapidana, mungkin bekas masyarakat binaan bisa menjadi kata ganti yang tepat.
Gua duduk di kursi bis menuju ke Jakarta. Sementara, satu persatu penumpang naik dan duduk dikursi kosong secara acak, mengabaikan nomor yang tertera pada karcis dan kursi. Riuh pedagang asongan yang bolak-balik di lorong antara kursi menjajakan dagangannya dan suara sumbang pengamen dibagian depan bus, membuat rasa kantuk yang sejak tadi hinggap kini hilang.
Cukup lama kami, para penumpang dibiarkan menunggu. Jadi, si supir bus hanya akan jalan jika semua kursi sudah terisi. Kalau masih ada yang kosong, sampai kiamat pun, bus nggak bakalan berangkat. Setelah beberapa saat, hampir semua kursi penuh, bahkan ada sebagian penumpang yang duduk di lorong antar kursi dengan menggunakan kursi plastik.
Raung mesih bus terdengar. Kami lalu perlahan melaju, meninggalkan terminal, menuju ke Jakarta.
---
Masih dengan pakaian yang sama, sambil menggenggam plastik merah, gua berdiri tepat di depan sebuah bengkel las dengan papan nama besar di bagian atas yang bertuliskan 'Jaya Teknik'.
"Sal, Marshall" Terdengar teriakan seorang pria yang samar dengan suara dentingan besi.
Gua menoleh dan mendapati Kang Jaya berdiri, melambaikan tangannya ke arah gua.
Menit berikutnya, kami berdua sudah terlibat obrolan seru di sebuah ruangan yang digunakan Kang Jaya sebagai 'kantor'nya. Di sela-sela obrolang, gua pun menyampaikan niat kedatangan gua kepadanya.
"Kang, bisa ajak gua kerja nggak?" Tanya gua.
Kang Jaya terdiam sesaat, lalu menatap ke arah gua.
"Kamu disana emang belajar nge-las?" Tanyanya.
Gua meresponnya dengan gelengan kepala.
"Terus ngambil sertifikasi apa?" Tanyanya lagi.
Gua lantas memberikan map transparan dari Pak Didi kepadanya. Ia lalu menyeka tangannya dengan ujung kaos dan dengan hati-hati mengeluarkan lembaran kertas dari Map transparan yang berisi sertifikat life skill yang gua pelajari sewatku di Lapas.
"Barista" Gumamnya, sambil menatap gua.
"Iya kang"
"Barista mau jadi tukang las?" Tanyanya.
"Gua mau belajar dulu kok, bantu angkat-angkat besi, ngapain kek..." Jawab gua, dengan nada memohon.
Kang Jaya menghela nafas panjang, kemudian meraih ponselnya dari atas meja.
"Saya ada temen yang baru aja ngambil alih kedai kopi, Siapa tau masih butuh barista. Mau?" Tanyanya.
Gua langsung mengangguk. "Mau!"
Kang Jaya lalu tersenyum dan mulai melakukan panggilan melalui ponselnya.
Diubah oleh robotpintar 10-06-2024 21:29
bukanrangerpink dan 219 lainnya memberi reputasi
220
415.4K
Kutip
4.6K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#2581
Part 94 B - Thank you
Spoiler for Part 94 B - Thank you:
Gua meraih ponsel yang tergeletak di lantai basement; Layarnya retak.
Entah kena kutukan apa. Semenjak keluar dari penjara, semenjak mengenal teknologi ponsel pintar, semenjak mengenal perempuan bertabiat ekspresif, sudah dua kali ponsel gua dibanting.
Sementara, rekan-rekan yang lain, yang semenjak tadi menyaksikan ‘keributan’ kami berdua hanya mampu memberi tatapan sambil menjaga jarak. Nggak ada satupun yang berani mendekat, mungkin merasa takut mengganggu perasaan dan emosi gua.
Masih menggenggam ponsel yang layarnya retak, gua menatap ke arah mereka lalu tersenyum. “Retak…” Gumam gua pelan, seraya menunjukkan layar ponsel ke arah mereka. Nggak semuanya membalas senyum gua, beberapa diantaranya malah mengernyitkan dahi, mungkin merasa aneh melihat orang kayak gua yang masih bisa-bisanya tersenyum padahal habis bertengkar dan ponselnya rusak.
Ya namanya juga gua.
Malamnya, gua duduk di lantai balkon, bersandar pada kaca jendela besar sambil menatap ke arah layar ponsel yang retak, yang menampilkan detail kontak Aldina. Entah sudah berapa kali gua sudah mencoba menghubunginya dan nggak ada jawaban. Gua lalu beralih ke aplikasi pesan dan mengirimnya pesan. Ini juga pesan pertama gua, sebelumnya gua sudah mengirimnya beberapa pesan dan nggak ada balasan.
Gua meletakkan ponsel di lantai, lalu menatap langit yang gelap dan hitam sambil sesekali menghisap rokok kemudian memainkan asapnya yang langsung hilang ditelan angin.
