- Beranda
- Stories from the Heart
TOLONG AKU HANTU!
...
TS
adamtzero
TOLONG AKU HANTU!
Quote:

"Hantu Gasimah" cr: pickpik
Sinop
Quote:
Nanti malah spoiler, baca aja kalau minat...

INDEX
Quote:
Spoiler for Arc Perkenalan:
Spoiler for Arc Lima Elit:
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
Spoiler for Arc Gasimah:
Spoiler for Arc ???:
Note:
- Cerita ini fiksi 100 %
- Tidak ada maksud tertentu, kalau ada kesamaan hanya kebetulan semata.
- Enjoy
- Kamis
Diubah oleh adamtzero 14-09-2024 20:03
wikanrahma12070 dan 5 lainnya memberi reputasi
4
5.3K
Kutip
189
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
adamtzero
#48
24
Quote:
Semenjak kejadian itu, hantu Gasimah tidak pernah muncul lagi secara tiba-tiba, Pandu juga ingin rehat dulu dari kegiatannya ini. Uji nyali di ruang jenazah sangat menghancurkan mentalnya, apalagi di depan orang-orang baru ia bersikap seperti itu. Menurut Bosman bersaudara sah-sah saja bahkan cenderung normal ketika seseorang merasakan ketakutan terhadap makhluk ghaib yang seram. Bahkan untuk menghormati Pandu, rekaman itu pun disimpan dahulu belum dibagikan kepada semua penonton. Sedangkan kepunyaan Bosman bersaudara sudah tayang, reaksi penonton cukup memuaskan, bonus pun tidak segan-segan diberikan kepada Kuncen DJ sebagai tanda terima kasihnya.
Siang hari yang panas mencekik leher yang kering, Ardit berjalan menuju kantin dengan perasaan yang kosong. Keputusan Pandu untuk rehat sementara waktu membuat kehidupan Ardit menjadi normal kembali, kuliah dan pulang, sangat membosankan sekali. Keadaan kantin tidak pernah sepi, didukung dengan banyaknya meja-meja yang dapat digunakan oleh orang-orang untuk mengerjakan tugas dan bergosip.
“Zeger madu aja? Cemilannya enggak?” ucap ibu penjual makanan dan minuman ringan di kantin, Ardit seringkali beli di sini karena malas keluar kampus untuk berjalan ke warung.
“Enggak Bu, lagi butuh yang zeger aja,” jawabnya.
Sambil membawa minumannya itu, Ardit mencari tempat yang kosong. Setelah menemukannya di dekat kamar kecil, Ardit pun berjalan mendekati. Namun datang seorang perempuan yang menepuk pundaknya dari belakang. Ardit dapat merasakan kelembutan tangan perempuan itu, tapi ia malah menggelengkan kepalanya seakan sudah tahu siapa pemilik tangan lembut itu.
“Lumba….lum…,” Ardit terkejut tenyata sosok perempuan yang menepuknya bukannya Lulu, tetapi orang lain yang dikenalnya juga. “Kanindini?”
“Halo Ardit, sendiri aja, Pandu mana?” tanya Kanindini.
“Dia….,” Ardit terlihat kusam saat ingin memberitahu Kanindini. Akhirnya mereka duduk bersama untuk membicarakannya.
Kanindini bukanlah orang asing dalam hidup Pandu, karena perempuan ini adalah mantan kekasihnya dahulu saat semester awal. Sosoknya manis dengan tinggi semampai, belum diketahui bahkan oleh Ardit penyebab kandasnya hubungan yang terlihat begitu normal dan baik-baik saja ini. Meja dekat kamar kecil tidak mengurungkan niat keduanya untuk membicarakan Pandu. Keringat dingin turun dari botol minuman Ardit.
“Jadi gini, kita kan lagi bikin konten misteri berbau mistis lah gitu. Cuman ada insiden, cukup ngeri juga sih,” Pandu membuka pembicaraan.
“Ngeri gimana? Dia kesurupan?” tanya Kanindini.
“Hantu juga males kali masukin dia,” Ardit mencoba membuat pembicaraan lebih santai, tetapi wajah Kanindini tidak bergeming. Nampak keseriusan yang malah terlihat. “ya dia histeris ketakutan pas lihat penampakan.”
