- Beranda
- Stories from the Heart
TOLONG AKU HANTU!
...
TS
adamtzero
TOLONG AKU HANTU!
Quote:

"Hantu Gasimah" cr: pickpik
Sinop
Quote:
Nanti malah spoiler, baca aja kalau minat...

INDEX
Quote:
Spoiler for Arc Perkenalan:
Spoiler for Arc Lima Elit:
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
Spoiler for Arc Gasimah:
Spoiler for Arc ???:
Note:
- Cerita ini fiksi 100 %
- Tidak ada maksud tertentu, kalau ada kesamaan hanya kebetulan semata.
- Enjoy
- Kamis
Diubah oleh adamtzero 14-09-2024 20:03
wikanrahma12070 dan 5 lainnya memberi reputasi
4
5.3K
Kutip
189
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
adamtzero
#47
23
Quote:
Suasana ruangan pemantauan menjadi sangat serius, kata-kata Aldi dijadikan sebuah tanda bahwa sesuatu yang menyeramkan akan segera muncul. Ardit tidak terlalu khawatir, selama ini Pandu tidak pernah bergeming kecuali pada saat kejadian tempo hari yang membuatnya tak sadarkan diri. Dari monitor terlihat sangat jelas, awalnya berupa awan hitam yang menumpuk di atap ruangan. Dari yang sedikit hingga akhirnya menyelimuti seluruh bagian.
“Sial!” ucap Rangga sambil memukul meja. “kenapa tadi penunggunya enggak muncul kayak gini sih?!” ungkap kekecewaannya, karena Pandu mendapatkan sebuah momen yang sangat bagus untuk menaikan jumlah penonton.
“Beneran? Enggak salah denger kan gue?” Kuncen DJ menggelengkan kepalanya, menantang makhluk ghaib yang penuh dengan energi negatif sangat tidak disarankan. Karena berani dan bodoh itu adalah dua hal yang sangat berbeda.
“Lihat,” ucap Aldi sambil menunjuk ke arah monitor.
Ardit menjadi sedikit khawatir, karena awan hitam itu turun ke bawah, mulanya membentuk sebuah kaki yang besar dengan kuku-kuku yang panjang. Perubahan wujudnya sangat nyata tidak terhalang kondisi di dalam ruangan yang menggunakan lampu khusus penangkap gambar dikegelapan. Kemudian dari kaki-kaki itu naik ke area pinggul, lalu sebuah badan terbentuk. Tangan-tangan panjang hingga menjuntai ke lantai, dengan kuku melingkar tidak seperti bentuk pada umumnya.
Pandu tidak bisa berkata-kata lagi setelah sebuah kepala dengan dua tanduknya yang panjang akhirnya menyempurnakan sosok penghuni kamar jenazah. Jarak dari Pandu ke sosok ini sangatlah dekat, tidak lebih dari lima langkah kaki orang dewasa.
“Oi Ardit, gimana kalau kita bikin ini satu video aja? Hehe…,” pinta Rangga kepada Ardit, disituasi orang-orang yang melihat dalam keadaan takut karena penampakan yang sangat jelas.
“Hah? Ya---,” Aldi memotong pembicaraan tidak berguna antara keduanya, ia mengatakan bahwa tubuh Pandu bergetar. “yang bener?” Ardit mendekatkan wajahnya ke arah monitor, benar saja Pandu terlihat bergetar.
Sosok itu membuka matanya yang berwarna merah darah, lalu tersenyum lebar hingga menyentuh tanduknya sendiri. Gigi tajam berwarna merah nampak jelas di keadaan ruangan yang minim pencahayaan. Lalu perlahan kakinya bergerak maju, Pandu semakin membeku. Ia sendiri tidak menyadari tubuhnya sedang bergetar hebat.
“Argh!” tiba-tiba memorinya terhadap penunggu ruang eksekusi bekas penjajah kembali muncul, sosok yang begitu seram sampai membuatnya pingsan. “ja---jangan!”
“Huh?” ucap Mr. Blek. “hei hantu cantik, apa ini tidak terlalu berlebihan? Lihat teman manusia mu sangat ketakutan,” suara makhluk ini tidak tertangkap oleh teknologi manusia.
“Kok begitu?” Gasimah yang melihat dari atas tidak menyangka jika perjanjiannya dengan Mr. Blek malah menakuti Pandu.
Pandu menutup kedua matanya sambil berteriak histeris, kedua tangannya menutup telinganya. Keadaan ruang pemantau menjadi tegang, Aldi bergegas keluar ruangan diikuti oleh Kuncen DJ dan Ardit, sementara Rangga masih menonton karena menurutnya bagian ini yang paling seru. Saat seorang peserta ketakutan maka akan membuat energi makhluk itu menjadi lebih besar dan menyeramkan. Di satu sisi Gasimah tidak ingin melihat Pandu menderita seperti itu, lalu meminta Mr. Blek menghilang dalam satu kedipan mata.