Ponsel berdering. Gua buru-buru meraihnya, menyipitkan mata, kesulitan membaca nama yang tertera di layar yang retak. Tata.
“Ck” Gua berdecak pelan, lalu menjawab panggilannya.
“Halo…” Sapa gua.
“Halo, sal…” Tata membalas sapaan gua dari ujung sana.
“Kenapa?”
“Jadi nggak?” Tanyanya.
Gua menepuk dahi, baru teringat kalau malam ini gua sudah sepakat untuk bertemu dengannya.
“Bisa besok aja nggak, Ta. Gua lagi males banget nih..” Ucap gua, mencoba menghindari pertemuan dengannya. Rasa-rasanya malam ini gua sudah lelah hati untuk bertemu.
“Yah, kamu mah, gimana sih… Aku udah mau berangkat” Jawabnya.
Gua menghela nafas dalam-dalam, lalu bicara; “Yaudah, mau ketemu dimana?”
“Ditempat yang waktu itu gimana?” Tanyanya meminta pendapat gua.
Ucapannya merujuk ke kedai kopi mahal yang berada di sebuah mall dengan area terbuka.
“Yaudah…” Jawab gua, lalu mengakhiri panggilan.
Gua menghabiskan rokok dan kopi, lalu masuk ke dalam untuk berganti pakaian dan bergegas pergi.
Nggak lama berselang, gua sudah tiba di tempat janji temu kami. Alih-alih langsung masuk dan memesan kopi ke kedai, gua malah duduk di salah satu kursi kayu yang berada di common area tepat di depan kedai. Sengaja menunggu disini karena nggak mau bertemu dengannya di kedai kopi, takut nyaman dan nanti malah keterusan menghabiskan waktu terlalu lama dengannya.
Notifikasi pesan muncul di layar ponsel gua. Sebuah email yang pengirimnya adalah nyokap. Gua membuka email tersebut, menampilkan Pass code berbentuk QR yang dari informasinya adalah pass untuk bisa masuk ke acara mini konser eksklusif Sheila on 7. Menyusul masuk notifikasi pesan dari nyokap; ‘Sal, e-pass nya udah Mamah kirim by email ya. Nanti masuknya tinggal scan aja’
‘Ok, Makasih ya Mah’ Balas gua.
Tanpa gua sadari, Tata sudah berdiri tepat di belakang gua.
“Udah lama?” Tanyanya seraya menepuk bahu gua.
Gua berpaling, mendongak dan menatapnya; “Eh, lumayan..”
“HP kamu rusak juga?” Tanyanya sambil menunjuk ke arah layar ponsel gua, yang masih menampilkan email dari nyokap.
Tata lalu duduk di kursi yang sama dengan gua.
“Oh.. Iya, jatuh tadi” Jawab gua.
Tata merubah posisi duduknya, kini menatap ke arah gua.
“Kenapa disini? kok nggak ke kedai?” Tanyanya seraya menunjuk ke arah kedai kopi mahal dimana seharusnya kami berdua bertemu.
“Nggak, Males. Lagian tadi udah ngopi” Jawab gua.
“Ya kan mereka nggak cuma jual kopi. Ada minuman lain juga” Ucapnya, lalu mengeluarkan bungkusan rokok dari dalam tas. Mengambil sebatang dan mulai menyulutnya.
Ia lantas menyodorkan bungkusan rokok dan korek ke arah gua. Gua menyambutnya. Mengambil sebatang dan ikut menyulutnya.
“Udah langsung aja deh, Ta..”
Tata menghembuskan asap rokok ke udara, lalu mengeluarkan amplop putih berukuran kecil dari dalam tasnya dan langsung meletakkan amplop tersebut tepat diatas pangkuan gua.
“Apa nih?” Tanya gua, nggak langsung menyentuh amplop tersebut melainkan menunjuknya dengan jari tangan.
“Tadi katanya suru langsung aja. Itu duit buat ganti HP Pacar kamu…” Jelasnya.
Gua meraih amplop tersebut dan mengembalikan kepadanya, dengan meletakkan amplop tersebut di pangkuannya.
“Nggak usah. Gua tau lo cuma mau ngobrol. Ganti rugi HP cuma alasan doang kan?”
Mendengar ucapan gua barusan Tata lalu tersenyum. Ia mengambil amplop dan kembali meletakkan amplop berisi uang di pangkuan gua; “Yaudah buat ganti HP lo aja. Kebetulan rusak juga kan?” Tanyanya.
Lagi, gua mengembalikan amplop tersebut; “Nggak usah, Tata”
“Nggak mau! aku kan udah janji. Aku nggak mau ingkar” Ucapnya, lalu melempar amplop ke pangkuan gua.
Lelah, gua hanya terdiam dan nggak membalasnya.
Ia pun terdiam.
Gua lalu meraih amplop, mengembalikannya lalu berdiri dan bersiap untuk pergi. “Udah kan?” Tanya gua.
“Marshall!” Seru Tata, sesaat setelah gua melangkah pergi.
Gua nggak menggubris panggilannya dan terus berjalan.
Terdengar suara langkah kaki mendekat, Tata sepertinya mencoba mengejar gua. Ia lalu meraih lengan gua, membuat gua berbalik dan sama-sama saling menatap.
“Apa lagi, Ta? Gua capek banget” Ucap gua dengan nada memohon. Iya, gua memang capek dan lelah. Tapi bukan secara fisik, gua merasa lelah secara mental. Merasa gara-gara pesan darinya, gua dan Aldina malah jadi bertengkar. Lalu, kini gua malah bertemu dengannya. Rasanya seperti tengah berkhianat.
“Ya masak gini doang sih?” Tanyanya.
“Emang harusnya gimana?” Gua balik bertanya.
“Nggak bisa ya, kita ngobrol dulu. Just like the good old days” Ucapnya.
“...”
“... Tapi, kalo kamu emang capek. Yaudah..” Tambahnya, lalu melepas tangannya yang menggenggam lengan gua.
“...” Gua kembali berbalik dan pergi.
Tata lalu menyusul. Kini ia memposisikan dirinya tepat di sebelah gua; “... Ayo aku anter” Ucapnya.
“Nggak usah, gua naik ojek online aja” Jawab gua tanpa menatapnya.
“Katanya capek?”
“Ya gua kan naik ojek, Ta. Bukannya jalan kaki..” Jawab gua lagi.
Lalu, tiba-tiba ia meraih tangan gua dan menggenggamnya. Gua langsung berusaha melepasnya namun, Tata bergeming. Ia malah semakin mempererat genggaman tangannya.
Gua menghentikan langkah dan menatapnya. “Jangan, Ta…” Ucap gua pelan seraya menggelengkan kepala. Memohon kepadanya agar melepas genggaman tangannya. Sejatinya, gua bisa saja memaksa melepaskan genggaman tangan ini. Tapi, gua takut jadi nanti berlaku kasar kepadanya.
Tata terdiam sebentar. Kemudian perlahan mengendurkan genggaman dan melepasnya.
Gua tersenyum, lalu menepuk kepalanya dengan perlahan.
“Thank you…” Gumam gua pelan.
“Sal…”
“Ya…”
“Sampaikan maafku ke pacarmu ya…”
“Maaf atas apa?” Tanya gua.
“Karena sudah merusak ponselnya dan mungkin melukai hatinya” Ucapnya pelan.
“Iya…” Jawab gua singkat lalu pergi, meninggalkan Tata yang masih berdiri sendiri.
—
Sekembalinya gua ke apartemen, lagi, gua mencoba menghubungi Aldina dan masih belum ada jawaban. Berulang kali gua mencoba, hingga akhirnya nada sambung tak lagi terdengar, hanya suara operator yang mengabarkan kalau nomor yang gua hubungi sedang tidak aktif atau diluar jangkauan.
Masih sambil menggenggam ponsel, gua menjatuhkan diri di sofa, berbaring dan mencoba untuk memejamkan mata; tidur. Tetapi, semakin keras gua mencoba untuk tidur, bayangan sosok Aldina malah semakin jelas di benak gua.
Akhirnya, gua menghabiskan sisa malam dengan membuat sketsa wajahnya.
Lembar demi lembar kertas gua habiskan untuk membuat sketsa wajahnya. Saking banyak gambar yang gua buat, semakin gua memahami bentuk wajahnya; bentuk bibirnya yang tipis, hidungnya yang mungil, tatap matanya yang tajam, juga dagunya yang meruncing. Membuat gua mampu menggambarnya tanpa melihat foto sebagai acuan.
Tanpa sadar hari sudah pagi.
Gua lantas membereskan lembaran-lembaran kertas berisi gambar dirinya dan menyimpannya di dalam sebuah map plastik. Kemudian bergegas mandi untuk segera berangkat ke studio.
Sebelum berangkat, gua kembali mencoba menghubunginya. Kali ini nada sambung terdengar, yang artinya ponselnya dalam keadaan hidup. Hanya saja, mungkin ia masih belum mau berbicara dengan gua.
‘Lalu, gimana gua mau memberi penjelasan kalau ia nggak bisa diajak untuk bicara?’ gua membatin dalam hati.
Saat tiba di studio, sebelum masuk, gua sempat mendengar pembicaraan rekan-rekan yang lain mengenai kejadian kemarin; kejadian yang melibatkan gua dengan Aldina. Pembicaraan yang langsung terhenti begitu gua masuk ke dalam.
Nggak mau suasana menjadi canggung, gua lalu memberi informasi ke mereka tentang acara mini konser Sheila On 7.
“Guys, besok ada yang mau ikut nonton Sheila nggak?” Tanya gua ke rekan-rekan yang lain.
“Sheila majid?” Tanya Ketu.
“On 7…” Gua menambahkan.
Ketu dan Adam langsung mengangkat tangan sambil berseru; “Mau!”.
Sementara, yang lain sepertinya nggak terlalu antusias. Mungkin usia mereka masih terlalu muda untuk ngefans dengan Sheila On 7. Tapi, setelah melakukan riset melalui kanal youtube, akhirnya yang lain setuju untuk ikut.