“Hah? HAHAHAH,” Kanindini malah tertawa lepas. “jangan ngarang deh, aku tahu Pandu itu enggak pernah takut sama penampakan atau hal-hal mistis gitu. Jadi apa yang bikin dia rehat? Belum ngasilin uang dari konten-kontennya?” dengan wajah antusiasnya.
Ardit sudah mengatakan hal yang sejujurnya, Kanindini masih tidak percaya dengan ceritanya. Selanjutnya yang keluar dari mulut Ardit adalah soal keluhan. Mereka sudah bekerja sama dengan salah satu ‘Lima Elit’, jika harus rehat sekarang maka kemungkinan besar orang-orang akan melupakan mereka dengan cepat. Apalagi persaingan di konten sejenis sangat brutal, orang-orang bahkan rela mengorbankan jam tidurnya hanya untuk meraih kesuksesan.
“Mau aku bantu enggak? Ya biar Pandu ini seenggaknya ada semangat lah, sayang juga tadi aku dengernya udah kolab sama nama besar masa harus berhenti di tengah jalan. Rehat itu sehari dua hari bukannya semingguan gini,” ucap Kanindini.
Ardit ragu untuk menerima bantuan dari Kanindini, bukan semangat melanjutkan konten yang didapatnya, nanti malah menambah keresahan hatinya ketika melihat sosok yang pernah ada dihatinya. Tetapi langkah ini juga sudah mentok, tidak ada lagi sosok yang bisa membuka hati Pandu, jangan harap perempuan pendek dengan suara nyaring seperti Lulu mampu melakukannya.
“Boleh deh, yuk langsung aja kekosannya, lagi kosong kok Pandu,” Ardit dan Kanindini berjalan bersama menuju kosan Pandu.
Dari kejauhan, Lulu melihatnya, ia juga mengetahui tentang kisah Pandu dan Kanindini. Sambil berpura-pura berjalan tanpa arah, Lulu semakin dekat hingga Kanindini pun menyapanya.
“Mau ikut enggak?” tanya Kanindini, Ardit hanya bisa menepuk keningnya saja. “aku sama Ardit mau ke kosan Pandu, katanya dia lagi galau berat,” jelasnya.
“Maaf yah Lulu, tapi kosan Pandu sempit,” Lulu menyerang Ardit dengan agresif, merasa tersinggung karena tubuhnya saja sudah kecil. “buset, rantenya lepas apa nih anak?”
“Diam! Yang ngajak itu Dini bukan kamu daun bungkusan lemper!!!” ketus Lulu. “boleh deh,” senyumnya muncul. Dari ketiga orang yang berjalan menuju kosan Pandu, hanya Ardit yang menunjukan wajah kusam.
Kosan Pandu terkenal dengan dilarangnya membawa perempuan dari luar untuk sekedar berkunjung. Penjaganya sudah menatap dengan sinis, melakukan perannya seperti biasa. Lalu Ardit mencoba merayunya, mengatakan bahwa hal ini darurat. Tetapi peraturan adalah peraturan, Kanindini dan Lulu tidak bisa masuk hanya menunggu saja di luar pagar jika mau bertemu dengan Pandu. Melihat keadaan yang tidak ada titik temunya, Kanindini pun maju berhadapan dengan penjaga kos.
“Pak, sudah makan siang belum?” tanya Kanindini.
“Belum, memangnya kenapa?” menjawabnya dengan nada normal, tetapi mukanya sangat jutek.
“Gimana kalau saya beliin makan siang, sebagai gantinya---,” penjaga kos tidak bergeming, hanya memberinya makan siang tidak akan merubah keadaan. “saya kan belum selesai Pak,” Kanindini melanjutkan kembali. “saya beliin makan siang selama seminggu, jadi Bapak enggak perlu masak, enggak perlu beli. Saya yang jamin selama seminggu, gimana?”
“Dikiran sebulan, enggak akan mau lah cuman dibeliin makan siang seminggu,” ucap Ardit dengan suara yang pelan.
“Setuju! Tapi jangan lama-lama yah, kalau ada penghuni lain yang lapor bisa gawat,” kini wajahnya berubah menjadi lebih lembut. Satu masalah pun teratasi, Ardit hanya menggelengkan kepalanya ketika melewati pagar sedangkan penjaga kos tersenyum bahagia.
