- Beranda
- Stories from the Heart
Jelaga - Sehitam yang Rasanya Tidak Biasa
...
TS
robotpintar
Jelaga - Sehitam yang Rasanya Tidak Biasa

Bahkan Putih Pun Sudah Seperti Jelaga
"Marsal!"Petugas memanggil namaku asal-asalan.
Gua berdiri dan mendekat ke arah petugas sipir yang menatap ke arah lembaran kertas di atas meja kerjanya. Dengan kacamata baca yang turun hingga ke hidungnya, ia menatapku, lalu tersenyum.
"Tanda tangan" Ucapnya seraya menyerahkan lembaran kertas dari tangannya dan sebuah pulpen.
Gua meraih pulpen itu dan membubuhkan tanda tangan pada bagian bawah lembaran kertas, kemudian mengembalikannya ke petugas tadi.
Ia menerima kertas tersebut, memasukkannya ke dalam sebuah map berwarna hijau dan menumpuknya dengan map-map lain yang memiliki warna yang sama. Dengan gerakan yang lambat dan ogah-ogahan, petugas itu menarik laci, mengeluarkan map plastik transaparan yang di dalamnya terlihat beberapa lembar kertas.
"Nih..." Ucapnya seraya menggeser map transparan tersebut ke arah gua.
"Ada yang jemput, Sal? Nggak ada ya?" Tanya si petugas sambil mencari-cari sesuatu dari laci meja kerjanya.
Belum sempat gua menjawab pertanyaannya, ia lalu menyodorkan sebuah kartu nama. Gua meraih kartu nama tersebut, kartu nama berbahan kertas Ivory yang terlihat murahan. Gua mengernyitkan dahi dan mulai membaca tulisan pada kartu tersebut.
'Jaya Teknik' Gua membaca tulisan paling besar pada kartu tersebut, disusul informasi nomor telepon dan alamat di bagian bawahnya.
"Kang Jaya?" Tanya gua ke petugas itu.
"Iya. Kamu kesana aja, biasanya anak-anak yang baru 'keluar' diajak kerja sama dia" Tambah si petugas sambil tetap menatap ke arah gua.
"Oh..." Gua memberi respon singkat.
Petugas itu berdiri, mengulurkan tangannya. Gua menyambut dan menjabat tangannya.
"Hati-hati ya, Sal. Pokoknya jangan sampe kamu balik kesini lagi" Ucapnya, masih sambil menjabat tangan gua.
"Iya Pak Didi" Jawabku, kemudian bersiap pergi.
Sementara aku pergi, terdengar Pak Didi kembali memanggil nama lain. Seorang petugas menghampiri, membimbing gua melewati lorong berliku yang berpagar tinggi. Hingga akhirnya, kami tiba di sebuah pintu besi berukuran besar. Petugas itu, menekan tombol pada sisi pintu, menimbulkan bunyi meraung keras disusul suara 'cklek' dan pintu otomatis terbuka.
Petugas itu membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan gua untuk keluar.
---
Spoiler for Prolog:
Sebuah ruangan dengan atap tinggi, tanpa dinding dan riuh rendah dari para pengunjung yang tengah mengantri untuk membesuk keluarganya ditambah kerasnya pengumuman dari pelantang suara di ruang semi terbuka itu menyambut gua.
Beberapa mata langsung tertuju ke arah gua. Mungkin aneh melihat ada yang keluar dari pintu besar berukuran tebal itu. Dengan mengabaikan pandangan orang-orang, gua terus melangkah, menuju ke halaman gedung.
Dengan sebuah plastik berwarna merah berisi pakaian seadanya, dan map transparan yang diberikan oleh Pak Didi tadi, gua melangkahkan kaki keluar dari area bangunan itu, untuk pertama kalinya dalam 8 tahun.
Gua menyusuri jalan kecil yang mengubungkan bangunan ini dengan jalan utama yang berada di ujung sana. Sepanjang jalan terdapat beberapa tempat makan sederhana dan warung-warung kopi yang mungkin menjadi tempat para petugas makan dan beristirahat.
Di ujung jalan, terlihat sebuah gapura besar yang terbuat dari batang-batang besi. Pada bagian atasnya nampak motto; "Pasti Baik" dengan tulisan 'Lembaga Pemasyarakatan' di bagian bawahnya. Beberapa tukang ojek pangkalan langsung bersiul begitu melihat kehadiran gua, mencoba menawarkan jasanya.
Gua mengangkat tangan sambil menggeleng, memberi kode dengan cara sesantun mungkin untuk menolak tawaran mereka. Entah mungkin karena nggak ngerti kode yang gue berikan atau memang gigih, mereka tetap menawarkan jasanya. Malah kali ini lebih brutal, mereka menyalakan mesin motor dan langsung mengendarainya mendekat ke arah gua; "Ayok ojek Mas".
"Nggak mas, makasih"Gua menjawab, sambil kembali mengangkat tangan, kemudian melanjutkan langkah.
Akhirnya karena terus dipaksa, gua naik ke boncengan si abang tukang ojek itu. 'Ya emang rejeki dari kegigihannya' Gua membatin dalam hati.
"Kemana?" Tanyanya.
"Terminal" Gua menjawab singkat.
"Siap" Ia langsung memacu sepeda motornya.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya si tukang ojek ini mengajak gua bicara. "Abis besuk siapa? sodara? temen?" Tanyanya.
"Nggak, bukan" Gua menjawab singkat.
"Lah terus ngapain ke lapas?" Tanyanya lagi.
"Gua baru keluar"
"Hah?" Dari nada suaranya terdengar si tukang ojek ini sedikit terkejut. Nggak hanya nada suaranya yang terdengar kaget. Begitu mendengar jawaban gua barusan, sontak ia juga langsung melambatkan laju sepeda motornya.
"Situ Napi?" Tanyanya lagi.
"Bekas" Gua mengoreksi pertanyaanya barusan.
Sejak saat itu, si tukang ojek nggak pernah lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain. Ia hanya diam dan fokus pada jalanan.
"Ngojek deket lapas, emang nggak pernah bawa penumpang bekas napi?" Tanya gua memecah keheningan.
Si Tukang ojek menggelengkan kepala.
"Biasanya mah, yang keluar dari lapas di jemput sama keluarganya. Langganan ojek saya kebanyakan orang yang besuk" Si Tukang ojek berusaha menjelaskan.
"Oh... Pantesan"
Nggak berselang lama, kami akhirnya tiba di terminal bus. Gua turun dari goncengan sepeda motor, mengeluarkan plastik berisi gulungan uang dari saku celana jeans, bersiap untuk membayar. Namun, Si Tukang ojek sudah keburu memutar sepeda motornya dan bersiap untuk pergi.
"Eh, tunggu mas, mau kemana?" Tanya gua, berusaha memegang tangannya mencegah agar dia nggak pergi. Namun, dengan sigap ia menepisnya lalu kabur dengan kecepatan penuh.
Melihat kejadian tersebut tentu membuat gua geleng-geleng kepala, bagaimana tidak. Si Tukang ojek barusan merupakan gambaran umum dari masyarakat Indonesia. Yang punya ketakutan sebesar gunung terhadap para bekas narapidana. Atau jika terlalu 'kasar' menyebut kami sebagai bekas narapidana, mungkin bekas masyarakat binaan bisa menjadi kata ganti yang tepat.
Gua duduk di kursi bis menuju ke Jakarta. Sementara, satu persatu penumpang naik dan duduk dikursi kosong secara acak, mengabaikan nomor yang tertera pada karcis dan kursi. Riuh pedagang asongan yang bolak-balik di lorong antara kursi menjajakan dagangannya dan suara sumbang pengamen dibagian depan bus, membuat rasa kantuk yang sejak tadi hinggap kini hilang.
