- Beranda
- Stories from the Heart
Jelaga - Sehitam yang Rasanya Tidak Biasa
...
TS
robotpintar
Jelaga - Sehitam yang Rasanya Tidak Biasa

Bahkan Putih Pun Sudah Seperti Jelaga
"Marsal!"Petugas memanggil namaku asal-asalan.
Gua berdiri dan mendekat ke arah petugas sipir yang menatap ke arah lembaran kertas di atas meja kerjanya. Dengan kacamata baca yang turun hingga ke hidungnya, ia menatapku, lalu tersenyum.
"Tanda tangan" Ucapnya seraya menyerahkan lembaran kertas dari tangannya dan sebuah pulpen.
Gua meraih pulpen itu dan membubuhkan tanda tangan pada bagian bawah lembaran kertas, kemudian mengembalikannya ke petugas tadi.
Ia menerima kertas tersebut, memasukkannya ke dalam sebuah map berwarna hijau dan menumpuknya dengan map-map lain yang memiliki warna yang sama. Dengan gerakan yang lambat dan ogah-ogahan, petugas itu menarik laci, mengeluarkan map plastik transaparan yang di dalamnya terlihat beberapa lembar kertas.
"Nih..." Ucapnya seraya menggeser map transparan tersebut ke arah gua.
"Ada yang jemput, Sal? Nggak ada ya?" Tanya si petugas sambil mencari-cari sesuatu dari laci meja kerjanya.
Belum sempat gua menjawab pertanyaannya, ia lalu menyodorkan sebuah kartu nama. Gua meraih kartu nama tersebut, kartu nama berbahan kertas Ivory yang terlihat murahan. Gua mengernyitkan dahi dan mulai membaca tulisan pada kartu tersebut.
'Jaya Teknik' Gua membaca tulisan paling besar pada kartu tersebut, disusul informasi nomor telepon dan alamat di bagian bawahnya.
"Kang Jaya?" Tanya gua ke petugas itu.
"Iya. Kamu kesana aja, biasanya anak-anak yang baru 'keluar' diajak kerja sama dia" Tambah si petugas sambil tetap menatap ke arah gua.
"Oh..." Gua memberi respon singkat.
Petugas itu berdiri, mengulurkan tangannya. Gua menyambut dan menjabat tangannya.
"Hati-hati ya, Sal. Pokoknya jangan sampe kamu balik kesini lagi" Ucapnya, masih sambil menjabat tangan gua.
"Iya Pak Didi" Jawabku, kemudian bersiap pergi.
Sementara aku pergi, terdengar Pak Didi kembali memanggil nama lain. Seorang petugas menghampiri, membimbing gua melewati lorong berliku yang berpagar tinggi. Hingga akhirnya, kami tiba di sebuah pintu besi berukuran besar. Petugas itu, menekan tombol pada sisi pintu, menimbulkan bunyi meraung keras disusul suara 'cklek' dan pintu otomatis terbuka.
Petugas itu membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan gua untuk keluar.
---
Spoiler for Prolog:
Sebuah ruangan dengan atap tinggi, tanpa dinding dan riuh rendah dari para pengunjung yang tengah mengantri untuk membesuk keluarganya ditambah kerasnya pengumuman dari pelantang suara di ruang semi terbuka itu menyambut gua.
Beberapa mata langsung tertuju ke arah gua. Mungkin aneh melihat ada yang keluar dari pintu besar berukuran tebal itu. Dengan mengabaikan pandangan orang-orang, gua terus melangkah, menuju ke halaman gedung.
Dengan sebuah plastik berwarna merah berisi pakaian seadanya, dan map transparan yang diberikan oleh Pak Didi tadi, gua melangkahkan kaki keluar dari area bangunan itu, untuk pertama kalinya dalam 8 tahun.
Gua menyusuri jalan kecil yang mengubungkan bangunan ini dengan jalan utama yang berada di ujung sana. Sepanjang jalan terdapat beberapa tempat makan sederhana dan warung-warung kopi yang mungkin menjadi tempat para petugas makan dan beristirahat.
Di ujung jalan, terlihat sebuah gapura besar yang terbuat dari batang-batang besi. Pada bagian atasnya nampak motto; "Pasti Baik" dengan tulisan 'Lembaga Pemasyarakatan' di bagian bawahnya. Beberapa tukang ojek pangkalan langsung bersiul begitu melihat kehadiran gua, mencoba menawarkan jasanya.
Gua mengangkat tangan sambil menggeleng, memberi kode dengan cara sesantun mungkin untuk menolak tawaran mereka. Entah mungkin karena nggak ngerti kode yang gue berikan atau memang gigih, mereka tetap menawarkan jasanya. Malah kali ini lebih brutal, mereka menyalakan mesin motor dan langsung mengendarainya mendekat ke arah gua; "Ayok ojek Mas".
"Nggak mas, makasih"Gua menjawab, sambil kembali mengangkat tangan, kemudian melanjutkan langkah.
Akhirnya karena terus dipaksa, gua naik ke boncengan si abang tukang ojek itu. 'Ya emang rejeki dari kegigihannya' Gua membatin dalam hati.
"Kemana?" Tanyanya.
"Terminal" Gua menjawab singkat.
"Siap" Ia langsung memacu sepeda motornya.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya si tukang ojek ini mengajak gua bicara. "Abis besuk siapa? sodara? temen?" Tanyanya.
"Nggak, bukan" Gua menjawab singkat.
"Lah terus ngapain ke lapas?" Tanyanya lagi.
"Gua baru keluar"
"Hah?" Dari nada suaranya terdengar si tukang ojek ini sedikit terkejut. Nggak hanya nada suaranya yang terdengar kaget. Begitu mendengar jawaban gua barusan, sontak ia juga langsung melambatkan laju sepeda motornya.
"Situ Napi?" Tanyanya lagi.
"Bekas" Gua mengoreksi pertanyaanya barusan.
Sejak saat itu, si tukang ojek nggak pernah lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain. Ia hanya diam dan fokus pada jalanan.
"Ngojek deket lapas, emang nggak pernah bawa penumpang bekas napi?" Tanya gua memecah keheningan.
Si Tukang ojek menggelengkan kepala.
"Biasanya mah, yang keluar dari lapas di jemput sama keluarganya. Langganan ojek saya kebanyakan orang yang besuk" Si Tukang ojek berusaha menjelaskan.
"Oh... Pantesan"
Nggak berselang lama, kami akhirnya tiba di terminal bus. Gua turun dari goncengan sepeda motor, mengeluarkan plastik berisi gulungan uang dari saku celana jeans, bersiap untuk membayar. Namun, Si Tukang ojek sudah keburu memutar sepeda motornya dan bersiap untuk pergi.
"Eh, tunggu mas, mau kemana?" Tanya gua, berusaha memegang tangannya mencegah agar dia nggak pergi. Namun, dengan sigap ia menepisnya lalu kabur dengan kecepatan penuh.
Melihat kejadian tersebut tentu membuat gua geleng-geleng kepala, bagaimana tidak. Si Tukang ojek barusan merupakan gambaran umum dari masyarakat Indonesia. Yang punya ketakutan sebesar gunung terhadap para bekas narapidana. Atau jika terlalu 'kasar' menyebut kami sebagai bekas narapidana, mungkin bekas masyarakat binaan bisa menjadi kata ganti yang tepat.
Gua duduk di kursi bis menuju ke Jakarta. Sementara, satu persatu penumpang naik dan duduk dikursi kosong secara acak, mengabaikan nomor yang tertera pada karcis dan kursi. Riuh pedagang asongan yang bolak-balik di lorong antara kursi menjajakan dagangannya dan suara sumbang pengamen dibagian depan bus, membuat rasa kantuk yang sejak tadi hinggap kini hilang.
Cukup lama kami, para penumpang dibiarkan menunggu. Jadi, si supir bus hanya akan jalan jika semua kursi sudah terisi. Kalau masih ada yang kosong, sampai kiamat pun, bus nggak bakalan berangkat. Setelah beberapa saat, hampir semua kursi penuh, bahkan ada sebagian penumpang yang duduk di lorong antar kursi dengan menggunakan kursi plastik.
Raung mesih bus terdengar. Kami lalu perlahan melaju, meninggalkan terminal, menuju ke Jakarta.
---
Masih dengan pakaian yang sama, sambil menggenggam plastik merah, gua berdiri tepat di depan sebuah bengkel las dengan papan nama besar di bagian atas yang bertuliskan 'Jaya Teknik'.
