- Beranda
- Stories from the Heart
Jelaga - Sehitam yang Rasanya Tidak Biasa
...
TS
robotpintar
Jelaga - Sehitam yang Rasanya Tidak Biasa

Bahkan Putih Pun Sudah Seperti Jelaga
"Marsal!"Petugas memanggil namaku asal-asalan.
Gua berdiri dan mendekat ke arah petugas sipir yang menatap ke arah lembaran kertas di atas meja kerjanya. Dengan kacamata baca yang turun hingga ke hidungnya, ia menatapku, lalu tersenyum.
"Tanda tangan" Ucapnya seraya menyerahkan lembaran kertas dari tangannya dan sebuah pulpen.
Gua meraih pulpen itu dan membubuhkan tanda tangan pada bagian bawah lembaran kertas, kemudian mengembalikannya ke petugas tadi.
Ia menerima kertas tersebut, memasukkannya ke dalam sebuah map berwarna hijau dan menumpuknya dengan map-map lain yang memiliki warna yang sama. Dengan gerakan yang lambat dan ogah-ogahan, petugas itu menarik laci, mengeluarkan map plastik transaparan yang di dalamnya terlihat beberapa lembar kertas.
"Nih..." Ucapnya seraya menggeser map transparan tersebut ke arah gua.
"Ada yang jemput, Sal? Nggak ada ya?" Tanya si petugas sambil mencari-cari sesuatu dari laci meja kerjanya.
Belum sempat gua menjawab pertanyaannya, ia lalu menyodorkan sebuah kartu nama. Gua meraih kartu nama tersebut, kartu nama berbahan kertas Ivory yang terlihat murahan. Gua mengernyitkan dahi dan mulai membaca tulisan pada kartu tersebut.
'Jaya Teknik' Gua membaca tulisan paling besar pada kartu tersebut, disusul informasi nomor telepon dan alamat di bagian bawahnya.
"Kang Jaya?" Tanya gua ke petugas itu.
"Iya. Kamu kesana aja, biasanya anak-anak yang baru 'keluar' diajak kerja sama dia" Tambah si petugas sambil tetap menatap ke arah gua.
"Oh..." Gua memberi respon singkat.
Petugas itu berdiri, mengulurkan tangannya. Gua menyambut dan menjabat tangannya.
"Hati-hati ya, Sal. Pokoknya jangan sampe kamu balik kesini lagi" Ucapnya, masih sambil menjabat tangan gua.
"Iya Pak Didi" Jawabku, kemudian bersiap pergi.
Sementara aku pergi, terdengar Pak Didi kembali memanggil nama lain. Seorang petugas menghampiri, membimbing gua melewati lorong berliku yang berpagar tinggi. Hingga akhirnya, kami tiba di sebuah pintu besi berukuran besar. Petugas itu, menekan tombol pada sisi pintu, menimbulkan bunyi meraung keras disusul suara 'cklek' dan pintu otomatis terbuka.
Petugas itu membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan gua untuk keluar.
---
Spoiler for Prolog:
Sebuah ruangan dengan atap tinggi, tanpa dinding dan riuh rendah dari para pengunjung yang tengah mengantri untuk membesuk keluarganya ditambah kerasnya pengumuman dari pelantang suara di ruang semi terbuka itu menyambut gua.
Beberapa mata langsung tertuju ke arah gua. Mungkin aneh melihat ada yang keluar dari pintu besar berukuran tebal itu. Dengan mengabaikan pandangan orang-orang, gua terus melangkah, menuju ke halaman gedung.
Dengan sebuah plastik berwarna merah berisi pakaian seadanya, dan map transparan yang diberikan oleh Pak Didi tadi, gua melangkahkan kaki keluar dari area bangunan itu, untuk pertama kalinya dalam 8 tahun.
Gua menyusuri jalan kecil yang mengubungkan bangunan ini dengan jalan utama yang berada di ujung sana. Sepanjang jalan terdapat beberapa tempat makan sederhana dan warung-warung kopi yang mungkin menjadi tempat para petugas makan dan beristirahat.
Di ujung jalan, terlihat sebuah gapura besar yang terbuat dari batang-batang besi. Pada bagian atasnya nampak motto; "Pasti Baik" dengan tulisan 'Lembaga Pemasyarakatan' di bagian bawahnya. Beberapa tukang ojek pangkalan langsung bersiul begitu melihat kehadiran gua, mencoba menawarkan jasanya.
Gua mengangkat tangan sambil menggeleng, memberi kode dengan cara sesantun mungkin untuk menolak tawaran mereka. Entah mungkin karena nggak ngerti kode yang gue berikan atau memang gigih, mereka tetap menawarkan jasanya. Malah kali ini lebih brutal, mereka menyalakan mesin motor dan langsung mengendarainya mendekat ke arah gua; "Ayok ojek Mas".
"Nggak mas, makasih"Gua menjawab, sambil kembali mengangkat tangan, kemudian melanjutkan langkah.
Akhirnya karena terus dipaksa, gua naik ke boncengan si abang tukang ojek itu. 'Ya emang rejeki dari kegigihannya' Gua membatin dalam hati.
"Kemana?" Tanyanya.
"Terminal" Gua menjawab singkat.
"Siap" Ia langsung memacu sepeda motornya.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya si tukang ojek ini mengajak gua bicara. "Abis besuk siapa? sodara? temen?" Tanyanya.
"Nggak, bukan" Gua menjawab singkat.
"Lah terus ngapain ke lapas?" Tanyanya lagi.
"Gua baru keluar"
"Hah?" Dari nada suaranya terdengar si tukang ojek ini sedikit terkejut. Nggak hanya nada suaranya yang terdengar kaget. Begitu mendengar jawaban gua barusan, sontak ia juga langsung melambatkan laju sepeda motornya.
"Situ Napi?" Tanyanya lagi.
"Bekas" Gua mengoreksi pertanyaanya barusan.
Sejak saat itu, si tukang ojek nggak pernah lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain. Ia hanya diam dan fokus pada jalanan.
"Ngojek deket lapas, emang nggak pernah bawa penumpang bekas napi?" Tanya gua memecah keheningan.
Si Tukang ojek menggelengkan kepala.
"Biasanya mah, yang keluar dari lapas di jemput sama keluarganya. Langganan ojek saya kebanyakan orang yang besuk" Si Tukang ojek berusaha menjelaskan.
"Oh... Pantesan"
Nggak berselang lama, kami akhirnya tiba di terminal bus. Gua turun dari goncengan sepeda motor, mengeluarkan plastik berisi gulungan uang dari saku celana jeans, bersiap untuk membayar. Namun, Si Tukang ojek sudah keburu memutar sepeda motornya dan bersiap untuk pergi.
"Eh, tunggu mas, mau kemana?" Tanya gua, berusaha memegang tangannya mencegah agar dia nggak pergi. Namun, dengan sigap ia menepisnya lalu kabur dengan kecepatan penuh.
Melihat kejadian tersebut tentu membuat gua geleng-geleng kepala, bagaimana tidak. Si Tukang ojek barusan merupakan gambaran umum dari masyarakat Indonesia. Yang punya ketakutan sebesar gunung terhadap para bekas narapidana. Atau jika terlalu 'kasar' menyebut kami sebagai bekas narapidana, mungkin bekas masyarakat binaan bisa menjadi kata ganti yang tepat.
Gua duduk di kursi bis menuju ke Jakarta. Sementara, satu persatu penumpang naik dan duduk dikursi kosong secara acak, mengabaikan nomor yang tertera pada karcis dan kursi. Riuh pedagang asongan yang bolak-balik di lorong antara kursi menjajakan dagangannya dan suara sumbang pengamen dibagian depan bus, membuat rasa kantuk yang sejak tadi hinggap kini hilang.
Cukup lama kami, para penumpang dibiarkan menunggu. Jadi, si supir bus hanya akan jalan jika semua kursi sudah terisi. Kalau masih ada yang kosong, sampai kiamat pun, bus nggak bakalan berangkat. Setelah beberapa saat, hampir semua kursi penuh, bahkan ada sebagian penumpang yang duduk di lorong antar kursi dengan menggunakan kursi plastik.
