- Beranda
- Stories from the Heart
TOLONG AKU HANTU!
...
TS
adamtzero
TOLONG AKU HANTU!
Quote:

"Hantu Gasimah" cr: pickpik
Sinop
Quote:
Nanti malah spoiler, baca aja kalau minat...

INDEX
Quote:
Spoiler for Arc Perkenalan:
Spoiler for Arc Lima Elit:
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
Spoiler for Arc Gasimah:
Spoiler for Arc ???:
Note:
- Cerita ini fiksi 100 %
- Tidak ada maksud tertentu, kalau ada kesamaan hanya kebetulan semata.
- Enjoy
- Kamis
Diubah oleh adamtzero 14-09-2024 20:03
wikanrahma12070 dan 5 lainnya memberi reputasi
4
5.3K
Kutip
189
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
adamtzero
#46
22
Quote:
Bosman bersaudara masih berdiri saja mematung tanpa bisa melakukan apapun, Aldi terus melawan, tetapi kekuatannya tidak mencukupi. Khawatir dengan keadaan keduanya, sang manajer wanita pergi dari ruangan pemantau dan memberi tahu Kuncen DJ bahwa telah terjadi sesuatu di dalam. Kuncen DJ bereaksi cepat dengan membuka pintunya, sekilas ia melihat Mr. Blek lalu hilang dari pandangan sambil mengedipkan satu matanya.
“Eh?” Kuncen DJ terdiam sejenak, lalu kembali ke fokusnya untuk menyelamatkan Bosman bersaudara. Ia melakukan sesuatu yang dinamai sendiri olehnya adalah proses pembersihan, padahal ketika Mr. Blek menghilang maka efeknya juga ikut lenyap. Memang diperlukan beberapa menit agar energi-energi itu hilang sepenuhnya karena tubuh akan melakukan penyesuain kembali setelah dihantam energi negatif.
“Mantap!” ucap Rangga sambil memberikan jempolnya.
“Eh?” lagi-lagi Kuncen DJ terkejut. “iya…,” jawabnya canggung karena baru melihat seseorang yang begitu senang setelah diserang oleh tekanan negatif oleh makhluk halus tingkat tinggi.
Sesi satu berakhir dalam waktu yang begitu singkat, lagi-lagi Bosman bersaudara belum bisa mencatatkan nama mereka dalam papan rekor waktu terlama yang masih dipegang oleh dua elit. Kru yang lain tiba, membawa Bosman bersaudara keluar. Kuncen DJ tidak lupa meminta mereka untuk mematikan kamera tuk sementara waktu untuk melakukan pembersihan ruangan. Agar peserta selanjutnya dapat lebih nyaman ketika melakukannya. Ketika area sudah steril, Kuncen DJ memanggil Bogel untuk hadir.
“Gel, nanti habis ini sajennya kita tambah yah. Bilang juga ke Mr. Blek terima kasih, klien gue puas,” ucap Kuncen DJ.
“Iya…,” Bogel turut senang, dengan begini setidaknya obrolan tentang tempat sampah berhasil dihilangkan.
Bosman bersaudara kembali ke ruang pemantauan, di sana Pandu dan Ardit sudah menyambut kedatangan mereka berdua. Rangga mulai bercerita tanpa diminta, betapa mengerikannya kamar jenazah tersebut. Ia dan Aldi saja begitu sulit melaluinya padahal melakukannya secara bersama-sama. Nama-nama Dua Elit kembali disebut dan dijunjung setinggi langit karena berhasil menaklukan tempat ini. Lalu Rangga memberikan peringatan kepada Pandu, agar lebih hati-hati dan harus membentengi dulu lebih kuat lagi.
“Kamu emang enggak ikut masuk?” membelokan arah pembicaraan kepada Ardit.
“Eh?” dengan cepat menggelengkan kepalanya. “berhubung semua peralatannya dipinjemin, saya mantau dari sini saja,” sambil tertawa.
Sementara Aldi langsung duduk tanpa berbicara, yang dilakukan pertama kalinya adalah meminum air sebanyak satu botol besar ukuran 1.6 liter. Tekanan energi yang diberikan oleh Mr. Blek sangat berefek padanya.
Suasana hangat yang dibangun oleh Rangga terhenti sejenak ketika Kuncen DJ datang, Ia mengatakan bahwa kamar jenazah sudah siap. Lalu meminta Ardit untuk mengantarkan rekannya itu menuju ke tempat uji nyali. Sedangkan Kuncen DJ akan tetap berada di sini untuk terus memantau kondisi Bosman bersaudara, padahal sejatinya Pandu dan Ardit bukanlah kliennya, sehingga dibebaskan tuk berbuat apa saja asalkan tidak melibatkannya.