"Sal, Marshall" Terdengar teriakan seorang pria yang samar dengan suara dentingan besi.
Gua menoleh dan mendapati Kang Jaya berdiri, melambaikan tangannya ke arah gua.
Menit berikutnya, kami berdua sudah terlibat obrolan seru di sebuah ruangan yang digunakan Kang Jaya sebagai 'kantor'nya. Di sela-sela obrolang, gua pun menyampaikan niat kedatangan gua kepadanya.
"Kang, bisa ajak gua kerja nggak?" Tanya gua.
Kang Jaya terdiam sesaat, lalu menatap ke arah gua.
"Kamu disana emang belajar nge-las?" Tanyanya.
Gua meresponnya dengan gelengan kepala.
"Terus ngambil sertifikasi apa?" Tanyanya lagi.
Gua lantas memberikan map transparan dari Pak Didi kepadanya. Ia lalu menyeka tangannya dengan ujung kaos dan dengan hati-hati mengeluarkan lembaran kertas dari Map transparan yang berisi sertifikat life skill yang gua pelajari sewatku di Lapas.
"Barista" Gumamnya, sambil menatap gua.
"Iya kang"
"Barista mau jadi tukang las?" Tanyanya.
"Gua mau belajar dulu kok, bantu angkat-angkat besi, ngapain kek..." Jawab gua, dengan nada memohon.
Kang Jaya menghela nafas panjang, kemudian meraih ponselnya dari atas meja.
"Saya ada temen yang baru aja ngambil alih kedai kopi, Siapa tau masih butuh barista. Mau?" Tanyanya.
Gua langsung mengangguk. "Mau!"
Kang Jaya lalu tersenyum dan mulai melakukan panggilan melalui ponselnya.
Beberapa mata langsung tertuju ke arah gua. Mungkin aneh melihat ada yang keluar dari pintu besar berukuran tebal itu. Dengan mengabaikan pandangan orang-orang, gua terus melangkah, menuju ke halaman gedung.
Dengan sebuah plastik berwarna merah berisi pakaian seadanya, dan map transparan yang diberikan oleh Pak Didi tadi, gua melangkahkan kaki keluar dari area bangunan itu, untuk pertama kalinya dalam 8 tahun.
Gua menyusuri jalan kecil yang mengubungkan bangunan ini dengan jalan utama yang berada di ujung sana. Sepanjang jalan terdapat beberapa tempat makan sederhana dan warung-warung kopi yang mungkin menjadi tempat para petugas makan dan beristirahat.
Di ujung jalan, terlihat sebuah gapura besar yang terbuat dari batang-batang besi. Pada bagian atasnya nampak motto; "Pasti Baik" dengan tulisan 'Lembaga Pemasyarakatan' di bagian bawahnya. Beberapa tukang ojek pangkalan langsung bersiul begitu melihat kehadiran gua, mencoba menawarkan jasanya.
Gua mengangkat tangan sambil menggeleng, memberi kode dengan cara sesantun mungkin untuk menolak tawaran mereka. Entah mungkin karena nggak ngerti kode yang gue berikan atau memang gigih, mereka tetap menawarkan jasanya. Malah kali ini lebih brutal, mereka menyalakan mesin motor dan langsung mengendarainya mendekat ke arah gua; "Ayok ojek Mas".
"Nggak mas, makasih"Gua menjawab, sambil kembali mengangkat tangan, kemudian melanjutkan langkah.
Akhirnya karena terus dipaksa, gua naik ke boncengan si abang tukang ojek itu. 'Ya emang rejeki dari kegigihannya' Gua membatin dalam hati.
"Kemana?" Tanyanya.
"Terminal" Gua menjawab singkat.
"Siap" Ia langsung memacu sepeda motornya.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya si tukang ojek ini mengajak gua bicara. "Abis besuk siapa? sodara? temen?" Tanyanya.
"Nggak, bukan" Gua menjawab singkat.
"Lah terus ngapain ke lapas?" Tanyanya lagi.
"Gua baru keluar"
"Hah?" Dari nada suaranya terdengar si tukang ojek ini sedikit terkejut. Nggak hanya nada suaranya yang terdengar kaget. Begitu mendengar jawaban gua barusan, sontak ia juga langsung melambatkan laju sepeda motornya.
"Situ Napi?" Tanyanya lagi.
"Bekas" Gua mengoreksi pertanyaanya barusan.
Sejak saat itu, si tukang ojek nggak pernah lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain. Ia hanya diam dan fokus pada jalanan.
"Ngojek deket lapas, emang nggak pernah bawa penumpang bekas napi?" Tanya gua memecah keheningan.
Si Tukang ojek menggelengkan kepala.
"Biasanya mah, yang keluar dari lapas di jemput sama keluarganya. Langganan ojek saya kebanyakan orang yang besuk" Si Tukang ojek berusaha menjelaskan.
"Oh... Pantesan"
Nggak berselang lama, kami akhirnya tiba di terminal bus. Gua turun dari goncengan sepeda motor, mengeluarkan plastik berisi gulungan uang dari saku celana jeans, bersiap untuk membayar. Namun, Si Tukang ojek sudah keburu memutar sepeda motornya dan bersiap untuk pergi.
"Eh, tunggu mas, mau kemana?" Tanya gua, berusaha memegang tangannya mencegah agar dia nggak pergi. Namun, dengan sigap ia menepisnya lalu kabur dengan kecepatan penuh.
Melihat kejadian tersebut tentu membuat gua geleng-geleng kepala, bagaimana tidak. Si Tukang ojek barusan merupakan gambaran umum dari masyarakat Indonesia. Yang punya ketakutan sebesar gunung terhadap para bekas narapidana. Atau jika terlalu 'kasar' menyebut kami sebagai bekas narapidana, mungkin bekas masyarakat binaan bisa menjadi kata ganti yang tepat.
Gua duduk di kursi bis menuju ke Jakarta. Sementara, satu persatu penumpang naik dan duduk dikursi kosong secara acak, mengabaikan nomor yang tertera pada karcis dan kursi. Riuh pedagang asongan yang bolak-balik di lorong antara kursi menjajakan dagangannya dan suara sumbang pengamen dibagian depan bus, membuat rasa kantuk yang sejak tadi hinggap kini hilang.
Cukup lama kami, para penumpang dibiarkan menunggu. Jadi, si supir bus hanya akan jalan jika semua kursi sudah terisi. Kalau masih ada yang kosong, sampai kiamat pun, bus nggak bakalan berangkat. Setelah beberapa saat, hampir semua kursi penuh, bahkan ada sebagian penumpang yang duduk di lorong antar kursi dengan menggunakan kursi plastik.
Raung mesih bus terdengar. Kami lalu perlahan melaju, meninggalkan terminal, menuju ke Jakarta.
---
Masih dengan pakaian yang sama, sambil menggenggam plastik merah, gua berdiri tepat di depan sebuah bengkel las dengan papan nama besar di bagian atas yang bertuliskan 'Jaya Teknik'.
"Sal, Marshall" Terdengar teriakan seorang pria yang samar dengan suara dentingan besi.
Gua menoleh dan mendapati Kang Jaya berdiri, melambaikan tangannya ke arah gua.
Menit berikutnya, kami berdua sudah terlibat obrolan seru di sebuah ruangan yang digunakan Kang Jaya sebagai 'kantor'nya. Di sela-sela obrolang, gua pun menyampaikan niat kedatangan gua kepadanya.
"Kang, bisa ajak gua kerja nggak?" Tanya gua.
Kang Jaya terdiam sesaat, lalu menatap ke arah gua.
"Kamu disana emang belajar nge-las?" Tanyanya.
Gua meresponnya dengan gelengan kepala.
"Terus ngambil sertifikasi apa?" Tanyanya lagi.
Gua lantas memberikan map transparan dari Pak Didi kepadanya. Ia lalu menyeka tangannya dengan ujung kaos dan dengan hati-hati mengeluarkan lembaran kertas dari Map transparan yang berisi sertifikat life skill yang gua pelajari sewatku di Lapas.
"Barista" Gumamnya, sambil menatap gua.
"Iya kang"
"Barista mau jadi tukang las?" Tanyanya.
"Gua mau belajar dulu kok, bantu angkat-angkat besi, ngapain kek..." Jawab gua, dengan nada memohon.
Kang Jaya menghela nafas panjang, kemudian meraih ponselnya dari atas meja.