Cukup lama kami, para penumpang dibiarkan menunggu. Jadi, si supir bus hanya akan jalan jika semua kursi sudah terisi. Kalau masih ada yang kosong, sampai kiamat pun, bus nggak bakalan berangkat. Setelah beberapa saat, hampir semua kursi penuh, bahkan ada sebagian penumpang yang duduk di lorong antar kursi dengan menggunakan kursi plastik.
Raung mesih bus terdengar. Kami lalu perlahan melaju, meninggalkan terminal, menuju ke Jakarta.
---
Masih dengan pakaian yang sama, sambil menggenggam plastik merah, gua berdiri tepat di depan sebuah bengkel las dengan papan nama besar di bagian atas yang bertuliskan 'Jaya Teknik'.
"Sal, Marshall" Terdengar teriakan seorang pria yang samar dengan suara dentingan besi.
Gua menoleh dan mendapati Kang Jaya berdiri, melambaikan tangannya ke arah gua.
Menit berikutnya, kami berdua sudah terlibat obrolan seru di sebuah ruangan yang digunakan Kang Jaya sebagai 'kantor'nya. Di sela-sela obrolang, gua pun menyampaikan niat kedatangan gua kepadanya.
"Kang, bisa ajak gua kerja nggak?" Tanya gua.
Kang Jaya terdiam sesaat, lalu menatap ke arah gua.
"Kamu disana emang belajar nge-las?" Tanyanya.
Gua meresponnya dengan gelengan kepala.
"Terus ngambil sertifikasi apa?" Tanyanya lagi.
Gua lantas memberikan map transparan dari Pak Didi kepadanya. Ia lalu menyeka tangannya dengan ujung kaos dan dengan hati-hati mengeluarkan lembaran kertas dari Map transparan yang berisi sertifikat life skill yang gua pelajari sewatku di Lapas.
"Barista" Gumamnya, sambil menatap gua.
"Iya kang"
"Barista mau jadi tukang las?" Tanyanya.
"Gua mau belajar dulu kok, bantu angkat-angkat besi, ngapain kek..." Jawab gua, dengan nada memohon.
Kang Jaya menghela nafas panjang, kemudian meraih ponselnya dari atas meja.
"Saya ada temen yang baru aja ngambil alih kedai kopi, Siapa tau masih butuh barista. Mau?" Tanyanya.
Gua langsung mengangguk. "Mau!"
Kang Jaya lalu tersenyum dan mulai melakukan panggilan melalui ponselnya.
Beberapa mata langsung tertuju ke arah gua. Mungkin aneh melihat ada yang keluar dari pintu besar berukuran tebal itu. Dengan mengabaikan pandangan orang-orang, gua terus melangkah, menuju ke halaman gedung.
Dengan sebuah plastik berwarna merah berisi pakaian seadanya, dan map transparan yang diberikan oleh Pak Didi tadi, gua melangkahkan kaki keluar dari area bangunan itu, untuk pertama kalinya dalam 8 tahun.
Gua menyusuri jalan kecil yang mengubungkan bangunan ini dengan jalan utama yang berada di ujung sana. Sepanjang jalan terdapat beberapa tempat makan sederhana dan warung-warung kopi yang mungkin menjadi tempat para petugas makan dan beristirahat.
Di ujung jalan, terlihat sebuah gapura besar yang terbuat dari batang-batang besi. Pada bagian atasnya nampak motto; "Pasti Baik" dengan tulisan 'Lembaga Pemasyarakatan' di bagian bawahnya. Beberapa tukang ojek pangkalan langsung bersiul begitu melihat kehadiran gua, mencoba menawarkan jasanya.
Gua mengangkat tangan sambil menggeleng, memberi kode dengan cara sesantun mungkin untuk menolak tawaran mereka. Entah mungkin karena nggak ngerti kode yang gue berikan atau memang gigih, mereka tetap menawarkan jasanya. Malah kali ini lebih brutal, mereka menyalakan mesin motor dan langsung mengendarainya mendekat ke arah gua; "Ayok ojek Mas".
"Nggak mas, makasih"Gua menjawab, sambil kembali mengangkat tangan, kemudian melanjutkan langkah.
Akhirnya karena terus dipaksa, gua naik ke boncengan si abang tukang ojek itu. 'Ya emang rejeki dari kegigihannya' Gua membatin dalam hati.
"Kemana?" Tanyanya.
"Terminal" Gua menjawab singkat.
"Siap" Ia langsung memacu sepeda motornya.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya si tukang ojek ini mengajak gua bicara. "Abis besuk siapa? sodara? temen?" Tanyanya.
"Nggak, bukan" Gua menjawab singkat.
"Lah terus ngapain ke lapas?" Tanyanya lagi.
"Gua baru keluar"
"Hah?" Dari nada suaranya terdengar si tukang ojek ini sedikit terkejut. Nggak hanya nada suaranya yang terdengar kaget. Begitu mendengar jawaban gua barusan, sontak ia juga langsung melambatkan laju sepeda motornya.
"Situ Napi?" Tanyanya lagi.
"Bekas" Gua mengoreksi pertanyaanya barusan.
Sejak saat itu, si tukang ojek nggak pernah lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain. Ia hanya diam dan fokus pada jalanan.
"Ngojek deket lapas, emang nggak pernah bawa penumpang bekas napi?" Tanya gua memecah keheningan.
Si Tukang ojek menggelengkan kepala.
"Biasanya mah, yang keluar dari lapas di jemput sama keluarganya. Langganan ojek saya kebanyakan orang yang besuk" Si Tukang ojek berusaha menjelaskan.
"Oh... Pantesan"
Nggak berselang lama, kami akhirnya tiba di terminal bus. Gua turun dari goncengan sepeda motor, mengeluarkan plastik berisi gulungan uang dari saku celana jeans, bersiap untuk membayar. Namun, Si Tukang ojek sudah keburu memutar sepeda motornya dan bersiap untuk pergi.
"Eh, tunggu mas, mau kemana?" Tanya gua, berusaha memegang tangannya mencegah agar dia nggak pergi. Namun, dengan sigap ia menepisnya lalu kabur dengan kecepatan penuh.
Melihat kejadian tersebut tentu membuat gua geleng-geleng kepala, bagaimana tidak. Si Tukang ojek barusan merupakan gambaran umum dari masyarakat Indonesia. Yang punya ketakutan sebesar gunung terhadap para bekas narapidana. Atau jika terlalu 'kasar' menyebut kami sebagai bekas narapidana, mungkin bekas masyarakat binaan bisa menjadi kata ganti yang tepat.
Gua duduk di kursi bis menuju ke Jakarta. Sementara, satu persatu penumpang naik dan duduk dikursi kosong secara acak, mengabaikan nomor yang tertera pada karcis dan kursi. Riuh pedagang asongan yang bolak-balik di lorong antara kursi menjajakan dagangannya dan suara sumbang pengamen dibagian depan bus, membuat rasa kantuk yang sejak tadi hinggap kini hilang.
Cukup lama kami, para penumpang dibiarkan menunggu. Jadi, si supir bus hanya akan jalan jika semua kursi sudah terisi. Kalau masih ada yang kosong, sampai kiamat pun, bus nggak bakalan berangkat. Setelah beberapa saat, hampir semua kursi penuh, bahkan ada sebagian penumpang yang duduk di lorong antar kursi dengan menggunakan kursi plastik.
Raung mesih bus terdengar. Kami lalu perlahan melaju, meninggalkan terminal, menuju ke Jakarta.
