- Beranda
- Stories from the Heart
Satu Kelas Dengan Dia
...
TS
aguzblackrx
Satu Kelas Dengan Dia
Horror, Romance


Quote:
PROLOG
Bagas tak sengaja menjadi indigo karena insiden tenggelam di kolam empang yang berair kotor saat masih berumur 3 tahun yang membuat jiwanya terbawa ke alam gaib dan mendapat kemapuan bisa melihat makhuk tak kasat mata meski tidak sekaligus dan berangsur angsur lama hingga dia bertemu dengan sosok di sekolah nya yang membuat dirinya menyadari memiliki kemampuan dan mendapatkan sebuah tanggung jawab besar dalam hidupnya
Quote:
Spoiler for Jangan di Buka:
Quote:
Diubah oleh aguzblackrx 21-09-2024 09:52
dwi.haryana.982 dan 28 lainnya memberi reputasi
27
30K
1.6K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aguzblackrx
#165
Part 29
#pertarungan
Kedua makhluk yang dianggap satpam itu masuk ke dalam kamar dengan tangan dijulurkan seperti layaknya Jombie, mulut menganga dan mata melotot merah hendak menerkam kami, karena pergerakan yang sempit di dalam kamar , mau tidak mau terpaksa kami harus melawannya.
Sebuah tendangan ku coba arahkan pada salah satu makhluk itu. Kaki ku menendang ke arah bagian dada akan tetapi karena hasil belajar silat ku masih ecek ecek maka tendangan ku tidak berefek sama sekali.
Wajah menyeringai tersimpul dari sosok itu. Salah satunya tertawa terbahak bahak karena usahaku gagal total. Akupun kesal dan cukup khawatir.
"Pecuma anak manusia , usaha mu sia sia saja hahahaa" ucap sosok itu dengan suara cukup berat
Aku terkejut dengan usaha gagal ku, namun aku benar benar harus bisa melawan mereka agar tidak tertangkap oleh mereka.
Kali ini aku mundur beberapa langkah sejauh 3 meter tujuannya untuk menciptakan demege yang lebih besar . Kakiku membentuk sebuah kuda kuda tatapan ku tajam ke arah salah satu sosok yang jadi sasaran ku, dialah yang tadi tertawa. Satu tarikan napas menciptakan energi kekuatan yang kusalurkan pada kaki kanan lalu berlari beberapa langkah dan kemudian melakukan lompatan , kaki kanan ku arahkan tendangan sebisa dan sekuat keyakinan.
Bismillah
Satu kalimat suci dari Alquran meski pendek merupakan suatu ajaran suci yang diamalkan oleh umat Islam ku bacakan satu kali sesaat sebelum mendendang. Gerakan ku cukup cepat kali ini ku kerahkan seluruh tenaga ku dan tendangan ku mengenai ada sosok itu tanpa perlawanan.
"Debbb"
Sebuah hentakan yang cukup keras ku lancarkan begitu terasa mengenai daging dada makhluk itu. Degub jantung semakin kuat bergetar sepersekian detik kemudian
Bugggg sreeeeeeetttt
Tendangan ku ternyata berhasil membuat sosok itu terjengkang mundur mengenai temannnya yang sedari tadi ada di depan pintu. Sosok yang dianggap satpam itu jatuh terlutut bertumpu satu kaki dan tumitnya.
Merry terbelalak manakala aksiku mengenai sosok itu. mata ku melirik ke arah Hesty terlukis senyum simpul senang karena usahaku nampak berhasil. Namun
Sebuah senyuman menyeringai dari pada diri sosok yang mengaku satpam itu lalu dengan kepala menunduk dia tertawa lirih kemudian terbahak bahak mengangkat wajahnya ke atas, lalu bangkit berdiri menatap remeh pada ku.
Sosok temanya yang tadi sempat terkejut ikut senang dan tertawa karena usaha ku sepertinya kembali gagal.
"Haha sia sia saja anak manusia, usaha mu takkan berhasil, menyerahlah , tuan ku mungkin akan meng ....am ..." Ucap sosok itu terhenti matanya membesar sembari memegang dada nya yang tadi terkena serangan ku
"Aaarrgggh "
Sosok itu Mengerang kesakitan di area dada nya, tangannya memegang bagian dada dan matanya mendelik melotot menahan rasa sakit yang teramat .
