- Beranda
- Stories from the Heart
Jelaga - Sehitam yang Rasanya Tidak Biasa
...
TS
robotpintar
Jelaga - Sehitam yang Rasanya Tidak Biasa

Bahkan Putih Pun Sudah Seperti Jelaga
"Marsal!"Petugas memanggil namaku asal-asalan.
Gua berdiri dan mendekat ke arah petugas sipir yang menatap ke arah lembaran kertas di atas meja kerjanya. Dengan kacamata baca yang turun hingga ke hidungnya, ia menatapku, lalu tersenyum.
"Tanda tangan" Ucapnya seraya menyerahkan lembaran kertas dari tangannya dan sebuah pulpen.
Gua meraih pulpen itu dan membubuhkan tanda tangan pada bagian bawah lembaran kertas, kemudian mengembalikannya ke petugas tadi.
Ia menerima kertas tersebut, memasukkannya ke dalam sebuah map berwarna hijau dan menumpuknya dengan map-map lain yang memiliki warna yang sama. Dengan gerakan yang lambat dan ogah-ogahan, petugas itu menarik laci, mengeluarkan map plastik transaparan yang di dalamnya terlihat beberapa lembar kertas.
"Nih..." Ucapnya seraya menggeser map transparan tersebut ke arah gua.
"Ada yang jemput, Sal? Nggak ada ya?" Tanya si petugas sambil mencari-cari sesuatu dari laci meja kerjanya.
Belum sempat gua menjawab pertanyaannya, ia lalu menyodorkan sebuah kartu nama. Gua meraih kartu nama tersebut, kartu nama berbahan kertas Ivory yang terlihat murahan. Gua mengernyitkan dahi dan mulai membaca tulisan pada kartu tersebut.
'Jaya Teknik' Gua membaca tulisan paling besar pada kartu tersebut, disusul informasi nomor telepon dan alamat di bagian bawahnya.
"Kang Jaya?" Tanya gua ke petugas itu.
"Iya. Kamu kesana aja, biasanya anak-anak yang baru 'keluar' diajak kerja sama dia" Tambah si petugas sambil tetap menatap ke arah gua.
"Oh..." Gua memberi respon singkat.
Petugas itu berdiri, mengulurkan tangannya. Gua menyambut dan menjabat tangannya.
"Hati-hati ya, Sal. Pokoknya jangan sampe kamu balik kesini lagi" Ucapnya, masih sambil menjabat tangan gua.
"Iya Pak Didi" Jawabku, kemudian bersiap pergi.
Sementara aku pergi, terdengar Pak Didi kembali memanggil nama lain. Seorang petugas menghampiri, membimbing gua melewati lorong berliku yang berpagar tinggi. Hingga akhirnya, kami tiba di sebuah pintu besi berukuran besar. Petugas itu, menekan tombol pada sisi pintu, menimbulkan bunyi meraung keras disusul suara 'cklek' dan pintu otomatis terbuka.
Petugas itu membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan gua untuk keluar.
---
Spoiler for Prolog:
Sebuah ruangan dengan atap tinggi, tanpa dinding dan riuh rendah dari para pengunjung yang tengah mengantri untuk membesuk keluarganya ditambah kerasnya pengumuman dari pelantang suara di ruang semi terbuka itu menyambut gua.
Beberapa mata langsung tertuju ke arah gua. Mungkin aneh melihat ada yang keluar dari pintu besar berukuran tebal itu. Dengan mengabaikan pandangan orang-orang, gua terus melangkah, menuju ke halaman gedung.
Dengan sebuah plastik berwarna merah berisi pakaian seadanya, dan map transparan yang diberikan oleh Pak Didi tadi, gua melangkahkan kaki keluar dari area bangunan itu, untuk pertama kalinya dalam 8 tahun.
Gua menyusuri jalan kecil yang mengubungkan bangunan ini dengan jalan utama yang berada di ujung sana. Sepanjang jalan terdapat beberapa tempat makan sederhana dan warung-warung kopi yang mungkin menjadi tempat para petugas makan dan beristirahat.
Di ujung jalan, terlihat sebuah gapura besar yang terbuat dari batang-batang besi. Pada bagian atasnya nampak motto; "Pasti Baik" dengan tulisan 'Lembaga Pemasyarakatan' di bagian bawahnya. Beberapa tukang ojek pangkalan langsung bersiul begitu melihat kehadiran gua, mencoba menawarkan jasanya.
Gua mengangkat tangan sambil menggeleng, memberi kode dengan cara sesantun mungkin untuk menolak tawaran mereka. Entah mungkin karena nggak ngerti kode yang gue berikan atau memang gigih, mereka tetap menawarkan jasanya. Malah kali ini lebih brutal, mereka menyalakan mesin motor dan langsung mengendarainya mendekat ke arah gua; "Ayok ojek Mas".
"Nggak mas, makasih"Gua menjawab, sambil kembali mengangkat tangan, kemudian melanjutkan langkah.
Akhirnya karena terus dipaksa, gua naik ke boncengan si abang tukang ojek itu. 'Ya emang rejeki dari kegigihannya' Gua membatin dalam hati.
"Kemana?" Tanyanya.
"Terminal" Gua menjawab singkat.
"Siap" Ia langsung memacu sepeda motornya.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya si tukang ojek ini mengajak gua bicara. "Abis besuk siapa? sodara? temen?" Tanyanya.
"Nggak, bukan" Gua menjawab singkat.
"Lah terus ngapain ke lapas?" Tanyanya lagi.
"Gua baru keluar"
"Hah?" Dari nada suaranya terdengar si tukang ojek ini sedikit terkejut. Nggak hanya nada suaranya yang terdengar kaget. Begitu mendengar jawaban gua barusan, sontak ia juga langsung melambatkan laju sepeda motornya.
"Situ Napi?" Tanyanya lagi.
"Bekas" Gua mengoreksi pertanyaanya barusan.
Sejak saat itu, si tukang ojek nggak pernah lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain. Ia hanya diam dan fokus pada jalanan.
"Ngojek deket lapas, emang nggak pernah bawa penumpang bekas napi?" Tanya gua memecah keheningan.
Si Tukang ojek menggelengkan kepala.
"Biasanya mah, yang keluar dari lapas di jemput sama keluarganya. Langganan ojek saya kebanyakan orang yang besuk" Si Tukang ojek berusaha menjelaskan.
"Oh... Pantesan"
Nggak berselang lama, kami akhirnya tiba di terminal bus. Gua turun dari goncengan sepeda motor, mengeluarkan plastik berisi gulungan uang dari saku celana jeans, bersiap untuk membayar. Namun, Si Tukang ojek sudah keburu memutar sepeda motornya dan bersiap untuk pergi.