Raung mesih bus terdengar. Kami lalu perlahan melaju, meninggalkan terminal, menuju ke Jakarta.
---
Masih dengan pakaian yang sama, sambil menggenggam plastik merah, gua berdiri tepat di depan sebuah bengkel las dengan papan nama besar di bagian atas yang bertuliskan 'Jaya Teknik'.
"Sal, Marshall" Terdengar teriakan seorang pria yang samar dengan suara dentingan besi.
Gua menoleh dan mendapati Kang Jaya berdiri, melambaikan tangannya ke arah gua.
Menit berikutnya, kami berdua sudah terlibat obrolan seru di sebuah ruangan yang digunakan Kang Jaya sebagai 'kantor'nya. Di sela-sela obrolang, gua pun menyampaikan niat kedatangan gua kepadanya.
"Kang, bisa ajak gua kerja nggak?" Tanya gua.
Kang Jaya terdiam sesaat, lalu menatap ke arah gua.
"Kamu disana emang belajar nge-las?" Tanyanya.
Gua meresponnya dengan gelengan kepala.
"Terus ngambil sertifikasi apa?" Tanyanya lagi.
Gua lantas memberikan map transparan dari Pak Didi kepadanya. Ia lalu menyeka tangannya dengan ujung kaos dan dengan hati-hati mengeluarkan lembaran kertas dari Map transparan yang berisi sertifikat life skill yang gua pelajari sewatku di Lapas.
"Barista" Gumamnya, sambil menatap gua.
"Iya kang"
"Barista mau jadi tukang las?" Tanyanya.
"Gua mau belajar dulu kok, bantu angkat-angkat besi, ngapain kek..." Jawab gua, dengan nada memohon.
Kang Jaya menghela nafas panjang, kemudian meraih ponselnya dari atas meja.
"Saya ada temen yang baru aja ngambil alih kedai kopi, Siapa tau masih butuh barista. Mau?" Tanyanya.
Gua langsung mengangguk. "Mau!"
Kang Jaya lalu tersenyum dan mulai melakukan panggilan melalui ponselnya.
Beberapa mata langsung tertuju ke arah gua. Mungkin aneh melihat ada yang keluar dari pintu besar berukuran tebal itu. Dengan mengabaikan pandangan orang-orang, gua terus melangkah, menuju ke halaman gedung.
Dengan sebuah plastik berwarna merah berisi pakaian seadanya, dan map transparan yang diberikan oleh Pak Didi tadi, gua melangkahkan kaki keluar dari area bangunan itu, untuk pertama kalinya dalam 8 tahun.
Gua menyusuri jalan kecil yang mengubungkan bangunan ini dengan jalan utama yang berada di ujung sana. Sepanjang jalan terdapat beberapa tempat makan sederhana dan warung-warung kopi yang mungkin menjadi tempat para petugas makan dan beristirahat.
Di ujung jalan, terlihat sebuah gapura besar yang terbuat dari batang-batang besi. Pada bagian atasnya nampak motto; "Pasti Baik" dengan tulisan 'Lembaga Pemasyarakatan' di bagian bawahnya. Beberapa tukang ojek pangkalan langsung bersiul begitu melihat kehadiran gua, mencoba menawarkan jasanya.
Gua mengangkat tangan sambil menggeleng, memberi kode dengan cara sesantun mungkin untuk menolak tawaran mereka. Entah mungkin karena nggak ngerti kode yang gue berikan atau memang gigih, mereka tetap menawarkan jasanya. Malah kali ini lebih brutal, mereka menyalakan mesin motor dan langsung mengendarainya mendekat ke arah gua; "Ayok ojek Mas".
"Nggak mas, makasih"Gua menjawab, sambil kembali mengangkat tangan, kemudian melanjutkan langkah.
Akhirnya karena terus dipaksa, gua naik ke boncengan si abang tukang ojek itu. 'Ya emang rejeki dari kegigihannya' Gua membatin dalam hati.
"Kemana?" Tanyanya.
"Terminal" Gua menjawab singkat.
"Siap" Ia langsung memacu sepeda motornya.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya si tukang ojek ini mengajak gua bicara. "Abis besuk siapa? sodara? temen?" Tanyanya.
"Nggak, bukan" Gua menjawab singkat.
"Lah terus ngapain ke lapas?" Tanyanya lagi.
"Gua baru keluar"
"Hah?" Dari nada suaranya terdengar si tukang ojek ini sedikit terkejut. Nggak hanya nada suaranya yang terdengar kaget. Begitu mendengar jawaban gua barusan, sontak ia juga langsung melambatkan laju sepeda motornya.
"Situ Napi?" Tanyanya lagi.
"Bekas" Gua mengoreksi pertanyaanya barusan.
Sejak saat itu, si tukang ojek nggak pernah lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain. Ia hanya diam dan fokus pada jalanan.
"Ngojek deket lapas, emang nggak pernah bawa penumpang bekas napi?" Tanya gua memecah keheningan.
Si Tukang ojek menggelengkan kepala.
"Biasanya mah, yang keluar dari lapas di jemput sama keluarganya. Langganan ojek saya kebanyakan orang yang besuk" Si Tukang ojek berusaha menjelaskan.
"Oh... Pantesan"
Nggak berselang lama, kami akhirnya tiba di terminal bus. Gua turun dari goncengan sepeda motor, mengeluarkan plastik berisi gulungan uang dari saku celana jeans, bersiap untuk membayar. Namun, Si Tukang ojek sudah keburu memutar sepeda motornya dan bersiap untuk pergi.
"Eh, tunggu mas, mau kemana?" Tanya gua, berusaha memegang tangannya mencegah agar dia nggak pergi. Namun, dengan sigap ia menepisnya lalu kabur dengan kecepatan penuh.
Melihat kejadian tersebut tentu membuat gua geleng-geleng kepala, bagaimana tidak. Si Tukang ojek barusan merupakan gambaran umum dari masyarakat Indonesia. Yang punya ketakutan sebesar gunung terhadap para bekas narapidana. Atau jika terlalu 'kasar' menyebut kami sebagai bekas narapidana, mungkin bekas masyarakat binaan bisa menjadi kata ganti yang tepat.
Gua duduk di kursi bis menuju ke Jakarta. Sementara, satu persatu penumpang naik dan duduk dikursi kosong secara acak, mengabaikan nomor yang tertera pada karcis dan kursi. Riuh pedagang asongan yang bolak-balik di lorong antara kursi menjajakan dagangannya dan suara sumbang pengamen dibagian depan bus, membuat rasa kantuk yang sejak tadi hinggap kini hilang.
Cukup lama kami, para penumpang dibiarkan menunggu. Jadi, si supir bus hanya akan jalan jika semua kursi sudah terisi. Kalau masih ada yang kosong, sampai kiamat pun, bus nggak bakalan berangkat. Setelah beberapa saat, hampir semua kursi penuh, bahkan ada sebagian penumpang yang duduk di lorong antar kursi dengan menggunakan kursi plastik.
Raung mesih bus terdengar. Kami lalu perlahan melaju, meninggalkan terminal, menuju ke Jakarta.
---
Masih dengan pakaian yang sama, sambil menggenggam plastik merah, gua berdiri tepat di depan sebuah bengkel las dengan papan nama besar di bagian atas yang bertuliskan 'Jaya Teknik'.
"Sal, Marshall" Terdengar teriakan seorang pria yang samar dengan suara dentingan besi.
Gua menoleh dan mendapati Kang Jaya berdiri, melambaikan tangannya ke arah gua.
Menit berikutnya, kami berdua sudah terlibat obrolan seru di sebuah ruangan yang digunakan Kang Jaya sebagai 'kantor'nya. Di sela-sela obrolang, gua pun menyampaikan niat kedatangan gua kepadanya.
"Kang, bisa ajak gua kerja nggak?" Tanya gua.
Kang Jaya terdiam sesaat, lalu menatap ke arah gua.
"Kamu disana emang belajar nge-las?" Tanyanya.
Gua meresponnya dengan gelengan kepala.