Lorong begitu gelap dan menakutkan, meskipun ada beberapa lampu remang-remang memberikan cahayanya, tetap saja aura kamar jenazah seperti berbeda dengan aura ruangan lainnya. Pandu tidak banyak berbicara, dirinya sudah siap dengan segala tantangan yang akan dihadapinya. Apalagi ada sosok Gasimah yang kapan saja bisa muncul dari arah yang tidak terduga. Salah satunya ketika kepalanya muncul menembus pintu kamar jenazah, Ardit terkejut setengah mati hingga tersungkur.
“Oi! Kondisikan bisa enggak?!” Ardit begitu kesal karena Gasimah seringkali melakukan itu.
“Hehe, iya maaf,” kemudian mengalihkan pandangannya kepada Pandu yang hanya berjarak satu meter darinya. “aku udah bilang sama penjaganya, buat penampakan yang paling seram, lebih mencekam daripada yang barusan. Kamu siap?” tanya Gasimah.
“Siap! Ya udah aku masuk,” Ardit ditinggal sendirian, suasana lorong yang seram membuatnya tidak ingin berlama-lama. Ia berlari sekuat tenaga menuju ruangan pemantau.
Ardit masih mengumpulkan nyawanya ketika berhasil berlari menuju ruangan pemantau. Nafasnya pendek membuat orang yang melihatnya ikut merasakan penderitaannya. Ardit memberitahu bahwa Pandu sudah berada di dalam, dalam satu komando dari mulut Rangga, semua peralatan kembali dinyalakan oleh semua timya. Dari monitor terlihat Pandu yang berdiri santai, ketika lampu-lampu khusus menyala, berarti uji nyali pun dimulai. Aldi mengamati dengan tatapan penuh konsentrasi, sedangkan Kuncen DJ memutuskan untuk menjaga di lorong, sambil mencari muka kepada Rangga.
Pandu mulai menjelaskan sejarah kamar jenazah tempatnya melakukan uji nyali. Pembawaannya kini lebih tenang dan terstruktur, tidak ingin kalah dengan cara penyampaian Rangga yang sangat mudah dipahami oleh penonton. Beberapa menit berlalu tetapi belum ada gangguan yang berarti. Pandu hanya memberitahu bahwa ruangannya semakin dingin. Lalu setelahnya, gangguan mulai nampak. Awalnya suara dentuman keras dari atap, seperti sebuah benda keras dibanting sekuat tenaga.
“Ada suara, keras di atas,” ucap Pandu. Ujung matanya seperti melihat suatu sosok yang bergerak cepat, “tadi kayak ada sosok yang lewat.”
“Hm, siap-siap. Sosoknya sama seperti yang tadi,” ucap Aldi memecah kesunyian. “energi sosok ini sangat kuat, semoga Pandu bisa bertahan,” Rangga begitu senang melihat Aldi yang banyak berbicara seperti itu, biasanya saudaranya itu hanya diam dan nampak tidak perduli.
“Tenang, ada Gasimah. Lagian kata tuh hantu cewek semuanya udah diatur…,” ucap Ardit dalam hati.
“Eh?” Kuncen DJ terdiam sejenak, lalu kembali ke fokusnya untuk menyelamatkan Bosman bersaudara. Ia melakukan sesuatu yang dinamai sendiri olehnya adalah proses pembersihan, padahal ketika Mr. Blek menghilang maka efeknya juga ikut lenyap. Memang diperlukan beberapa menit agar energi-energi itu hilang sepenuhnya karena tubuh akan melakukan penyesuain kembali setelah dihantam energi negatif.
“Mantap!” ucap Rangga sambil memberikan jempolnya.
“Eh?” lagi-lagi Kuncen DJ terkejut. “iya…,” jawabnya canggung karena baru melihat seseorang yang begitu senang setelah diserang oleh tekanan negatif oleh makhluk halus tingkat tinggi.
Sesi satu berakhir dalam waktu yang begitu singkat, lagi-lagi Bosman bersaudara belum bisa mencatatkan nama mereka dalam papan rekor waktu terlama yang masih dipegang oleh dua elit. Kru yang lain tiba, membawa Bosman bersaudara keluar. Kuncen DJ tidak lupa meminta mereka untuk mematikan kamera tuk sementara waktu untuk melakukan pembersihan ruangan. Agar peserta selanjutnya dapat lebih nyaman ketika melakukannya. Ketika area sudah steril, Kuncen DJ memanggil Bogel untuk hadir.
“Gel, nanti habis ini sajennya kita tambah yah. Bilang juga ke Mr. Blek terima kasih, klien gue puas,” ucap Kuncen DJ.
“Iya…,” Bogel turut senang, dengan begini setidaknya obrolan tentang tempat sampah berhasil dihilangkan.