"Eh, tunggu mas, mau kemana?" Tanya gua, berusaha memegang tangannya mencegah agar dia nggak pergi. Namun, dengan sigap ia menepisnya lalu kabur dengan kecepatan penuh.
Melihat kejadian tersebut tentu membuat gua geleng-geleng kepala, bagaimana tidak. Si Tukang ojek barusan merupakan gambaran umum dari masyarakat Indonesia. Yang punya ketakutan sebesar gunung terhadap para bekas narapidana. Atau jika terlalu 'kasar' menyebut kami sebagai bekas narapidana, mungkin bekas masyarakat binaan bisa menjadi kata ganti yang tepat.
Gua duduk di kursi bis menuju ke Jakarta. Sementara, satu persatu penumpang naik dan duduk dikursi kosong secara acak, mengabaikan nomor yang tertera pada karcis dan kursi. Riuh pedagang asongan yang bolak-balik di lorong antara kursi menjajakan dagangannya dan suara sumbang pengamen dibagian depan bus, membuat rasa kantuk yang sejak tadi hinggap kini hilang.
Cukup lama kami, para penumpang dibiarkan menunggu. Jadi, si supir bus hanya akan jalan jika semua kursi sudah terisi. Kalau masih ada yang kosong, sampai kiamat pun, bus nggak bakalan berangkat. Setelah beberapa saat, hampir semua kursi penuh, bahkan ada sebagian penumpang yang duduk di lorong antar kursi dengan menggunakan kursi plastik.
Raung mesih bus terdengar. Kami lalu perlahan melaju, meninggalkan terminal, menuju ke Jakarta.
---
Masih dengan pakaian yang sama, sambil menggenggam plastik merah, gua berdiri tepat di depan sebuah bengkel las dengan papan nama besar di bagian atas yang bertuliskan 'Jaya Teknik'.
"Sal, Marshall" Terdengar teriakan seorang pria yang samar dengan suara dentingan besi.
Gua menoleh dan mendapati Kang Jaya berdiri, melambaikan tangannya ke arah gua.
Menit berikutnya, kami berdua sudah terlibat obrolan seru di sebuah ruangan yang digunakan Kang Jaya sebagai 'kantor'nya. Di sela-sela obrolang, gua pun menyampaikan niat kedatangan gua kepadanya.
"Kang, bisa ajak gua kerja nggak?" Tanya gua.
Kang Jaya terdiam sesaat, lalu menatap ke arah gua.
"Kamu disana emang belajar nge-las?" Tanyanya.
Gua meresponnya dengan gelengan kepala.
"Terus ngambil sertifikasi apa?" Tanyanya lagi.
Gua lantas memberikan map transparan dari Pak Didi kepadanya. Ia lalu menyeka tangannya dengan ujung kaos dan dengan hati-hati mengeluarkan lembaran kertas dari Map transparan yang berisi sertifikat life skill yang gua pelajari sewatku di Lapas.
"Barista" Gumamnya, sambil menatap gua.
"Iya kang"
"Barista mau jadi tukang las?" Tanyanya.
"Gua mau belajar dulu kok, bantu angkat-angkat besi, ngapain kek..." Jawab gua, dengan nada memohon.
Kang Jaya menghela nafas panjang, kemudian meraih ponselnya dari atas meja.
"Saya ada temen yang baru aja ngambil alih kedai kopi, Siapa tau masih butuh barista. Mau?" Tanyanya.
Gua langsung mengangguk. "Mau!"
Kang Jaya lalu tersenyum dan mulai melakukan panggilan melalui ponselnya.
Beberapa mata langsung tertuju ke arah gua. Mungkin aneh melihat ada yang keluar dari pintu besar berukuran tebal itu. Dengan mengabaikan pandangan orang-orang, gua terus melangkah, menuju ke halaman gedung.
Dengan sebuah plastik berwarna merah berisi pakaian seadanya, dan map transparan yang diberikan oleh Pak Didi tadi, gua melangkahkan kaki keluar dari area bangunan itu, untuk pertama kalinya dalam 8 tahun.
Gua menyusuri jalan kecil yang mengubungkan bangunan ini dengan jalan utama yang berada di ujung sana. Sepanjang jalan terdapat beberapa tempat makan sederhana dan warung-warung kopi yang mungkin menjadi tempat para petugas makan dan beristirahat.
Di ujung jalan, terlihat sebuah gapura besar yang terbuat dari batang-batang besi. Pada bagian atasnya nampak motto; "Pasti Baik" dengan tulisan 'Lembaga Pemasyarakatan' di bagian bawahnya. Beberapa tukang ojek pangkalan langsung bersiul begitu melihat kehadiran gua, mencoba menawarkan jasanya.
Gua mengangkat tangan sambil menggeleng, memberi kode dengan cara sesantun mungkin untuk menolak tawaran mereka. Entah mungkin karena nggak ngerti kode yang gue berikan atau memang gigih, mereka tetap menawarkan jasanya. Malah kali ini lebih brutal, mereka menyalakan mesin motor dan langsung mengendarainya mendekat ke arah gua; "Ayok ojek Mas".
"Nggak mas, makasih"Gua menjawab, sambil kembali mengangkat tangan, kemudian melanjutkan langkah.
Akhirnya karena terus dipaksa, gua naik ke boncengan si abang tukang ojek itu. 'Ya emang rejeki dari kegigihannya' Gua membatin dalam hati.
"Kemana?" Tanyanya.
"Terminal" Gua menjawab singkat.
"Siap" Ia langsung memacu sepeda motornya.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya si tukang ojek ini mengajak gua bicara. "Abis besuk siapa? sodara? temen?" Tanyanya.
"Nggak, bukan" Gua menjawab singkat.
"Lah terus ngapain ke lapas?" Tanyanya lagi.
"Gua baru keluar"
"Hah?" Dari nada suaranya terdengar si tukang ojek ini sedikit terkejut. Nggak hanya nada suaranya yang terdengar kaget. Begitu mendengar jawaban gua barusan, sontak ia juga langsung melambatkan laju sepeda motornya.
"Situ Napi?" Tanyanya lagi.
"Bekas" Gua mengoreksi pertanyaanya barusan.
Sejak saat itu, si tukang ojek nggak pernah lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain. Ia hanya diam dan fokus pada jalanan.
"Ngojek deket lapas, emang nggak pernah bawa penumpang bekas napi?" Tanya gua memecah keheningan.
Si Tukang ojek menggelengkan kepala.
"Biasanya mah, yang keluar dari lapas di jemput sama keluarganya. Langganan ojek saya kebanyakan orang yang besuk" Si Tukang ojek berusaha menjelaskan.