Ketiga naik ke atas dengan langkah kecil hampir tidak bersuara, ditakutkan ada penghuni lain yang melihat. Untungnya seluruh penghuni sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing di siang panas ini. Mereka bertiga sampai di depan pintu kosan Pandu. Masih sama seperti semester awal saat Pandu memberitahu Kanindini tempat tinggal sementaranya itu.
Kanindini mengetuk pintunya tanpa menyebut namanya, belum ada jawaban dari dalam. Lalu Kanindini mencoba mengetuknya sekali lagi, terdengar langkah dari dalam.
“Siap---,” Pandu tidak bisa berkata-kata saat melihat Kanindini tepat berada didepannya. Keadaannya sedang buruk, bahkan kata kusam lebih tepat menggambarkan sekarang.
Siang hari yang panas mencekik leher yang kering, Ardit berjalan menuju kantin dengan perasaan yang kosong. Keputusan Pandu untuk rehat sementara waktu membuat kehidupan Ardit menjadi normal kembali, kuliah dan pulang, sangat membosankan sekali. Keadaan kantin tidak pernah sepi, didukung dengan banyaknya meja-meja yang dapat digunakan oleh orang-orang untuk mengerjakan tugas dan bergosip.
“Zeger madu aja? Cemilannya enggak?” ucap ibu penjual makanan dan minuman ringan di kantin, Ardit seringkali beli di sini karena malas keluar kampus untuk berjalan ke warung.
“Enggak Bu, lagi butuh yang zeger aja,” jawabnya.
Sambil membawa minumannya itu, Ardit mencari tempat yang kosong. Setelah menemukannya di dekat kamar kecil, Ardit pun berjalan mendekati. Namun datang seorang perempuan yang menepuk pundaknya dari belakang. Ardit dapat merasakan kelembutan tangan perempuan itu, tapi ia malah menggelengkan kepalanya seakan sudah tahu siapa pemilik tangan lembut itu.
“Lumba….lum…,” Ardit terkejut tenyata sosok perempuan yang menepuknya bukannya Lulu, tetapi orang lain yang dikenalnya juga. “Kanindini?”
“Halo Ardit, sendiri aja, Pandu mana?” tanya Kanindini.
“Dia….,” Ardit terlihat kusam saat ingin memberitahu Kanindini. Akhirnya mereka duduk bersama untuk membicarakannya.
Kanindini bukanlah orang asing dalam hidup Pandu, karena perempuan ini adalah mantan kekasihnya dahulu saat semester awal. Sosoknya manis dengan tinggi semampai, belum diketahui bahkan oleh Ardit penyebab kandasnya hubungan yang terlihat begitu normal dan baik-baik saja ini. Meja dekat kamar kecil tidak mengurungkan niat keduanya untuk membicarakan Pandu. Keringat dingin turun dari botol minuman Ardit.
“Jadi gini, kita kan lagi bikin konten misteri berbau mistis lah gitu. Cuman ada insiden, cukup ngeri juga sih,” Pandu membuka pembicaraan.
“Ngeri gimana? Dia kesurupan?” tanya Kanindini.
“Hantu juga males kali masukin dia,” Ardit mencoba membuat pembicaraan lebih santai, tetapi wajah Kanindini tidak bergeming. Nampak keseriusan yang malah terlihat. “ya dia histeris ketakutan pas lihat penampakan.”
“Hah? HAHAHAH,” Kanindini malah tertawa lepas. “jangan ngarang deh, aku tahu Pandu itu enggak pernah takut sama penampakan atau hal-hal mistis gitu. Jadi apa yang bikin dia rehat? Belum ngasilin uang dari konten-kontennya?” dengan wajah antusiasnya.
Ardit sudah mengatakan hal yang sejujurnya, Kanindini masih tidak percaya dengan ceritanya. Selanjutnya yang keluar dari mulut Ardit adalah soal keluhan. Mereka sudah bekerja sama dengan salah satu ‘Lima Elit’, jika harus rehat sekarang maka kemungkinan besar orang-orang akan melupakan mereka dengan cepat. Apalagi persaingan di konten sejenis sangat brutal, orang-orang bahkan rela mengorbankan jam tidurnya hanya untuk meraih kesuksesan.