Hoeekkkk
Sosok itu memuntahkan darah hitam dari mulutnya .darah yang menetes tercium aroma anyir dan busuk dalam bersamaan.
Merry terkejut dan menjerit ketakutan melihat sosok yang dia kira satpam kini jatuh terkapar.
"Kyaaaa "
Matanya ditutup oleh kedua tangannya, begitu pula Hesty dia membalikan wajahnya ke arah lain.
"Merry, ayo ikut dengan kami pulang makhluk itu bukan lah apa yang kau lihat" pekik ucap ku sembari menghampiri tubuh Merry yang nampak kurus.
Reaksi Merry menatap tajam ke arah ku setelah membuka tangan yang menutupi wajahnya.
"Bagas... Kau jahat, seperti dulu ninggalin aku demi dia. Pernikahan ku akan terus berlanjut besok. Lebih baik tinggalkan aku , cepat pergi " bentak Merry , mata nya berkaca kaca
Aku terkejut dengan pengakuannya , bagaimana bisa dia berucap pada sesuatu yang belum terjadi. Mata ku melirik ke arah Hesty dia nampak terkejut dan tak mengucapkan sepatah kata pun. Namun seketika wajah hesty berubah panik
"Awasss " pekik Hesty memperingatkan
"Arggghh. "
Sebuah belitan benda yang menyerupai bulu melingkar di leher ku. Lilitannya kuat dan menarik ku hingga terjengkang terjatuh ke lantai. Seketika aku merasakan hentakan tubuh ku lalu diseretnya.
Bugggg
Sebuah kaki mendarat di dadaku, ukurannya besar dan berat yang membuatku kesulitan bernapas dan terasa sesak.
"Arggghh "
Kini aku gantian merasa kesakitan, sosok yang tadi sudah terkapar seperti nya sudah kembali bangkit namun kini dia diganti oleh sosok temannya yang menyerang ku.
Hesty yang nampak terkejut mencoba menolong ku namun aku memberi kode agar tidak mendekat . Posisi ku yang sudah telentang dan ditahan oleh kaki sosok kera berbulu lebat itu mengancam Hesty agar tidak mendekat.
"Bocah tengik, punya nyali juga kau rupanya. Sebentar lagi tuan kami akan datang" ucap sosok yang menyerupai kera dengan bulu lebat
"Tolong, lepaskan teman ku ini, apa mau kalian?" Pekik Hesty
"Haha... Kalian terlambat, jika kalian menyerah sejak tadi dan tidak ikut campur urusan kami maka kalian akan selamat, tapi kalian akan mendapatkan hukuman yang setimpal oleh tuan kami" ucap sosok berwujud kera
Akupun tidak tinggal diam, mana kala ketika sosok kera itu lengah berbicara dengan Hesty lalu
Ku putar badan ku untuk melepaskan pijakan di dada ku, lalu menarik tali yang membelit leherku, lalu ku siapkan pukulan yang sudah sedari tadi dirapalkan dzikir.
Akupun bangkit dan melepaskan pijakan sosok kera tersbut lalu dengan sekuat tenaga ku arahkan kepalan tangan ku yang sedari tadi sudah terasa panas.
Sosok kera cukup terkejut dengan serangan dadakan ku yang melesat mengenai perut sosok kera itu.
Bugghh
Sosok itu terbelalak matanya tanpa sebelum menangkis serangan ku, lalu kaki kanan ku melayang dari arah samping dan mengenai tubuh sosok itu lalu jatuh tersungkur menimpa teman yang ada disebelahnya.
Aaaaarggghh
Sosok kera menjerit kesakitan, aku pun melompat ke arah belakang , tubuhku yang berwujud astral ternyata bisa melompat cukup jauh karena dari tadi terasa ringan.
"Ayo , mumpung ada kesempatan kita segera keluar " ajak ku pada Hesty lalu dibalas nya dengan anggukan
Lalu dipaksakan Merry oleh tangan Hesty begitu juga oleh ku. Jadi kini Merry diapit oleh ku dan juga Hesty disamping kiri dan kanan.
"Lepaskan, mau dibawa kemana aku?" Jerit Merry meronta
Namun karena sudah tidak banyak waktu sbelum sosok yang dianggap tuan oleh para satpam tadi yang kini sedang terkapar jatuh ke lantai menahan sakit , kamipun melewati mereka cukup mudah.
Setelah keluar kamar kami menuruni tangga dan menuju ruang tamu dan hendak keluar menuju pintu utama. Akan tetapi banyak pekerja yang masih membereskan acara resepsi namun tiba tiba saja muncul sosok berbulu lebat dan berpostur tinggi sedang bediri di halaman depan
Sosok itu bermata merah dengan suara geraman yang cukup mengerikan dan menakutkan. Entah bagaimana sosok itu hadir tanpa kami duga.
"Lepaskan calon istri ku, aaaaaaaaarrrrrrrrr" sosok itu berucap sambil menggeram
Anehnya Merry malah seperti bahagia melihat sosok yang diduga calon suaminya. Aku dan Hesty saling melirik dan cemas dengan ancaman yang ada dihadapan kami berdua.
Merry meronta dan lepas lalu berlari menghampiri sosok berbulu itu , seperti sepasang kekasih Merry memeluk erat sosok berbulu itu tanpa rasa takut, lalu sosok itu mencium bibir Merry dengan kucuran air liur yang menetes membasahi pipi dan juga baju Merry.
Pemandangan menjijikan itu sempat membuat ku mual begitu juga Hesty dia nampak mual dan seolah mau muntah mengeluarkan isi perutnya namun ditahannya. Oleh kedua tangannya .
"Siap... Ada apa dengan Merry ?" Gumam ku dalam hati lalu melirik ke arah Hesty yang sedari tadi nampak menahan mulutnya dan membelakangi ku.
"HES, bertahanlah " ucap ku mencoba menenangkan Hesty yang nampak kena mental itu
Setelah ciuman menjijikan itu berhenti sosok itu memegang erat tangan Merry yang mungil itu. Matanya menyorot tajam ke arah kami berdua.
Semua pegawai yang merapihkan dekorasi nampak mematung dan hanya melihat ke arah kami.
"Sekarang, kalian berdua akan aku hukum, bersiaplah "
Sebuah gerakan dari tangan berbulu memutar tangan dari bawah ke atas lalu ke tengah bagian dada lalu diarahkan nya pada ku dan juga Hesty. Seketika terjadilah angin besar lalu menghantam kami berdua . Tubuhku tepental menabrak pintu sedangkan Hesty jatuh masuk ke ruang tengah.
Aku yang terkapar menahan sakit di area dada dan perut menatap nanar ke arah sosok itu,
"Bagassss..,"
Suara terakan dari Hesty yang membuat ku terkejut , aku menduga ada sosok lain yang menangkap Hesty atau melukainya. Saat ku menoleh kearah ruang tamu yang aku masih terkapar tak kalah terkejut.
Aku tidak menemui sosok Hesty, di ruangan itu kosong tidak ada siapapun. Hesty bak hilang ditelan bumi karena aku yakin dia jatuh tidak jauh dari posisi ku yang ada di depan pintu.
Sosok yang ku kira sosok genderuwo itu tertawa terbahak bahak puas dengan kondisi kami.
Tatapan ku nanar melihat ke arah sosok berbulu itu lalu bangkit berdiri sambil memegang dada ku yang masih cukup sesak.
"Ini belum seberapa anak manusia, kau nampak punya nyali sepertinya " ucap sosok itu tertawa
"Kemana teman ku, apakah kau menyandra nya?" Pekik ku pada sosok genderuwo itu
"Hahaha... Dia pergi meninggalkan mu, malang sekali nasib mu"
Mendengar ucapan sosok itu aku rasa tidak mungkin Hesty pergi meninggalkan ku seorang diri, apalagi dia yang mengajaku.
"Apa? , Tidak mungkin . Kau pasti bercanda , cepat katakan kemana teman ku tadi"
Sosok itu hanya tertawa
"Ya, itu urusan mu anak manusia , kini kau yang akan menjadi hiasan di acara pesta ku besok, haha"
"Tidak, tidak akan ku biarkan kau membawa Merry teman ku, cepat lepaskan dia juga" pekik ku pada sosok itu dengan mengepalkan kedua tangan ku.