"Oh... Pantesan"
Nggak berselang lama, kami akhirnya tiba di terminal bus. Gua turun dari goncengan sepeda motor, mengeluarkan plastik berisi gulungan uang dari saku celana jeans, bersiap untuk membayar. Namun, Si Tukang ojek sudah keburu memutar sepeda motornya dan bersiap untuk pergi.
"Eh, tunggu mas, mau kemana?" Tanya gua, berusaha memegang tangannya mencegah agar dia nggak pergi. Namun, dengan sigap ia menepisnya lalu kabur dengan kecepatan penuh.
Melihat kejadian tersebut tentu membuat gua geleng-geleng kepala, bagaimana tidak. Si Tukang ojek barusan merupakan gambaran umum dari masyarakat Indonesia. Yang punya ketakutan sebesar gunung terhadap para bekas narapidana. Atau jika terlalu 'kasar' menyebut kami sebagai bekas narapidana, mungkin bekas masyarakat binaan bisa menjadi kata ganti yang tepat.
Gua duduk di kursi bis menuju ke Jakarta. Sementara, satu persatu penumpang naik dan duduk dikursi kosong secara acak, mengabaikan nomor yang tertera pada karcis dan kursi. Riuh pedagang asongan yang bolak-balik di lorong antara kursi menjajakan dagangannya dan suara sumbang pengamen dibagian depan bus, membuat rasa kantuk yang sejak tadi hinggap kini hilang.
Cukup lama kami, para penumpang dibiarkan menunggu. Jadi, si supir bus hanya akan jalan jika semua kursi sudah terisi. Kalau masih ada yang kosong, sampai kiamat pun, bus nggak bakalan berangkat. Setelah beberapa saat, hampir semua kursi penuh, bahkan ada sebagian penumpang yang duduk di lorong antar kursi dengan menggunakan kursi plastik.
Raung mesih bus terdengar. Kami lalu perlahan melaju, meninggalkan terminal, menuju ke Jakarta.
---
Masih dengan pakaian yang sama, sambil menggenggam plastik merah, gua berdiri tepat di depan sebuah bengkel las dengan papan nama besar di bagian atas yang bertuliskan 'Jaya Teknik'.
"Sal, Marshall" Terdengar teriakan seorang pria yang samar dengan suara dentingan besi.
Gua menoleh dan mendapati Kang Jaya berdiri, melambaikan tangannya ke arah gua.
Menit berikutnya, kami berdua sudah terlibat obrolan seru di sebuah ruangan yang digunakan Kang Jaya sebagai 'kantor'nya. Di sela-sela obrolang, gua pun menyampaikan niat kedatangan gua kepadanya.
"Kang, bisa ajak gua kerja nggak?" Tanya gua.
Kang Jaya terdiam sesaat, lalu menatap ke arah gua.
"Kamu disana emang belajar nge-las?" Tanyanya.
Gua meresponnya dengan gelengan kepala.
"Terus ngambil sertifikasi apa?" Tanyanya lagi.
Gua lantas memberikan map transparan dari Pak Didi kepadanya. Ia lalu menyeka tangannya dengan ujung kaos dan dengan hati-hati mengeluarkan lembaran kertas dari Map transparan yang berisi sertifikat life skill yang gua pelajari sewatku di Lapas.
"Barista" Gumamnya, sambil menatap gua.
"Iya kang"
"Barista mau jadi tukang las?" Tanyanya.
"Gua mau belajar dulu kok, bantu angkat-angkat besi, ngapain kek..." Jawab gua, dengan nada memohon.
Kang Jaya menghela nafas panjang, kemudian meraih ponselnya dari atas meja.
"Saya ada temen yang baru aja ngambil alih kedai kopi, Siapa tau masih butuh barista. Mau?" Tanyanya.
Gua langsung mengangguk. "Mau!"
Kang Jaya lalu tersenyum dan mulai melakukan panggilan melalui ponselnya.
Diubah oleh robotpintar 10-06-2024 21:29
teguhjepang9932 dan 218 lainnya memberi reputasi
219
411.7K
Kutip
4.6K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#2037
Part 79 - Medium yang Mewaktu
Spoiler for Part 79 - Medium yang Mewaktu:
Gua yang sejak tadi nggak begitu peduli dengan film termasuk jalan cerita beserta aktor-aktornya, kini merasa terlalu nyaman bersandar di bahu Marshall, lalu tanpa sadar gua pun jatuh tertidur.
Sorot lampu yang menyilaukan mata membuat gua terbangun. Kondisi studio sudah terang benderang, layar bioskop kini menampilkan credit scene yang bergerak cepat, sementara beberapa penonton terlihat tengah menuruni anak tangga untuk keluar. Beberapa diantara mereka menoleh ke arah gua, mungkin merasa aneh melihat ada orang yang tertidur hingga film usai. Gua mendongak dan mendapati Marshall hanya duduk dalam diam; nggak beranjak sedikitpun.
Gua bergeser, dan langsung melayangkan pukulan ke arah Marshall; “Kok nggak bangunin?” Ucap gua seraya berbisik.
“Udah. Lo-nya aja tidur kayak orang mati” Jawabnya, sambil berdiri dan menyeka rempahan popcorn dari pakaiannya. Sementara, gua langsung bergegas keluar tanpa menunggu dirinya; menuju ke kamar mandi untuk mengecek apakah ada kotoran di ujung mata.
Setelah memastikan wajah baik-baik saja, gua segera keluar dan menuju ke lobby. Marshall berdiri tepat di depan pintu masuk bioskop, di sebelah standing ashtray; merokok.
“Makan” Seru gua sambil memperagakan gerakan menyuap ke mulut.
Ia lalu mengangguk, kemudian menyodorkan tangannya ke arah gua; mengajak bergandengan. Gua lantas dengan cepat menepisnya. Kali ini gua benar-benar menolaknya; merasa belum siap bergandengan tangan tanpa komitmen di khalayak ramai.
Marshall nggak terlihat kecewa, ia malah tersenyum seakan meledek gua. Kemudian berbisik pelan; “Sok jual mahal”.
Mendengar ucapannya barusan gua langsung mengangkat kaki dan menginjak ujung sepatunya sekuat tenaga. Nggak sadar kalau saat ini gua tengah mengenakan sepatu dengan sol yang tebal dan keras.
“Aww….” Serunya.
Gua mengabaikan rasa sakitnya, sambil berlalu. Dari ujung mata, terlihat ia mencoba menyusul gua sambil jalan terpincang-pincang.
“Mau makan apa?” Tanyanya dari arah belakang.
“Tempat lo makan waktu gua telpon malam-malam” Jawab gua.