---
Masih dengan pakaian yang sama, sambil menggenggam plastik merah, gua berdiri tepat di depan sebuah bengkel las dengan papan nama besar di bagian atas yang bertuliskan 'Jaya Teknik'.
"Sal, Marshall" Terdengar teriakan seorang pria yang samar dengan suara dentingan besi.
Gua menoleh dan mendapati Kang Jaya berdiri, melambaikan tangannya ke arah gua.
Menit berikutnya, kami berdua sudah terlibat obrolan seru di sebuah ruangan yang digunakan Kang Jaya sebagai 'kantor'nya. Di sela-sela obrolang, gua pun menyampaikan niat kedatangan gua kepadanya.
"Kang, bisa ajak gua kerja nggak?" Tanya gua.
Kang Jaya terdiam sesaat, lalu menatap ke arah gua.
"Kamu disana emang belajar nge-las?" Tanyanya.
Gua meresponnya dengan gelengan kepala.
"Terus ngambil sertifikasi apa?" Tanyanya lagi.
Gua lantas memberikan map transparan dari Pak Didi kepadanya. Ia lalu menyeka tangannya dengan ujung kaos dan dengan hati-hati mengeluarkan lembaran kertas dari Map transparan yang berisi sertifikat life skill yang gua pelajari sewatku di Lapas.
"Barista" Gumamnya, sambil menatap gua.
"Iya kang"
"Barista mau jadi tukang las?" Tanyanya.
"Gua mau belajar dulu kok, bantu angkat-angkat besi, ngapain kek..." Jawab gua, dengan nada memohon.
Kang Jaya menghela nafas panjang, kemudian meraih ponselnya dari atas meja.
"Saya ada temen yang baru aja ngambil alih kedai kopi, Siapa tau masih butuh barista. Mau?" Tanyanya.
Gua langsung mengangguk. "Mau!"
Kang Jaya lalu tersenyum dan mulai melakukan panggilan melalui ponselnya.
Diubah oleh robotpintar 10-06-2024 21:29
teguhjepang9932 dan 218 lainnya memberi reputasi
219
411.8K
Kutip
4.6K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#2169
Part 83 - Gugup dan Takut
Spoiler for Part 83 - Gugup dan Takut:
Masih sambil menutupi wajah dengan kedua tangan, gua lantas berdiri, dan berjalan menuju ke sofa. Tentu saja sambil sesekali mengintip melalui sela-sela jari. Nggak mau Marshall menyadari kalau saat ini kedua pipi gua mulai merona akibat kata-katanya barusan.
Gua duduk di sofa, meraih bantal kecil dan kembali menutupi wajah.
Sementara, Marshall menyusul duduk di sofa. Terdengar ia tertawa kecil lalu berusaha mengambil bantal kecil yang gua gunakan untuk menutupi wajah.
“Kenapa sih?” Tanyanya, masih sambil tertawa kecil.
Gua nggak memberi jawaban, hanya menggeleng pelan.
“... Malu?” Ia menambahkan.
Gua lantas mengangguk pelan.
Marshall tersenyum, sementara gua langsung menjatuhkan kepala di dadanya. Ia lalu merespon dengan meraih kepala gua dan memberi pelukan seraya berbisik pelan; “Kenapa tiba-tiba jadi malu dan manja?”
“Gua kan udah bilang, mau menjadi diri sendiri” Jawab gua seraya menenggelamkan diri dalam pelukannya, mencoba menyamankan diri berada di dalam pelukannya.
Marshall nggak merespon dengan kata-kata, ia hanya tersenyum seraya tangannya membelai kepala. Malam itu kami lalu tenggelam dalam diam sambil terus berpelukan.
“Lo nggak suka ya kalau gua tiba-tiba berlagak manja begini?” Tanya gua.
“Suka…” Marshall menjawab santai.
“Suka melihat gua tersenyum?” Tanya gua lagi.
“Suka…” Jawabnya lagi. Kini tanpa menatap ke arah gua, pandangannya ia arahkan ke jendela balkon.
“Kalau ‘suka’ kenapa nggak menatap ke arah gua?” Seraya meraih dagunya, memaksanya untuk berpaling menatap gua.
Marshall nggak menjawab, hanya tersenyum dan menatap gua.
“Din…”
“Ya…”
“Lo kan udah pernah bilang kalau nggak peduli dengan masa lalu gua” ucapnya, kini pandangannya kembali ia arahkan ke jendela balkon.
“Iya, terus?”
“Gimana seandainya…” belum sempat ia menyelesaikan kalimat, gua memotong ucapannya. Merasa sudah tahu apa yang bakal diucapkan selanjutnya.
“Sal.. Kan gua udah bilang, kalo gua nggak peduli…”
“Yakin?”
“Iya…” Jawab gua sambil mengangguk; yakin setengah mati.
“Yaudah kalo begitu…” Balasnya santai.
Kami lalu kembali terdiam. Yang terdengar hanya helaan nafasnya. Setelah sekian lama terdiam, ia kembali buka suara, kali ini ia bertanya tentang nyokapnya.
“Kalian berdua ngobrol apa aja tadi?” Tanyanya.
“Gua sama nyokap lo?” Gua balik bertanya, mencoba memastikan.
“Iya”
“Hmmm… Ntar dulu. Pertama, gua mau bilang kalau nyokap lo tuh cantik banget. Gua sampe minder rasanya…”
“Masa?”
“Ya…”
“Terus, awalnya kan gua bingung ya, Sal mau bilang apa ke dia. Untungnya, nyokap lo nggak nanya macem-macem…”
“Terus nanya apa aja?” Tanyanya, penasaran.
“Pertama, nanya gua siapa. Ya gua sebut aja nama gua” Gua menjelaskan.
“Terus, terus?” Tanyanya lagi, kini ekspres wajahnya mulai berubah; terlihat excited. Gua lantas mulai bercerita lengkap tentang pertemuan dengan nyokapnya tadi. Semuanya! Nggak ada yang gua kurangi dan nggak ada yang gua tambahkan.
Termasuk perasaan di dalam hati yang terus melanda saat bersama nyokapnya, perasaan takut, panik dan merasa inferior.
“Masa orang kayak lo bisa merasa inferior?” Tanya Marshall, seakan nggak percaya.
“Bener, Sal” Jawab gua.
“Mmm… Mungkin lo nggak pernah ketemu orang kayak nyokap gua sebelumnya?” Marshall mencoba menebak.
Gua terdiam sesaat begitu mendengar tebakannya barusan. Bukan, bukan karena tebakannya benar. Tapi, karena komponen kalimatnya mungkin benar. Gua yang sejak awal menjalin hubungan dengan Jeje, yang notabene nggak punya orang tua, jadi merasa gugup, karena baru kali pertama merasakan sensasi bertemu dengan orang tua pasangan.
‘Jadi gini rasanya’ Batin gua dalam hati, baru menyadarinya.
Gua lantas menegakkan tubuh, keluar dari pelukan Marshall dan menceritakan apa yang ada di benak gua barusan. Sementara, Marshall hanya memberi respon dengan anggukan kepala seraya mengusap dagunya. Setelah selesai bicara, gua langsung kembali masuk ke dalam pelukannya yang nyaman.
“Nyokap lo dokter ya?” Tanya gua pelan.
“Iya…”
“Kalo bokap lo? Tanya gua lagi.
“Sama” Marshall menjawab santai.
“Keren. Terus kenapa lo nggak mau jadi dokter?”
“Nggak mau, jadi dokter kan berarti harus lebih banyak belajar. Gua males belajar” Jawabnya.