Bosman bersaudara kembali ke ruang pemantauan, di sana Pandu dan Ardit sudah menyambut kedatangan mereka berdua. Rangga mulai bercerita tanpa diminta, betapa mengerikannya kamar jenazah tersebut. Ia dan Aldi saja begitu sulit melaluinya padahal melakukannya secara bersama-sama. Nama-nama Dua Elit kembali disebut dan dijunjung setinggi langit karena berhasil menaklukan tempat ini. Lalu Rangga memberikan peringatan kepada Pandu, agar lebih hati-hati dan harus membentengi dulu lebih kuat lagi.
“Kamu emang enggak ikut masuk?” membelokan arah pembicaraan kepada Ardit.
“Eh?” dengan cepat menggelengkan kepalanya. “berhubung semua peralatannya dipinjemin, saya mantau dari sini saja,” sambil tertawa.
Sementara Aldi langsung duduk tanpa berbicara, yang dilakukan pertama kalinya adalah meminum air sebanyak satu botol besar ukuran 1.6 liter. Tekanan energi yang diberikan oleh Mr. Blek sangat berefek padanya.
Suasana hangat yang dibangun oleh Rangga terhenti sejenak ketika Kuncen DJ datang, Ia mengatakan bahwa kamar jenazah sudah siap. Lalu meminta Ardit untuk mengantarkan rekannya itu menuju ke tempat uji nyali. Sedangkan Kuncen DJ akan tetap berada di sini untuk terus memantau kondisi Bosman bersaudara, padahal sejatinya Pandu dan Ardit bukanlah kliennya, sehingga dibebaskan tuk berbuat apa saja asalkan tidak melibatkannya.
Lorong begitu gelap dan menakutkan, meskipun ada beberapa lampu remang-remang memberikan cahayanya, tetap saja aura kamar jenazah seperti berbeda dengan aura ruangan lainnya. Pandu tidak banyak berbicara, dirinya sudah siap dengan segala tantangan yang akan dihadapinya. Apalagi ada sosok Gasimah yang kapan saja bisa muncul dari arah yang tidak terduga. Salah satunya ketika kepalanya muncul menembus pintu kamar jenazah, Ardit terkejut setengah mati hingga tersungkur.
“Oi! Kondisikan bisa enggak?!” Ardit begitu kesal karena Gasimah seringkali melakukan itu.
“Hehe, iya maaf,” kemudian mengalihkan pandangannya kepada Pandu yang hanya berjarak satu meter darinya. “aku udah bilang sama penjaganya, buat penampakan yang paling seram, lebih mencekam daripada yang barusan. Kamu siap?” tanya Gasimah.
“Siap! Ya udah aku masuk,” Ardit ditinggal sendirian, suasana lorong yang seram membuatnya tidak ingin berlama-lama. Ia berlari sekuat tenaga menuju ruangan pemantau.
Ardit masih mengumpulkan nyawanya ketika berhasil berlari menuju ruangan pemantau. Nafasnya pendek membuat orang yang melihatnya ikut merasakan penderitaannya. Ardit memberitahu bahwa Pandu sudah berada di dalam, dalam satu komando dari mulut Rangga, semua peralatan kembali dinyalakan oleh semua timya. Dari monitor terlihat Pandu yang berdiri santai, ketika lampu-lampu khusus menyala, berarti uji nyali pun dimulai. Aldi mengamati dengan tatapan penuh konsentrasi, sedangkan Kuncen DJ memutuskan untuk menjaga di lorong, sambil mencari muka kepada Rangga.
Pandu mulai menjelaskan sejarah kamar jenazah tempatnya melakukan uji nyali. Pembawaannya kini lebih tenang dan terstruktur, tidak ingin kalah dengan cara penyampaian Rangga yang sangat mudah dipahami oleh penonton. Beberapa menit berlalu tetapi belum ada gangguan yang berarti. Pandu hanya memberitahu bahwa ruangannya semakin dingin. Lalu setelahnya, gangguan mulai nampak. Awalnya suara dentuman keras dari atap, seperti sebuah benda keras dibanting sekuat tenaga.
“Ada suara, keras di atas,” ucap Pandu. Ujung matanya seperti melihat suatu sosok yang bergerak cepat, “tadi kayak ada sosok yang lewat.”
“Hm, siap-siap. Sosoknya sama seperti yang tadi,” ucap Aldi memecah kesunyian. “energi sosok ini sangat kuat, semoga Pandu bisa bertahan,” Rangga begitu senang melihat Aldi yang banyak berbicara seperti itu, biasanya saudaranya itu hanya diam dan nampak tidak perduli.
“Tenang, ada Gasimah. Lagian kata tuh hantu cewek semuanya udah diatur…,” ucap Ardit dalam hati.
namakuve dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas
Tutup