“Yah, disana susah parkirnya” Gua memberi alasan.
Gua berbalik dan menatapnya tajam; “Coba aja dulu, siapa tau dapet tempat parkir kalo datang lebih cepet”
Nggak berselang lama, kami sudah berada di jalan raya Cisauk. Marshall yang berada di balik kemudi tengah sibuk celingak-celinguk mencari tempat parkir. Sesekali ia menggumam pelan; “Lagian mobil gede banget”
Gua lantas membalasnya; “Lagian, orang dagang nggak nyediain tempat parkir”
“Lah, orang cuma pecel ayam tenda. Lo berharap dia nyedian parkir segede apa emangnya?” Balasnya, nggak mau kalah.
Akhirnya setelah beberapa kali memutar, Marshall berhasil memarkirkan mobil tepat di depan pintu toko bahan bangunan yang sudah tutup. Lokasi yang posisinya berseberangan dengan tenda pecel ayam yang akan kami sambangi.
“Tunggu…” Serunya, saat melihat gua langsung turun dari mobil dan bersiap menyeberang jalan. Ia lalu berlari, memutari mobil dan mendekat ke gua.
Dengan cepat, ia meraih tangan gua lalu mulai menggenggamnya.
“Jangan protes” Bisiknya, begitu melihat gelagat gua yang hendak melepas genggaman tangannya.
Gua terdiam dan membiarkan ia menggenggam tangan. Kami lalu menyebrangi jalan menuju ke tenda penjual pecel ayam. Marshall langsung melepas genggaman begitu kami tiba. Namun, di dalam tenda terlihat kondisi yang ramai. Semua kursi plastik yang tersedia sudah penuh terisi.
“Yaah…” Gua mengeluh.
Marshall menoleh ke arah gua dan bicara; “Bungkus aja mau?” Tanyanya.
“Terus makan dimana?” Gua balik bertanya.
“Di mobil” Jawabnya seraya menunjuk ke arah mobil yang terparkir. Gua menoleh, mengikuti kemana arah yang ia tunjuk, kemudian mengangguk; setuju.
Marshall mendekat ke meja dengan potongan ayam, tempe dan tahu berjajar di dalam sebuah etalase yang mirip akuarium. Lalu mulai memesan.
Sementara, gua hanya berdiri sambil melipat tangan di dada. Sesekali memainkan kaki, karena merasa pegal.
“Capek?” Tanyanya.
“Menurut lo?” Gua balik bertanya.
“Sabar!” Serunya, tepat di wajah gua.
Gua nggak menjawab, hanya terdiam.
Lama kami menunggu karena sepertinya cukup banyak antrian sebelum kami. Apalagi ditambah, tempat ini juga melayani pembelian melalui ojek online, yang jadi bikin pesanan kami semakin lama di proses.
“Itu kok dia duluan sih, Sal” Bisik gua ke Marshall saat melihat ada orang yang datang setelah kami namun sudah mendapatkan pesanannya.
Marshall lalu mendekat ke si abang penjual dan bertanya. “Punya gua belum bang? Itu kok mas itu baru dateng udah selesai?”
“Oh, iya. Dia mah udah dari tadi mas. Tapi, ditinggal dulu. Sabar ya” Jawab si abang penjual.
Mendengar penjelasan si abang penjual, gua jadi semakin hilang kesabaran. Saat di tengah antrian, kami para pembeli nggak butuh kata penghiburan seperti; ‘sabar’, ‘sebentar lagi’ dan lainnya. Kami hanya butuh diperlihatkan gerakan penjual yang ‘sat-set’, cepat melayani.
“Sana tanyain lagi, udah belum” Pinta gua ke Marshall, nggak begitu lama setelahnya.
“Yee, belum ada dua menit” Balasnya.
Setelah hampir 10 menit berikutnya, pesanan kami akhirnya selesai. Kami kembali dan masuk ke mobil, bersiap untuk makan. Barulah kami berdua sadari, kalau makan pecel ayam di dalam mobil adalah hal yang hampir nggak mungkin. Pertama, pecel ayam itu banyak condiment-nya;, ada beberapa jenis lalapan, tempe dan tahu goreng dan tentu saja sambalnya.
“Pinjem piring gih sana” Pinta gua ke Marshall, yang langsung di responnya dengan gelengan kepala.
“Ogah ah” Balasnya.
“Ini gimana makannya?” Tanya gua, seraya menatap ke arah bungkusan pecel ayam di dalam plastik.
“...”
“... Terus cuci tangannya dimana?” Tanya gua lagi.
“...”
“... Udah ayo ke tempat lo aja” Pinta gua, karena merasa nggak bakal menemukan cara untuk makan pecel ayam di dalam mobil.
Marshall nggak membantah, ia menyalakan mesin dan mulai melajukan mobil perlahan. Nggak sampai 5 menit, kami akhirnya tiba di sebuah gedung apartemen ‘murah’ yang lokasinya nggak begitu jauh dari stasiun Cisauk. Dan tambahan 10 menit lagi hingga akhirnya kami tiba di tempat dimana Marshall tinggal.
Ia membuka pintu lebar-lebar, membiarkan gua masuk terlebih dahulu. Gua masuk dan mendapati kamar apartemen yang jauh lebih kecil dari tempat gua tinggal. Marshall menyusul masuk dan langsung duduk di sofa yang penuh dengan bantal juga selimut.
“Siapa yang tidur disini?” Tanya gua sambil menunjuk sofa tempatnya duduk.
“Gua” Jawab Marshall santai, seraya mulai membuka bungkusan pecel ayam dan memindahkannya ke atas meja. Ia lalu berdiri, mengambil piring di dapur lalu kembali. Sementara gua masih menatap sekeliling. ‘Jadi ini tempat dimana ia biasa merindukan gua’ batin gua dalam hati.
Kami lalu menikmati porsi pecel ayam dalam diam.
Selesai makan, Marshall langsung mencuci perlengkapan makan dan menyimpannya di rak. Sepertinya ia memang terbiasa rapi dan bersih, terlihat dari tempat tinggalnya yang sama sekali tanpa cela, tak ada sampah bahkan semua sisa puntung rokok berada di tempatnya; di sebuah asbak berukuran besar dengan ukiran gajah sebagai penyangganya. Ya kecuali, tumpukan bantal dan selimut yang berada di sofa.
“Mau kopi?” Tanyanya dari arah dapur.
“Mau” Gua menjawab singkat.
“...”
“... Tapi, kalo kopi sachet ogah” Gua menambahkan.
Seakan ingin menggoda gua. Marshall kembali dengan membawa dua cangkir kosong, dan dua sachet kopi kemasan berwarna coklat. Ia menuang isi sachet ke dalam cangkir tepat di hadapan gua, kemudian mengisinya dengan air panas dari dispenser.
“Nih…” Ucapnya seraya memberikan cangkir berisi kopi instan. Gua nggak langsung menyambut pemberiannya, hanya menatapnya.
“Gua tadi bilang apa?” Tanya gua, seraya mengernyitkan dahi.
Marshall nggak menjawab, ia meraih tangan dan memaksa gua untuk memegang cangkir berisi kopi darinya.
“Bawel banget dah lo” Gumamnya.
Ia lalu menyeduh kopi miliknya. Sambil membawa cangkir, ia membuka jendela besar yang mengarah ke balkon. Angin malam yang dingin langsung masuk dan membelai rambut gua, disertai suara gemuruh samar dari mesin dan klakson kendaraan yang berada jauh di bawah.
Marshall duduk di lantai balkon, meletakkan cangkir kopi di atas outdoor AC dan mulai menyulut sebatang rokok. Sementara, gua masih duduk di sofa dengan tangan menggenggam cangkir kopi dan memandangi punggungnya.
Gua meletakkan cangkir di atas meja, lalu berdiri.
“Boleh numpang ke kamar mandi?” Tanya gua. Yang lalu di responnya dengan anggukan kepala.
Di dalam kamar mandi gua hanya berdiri sambil menatap pantulan diri sendiri melalui cermin. Mencoba melepaskan semua keangkuhan, rasa takut dan egoisme. ‘Hhh…’ gua menghela nafas dalam-dalam dan mulai membasuh wajah. Kemudian dengan perlahan menyeka sisa makeup dengan tissu dan mengeringkannya.
Saat kembali, Marshall masih terlihat duduk di lantai balkon. Sesekali ia menyeruput kopi, lalu menghisap rokoknya dalam-dalam, kemudian memainkan asapnya yang langsung terhempas; hilang. Gua mengambil cangkir berisi kopi dari atas meja, lalu mendekat, menggeser pintu kaca dan duduk tepat di belakangnya. Jadi, gua duduk di lantai, di area bagian dalam, sementara ia duduk di lantai di area balkon.
Menyadari kehadiran gua, ia menoleh. Kemudian merubah posisi duduknya agar nggak membelakangi gua. Kini, ia bersandar pada dinding sambil terus merokok tanpa menatap ke arah gua.
Sesekali gua menyeruput kopi yang sudah nggak lagi hangat.
“Enak?” Tanyanya.
Gua mengangguk pelan.
“...Tuh kan, nggak cuma kopi ‘beneran’ yang enak” Ia menambahkan.
Pun kali ini gua setuju, gua tetap punya bantahan untuk hal ini. Kedua jenis kopi punya keunggulan masih-masing. Kopi instan, lebih cepat dan praktis; nggak ribet. Sementara, kopi ‘beneran’ punya rasa yang lebih kuat dan bisa disesuaikan selera. Tapi, gua enggan membantah; sudah terlanjur ‘melepaskan’ keangkuhan.
Lalu tiba-tiba, Marshall kembali mengajukan pertanyaan; “Lo kenapa segitu nggak sukanya nonton di bioskop, sampe ketiduran?”
“Film itu medium yang mewaktu,...” Belum sempat gua menyelesaikan kalimat, Marshall memotong ucapan gua.
“Ah, here we go again…” Potongnya.
Gua dengan cepat mencubit lengannya, nggak ingin kalimat gua dipotong sebelum selesai.
“..Film itu medium yang mewaktu, film butuh perhatian, butuh komitmen. Film ngga bisa diulang, nggak bisa di pause apalagi di skip… sama kayak sebuah hubungan”. Ucap gua.
“...”
“... Iya kan?” Gua menambahkan, mencoba meminta pendapatnya akan opini gua barusan. Marshall terdiam sesaat, ia menghisap rokok, menghembuskan asapnya kemudian mengangguk pelan.
“Tapi, film nggak bisa memberi lo respon” Tiba-tiba ia menjawab.
“...”
“... Saat lo nonton film dan pergi ke toilet. Film akan terus berlanjut tanpa elo. Tapi, dalam sebuah hubungan, saat lo pergi untuk rehat sejenak, pasangan lo mungkin akan menunggu lo.” Tambahnya.
“Kalau dia nggak mau menunggu?” Tanya gua.
“Berarti dia nggak cukup mencintai lo” Jawabnya singkat.
Kami lalu terdiam sebentar. Kemudian, Marshall kembali buka suara; “Kenapa? Lo takut berkomitmen?” Tanyanya.
Gua menggeleng pelan. “Bukan, bukan itu yang gua takutkan” Jawab gua lirih, sambil menundukkan kepala.
“Terus apa?”
Gua menghela nafas dalam-dalam sebelum memberi jawaban. “Bayangkan lo ada di posisi gua. Perempuan seusia gua yang sudah pernah menikah dan gagal”.
“...”
“... Lalu mencoba menjalin hubungan. Tentu gua takut gagal” Gua menambahkan.
“...”
“... Dan lo tau nggak kenapa gua pisah sama Jeje?” Tanya gua ke Marshall yang lalu direspon nya dengan gelengan kepala.
“...”
“... Karena gua pernah pergi meninggalkan mereka. Meninggalkan Jeje dan Anggi yang waktu itu usianya baru beberapa bulan” Gua menambahkan. Sementara, kedua sudut mata gua mulai basah.
“...”
“... Lo mau tau alasannya kenapa gua pergi meninggalkan mereka?” Tanya gua ke Marshall seraya sesekali menyeka ujung mata.
Marshall dengan cepat menggeleng, lalu menutup mulut gua dengan tangannya saat gua sudah bersiap untuk bercerita. “Gua nggak mau dan nggak perlu tau…” Ucapnya singkat.
Kami lalu kembali tenggelam dalam diam.
Sesaat berikutnya, gua kembali angkat bicara; “Sekarang ini, gua lebih takut kembali melukai seseorang, ketimbang merasa terluka.”
“...”
Gua lantas mendongak dan menatapnya, kemudian bicara; “...Gua rindu, lo rindu, tapi gua takut”
“...”
“... takut, nantinya saat hubungan ini berlanjut, gua takut nanti melukai lo, takut nanti lo kehilangan”
“...”
“... tapi, di satu sisi. Gua juga punya ketakutan yang luar biasa kalau nggak bisa ketemu lagi sama lo, nggak bisa bareng-bareng sama lo” Gua menambahkan.
Nggak gua sangka, Marshall malah merespon semua ucapan-ucapan gua dengan tertawa. Gua tentu langsung menyipitkan mata dan menatapnya heran. ‘Kok, bisa-bisanya di momen yang serius seperti ini ia tertawa’ batin gua dalam hati.