“Oh…” Sejatinya ada sedikit rasa penasaran tentang bagaimana ia dulu, tentang masa remajanya. Tapi, sudah terlanjur bilang ‘nggak peduli’, jadi gua putuskan untuk nggak bertanya kepadanya.
“...”
“... Terus kenapa lo memutuskan untuk menjadi artis?” Tanya gua lagi.
“Mmmm… Kenapa ya?, panjang sih ceritanya. Lo beneran mau denger? Tapi kan katanya lo nggak peduli dengan masa lalu gua?” Tanyanya.
“Yaudah nggak usah” Jawab gua, sambil pasang tampang cemberut.
“Nanti kapan-kapan gua ceritain. Sekarang udah malem. Ayo gua anterin pulang” Ucapnya.
“Nggak mau ah” Jawab gua, lalu berlagak merajuk.
“Kenapa?” Tanyanya lagi.
“Mau disini aja sama lo” Jwab gua.
“Gua jadi penasaran deh Din. Sebenernya lo sekaya apa sih? kayaknya gua perhatiin, lo jarang berangkat kerja, kayak sekarang ini, udah berapa lama lo nggak kerja? nggak ke kantor, nggak kerja dari rumah juga” Tanyanya.
“...”
“... Enak banget yak” Ia menambahkan.
Gua lalu tersenyum saat mendengar pertanyaannya barusan.
“Lo mau liat rekening bank gua?” Tanya gua, kemudian keluar dari pelukannya, meraih ponsel dan bersiap membuka aplikasi bank online untuk menunjukkan sisa saldo rekening gua kepadanya. Namun, Marshall menolak. Ia meraih ponsel dari tangan gua, dan kembali meletakkannya di atas meja.
“Nggak usah. Udah lupain aja pertanyaan gua barusan.” Gumamnya pelan.
Marshall menghela nafas panjang, menghembuskannya ke udara lalu berpaling menatap gua dan kembali bicara; “Din..”
“Ya…”
“Masalah Anggi gimana?” Tanyanya.
Gua yang sejak kemarin berusaha melupakannya, gua yang sejak kemarin sudah merasa berdamai dengan keadaan yang nggak bisa gua atasi tersebut lantas kembali teringat. Pertanyaannya barusan membuat ‘tembok pertahanan’ gua runtuh. Gua terdiam, nggak mampu memberi jawaban apa-apa.
Menyadari kalau pertanyaannya membuat gua bersedih, Marshall lalu menggenggam tangan gua dan kembali bicara; “Coba cerita ke gua…”.
Gua mendongak, menatap ke arahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, lalu mulai menceritakan tentang kronologi perpisahan gua dengan Anggi beserta alasannya. Marshall mendengarkan dengan seksama, sambil tangannya terus menggenggam gua erat.
“Mungkin nggak kalau lo ngomong sama Jeje buat bawa Anggi kesini?” Tanyanya.
Gua lantas menggeleng.
“... Mungkin nggak kalau lo yang nyusul kesana, demi Anggi?” Tanyanya lagi.
Gua mengangguk pelan. Tapi, seandainya gua menyusul mereka kesana, bagaimana dengan dirinya? bagaimana dengan Marshall. Gua nggak mau dihadapkan oleh pilihan sulit, harus memilih antara Marshall atau Anggi. Yang mana, apapun jawaban gua, orang-orang pasti menganggap salah pilihan gua.
“... Yaudah, susulin aja kesana” Tambahnya, pelan.
Gua menggeleng pelan. “Gua kan juga punya kehidupan disini. Lagian, seandainya gua kesana, lo gimana? kita gimana?” Tanya gua.
Marshall tersenyum, lantas memberi jawaban yang paling masuk akal.
Jawaban paling logis yang nggak terpikirkan.
“Ya, pertama; gua bikin paspor dulu. Terus, kita bareng-bareng nyusul Anggi kesana” Jawabnya.
Gua langsung tersenyum begitu mendengar jawabannya barusan. Lantas mempertanyakan keseriusannya; “Lo yakin mau?”.
“Ya gua sih mau. Tapi,” Ucapnya, lalu berhenti di kata ‘tapi’.
Salah satu hal yang gua benci; Kata ‘tapi’ yang berada di akhir kalimat.
“Tapi apa?” Tanya gua penasaran.
“Seandainya gua, kita kesana, nyusul Anggi. Kira-kira, apa Anggi mau nerima gua ya?” Ia balik bertanya.
Gua terdiam.
Baru kali ini terpikir tentang hal tersebut.
Walaupun gua yakin kalau Anggi pasti nggak bakal mempermasalahkan tentang hubungan kami berdua. Tapi, mau nggak mau, suka nggak suka, gua harus mendapat persetujuan dari Anggi jika ingin melanjutkan hubungan ini.
“Duh, jadi pusing deh gua” Gua menggumam pelan, seraya memijat kening.
Sementara, Marshall malah tersenyum.
“Ngapain pusing, coba aja telpon Anggi sekarang” Marshall memberi saran, lalu mengambil ponsel dari atas meja dan menyerahkannya ke gua.
Gua terdiam sejenak, mencoba menghitung perbedaan waktu antara Kanada dengan Indonesia; nggak mau menghubungi Anggi di waktu tidurnya. Karena sekarang jam 9 malam, berarti di Halifax kira-kira jam 9-10 pagi. Waktu yang memungkinkan untuk menghubunginya. Lalu meraih ponsel dan mulai mencari kontak milik Jeje. Nomor kontak Jeje yang biasa digunakan saat berada di Kanada.
Nada sambung terdengar beberapa kali, kemudian terdengar suara khas Jeje menyapa; “Hmmm…”
“Je…”
“Ya..”
“Anggi mana?” Tanya gua.
“Ada. Mau ngomong?”
“Yes, please”
“Bentar…” Ucapnya, lalu terdengar samar Jeje memanggil nama Anggi dan langkah kaki mendekat.
Sementara, gua keluar dari pelukan Marshall, membetulkan rambut dan mulai mengganti mode ke panggilan video. Layar ponsel gua berpendar sebentar, lalu disusul wajah Anggi yang sepertinya baru saja bangun tidur. Terlihat dari wajah dan rambutnya yang berantakan.
Beru melihatnya saja membuat gua langsung sedih, ingin menangis rasanya; rindu setengah mati.
“Halo cantik… Kamu baru bangun ya?” Tanya gua seraya melambai ke arah kamera.
“Mommy…” Teriaknya, dan balas melambai. Mengabaikan pertanyaan gua.
“Kamu baru bangun ya?” Tanya gua lagi.
“Iya…” Jawabnya.
“...”
“... Mommy, Anggi kangen sama mommy? Mommy kenapa nggak kesini?” Tanyanya.
Mendengar ucapannya barusan, sontak kedua mata gua langsung basah. Lalu berusaha sekuat mungkin agar nggak terlihat menangis di depannya.
“Sama dong, Mommy juga kangen sama Anggi. Nanti kapan-kapan Mommy nyusul ya? boleh kan?”
“Asyik, boleh.. boleh..”
“...”
“... Mommy, mommy udah ketemu sama Om Marshall belum? Anggi mau diajarin gambar lagi dong?” Ucapnya.
Gua cukup terkejut begitu mendengarnya. Bagaimana mungkin ia masih mengingat Marshall, padahal mereka berdua baru bertemu sekali, itupun pertemuan yang singkat. Tiba-tiba, Marshall menggeser duduknya, masuk ke dalam frame kamera. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Anggi.
“Halo, Anggi” Sapa Marshall.
Melihat Marshall berada satu frame dengan gua, Anggi lantas terkejut dan berteriak. “Om Marshall!!” Serunya.
“...”