"Saya ada temen yang baru aja ngambil alih kedai kopi, Siapa tau masih butuh barista. Mau?" Tanyanya.
Gua langsung mengangguk. "Mau!"
Kang Jaya lalu tersenyum dan mulai melakukan panggilan melalui ponselnya.
Diubah oleh robotpintar 10-06-2024 21:29
bukanrangerpink dan 219 lainnya memberi reputasi
220
418.5K
Kutip
4.6K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#2459
Part 90 - Memulai Dari Awal
Spoiler for Part 90 - Memulai Dari Awal:
Perlahan gua bergeser, membiarkan Marshall kini berhadapan langsung dengan Tata yang sebelumnya berdiri di depan gua.
Tata lalu menuju ke sisi mobilnya, bersiap membuka pintu. Menyadari kalau mereka berdua akan ngobrol di tempat lain, gua lantas berseru; “Mau kemana? kalo mau ngobrol di dalem aja” Seraya menunjuk ke arah studio.
Mendengar teriakan gua, Tata lantas menatap Marshall seakan meminta persetujuan. Namun, nggak gua sangka-sangka ia malah menggelengkan kepalanya. Lalu meraih handle pintu mobil bersiap masuk ke dalam, ke kursi sisi penumpang mobil milik Tata. Dengan cepat gua mendekat, membuka pintu penumpang bagian belakang, masuk dan duduk.
Tata dan Marshall yang sudah berada di dalam mobil langsung menoleh ke belakang, ke arah dimana gua duduk tanpa seizin si pemilik mobil. Sambil menatap ke luar melalui jendela, gua menggumam pelan; “Gua ikut…”
Seperti nggak punya kekuatan untuk memberi bantahan ataupun mengusir gua dari dalam mobilnya, Tata mendengus pelan sambil menyalakan mesin dan melajukan mobil.
Ia nggak membawa gua pergi jauh dari studio. Tepat di sisi sebuah kedai kopi yang terlihat baru saja buka, Tata melambatkan laju mobilnya, memutar kemudi dan parkir. Tanpa banyak bicara, keduanya lalu turun dari mobil. Sementara, Tata langsung menuju ke arah kedai kopi, Marshall hanya berdiri di sisi pintu; terdiam.
Gua menyusul keluar.
Tiba-tiba, ia mendekat, meraih kepala gua, membuat gua berada di dalam dekapannya. Dengan perlahan ia memberi kecupan di ujung kepala. Gua mendongak, menatapnya, ia nggak berkata apa-apa, hanya tersenyum.
Marshall melepas dekapannya, lalu berjalan menyusul Tata yang sudah lebih dulu menuju ke arah kedai. Gua lantas mengikutinya.
Tata memilih meja yang berada di beranda kedai. Ia meletakkan kunci mobil, tas dan ponselnya, di atas meja lalu duduk. Masih diam, tanpa bicara sepatah katapun. Sementara, Saat gua hendak duduk di meja yang sama dengan Tata, Marshall mencegahnya. Dengan cepat, ia meraih tangan gua dan mengajak masuk ke dalam kedai.
“Ngapain?” Bisik gua.
“Mesen kopi” Jawabnya singkat.
“Ya elo aja, gua mau ngobrol sama dia sebentar” Balas gua seraya menunjuk ke arah Tata yang duduk di beranda kedai.
“…”
“Kenapa? lo nggak mau gua ngobrol berduaan aja sama dia? lo nggak percaya sama gua? Lo minta gua percaya sama lo. Tapi, lo nggak percaya sama gua..” Ucap gua merepet.
Karna sudah berada tepat di depan konter pemesanan, Marshall nggak langsung menjawab, ia memesan dua iced americano dan satu Jasmine tea; buat gua. Selesai memesan, ia berpaling, sambil bersandar pada konter, ia menatap gua dan barulah memberi jawaban.
“Bukan… Bukan gua nggak percaya sama lo. Bukan juga karena takut lo melewati batas…”
“Terus kenapa?”
Ia lantas menunjuk ke arah pramusaji, lalu bicara pelan; “Bayarin dulu ini, dompet gua ketinggalan di apartemen kayaknya, HP gua abis baterai-nya".
“Kimak, kirain apaan..” Gua berseru, sambil mencoba terus terlihat cool, padahal di dalam hati tengah mencoba menahan tawa. Lantas mengeluarkan dompet dari dalam tas, mengeluarkan kartu ATM dan memberikannya ke pramusaji untuk menyelesaikan pembayaran.
Dengan dua minuman ditangannya, (minuman yang gua bayar) Marshall kembali ke arah beranda kedai, sementara gua mengikutinya dari belakang sambil membawa gelas minuman milik gua sendiri (yang gua bayar sendiri). Ia meletakkan gelas besar iced americano di atas meja tepat di depan Tata, lalu duduk di seberangnya, sementara gua memilih kursi yang berada di tengah, diantara mereka berdua.
Kami bertiga terdiam.
Sesaat kemudian, Tata meraih gelas kopi miliknya, ia menyelipkan helaian rambutnya yang indah dibelakang telinga dan mulai minum dengan sedotan. Caranya minum saja sudah terlhat anggun dan elegan. ‘Pasti lagi nyoba terbar pesona’ Batin gua dalam hati, lalu segera berpaling ke arah Marshall yang saat itu juga kedapatan tengah menatapnya.
Dengan cepat, gua menendang kakinya. Membuat Marshall mengaduh lalu menatap gua sambil mengernyitkan dahi. Gua memberinya kode dengan pasang tampang sangar dan mata melotot.
Tata lalu buka suara; “Apa kabar, Sal?” Tanyanya pelan.
Marshall mengangguk sambil memberi jawaban singkat; “Baik. Lo?”
“Sama, baik juga” Jawabnya.
Mereka berdua lalu kembali terdiam. ‘Mungkin saja bila gua nggak berada disini obrolan mereka bakal cair dan lepas. Saling bertukar kabar, menanyakan keadaan, curhat tipis-tipis, lalu mulai kirim-kiriman pesan, sleep call, terus.
Arrghh. Nggak!, pokoknya gua harus tetap disini’ Batin gua dalam hati.
Gemas melihat mereka hanya terdiam, gua lantas menegakkan tubuh dan bicara; “Ayo udah buruan langsung ke intinya aja!” Seru gua ke Tata.
Tata lalu menoleh ke arah gua dan pasang tampang kesal. Dengan santai, ia meraih bungkusan rokok dari dalam tas, mengambilnya sebatang dan mulai menyulutnya. Baru saja satu hisapan, Marshall dengan cepat meraih rokok miliknya, dan mematikannya di asbak yang berada di atas meja.
Mendapat perlakuan seperti itu, Tata lantas kembali mengambil sebatang rokok dari bungkusan dan menyulutnya. Lagi, Marshall melakukan hal yang sama. Melihat hal tersebut tentu bikin gua naik pitam. ‘Katanya hanya penggalan kisah, tapi kok masih sepeduli itu’. Yang bikin gua semakin khawatir dengan tindakannya adalah perasaan Tata kala mendapat perlakuan seperti itu darinya; ‘Ah, bakal semakin besa kepala dibuatnya’ batin gua dalam hati.
“Kenapa?” Tanya Tata, saat Marshall untuk ketiga kalinya mematikan rokok miliknya.
“...”
“... Kamu khawatir sama aku?” Tambahnya. Lalu menoleh sebentar ke arah gua, seakan memberi kode kalau ia selangkah lebih unggul.
Marshall tersenyum sebentar, lalu bicara; “Bukan, bukan sama lo. Tapi sama dia…” Ucap Marshall, seraya menatap ke arah gua.
“... Dia nggak bisa kena asap rokok.” Tambahnya sambil menunjuk ke arah gua.
Mendengar ucapannya barusan, jantung gua rasanya mau lepas. Segitu pedulinya ia dengan gua, pun di depan perempuan super cantik yang juga sekaligus mantan kekasihnya.
Gua menatap ke arah Tata dan bertanya; “Lo mau merokok?”. Tata lalu merespon dengan mengangguk pelan. Gua berdiri, meraih gelas minuman dan pergi. Pindah ke salah satu meja yang berada di area indoor kedai. ‘Gua harus belajar berbesar hati. Memberikan kesempatan untuk mereka bicara.
Setidaknya, gua masih bisa memantau gerak-gerik keduanya’ Batin gua dalam hati.