“Mau aku bantu enggak? Ya biar Pandu ini seenggaknya ada semangat lah, sayang juga tadi aku dengernya udah kolab sama nama besar masa harus berhenti di tengah jalan. Rehat itu sehari dua hari bukannya semingguan gini,” ucap Kanindini.
Ardit ragu untuk menerima bantuan dari Kanindini, bukan semangat melanjutkan konten yang didapatnya, nanti malah menambah keresahan hatinya ketika melihat sosok yang pernah ada dihatinya. Tetapi langkah ini juga sudah mentok, tidak ada lagi sosok yang bisa membuka hati Pandu, jangan harap perempuan pendek dengan suara nyaring seperti Lulu mampu melakukannya.
“Boleh deh, yuk langsung aja kekosannya, lagi kosong kok Pandu,” Ardit dan Kanindini berjalan bersama menuju kosan Pandu.
Dari kejauhan, Lulu melihatnya, ia juga mengetahui tentang kisah Pandu dan Kanindini. Sambil berpura-pura berjalan tanpa arah, Lulu semakin dekat hingga Kanindini pun menyapanya.
“Mau ikut enggak?” tanya Kanindini, Ardit hanya bisa menepuk keningnya saja. “aku sama Ardit mau ke kosan Pandu, katanya dia lagi galau berat,” jelasnya.
“Maaf yah Lulu, tapi kosan Pandu sempit,” Lulu menyerang Ardit dengan agresif, merasa tersinggung karena tubuhnya saja sudah kecil. “buset, rantenya lepas apa nih anak?”
“Diam! Yang ngajak itu Dini bukan kamu daun bungkusan lemper!!!” ketus Lulu. “boleh deh,” senyumnya muncul. Dari ketiga orang yang berjalan menuju kosan Pandu, hanya Ardit yang menunjukan wajah kusam.
Kosan Pandu terkenal dengan dilarangnya membawa perempuan dari luar untuk sekedar berkunjung. Penjaganya sudah menatap dengan sinis, melakukan perannya seperti biasa. Lalu Ardit mencoba merayunya, mengatakan bahwa hal ini darurat. Tetapi peraturan adalah peraturan, Kanindini dan Lulu tidak bisa masuk hanya menunggu saja di luar pagar jika mau bertemu dengan Pandu. Melihat keadaan yang tidak ada titik temunya, Kanindini pun maju berhadapan dengan penjaga kos.
“Pak, sudah makan siang belum?” tanya Kanindini.
“Belum, memangnya kenapa?” menjawabnya dengan nada normal, tetapi mukanya sangat jutek.
“Gimana kalau saya beliin makan siang, sebagai gantinya---,” penjaga kos tidak bergeming, hanya memberinya makan siang tidak akan merubah keadaan. “saya kan belum selesai Pak,” Kanindini melanjutkan kembali. “saya beliin makan siang selama seminggu, jadi Bapak enggak perlu masak, enggak perlu beli. Saya yang jamin selama seminggu, gimana?”
“Dikiran sebulan, enggak akan mau lah cuman dibeliin makan siang seminggu,” ucap Ardit dengan suara yang pelan.
“Setuju! Tapi jangan lama-lama yah, kalau ada penghuni lain yang lapor bisa gawat,” kini wajahnya berubah menjadi lebih lembut. Satu masalah pun teratasi, Ardit hanya menggelengkan kepalanya ketika melewati pagar sedangkan penjaga kos tersenyum bahagia.
Ketiga naik ke atas dengan langkah kecil hampir tidak bersuara, ditakutkan ada penghuni lain yang melihat. Untungnya seluruh penghuni sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing di siang panas ini. Mereka bertiga sampai di depan pintu kosan Pandu. Masih sama seperti semester awal saat Pandu memberitahu Kanindini tempat tinggal sementaranya itu.
Kanindini mengetuk pintunya tanpa menyebut namanya, belum ada jawaban dari dalam. Lalu Kanindini mencoba mengetuknya sekali lagi, terdengar langkah dari dalam.
“Siap---,” Pandu tidak bisa berkata-kata saat melihat Kanindini tepat berada didepannya. Keadaannya sedang buruk, bahkan kata kusam lebih tepat menggambarkan sekarang.
kedubes dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas