- Beranda
- Stories from the Heart
Satu Kelas Dengan Dia
...
TS
aguzblackrx
Satu Kelas Dengan Dia
Horror, Romance


Quote:
PROLOG
Bagas tak sengaja menjadi indigo karena insiden tenggelam di kolam empang yang berair kotor saat masih berumur 3 tahun yang membuat jiwanya terbawa ke alam gaib dan mendapat kemapuan bisa melihat makhuk tak kasat mata meski tidak sekaligus dan berangsur angsur lama hingga dia bertemu dengan sosok di sekolah nya yang membuat dirinya menyadari memiliki kemampuan dan mendapatkan sebuah tanggung jawab besar dalam hidupnya
Quote:
Spoiler for Jangan di Buka:
Quote:
Diubah oleh aguzblackrx 21-09-2024 09:52
dwi.haryana.982 dan 28 lainnya memberi reputasi
27
30.1K
1.6K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aguzblackrx
#191
Part 33
"Kalian sekolah disini ?" Ucap Nyai Sinta dengan senyuman merekahnnya
"I iya , heeh nyai hehe " jawab ku sambil memincingkan mata karena panas terik matahari
"Kalau bicara disini banyak orang curiga " ucap Hesty sambil matanya mengedar sekeliling lorong sekolah yang tentunya banyak siswa yang melihat ke arah kami
"Yasudah kalian masuk kelas lagi , aku mau kesana menuju kekasih ku dulu " jawab Nyai Sinta sambil menoleh ke arah kantor
"Kekasih? " Gumam ku dalam hati
Aku mengangguk pelan tanda paham lalu sosok Sinta pergi melesat menuju kantor , aku dan Hesty pun kembali ke kelas . Baru saja mau masuk ke kelas ada suara yang memanggil nama Hesty.
"Hesty..... Kesini " teriak seseorang. Saat aku menoleh yang ternyata adalah pak Iwan .
Hesty melambaikan tangannya lalu berteriak
"Iya pak.."
"Bareng bagas .... " Sambung pak Iwan dari kejauhan
Akupun terkejut kenapa aku juga dipanggil olehnya . Lalu aku dan Hesty berjalan menuju kantor melalui lorong sekolah melewati pertigaan antara kelas kantor dan kantin A.
Setelah sampai di depan kantor , kamipun dipersilahkan masuk oleh pak Iwan. Nampak ada seorang pemuda yang tadi disambut oleh pak Iwan . Pemuda itu tersenyum ke arah kami dan bersalaman.
Sosok Sinta ternyata ada dibelakang yang diakuinya sebagai kekasihnya tersenyum ke pada kami. Aku pikir Mana mungkin jin berpacaran dengan manusia. Meski cantik tetap saja dia adalah jin yang tidak akan memiliki anak dengan mereka.
"Silahkan masuk , duduk disini " ucap pak Iwan sambil menunjuk pada salah satu sofa yang ada di dalam kantor.
"Terima kasih pak, ada apa ya pak manggil saya?" Tanya Hesti pada pak Iwan
"Ini , bapak mau kenalin kamu sama si kakak ini, namanya Ryan. Panggil saja mas Ryan dari Wonosobo , masih kerabat Bapak juga. Secara tidak langsung masih kerabat mu juga" tutur pak Iwan menjelaskan
Hesty nampak sedikit terkejut dan tersenyum pada sosok pemuda yang ternyata bernama Ryan itu.
"Gimana ceritanya pak , koq mamah sama papah ga cerita punya kerabat dari Jawa " tanya ku pada pak Iwan
Sosok Ryan hanya tersenyum saja belum mengeluarkan sepatah kata pun .
"Bapak nya mas Ryan itu sepupu dengan pak Iwan. Sedangkan papah hesty dengan om itu kan kakak adik. Hanya saja papah kamu kuliah diluar negeri dulu jadi tidak begitu akrab dengan keluarga yang di Jawa, om saja hampir lupa mas Ryan ini sudah dewasa begini. " Jawab pak Iwan begitu gamblang
Hesty nampak manggut manggut saja tanda mengerti dengan penuturan pak Iwan.
"Jadi mas Ryan itu saudara jauh?" Tanya hesty pada mas Ryan
"Iya dek , oh iya perkenalkan saya Ryan " ucapnya sambil menjulurkan tangannya sambil tersenyum.
Lalu dibalasnya salam Ryan oleh Hesty lalu mereka berdua berjabat tangan , Hesty pun tersenyum. Akan tetapi bagi ku yang melihatnya nampak sedikit ada keanehan. Tatapan mas Ryan terhadap Hesty terlalu misterius apalagi pandangannya dari tadi menoleh ke arah Hesty saja.
Lirikan mataku melihat ke arah nyai Sinta ,
Sosok nyai Sinta nampak tidak begitu senang karna sesri tadi dia mengamati yang diakui kekasihnya terlalu fokus terhadap Hesty , tib. Tiba pundak mas Ryan dicoleknya. Sehingga mas Ryan mata mas Ryan membesar seketika lalu mengusap bagian pundaknya yang tadi dicolek oleh nyai Sinta.
"Hesty " katanya lalu melepaskan jabat tangan keduanya.
"Maaf pak, lalu saya dipanggil kenapa ya?" Tanya ku pada pak Iwan.
"Jadi begini nak Bagas. Karena mas Ryan saudara jauh ini ada urusan pekerjaan , tidak lama hanya seminggu , jadi saya titipkan di rumah Hesty , jadi kamu bisa yah tolong temenin mas Ryan selama di Bogor " jawab pak Iwan
Aku pun terkejut dengan penuturan pak Iwan begitu pula Hesty nampak terkejut saat sosok Ryan akan tinggal sementara di rumah Hesty.
"Apakah tidak keberatan hesty nya om ?" Tanya Ryan
"Hesty gimana ?. Om udah telpon papah mu , dan beliau setuju " tanya pak Iwan pada Hesty
"Kalau Hesty sih ga apa apa. Lagian di rumah sepi . Bagus kan ada teman bicara " jawab hesty
"Jadi begini Hesty, pak Iwan sudah menelpon papah kamu, katanya sih diizinkan , karena mereka belum bisa pulang dari luar negeri harus ada pendampingnya, meski mas Ryan masih kerabat kita, tapi titip pesan papah kamu agar ada yang nemenin , anak om yang kuliah ga bisa katanya , jadi om minta nak Bagas aja , kalian kan berteman ?" Ucap pak Iwan.
Mendengar penuturan pak Iwan perasaan ku campur aduk, antara senang dan takut. Aku sendiri sejak kemarin belum pulang ke rumah. Apalagi aku harus menginap selama satu minggu itu terlalu lama apalagi di rumah Hesty.
Dari penjelasan nya memang masuk akal sih. Bukan berarti tidak percaya. Karena pak Iwan sendiri juga hidup bersama dengan mertua nya jadi tidak mungkin menampung satu orang di rumah nya.
"Iya pak. saya harus izin dulu sama orang tua saya" ucap ku menimbang
"Jadi kapan akan ke rumah Hesty nya?" Tanya Hesty
"Besok sore , soalnya malam ini saya di hotel dulu, menunggu konfirmasi pak Iwan dan keluarga Hesty " jawab mas ryan
Setelah percakapan tadi aku dan Hesty pun dipersilahkan untuk kembali ke kelas dan berpamitan kepada pak Iwan dan juga mas Ryan itu.