Dari arah dalam, gua hanya duduk sambil menopang dagu dan menatap Marshall bicara dengan Tata. Keduanya tampak bicara santai, nggak terlihat ekspresi yang berlebihan dari Marshall. Entahlah bagaimana dengan Tata, gua nggak terlalu mempedulikannya.
Setelah merasa tak ada lagi obrolan dari mereka berdua. Saat merasa keduanya kini lebih banyak diam, gua beranjak, mendekat ke arah mereka.
“Udah kan?” Tanya gua ke Marshall.
Marshall mengangguk pelan. Ia lalu mematikan rokok miliknya di atas asbak dan berdiri, bersiap untuk pulang. Sementara, Tata terlihat tengah menyeka ujung matannya dengan tangan. Ia lalu berdiri dan bicara; “Ayo aku anter…”.
Gua menoleh dan berpaling ke arahnya; “Nggak usah, makasih..”
“Aku mau nganter Marshall, bukan kamu…” Balasnya tanpa menatap ke arah gua,
Dengan cepat, gua bersiap mendekat, hendak menjambak rambutnya dan menyeretnya sepanjang jalan. Tapi, Marshall dengan cepat menahan dengan menggapai tangan dan menggenggamnya. Gua mendongak, dan menatap Marshall yang tengah menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Ia berpaling ke Tata dan bicara pelan; “Kita jalan aja, Ta… deket kok”
“Oh.. Yaudah” Jawabnya, lalu meraih tas, ponsel dan kunci mobilnya dan bersiap pergi.
Saat melewati kami, gua menyempatkan diri untuk mengajaknya bicara, ingin meminta nomor ponselnya. “Woy..” Seru gua.
Tata nggak merespon, ia hanya terus melangkah. Bahkan seakan meledek, ia mengibaskan rambutnya tepat dihadapan gua.
“Woy, Jablay!” Seru gua lagi.
Kali ini Tata berhenti, lalu berpaling menatap gua. Ia mengernyitkan dahinya lalu membalas; “Apa?” Tanyanya.
Gua mendekat, menepis tangan Marshall yang sejah tadi menggenggam gua. Dengan ponsel di tangan, gua menyodorkannya ke arah Tata; “Minta nomor lo”.
“Buat apa?” Tanyanya.
“Nggak tau, kayaknya gua merasa harus punya aja. Soalnya di HP gua ini belum ada nomor orang brengsek” Jawab gua, sambil terus menyodorkan ponsel ke arahnya.
Dengan tampang kesal, ia menyambar ponsel gua, lalu memasukkan nomor miliknya. Setelah selesai ia kembali menyodorkan ponsel ke arah gua. Saat bersiap mengambil ponsel dari tangannya, tiba-tiba ia dengan sengaja melepas genggaman, membuat ponsel gua langsung meluncur jatuh ke jalan.
‘Prak!’
“Yah Sorry ya..” Ia menggumam pelan, berbalik dan segera masuk ke dalam mobil.
Sementara, gua yang nggak mempedulikan ponsel lantas mencoba mengejarnya. Sayang, ia dengan cepat menyalakan mesin mobil dan melaju pergi.
“Bodat Anjing! pigi sana yang jauh, ku cari ko sampe ke ujung dunia” Seru gua sambil menatap mobilnya yang perlahan menjauh lalu hilang.
Marshall mendekat, meraih ponsel gua yang terjatuh, menyekanya dengan telapak tangan dan mengembalikan ponsel yang kini layarnya retak ke gua.
‘Ck!.. Rugi banyak hari ini gua..” Gua menggumam pelan, seraya menatap ke arah layar ponsel yang retak.
“Lagian, ngapain pake minta nomor HP nya?” Tanya Marshall.
“Ya siapa tau nanti suatu saat butuh..” Gua menjawab.
“Kan gua punya” Ucapnya.
Gua lantas mendongak dan menatapnya.
“Emang kalo gua minta sama lo. Lo bakal ngasih?” Tanya gua, merasa kalau Marshall nggak mungkin memberikan nomor ponsel Tata ke gua. Takut gua bakal bicara yang nggak-nggak atau menghampirinya untuk melakukan tindak kekerasan.
“Kenapa nggak?” Ia balik bertanya.
Gua dengan cepat memukul dadanya beberapa kali, sambil berseru; “Kenapa nggak bilang sih!”
“Ya gua mana tau” Balasnya.
—
Gua berjalan menyusuri trotoar lebar dari kedai tempat pertemuan dengan Tata menuju ke Studio, dimana mobil gua terparkir. Sesekali gua berbalik, berjalan mundur menatap ke arah Marshall yang berjalan jauh dibelakang gua; sambil merokok, sementara tangan satunya memegang gelas plastik berisi ice americano miliknya.
“Cepat, Sal..” Gua berseru sambil melambai.
“Cepet? mau kemana?” Tanyanya, berteriak.
Gua nggak menjawab, hanya tersenyum sambil terus menatapanya. Entah kenapa gua menyerukan hal tersebut, gua hanya ingin menatapnya dan mengajaknya bicara.
Marshall membuang puntung rokok miliknya ke lubang sela-sela saluran pembuangan, lalu mempercepat langkahnya menyusul gua. Begitu dekat, tiba-tiba Marshall mengajukan pertanyaan absrud yang sering ia layangkan; “Kenapa orang kalo mencet pin ATM ditutupin? padahal kan kartunya sama kita, dia tau pinnya juga nggak bisa ngapa2in?”
“Mau dijawab serius apa bercanda?” Gua balik bertanya, yang lalu direspon dengan Marshall mengangkat bahunya, berarti gua bebas memberi jawaban.
“Mostly, orang Indonesia selalu pake kombinasi pin atau password yang sama.
Kayak lo nih, misalnya gua tau salah satu pin atau password lo, bisa aja gua coba masuk ke akun email, atau akun bank lo yang lain dengan pake pin dan password yang sama..” Gua menjawab, tentu dengan menggunakan jawaban yang serius.
Sementara, Marshall hanya menatap gua sambil melongo. Sepertinya ia nggak mengharapkan jawaban yang seserius itu dari gua.
“Kenapa? jangan-jangan semua pin dan password lo juga gitu? punya kombinasi yang sama?” Tanya gua.
Marshall mengangguk.
“... Yaudah nanti kalau sempet diganti aja…” Gua menambahkan.
“Ok…” Jawabnya sambil tersenyum. Ia lalu mendekat, meraih bahu dan mulai merangkul gua.
Kini kami berdua berjalan bersisian di sepanjang trotoar lebar menuju ke studio. Saat sudah berada dekat dengan studio, tepat di depan deretan ruko menuju ke arah gang, terlihat Dinar dan Adam berjalan keluar dari dalam gang, berbelok ke arah deretan ruko. Mereka lalu menatap ke arah kami berdua. Dengan cepat, Marshall melepas rangkulan dan bergeser kemudian mempercepat langkah. Sementara, gua malah sengaja pasang senyum ke mereka berdua sambil melambai; “Pada mau kemana?”.
“Jajan, Kak…” Adam menjawab.
Dinar menatap ke arah Marshall yang semakin mempercepat langkah dan, berbelok ke dalam gang. Ia lalu berpaling menatap gua dengan tatapan yang terlihat penuh kecurigaan. Gua mempercepat langkah, menyusul Marshall.
“Mau langsung ke tempat Reni?” Tanya Marshall sambil membungkuk, bersandar pada pintu mobil dengan wajah menatap ke dalam, ke arah gua yang kini sudah duduk dibalik kemudi.
“Iya…”
“Abis itu, langsung pulang?” Tanyanya lagi.
“Iya…”
“Boleh gua nanti kesana?” Tanyanya.
Gua tersenyum dan mengangguk.
“Rindu sama gua apa sama Anggi?” Tanya gua.
“Sama Anggi lah…” Marshall menjawab sambil tertawa.
“Lah, sama gua? nggak rindu?”
“Belum… Belum rindu”
Setengah jam berikutnya, gua sudah berada di rumah Reni. Saat gua datang, Anggi sudah terlihat duduk manis di sofa sambil menggendong tas dan memeluk botol minum miliknya. Ia langsung berdiri, berlari menghampiri gua dan memberi pelukan. “Mommy…” Serunya.
“Halo cantik… Lama ya nunggu mommy?” Tanya gua.
“Nggak kok..” Ia menjawab lucu.
Reni muncul dari dapur sambil membawa segelas teh berukuran besar. “Mau kak?” Tanyanya.