“... Om Marshall, nanti kapan-kapan bantu Anggi menggambar lagi ya” Tambahnya.
“Iya..” Marshall menjawab singkat.
“Soalnya Mommy kalau menggambar jelek” Ucap Anggi.
“Masa?” Tanya Marshall.
Anggi lantas berdiri, lalu kembali dengan membawa lembaran kertas yang berisi hasil gambar kami berdua waktu itu. Dengan tingkahnya yang lucu, Anggi memperlihatkan gambar tersebut ke arah kamera, lalu menunjuk karakter hasil karya gua dengan jarinya.
“Ini gambar Mommy, Om… Liat deh” Ucap Anggi.
“Wah, bagus kok nggi…” Balas Marshall. Mendengarnya membuat gua sedikit berbunga-bunga. Bagaimana tidak, gua yang amatir ini bisa mendapat pujian dari orang sekelas Marshall.
“... Itu Gambar T-Rex kan?” Marshall menambahkan.
Gua langsung menoleh ke arahnya dan melayangkan cubitan di lengannya sambil berbisik; “Itu ayam”
“Kata Mommy ini ayam, Om…” Seru Anggi.
“Wah, Kalo ayam sih nggak mirip. Lebih mirip T-rex” Jawab Marshall.
“Tuh kan, Mommy…”
Kami bertiga lalu lanjut berbincang melalui panggilan video hingga tak terasa waktu semakin larut. Setelah cukup ‘puas’, cukup untuk menghilangkan sedikit rindu, gua mengakhiri panggilan.
“Thanks ya” Gumam gua pelan ke Marshall.
“Buat apa?” Tanyanya.
“...”
“... Gua cuma ngasih saran buat telepon doang” Ia menambahkan.
“Iya. But it means a lot” Jawab gua. Sebelumnya, gua kehilangan keberanian untuk menghubunginya. Takut bersedih, takut menangis, takut! Tapi, entah kenapa Marshall berhasil meyakinkan gua, walau hanya dari sebuah saran yang sederhana.
“Din, udah malem. Kalo mau pulang ayo gua anterin. Kalo masih mau disini, udah sana pindah ke kamar” Ucapnya, seraya menunjuk ke arah kamar.
“Lo tidur disini lagi?” Tanya gua, sambil menunjuk sofa.
“Iya”
“Kenapa nggak dikamar juga?” Tanya gua.
“Nggak muat…” Jawabnya, tentu saja mengada-ngada. Ia lalu berdiri, ke dapur untuk membuat kopi. Sementara, gua hanya terdiam, duduk di sofa dan memandangi punggungnya.
—
Besoknya, pagi-pagi sekali. Gua sudah siap untuk pulang ke apartemen. Berganti pakaian dan menuju ke rumah nyokapnya Marshall sesuai janji. Namun, saat gua keluar dari kamar, Marshall nggak berada di atas sofa, nggak berada dimanapun di dalam apartemen. Sementara, ponsel, rokok dan dompetnya berada di atas meja.
‘Kemana dia?’ gua membatin dalam hati.
Lalu nggak seberapa lama, pintu apartemen terbuka. Terlihat Marshall masuk ke dalam sambil membawa kunci mobil gua.
“Darimana?” Tanya gua penasaran.
“Manasin mobil” Jawabnya singkat.
“Buat apa?” Tanya gua lagi. Merasa mobil yang berada di Indonesia nggak perlu lagi dipanaskan karena sudah berada di suhu yang cukup tinggi.
“Ya nggak tau. Orang-orang kan pada manasin mobil” Jawabnya lagi. Lalu duduk di atas sofa dan menyalakan sebatang rokok.
Gua tentu sadar kalau ada yang ia sembunyikan, tapi sengaja nggak mempertanyakannya; enggan berdebat.
Setengah jam berikutnya, kami sudah berada di jalan bebas hambatan menuju ke apartemen tempat gua tinggal. Gua sengaja ‘pulang’ sebentar untuk berganti pakaian yang lebih ‘layak’, karena akan berkunjung ke rumah orang tuanya. Merasa pakaian-pakaian yang gua beli di mall sebelumnya terlalu kasual, terlalu ‘santai’.
Begitu tiba di area parkir, Marshall nggak langsung menyusul gua menuju ke lobby lift. Ia malah membuka pintu penumpang di bagian belakang, mengambil plastik hitam besar yang ‘katanya’ berisi gambar miliknya dan membawanya.
“Ngapain di bawa?” Tanya gua.
“Nitip sebentar” Jawabnya.
Gua langsung mengernyitkan dahi begitu mendengar jawabannya barusan. Kecurigaan gua semakin besar saat melihat ada yang menonjol di saku belakang celananya, tonjolan yang sepertinya sengaja ia tutupi dengan kaos yang ia kenakan.
“Ini apa?” Tanya gua, seraya menunjuk ke bagian belakang saku celananya.
Marshall nggak menjawab, hanya terdiam. Penasaran gua menyibak ujung kaosnya dan terlihat sebuah palu menyembul dari saku belakang celananya.
“Buat apaan, bawa-bawa palu?” Tanya gua lagi, semakin penasaran dan curiga.
Alih-alih menjawab, Marshall hanya terkekeh; “Hehehe…”
Saat tiba di dalam apartemen, gua langsung masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian dan tentu saja sedikit berdandan. Di saat itulah, gua mendengar suara ketukan palu menghantam dinding. Gua berhenti sejenak, mencoba mendengarkan dengan seksama, apa suara tersebut benar berasal dari apartemen gua atau dari apartemen sebelah.
Saat keluar dari kamar, gua mendapati Marshall tengah memasang gambar miliknya pada dinding ruang keluarga. Gua menghitungnya, ada empat gambar sketsa bangunan dengan blocking frameless di atas layar televisi.
Perlahan, gua mendekat dan melihat dengan seksama. Gambar sketsa paling kiri terlihat sebuah bangunan yang gua kenali sebagai bangunan sekolah SMA gua dulu. Gambar disebelahnya adalah sketsa bangunan rumah pertama kami di Halifax, gambar berikutnya; sketsa gudang bangunan tempat gua dan Jeje memulai usaha sarung bantal, kemudian gambar sebelahnya adalah gambar sketsa gedung tinggi yang merupakan apartemen tempat gua tinggal saat ini.
Gua berdiri, tertegun dalam diam sambil terus memandangi sketsa-sketsa tersebut.
Seakan tahu akan rasa penasaran gua, ia lantas menceritakan latar belakang dibuatnya set sketsa ini. “Perjalanan hidup lo. Ya kira-kira, begini yang gua tau…”
“Tapi, kenapa nggak ada gambar rumah gua?” Tanya gua, merujuk ke rumah pertama gua, rumah tempat gua dibesarkan.
Marshall tersenyum sebentar kemudian menjawab; “Gambarnya kan udah sama lo”
Gua lalu teringat dengan gambar pesanan yang dibuatnya untuk gua dulu.
Gua berbalik, kembali menuju ke kamar, mengaduk-aduk isi laci meja kerja; mencari gambar tersebut. Yang lalu gua ingat sempat menggunakannya sebagai tatakan panci di meja dapur. Gua berlari ke dapur dan mencari kertas tersebut. Dan mendapati, gambarnya tertempel di pintu kulkas; Sepertinya Reni yang menempelkannya disana.
Dengan hati-hati, gua melepas magnet yang membuat kertas tersebut menempel dan membawanya ke ruang keluarga. Kemudian kembali menatapnya bergantian, satu persatu. Kini gua memulai dari lembaran kertas di tangan gua, lalu beralih ke gambar pertama dan seterusnya.