“Hah? Kok hilang!” Rangga pun kecewa, lalu keluar untuk mengetahui kondisi Pandu.
Aldi berlari cepat hingga sampai terlebih dahulu ke ruang jenazah, tangannya dengan sigap membuka pintunya. Pandu masih meringkuk sambil teriak histeris, pemandangan yang jarang-jarang dilihatnya. Sebuah reaksi alami dari seseorang manusia yang pernah mengalami kejadian menakutkan dalam hidupnya. Dengan sikap Pandu yang menutup telinganya, berarti sebelumnya pernah ada sebuah suara yang membuatnya trauma.
“Pandu! Pandu!” Ardit yang datang menggoyangkan tubuh rekannya itu. “di sini ada Aldi sama Kuncen juga, semua udah selesai,” ucap Ardit.
“Kayaknya penampakan tadi ngebuat ingatan di ruang eksekusi terbuka kembali,” Kuncen DJ dengan mode serius, tidak lupa sambil menyalakan rokoknya. “bawa Pandu keluar, sama---,” Rangga akhirnya menyusul datang ke ruang jenazah. “nah kamu, tolong bawa krunya semuanya ke sini, kita beres-beres aja sekarang,” Rangga hanya mengangguk.
Kini di ruangan pemantau, keadaan Pandu sudah lebih tenang setelah diberikan air minum oleh sang manajer. Nafasnya kembali normal, cahaya dimatanya pun berbinar kembali. Tubuhnya masih diselimuti oleh keringat dingin, sebagai reaksi dari dalam ketika seseorang merasakan rasa takut yang luar biasa. Bosman bersaudara tidak menyangka bahwa ruang jenazah semenakutkan itu, jelas banyak sekali pembuat konten yang gagal, termasuk dirinya dan juga Pandu.
Di bagian atas ruang jenazah, Mr. Blek dengan wujud manusianya berlutut di depan Gasimah. Ia meminta maaf karena telah melakukan hal yang di luar batas. Makhluk itu pun membuat alasan tidak menyangka bahwa teman manusia dari Gasimah akan ketakutan dengan wujudnya yang tadi. Gasimah meminta Mr. Blek tuk bangun, tidak elok jika dilihat oleh makhluk halus level rendahan jika sang raja harus berlutut mengemis maaf.
“Tidak, aku yang salah…,” ucap Gasimah sedih. “harusnya tadi aku bilang enggak usah terlalu seram, jadinya begini.”
Mr. Blek turut merasa bersalah, “Bukan, aku yang salah. Padahal kita sudah melakukan hal menyenangkan barusan, tetapi aku malah membuatmu kecewa.”
“Aku tidak keberatan melakukannya lagi bersamamu, tapi tidak dalam waktu yang dekat, terima kasih,” Gasimah menembus tembok, tangan Mr. Blek tidak mampu meraihnya.
“Sial!” ucap Rangga sambil memukul meja. “kenapa tadi penunggunya enggak muncul kayak gini sih?!” ungkap kekecewaannya, karena Pandu mendapatkan sebuah momen yang sangat bagus untuk menaikan jumlah penonton.
“Beneran? Enggak salah denger kan gue?” Kuncen DJ menggelengkan kepalanya, menantang makhluk ghaib yang penuh dengan energi negatif sangat tidak disarankan. Karena berani dan bodoh itu adalah dua hal yang sangat berbeda.
“Lihat,” ucap Aldi sambil menunjuk ke arah monitor.
Ardit menjadi sedikit khawatir, karena awan hitam itu turun ke bawah, mulanya membentuk sebuah kaki yang besar dengan kuku-kuku yang panjang. Perubahan wujudnya sangat nyata tidak terhalang kondisi di dalam ruangan yang menggunakan lampu khusus penangkap gambar dikegelapan. Kemudian dari kaki-kaki itu naik ke area pinggul, lalu sebuah badan terbentuk. Tangan-tangan panjang hingga menjuntai ke lantai, dengan kuku melingkar tidak seperti bentuk pada umumnya.
Pandu tidak bisa berkata-kata lagi setelah sebuah kepala dengan dua tanduknya yang panjang akhirnya menyempurnakan sosok penghuni kamar jenazah. Jarak dari Pandu ke sosok ini sangatlah dekat, tidak lebih dari lima langkah kaki orang dewasa.
“Oi Ardit, gimana kalau kita bikin ini satu video aja? Hehe…,” pinta Rangga kepada Ardit, disituasi orang-orang yang melihat dalam keadaan takut karena penampakan yang sangat jelas.