“Nggak ah, abis minum teh tadi..” Jawab gua sambil menggeleng.
“Tumben pagi-pagi udah ngeteh…” Ucapnya.
“Iya…”
Sebelum pulang, Reni sempat bercerita tentang kondisi Sere; anak bungsu Jeje. Gua sendiri memang belum sempat menghubungi Jeje untuk menanyakan kabar Sere. Dari penuturannya, gua mengetahui kalau operasi Sere berjalan lancar dan kini tengah dalam tahap pemulihan.
‘Wah, hebat beneran ternyata Dokter Lian’ Batin gua dalam hati.
“Terus kapan mereka balik?” Tanya gua ke Reni.
“Nggak tau deh, Abang sih bilangnya mau nunggu Sere bener-bener pulih baru balik kesini. Tapi, kemarin sempet denger-denger katanya si Dokter Lian juga praktek disini. Mungkin bisa juga balik cepet terus nanti bisa dirawat Dokter Lian juga disini, di Jakarta..” Jawab Reni sambil sesekali meniup uap dari teh yang terlihat masih panas.
“Oh..”
“Kenapa emang kak?” Tanya Reni.
“Gapapa, gua butuh Jeje handle tugas gua…” Gua memberi jawaban.
“Hah, kenapa emang, Kak Dince mau cabut?” Tanyanya.
Gua tersenyum dan mengangguk pelan.
“... Serius?” Ia menambahkan.
Gua kembali mengangguk.
“... Udah nggak mau kerja lagi?” Tanyanya lagi, seakan nggak puas.
“Iya..” Ucap gua pelan.
“Serius?!”
“Iya…”
“Wah, seru nih. Abang nggak bakal ngizinin sih…” Balasnya.
Sementara gua nggak merespon, hanya terdiam sebentar, kemudian berdiri dan meraih tangan Anggi, bersiap untuk pergi.
“Kenapa?” Tanya gua. Merujuk ke alasan Jeje nggak bakal memberi gua ijin seperti yang diucapkan oleh Reni barusan. Gua tentu tau jawabannya, gua tentu sudah menebak apa yang bakal Jeje ucapkan dan lakukan saat mendengar gua bakal mundur dari holding company tempat kami memulainya.
Rani nggak menjawab, ia hanya menatap gua datar.
Dalam perjalanan kembali ke rumah, saat masih berada di dalam mobil, ponsel gua berdering. Layarnya menampilkan nama Jeje. Gua menghela nafas sebentar, mencoba mengatur nafas. Reni pasti sudah bikin laporan ke abangnya perihal niat gua yang ingin ‘cabut’ dari perusahaan.
“Halo…” Sapa gua.
“Ce..”
“Ya…”
“Anggi mana?” Tanyanya.
“Ada nih. Mau ngomong?” Gua balik bertanya.
“Iya…”
Gua lantas menyerahkan ponsel ke Anggi yang duduk di kursi penumpang bagian belakang; “Nggi, Papah nih. Mau ngomong…”
Anggi lantas meraih ponsel yang gua sodorkan dan bicara dengan Papahnya melalui sambungan telepon. Gua mendengar percakapan mereka yang hanya bicara tentang kabar, sudah makan apa belum, sudah minum vitamin apa belum dan pesan Jeje agar Anggi nurut sama gua.
Setelahnya, Anggi kembali menyodorkan ponsel ke gua.
“Halo…” Gua kembali memberi sapaan ke Jeje.
“Ce..”
“Ya…”
“Reni tadi cerita…”
“Iya, tentang gua yang mau cabut?” Tanya gua, mencoba menebak.
“Lo cuma cabut dari as a executive kan? dan tetep ada di stakeholder kan?”
“Nggak, gua mau cabut dari semuanya. Saham gua kasih aja ke Anggi.” Gua menjawab santai.
“Emang lo mau kemana? Mau ngapain?” Tanyanya. Suaranya terdengar khawatir.
“Ada deh…” Gua sengaja nggak ingin memberitahunya, setidaknya nggak sekarang. Nanti, gua bakal menceritakan semuanya nanti. Tapi, bukan Jeje namanya kalau ia nggak pandai menebak dan membaca situasi. Ia lantas memberikan tebakan dan asumsinya; “Mau kerja di tempat Marshall?” Tanyanya.
“...” Gua terdiam, nggak menjawab.
Lalu terdengar Jeje menghela nafas dalam-dalam. Seperti tengan menghisap rokoknya. Ia lalu kembali bicara; “Kalo lo cuma mau cabut dari executive, gua masih maklum lah Ce. Tapi kalo cabut dari stakeholder ntar lo dapet uang darimana?”.
“Gampang itu mah…”
“Nggak ah, gua nggak setuju..” Ia menolak.
“Kenapa?” Tanya gua.
“Coba pikirin lagi deh, Ce…” Ucapnya, mendesak gua.
“Udah Je, Udah…” Gua memberi jawaban.
“Marshall tau akan hal ini?” Tanyanya.
“Nggak. Dan jangan coba-coba bawa-bawa dia ke masalah ini” Ancam gua.
“Nggak bisa. Gua bakal melakukan apapun buat mencegah lo keluar” Jeje membalas ancaman gua.
“...” Gua terdiam.
“... Gini aja deh. Kita ngobrol lagi aja nanti pas gua ke Jakarta. Sampai saat itu hold dulu semua keputusan lo” Tambahnya.
Gua yang nggak mau Marshall tau akan hal ini, lalu mengiyakan permintaan Jeje barusan.
Selama ini penghasilan utama gua berasal dari dividen sebagai pemilik saham di holding company milik kami. Selain itu ada pula income lainnya berupa gaji sebagai CMO dan CEO di beberapa anak perusahaan lain mililk Jeje. Ada pula penghasilan sampingan dari uang sewa beberapa unit ruko dan bangunan di daerah BSD, Gading Serpong, Sunter, PIK dan Kelapa Gading. Merasa bisa bertahan hidup hanya dari uang sewa bangunan, rasa-rasanya keluar dari pemilik saham di holding company bukan deal yang buruk. Setidaknya, gua bisa fokus mengurus pekerjaan di studio Marshall.
Dari uang hasil sewa gedung itu, gua yakin masih bisa membiayai hidup sendiri dan memberikan sedikit uang jajan buat Anggi. Toh, Anggi juga bukan tipikal anak yang suka merengek minta jajan, minta dibelikan sesuatu.
Gua duduk, menatap ke arah Anggi yang sibuk duduk sambil menggambar di ruang keluarga. Gua lalu mendekat dan duduk disebelahnya. Sesekali bertanya tentang gambar yang tengah dibuatnya. Semakin kesini, skill menggambarnya semakin baik, bahkan jauh lebih baik daripada gua.
“Om Marshall kesini nggak, Mom?” Tanyanya sambil mendongak menatap gua.
“Nggak tau deh. Tadi sih katanya mau kesini” Ucap gua.
“Yeay! Berarti nanti kita bisa menggambar bersama dong..” Serunya.
“Yeay! Seru dong…” Gua ikut heboh. Namun, dengan cepat Anggi kembali terdiam dan bicara; “Mommy nggak usah ikut gambar, Mommy nonton aja…”
“Lho kenapa?” Tanya gua.
“Kata Om Marshall, Mommy better do the laundry…” Jawab Anggi, lucu.
“Kapan dia ngomong gitu?” Tanya gua sambil menggeram.
“Waktu itu…”
Terdengar suara bel dan disusul ketukan di pintu. Nggak lama ponsel gua ikut berdering, layarnya menampilkan nama Marshall yang kini lengkap dengan dua ikon hati setelah namanya.
“Halo…”
“Gua di depan pintu” Ucapnya.
“Ya ngapain nelpon…” Seru gua. Lalu berdiri, mendekat ke arah pintu dan membukanya. Entah apa yang ada dipikiran Marshall. Padahal ia sudah gua berikan kode akses untuk masuk ke dalam, tapi setiap kali datang ia terus-terusan mengetuk pintu atau membunyikan bel; Nambah kerjaan gua.
“Lama..” Gumamnya, lalu langsung masuk ke dalam, menuju ke ruang keluarga untuk menemui Anggi. Mereka berdua lantas duduk bersama, bercengkrama, saling bertukar cerita dan kemudian duduk sambil menggambar.