Setelah puas memandanginya, gua menoleh ke arah Marshall dan langsung menerjangnya; memberi pelukan. Gua mendongak, menatap wajahnya dan bicara pelan; “Terima kasih ya, Sal”.
“Terima kasih untuk apa?” Tanyanya.
“Telah mengingatkan gua akan perjalanan hidup yang sudah gua jalani hingga sekarang” Jawab gua singkat.
“Iya..”
“Pas bikin ini, apa lo nggak merasa cemburu?” Tanya gua, merasa semua bangunan yang ia buat selalu berkaitan dengan Jeje.
“Cemburu? nggak lah…” Jawabnya santai.
Gua tersenyum dan menenggelamkan diri dalam pelukannya. Pelukan yang terasa nyaman.
“Jadi ini alasan lo bawa-bawa palu?” Tanya gua.
“Iya…”
“Seandainya lo bilang dari tadi. Gua juga punya palu kok” Jawab gua sambil tersenyum.
“Yaudah, udah terlanjur juga…” Ucapnya.
Kami lalu menunda pergi ke rumah nyokapnya sebentar. Duduk berdua di sofa seraya memandangi set gambar sketsa buatannya. Hanya duduk, diam dan menatap.
Gua duduk di sofa, meraih bantal kecil dan kembali menutupi wajah.
Sementara, Marshall menyusul duduk di sofa. Terdengar ia tertawa kecil lalu berusaha mengambil bantal kecil yang gua gunakan untuk menutupi wajah.
“Kenapa sih?” Tanyanya, masih sambil tertawa kecil.
Gua nggak memberi jawaban, hanya menggeleng pelan.
“... Malu?” Ia menambahkan.
Gua lantas mengangguk pelan.
Marshall tersenyum, sementara gua langsung menjatuhkan kepala di dadanya. Ia lalu merespon dengan meraih kepala gua dan memberi pelukan seraya berbisik pelan; “Kenapa tiba-tiba jadi malu dan manja?”
“Gua kan udah bilang, mau menjadi diri sendiri” Jawab gua seraya menenggelamkan diri dalam pelukannya, mencoba menyamankan diri berada di dalam pelukannya.
Marshall nggak merespon dengan kata-kata, ia hanya tersenyum seraya tangannya membelai kepala. Malam itu kami lalu tenggelam dalam diam sambil terus berpelukan.
“Lo nggak suka ya kalau gua tiba-tiba berlagak manja begini?” Tanya gua.
“Suka…” Marshall menjawab santai.
“Suka melihat gua tersenyum?” Tanya gua lagi.
“Suka…” Jawabnya lagi. Kini tanpa menatap ke arah gua, pandangannya ia arahkan ke jendela balkon.
“Kalau ‘suka’ kenapa nggak menatap ke arah gua?” Seraya meraih dagunya, memaksanya untuk berpaling menatap gua.
Marshall nggak menjawab, hanya tersenyum dan menatap gua.
“Din…”
“Ya…”
“Lo kan udah pernah bilang kalau nggak peduli dengan masa lalu gua” ucapnya, kini pandangannya kembali ia arahkan ke jendela balkon.
“Iya, terus?”
“Gimana seandainya…” belum sempat ia menyelesaikan kalimat, gua memotong ucapannya. Merasa sudah tahu apa yang bakal diucapkan selanjutnya.
“Sal.. Kan gua udah bilang, kalo gua nggak peduli…”
“Yakin?”
“Iya…” Jawab gua sambil mengangguk; yakin setengah mati.
“Yaudah kalo begitu…” Balasnya santai.
Kami lalu kembali terdiam. Yang terdengar hanya helaan nafasnya. Setelah sekian lama terdiam, ia kembali buka suara, kali ini ia bertanya tentang nyokapnya.
“Kalian berdua ngobrol apa aja tadi?” Tanyanya.
“Gua sama nyokap lo?” Gua balik bertanya, mencoba memastikan.
“Iya”
“Hmmm… Ntar dulu. Pertama, gua mau bilang kalau nyokap lo tuh cantik banget. Gua sampe minder rasanya…”
“Masa?”
“Ya…”
“Terus, awalnya kan gua bingung ya, Sal mau bilang apa ke dia. Untungnya, nyokap lo nggak nanya macem-macem…”
“Terus nanya apa aja?” Tanyanya, penasaran.
“Pertama, nanya gua siapa. Ya gua sebut aja nama gua” Gua menjelaskan.
“Terus, terus?” Tanyanya lagi, kini ekspres wajahnya mulai berubah; terlihat excited. Gua lantas mulai bercerita lengkap tentang pertemuan dengan nyokapnya tadi. Semuanya! Nggak ada yang gua kurangi dan nggak ada yang gua tambahkan.
Termasuk perasaan di dalam hati yang terus melanda saat bersama nyokapnya, perasaan takut, panik dan merasa inferior.
“Masa orang kayak lo bisa merasa inferior?” Tanya Marshall, seakan nggak percaya.
“Bener, Sal” Jawab gua.
“Mmm… Mungkin lo nggak pernah ketemu orang kayak nyokap gua sebelumnya?” Marshall mencoba menebak.
Gua terdiam sesaat begitu mendengar tebakannya barusan. Bukan, bukan karena tebakannya benar. Tapi, karena komponen kalimatnya mungkin benar. Gua yang sejak awal menjalin hubungan dengan Jeje, yang notabene nggak punya orang tua, jadi merasa gugup, karena baru kali pertama merasakan sensasi bertemu dengan orang tua pasangan.
‘Jadi gini rasanya’ Batin gua dalam hati, baru menyadarinya.
Gua lantas menegakkan tubuh, keluar dari pelukan Marshall dan menceritakan apa yang ada di benak gua barusan. Sementara, Marshall hanya memberi respon dengan anggukan kepala seraya mengusap dagunya. Setelah selesai bicara, gua langsung kembali masuk ke dalam pelukannya yang nyaman.
“Nyokap lo dokter ya?” Tanya gua pelan.
“Iya…”
“Kalo bokap lo? Tanya gua lagi.
“Sama” Marshall menjawab santai.
“Keren. Terus kenapa lo nggak mau jadi dokter?”
“Nggak mau, jadi dokter kan berarti harus lebih banyak belajar. Gua males belajar” Jawabnya.
“Oh…” Sejatinya ada sedikit rasa penasaran tentang bagaimana ia dulu, tentang masa remajanya. Tapi, sudah terlanjur bilang ‘nggak peduli’, jadi gua putuskan untuk nggak bertanya kepadanya.
“...”
“... Terus kenapa lo memutuskan untuk menjadi artis?” Tanya gua lagi.
“Mmmm… Kenapa ya?, panjang sih ceritanya. Lo beneran mau denger? Tapi kan katanya lo nggak peduli dengan masa lalu gua?” Tanyanya.
“Yaudah nggak usah” Jawab gua, sambil pasang tampang cemberut.
“Nanti kapan-kapan gua ceritain. Sekarang udah malem. Ayo gua anterin pulang” Ucapnya.
“Nggak mau ah” Jawab gua, lalu berlagak merajuk.
“Kenapa?” Tanyanya lagi.
“Mau disini aja sama lo” Jwab gua.
“Gua jadi penasaran deh Din. Sebenernya lo sekaya apa sih? kayaknya gua perhatiin, lo jarang berangkat kerja, kayak sekarang ini, udah berapa lama lo nggak kerja? nggak ke kantor, nggak kerja dari rumah juga” Tanyanya.
“...”
“... Enak banget yak” Ia menambahkan.
Gua lalu tersenyum saat mendengar pertanyaannya barusan.