Setelah puas tertawa, ia menatap gua dan bicara; “Kita sama-sama punya ketakutan. Tapi, bedanya ketakutan gua adalah kalau perasaan ini salah. Gua takut, takut kalau jangan-jangan gua nggak sayang sama lo. Gua takut kalau perasaan ini tuh palsu…”
“Terus? Gimana perasaan lo?” Tanya gua penasaran. Saking penasarannya, gua sampai menggeser duduk hingga mendekat ke arahnya.
“Kayaknya sama dengan lo” Jawabnya.
Mendengar jawaban darinya, sudut terjauh hati ini langsung berteriak. Gua bahkan nggak kuasa menahan senyum.
“Terus gimana nih? Tanya gua.
“Lah katanya lo takut melukai gua?” Ia balik bertanya.
“Terus?” Tanya gua lagi.
“Yaudah gini-gini aja, berhubungan tanpa berkomitmen” Jawabnya.
“...”
“... Kalau nggak ingin merasakan kehilangan, jangan memiliki” Marshall menambahkan, dengan suara yang super lirih, seperti menggumam.
Gua terdiam sesaat, sambil menundukan kepala. Iya, gua memang takut menjalin hubungan, takut melukai. Tapi, sekarang, bukan hal ini yang mau gua dengar. Gua mau ia memaksa. Mengajak gua berkomitmen, memaksa gua untuk melanggar batasan yang sudah gua buat sendiri.
Tanpa bicara lagi, gua mendengus kesal, meletakkan cangkir kopi di lantai, kemudian berdiri, meraih tas dan bersiap untuk pergi. Sementara, Marshall sama sekali nggak mencegah gua pergi, ia hanya duduk dalam diam sambil terus merokok. Ia bahkan nggak menoleh ke arah gua.
Dengan perasaan jengkel, gua berjalan cepat di area basement parkiran gedung apartemen Marshall, menuju ke tempat dimana mobil gua terparkir. Begitu sudah di dalam mobil, gua langsung menjatuhkan kepala di kemudi, kalut.
—
Sorot lampu yang menyilaukan mata membuat gua terbangun. Kondisi studio sudah terang benderang, layar bioskop kini menampilkan credit scene yang bergerak cepat, sementara beberapa penonton terlihat tengah menuruni anak tangga untuk keluar. Beberapa diantara mereka menoleh ke arah gua, mungkin merasa aneh melihat ada orang yang tertidur hingga film usai. Gua mendongak dan mendapati Marshall hanya duduk dalam diam; nggak beranjak sedikitpun.
Gua bergeser, dan langsung melayangkan pukulan ke arah Marshall; “Kok nggak bangunin?” Ucap gua seraya berbisik.
“Udah. Lo-nya aja tidur kayak orang mati” Jawabnya, sambil berdiri dan menyeka rempahan popcorn dari pakaiannya. Sementara, gua langsung bergegas keluar tanpa menunggu dirinya; menuju ke kamar mandi untuk mengecek apakah ada kotoran di ujung mata.
Setelah memastikan wajah baik-baik saja, gua segera keluar dan menuju ke lobby. Marshall berdiri tepat di depan pintu masuk bioskop, di sebelah standing ashtray; merokok.
“Makan” Seru gua sambil memperagakan gerakan menyuap ke mulut.
Ia lalu mengangguk, kemudian menyodorkan tangannya ke arah gua; mengajak bergandengan. Gua lantas dengan cepat menepisnya. Kali ini gua benar-benar menolaknya; merasa belum siap bergandengan tangan tanpa komitmen di khalayak ramai.
Marshall nggak terlihat kecewa, ia malah tersenyum seakan meledek gua. Kemudian berbisik pelan; “Sok jual mahal”.
Mendengar ucapannya barusan gua langsung mengangkat kaki dan menginjak ujung sepatunya sekuat tenaga. Nggak sadar kalau saat ini gua tengah mengenakan sepatu dengan sol yang tebal dan keras.
“Aww….” Serunya.
Gua mengabaikan rasa sakitnya, sambil berlalu. Dari ujung mata, terlihat ia mencoba menyusul gua sambil jalan terpincang-pincang.
“Mau makan apa?” Tanyanya dari arah belakang.
“Tempat lo makan waktu gua telpon malam-malam” Jawab gua.
“Yah, disana susah parkirnya” Gua memberi alasan.
Gua berbalik dan menatapnya tajam; “Coba aja dulu, siapa tau dapet tempat parkir kalo datang lebih cepet”
Nggak berselang lama, kami sudah berada di jalan raya Cisauk. Marshall yang berada di balik kemudi tengah sibuk celingak-celinguk mencari tempat parkir. Sesekali ia menggumam pelan; “Lagian mobil gede banget”
Gua lantas membalasnya; “Lagian, orang dagang nggak nyediain tempat parkir”
“Lah, orang cuma pecel ayam tenda. Lo berharap dia nyedian parkir segede apa emangnya?” Balasnya, nggak mau kalah.
Akhirnya setelah beberapa kali memutar, Marshall berhasil memarkirkan mobil tepat di depan pintu toko bahan bangunan yang sudah tutup. Lokasi yang posisinya berseberangan dengan tenda pecel ayam yang akan kami sambangi.
“Tunggu…” Serunya, saat melihat gua langsung turun dari mobil dan bersiap menyeberang jalan. Ia lalu berlari, memutari mobil dan mendekat ke gua.
Dengan cepat, ia meraih tangan gua lalu mulai menggenggamnya.
“Jangan protes” Bisiknya, begitu melihat gelagat gua yang hendak melepas genggaman tangannya.
Gua terdiam dan membiarkan ia menggenggam tangan. Kami lalu menyebrangi jalan menuju ke tenda penjual pecel ayam. Marshall langsung melepas genggaman begitu kami tiba. Namun, di dalam tenda terlihat kondisi yang ramai. Semua kursi plastik yang tersedia sudah penuh terisi.
“Yaah…” Gua mengeluh.
Marshall menoleh ke arah gua dan bicara; “Bungkus aja mau?” Tanyanya.
“Terus makan dimana?” Gua balik bertanya.
“Di mobil” Jawabnya seraya menunjuk ke arah mobil yang terparkir. Gua menoleh, mengikuti kemana arah yang ia tunjuk, kemudian mengangguk; setuju.
Marshall mendekat ke meja dengan potongan ayam, tempe dan tahu berjajar di dalam sebuah etalase yang mirip akuarium. Lalu mulai memesan.
Sementara, gua hanya berdiri sambil melipat tangan di dada. Sesekali memainkan kaki, karena merasa pegal.