Namun sosok nyai Sinta nampak cemberut duduk disalah satu meja guru dekat sofa tamu. Entah apa yang dipikirkannya mungkin dia sedang ada masalah . Namun Lirikan mata ku ternyata disadari oleh Nyai Sinta, raut wajahnya sdikit berubah lebih baik . Tiba tiba saja Nyai Sinta memberikan tanda hati yaitu disatukannya kedua jempol dan telunjuknya menjadi sebuah gambar hati love lalu di arahkan kepada ku sambil tersenyum dan memiringkan kepalanya ke arah kiri.
"Ehhh " Aku pun terkejut melihat tingkahnya itu , apakah itu hanya iseng belaka saja .
Sedangkan mas Ryan mengetahui hal itu menoleh ke arah Nyai Sinta dan menggeleng gelengan kepala. Hesty yang menyadari juga lalu mencubit pinggang ku cukup keras.
"Aduh aduh " aku mengerang kesakitan sambil berjalan membunti Hesty yang tadi sudah berlalu di depan ku.
"Kenapa sih Hes, aku sakit tau " gerutu ku pada nya
"Lagian, jadi cowo matanya di jaga. Ga tahan bener lihat cewek centil begitu " ujar nya sambil terus berjalan
"Ya kan ga sengaja liat, iseng kali orang nya nyai Sinta itu " ucap ku mencoba untuk meyakinkan Hesty
"Ga peduli " ucap Hesty yang nampak sebal
Kamipun masuk ke dalam kelas , akan tetapi sudah ada guru pelajaran TIK sedang mengabsen . Akan tetapi guru tersebut baru aku lihat kali ini. Guru perempuan terlihat masih muda dengan perawakan tinggi putih memakai hijab krem memakai kecamata menambah kecantikan sosok guru tersebut.
"Lengket bener.... Gas. Semoga mawahdah warohmah" celetuk Radit dari arah belakang memecah keheningan kelas
Semua siswa pun tertawa bereaksi dengan celetukan dari Radit.
Akupun terkejut dengan celetukan itu. Hesty nampak makin gusar menatap Radit yang terkekeh kekeh bersama teman satu bangkunya. Mungkin saja Radit sengaja mempermalukan ku di kelas karena balas dendam..
Akupun mencium punggung tangan guru tersebut diikuti oleh Hesty. Lalu kami duduk di bangku kami masing masing .
Aku yang masih duduk sendiri sempat memikirkan kondisi Merry saat ini, apakah sudah baikan atau masih sakit.
"Bro, guru baru ya?" Tanya ku berbisik pada Bayu yang bersebelahan dengan ku
"Iya , namanya Bu Ria, cantik kan?" Jawab Bayu sekaligus bertanya
"Tau aja lu yang cakep. Bening banget " jawab ku terkekeh kekeh namun dengan suara sangat pelan.
Bayu terkekeh " masih lajang bro "
"Ah yang bener bro?" Tanya ku menyelidik
"Ssstt .... " Bayu pun memberi isyarat agar tetap diam dulu.
Bu Ria pun selesai mengabsen lalu memulai pelajaran TIK , selama pelajaran berlangsung banyak tulisan yang ku tulis dan akan dilakukan praktikum di lab komputer Minggu depan.
Selama Bu Ria menjelaskan , entah mengapa aku malah memperhatikan wajahnya yang cantik , senyumnya yang mungil membuatku ikut tersenyum. Baru kali ini aku diajar oleh guru secantik Bu Ria. Biasanya guru yang mengajar ku di SMP rata rata sudah memiliki anak bahkan cucu. Otomatis tidak ada yang muda .
"Baik anak anak sebelum pelajaran ditutup , apakah ada yang ditanyakan ?" Tanya Bu Ria
Seseorang mengangkat tangannya , saat ku menoleh ternyata masih si Radit dengan senyum mengerikannya . Lalu dia mengajukan pertanyaan yang cukup mengejutkan.
"Maaf Bu, sudah punya pacar atau belum ?" Tanya Radit sambil cengengesan
Semua siswa menoleh pada Radit lalu
"Huuuuuuuuuu ........." Semua Mengejeknya dan ada juga siswa yang melemparinya dengan kertas. Radit terkekeh kekeh dan seperti jadi malu.