“Lo mau liat rekening bank gua?” Tanya gua, kemudian keluar dari pelukannya, meraih ponsel dan bersiap membuka aplikasi bank online untuk menunjukkan sisa saldo rekening gua kepadanya. Namun, Marshall menolak. Ia meraih ponsel dari tangan gua, dan kembali meletakkannya di atas meja.
“Nggak usah. Udah lupain aja pertanyaan gua barusan.” Gumamnya pelan.
Marshall menghela nafas panjang, menghembuskannya ke udara lalu berpaling menatap gua dan kembali bicara; “Din..”
“Ya…”
“Masalah Anggi gimana?” Tanyanya.
Gua yang sejak kemarin berusaha melupakannya, gua yang sejak kemarin sudah merasa berdamai dengan keadaan yang nggak bisa gua atasi tersebut lantas kembali teringat. Pertanyaannya barusan membuat ‘tembok pertahanan’ gua runtuh. Gua terdiam, nggak mampu memberi jawaban apa-apa.
Menyadari kalau pertanyaannya membuat gua bersedih, Marshall lalu menggenggam tangan gua dan kembali bicara; “Coba cerita ke gua…”.
Gua mendongak, menatap ke arahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, lalu mulai menceritakan tentang kronologi perpisahan gua dengan Anggi beserta alasannya. Marshall mendengarkan dengan seksama, sambil tangannya terus menggenggam gua erat.
“Mungkin nggak kalau lo ngomong sama Jeje buat bawa Anggi kesini?” Tanyanya.
Gua lantas menggeleng.
“... Mungkin nggak kalau lo yang nyusul kesana, demi Anggi?” Tanyanya lagi.
Gua mengangguk pelan. Tapi, seandainya gua menyusul mereka kesana, bagaimana dengan dirinya? bagaimana dengan Marshall. Gua nggak mau dihadapkan oleh pilihan sulit, harus memilih antara Marshall atau Anggi. Yang mana, apapun jawaban gua, orang-orang pasti menganggap salah pilihan gua.
“... Yaudah, susulin aja kesana” Tambahnya, pelan.
Gua menggeleng pelan. “Gua kan juga punya kehidupan disini. Lagian, seandainya gua kesana, lo gimana? kita gimana?” Tanya gua.
Marshall tersenyum, lantas memberi jawaban yang paling masuk akal.
Jawaban paling logis yang nggak terpikirkan.
“Ya, pertama; gua bikin paspor dulu. Terus, kita bareng-bareng nyusul Anggi kesana” Jawabnya.
Gua langsung tersenyum begitu mendengar jawabannya barusan. Lantas mempertanyakan keseriusannya; “Lo yakin mau?”.
“Ya gua sih mau. Tapi,” Ucapnya, lalu berhenti di kata ‘tapi’.
Salah satu hal yang gua benci; Kata ‘tapi’ yang berada di akhir kalimat.
“Tapi apa?” Tanya gua penasaran.
“Seandainya gua, kita kesana, nyusul Anggi. Kira-kira, apa Anggi mau nerima gua ya?” Ia balik bertanya.
Gua terdiam.
Baru kali ini terpikir tentang hal tersebut.
Walaupun gua yakin kalau Anggi pasti nggak bakal mempermasalahkan tentang hubungan kami berdua. Tapi, mau nggak mau, suka nggak suka, gua harus mendapat persetujuan dari Anggi jika ingin melanjutkan hubungan ini.
“Duh, jadi pusing deh gua” Gua menggumam pelan, seraya memijat kening.
Sementara, Marshall malah tersenyum.
“Ngapain pusing, coba aja telpon Anggi sekarang” Marshall memberi saran, lalu mengambil ponsel dari atas meja dan menyerahkannya ke gua.
Gua terdiam sejenak, mencoba menghitung perbedaan waktu antara Kanada dengan Indonesia; nggak mau menghubungi Anggi di waktu tidurnya. Karena sekarang jam 9 malam, berarti di Halifax kira-kira jam 9-10 pagi. Waktu yang memungkinkan untuk menghubunginya. Lalu meraih ponsel dan mulai mencari kontak milik Jeje. Nomor kontak Jeje yang biasa digunakan saat berada di Kanada.
Nada sambung terdengar beberapa kali, kemudian terdengar suara khas Jeje menyapa; “Hmmm…”
“Je…”
“Ya..”
“Anggi mana?” Tanya gua.
“Ada. Mau ngomong?”
“Yes, please”
“Bentar…” Ucapnya, lalu terdengar samar Jeje memanggil nama Anggi dan langkah kaki mendekat.
Sementara, gua keluar dari pelukan Marshall, membetulkan rambut dan mulai mengganti mode ke panggilan video. Layar ponsel gua berpendar sebentar, lalu disusul wajah Anggi yang sepertinya baru saja bangun tidur. Terlihat dari wajah dan rambutnya yang berantakan.
Beru melihatnya saja membuat gua langsung sedih, ingin menangis rasanya; rindu setengah mati.
“Halo cantik… Kamu baru bangun ya?” Tanya gua seraya melambai ke arah kamera.
“Mommy…” Teriaknya, dan balas melambai. Mengabaikan pertanyaan gua.
“Kamu baru bangun ya?” Tanya gua lagi.
“Iya…” Jawabnya.
“...”
“... Mommy, Anggi kangen sama mommy? Mommy kenapa nggak kesini?” Tanyanya.
Mendengar ucapannya barusan, sontak kedua mata gua langsung basah. Lalu berusaha sekuat mungkin agar nggak terlihat menangis di depannya.
“Sama dong, Mommy juga kangen sama Anggi. Nanti kapan-kapan Mommy nyusul ya? boleh kan?”
“Asyik, boleh.. boleh..”
“...”
“... Mommy, mommy udah ketemu sama Om Marshall belum? Anggi mau diajarin gambar lagi dong?” Ucapnya.
Gua cukup terkejut begitu mendengarnya. Bagaimana mungkin ia masih mengingat Marshall, padahal mereka berdua baru bertemu sekali, itupun pertemuan yang singkat. Tiba-tiba, Marshall menggeser duduknya, masuk ke dalam frame kamera. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Anggi.
“Halo, Anggi” Sapa Marshall.
Melihat Marshall berada satu frame dengan gua, Anggi lantas terkejut dan berteriak. “Om Marshall!!” Serunya.
“...”
“... Om Marshall, nanti kapan-kapan bantu Anggi menggambar lagi ya” Tambahnya.
“Iya..” Marshall menjawab singkat.
“Soalnya Mommy kalau menggambar jelek” Ucap Anggi.
“Masa?” Tanya Marshall.
Anggi lantas berdiri, lalu kembali dengan membawa lembaran kertas yang berisi hasil gambar kami berdua waktu itu. Dengan tingkahnya yang lucu, Anggi memperlihatkan gambar tersebut ke arah kamera, lalu menunjuk karakter hasil karya gua dengan jarinya.
“Ini gambar Mommy, Om… Liat deh” Ucap Anggi.
“Wah, bagus kok nggi…” Balas Marshall. Mendengarnya membuat gua sedikit berbunga-bunga. Bagaimana tidak, gua yang amatir ini bisa mendapat pujian dari orang sekelas Marshall.
“... Itu Gambar T-Rex kan?” Marshall menambahkan.
Gua langsung menoleh ke arahnya dan melayangkan cubitan di lengannya sambil berbisik; “Itu ayam”
“Kata Mommy ini ayam, Om…” Seru Anggi.
“Wah, Kalo ayam sih nggak mirip. Lebih mirip T-rex” Jawab Marshall.