“Capek?” Tanyanya.
“Menurut lo?” Gua balik bertanya.
“Sabar!” Serunya, tepat di wajah gua.
Gua nggak menjawab, hanya terdiam.
Lama kami menunggu karena sepertinya cukup banyak antrian sebelum kami. Apalagi ditambah, tempat ini juga melayani pembelian melalui ojek online, yang jadi bikin pesanan kami semakin lama di proses.
“Itu kok dia duluan sih, Sal” Bisik gua ke Marshall saat melihat ada orang yang datang setelah kami namun sudah mendapatkan pesanannya.
Marshall lalu mendekat ke si abang penjual dan bertanya. “Punya gua belum bang? Itu kok mas itu baru dateng udah selesai?”
“Oh, iya. Dia mah udah dari tadi mas. Tapi, ditinggal dulu. Sabar ya” Jawab si abang penjual.
Mendengar penjelasan si abang penjual, gua jadi semakin hilang kesabaran. Saat di tengah antrian, kami para pembeli nggak butuh kata penghiburan seperti; ‘sabar’, ‘sebentar lagi’ dan lainnya. Kami hanya butuh diperlihatkan gerakan penjual yang ‘sat-set’, cepat melayani.
“Sana tanyain lagi, udah belum” Pinta gua ke Marshall, nggak begitu lama setelahnya.
“Yee, belum ada dua menit” Balasnya.
Setelah hampir 10 menit berikutnya, pesanan kami akhirnya selesai. Kami kembali dan masuk ke mobil, bersiap untuk makan. Barulah kami berdua sadari, kalau makan pecel ayam di dalam mobil adalah hal yang hampir nggak mungkin. Pertama, pecel ayam itu banyak condiment-nya;, ada beberapa jenis lalapan, tempe dan tahu goreng dan tentu saja sambalnya.
“Pinjem piring gih sana” Pinta gua ke Marshall, yang langsung di responnya dengan gelengan kepala.
“Ogah ah” Balasnya.
“Ini gimana makannya?” Tanya gua, seraya menatap ke arah bungkusan pecel ayam di dalam plastik.
“...”
“... Terus cuci tangannya dimana?” Tanya gua lagi.
“...”
“... Udah ayo ke tempat lo aja” Pinta gua, karena merasa nggak bakal menemukan cara untuk makan pecel ayam di dalam mobil.
Marshall nggak membantah, ia menyalakan mesin dan mulai melajukan mobil perlahan. Nggak sampai 5 menit, kami akhirnya tiba di sebuah gedung apartemen ‘murah’ yang lokasinya nggak begitu jauh dari stasiun Cisauk. Dan tambahan 10 menit lagi hingga akhirnya kami tiba di tempat dimana Marshall tinggal.
Ia membuka pintu lebar-lebar, membiarkan gua masuk terlebih dahulu. Gua masuk dan mendapati kamar apartemen yang jauh lebih kecil dari tempat gua tinggal. Marshall menyusul masuk dan langsung duduk di sofa yang penuh dengan bantal juga selimut.
“Siapa yang tidur disini?” Tanya gua sambil menunjuk sofa tempatnya duduk.
“Gua” Jawab Marshall santai, seraya mulai membuka bungkusan pecel ayam dan memindahkannya ke atas meja. Ia lalu berdiri, mengambil piring di dapur lalu kembali. Sementara gua masih menatap sekeliling. ‘Jadi ini tempat dimana ia biasa merindukan gua’ batin gua dalam hati.
Kami lalu menikmati porsi pecel ayam dalam diam.
Selesai makan, Marshall langsung mencuci perlengkapan makan dan menyimpannya di rak. Sepertinya ia memang terbiasa rapi dan bersih, terlihat dari tempat tinggalnya yang sama sekali tanpa cela, tak ada sampah bahkan semua sisa puntung rokok berada di tempatnya; di sebuah asbak berukuran besar dengan ukiran gajah sebagai penyangganya. Ya kecuali, tumpukan bantal dan selimut yang berada di sofa.
“Mau kopi?” Tanyanya dari arah dapur.
“Mau” Gua menjawab singkat.
“...”
“... Tapi, kalo kopi sachet ogah” Gua menambahkan.
Seakan ingin menggoda gua. Marshall kembali dengan membawa dua cangkir kosong, dan dua sachet kopi kemasan berwarna coklat. Ia menuang isi sachet ke dalam cangkir tepat di hadapan gua, kemudian mengisinya dengan air panas dari dispenser.
“Nih…” Ucapnya seraya memberikan cangkir berisi kopi instan. Gua nggak langsung menyambut pemberiannya, hanya menatapnya.
“Gua tadi bilang apa?” Tanya gua, seraya mengernyitkan dahi.
Marshall nggak menjawab, ia meraih tangan dan memaksa gua untuk memegang cangkir berisi kopi darinya.
“Bawel banget dah lo” Gumamnya.
Ia lalu menyeduh kopi miliknya. Sambil membawa cangkir, ia membuka jendela besar yang mengarah ke balkon. Angin malam yang dingin langsung masuk dan membelai rambut gua, disertai suara gemuruh samar dari mesin dan klakson kendaraan yang berada jauh di bawah.
Marshall duduk di lantai balkon, meletakkan cangkir kopi di atas outdoor AC dan mulai menyulut sebatang rokok. Sementara, gua masih duduk di sofa dengan tangan menggenggam cangkir kopi dan memandangi punggungnya.
Gua meletakkan cangkir di atas meja, lalu berdiri.
“Boleh numpang ke kamar mandi?” Tanya gua. Yang lalu di responnya dengan anggukan kepala.
Di dalam kamar mandi gua hanya berdiri sambil menatap pantulan diri sendiri melalui cermin. Mencoba melepaskan semua keangkuhan, rasa takut dan egoisme. ‘Hhh…’ gua menghela nafas dalam-dalam dan mulai membasuh wajah. Kemudian dengan perlahan menyeka sisa makeup dengan tissu dan mengeringkannya.
Saat kembali, Marshall masih terlihat duduk di lantai balkon. Sesekali ia menyeruput kopi, lalu menghisap rokoknya dalam-dalam, kemudian memainkan asapnya yang langsung terhempas; hilang. Gua mengambil cangkir berisi kopi dari atas meja, lalu mendekat, menggeser pintu kaca dan duduk tepat di belakangnya. Jadi, gua duduk di lantai, di area bagian dalam, sementara ia duduk di lantai di area balkon.
Menyadari kehadiran gua, ia menoleh. Kemudian merubah posisi duduknya agar nggak membelakangi gua. Kini, ia bersandar pada dinding sambil terus merokok tanpa menatap ke arah gua.