“Kapan?” Tanya Ketu.
“Besok” Jawab gua singkat.
“Mantab” Serunya.
Gua lantas mem-forward email berisi e-Pass dari nyokap ke Ketu. Lalu bicara kepadanya; “Tuh, Tu, barusan gua email e-Pass nya. Nanti masuknya scan QR nya aja” Ucap gua ke Ketu.
“Kamu?” Tanyanya.
“Gua nggak ikut, males” Jawab gua singkat.
“Yowis…”
Selesai bekerja, gua memutuskan untuk datang ke apartemen Aldina. Kali ini gua sengaja meminjam motor Ketu, biar nggak repot jika nanti pulang terlalu malam dan sulit memesan ojek maupun taksi online.
Satu jam berikutnya, gua sudah berada di apartemen tempat Aldina tinggal. Dengan kartu akses yang sempat ia berikan, gua masuk ke lobby lift yang berada di basement.
Jam menunjukkan pukul 11 malam saat gua sudah berdiri tepat di depan pintu apartemennya. Dan gua hanya berdiri, nggak mengetuk pintunya, nggak membunyikan bel dan nggak pula menggunakan kode akses yang gua tau untuk masuk ke dalam. Gua hanya berdiri dalam diam sambil memandang kosong ke arah pintu apartemennya.
Gua meraih ponsel dan mulai menghubunginya. Lalu dengan perlahan mendekatkan telinga ke permukaan pintu; mencoba mendengar.
Sama, suara dering ponsel milik Aldina terdengar. Disusul suara langkah kaki yang berderap. Seperti tengah menghampiri keberadaan ponsel. Gua menegakkan tubuh, lalu tersenyum. Sadar kalau ia baik-baik saja.
Gua lalu berbalik dan bersiap pulang.
Besoknya, gua sudah bisa kembali bekerja dengan tenang. Merasa kalau Aldina baik-baik saja, setelah gua ‘mendengar’ derap langkah kakinya semalam. Walaupun hanya derap langkah kakinya, tapi entah kenapa ada keyakinan di dalam hati kalau ia nggak dalam kondisi sakit.
“Mau kemana?” Tanya gua ke Ketu dan Adam yang terlihat tengah bersiap-siap untuk pergi.
“Lah, kan mau nonton Sheila” Jawab Ketu, santai.
“Oiya..” Gua menepuk dahi, lupa.
Sesaat sebelum Ketu dan Adam berangkat. Terdengar suara mesin kendaraan berhenti tepat di depan studio. Gua yang merasa dan menebak kalau yang datang adalah Aldina, langsung berdiri dan bergegas keluar; ingin menyambutnya.
Namun yang gua dapati; Tata.
Ia sudah berdiri tepat di teras Studio, sambil tersenyum menatap gua; “Hi…” Sapanya.
Gua membalas senyumnya; “Hai…”
Ketu, Adam dan yang lain lalu keluar dari studio. Tata yang sebelumnya memang sudah mengenal Ketu lantas menaikkan kedua alisnya dan melambai. Sementara Ketu hanya berdiri, diam, mematung dan menatap jijik ke gua.
“Pada mau kemana?” Tanya Tata ke Ketu dan Adam.
“Nonton konser” Jawab Ketu.
“Ooh, Konser apa?” Tanya Tata lagi.
“Sheila on 7” Jawab Ketu lagi.
Mendengar jawaban Ketu, Ekspresi wajah Tata langsung berubah, kini ia terlihat sumringah. “Wah, konser dimana? kok aku nggak tahu ya?” Tanyanya ke Ketu.
“Tau tuh Marshall, Kita dapet tiketnya dari dia..” Jawab Ketu sambil menunjuk ke arah gua.
Gua lalu memberikan penjelasan singkat tentang mini konser Sheila On 7 yang diadakan oleh salah satu startup yang baru saja meluncurkan aplikasinya bulan ini.
“Kalau aku ikut apa masih bisa?” Tanya Tata ke Ketu dan rekan yang lain.
Mereka lantas berpaling menatap gua seakan meminta pendapat. Gua lalu mengangkat kedua bahu; “Terserah..”
“Yowis, ayo…” Ajak Ketu.
“Lho, Marshall?” Tanya Tata, saat melihat gua hanya berdiam diri.
“Dia nggak ikut…” Jawab Ketu.
Tata lalu menatap gua tajam. Ia mendekat perlahan lalu berbisik di telinga gua. “Yakin nggak mau ikut? Nggak nyesel?” Tanyanya.
Mendengar ucapannya barusan, ingatan gua langsung kembali ke masa SMA dulu. Dimana saat itu, Tata dan teman-temannya berniat menonton konser, konser yang sama; konser Sheila On 7, tanpa gua. Dan yang terjadi kemudian adalah sebuah tragedi.
Gua balas menatapnya dan mengangguk. “Bentar, gua ambil dompet dulu” Ucap gua, lalu kembali masuk ke dalam studio untuk mengambil dompet.