“Tuh kan, Mommy…”
Kami bertiga lalu lanjut berbincang melalui panggilan video hingga tak terasa waktu semakin larut. Setelah cukup ‘puas’, cukup untuk menghilangkan sedikit rindu, gua mengakhiri panggilan.
“Thanks ya” Gumam gua pelan ke Marshall.
“Buat apa?” Tanyanya.
“...”
“... Gua cuma ngasih saran buat telepon doang” Ia menambahkan.
“Iya. But it means a lot” Jawab gua. Sebelumnya, gua kehilangan keberanian untuk menghubunginya. Takut bersedih, takut menangis, takut! Tapi, entah kenapa Marshall berhasil meyakinkan gua, walau hanya dari sebuah saran yang sederhana.
“Din, udah malem. Kalo mau pulang ayo gua anterin. Kalo masih mau disini, udah sana pindah ke kamar” Ucapnya, seraya menunjuk ke arah kamar.
“Lo tidur disini lagi?” Tanya gua, sambil menunjuk sofa.
“Iya”
“Kenapa nggak dikamar juga?” Tanya gua.
“Nggak muat…” Jawabnya, tentu saja mengada-ngada. Ia lalu berdiri, ke dapur untuk membuat kopi. Sementara, gua hanya terdiam, duduk di sofa dan memandangi punggungnya.
—
Besoknya, pagi-pagi sekali. Gua sudah siap untuk pulang ke apartemen. Berganti pakaian dan menuju ke rumah nyokapnya Marshall sesuai janji. Namun, saat gua keluar dari kamar, Marshall nggak berada di atas sofa, nggak berada dimanapun di dalam apartemen. Sementara, ponsel, rokok dan dompetnya berada di atas meja.
‘Kemana dia?’ gua membatin dalam hati.
Lalu nggak seberapa lama, pintu apartemen terbuka. Terlihat Marshall masuk ke dalam sambil membawa kunci mobil gua.
“Darimana?” Tanya gua penasaran.
“Manasin mobil” Jawabnya singkat.
“Buat apa?” Tanya gua lagi. Merasa mobil yang berada di Indonesia nggak perlu lagi dipanaskan karena sudah berada di suhu yang cukup tinggi.
“Ya nggak tau. Orang-orang kan pada manasin mobil” Jawabnya lagi. Lalu duduk di atas sofa dan menyalakan sebatang rokok.
Gua tentu sadar kalau ada yang ia sembunyikan, tapi sengaja nggak mempertanyakannya; enggan berdebat.
Setengah jam berikutnya, kami sudah berada di jalan bebas hambatan menuju ke apartemen tempat gua tinggal. Gua sengaja ‘pulang’ sebentar untuk berganti pakaian yang lebih ‘layak’, karena akan berkunjung ke rumah orang tuanya. Merasa pakaian-pakaian yang gua beli di mall sebelumnya terlalu kasual, terlalu ‘santai’.
Begitu tiba di area parkir, Marshall nggak langsung menyusul gua menuju ke lobby lift. Ia malah membuka pintu penumpang di bagian belakang, mengambil plastik hitam besar yang ‘katanya’ berisi gambar miliknya dan membawanya.
“Ngapain di bawa?” Tanya gua.
“Nitip sebentar” Jawabnya.
Gua langsung mengernyitkan dahi begitu mendengar jawabannya barusan. Kecurigaan gua semakin besar saat melihat ada yang menonjol di saku belakang celananya, tonjolan yang sepertinya sengaja ia tutupi dengan kaos yang ia kenakan.
“Ini apa?” Tanya gua, seraya menunjuk ke bagian belakang saku celananya.
Marshall nggak menjawab, hanya terdiam. Penasaran gua menyibak ujung kaosnya dan terlihat sebuah palu menyembul dari saku belakang celananya.
“Buat apaan, bawa-bawa palu?” Tanya gua lagi, semakin penasaran dan curiga.
Alih-alih menjawab, Marshall hanya terkekeh; “Hehehe…”
Saat tiba di dalam apartemen, gua langsung masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian dan tentu saja sedikit berdandan. Di saat itulah, gua mendengar suara ketukan palu menghantam dinding. Gua berhenti sejenak, mencoba mendengarkan dengan seksama, apa suara tersebut benar berasal dari apartemen gua atau dari apartemen sebelah.
Saat keluar dari kamar, gua mendapati Marshall tengah memasang gambar miliknya pada dinding ruang keluarga. Gua menghitungnya, ada empat gambar sketsa bangunan dengan blocking frameless di atas layar televisi.
Perlahan, gua mendekat dan melihat dengan seksama. Gambar sketsa paling kiri terlihat sebuah bangunan yang gua kenali sebagai bangunan sekolah SMA gua dulu. Gambar disebelahnya adalah sketsa bangunan rumah pertama kami di Halifax, gambar berikutnya; sketsa gudang bangunan tempat gua dan Jeje memulai usaha sarung bantal, kemudian gambar sebelahnya adalah gambar sketsa gedung tinggi yang merupakan apartemen tempat gua tinggal saat ini.
Gua berdiri, tertegun dalam diam sambil terus memandangi sketsa-sketsa tersebut.
Seakan tahu akan rasa penasaran gua, ia lantas menceritakan latar belakang dibuatnya set sketsa ini. “Perjalanan hidup lo. Ya kira-kira, begini yang gua tau…”
“Tapi, kenapa nggak ada gambar rumah gua?” Tanya gua, merujuk ke rumah pertama gua, rumah tempat gua dibesarkan.
Marshall tersenyum sebentar kemudian menjawab; “Gambarnya kan udah sama lo”
Gua lalu teringat dengan gambar pesanan yang dibuatnya untuk gua dulu.
Gua berbalik, kembali menuju ke kamar, mengaduk-aduk isi laci meja kerja; mencari gambar tersebut. Yang lalu gua ingat sempat menggunakannya sebagai tatakan panci di meja dapur. Gua berlari ke dapur dan mencari kertas tersebut. Dan mendapati, gambarnya tertempel di pintu kulkas; Sepertinya Reni yang menempelkannya disana.
Dengan hati-hati, gua melepas magnet yang membuat kertas tersebut menempel dan membawanya ke ruang keluarga. Kemudian kembali menatapnya bergantian, satu persatu. Kini gua memulai dari lembaran kertas di tangan gua, lalu beralih ke gambar pertama dan seterusnya.
Setelah puas memandanginya, gua menoleh ke arah Marshall dan langsung menerjangnya; memberi pelukan. Gua mendongak, menatap wajahnya dan bicara pelan; “Terima kasih ya, Sal”.
“Terima kasih untuk apa?” Tanyanya.
“Telah mengingatkan gua akan perjalanan hidup yang sudah gua jalani hingga sekarang” Jawab gua singkat.
“Iya..”
“Pas bikin ini, apa lo nggak merasa cemburu?” Tanya gua, merasa semua bangunan yang ia buat selalu berkaitan dengan Jeje.
“Cemburu? nggak lah…” Jawabnya santai.
Gua tersenyum dan menenggelamkan diri dalam pelukannya. Pelukan yang terasa nyaman.
“Jadi ini alasan lo bawa-bawa palu?” Tanya gua.
“Iya…”
“Seandainya lo bilang dari tadi. Gua juga punya palu kok” Jawab gua sambil tersenyum.
“Yaudah, udah terlanjur juga…” Ucapnya.
Kami lalu menunda pergi ke rumah nyokapnya sebentar. Duduk berdua di sofa seraya memandangi set gambar sketsa buatannya. Hanya duduk, diam dan menatap.
LanjutKe Bawah
Diubah oleh robotpintar 13-06-2024 22:37
vizardan dan 44 lainnya memberi reputasi
45
Kutip
Balas
Tutup