Gua duduk sambil bertopang dagu di kursi meja makan, menatap mereka berdua sambil tersenyum. Merasa nggak perlu lagi strategi khusu untuk bikin Marshall akrab dengan Anggi. Tanpa perlu effort apapun, keduanya sudah membentuk bonding yang luar biasa. Ya walaupun terkadang kedekatan mereka berdua digunakan untuk bersepakat jahat terhadap gua.
---
Tata lalu menuju ke sisi mobilnya, bersiap membuka pintu. Menyadari kalau mereka berdua akan ngobrol di tempat lain, gua lantas berseru; “Mau kemana? kalo mau ngobrol di dalem aja” Seraya menunjuk ke arah studio.
Mendengar teriakan gua, Tata lantas menatap Marshall seakan meminta persetujuan. Namun, nggak gua sangka-sangka ia malah menggelengkan kepalanya. Lalu meraih handle pintu mobil bersiap masuk ke dalam, ke kursi sisi penumpang mobil milik Tata. Dengan cepat gua mendekat, membuka pintu penumpang bagian belakang, masuk dan duduk.
Tata dan Marshall yang sudah berada di dalam mobil langsung menoleh ke belakang, ke arah dimana gua duduk tanpa seizin si pemilik mobil. Sambil menatap ke luar melalui jendela, gua menggumam pelan; “Gua ikut…”
Seperti nggak punya kekuatan untuk memberi bantahan ataupun mengusir gua dari dalam mobilnya, Tata mendengus pelan sambil menyalakan mesin dan melajukan mobil.
Ia nggak membawa gua pergi jauh dari studio. Tepat di sisi sebuah kedai kopi yang terlihat baru saja buka, Tata melambatkan laju mobilnya, memutar kemudi dan parkir. Tanpa banyak bicara, keduanya lalu turun dari mobil. Sementara, Tata langsung menuju ke arah kedai kopi, Marshall hanya berdiri di sisi pintu; terdiam.
Gua menyusul keluar.
Tiba-tiba, ia mendekat, meraih kepala gua, membuat gua berada di dalam dekapannya. Dengan perlahan ia memberi kecupan di ujung kepala. Gua mendongak, menatapnya, ia nggak berkata apa-apa, hanya tersenyum.
Marshall melepas dekapannya, lalu berjalan menyusul Tata yang sudah lebih dulu menuju ke arah kedai. Gua lantas mengikutinya.
Tata memilih meja yang berada di beranda kedai. Ia meletakkan kunci mobil, tas dan ponselnya, di atas meja lalu duduk. Masih diam, tanpa bicara sepatah katapun. Sementara, Saat gua hendak duduk di meja yang sama dengan Tata, Marshall mencegahnya. Dengan cepat, ia meraih tangan gua dan mengajak masuk ke dalam kedai.
“Ngapain?” Bisik gua.
“Mesen kopi” Jawabnya singkat.
“Ya elo aja, gua mau ngobrol sama dia sebentar” Balas gua seraya menunjuk ke arah Tata yang duduk di beranda kedai.
“…”
“Kenapa? lo nggak mau gua ngobrol berduaan aja sama dia? lo nggak percaya sama gua? Lo minta gua percaya sama lo. Tapi, lo nggak percaya sama gua..” Ucap gua merepet.
Karna sudah berada tepat di depan konter pemesanan, Marshall nggak langsung menjawab, ia memesan dua iced americano dan satu Jasmine tea; buat gua. Selesai memesan, ia berpaling, sambil bersandar pada konter, ia menatap gua dan barulah memberi jawaban.
“Bukan… Bukan gua nggak percaya sama lo. Bukan juga karena takut lo melewati batas…”
“Terus kenapa?”
Ia lantas menunjuk ke arah pramusaji, lalu bicara pelan; “Bayarin dulu ini, dompet gua ketinggalan di apartemen kayaknya, HP gua abis baterai-nya".
“Kimak, kirain apaan..” Gua berseru, sambil mencoba terus terlihat cool, padahal di dalam hati tengah mencoba menahan tawa. Lantas mengeluarkan dompet dari dalam tas, mengeluarkan kartu ATM dan memberikannya ke pramusaji untuk menyelesaikan pembayaran.
Dengan dua minuman ditangannya, (minuman yang gua bayar) Marshall kembali ke arah beranda kedai, sementara gua mengikutinya dari belakang sambil membawa gelas minuman milik gua sendiri (yang gua bayar sendiri). Ia meletakkan gelas besar iced americano di atas meja tepat di depan Tata, lalu duduk di seberangnya, sementara gua memilih kursi yang berada di tengah, diantara mereka berdua.
Kami bertiga terdiam.
Sesaat kemudian, Tata meraih gelas kopi miliknya, ia menyelipkan helaian rambutnya yang indah dibelakang telinga dan mulai minum dengan sedotan. Caranya minum saja sudah terlhat anggun dan elegan. ‘Pasti lagi nyoba terbar pesona’ Batin gua dalam hati, lalu segera berpaling ke arah Marshall yang saat itu juga kedapatan tengah menatapnya.
Dengan cepat, gua menendang kakinya. Membuat Marshall mengaduh lalu menatap gua sambil mengernyitkan dahi. Gua memberinya kode dengan pasang tampang sangar dan mata melotot.
Tata lalu buka suara; “Apa kabar, Sal?” Tanyanya pelan.
Marshall mengangguk sambil memberi jawaban singkat; “Baik. Lo?”
“Sama, baik juga” Jawabnya.
Mereka berdua lalu kembali terdiam. ‘Mungkin saja bila gua nggak berada disini obrolan mereka bakal cair dan lepas. Saling bertukar kabar, menanyakan keadaan, curhat tipis-tipis, lalu mulai kirim-kiriman pesan, sleep call, terus.
Arrghh. Nggak!, pokoknya gua harus tetap disini’ Batin gua dalam hati.
Gemas melihat mereka hanya terdiam, gua lantas menegakkan tubuh dan bicara; “Ayo udah buruan langsung ke intinya aja!” Seru gua ke Tata.
Tata lalu menoleh ke arah gua dan pasang tampang kesal. Dengan santai, ia meraih bungkusan rokok dari dalam tas, mengambilnya sebatang dan mulai menyulutnya. Baru saja satu hisapan, Marshall dengan cepat meraih rokok miliknya, dan mematikannya di asbak yang berada di atas meja.
Mendapat perlakuan seperti itu, Tata lantas kembali mengambil sebatang rokok dari bungkusan dan menyulutnya. Lagi, Marshall melakukan hal yang sama. Melihat hal tersebut tentu bikin gua naik pitam. ‘Katanya hanya penggalan kisah, tapi kok masih sepeduli itu’. Yang bikin gua semakin khawatir dengan tindakannya adalah perasaan Tata kala mendapat perlakuan seperti itu darinya; ‘Ah, bakal semakin besa kepala dibuatnya’ batin gua dalam hati.
“Kenapa?” Tanya Tata, saat Marshall untuk ketiga kalinya mematikan rokok miliknya.
“...”
“... Kamu khawatir sama aku?” Tambahnya. Lalu menoleh sebentar ke arah gua, seakan memberi kode kalau ia selangkah lebih unggul.
Marshall tersenyum sebentar, lalu bicara; “Bukan, bukan sama lo. Tapi sama dia…” Ucap Marshall, seraya menatap ke arah gua.
“... Dia nggak bisa kena asap rokok.” Tambahnya sambil menunjuk ke arah gua.
Mendengar ucapannya barusan, jantung gua rasanya mau lepas. Segitu pedulinya ia dengan gua, pun di depan perempuan super cantik yang juga sekaligus mantan kekasihnya.
Gua menatap ke arah Tata dan bertanya; “Lo mau merokok?”. Tata lalu merespon dengan mengangguk pelan. Gua berdiri, meraih gelas minuman dan pergi. Pindah ke salah satu meja yang berada di area indoor kedai. ‘Gua harus belajar berbesar hati. Memberikan kesempatan untuk mereka bicara.
Setidaknya, gua masih bisa memantau gerak-gerik keduanya’ Batin gua dalam hati.
Dari arah dalam, gua hanya duduk sambil menopang dagu dan menatap Marshall bicara dengan Tata. Keduanya tampak bicara santai, nggak terlihat ekspresi yang berlebihan dari Marshall. Entahlah bagaimana dengan Tata, gua nggak terlalu mempedulikannya.
Setelah merasa tak ada lagi obrolan dari mereka berdua. Saat merasa keduanya kini lebih banyak diam, gua beranjak, mendekat ke arah mereka.