Ekspresi Bu Ria cukup terkejut dan tersipu malu, matanya melirik ke atas langit langit kelas sambil jari telunjuknya diketuk ketik di atas meja m aku pikir jawabannya sudah bisa ditebak jika Bu Ria sudah punya pacar.
"Pertanyaan yang bikin ibu degdegan nih " jawab. Bu ria sambil tersenyum lalu menaikan sedikit kecamata bulatnya.
"Untuk soal itu rahasia yah " sambung Bu ria sambil ternyum lebar yang menambah kecantikan di wajahnya.
"Ada lagi yang ditanyakan ?" Tanya Bu ria
Semua siswa berbisik bisik dan tetap tidak ada yang mengajukan pertanyaan. Akupun bingung mau bertanya apa lagi karena takut salah mengajukan pertanyaan.
Aku terpesona melihatnya baru kali ini aku dibuat jatuh hati kepada seorang guru muda yang begitu cantik. Aku memandang nya begitu seksama setiap gurat manis diwajahnya.
Saat Bu ria sudah menutup pelajaran dan hingga keluar dari kelas tanpa sengaja lirikan mata ku tertuju ke arah Hesty yang ternyata memperhatikan ku.
Degh ...
Aku cukup terkejut melihat ekspresi tajam Hesty terhadap ku. Dia mentapku seolah berkata "jangan". Aku langsung nyengir kuda terhadapnya namun dibalasnya dengan membuang muka yang cukup menusuk hati.
Singkat waktu jam bel pulang pun tiba , aku pun hendak pulang dan segera menemui hesty .
"Hes, mau dianterin sama aku lagi?"
"....... " Hesty diam saja tanpa mempedulikan pertanyaan ku lalu berjalan keluar kelas
"HES.. koq diem sih. Marah ya?" Tanya ku lalu meraih tangan Hesty
Dep
Tangan ku memegang tangan lembut Hesty, wajahnya menoleh ke arah ku. Sebagian siswa sudah keluar kelas dan tinggalah kami berdua.
Tatapan mata Hesty cukup datar seolah dia enggan menjawab pertanyaan ku. Entah apa yang difikirkan nya sehingga dia berfikir demikian.
"Lepasin " bentak Hesty
"HES. Kamu marah ya sama aku. Kenapa ?" Tanya ku heran
"Udah. Aku lelah mau pulang " jawabnya mengalihkan pembicaraan
"Aku anter ya. "
"Terserah "
Mendengar jawabannya seperti nya memang Hesty hanya marah kecil saja. Dia berjalan di depan ku sambil membuka hp nya yang ada didepan mata. Tangannya sepeti mengetik sesuatu .
Sesampainya di parkiran , aku lupa bahwa motor ku ada di samping sekolah akan tetapi aku malah bertemu preman sekolah ini yaitu Aryo.
"Aduh...mereka lagi "
Aryo beserta kawan kawannya sepeti sedang menunggu sesuatu dan beberapa temanya sedang memperhatikan beberapa motor yang masih terparkir.
Aryo yang menyadari kedatangan ku lalu memberitahu teman temanya, segera menghampiri ku seorang diri. Hesty yang sempat lewat kini menunggu di depan gerbang.
Aryo nampak cengengesan berjalan santai , tingkah angkuhnya sama terangnya dengan kepala plontosnya . Mereka berlima datang menghampiri ku.
"Bagas. Masih berani lu deketin Hesty ?" bentak aryo
"Gw satu kelas, itu wajar kami deket " ucap ku membela
"Bagas Bagas, udah gw kasih tau masih aja nga paham..jangan deketin Hesty , kecuali lu udah bisa Ngalahin gw di sparing nanti " ucap Aryo sambil menunjuk dada ku
Mata ku melirik pada dadaku yang ditunjuk oleh jari telunjuknya lalu menatap mata Aryo tanpa gentar.