Sementara, Dinar yang baru bersiap keluar langsung kembali masuk ke dalam saat sudah berada di ambang pintu. Gua menoleh ke arahnya dan bertanya; “Kenapa? kok duduk lagi?”
“Ngapain dia disini?” Tanya Dinar sambil menunjuk ke arah depan. Yang dimaksud tentu saja Tata.
Gua mengangkat kedua bahu.
“.. Dia mau ikut nonton?” Tanyanya lagi. Yang lalu gua respon dengan anggukan kepala.
“...”
“... Yaudah gua nggak jadi ikut kalo gitu. Gua jaga kantor aja” Tambahnya.
Gua menghela nafas dan mencoba membujuknya. Namun Dinar bergeming. Iya, ia sudah lama memendam kebencian terhadap Tata. Merasa, kakaknya, Poppy, banyak menderita gara-gara Tata. Gua jelas menentangnya, karena kalau ia merasa Poppy menderita karena Tata, berarti ada andil gua juga yang turut membuat Poppy menderita.
Tapi, menurut Dinar, gua adalah pengecualian. Menurutnya, gua adalah anomali dalam hidupnya, dalam keluarganya dan dalam hidup Kakaknya. Anomali yang katanya membawa dopamine yang menenangkan.
Merasa gagal membujuknya, akhirnya gua meninggalkan Dinar sendirian di studio. Lalu bergabung bersama yang lain untuk pergi menonton konser.
Karena mobil Tata nggak cukup untuk menampung kami semua. Beberapa dari kami harus rela memesan taksi online untuk menuju ke tempat konser.
—
Entah kena kutukan apa. Semenjak keluar dari penjara, semenjak mengenal teknologi ponsel pintar, semenjak mengenal perempuan bertabiat ekspresif, sudah dua kali ponsel gua dibanting.
Sementara, rekan-rekan yang lain, yang semenjak tadi menyaksikan ‘keributan’ kami berdua hanya mampu memberi tatapan sambil menjaga jarak. Nggak ada satupun yang berani mendekat, mungkin merasa takut mengganggu perasaan dan emosi gua.
Masih menggenggam ponsel yang layarnya retak, gua menatap ke arah mereka lalu tersenyum. “Retak…” Gumam gua pelan, seraya menunjukkan layar ponsel ke arah mereka. Nggak semuanya membalas senyum gua, beberapa diantaranya malah mengernyitkan dahi, mungkin merasa aneh melihat orang kayak gua yang masih bisa-bisanya tersenyum padahal habis bertengkar dan ponselnya rusak.
Ya namanya juga gua.
Malamnya, gua duduk di lantai balkon, bersandar pada kaca jendela besar sambil menatap ke arah layar ponsel yang retak, yang menampilkan detail kontak Aldina. Entah sudah berapa kali gua sudah mencoba menghubunginya dan nggak ada jawaban. Gua lalu beralih ke aplikasi pesan dan mengirimnya pesan. Ini juga pesan pertama gua, sebelumnya gua sudah mengirimnya beberapa pesan dan nggak ada balasan.
Gua meletakkan ponsel di lantai, lalu menatap langit yang gelap dan hitam sambil sesekali menghisap rokok kemudian memainkan asapnya yang langsung hilang ditelan angin.
Ponsel berdering. Gua buru-buru meraihnya, menyipitkan mata, kesulitan membaca nama yang tertera di layar yang retak. Tata.
“Ck” Gua berdecak pelan, lalu menjawab panggilannya.
“Halo…” Sapa gua.
“Halo, sal…” Tata membalas sapaan gua dari ujung sana.
“Kenapa?”
“Jadi nggak?” Tanyanya.
Gua menepuk dahi, baru teringat kalau malam ini gua sudah sepakat untuk bertemu dengannya.
“Bisa besok aja nggak, Ta. Gua lagi males banget nih..” Ucap gua, mencoba menghindari pertemuan dengannya. Rasa-rasanya malam ini gua sudah lelah hati untuk bertemu.
“Yah, kamu mah, gimana sih… Aku udah mau berangkat” Jawabnya.
Gua menghela nafas dalam-dalam, lalu bicara; “Yaudah, mau ketemu dimana?”
“Ditempat yang waktu itu gimana?” Tanyanya meminta pendapat gua.
Ucapannya merujuk ke kedai kopi mahal yang berada di sebuah mall dengan area terbuka.
“Yaudah…” Jawab gua, lalu mengakhiri panggilan.
Gua menghabiskan rokok dan kopi, lalu masuk ke dalam untuk berganti pakaian dan bergegas pergi.
Nggak lama berselang, gua sudah tiba di tempat janji temu kami. Alih-alih langsung masuk dan memesan kopi ke kedai, gua malah duduk di salah satu kursi kayu yang berada di common area tepat di depan kedai. Sengaja menunggu disini karena nggak mau bertemu dengannya di kedai kopi, takut nyaman dan nanti malah keterusan menghabiskan waktu terlalu lama dengannya.