Lalu mataku melirik ke arah Merry yang nampak Tersenyum namun tatapanya kosong
"Merry sadarlah, kau dalam pengaruh mahluk itu, " ucap ku berteriak
Ucpanku sepertinya tidak diindahkan karena tidak ada reaksi dari Merry. Sosok yang memegang erat tangan Merry hanya tertawa mengejek ku
"Percuma saja, sekarang kau akan ku hukum "
"Hekkkkkk arggghh"
Leherku tiba tiba saja tercekik oleh sesuatu yang tidak terlihat (telekinesis) . Tubuhku kaku diangkat setinggi 2 meter lalu dilemparkannya hingga jatuh dan terguling guling di area parkir.
Tubuhku terasa sakit , kondisi ini aku benar benar tidak sedang beruntung apalagi Anna tidak dapat membantu ku karena dia memiliki ikrar sumpah yang tidak bisa dia langgar.
Sosok genderuwo itu lalu berjalan ke arah ku dan membiarkan Merry berdiri sendiri . Langkahnya yang cukup berat membuat pijakan ku bergetar seperti gempa kecil.
Blebb bllebbb blebb
Langkah kaki yang mengarah pada ku cukup pelan tapi begerakannya begitu menakutkan . Baru kali ini aku berhadapan dengan mahluk yang bernama genderuwo. Aku yakin dia mahluk berilmu tinggi.
Mengingat pertarungan di alam jin di danau tempo hari aku teringat dengan Ki Ageng Panji , sosok leluhurku yang pernah menolong ku.
"Ki Ageng Panji , tolong aku" ucpanku dalam hati
Akan tetapi sudah beberapa detik tidak ada reaksi apapun. Aku mulai panik bagaimana melawan Sosok yang cukup kuat ini.
Tidak ada cara lain selain dengan melawan sosok genderuwo itu. Rasa takut adalah yang pertama yang ku lawan ,akupun mencoba menjajal ilmu beladiri yang dipelajari di sekolah. Aku melakukan gerakan menyatukan kedua telapak tangan di dada dengan menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan , tiba tiba saja tubuhku terasa hangat , sosok genderuwo semakin dekat lalu aku memhunuskan tangan kiri ku ke arah sosok genderuwo.
Meski ragu tapi tidak ada pilihan lain.
Sebuah ayunan tangan dari sosok itu membuat ku harus berkelit melompat ke belakang , disusul kembali ayunan tangan lainnya apalagi kuku kuku panjang yang tadi tidak ada sepeti bilah pisau yang siap mencabik cabik. Untungnya tubuh ku yang terasa ringan mampu menghindari dengan mudah.
"Haha... Ayo lawan aku bocah tengik, bukannya kau tadi berani melawan kedua ponggawa ku? Keluarkan kemampuan mu bocah tengik hahaaaa" ucap sosok itu
Dari posisi ku yang agak jauh dan luas parkiran yang cukup untuk melakukan lompatan dan pukulan, akupun menyalurkan Tenaga pada kaki dan tangan ku, satu tarikan napas rapalan dzikir aku bacakan dengan penuh harapan agar misi ini selesai. Lalu aku berlari beberapa meter hingga disatu titik aku melompat dan mengarah kepalan tangan kanan ku yang terasa oleh tenaga .
"Bismillah ....."
Satu pukulan ku lancarkan, sosok genderuwo nampak tersenyum kecut melihat ke atas dimana aku melayang sejuah 4 meteran.
Sssshhhhh.... dep
Dengan mudah , tangan besar dan berbulu menahan serangan ku , akan tetapi rencana kedua yang telah aku siapkan berupa tendangan yang lancarkan pada sosok itu mengenai mulut sosok itu yang tadinya tertawa.
Brugg
Tendangan ku akhirnya mengenai wajah sosok genderuwo, tubuh besarnya bergerak mundur dua langkah dan kedua tangannya memegang wajahnya .
Aku yang bersalto kembali ke posisi berdiri ku. Melihat kesempatan kedua akupun kembali berlari hendak menyeberang.