"Terus ngambil sertifikasi apa?" Tanyanya lagi.
Gua lantas memberikan map transparan dari Pak Didi kepadanya. Ia lalu menyeka tangannya dengan ujung kaos dan dengan hati-hati mengeluarkan lembaran kertas dari Map transparan yang berisi sertifikat life skill yang gua pelajari sewatku di Lapas.
"Barista" Gumamnya, sambil menatap gua.
"Iya kang"
"Barista mau jadi tukang las?" Tanyanya.
"Gua mau belajar dulu kok, bantu angkat-angkat besi, ngapain kek..." Jawab gua, dengan nada memohon.
Kang Jaya menghela nafas panjang, kemudian meraih ponselnya dari atas meja.
"Saya ada temen yang baru aja ngambil alih kedai kopi, Siapa tau masih butuh barista. Mau?" Tanyanya.
Gua langsung mengangguk. "Mau!"
Kang Jaya lalu tersenyum dan mulai melakukan panggilan melalui ponselnya.
Diubah oleh robotpintar 10-06-2024 21:29
teguhjepang9932 dan 218 lainnya memberi reputasi
219
411.5K
Kutip
4.6K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#2102
Part 81 - Bersamanya
Spoiler for Part 81 - Bersamanya:
Cukup lama Aldina tertidur di pangkuan gua, mungkin merasa nyaman. Saking nyamannya, ia bahkan sempat berbalik dan merubah posisi beberapa kali. Mengabaikan gua yang kini mulai terasa pegal dan kesemutan.
Perlahan gua mengangkat kepalanya dengan kedua tangan lalu memindahkannya ke atas bantal kecil yang sudah gua siapkan. Sementara, gua mulai bergeser keluar dari sofa dan langsung menjatuhkan diri di atas lantai, kemudian mulai memberi pijatan di kaki.
Saat tengah bersiap berdiri untuk menuju ke toilet, terdengar suara dering ponsel milik Aldina, suaranya membahana di seantero ruangan. Gua mengintip ke arah ponselnya yang tergeletak di lantai; terlihat nama Reni pada layarnya.
Gua buru-buru membangunkan Aldina dengan mengguncang tubuhnya, namun ia menolak bangun. Malah mendengus “Ck” sambil mengubah posisinya membelakangi gua.
Takut ada sesuatu yang penting, gua lalu menjawab panggilan.
“Halo…” sapa gua.
Nggak ada jawaban.
Setelah beberapa saat, barulah terdengar suara Reni; “Halo… siapa nih?” Tanyanya dengan nada bicara penuh keraguan.
“Marshall” gua menjawab dengan menyebut nama.
“Hah!?”
“Hah…”
“Kok lo yang jawab kak? Kak Dina-nya mana?” Tanya Reni, terdengar masih penasaran.
“Tidur” Jawab gua singkat.
“Oh.. lo lagi disana?” Tanyanya lagi.
“Nggak. Dia yang disini”
“Hah, gimana sih?” Ucapnya bingung.
“Dia ditempat gua”
“Hah! Seriously?” Tanyanya, kini nada bicaranya mulai meninggi terdengar begitu excited.
“Iya…”
“Kok mau dia? udah berapa kali gua kesana, diem aja dia. Terus udah makan belum dia kak?” Tanyanya.
“Tadi sih udah…” Jawab gua.
“Oh, good then…”
“Perlu gua bangunin nggak nih orangnya?” Tanya gua ke Reni.
“Nggak usah deh, biarin aja. Nanti gua telpon lagi aja” Jawabnya.
“Oh yaudah”
“Sip. Titip ya Kak…” Jawab Reni sambil tertawa kemudian mengakhiri panggilan.
Saat selesai menelpon dan berniat mengembalikan ponsel ke tempat semula, gua terkejut begitu mendapati Aldina yang sudah menatap ke arah gua. “Anjir, kaget gua” Seru gua sambil meletakkan ponsel.
“Siapa?” Tanyanya, pelan.
“Orang, salah sambung”.
Aldina bangun, meraih ponsel dan mulai mengecek riwayat panggilan pada ponselnya. Ia lalu berpaling ke gua dan bicara pelan; “ngomong apa dia?” Tanyanya.
“Nanyain lo, udah makan apa belum”
“Terus lo bilang apa?” Tanyanya lagi.
“Gua bilang udah. Emang udah kan tadi?” Gua balik bertanya.
“Iya, tapi sekarang laper lagi” Jawabnya. Lalu berdiri dan menuju ke dapur.
Layaknya berada di rumah sendiri, ia langsung membuka kulkas, membungkuk sambil mencari-cari sesuatu yang bisa dimakan.
Nggak lama, ia kembali sambil membawa bungkusan roti tawar dari dalam kulkas lalu duduk di sofa. Sambil tangannya mengeluarkan roti dari dalam kemasan plastik, tangan satunya meraih remot televisi dan menyalakannya.
Gua menatapnya, melihat gayanya yang unik saat makan roti. Ia melipat roti tawar hingga berbentuk seperti lipatan karpet lalu mulai memakannya dari bagian sisi-nya. Menyisakan bagian pinggiran roti yang keras, yang lalu ia letakkan di atas meja. Gua bangun, mengambil plastik kresek bekas dari dapur dan memasukkan sisa pinggiran roti yang berserakan diatas meja ke dalamnya. Lantas meletakkan plastik kresek tersebut di lantai, agar ia bisa langsung membuang sisa roti di sana.
Namun, ia masih meletakkan sisa pinggiran roti diatas meja, seakan nggak peduli dengan plastik kresek yang sudah gua sediakan. Gua mendongak dan menatapnya. Menyadari kalau gua tengah memberi tatapan ke arahnya, Aldina balas memandang gua, tatapan matanya seakan bertanya; ‘Kenapa?’.
“Sampahnya buang disini” Ucap gua seraya menunjuk ke arah plastik kresek di lantai.
Ia berpaling ke arah plastik kresek di lantai lalu mengangguk sambil pasang ekspresi datar; seperti nggak punya salah. Dengan mata menatap ke layar televisi, dan masih sambil makan, ia lalu menggumam pelan; “Besok kalo beli roti jangan yang ada pinggirannya”.
“Iya…” Jawab gua singkat.
“Yang ijo, Sal. Yang pandan..” Tambahnya.
Gua kembali mengangguk, sambil terus menatapnya. Memperhatikan sikapnya yang kini berbanding terbalik dengan Aldina yang gua kenal sebelumnya. Aldina yang menghindari perdebatan.
Ia kembali menoleh ke arah gua, mungkin menyadari kalau mendapat tatapan dari gua. “Kenapa?” Tanyanya.
“Gapapa, lo beda aja” Jawab gua.
Aldina lantas tersenyum. Senyuman yang jarang sekali terlihat. Karena selama ini selalu disembunyikan di balik ekspresi wajahnya yang angkuh. “Your smile looks good on you. You should smile more often..” Gumam gua pelan.
Masih sambil menatap gua, ia menyelipkan helaian rambutnya ke balik telinga dengan jarinya yang lentik, kemudian mencoba mempermanis senyumannya. Kini gua menyaksikan senyuman terbaik dari perempuan manapun yang pernah gua temui.
“Kalo sekarang?” Tanyanya.
Gua berdiri, mengusap kepalanya seraya meraih kantong plastik berisi sampah sisa roti, berniat membawanya ke dapur. Sebelum pergi gua memberi jawaban; “Cantik”.
Saat kembali dari dapur gua mendapati Aldina tengah duduk bersandar di sofa sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Gua duduk di sebelahnya, meraih remot televisi dan bertanya; “Ngapa?”.
Aldina menggeleng, masih sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Penasaran, gua meraih kedua tangan dan menurunkannya perlahan. Terlihat wajahnya merah merona sementara kedua matanya berlinang. Gua jelas jadi bingung dengan ekspresinya ini. “Nangis?” Tanya gua.
Ia menggeleng, sambil tersenyum, tersipu.
“Itu?” Tanya gua lagi seraya menunjuk ke arah kedua matanya.
“Tau ah…” Jawabnya, lantas meraih bantal kecil dan kembali menutupi wajahnya.