Notifikasi pesan muncul di layar ponsel gua. Sebuah email yang pengirimnya adalah nyokap. Gua membuka email tersebut, menampilkan Pass code berbentuk QR yang dari informasinya adalah pass untuk bisa masuk ke acara mini konser eksklusif Sheila on 7. Menyusul masuk notifikasi pesan dari nyokap; ‘Sal, e-pass nya udah Mamah kirim by email ya. Nanti masuknya tinggal scan aja’
‘Ok, Makasih ya Mah’ Balas gua.
Tanpa gua sadari, Tata sudah berdiri tepat di belakang gua.
“Udah lama?” Tanyanya seraya menepuk bahu gua.
Gua berpaling, mendongak dan menatapnya; “Eh, lumayan..”
“HP kamu rusak juga?” Tanyanya sambil menunjuk ke arah layar ponsel gua, yang masih menampilkan email dari nyokap.
Tata lalu duduk di kursi yang sama dengan gua.
“Oh.. Iya, jatuh tadi” Jawab gua.
Tata merubah posisi duduknya, kini menatap ke arah gua.
“Kenapa disini? kok nggak ke kedai?” Tanyanya seraya menunjuk ke arah kedai kopi mahal dimana seharusnya kami berdua bertemu.
“Nggak, Males. Lagian tadi udah ngopi” Jawab gua.
“Ya kan mereka nggak cuma jual kopi. Ada minuman lain juga” Ucapnya, lalu mengeluarkan bungkusan rokok dari dalam tas. Mengambil sebatang dan mulai menyulutnya.
Ia lantas menyodorkan bungkusan rokok dan korek ke arah gua. Gua menyambutnya. Mengambil sebatang dan ikut menyulutnya.
“Udah langsung aja deh, Ta..”
Tata menghembuskan asap rokok ke udara, lalu mengeluarkan amplop putih berukuran kecil dari dalam tasnya dan langsung meletakkan amplop tersebut tepat diatas pangkuan gua.
“Apa nih?” Tanya gua, nggak langsung menyentuh amplop tersebut melainkan menunjuknya dengan jari tangan.
“Tadi katanya suru langsung aja. Itu duit buat ganti HP Pacar kamu…” Jelasnya.
Gua meraih amplop tersebut dan mengembalikan kepadanya, dengan meletakkan amplop tersebut di pangkuannya.
“Nggak usah. Gua tau lo cuma mau ngobrol. Ganti rugi HP cuma alasan doang kan?”
Mendengar ucapan gua barusan Tata lalu tersenyum. Ia mengambil amplop dan kembali meletakkan amplop berisi uang di pangkuan gua; “Yaudah buat ganti HP lo aja. Kebetulan rusak juga kan?” Tanyanya.
Lagi, gua mengembalikan amplop tersebut; “Nggak usah, Tata”
“Nggak mau! aku kan udah janji. Aku nggak mau ingkar” Ucapnya, lalu melempar amplop ke pangkuan gua.
Lelah, gua hanya terdiam dan nggak membalasnya.
Ia pun terdiam.
Gua lalu meraih amplop, mengembalikannya lalu berdiri dan bersiap untuk pergi. “Udah kan?” Tanya gua.
“Marshall!” Seru Tata, sesaat setelah gua melangkah pergi.
Gua nggak menggubris panggilannya dan terus berjalan.
Terdengar suara langkah kaki mendekat, Tata sepertinya mencoba mengejar gua. Ia lalu meraih lengan gua, membuat gua berbalik dan sama-sama saling menatap.
“Apa lagi, Ta? Gua capek banget” Ucap gua dengan nada memohon. Iya, gua memang capek dan lelah. Tapi bukan secara fisik, gua merasa lelah secara mental. Merasa gara-gara pesan darinya, gua dan Aldina malah jadi bertengkar. Lalu, kini gua malah bertemu dengannya. Rasanya seperti tengah berkhianat.
“Ya masak gini doang sih?” Tanyanya.
“Emang harusnya gimana?” Gua balik bertanya.
“Nggak bisa ya, kita ngobrol dulu. Just like the good old days” Ucapnya.
“...”
“... Tapi, kalo kamu emang capek. Yaudah..” Tambahnya, lalu melepas tangannya yang menggenggam lengan gua.
“...” Gua kembali berbalik dan pergi.
Tata lalu menyusul. Kini ia memposisikan dirinya tepat di sebelah gua; “... Ayo aku anter” Ucapnya.
“Nggak usah, gua naik ojek online aja” Jawab gua tanpa menatapnya.
“Katanya capek?”
“Ya gua kan naik ojek, Ta. Bukannya jalan kaki..” Jawab gua lagi.
Lalu, tiba-tiba ia meraih tangan gua dan menggenggamnya. Gua langsung berusaha melepasnya namun, Tata bergeming. Ia malah semakin mempererat genggaman tangannya.
Gua menghentikan langkah dan menatapnya. “Jangan, Ta…” Ucap gua pelan seraya menggelengkan kepala. Memohon kepadanya agar melepas genggaman tangannya. Sejatinya, gua bisa saja memaksa melepaskan genggaman tangan ini. Tapi, gua takut jadi nanti berlaku kasar kepadanya.