“Udah kan?” Tanya gua ke Marshall.
Marshall mengangguk pelan. Ia lalu mematikan rokok miliknya di atas asbak dan berdiri, bersiap untuk pulang. Sementara, Tata terlihat tengah menyeka ujung matannya dengan tangan. Ia lalu berdiri dan bicara; “Ayo aku anter…”.
Gua menoleh dan berpaling ke arahnya; “Nggak usah, makasih..”
“Aku mau nganter Marshall, bukan kamu…” Balasnya tanpa menatap ke arah gua,
Dengan cepat, gua bersiap mendekat, hendak menjambak rambutnya dan menyeretnya sepanjang jalan. Tapi, Marshall dengan cepat menahan dengan menggapai tangan dan menggenggamnya. Gua mendongak, dan menatap Marshall yang tengah menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Ia berpaling ke Tata dan bicara pelan; “Kita jalan aja, Ta… deket kok”
“Oh.. Yaudah” Jawabnya, lalu meraih tas, ponsel dan kunci mobilnya dan bersiap pergi.
Saat melewati kami, gua menyempatkan diri untuk mengajaknya bicara, ingin meminta nomor ponselnya. “Woy..” Seru gua.
Tata nggak merespon, ia hanya terus melangkah. Bahkan seakan meledek, ia mengibaskan rambutnya tepat dihadapan gua.
“Woy, Jablay!” Seru gua lagi.
Kali ini Tata berhenti, lalu berpaling menatap gua. Ia mengernyitkan dahinya lalu membalas; “Apa?” Tanyanya.
Gua mendekat, menepis tangan Marshall yang sejah tadi menggenggam gua. Dengan ponsel di tangan, gua menyodorkannya ke arah Tata; “Minta nomor lo”.
“Buat apa?” Tanyanya.
“Nggak tau, kayaknya gua merasa harus punya aja. Soalnya di HP gua ini belum ada nomor orang brengsek” Jawab gua, sambil terus menyodorkan ponsel ke arahnya.
Dengan tampang kesal, ia menyambar ponsel gua, lalu memasukkan nomor miliknya. Setelah selesai ia kembali menyodorkan ponsel ke arah gua. Saat bersiap mengambil ponsel dari tangannya, tiba-tiba ia dengan sengaja melepas genggaman, membuat ponsel gua langsung meluncur jatuh ke jalan.
‘Prak!’
“Yah Sorry ya..” Ia menggumam pelan, berbalik dan segera masuk ke dalam mobil.
Sementara, gua yang nggak mempedulikan ponsel lantas mencoba mengejarnya. Sayang, ia dengan cepat menyalakan mesin mobil dan melaju pergi.
“Bodat Anjing! pigi sana yang jauh, ku cari ko sampe ke ujung dunia” Seru gua sambil menatap mobilnya yang perlahan menjauh lalu hilang.
Marshall mendekat, meraih ponsel gua yang terjatuh, menyekanya dengan telapak tangan dan mengembalikan ponsel yang kini layarnya retak ke gua.
‘Ck!.. Rugi banyak hari ini gua..” Gua menggumam pelan, seraya menatap ke arah layar ponsel yang retak.
“Lagian, ngapain pake minta nomor HP nya?” Tanya Marshall.
“Ya siapa tau nanti suatu saat butuh..” Gua menjawab.
“Kan gua punya” Ucapnya.
Gua lantas mendongak dan menatapnya.
“Emang kalo gua minta sama lo. Lo bakal ngasih?” Tanya gua, merasa kalau Marshall nggak mungkin memberikan nomor ponsel Tata ke gua. Takut gua bakal bicara yang nggak-nggak atau menghampirinya untuk melakukan tindak kekerasan.
“Kenapa nggak?” Ia balik bertanya.
Gua dengan cepat memukul dadanya beberapa kali, sambil berseru; “Kenapa nggak bilang sih!”
“Ya gua mana tau” Balasnya.
—
Gua berjalan menyusuri trotoar lebar dari kedai tempat pertemuan dengan Tata menuju ke Studio, dimana mobil gua terparkir. Sesekali gua berbalik, berjalan mundur menatap ke arah Marshall yang berjalan jauh dibelakang gua; sambil merokok, sementara tangan satunya memegang gelas plastik berisi ice americano miliknya.
“Cepat, Sal..” Gua berseru sambil melambai.
“Cepet? mau kemana?” Tanyanya, berteriak.
Gua nggak menjawab, hanya tersenyum sambil terus menatapanya. Entah kenapa gua menyerukan hal tersebut, gua hanya ingin menatapnya dan mengajaknya bicara.
Marshall membuang puntung rokok miliknya ke lubang sela-sela saluran pembuangan, lalu mempercepat langkahnya menyusul gua. Begitu dekat, tiba-tiba Marshall mengajukan pertanyaan absrud yang sering ia layangkan; “Kenapa orang kalo mencet pin ATM ditutupin? padahal kan kartunya sama kita, dia tau pinnya juga nggak bisa ngapa2in?”
“Mau dijawab serius apa bercanda?” Gua balik bertanya, yang lalu direspon dengan Marshall mengangkat bahunya, berarti gua bebas memberi jawaban.
“Mostly, orang Indonesia selalu pake kombinasi pin atau password yang sama.
Kayak lo nih, misalnya gua tau salah satu pin atau password lo, bisa aja gua coba masuk ke akun email, atau akun bank lo yang lain dengan pake pin dan password yang sama..” Gua menjawab, tentu dengan menggunakan jawaban yang serius.
Sementara, Marshall hanya menatap gua sambil melongo. Sepertinya ia nggak mengharapkan jawaban yang seserius itu dari gua.
“Kenapa? jangan-jangan semua pin dan password lo juga gitu? punya kombinasi yang sama?” Tanya gua.
Marshall mengangguk.
“... Yaudah nanti kalau sempet diganti aja…” Gua menambahkan.
“Ok…” Jawabnya sambil tersenyum. Ia lalu mendekat, meraih bahu dan mulai merangkul gua.
Kini kami berdua berjalan bersisian di sepanjang trotoar lebar menuju ke studio. Saat sudah berada dekat dengan studio, tepat di depan deretan ruko menuju ke arah gang, terlihat Dinar dan Adam berjalan keluar dari dalam gang, berbelok ke arah deretan ruko. Mereka lalu menatap ke arah kami berdua. Dengan cepat, Marshall melepas rangkulan dan bergeser kemudian mempercepat langkah. Sementara, gua malah sengaja pasang senyum ke mereka berdua sambil melambai; “Pada mau kemana?”.
“Jajan, Kak…” Adam menjawab.
Dinar menatap ke arah Marshall yang semakin mempercepat langkah dan, berbelok ke dalam gang. Ia lalu berpaling menatap gua dengan tatapan yang terlihat penuh kecurigaan. Gua mempercepat langkah, menyusul Marshall.
“Mau langsung ke tempat Reni?” Tanya Marshall sambil membungkuk, bersandar pada pintu mobil dengan wajah menatap ke dalam, ke arah gua yang kini sudah duduk dibalik kemudi.
“Iya…”
“Abis itu, langsung pulang?” Tanyanya lagi.
“Iya…”
“Boleh gua nanti kesana?” Tanyanya.
Gua tersenyum dan mengangguk.
“Rindu sama gua apa sama Anggi?” Tanya gua.
“Sama Anggi lah…” Marshall menjawab sambil tertawa.
“Lah, sama gua? nggak rindu?”
“Belum… Belum rindu”
Setengah jam berikutnya, gua sudah berada di rumah Reni. Saat gua datang, Anggi sudah terlihat duduk manis di sofa sambil menggendong tas dan memeluk botol minum miliknya. Ia langsung berdiri, berlari menghampiri gua dan memberi pelukan. “Mommy…” Serunya.
“Halo cantik… Lama ya nunggu mommy?” Tanya gua.
“Nggak kok..” Ia menjawab lucu.
Reni muncul dari dapur sambil membawa segelas teh berukuran besar. “Mau kak?” Tanyanya.
“Nggak ah, abis minum teh tadi..” Jawab gua sambil menggeleng.
“Tumben pagi-pagi udah ngeteh…” Ucapnya.
“Iya…”
Sebelum pulang, Reni sempat bercerita tentang kondisi Sere; anak bungsu Jeje. Gua sendiri memang belum sempat menghubungi Jeje untuk menanyakan kabar Sere. Dari penuturannya, gua mengetahui kalau operasi Sere berjalan lancar dan kini tengah dalam tahap pemulihan.