“Nangis tapi senyum. Senang apa sedih?” Gumam gua seraya mengalihkan pandangan ke layar televisi.
Ia menyingkirkan bantal kecil yang menutupi wajahnya, lalu bergeser, menyandarkan kepalanya di bahu gua dan berbisik pelan; “Dua-duanya”.
Setelahnya, kami berdua hanya duduk dalam diam. Menonton serial drama di televisi, hingga berepisode-episode. Hingga langit diluar berubah menjadi gelap, hingga gua lupa kalau harus menyalakan lampu ruangan, karena merasa nyaman berada disisinya, duduk menjadi sandaran kepalanya.
“Gelap” Gumamnya, masih sambil menyandarkan kepalanya di bahu gua.
“Yaudah awas dulu, gua nyalain lampu”
Aldina lantas mengangkat kepalanya, memberikan kesempatan untuk gua menyalakan lampu. Lalu kembali duduk di sebelahnya. Alih-alih kembali menyandarkan kepalanya di bahu, ia malah menatap gua.
“Laper, Sal”
“Yaudah ayo makan, sekalian nganter lo pulang” Jawab gua seraya kembali berdiri, bersiap ke kamar untuk mengambil sweater. Namun, ia dengan cepat meraih tangan gua, membuat gua berbalik.
“Nggak mau” Ucapnya.
“Lah tadi katanya laper?” Tanya gua.
“Gua nggak mau pulang” Jawabnya, sambil menundukkan kepala.
“Terus?”
“Gua mau disini aja..”
Gua lantas kembali duduk di atas sofa di sebelahnya. Mengambil ponsel dari atas meja dan mulai memesan makanan melalui aplikasi ojek online.
Selesai makan, kami kembali dengan kegiatan sebelumnya; menonton serial drama hingga berepisode-episode. Ada kalanya, Aldina berbaring dengan kepalanya dipangkuan gua. Kadang ia mendekat, duduk di lantai tepat di depan layar televisi agar bisa melihat lebih jelas aktor favoritnya yang di drama ini hanya jadi cameo. Sesekali, ia berdiri, sambil memberi makian ke layar televisi saat tokoh antagonis yang menyebalkan tampil. Atau, meringkuk di sudut sofa seraya menangis sambil memeluk kotak tisu saat momen sedih.
Hari ini, ia benar-benar menjadi dirinya sendiri.
Tanpa terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Gua menoleh ke arah Aldina yang duduk diatas sofa sambil memeluk bantal, sementara kedua matanya terpejam. Ia tertidur.
Gua menuju ke kamar, membereskan ranjang yang nggak pernah gua pakai sama sekali sejak kepergian Poppy. Menata bantal dan menyalakan penyejuk ruangan, kemudian kembali keluar.
“Din.. Din..” Gua mencoba membangunkan Aldina yang masih duduk sambil terpejam, ingin memintanya pindah ke kamar. Bukannya bangun, ia malah berbaring diatas sofa.
Gua menghela nafas, lalu memposisikan kedua tangan dibawah tubuhnya, kemudian mengangkatnya dengan perlahan agar ia nggak terbangun. Tapi, yang terjadi malah sebaliknya; saat berada di gendongan gua, ia malah terjaga dan membuka matanya.
Kami lalu saling menatap, dekat dan lekat.
Perlahan, ia melingkarkan kedua tangannya di leher gua sementara tubuhnya masih berada di pelukan gua.
Tiba-tiba saat hendak masuk ke dalam kamar, saat berada di ambang pintu. Dengan tubuhnya yang melintang berada di gendongan gua, terdengar suara ‘Duk!’ yang cukup nyaring. Rupanya, kepala Aldina terbentur kusen pintu kamar.
“Aaah… sakit…” rengeknya seraya mengusap bagian kepalanya yang terbentur.
Gua dengan cepat mengucap maaf berkali-kali; “Maap, maap…”. Kemudian melangkah masuk ke dalam kamar dan membaringkannya diatas ranjang.
Begitu sudah diatas ranjang, ia langsung berguling seraya memegangi kepalanya dan terus mengaduh. Sementara, gua duduk di sisi ranjang dan terus mengucap maaf.
Normalnya, di momen seperti ini, Aldina akan langsung murka dan memberi balasan yang sama atau paling tidak setimpal dimatanya. Tapi, kali ini ia hanya mampu mengaduh sambil menyembunyikan wajahnya di antara bantal diatas ranjang.
“Maap, Din.. Nggak sengaja” Gua mendekat sambil mengucap maaf.
Ia lalu mengangkat kepalanya dan menatap gua sambil pasang tampang sendu. Gua mendekat, meraih kepalanya dan mengusap bagian yang terbentur dengan perlahan.
“Bisa gegar otak nggak sih, Sal?” Tanyanya pelan.
Mendengar pertanyaannya barusan tentu membuat gua tertawa. Lalu menepuk kepalanya pelan. Aldina mengaduh dan kembali mendongak dan menatap gua; “Nanti beneran gegar otak” Gumamnya.
“Sorry ya…” Ucap gua lagi.
“Iya…” Jawabnya pelan.
Gua lantas mengambil selimut baru dari dalam lemari dan menyelubungi tubuhnya. Kemudian bersiap untuk keluar, kembali ke sofa.
“Mau kemana?” Tanya Aldina, sesaat sebelum gua keluar.
“Kedepan” Jawab gua sambil menunjuk ke arah depan.
“Disini aja” Pintanya seraya menepuk sisi ranjang di sebelahnya.
Gua berbalik dan kembali, lalu duduk di sisi ranjang tepat di sebelahnya yang tengah berbaring.
Sambil mencoba kembali memejamkan kedua matanya, Aldina lalu mulai bercerita. Cerita tentang dirinya dan tentang masa lalunya. Sementara, gua hanya duduk, sambil bersandar dan mendengarkannya dengan seksama.
Sempat terbesit niat untuk bertanya perihal Anggi kepadanya, namun sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat. Dan gua hanya membiarkannya terus bercerita hingga akhirnya, suaranya melemah lalu hilang. Gua menoleh dan mendapati ia sudah terlelap, tenggelam dalam mimpi yang mudah-mudahan ada gua disana, di dalamnya.
Gua berbaring dengan posisi miring, menghadap ke arahnya sambil bertumpu menggunakan lengan. Menatapnya yang tengah tertidur; matanya, hidungnya, dan bibirnya. Dengan ujung jari, gua menyentuh bibirnya yang tipis, merabanya perlahan. Sadar kalau, gua bisa saja berbuat lebih jauh dari ini, gua bangun dan segera keluar dari kamar.
Sebelum keluar, gua menekan saklar; mematikan lampu, kemudian kembali menyempatkan diri menatap wajahnya yang kini terpapar cahaya dari luar.
Gua tersenyum sebentar, kemudian menutup pintu dan menuju ke dapur untuk membuat kopi.
Dengan segelas kopi di tangan, gua menuju ke balkon, duduk di lantai dan mulai menyulut sebatang rokok. Sambil terus menjaga bayangan tentang wajah Aldina yang tersenyum agar nggak cepat sirna.
—
Gua terbangun saat mendengar suara gaduh dari arah kamar mandi. Dengan langkah gontai, gua mendekat ke arah kamar mandi, dimana kini pintunya tertutup rapat. Sementara dari dalam terdengar suara air yang terus mengalir dan ember yang saling berbenturan. Gua mengetuk pintu seraya memanggil namanya; “Din.. Aldina”
“Ya…” Jawabnya dari dalam kamar mandi.
“Ngapain?” Tanya gua, penasaran karena nggak pernah ada orang mandi bisa menimbulkan suara segaduh ini.
Pintu kamar mandi terbuka sedikit, kepalanya menyembul keluar; “Nyuci baju” Ucapnya sambil terkekeh kemudian kembali masuk.
“Hah!? ngapain.. Sini gua laundry ke bawah aja” Balas gua. Karena memang biasanya gua nggak mencuci baju sendiri, melainkan membawanya ke tempat jasa laundry di lantai bawah. Namun, Aldina nggak menjawab. Terdengar suara gadung berlanjut.
