Disaat mahasiswa kebanyakan masih nyaman diatas kasur mengisi liburan mereka, Juna malah disibukkan dengan aplikasi foto editing dan mesin printing di toko percetakan tempat dia bekerja paruh waktu. Finansial keluarganya sedang tidak sehat belakangan ini, investasi abal-abal telah membuat segalanya menjadi tidak mudah bagi mereka.
Modal melayang, mobil terjual, sertifikat rumah ditawan Bank. Kurang apalagi kesialan yang menimpa keluarga mereka. Untungnya Sang Ibu memiliki dua anak yang tidak mudah mengeluh menghadapi semua masalah itu. Juna dan Jasmine masing-masing bekerja paruh waktu semata-mata mengurangi beban orang tua mereka. Meski lelah karena harus membagi fokus antara kuliah dan kerja paruh waktu. Tapi pemikiran mereka cukup dewasa mengambil sisi positif dari kejadian tersebut.
Menua itu pasti, tapi kedewasaan itu adalah pilihan. Umur hanyalah bilangan numerik yang mendeskripsikan seberapa lama jantung telah memompa darah. Tidak berarti akan berjalan linier dengan kedewasan seseorang dalam menghadapi masalah. Kita sering dibuat kecewa dengan hasil yang tidak sesuai rencana, tapi apa pernah kita berpikir bahwa kita sedang belajar menemukan formula baru untuk kesuksesan lainnya.
**
Juna memegang mouse konvensional dengan tangan kanannya. Salah satu tugas yang dipercayakan bosnya dipercetakan ini adalah mendesign banner, undangan dan beberapa pesanan lain. Tangannya cukup terampil memainkan mouse, membuat draft gambar, memilih font, dan mengatur warnanya. Entah ini bakat atau terpaksa karena keadaan, tapi yang pasti hal itu sangat membantu Juna mendapatkan uang.
Selain itu, tidak jarang Juna masih menerima orderan mixing dan mastering dari studio rekaman tempat dulu bandnya pernah membuat demo disana. Asalkan itu halal, Ia merasa mampu melakukannya, maka Juna tidak akan berpikir dua kali untuk mengambil pekerjaan itu. Bagi Juna waktu luang adalah hal langka dalam beberapa bulan terakhir. Ia percaya bahwa seluruh anggota tubuh akan jauh lebih kreatif jika terus dipakai. Sebenarnya untuk kalimat terakhir itu, hanya pembenaran bagi mereka yang dalam kondisi sulit keuangan. Maka bersyukurlah bagi sebagian lain yang tidak harus melakukan apa yang dilakukan Juna.
Bunyi mesin printing mulai terdengar setelah Juna memulai proses pencetakan setelah sebelumnya menyelesaikan bagian akhir dari design beberapa pesanan. Rekan yang lain mulai merapikan hasil printing dan mengecek apakah terdapat cacat produk guna dicetak kembali.
Bang Arif, bos tempatnya bekerja tak pernah berhenti menyampaikan bahwa kualitas adalah harga mutlak yang tidak bisa ditolerir. Ditengah perangainya yang sedikit otoriter, ia masih mempunyai sisi positif dalam hal disiplin kepada para pegawainya. Ada satu waktu terjadi komplain dari pelanggan, tapi bang Arif terdepan bertanggung jawab dan tidak menyalahkan para staffnya di depan pelanggan. Manusia memang tidak ada yang sempurna, tinggal bagaimana sudut pandang dan kebijaksanaan kita yang menilai.
Jam menunjukkan pukul 12 siang, Juna telah menyelesaikan kewajibannya hari ini dengan baik. Ia tak langsung pamit karena merasa masih perlu membereskan beberapa tools dan merapikan kembali meja kerja dan mesin printing.
“ kuliah mu gimana Jun?” Tanya Bang Arif
“ alhamdulillah bang, lancar”
“ bukannya semester depan lo udah mulai kerja praktek sama skripsi, apa bisa ambil kerja part time lagi?” tanya bang Arif yang ternyata cukup mengerti kondisi Juna.
“ yah itu bang, sempet kepikiran juga sih buat resign, tapi liat kondisi ntar kalo emang bener-bener gak bisa ngandle lagi”
“ sebenernya Toko bakal kehilangan banget klo lo resign, tapi demi kebaikan lo, menurut abang sih, lebih baik fokus dulu aja sama kuliah lo“
“ makasih bang, nanti gue pikirin lagi gimana baiknya, soalnya masih butuh uang tambahan, hee…”
Bang Arif menepuk-nepuk Pundak Juna. Ia tersenyum melihat pegawainya satu ini. Sejak Juna bergabung di Toko percetakan ini, banyak pelanggan yang suka dengan design yang dia buat. Positifnya buat toko tidak jarang omset per bulan meningkat dan bisa bersaing dengan toko yang jauh lebih besar.
“ Itu si cantik udah nungguin di depan ?”
“ Hah…” Juna membelakangi pintu masuk dan tak melihat apa yang dilihat Bang Arif di depan pintu masuk.
“ udah pulang sana!” sambil tersenyum bang Arif memberi perintah ke Juna
“ Gue pamit bang”
“ Yo…Hati-hati lo”
**
“ sayang, kuncinya biar aku yang bawa!” pinta Juna agar ia yang membawa mobilnya
“ kamu gak capek abis kerja trus bawa mobil?”
“ kalo capek kan ada yang mijitin…” Jawab Juna santai.
“ …” Raline membalas dengan senyum sambil memberikan kunci sedan hitam yang biasa dia bawa.