Hiaaaatt bugghhh
Sebuah tendangan kembali aku lancarkan, kali ini sosok itu jatuh terjungkal menimpa kursi -kursi yang ada di dalam tenda. Kau tersenyum senang usaha ku kini berhasil.
Saat melirik Merry dia nampaknya gusar terhadap ku lalu memandang ke arah sosok genderuwo itu dengan tatapan Kasihan, lalu menghampiri sosok itu. Dia seperti menangisi sosok genderuwo terlihat dari matanya yang berkaca-kaca.
Sosok genderuwo menggeram kesal lalu bangkit tak memperdulikan Merry yang menghampirinya.
"Kurang ajar anak manusia, terimalah ini atas perbuatan mu " pekik sosok genderuwo itu lalu melemparkan kursi kursi ke arah ku
Namun
Crash crash crash
Sebuah kilatan cahaya datang memotong kursi kursi yang melayang dan jatuh tepat didahapan ku. Sebuah sinar itu menancap di depan ku berjarak 2 meter.
Sosok genderuwo terbelalak tidak percaya serangan nya gagal. Cahaya biru itu berubah menjadi sebuah pedang yang memndarkaj cahaya.
"Kakang, gunakan pedang itu dan lawanlah" ucap suara yang ku kenal sepeti suara Anna namun kali ini sosoknya tidak aku jumpai.
"Cepatlah kakang, kau tidak boleh berlama lama di alam jin jiwa mu bisa terserap dan tidak bisa kembali" sambung suara Anna dari arah yang tidak diketahui
"Terima kasih Anna, "
Lalu aku mengambil pedang itu dengan berlari lalu sebuah sabetan dari jarak jauh membuat gelombang kejut yang mengempaskan sosok genderuwo
Aaaaaarrrrrrrrrrrhh
(Bersambung)
#pertarungan
Kedua makhluk yang dianggap satpam itu masuk ke dalam kamar dengan tangan dijulurkan seperti layaknya Jombie, mulut menganga dan mata melotot merah hendak menerkam kami, karena pergerakan yang sempit di dalam kamar , mau tidak mau terpaksa kami harus melawannya.
Sebuah tendangan ku coba arahkan pada salah satu makhluk itu. Kaki ku menendang ke arah bagian dada akan tetapi karena hasil belajar silat ku masih ecek ecek maka tendangan ku tidak berefek sama sekali.
Wajah menyeringai tersimpul dari sosok itu. Salah satunya tertawa terbahak bahak karena usahaku gagal total. Akupun kesal dan cukup khawatir.
"Pecuma anak manusia , usaha mu sia sia saja hahahaa" ucap sosok itu dengan suara cukup berat
Aku terkejut dengan usaha gagal ku, namun aku benar benar harus bisa melawan mereka agar tidak tertangkap oleh mereka.
Kali ini aku mundur beberapa langkah sejauh 3 meter tujuannya untuk menciptakan demege yang lebih besar . Kakiku membentuk sebuah kuda kuda tatapan ku tajam ke arah salah satu sosok yang jadi sasaran ku, dialah yang tadi tertawa. Satu tarikan napas menciptakan energi kekuatan yang kusalurkan pada kaki kanan lalu berlari beberapa langkah dan kemudian melakukan lompatan , kaki kanan ku arahkan tendangan sebisa dan sekuat keyakinan.
Bismillah
Satu kalimat suci dari Alquran meski pendek merupakan suatu ajaran suci yang diamalkan oleh umat Islam ku bacakan satu kali sesaat sebelum mendendang. Gerakan ku cukup cepat kali ini ku kerahkan seluruh tenaga ku dan tendangan ku mengenai ada sosok itu tanpa perlawanan.
"Debbb"
Sebuah hentakan yang cukup keras ku lancarkan begitu terasa mengenai daging dada makhluk itu. Degub jantung semakin kuat bergetar sepersekian detik kemudian
Bugggg sreeeeeeetttt
Tendangan ku ternyata berhasil membuat sosok itu terjengkang mundur mengenai temannnya yang sedari tadi ada di depan pintu. Sosok yang dianggap satpam itu jatuh terlutut bertumpu satu kaki dan tumitnya.