Gua kembali ke depan dan duduk di sofa. Nggak berselang lama, pintu kamar mandi terbuka disusul Aldina yang berlari masuk ke dalam kamar. Gua berdiri dan gantian menggunakan kamar mandi. Saat baru saja, gua beberapa detik berada di dalam kamar mandi, terdengar ketukan pada pintu dan seruan Aldina yang nggak henti-henti memanggil nama gua; “Sal.. Marshall..”
“Apaan sih?” Tanya gua.
Lalu pandangan gua teralih ke ember kecil di sudut kamar mandi. Ember yang saat gua lihat berisi pakaian dalam miliknya yang sepertinya baru saja selesai dicuci. Sadar kalau tujuannya berteriak adalah untuk mencegah gua melihat pemandangan ini, gua langsung meraih ember tersebut, membuka pintu sedikit dan mengeluarkannya tanpa bicara sepatah katapun, lalu lanjut mandi.
“Gua pinjem sweater sama kaos ya” Terdengar samar suaranya dari dalam kamar.
“Iya” Balas gua, juga sambil berteriak.
Selesai mandi, gua nggak mendapati Aldina berada di dalam kamar. Ternyata, ia tengah berdiri di balkon sambil memegangi pakaian yang sengaja ia jemur di railing balkon.
“Ngapain?” Tanya gua berlagak nggak tau.
Ia nggak menjawab, hanya terdiam sambil balas menatap gua tanpa ekspresi.
“Udah ayo gua anterin balik, emang mau nunggu sampe kering?” Tanya gua seraya menunjuk ke arah pakaian dalam yang dijemurnya.
Aldina membalas dengan anggukan kepala.
“Gua mau ke studio” Ucap gua.
“Yaudah sana..” Jawabnya.
“Terus elo?”
“Gua disini aja…”
Gua langsung mengernyitkan dahi begitu mendengar jawabannya; bingung. Ia enggan pulang, mungkin karena takut sendirian. Tapi, ia juga mau tetap disini saat gua ke studio. Padahal disini juga ia bakal sendirian.
Ingin bertanya kepadanya namun sengaja gua tahan, karena takut ia tersinggung dan malah murka. Jadi, gua membiarkan saja ia melakukan apa yang diinginkannya.
Di studio gua tentu nggak bisa fokus bekerja, mengingat ada Aldina di apartemen. ‘Apa sekarang dia masih di balkon, menunggu pakaian dalamnya kering?’ batin gua dalam hati. Setelah mengerjakan satu task, gua berdiri dan bersiap untuk kembali ke apartemen.
“Mau kemana?” Tanya Ketu, saat melihat gua menutup layar laptop dan memasukkannya ke dalam tas.
“Balik dulu sebentar…” Jawab gua.
“Nggak enak badan?” Adam dan Dinar kompak mengajukan pertanyaan.
“Iya…” Jawab gua asal, lalu pergi.
Setengah jam berikutnya, gua sudah kembali di apartemen. Sementara, Aldina masih duduk di balkon sambil memegangi pakaian dalamnya agar nggak terbang tersapu angin. Gua mendekat ke arahnya lalu bicara; “Udah kalo nggak mau balik, ganti baju. Ayo beli aja” Ucap gua.
“Beli apa?” Tanyanya.
“Itu…” Jawab gua seraya menunjuk ke arah pakaian dalam yang dipegangnya.
“Oh..” Ia lantas masuk ke dalam sambil menenteng pakaian dalamnya, menuju ke dapur dan memasukkannya ke dalam plastik. Kemudian meletakkannya di keranjang plastik berwarna hijau tempat biasa gua menyimpan baju kotor yang nanti bakal di bawa ke tukang laundry.
“Ayo..” Ajanya, seraya meraih ponsel, dompet dan kunci mobilnya.
Beberapa saat berikutnya, kami sudah berada di sebuah Mall yang lokasinya nggak begitu jauh dari apartemen. Suasana di dalam mall masih sangat sepi, bahkan beberapa toko terlihat masih berbenah; belum sepenuhnya buka karena masih terlalu pagi. Sementara, gua menunggu di salah satu kedai kopi di lobby mall, Aldina membeli pakaian ganti.
Hampir satu jam gua habiskan untuk menunggunya.
‘Kenapa beli baju satu aja lama banget sih’ Batin gua dalam hati, seraya menghabiskan sisa-sisa kopi dari gelas plastik diatas meja. Dan berencana untuk menelponnya. Namun, baru sadar kalau ponsel gua dalam kondisi mati; habis baterai. Saat gua mulai lelah menunggu, Aldina muncul di hadapan gua. Kini ia sudah mengenakan pakaian yang berbeda, sementara di tangannya terlihat beberapa paperbag yang sangat mungkin berisi pakaian-pakaian yang baru dibelinya.
“Sweater gua mana?” Tanya gua.
“Nih, di dalem” Jawabnya seraya menunjuk ke arah salah satu paperbag di tangannya.
Selesai berbelanja, saat berada di dalam mobil dalam perjalanan kembali ke apartemen. Gua kembali bertanya kepadanya; “Mau, balik apa gimana?”
Aldina nggak menjawab dengan bicara, ia hanya menunjuk ke arah bangunan tinggi tempat dimana gua tinggal. Yang memang sudah terlihat dari posisi kami saat ini.
“Yaudah, nanti gua turun di studio ya…” Ucap gua. Merasa kali ini sudah cukup lega untuk meninggalkan dirinya sendirian di apartemen.
“Iya” Jawabnya sambil tersenyum.
Melihatnya, gua jadi ikut tersenyum. Baru kali ini gua merasakan sensasi yang berbeda saat bersama dengannya. Sensasi yang terasa hangat dan nyaman.
Gua turun di depan gang yang mengarah ke studio. Sementara, Aldina langsung pergi kembali menuju ke apartemen gua. Hingga kini, gua masih belum bisa mendapat jawaban dan alasan kenapa ia enggan kembali ke tempatnya.
‘Nanti gua tanya deh’ Batin gua dalam hati, sambil terus melangkah menuju ke studio.
Karena merasa sudah nggak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, gua bisa kembali bekerja dengan tenang. Bisa fokus dan berkonsentrasi. Satu task, dua task, tiga task, berhasil gua selesaikan tanpa ada kendala sama sekali.
Sementara, Ketu lalu mendekat dengan dua cangkir kopi di tangannya.
“Ngopi?” Ucapnya.
Gua mengangguk dan berdiri lalu mengikutinya menuju ke teras depan.
Kami duduk berdua di atas kursi kayu hasil karya Adam dan Andika, yang dibuatnya dari sisa-sisa kayu tetangga yang baru saja selesai merenovasi rumah. Gua meraih sebatang rokok milik Ketu dan menyulutnya.
“Aku udah cerita belum sih?” Tanyanya.
“Cerita apa?” Gua balik bertanya.
“Ibumu kan kemarin kesini” Ucapnya.
“Hah? ngapain?” Tanya gua lagi.
“Mboh.. tanya Dinar sana. Wong ngobrol suwe karo Dinar” Ketu memberi informasi.
“Oh… Biarin aja, emang nyari Dinar kali” Jawab gua santai.
Kami berdua lalu melanjutkan obrolan. Obrolan seputar pekerjaan dan beberapa rencana kedepan tentang studio kami ini. Tentu saja sambil sesekali bercanda dan mengingat masa lalu.
Tanpa terasa, sore berganti malam. Gua lantas bersiap untuk pulang, kembali ke apartemen. Di perjalanan pulang, gua sengaja mampir ke rumah makan padang; membeli dua porsi makanan untuk kami berdua. Sambil menenteng plastik berisi dua porsi nasi padang, gua melangkah riang, bahkan sampai bersiul-siul. Merasa senang karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang menunggu gua di rumah.
Setibanya di apartemen, gua langsung naik dengan menggunakan lift. Sampai di momen ini, gua masih merasa baik-baik saja, hingga saat gua membuka pintu apartemen dan mendapati sepasang sepatu perempuan di balik pintu.