"Ok , Gw setuju " jawab ku lantang
Akan tetapi terdengar seseorang berlari kearah ku dan dia adalah
"Apa apan ini Bagas , Aryo ...." Pekik Hesty dengan mata sdikit berkaca kaca.
(Bersambung )
"Kalian sekolah disini ?" Ucap Nyai Sinta dengan senyuman merekahnnya
"I iya , heeh nyai hehe " jawab ku sambil memincingkan mata karena panas terik matahari
"Kalau bicara disini banyak orang curiga " ucap Hesty sambil matanya mengedar sekeliling lorong sekolah yang tentunya banyak siswa yang melihat ke arah kami
"Yasudah kalian masuk kelas lagi , aku mau kesana menuju kekasih ku dulu " jawab Nyai Sinta sambil menoleh ke arah kantor
"Kekasih? " Gumam ku dalam hati
Aku mengangguk pelan tanda paham lalu sosok Sinta pergi melesat menuju kantor , aku dan Hesty pun kembali ke kelas . Baru saja mau masuk ke kelas ada suara yang memanggil nama Hesty.
"Hesty..... Kesini " teriak seseorang. Saat aku menoleh yang ternyata adalah pak Iwan .
Hesty melambaikan tangannya lalu berteriak
"Iya pak.."
"Bareng bagas .... " Sambung pak Iwan dari kejauhan
Akupun terkejut kenapa aku juga dipanggil olehnya . Lalu aku dan Hesty berjalan menuju kantor melalui lorong sekolah melewati pertigaan antara kelas kantor dan kantin A.
Setelah sampai di depan kantor , kamipun dipersilahkan masuk oleh pak Iwan. Nampak ada seorang pemuda yang tadi disambut oleh pak Iwan . Pemuda itu tersenyum ke arah kami dan bersalaman.
Sosok Sinta ternyata ada dibelakang yang diakuinya sebagai kekasihnya tersenyum ke pada kami. Aku pikir Mana mungkin jin berpacaran dengan manusia. Meski cantik tetap saja dia adalah jin yang tidak akan memiliki anak dengan mereka.
"Silahkan masuk , duduk disini " ucap pak Iwan sambil menunjuk pada salah satu sofa yang ada di dalam kantor.
"Terima kasih pak, ada apa ya pak manggil saya?" Tanya Hesti pada pak Iwan
"Ini , bapak mau kenalin kamu sama si kakak ini, namanya Ryan. Panggil saja mas Ryan dari Wonosobo , masih kerabat Bapak juga. Secara tidak langsung masih kerabat mu juga" tutur pak Iwan menjelaskan
Hesty nampak sedikit terkejut dan tersenyum pada sosok pemuda yang ternyata bernama Ryan itu.
"Gimana ceritanya pak , koq mamah sama papah ga cerita punya kerabat dari Jawa " tanya ku pada pak Iwan
Sosok Ryan hanya tersenyum saja belum mengeluarkan sepatah kata pun .
"Bapak nya mas Ryan itu sepupu dengan pak Iwan. Sedangkan papah hesty dengan om itu kan kakak adik. Hanya saja papah kamu kuliah diluar negeri dulu jadi tidak begitu akrab dengan keluarga yang di Jawa, om saja hampir lupa mas Ryan ini sudah dewasa begini. " Jawab pak Iwan begitu gamblang
Hesty nampak manggut manggut saja tanda mengerti dengan penuturan pak Iwan.
"Jadi mas Ryan itu saudara jauh?" Tanya hesty pada mas Ryan
"Iya dek , oh iya perkenalkan saya Ryan " ucapnya sambil menjulurkan tangannya sambil tersenyum.