Sesekali gua menyeruput kopi yang sudah nggak lagi hangat.
“Enak?” Tanyanya.
Gua mengangguk pelan.
“...Tuh kan, nggak cuma kopi ‘beneran’ yang enak” Ia menambahkan.
Pun kali ini gua setuju, gua tetap punya bantahan untuk hal ini. Kedua jenis kopi punya keunggulan masih-masing. Kopi instan, lebih cepat dan praktis; nggak ribet. Sementara, kopi ‘beneran’ punya rasa yang lebih kuat dan bisa disesuaikan selera. Tapi, gua enggan membantah; sudah terlanjur ‘melepaskan’ keangkuhan.
Lalu tiba-tiba, Marshall kembali mengajukan pertanyaan; “Lo kenapa segitu nggak sukanya nonton di bioskop, sampe ketiduran?”
“Film itu medium yang mewaktu,...” Belum sempat gua menyelesaikan kalimat, Marshall memotong ucapan gua.
“Ah, here we go again…” Potongnya.
Gua dengan cepat mencubit lengannya, nggak ingin kalimat gua dipotong sebelum selesai.
“..Film itu medium yang mewaktu, film butuh perhatian, butuh komitmen. Film ngga bisa diulang, nggak bisa di pause apalagi di skip… sama kayak sebuah hubungan”. Ucap gua.
“...”
“... Iya kan?” Gua menambahkan, mencoba meminta pendapatnya akan opini gua barusan. Marshall terdiam sesaat, ia menghisap rokok, menghembuskan asapnya kemudian mengangguk pelan.
“Tapi, film nggak bisa memberi lo respon” Tiba-tiba ia menjawab.
“...”
“... Saat lo nonton film dan pergi ke toilet. Film akan terus berlanjut tanpa elo. Tapi, dalam sebuah hubungan, saat lo pergi untuk rehat sejenak, pasangan lo mungkin akan menunggu lo.” Tambahnya.
“Kalau dia nggak mau menunggu?” Tanya gua.
“Berarti dia nggak cukup mencintai lo” Jawabnya singkat.
Kami lalu terdiam sebentar. Kemudian, Marshall kembali buka suara; “Kenapa? Lo takut berkomitmen?” Tanyanya.
Gua menggeleng pelan. “Bukan, bukan itu yang gua takutkan” Jawab gua lirih, sambil menundukkan kepala.
“Terus apa?”
Gua menghela nafas dalam-dalam sebelum memberi jawaban. “Bayangkan lo ada di posisi gua. Perempuan seusia gua yang sudah pernah menikah dan gagal”.
“...”
“... Lalu mencoba menjalin hubungan. Tentu gua takut gagal” Gua menambahkan.
“...”
“... Dan lo tau nggak kenapa gua pisah sama Jeje?” Tanya gua ke Marshall yang lalu direspon nya dengan gelengan kepala.
“...”
“... Karena gua pernah pergi meninggalkan mereka. Meninggalkan Jeje dan Anggi yang waktu itu usianya baru beberapa bulan” Gua menambahkan. Sementara, kedua sudut mata gua mulai basah.
“...”
“... Lo mau tau alasannya kenapa gua pergi meninggalkan mereka?” Tanya gua ke Marshall seraya sesekali menyeka ujung mata.
Marshall dengan cepat menggeleng, lalu menutup mulut gua dengan tangannya saat gua sudah bersiap untuk bercerita. “Gua nggak mau dan nggak perlu tau…” Ucapnya singkat.
Kami lalu kembali tenggelam dalam diam.
Sesaat berikutnya, gua kembali angkat bicara; “Sekarang ini, gua lebih takut kembali melukai seseorang, ketimbang merasa terluka.”
“...”
Gua lantas mendongak dan menatapnya, kemudian bicara; “...Gua rindu, lo rindu, tapi gua takut”
“...”
“... takut, nantinya saat hubungan ini berlanjut, gua takut nanti melukai lo, takut nanti lo kehilangan”
“...”
“... tapi, di satu sisi. Gua juga punya ketakutan yang luar biasa kalau nggak bisa ketemu lagi sama lo, nggak bisa bareng-bareng sama lo” Gua menambahkan.
Nggak gua sangka, Marshall malah merespon semua ucapan-ucapan gua dengan tertawa. Gua tentu langsung menyipitkan mata dan menatapnya heran. ‘Kok, bisa-bisanya di momen yang serius seperti ini ia tertawa’ batin gua dalam hati.
Setelah puas tertawa, ia menatap gua dan bicara; “Kita sama-sama punya ketakutan. Tapi, bedanya ketakutan gua adalah kalau perasaan ini salah. Gua takut, takut kalau jangan-jangan gua nggak sayang sama lo. Gua takut kalau perasaan ini tuh palsu…”
“Terus? Gimana perasaan lo?” Tanya gua penasaran. Saking penasarannya, gua sampai menggeser duduk hingga mendekat ke arahnya.
“Kayaknya sama dengan lo” Jawabnya.
Mendengar jawaban darinya, sudut terjauh hati ini langsung berteriak. Gua bahkan nggak kuasa menahan senyum.
“Terus gimana nih? Tanya gua.
“Lah katanya lo takut melukai gua?” Ia balik bertanya.
“Terus?” Tanya gua lagi.
“Yaudah gini-gini aja, berhubungan tanpa berkomitmen” Jawabnya.
“...”
“... Kalau nggak ingin merasakan kehilangan, jangan memiliki” Marshall menambahkan, dengan suara yang super lirih, seperti menggumam.
Gua terdiam sesaat, sambil menundukan kepala. Iya, gua memang takut menjalin hubungan, takut melukai. Tapi, sekarang, bukan hal ini yang mau gua dengar. Gua mau ia memaksa. Mengajak gua berkomitmen, memaksa gua untuk melanggar batasan yang sudah gua buat sendiri.
Tanpa bicara lagi, gua mendengus kesal, meletakkan cangkir kopi di lantai, kemudian berdiri, meraih tas dan bersiap untuk pergi. Sementara, Marshall sama sekali nggak mencegah gua pergi, ia hanya duduk dalam diam sambil terus merokok. Ia bahkan nggak menoleh ke arah gua.
Dengan perasaan jengkel, gua berjalan cepat di area basement parkiran gedung apartemen Marshall, menuju ke tempat dimana mobil gua terparkir. Begitu sudah di dalam mobil, gua langsung menjatuhkan kepala di kemudi, kalut.
—
Lanjut Ke Bawah
Diubah oleh robotpintar 08-06-2024 21:40
cotel79 dan 35 lainnya memberi reputasi
36
Kutip
Balas
Tutup