Gua masuk ke dalam dan terlihat Aldina tengah duduk di sofa bersama dengan; Nyokap!
—
Perlahan gua mengangkat kepalanya dengan kedua tangan lalu memindahkannya ke atas bantal kecil yang sudah gua siapkan. Sementara, gua mulai bergeser keluar dari sofa dan langsung menjatuhkan diri di atas lantai, kemudian mulai memberi pijatan di kaki.
Saat tengah bersiap berdiri untuk menuju ke toilet, terdengar suara dering ponsel milik Aldina, suaranya membahana di seantero ruangan. Gua mengintip ke arah ponselnya yang tergeletak di lantai; terlihat nama Reni pada layarnya.
Gua buru-buru membangunkan Aldina dengan mengguncang tubuhnya, namun ia menolak bangun. Malah mendengus “Ck” sambil mengubah posisinya membelakangi gua.
Takut ada sesuatu yang penting, gua lalu menjawab panggilan.
“Halo…” sapa gua.
Nggak ada jawaban.
Setelah beberapa saat, barulah terdengar suara Reni; “Halo… siapa nih?” Tanyanya dengan nada bicara penuh keraguan.
“Marshall” gua menjawab dengan menyebut nama.
“Hah!?”
“Hah…”
“Kok lo yang jawab kak? Kak Dina-nya mana?” Tanya Reni, terdengar masih penasaran.
“Tidur” Jawab gua singkat.
“Oh.. lo lagi disana?” Tanyanya lagi.
“Nggak. Dia yang disini”
“Hah, gimana sih?” Ucapnya bingung.
“Dia ditempat gua”
“Hah! Seriously?” Tanyanya, kini nada bicaranya mulai meninggi terdengar begitu excited.
“Iya…”
“Kok mau dia? udah berapa kali gua kesana, diem aja dia. Terus udah makan belum dia kak?” Tanyanya.
“Tadi sih udah…” Jawab gua.
“Oh, good then…”
“Perlu gua bangunin nggak nih orangnya?” Tanya gua ke Reni.
“Nggak usah deh, biarin aja. Nanti gua telpon lagi aja” Jawabnya.
“Oh yaudah”
“Sip. Titip ya Kak…” Jawab Reni sambil tertawa kemudian mengakhiri panggilan.
Saat selesai menelpon dan berniat mengembalikan ponsel ke tempat semula, gua terkejut begitu mendapati Aldina yang sudah menatap ke arah gua. “Anjir, kaget gua” Seru gua sambil meletakkan ponsel.
“Siapa?” Tanyanya, pelan.
“Orang, salah sambung”.
Aldina bangun, meraih ponsel dan mulai mengecek riwayat panggilan pada ponselnya. Ia lalu berpaling ke gua dan bicara pelan; “ngomong apa dia?” Tanyanya.
“Nanyain lo, udah makan apa belum”
“Terus lo bilang apa?” Tanyanya lagi.
“Gua bilang udah. Emang udah kan tadi?” Gua balik bertanya.
“Iya, tapi sekarang laper lagi” Jawabnya. Lalu berdiri dan menuju ke dapur.
Layaknya berada di rumah sendiri, ia langsung membuka kulkas, membungkuk sambil mencari-cari sesuatu yang bisa dimakan.
Nggak lama, ia kembali sambil membawa bungkusan roti tawar dari dalam kulkas lalu duduk di sofa. Sambil tangannya mengeluarkan roti dari dalam kemasan plastik, tangan satunya meraih remot televisi dan menyalakannya.
Gua menatapnya, melihat gayanya yang unik saat makan roti. Ia melipat roti tawar hingga berbentuk seperti lipatan karpet lalu mulai memakannya dari bagian sisi-nya. Menyisakan bagian pinggiran roti yang keras, yang lalu ia letakkan di atas meja. Gua bangun, mengambil plastik kresek bekas dari dapur dan memasukkan sisa pinggiran roti yang berserakan diatas meja ke dalamnya. Lantas meletakkan plastik kresek tersebut di lantai, agar ia bisa langsung membuang sisa roti di sana.
Namun, ia masih meletakkan sisa pinggiran roti diatas meja, seakan nggak peduli dengan plastik kresek yang sudah gua sediakan. Gua mendongak dan menatapnya. Menyadari kalau gua tengah memberi tatapan ke arahnya, Aldina balas memandang gua, tatapan matanya seakan bertanya; ‘Kenapa?’.
“Sampahnya buang disini” Ucap gua seraya menunjuk ke arah plastik kresek di lantai.
Ia berpaling ke arah plastik kresek di lantai lalu mengangguk sambil pasang ekspresi datar; seperti nggak punya salah. Dengan mata menatap ke layar televisi, dan masih sambil makan, ia lalu menggumam pelan; “Besok kalo beli roti jangan yang ada pinggirannya”.
“Iya…” Jawab gua singkat.
“Yang ijo, Sal. Yang pandan..” Tambahnya.
Gua kembali mengangguk, sambil terus menatapnya. Memperhatikan sikapnya yang kini berbanding terbalik dengan Aldina yang gua kenal sebelumnya. Aldina yang menghindari perdebatan.
Ia kembali menoleh ke arah gua, mungkin menyadari kalau mendapat tatapan dari gua. “Kenapa?” Tanyanya.
“Gapapa, lo beda aja” Jawab gua.
Aldina lantas tersenyum. Senyuman yang jarang sekali terlihat. Karena selama ini selalu disembunyikan di balik ekspresi wajahnya yang angkuh. “Your smile looks good on you. You should smile more often..” Gumam gua pelan.
Masih sambil menatap gua, ia menyelipkan helaian rambutnya ke balik telinga dengan jarinya yang lentik, kemudian mencoba mempermanis senyumannya. Kini gua menyaksikan senyuman terbaik dari perempuan manapun yang pernah gua temui.
“Kalo sekarang?” Tanyanya.
Gua berdiri, mengusap kepalanya seraya meraih kantong plastik berisi sampah sisa roti, berniat membawanya ke dapur. Sebelum pergi gua memberi jawaban; “Cantik”.
Saat kembali dari dapur gua mendapati Aldina tengah duduk bersandar di sofa sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Gua duduk di sebelahnya, meraih remot televisi dan bertanya; “Ngapa?”.
Aldina menggeleng, masih sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Penasaran, gua meraih kedua tangan dan menurunkannya perlahan. Terlihat wajahnya merah merona sementara kedua matanya berlinang. Gua jelas jadi bingung dengan ekspresinya ini. “Nangis?” Tanya gua.
Ia menggeleng, sambil tersenyum, tersipu.
“Itu?” Tanya gua lagi seraya menunjuk ke arah kedua matanya.
“Tau ah…” Jawabnya, lantas meraih bantal kecil dan kembali menutupi wajahnya.
“Nangis tapi senyum. Senang apa sedih?” Gumam gua seraya mengalihkan pandangan ke layar televisi.
Ia menyingkirkan bantal kecil yang menutupi wajahnya, lalu bergeser, menyandarkan kepalanya di bahu gua dan berbisik pelan; “Dua-duanya”.
Setelahnya, kami berdua hanya duduk dalam diam. Menonton serial drama di televisi, hingga berepisode-episode. Hingga langit diluar berubah menjadi gelap, hingga gua lupa kalau harus menyalakan lampu ruangan, karena merasa nyaman berada disisinya, duduk menjadi sandaran kepalanya.
“Gelap” Gumamnya, masih sambil menyandarkan kepalanya di bahu gua.
“Yaudah awas dulu, gua nyalain lampu”
Aldina lantas mengangkat kepalanya, memberikan kesempatan untuk gua menyalakan lampu. Lalu kembali duduk di sebelahnya. Alih-alih kembali menyandarkan kepalanya di bahu, ia malah menatap gua.
“Laper, Sal”
“Yaudah ayo makan, sekalian nganter lo pulang” Jawab gua seraya kembali berdiri, bersiap ke kamar untuk mengambil sweater. Namun, ia dengan cepat meraih tangan gua, membuat gua berbalik.
“Nggak mau” Ucapnya.
“Lah tadi katanya laper?” Tanya gua.