Lalu dibalasnya salam Ryan oleh Hesty lalu mereka berdua berjabat tangan , Hesty pun tersenyum. Akan tetapi bagi ku yang melihatnya nampak sedikit ada keanehan. Tatapan mas Ryan terhadap Hesty terlalu misterius apalagi pandangannya dari tadi menoleh ke arah Hesty saja.
Lirikan mataku melihat ke arah nyai Sinta ,
Sosok nyai Sinta nampak tidak begitu senang karna sesri tadi dia mengamati yang diakui kekasihnya terlalu fokus terhadap Hesty , tib. Tiba pundak mas Ryan dicoleknya. Sehingga mas Ryan mata mas Ryan membesar seketika lalu mengusap bagian pundaknya yang tadi dicolek oleh nyai Sinta.
"Hesty " katanya lalu melepaskan jabat tangan keduanya.
"Maaf pak, lalu saya dipanggil kenapa ya?" Tanya ku pada pak Iwan.
"Jadi begini nak Bagas. Karena mas Ryan saudara jauh ini ada urusan pekerjaan , tidak lama hanya seminggu , jadi saya titipkan di rumah Hesty , jadi kamu bisa yah tolong temenin mas Ryan selama di Bogor " jawab pak Iwan
Aku pun terkejut dengan penuturan pak Iwan begitu pula Hesty nampak terkejut saat sosok Ryan akan tinggal sementara di rumah Hesty.
"Apakah tidak keberatan hesty nya om ?" Tanya Ryan
"Hesty gimana ?. Om udah telpon papah mu , dan beliau setuju " tanya pak Iwan pada Hesty
"Kalau Hesty sih ga apa apa. Lagian di rumah sepi . Bagus kan ada teman bicara " jawab hesty
"Jadi begini Hesty, pak Iwan sudah menelpon papah kamu, katanya sih diizinkan , karena mereka belum bisa pulang dari luar negeri harus ada pendampingnya, meski mas Ryan masih kerabat kita, tapi titip pesan papah kamu agar ada yang nemenin , anak om yang kuliah ga bisa katanya , jadi om minta nak Bagas aja , kalian kan berteman ?" Ucap pak Iwan.
Mendengar penuturan pak Iwan perasaan ku campur aduk, antara senang dan takut. Aku sendiri sejak kemarin belum pulang ke rumah. Apalagi aku harus menginap selama satu minggu itu terlalu lama apalagi di rumah Hesty.
Dari penjelasan nya memang masuk akal sih. Bukan berarti tidak percaya. Karena pak Iwan sendiri juga hidup bersama dengan mertua nya jadi tidak mungkin menampung satu orang di rumah nya.
"Iya pak. saya harus izin dulu sama orang tua saya" ucap ku menimbang
"Jadi kapan akan ke rumah Hesty nya?" Tanya Hesty
"Besok sore , soalnya malam ini saya di hotel dulu, menunggu konfirmasi pak Iwan dan keluarga Hesty " jawab mas ryan
Setelah percakapan tadi aku dan Hesty pun dipersilahkan untuk kembali ke kelas dan berpamitan kepada pak Iwan dan juga mas Ryan itu.
Namun sosok nyai Sinta nampak cemberut duduk disalah satu meja guru dekat sofa tamu. Entah apa yang dipikirkannya mungkin dia sedang ada masalah . Namun Lirikan mata ku ternyata disadari oleh Nyai Sinta, raut wajahnya sdikit berubah lebih baik . Tiba tiba saja Nyai Sinta memberikan tanda hati yaitu disatukannya kedua jempol dan telunjuknya menjadi sebuah gambar hati love lalu di arahkan kepada ku sambil tersenyum dan memiringkan kepalanya ke arah kiri.
"Ehhh " Aku pun terkejut melihat tingkahnya itu , apakah itu hanya iseng belaka saja .
Sedangkan mas Ryan mengetahui hal itu menoleh ke arah Nyai Sinta dan menggeleng gelengan kepala. Hesty yang menyadari juga lalu mencubit pinggang ku cukup keras.