‘Wah, hebat beneran ternyata Dokter Lian’ Batin gua dalam hati.
“Terus kapan mereka balik?” Tanya gua ke Reni.
“Nggak tau deh, Abang sih bilangnya mau nunggu Sere bener-bener pulih baru balik kesini. Tapi, kemarin sempet denger-denger katanya si Dokter Lian juga praktek disini. Mungkin bisa juga balik cepet terus nanti bisa dirawat Dokter Lian juga disini, di Jakarta..” Jawab Reni sambil sesekali meniup uap dari teh yang terlihat masih panas.
“Oh..”
“Kenapa emang kak?” Tanya Reni.
“Gapapa, gua butuh Jeje handle tugas gua…” Gua memberi jawaban.
“Hah, kenapa emang, Kak Dince mau cabut?” Tanyanya.
Gua tersenyum dan mengangguk pelan.
“... Serius?” Ia menambahkan.
Gua kembali mengangguk.
“... Udah nggak mau kerja lagi?” Tanyanya lagi, seakan nggak puas.
“Iya..” Ucap gua pelan.
“Serius?!”
“Iya…”
“Wah, seru nih. Abang nggak bakal ngizinin sih…” Balasnya.
Sementara gua nggak merespon, hanya terdiam sebentar, kemudian berdiri dan meraih tangan Anggi, bersiap untuk pergi.
“Kenapa?” Tanya gua. Merujuk ke alasan Jeje nggak bakal memberi gua ijin seperti yang diucapkan oleh Reni barusan. Gua tentu tau jawabannya, gua tentu sudah menebak apa yang bakal Jeje ucapkan dan lakukan saat mendengar gua bakal mundur dari holding company tempat kami memulainya.
Rani nggak menjawab, ia hanya menatap gua datar.
Dalam perjalanan kembali ke rumah, saat masih berada di dalam mobil, ponsel gua berdering. Layarnya menampilkan nama Jeje. Gua menghela nafas sebentar, mencoba mengatur nafas. Reni pasti sudah bikin laporan ke abangnya perihal niat gua yang ingin ‘cabut’ dari perusahaan.
“Halo…” Sapa gua.
“Ce..”
“Ya…”
“Anggi mana?” Tanyanya.
“Ada nih. Mau ngomong?” Gua balik bertanya.
“Iya…”
Gua lantas menyerahkan ponsel ke Anggi yang duduk di kursi penumpang bagian belakang; “Nggi, Papah nih. Mau ngomong…”
Anggi lantas meraih ponsel yang gua sodorkan dan bicara dengan Papahnya melalui sambungan telepon. Gua mendengar percakapan mereka yang hanya bicara tentang kabar, sudah makan apa belum, sudah minum vitamin apa belum dan pesan Jeje agar Anggi nurut sama gua.
Setelahnya, Anggi kembali menyodorkan ponsel ke gua.
“Halo…” Gua kembali memberi sapaan ke Jeje.
“Ce..”
“Ya…”
“Reni tadi cerita…”
“Iya, tentang gua yang mau cabut?” Tanya gua, mencoba menebak.
“Lo cuma cabut dari as a executive kan? dan tetep ada di stakeholder kan?”
“Nggak, gua mau cabut dari semuanya. Saham gua kasih aja ke Anggi.” Gua menjawab santai.
“Emang lo mau kemana? Mau ngapain?” Tanyanya. Suaranya terdengar khawatir.
“Ada deh…” Gua sengaja nggak ingin memberitahunya, setidaknya nggak sekarang. Nanti, gua bakal menceritakan semuanya nanti. Tapi, bukan Jeje namanya kalau ia nggak pandai menebak dan membaca situasi. Ia lantas memberikan tebakan dan asumsinya; “Mau kerja di tempat Marshall?” Tanyanya.
“...” Gua terdiam, nggak menjawab.
Lalu terdengar Jeje menghela nafas dalam-dalam. Seperti tengan menghisap rokoknya. Ia lalu kembali bicara; “Kalo lo cuma mau cabut dari executive, gua masih maklum lah Ce. Tapi kalo cabut dari stakeholder ntar lo dapet uang darimana?”.
“Gampang itu mah…”
“Nggak ah, gua nggak setuju..” Ia menolak.
“Kenapa?” Tanya gua.
“Coba pikirin lagi deh, Ce…” Ucapnya, mendesak gua.
“Udah Je, Udah…” Gua memberi jawaban.
“Marshall tau akan hal ini?” Tanyanya.
“Nggak. Dan jangan coba-coba bawa-bawa dia ke masalah ini” Ancam gua.
“Nggak bisa. Gua bakal melakukan apapun buat mencegah lo keluar” Jeje membalas ancaman gua.
“...” Gua terdiam.
“... Gini aja deh. Kita ngobrol lagi aja nanti pas gua ke Jakarta. Sampai saat itu hold dulu semua keputusan lo” Tambahnya.
Gua yang nggak mau Marshall tau akan hal ini, lalu mengiyakan permintaan Jeje barusan.
Selama ini penghasilan utama gua berasal dari dividen sebagai pemilik saham di holding company milik kami. Selain itu ada pula income lainnya berupa gaji sebagai CMO dan CEO di beberapa anak perusahaan lain mililk Jeje. Ada pula penghasilan sampingan dari uang sewa beberapa unit ruko dan bangunan di daerah BSD, Gading Serpong, Sunter, PIK dan Kelapa Gading. Merasa bisa bertahan hidup hanya dari uang sewa bangunan, rasa-rasanya keluar dari pemilik saham di holding company bukan deal yang buruk. Setidaknya, gua bisa fokus mengurus pekerjaan di studio Marshall.
Dari uang hasil sewa gedung itu, gua yakin masih bisa membiayai hidup sendiri dan memberikan sedikit uang jajan buat Anggi. Toh, Anggi juga bukan tipikal anak yang suka merengek minta jajan, minta dibelikan sesuatu.
Gua duduk, menatap ke arah Anggi yang sibuk duduk sambil menggambar di ruang keluarga. Gua lalu mendekat dan duduk disebelahnya. Sesekali bertanya tentang gambar yang tengah dibuatnya. Semakin kesini, skill menggambarnya semakin baik, bahkan jauh lebih baik daripada gua.
“Om Marshall kesini nggak, Mom?” Tanyanya sambil mendongak menatap gua.
“Nggak tau deh. Tadi sih katanya mau kesini” Ucap gua.
“Yeay! Berarti nanti kita bisa menggambar bersama dong..” Serunya.
“Yeay! Seru dong…” Gua ikut heboh. Namun, dengan cepat Anggi kembali terdiam dan bicara; “Mommy nggak usah ikut gambar, Mommy nonton aja…”
“Lho kenapa?” Tanya gua.
“Kata Om Marshall, Mommy better do the laundry…” Jawab Anggi, lucu.
“Kapan dia ngomong gitu?” Tanya gua sambil menggeram.
“Waktu itu…”
Terdengar suara bel dan disusul ketukan di pintu. Nggak lama ponsel gua ikut berdering, layarnya menampilkan nama Marshall yang kini lengkap dengan dua ikon hati setelah namanya.
“Halo…”
“Gua di depan pintu” Ucapnya.
“Ya ngapain nelpon…” Seru gua. Lalu berdiri, mendekat ke arah pintu dan membukanya. Entah apa yang ada dipikiran Marshall. Padahal ia sudah gua berikan kode akses untuk masuk ke dalam, tapi setiap kali datang ia terus-terusan mengetuk pintu atau membunyikan bel; Nambah kerjaan gua.
“Lama..” Gumamnya, lalu langsung masuk ke dalam, menuju ke ruang keluarga untuk menemui Anggi. Mereka berdua lantas duduk bersama, bercengkrama, saling bertukar cerita dan kemudian duduk sambil menggambar.
Gua duduk sambil bertopang dagu di kursi meja makan, menatap mereka berdua sambil tersenyum. Merasa nggak perlu lagi strategi khusu untuk bikin Marshall akrab dengan Anggi. Tanpa perlu effort apapun, keduanya sudah membentuk bonding yang luar biasa. Ya walaupun terkadang kedekatan mereka berdua digunakan untuk bersepakat jahat terhadap gua.
---
Lanjut Ke Bawah
Diubah oleh robotpintar 24-06-2024 20:11
vizardan dan 37 lainnya memberi reputasi
38
Kutip
Balas
Tutup