“Gua nggak mau pulang” Jawabnya, sambil menundukkan kepala.
“Terus?”
“Gua mau disini aja..”
Gua lantas kembali duduk di atas sofa di sebelahnya. Mengambil ponsel dari atas meja dan mulai memesan makanan melalui aplikasi ojek online.
Selesai makan, kami kembali dengan kegiatan sebelumnya; menonton serial drama hingga berepisode-episode. Ada kalanya, Aldina berbaring dengan kepalanya dipangkuan gua. Kadang ia mendekat, duduk di lantai tepat di depan layar televisi agar bisa melihat lebih jelas aktor favoritnya yang di drama ini hanya jadi cameo. Sesekali, ia berdiri, sambil memberi makian ke layar televisi saat tokoh antagonis yang menyebalkan tampil. Atau, meringkuk di sudut sofa seraya menangis sambil memeluk kotak tisu saat momen sedih.
Hari ini, ia benar-benar menjadi dirinya sendiri.
Tanpa terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Gua menoleh ke arah Aldina yang duduk diatas sofa sambil memeluk bantal, sementara kedua matanya terpejam. Ia tertidur.
Gua menuju ke kamar, membereskan ranjang yang nggak pernah gua pakai sama sekali sejak kepergian Poppy. Menata bantal dan menyalakan penyejuk ruangan, kemudian kembali keluar.
“Din.. Din..” Gua mencoba membangunkan Aldina yang masih duduk sambil terpejam, ingin memintanya pindah ke kamar. Bukannya bangun, ia malah berbaring diatas sofa.
Gua menghela nafas, lalu memposisikan kedua tangan dibawah tubuhnya, kemudian mengangkatnya dengan perlahan agar ia nggak terbangun. Tapi, yang terjadi malah sebaliknya; saat berada di gendongan gua, ia malah terjaga dan membuka matanya.
Kami lalu saling menatap, dekat dan lekat.
Perlahan, ia melingkarkan kedua tangannya di leher gua sementara tubuhnya masih berada di pelukan gua.
Tiba-tiba saat hendak masuk ke dalam kamar, saat berada di ambang pintu. Dengan tubuhnya yang melintang berada di gendongan gua, terdengar suara ‘Duk!’ yang cukup nyaring. Rupanya, kepala Aldina terbentur kusen pintu kamar.
“Aaah… sakit…” rengeknya seraya mengusap bagian kepalanya yang terbentur.
Gua dengan cepat mengucap maaf berkali-kali; “Maap, maap…”. Kemudian melangkah masuk ke dalam kamar dan membaringkannya diatas ranjang.
Begitu sudah diatas ranjang, ia langsung berguling seraya memegangi kepalanya dan terus mengaduh. Sementara, gua duduk di sisi ranjang dan terus mengucap maaf.
Normalnya, di momen seperti ini, Aldina akan langsung murka dan memberi balasan yang sama atau paling tidak setimpal dimatanya. Tapi, kali ini ia hanya mampu mengaduh sambil menyembunyikan wajahnya di antara bantal diatas ranjang.
“Maap, Din.. Nggak sengaja” Gua mendekat sambil mengucap maaf.
Ia lalu mengangkat kepalanya dan menatap gua sambil pasang tampang sendu. Gua mendekat, meraih kepalanya dan mengusap bagian yang terbentur dengan perlahan.
“Bisa gegar otak nggak sih, Sal?” Tanyanya pelan.
Mendengar pertanyaannya barusan tentu membuat gua tertawa. Lalu menepuk kepalanya pelan. Aldina mengaduh dan kembali mendongak dan menatap gua; “Nanti beneran gegar otak” Gumamnya.
“Sorry ya…” Ucap gua lagi.
“Iya…” Jawabnya pelan.
Gua lantas mengambil selimut baru dari dalam lemari dan menyelubungi tubuhnya. Kemudian bersiap untuk keluar, kembali ke sofa.
“Mau kemana?” Tanya Aldina, sesaat sebelum gua keluar.
“Kedepan” Jawab gua sambil menunjuk ke arah depan.
“Disini aja” Pintanya seraya menepuk sisi ranjang di sebelahnya.
Gua berbalik dan kembali, lalu duduk di sisi ranjang tepat di sebelahnya yang tengah berbaring.
Sambil mencoba kembali memejamkan kedua matanya, Aldina lalu mulai bercerita. Cerita tentang dirinya dan tentang masa lalunya. Sementara, gua hanya duduk, sambil bersandar dan mendengarkannya dengan seksama.
Sempat terbesit niat untuk bertanya perihal Anggi kepadanya, namun sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat. Dan gua hanya membiarkannya terus bercerita hingga akhirnya, suaranya melemah lalu hilang. Gua menoleh dan mendapati ia sudah terlelap, tenggelam dalam mimpi yang mudah-mudahan ada gua disana, di dalamnya.
Gua berbaring dengan posisi miring, menghadap ke arahnya sambil bertumpu menggunakan lengan. Menatapnya yang tengah tertidur; matanya, hidungnya, dan bibirnya. Dengan ujung jari, gua menyentuh bibirnya yang tipis, merabanya perlahan. Sadar kalau, gua bisa saja berbuat lebih jauh dari ini, gua bangun dan segera keluar dari kamar.
Sebelum keluar, gua menekan saklar; mematikan lampu, kemudian kembali menyempatkan diri menatap wajahnya yang kini terpapar cahaya dari luar.
Gua tersenyum sebentar, kemudian menutup pintu dan menuju ke dapur untuk membuat kopi.
Dengan segelas kopi di tangan, gua menuju ke balkon, duduk di lantai dan mulai menyulut sebatang rokok. Sambil terus menjaga bayangan tentang wajah Aldina yang tersenyum agar nggak cepat sirna.
—
Gua terbangun saat mendengar suara gaduh dari arah kamar mandi. Dengan langkah gontai, gua mendekat ke arah kamar mandi, dimana kini pintunya tertutup rapat. Sementara dari dalam terdengar suara air yang terus mengalir dan ember yang saling berbenturan. Gua mengetuk pintu seraya memanggil namanya; “Din.. Aldina”
“Ya…” Jawabnya dari dalam kamar mandi.
“Ngapain?” Tanya gua, penasaran karena nggak pernah ada orang mandi bisa menimbulkan suara segaduh ini.
Pintu kamar mandi terbuka sedikit, kepalanya menyembul keluar; “Nyuci baju” Ucapnya sambil terkekeh kemudian kembali masuk.
“Hah!? ngapain.. Sini gua laundry ke bawah aja” Balas gua. Karena memang biasanya gua nggak mencuci baju sendiri, melainkan membawanya ke tempat jasa laundry di lantai bawah. Namun, Aldina nggak menjawab. Terdengar suara gadung berlanjut.
Gua kembali ke depan dan duduk di sofa. Nggak berselang lama, pintu kamar mandi terbuka disusul Aldina yang berlari masuk ke dalam kamar. Gua berdiri dan gantian menggunakan kamar mandi. Saat baru saja, gua beberapa detik berada di dalam kamar mandi, terdengar ketukan pada pintu dan seruan Aldina yang nggak henti-henti memanggil nama gua; “Sal.. Marshall..”
“Apaan sih?” Tanya gua.
Lalu pandangan gua teralih ke ember kecil di sudut kamar mandi. Ember yang saat gua lihat berisi pakaian dalam miliknya yang sepertinya baru saja selesai dicuci. Sadar kalau tujuannya berteriak adalah untuk mencegah gua melihat pemandangan ini, gua langsung meraih ember tersebut, membuka pintu sedikit dan mengeluarkannya tanpa bicara sepatah katapun, lalu lanjut mandi.
“Gua pinjem sweater sama kaos ya” Terdengar samar suaranya dari dalam kamar.
“Iya” Balas gua, juga sambil berteriak.
Selesai mandi, gua nggak mendapati Aldina berada di dalam kamar. Ternyata, ia tengah berdiri di balkon sambil memegangi pakaian yang sengaja ia jemur di railing balkon.
“Ngapain?” Tanya gua berlagak nggak tau.