"Aduh aduh " aku mengerang kesakitan sambil berjalan membunti Hesty yang tadi sudah berlalu di depan ku.
"Kenapa sih Hes, aku sakit tau " gerutu ku pada nya
"Lagian, jadi cowo matanya di jaga. Ga tahan bener lihat cewek centil begitu " ujar nya sambil terus berjalan
"Ya kan ga sengaja liat, iseng kali orang nya nyai Sinta itu " ucap ku mencoba untuk meyakinkan Hesty
"Ga peduli " ucap Hesty yang nampak sebal
Kamipun masuk ke dalam kelas , akan tetapi sudah ada guru pelajaran TIK sedang mengabsen . Akan tetapi guru tersebut baru aku lihat kali ini. Guru perempuan terlihat masih muda dengan perawakan tinggi putih memakai hijab krem memakai kecamata menambah kecantikan sosok guru tersebut.
"Lengket bener.... Gas. Semoga mawahdah warohmah" celetuk Radit dari arah belakang memecah keheningan kelas
Semua siswa pun tertawa bereaksi dengan celetukan dari Radit.
Akupun terkejut dengan celetukan itu. Hesty nampak makin gusar menatap Radit yang terkekeh kekeh bersama teman satu bangkunya. Mungkin saja Radit sengaja mempermalukan ku di kelas karena balas dendam..
Akupun mencium punggung tangan guru tersebut diikuti oleh Hesty. Lalu kami duduk di bangku kami masing masing .
Aku yang masih duduk sendiri sempat memikirkan kondisi Merry saat ini, apakah sudah baikan atau masih sakit.
"Bro, guru baru ya?" Tanya ku berbisik pada Bayu yang bersebelahan dengan ku
"Iya , namanya Bu Ria, cantik kan?" Jawab Bayu sekaligus bertanya
"Tau aja lu yang cakep. Bening banget " jawab ku terkekeh kekeh namun dengan suara sangat pelan.
Bayu terkekeh " masih lajang bro "
"Ah yang bener bro?" Tanya ku menyelidik
"Ssstt .... " Bayu pun memberi isyarat agar tetap diam dulu.
Bu Ria pun selesai mengabsen lalu memulai pelajaran TIK , selama pelajaran berlangsung banyak tulisan yang ku tulis dan akan dilakukan praktikum di lab komputer Minggu depan.
Selama Bu Ria menjelaskan , entah mengapa aku malah memperhatikan wajahnya yang cantik , senyumnya yang mungil membuatku ikut tersenyum. Baru kali ini aku diajar oleh guru secantik Bu Ria. Biasanya guru yang mengajar ku di SMP rata rata sudah memiliki anak bahkan cucu. Otomatis tidak ada yang muda .
"Baik anak anak sebelum pelajaran ditutup , apakah ada yang ditanyakan ?" Tanya Bu Ria
Seseorang mengangkat tangannya , saat ku menoleh ternyata masih si Radit dengan senyum mengerikannya . Lalu dia mengajukan pertanyaan yang cukup mengejutkan.
"Maaf Bu, sudah punya pacar atau belum ?" Tanya Radit sambil cengengesan
Semua siswa menoleh pada Radit lalu
"Huuuuuuuuuu ........." Semua Mengejeknya dan ada juga siswa yang melemparinya dengan kertas. Radit terkekeh kekeh dan seperti jadi malu.
Ekspresi Bu Ria cukup terkejut dan tersipu malu, matanya melirik ke atas langit langit kelas sambil jari telunjuknya diketuk ketik di atas meja m aku pikir jawabannya sudah bisa ditebak jika Bu Ria sudah punya pacar.
"Pertanyaan yang bikin ibu degdegan nih " jawab. Bu ria sambil tersenyum lalu menaikan sedikit kecamata bulatnya.