Sedan hitam itu membawa mereka menuju tempat kursus Bahasa Jepang dibilangan Sudirman. Hari ini Juna sengaja tidak membawa si jeruk karena Raline yang meminta untuk itu.
Terik matahari, asap kendaraan bermotor mengepul memenuhi ruang nafas kota. Sementara duo sejoli duduk dengan nyaman diatas penggerak roda depan dengan dapur pacu 2000 cc. Kota ini memang panas, tapi setiap tetes keringatnya adalah denyut nadi, semangat dan harapan masyarakatnya.
**
Juna duduk dengan sabar sembari menonton TV tepat membelakangi resepsionis ketika Raline melakukan registrasi kursus Bahasa Jepang. Tiba-tiba Juna tersentak ketika ingat Raline pernah mengutarakan niatnya akan mengambil S2 di Jepang setelah menyelesaikan S1-nya. Perasaan Juna seketika campur aduk, disatu sisi dia akan kehilangan belahan jiwanya setidaknya dua tahun lamanya. Tapi disisi lain, Juna harus mendukung Raline untuk menggapai mimpi-mimpinya menjadi seorang ahli rekayasa bioproses.
“Junaaa...” panggil Raline sesaat setelah ia menyelesaikan registrasinya
“…” Juna masih tak bergeming dengat sorot mata melihat layar Tv sementara pikirannya bergulat kesana-kemari
“… kamu ngelamun?” raline memegang Pundak Juna dari belakang
“ ehh..udah selesai registrasinya..?” jawab Juna mulai kembali ke alam bawah sadarnya ketika Raline memberikan sentuhan.
“ udah…kamu mikirin apa sih sampe bengong gitu?” tanya Raline kemudian duduk tepat disebelah Juna.
“ gak ada kok, filmnya bagus…cari makan yuk laper nih!” Juna coba mengalihkan pembicaraan
**
Tidak Jauh dari Kawasan Soedirman, dua sejoli itu mampir ke kedai Martabak yang sangat terkenal itu. Sangat dekat dengan Masjid Agung Palembang dan juga air mancur yang menjadi landmark kota Palembang. Kawasan yang selalu ramai disetiap pagi dan sore harinya. Urat nadi kota ini.
“ sayang, kenangan apa yang paling kamu inget sama papa kamu?” tanya raline sembari menghabiskan potongan martabak dimulutnya
“ Abi?…masih ingetlah sayang, yang paling aku inget abi pernah bikinin aku mie goreng, waktu aku puasa setengah hari…jemput aku pulang sekolah waktu SD..”
“ indah banget yah…aku bahkan gak inget sama sekali sama papa aku sendiri..”
“ sabar ya sayang…pasti ada hikmah dibalik semua kejadian…tugas kita cuma bisa berdiri tegar dan bilang ke Allah, tunjukkan jalan yang terbaik…” Juna bergegas meraih tangan kekasihnya itu sembari mengusap dengan Ibu Jarinya mencoba menenangkan.
“ …” air mata Raline berurai membasahi pipinya yang putih kemerahan itu, seakan tak kuat membayangkan seperti apa sosok ayahnya yang bahkan tak pernah ia temui secara langsung, dan ia bahkan tak tahu apakah orang yang ia rindukan itu masih punya perasaan sebagai Ayah.
Juna hanya bisa menyeka air mata itu semampunya. Lidahnya kelu, pikirannya kacau melihat orang yang ia sayangi runtuh dihadapannya. Mata Juna menatap dalam, mengisyaratkan kepada kekasihnya bahwa ia mampu menemani Raline melewati masa-masa sulitnya.
“ Sayang…ada yang mau aku omongin” tangisnya perlahan reda, raline menatap Juna, berharap kekasihnya itu mau mendengarkan isi hatinya.
“ …” Juna mengangguk pertanda ia mempersilahkan raline mengutarakan keinginannya.
“ maaf aku baru ngomong ini ke kamu sekarang, setelah kejadian pas ulang tahun rendy kemarin, aku akhirnya mutusin mau nemuin papa di London..”
“ …” Juna menghela nafas
“ denger aku…apapun itu, aku dukung keputusan kamu…kapan mau berangkat?”
“ besok pagi…”Jawab Raline
“ besok banget…emang kamu udah siap?” tanya Juna masih tak percaya secepat itu keputusan yang diambil Raline
“ …” Raline memberikan isyarat lewat matanya bahwa ia mencoba tegar untuk menghadapi segala kemungkinannya.
“ seandainya aku bisa nemenin kamu, tapi keadaan aku lagi kayak gini sekarang…” Juna sadar jika ia tak mungkin menemani Raline, keuangan keluarganya sedang tidak baik-baik saja saat ini.
“…gpp aku ngerti…aku minta doa kamu semoga semuanya lancar” Raline mengerti keadaan Juna, dan tak ingin membebaninya lagi.
“ pasti…kamu juga jangan lupa ngabarin kalo sudah sampe sana…trus kamu gak ada pesan buat aku gitu? dadakan begini ngomongnya…. ”pinta Juna, dan tak bisa dipungkiri ada rasa khawatir bagaimana bisa raline melewati semuanya sendirian disana.
“ selama aku gak ada jangan nakal, lagian aku udah titipin kamu ke Rendy buat di rante katanya…”
“ ehh…emang kapan bilangnya…?”
“ kemaren waktu di rumah kamu…”
“ …dasar…” seketika Juna mencubit hidung raline yang mancung itu.
“bisa-bisanya si kribo tahu duluan daripada aku” sambung Juna.