Tata terdiam sebentar. Kemudian perlahan mengendurkan genggaman dan melepasnya.
Gua tersenyum, lalu menepuk kepalanya dengan perlahan.
“Thank you…” Gumam gua pelan.
“Sal…”
“Ya…”
“Sampaikan maafku ke pacarmu ya…”
“Maaf atas apa?” Tanya gua.
“Karena sudah merusak ponselnya dan mungkin melukai hatinya” Ucapnya pelan.
“Iya…” Jawab gua singkat lalu pergi, meninggalkan Tata yang masih berdiri sendiri.
—
Sekembalinya gua ke apartemen, lagi, gua mencoba menghubungi Aldina dan masih belum ada jawaban. Berulang kali gua mencoba, hingga akhirnya nada sambung tak lagi terdengar, hanya suara operator yang mengabarkan kalau nomor yang gua hubungi sedang tidak aktif atau diluar jangkauan.
Masih sambil menggenggam ponsel, gua menjatuhkan diri di sofa, berbaring dan mencoba untuk memejamkan mata; tidur. Tetapi, semakin keras gua mencoba untuk tidur, bayangan sosok Aldina malah semakin jelas di benak gua.
Akhirnya, gua menghabiskan sisa malam dengan membuat sketsa wajahnya.
Lembar demi lembar kertas gua habiskan untuk membuat sketsa wajahnya. Saking banyak gambar yang gua buat, semakin gua memahami bentuk wajahnya; bentuk bibirnya yang tipis, hidungnya yang mungil, tatap matanya yang tajam, juga dagunya yang meruncing. Membuat gua mampu menggambarnya tanpa melihat foto sebagai acuan.
Tanpa sadar hari sudah pagi.
Gua lantas membereskan lembaran-lembaran kertas berisi gambar dirinya dan menyimpannya di dalam sebuah map plastik. Kemudian bergegas mandi untuk segera berangkat ke studio.
Sebelum berangkat, gua kembali mencoba menghubunginya. Kali ini nada sambung terdengar, yang artinya ponselnya dalam keadaan hidup. Hanya saja, mungkin ia masih belum mau berbicara dengan gua.
‘Lalu, gimana gua mau memberi penjelasan kalau ia nggak bisa diajak untuk bicara?’ gua membatin dalam hati.
Saat tiba di studio, sebelum masuk, gua sempat mendengar pembicaraan rekan-rekan yang lain mengenai kejadian kemarin; kejadian yang melibatkan gua dengan Aldina. Pembicaraan yang langsung terhenti begitu gua masuk ke dalam.
Nggak mau suasana menjadi canggung, gua lalu memberi informasi ke mereka tentang acara mini konser Sheila On 7.
“Guys, besok ada yang mau ikut nonton Sheila nggak?” Tanya gua ke rekan-rekan yang lain.
“Sheila majid?” Tanya Ketu.
“On 7…” Gua menambahkan.
Ketu dan Adam langsung mengangkat tangan sambil berseru; “Mau!”.
Sementara, yang lain sepertinya nggak terlalu antusias. Mungkin usia mereka masih terlalu muda untuk ngefans dengan Sheila On 7. Tapi, setelah melakukan riset melalui kanal youtube, akhirnya yang lain setuju untuk ikut.
“Kapan?” Tanya Ketu.
“Besok” Jawab gua singkat.
“Mantab” Serunya.
Gua lantas mem-forward email berisi e-Pass dari nyokap ke Ketu. Lalu bicara kepadanya; “Tuh, Tu, barusan gua email e-Pass nya. Nanti masuknya scan QR nya aja” Ucap gua ke Ketu.
“Kamu?” Tanyanya.
“Gua nggak ikut, males” Jawab gua singkat.
“Yowis…”
Selesai bekerja, gua memutuskan untuk datang ke apartemen Aldina. Kali ini gua sengaja meminjam motor Ketu, biar nggak repot jika nanti pulang terlalu malam dan sulit memesan ojek maupun taksi online.
Satu jam berikutnya, gua sudah berada di apartemen tempat Aldina tinggal. Dengan kartu akses yang sempat ia berikan, gua masuk ke lobby lift yang berada di basement.
Jam menunjukkan pukul 11 malam saat gua sudah berdiri tepat di depan pintu apartemennya. Dan gua hanya berdiri, nggak mengetuk pintunya, nggak membunyikan bel dan nggak pula menggunakan kode akses yang gua tau untuk masuk ke dalam. Gua hanya berdiri dalam diam sambil memandang kosong ke arah pintu apartemennya.
Gua meraih ponsel dan mulai menghubunginya. Lalu dengan perlahan mendekatkan telinga ke permukaan pintu; mencoba mendengar.
Sama, suara dering ponsel milik Aldina terdengar. Disusul suara langkah kaki yang berderap. Seperti tengah menghampiri keberadaan ponsel. Gua menegakkan tubuh, lalu tersenyum. Sadar kalau ia baik-baik saja.