Ia nggak menjawab, hanya terdiam sambil balas menatap gua tanpa ekspresi.
“Udah ayo gua anterin balik, emang mau nunggu sampe kering?” Tanya gua seraya menunjuk ke arah pakaian dalam yang dijemurnya.
Aldina membalas dengan anggukan kepala.
“Gua mau ke studio” Ucap gua.
“Yaudah sana..” Jawabnya.
“Terus elo?”
“Gua disini aja…”
Gua langsung mengernyitkan dahi begitu mendengar jawabannya; bingung. Ia enggan pulang, mungkin karena takut sendirian. Tapi, ia juga mau tetap disini saat gua ke studio. Padahal disini juga ia bakal sendirian.
Ingin bertanya kepadanya namun sengaja gua tahan, karena takut ia tersinggung dan malah murka. Jadi, gua membiarkan saja ia melakukan apa yang diinginkannya.
Di studio gua tentu nggak bisa fokus bekerja, mengingat ada Aldina di apartemen. ‘Apa sekarang dia masih di balkon, menunggu pakaian dalamnya kering?’ batin gua dalam hati. Setelah mengerjakan satu task, gua berdiri dan bersiap untuk kembali ke apartemen.
“Mau kemana?” Tanya Ketu, saat melihat gua menutup layar laptop dan memasukkannya ke dalam tas.
“Balik dulu sebentar…” Jawab gua.
“Nggak enak badan?” Adam dan Dinar kompak mengajukan pertanyaan.
“Iya…” Jawab gua asal, lalu pergi.
Setengah jam berikutnya, gua sudah kembali di apartemen. Sementara, Aldina masih duduk di balkon sambil memegangi pakaian dalamnya agar nggak terbang tersapu angin. Gua mendekat ke arahnya lalu bicara; “Udah kalo nggak mau balik, ganti baju. Ayo beli aja” Ucap gua.
“Beli apa?” Tanyanya.
“Itu…” Jawab gua seraya menunjuk ke arah pakaian dalam yang dipegangnya.
“Oh..” Ia lantas masuk ke dalam sambil menenteng pakaian dalamnya, menuju ke dapur dan memasukkannya ke dalam plastik. Kemudian meletakkannya di keranjang plastik berwarna hijau tempat biasa gua menyimpan baju kotor yang nanti bakal di bawa ke tukang laundry.
“Ayo..” Ajanya, seraya meraih ponsel, dompet dan kunci mobilnya.
Beberapa saat berikutnya, kami sudah berada di sebuah Mall yang lokasinya nggak begitu jauh dari apartemen. Suasana di dalam mall masih sangat sepi, bahkan beberapa toko terlihat masih berbenah; belum sepenuhnya buka karena masih terlalu pagi. Sementara, gua menunggu di salah satu kedai kopi di lobby mall, Aldina membeli pakaian ganti.
Hampir satu jam gua habiskan untuk menunggunya.
‘Kenapa beli baju satu aja lama banget sih’ Batin gua dalam hati, seraya menghabiskan sisa-sisa kopi dari gelas plastik diatas meja. Dan berencana untuk menelponnya. Namun, baru sadar kalau ponsel gua dalam kondisi mati; habis baterai. Saat gua mulai lelah menunggu, Aldina muncul di hadapan gua. Kini ia sudah mengenakan pakaian yang berbeda, sementara di tangannya terlihat beberapa paperbag yang sangat mungkin berisi pakaian-pakaian yang baru dibelinya.
“Sweater gua mana?” Tanya gua.
“Nih, di dalem” Jawabnya seraya menunjuk ke arah salah satu paperbag di tangannya.
Selesai berbelanja, saat berada di dalam mobil dalam perjalanan kembali ke apartemen. Gua kembali bertanya kepadanya; “Mau, balik apa gimana?”
Aldina nggak menjawab dengan bicara, ia hanya menunjuk ke arah bangunan tinggi tempat dimana gua tinggal. Yang memang sudah terlihat dari posisi kami saat ini.
“Yaudah, nanti gua turun di studio ya…” Ucap gua. Merasa kali ini sudah cukup lega untuk meninggalkan dirinya sendirian di apartemen.
“Iya” Jawabnya sambil tersenyum.
Melihatnya, gua jadi ikut tersenyum. Baru kali ini gua merasakan sensasi yang berbeda saat bersama dengannya. Sensasi yang terasa hangat dan nyaman.
Gua turun di depan gang yang mengarah ke studio. Sementara, Aldina langsung pergi kembali menuju ke apartemen gua. Hingga kini, gua masih belum bisa mendapat jawaban dan alasan kenapa ia enggan kembali ke tempatnya.
‘Nanti gua tanya deh’ Batin gua dalam hati, sambil terus melangkah menuju ke studio.
Karena merasa sudah nggak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, gua bisa kembali bekerja dengan tenang. Bisa fokus dan berkonsentrasi. Satu task, dua task, tiga task, berhasil gua selesaikan tanpa ada kendala sama sekali.
Sementara, Ketu lalu mendekat dengan dua cangkir kopi di tangannya.
“Ngopi?” Ucapnya.
Gua mengangguk dan berdiri lalu mengikutinya menuju ke teras depan.
Kami duduk berdua di atas kursi kayu hasil karya Adam dan Andika, yang dibuatnya dari sisa-sisa kayu tetangga yang baru saja selesai merenovasi rumah. Gua meraih sebatang rokok milik Ketu dan menyulutnya.
“Aku udah cerita belum sih?” Tanyanya.
“Cerita apa?” Gua balik bertanya.
“Ibumu kan kemarin kesini” Ucapnya.
“Hah? ngapain?” Tanya gua lagi.
“Mboh.. tanya Dinar sana. Wong ngobrol suwe karo Dinar” Ketu memberi informasi.
“Oh… Biarin aja, emang nyari Dinar kali” Jawab gua santai.
Kami berdua lalu melanjutkan obrolan. Obrolan seputar pekerjaan dan beberapa rencana kedepan tentang studio kami ini. Tentu saja sambil sesekali bercanda dan mengingat masa lalu.
Tanpa terasa, sore berganti malam. Gua lantas bersiap untuk pulang, kembali ke apartemen. Di perjalanan pulang, gua sengaja mampir ke rumah makan padang; membeli dua porsi makanan untuk kami berdua. Sambil menenteng plastik berisi dua porsi nasi padang, gua melangkah riang, bahkan sampai bersiul-siul. Merasa senang karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang menunggu gua di rumah.
Setibanya di apartemen, gua langsung naik dengan menggunakan lift. Sampai di momen ini, gua masih merasa baik-baik saja, hingga saat gua membuka pintu apartemen dan mendapati sepasang sepatu perempuan di balik pintu.
Gua masuk ke dalam dan terlihat Aldina tengah duduk di sofa bersama dengan; Nyokap!
—
Quote:
Ingatan gua lalu mundur ke beberapa saat yang lalu. Momen dimana Gua ngobrol dengan Dinar saat baru saja tiba dari mengantar Aldina membeli pakaian di Mall. Dimana Dinar sempat bicara tentang nyokap. “Tadi pas Kak Marshall balik, Mamah telepon..”
“Terus?”
“Nanyain Kak Marshall” Jawab Dinar.
“Lah, kenapa nggak telpon gua?” Tanya gua, yang lantas direspon Dinar dengan mengangkat kedua bahunya.
“...”
“... Terus lo bilang apa?” Tanya gua lagi.
“Ya bilang kalo Kak Marshall pulang, karena nggak enak badan..” Jawab Dinar santai.
“Oh…”
—
“Terus?”
“Nanyain Kak Marshall” Jawab Dinar.
“Lah, kenapa nggak telpon gua?” Tanya gua, yang lantas direspon Dinar dengan mengangkat kedua bahunya.
“...”
“... Terus lo bilang apa?” Tanya gua lagi.
“Ya bilang kalo Kak Marshall pulang, karena nggak enak badan..” Jawab Dinar santai.
“Oh…”
—
Kiss - Reason To Live
Herisyahrian dan 52 lainnya memberi reputasi
53
Kutip
Balas
Tutup