“Hah? Ya---,” Aldi memotong pembicaraan tidak berguna antara keduanya, ia mengatakan bahwa tubuh Pandu bergetar. “yang bener?” Ardit mendekatkan wajahnya ke arah monitor, benar saja Pandu terlihat bergetar.
Sosok itu membuka matanya yang berwarna merah darah, lalu tersenyum lebar hingga menyentuh tanduknya sendiri. Gigi tajam berwarna merah nampak jelas di keadaan ruangan yang minim pencahayaan. Lalu perlahan kakinya bergerak maju, Pandu semakin membeku. Ia sendiri tidak menyadari tubuhnya sedang bergetar hebat.
“Argh!” tiba-tiba memorinya terhadap penunggu ruang eksekusi bekas penjajah kembali muncul, sosok yang begitu seram sampai membuatnya pingsan. “ja---jangan!”
“Huh?” ucap Mr. Blek. “hei hantu cantik, apa ini tidak terlalu berlebihan? Lihat teman manusia mu sangat ketakutan,” suara makhluk ini tidak tertangkap oleh teknologi manusia.
“Kok begitu?” Gasimah yang melihat dari atas tidak menyangka jika perjanjiannya dengan Mr. Blek malah menakuti Pandu.
Pandu menutup kedua matanya sambil berteriak histeris, kedua tangannya menutup telinganya. Keadaan ruang pemantau menjadi tegang, Aldi bergegas keluar ruangan diikuti oleh Kuncen DJ dan Ardit, sementara Rangga masih menonton karena menurutnya bagian ini yang paling seru. Saat seorang peserta ketakutan maka akan membuat energi makhluk itu menjadi lebih besar dan menyeramkan. Di satu sisi Gasimah tidak ingin melihat Pandu menderita seperti itu, lalu meminta Mr. Blek menghilang dalam satu kedipan mata.
“Hah? Kok hilang!” Rangga pun kecewa, lalu keluar untuk mengetahui kondisi Pandu.
Aldi berlari cepat hingga sampai terlebih dahulu ke ruang jenazah, tangannya dengan sigap membuka pintunya. Pandu masih meringkuk sambil teriak histeris, pemandangan yang jarang-jarang dilihatnya. Sebuah reaksi alami dari seseorang manusia yang pernah mengalami kejadian menakutkan dalam hidupnya. Dengan sikap Pandu yang menutup telinganya, berarti sebelumnya pernah ada sebuah suara yang membuatnya trauma.
“Pandu! Pandu!” Ardit yang datang menggoyangkan tubuh rekannya itu. “di sini ada Aldi sama Kuncen juga, semua udah selesai,” ucap Ardit.
“Kayaknya penampakan tadi ngebuat ingatan di ruang eksekusi terbuka kembali,” Kuncen DJ dengan mode serius, tidak lupa sambil menyalakan rokoknya. “bawa Pandu keluar, sama---,” Rangga akhirnya menyusul datang ke ruang jenazah. “nah kamu, tolong bawa krunya semuanya ke sini, kita beres-beres aja sekarang,” Rangga hanya mengangguk.
Kini di ruangan pemantau, keadaan Pandu sudah lebih tenang setelah diberikan air minum oleh sang manajer. Nafasnya kembali normal, cahaya dimatanya pun berbinar kembali. Tubuhnya masih diselimuti oleh keringat dingin, sebagai reaksi dari dalam ketika seseorang merasakan rasa takut yang luar biasa. Bosman bersaudara tidak menyangka bahwa ruang jenazah semenakutkan itu, jelas banyak sekali pembuat konten yang gagal, termasuk dirinya dan juga Pandu.
Di bagian atas ruang jenazah, Mr. Blek dengan wujud manusianya berlutut di depan Gasimah. Ia meminta maaf karena telah melakukan hal yang di luar batas. Makhluk itu pun membuat alasan tidak menyangka bahwa teman manusia dari Gasimah akan ketakutan dengan wujudnya yang tadi. Gasimah meminta Mr. Blek tuk bangun, tidak elok jika dilihat oleh makhluk halus level rendahan jika sang raja harus berlutut mengemis maaf.
“Tidak, aku yang salah…,” ucap Gasimah sedih. “harusnya tadi aku bilang enggak usah terlalu seram, jadinya begini.”
Mr. Blek turut merasa bersalah, “Bukan, aku yang salah. Padahal kita sudah melakukan hal menyenangkan barusan, tetapi aku malah membuatmu kecewa.”
“Aku tidak keberatan melakukannya lagi bersamamu, tapi tidak dalam waktu yang dekat, terima kasih,” Gasimah menembus tembok, tangan Mr. Blek tidak mampu meraihnya.
namakuve dan kulipriok memberi reputasi
2
Kutip
Balas