Gua lalu berbalik dan bersiap pulang.
Besoknya, gua sudah bisa kembali bekerja dengan tenang. Merasa kalau Aldina baik-baik saja, setelah gua ‘mendengar’ derap langkah kakinya semalam. Walaupun hanya derap langkah kakinya, tapi entah kenapa ada keyakinan di dalam hati kalau ia nggak dalam kondisi sakit.
“Mau kemana?” Tanya gua ke Ketu dan Adam yang terlihat tengah bersiap-siap untuk pergi.
“Lah, kan mau nonton Sheila” Jawab Ketu, santai.
“Oiya..” Gua menepuk dahi, lupa.
Sesaat sebelum Ketu dan Adam berangkat. Terdengar suara mesin kendaraan berhenti tepat di depan studio. Gua yang merasa dan menebak kalau yang datang adalah Aldina, langsung berdiri dan bergegas keluar; ingin menyambutnya.
Namun yang gua dapati; Tata.
Ia sudah berdiri tepat di teras Studio, sambil tersenyum menatap gua; “Hi…” Sapanya.
Gua membalas senyumnya; “Hai…”
Ketu, Adam dan yang lain lalu keluar dari studio. Tata yang sebelumnya memang sudah mengenal Ketu lantas menaikkan kedua alisnya dan melambai. Sementara Ketu hanya berdiri, diam, mematung dan menatap jijik ke gua.
“Pada mau kemana?” Tanya Tata ke Ketu dan Adam.
“Nonton konser” Jawab Ketu.
“Ooh, Konser apa?” Tanya Tata lagi.
“Sheila on 7” Jawab Ketu lagi.
Mendengar jawaban Ketu, Ekspresi wajah Tata langsung berubah, kini ia terlihat sumringah. “Wah, konser dimana? kok aku nggak tahu ya?” Tanyanya ke Ketu.
“Tau tuh Marshall, Kita dapet tiketnya dari dia..” Jawab Ketu sambil menunjuk ke arah gua.
Gua lalu memberikan penjelasan singkat tentang mini konser Sheila On 7 yang diadakan oleh salah satu startup yang baru saja meluncurkan aplikasinya bulan ini.
“Kalau aku ikut apa masih bisa?” Tanya Tata ke Ketu dan rekan yang lain.
Mereka lantas berpaling menatap gua seakan meminta pendapat. Gua lalu mengangkat kedua bahu; “Terserah..”
“Yowis, ayo…” Ajak Ketu.
“Lho, Marshall?” Tanya Tata, saat melihat gua hanya berdiam diri.
“Dia nggak ikut…” Jawab Ketu.
Tata lalu menatap gua tajam. Ia mendekat perlahan lalu berbisik di telinga gua. “Yakin nggak mau ikut? Nggak nyesel?” Tanyanya.
Mendengar ucapannya barusan, ingatan gua langsung kembali ke masa SMA dulu. Dimana saat itu, Tata dan teman-temannya berniat menonton konser, konser yang sama; konser Sheila On 7, tanpa gua. Dan yang terjadi kemudian adalah sebuah tragedi.
Gua balas menatapnya dan mengangguk. “Bentar, gua ambil dompet dulu” Ucap gua, lalu kembali masuk ke dalam studio untuk mengambil dompet.
Sementara, Dinar yang baru bersiap keluar langsung kembali masuk ke dalam saat sudah berada di ambang pintu. Gua menoleh ke arahnya dan bertanya; “Kenapa? kok duduk lagi?”
“Ngapain dia disini?” Tanya Dinar sambil menunjuk ke arah depan. Yang dimaksud tentu saja Tata.
Gua mengangkat kedua bahu.
“.. Dia mau ikut nonton?” Tanyanya lagi. Yang lalu gua respon dengan anggukan kepala.
“...”
“... Yaudah gua nggak jadi ikut kalo gitu. Gua jaga kantor aja” Tambahnya.
Gua menghela nafas dan mencoba membujuknya. Namun Dinar bergeming. Iya, ia sudah lama memendam kebencian terhadap Tata. Merasa, kakaknya, Poppy, banyak menderita gara-gara Tata. Gua jelas menentangnya, karena kalau ia merasa Poppy menderita karena Tata, berarti ada andil gua juga yang turut membuat Poppy menderita.
Tapi, menurut Dinar, gua adalah pengecualian. Menurutnya, gua adalah anomali dalam hidupnya, dalam keluarganya dan dalam hidup Kakaknya. Anomali yang katanya membawa dopamine yang menenangkan.
Merasa gagal membujuknya, akhirnya gua meninggalkan Dinar sendirian di studio. Lalu bergabung bersama yang lain untuk pergi menonton konser.
Karena mobil Tata nggak cukup untuk menampung kami semua. Beberapa dari kami harus rela memesan taksi online untuk menuju ke tempat konser.
—
Lanjut Ke Bawah
Diubah oleh robotpintar 30-06-2024 07:35
vizardan dan 37 lainnya memberi reputasi
38
Kutip
Balas
Tutup