"Untuk soal itu rahasia yah " sambung Bu ria sambil ternyum lebar yang menambah kecantikan di wajahnya.
"Ada lagi yang ditanyakan ?" Tanya Bu ria
Semua siswa berbisik bisik dan tetap tidak ada yang mengajukan pertanyaan. Akupun bingung mau bertanya apa lagi karena takut salah mengajukan pertanyaan.
Aku terpesona melihatnya baru kali ini aku dibuat jatuh hati kepada seorang guru muda yang begitu cantik. Aku memandang nya begitu seksama setiap gurat manis diwajahnya.
Saat Bu ria sudah menutup pelajaran dan hingga keluar dari kelas tanpa sengaja lirikan mata ku tertuju ke arah Hesty yang ternyata memperhatikan ku.
Degh ...
Aku cukup terkejut melihat ekspresi tajam Hesty terhadap ku. Dia mentapku seolah berkata "jangan". Aku langsung nyengir kuda terhadapnya namun dibalasnya dengan membuang muka yang cukup menusuk hati.
Singkat waktu jam bel pulang pun tiba , aku pun hendak pulang dan segera menemui hesty .
"Hes, mau dianterin sama aku lagi?"
"....... " Hesty diam saja tanpa mempedulikan pertanyaan ku lalu berjalan keluar kelas
"HES.. koq diem sih. Marah ya?" Tanya ku lalu meraih tangan Hesty
Dep
Tangan ku memegang tangan lembut Hesty, wajahnya menoleh ke arah ku. Sebagian siswa sudah keluar kelas dan tinggalah kami berdua.
Tatapan mata Hesty cukup datar seolah dia enggan menjawab pertanyaan ku. Entah apa yang difikirkan nya sehingga dia berfikir demikian.
"Lepasin " bentak Hesty
"HES. Kamu marah ya sama aku. Kenapa ?" Tanya ku heran
"Udah. Aku lelah mau pulang " jawabnya mengalihkan pembicaraan
"Aku anter ya. "
"Terserah "
Mendengar jawabannya seperti nya memang Hesty hanya marah kecil saja. Dia berjalan di depan ku sambil membuka hp nya yang ada didepan mata. Tangannya sepeti mengetik sesuatu .
Sesampainya di parkiran , aku lupa bahwa motor ku ada di samping sekolah akan tetapi aku malah bertemu preman sekolah ini yaitu Aryo.
"Aduh...mereka lagi "
Aryo beserta kawan kawannya sepeti sedang menunggu sesuatu dan beberapa temanya sedang memperhatikan beberapa motor yang masih terparkir.
Aryo yang menyadari kedatangan ku lalu memberitahu teman temanya, segera menghampiri ku seorang diri. Hesty yang sempat lewat kini menunggu di depan gerbang.
Aryo nampak cengengesan berjalan santai , tingkah angkuhnya sama terangnya dengan kepala plontosnya . Mereka berlima datang menghampiri ku.
"Bagas. Masih berani lu deketin Hesty ?" bentak aryo
"Gw satu kelas, itu wajar kami deket " ucap ku membela
"Bagas Bagas, udah gw kasih tau masih aja nga paham..jangan deketin Hesty , kecuali lu udah bisa Ngalahin gw di sparing nanti " ucap Aryo sambil menunjuk dada ku
Mata ku melirik pada dadaku yang ditunjuk oleh jari telunjuknya lalu menatap mata Aryo tanpa gentar.
"Ok , Gw setuju " jawab ku lantang
Akan tetapi terdengar seseorang berlari kearah ku dan dia adalah
"Apa apan ini Bagas , Aryo ...." Pekik Hesty dengan mata sdikit berkaca kaca.
(Bersambung )
Spoiler for trailer:
Spoiler for FAQ:
Quote:
Diubah oleh aguzblackrx 31-05-2024 11:42
Araka dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Tutup