Merry terbelalak manakala aksiku mengenai sosok itu. mata ku melirik ke arah Hesty terlukis senyum simpul senang karena usahaku nampak berhasil. Namun
Sebuah senyuman menyeringai dari pada diri sosok yang mengaku satpam itu lalu dengan kepala menunduk dia tertawa lirih kemudian terbahak bahak mengangkat wajahnya ke atas, lalu bangkit berdiri menatap remeh pada ku.
Sosok temanya yang tadi sempat terkejut ikut senang dan tertawa karena usaha ku sepertinya kembali gagal.
"Haha sia sia saja anak manusia, usaha mu takkan berhasil, menyerahlah , tuan ku mungkin akan meng ....am ..." Ucap sosok itu terhenti matanya membesar sembari memegang dada nya yang tadi terkena serangan ku
"Aaarrgggh "
Sosok itu Mengerang kesakitan di area dada nya, tangannya memegang bagian dada dan matanya mendelik melotot menahan rasa sakit yang teramat .
Hoeekkkk
Sosok itu memuntahkan darah hitam dari mulutnya .darah yang menetes tercium aroma anyir dan busuk dalam bersamaan.
Merry terkejut dan menjerit ketakutan melihat sosok yang dia kira satpam kini jatuh terkapar.
"Kyaaaa "
Matanya ditutup oleh kedua tangannya, begitu pula Hesty dia membalikan wajahnya ke arah lain.
"Merry, ayo ikut dengan kami pulang makhluk itu bukan lah apa yang kau lihat" pekik ucap ku sembari menghampiri tubuh Merry yang nampak kurus.
Reaksi Merry menatap tajam ke arah ku setelah membuka tangan yang menutupi wajahnya.
"Bagas... Kau jahat, seperti dulu ninggalin aku demi dia. Pernikahan ku akan terus berlanjut besok. Lebih baik tinggalkan aku , cepat pergi " bentak Merry , mata nya berkaca kaca
Aku terkejut dengan pengakuannya , bagaimana bisa dia berucap pada sesuatu yang belum terjadi. Mata ku melirik ke arah Hesty dia nampak terkejut dan tak mengucapkan sepatah kata pun. Namun seketika wajah hesty berubah panik
"Awasss " pekik Hesty memperingatkan
"Arggghh. "
Sebuah belitan benda yang menyerupai bulu melingkar di leher ku. Lilitannya kuat dan menarik ku hingga terjengkang terjatuh ke lantai. Seketika aku merasakan hentakan tubuh ku lalu diseretnya.
Bugggg
Sebuah kaki mendarat di dadaku, ukurannya besar dan berat yang membuatku kesulitan bernapas dan terasa sesak.
"Arggghh "
Kini aku gantian merasa kesakitan, sosok yang tadi sudah terkapar seperti nya sudah kembali bangkit namun kini dia diganti oleh sosok temannya yang menyerang ku.
Hesty yang nampak terkejut mencoba menolong ku namun aku memberi kode agar tidak mendekat . Posisi ku yang sudah telentang dan ditahan oleh kaki sosok kera berbulu lebat itu mengancam Hesty agar tidak mendekat.
"Bocah tengik, punya nyali juga kau rupanya. Sebentar lagi tuan kami akan datang" ucap sosok yang menyerupai kera dengan bulu lebat
"Tolong, lepaskan teman ku ini, apa mau kalian?" Pekik Hesty
"Haha... Kalian terlambat, jika kalian menyerah sejak tadi dan tidak ikut campur urusan kami maka kalian akan selamat, tapi kalian akan mendapatkan hukuman yang setimpal oleh tuan kami" ucap sosok berwujud kera
Akupun tidak tinggal diam, mana kala ketika sosok kera itu lengah berbicara dengan Hesty lalu
Ku putar badan ku untuk melepaskan pijakan di dada ku, lalu menarik tali yang membelit leherku, lalu ku siapkan pukulan yang sudah sedari tadi dirapalkan dzikir.
Akupun bangkit dan melepaskan pijakan sosok kera tersbut lalu dengan sekuat tenaga ku arahkan kepalan tangan ku yang sedari tadi sudah terasa panas.
Sosok kera cukup terkejut dengan serangan dadakan ku yang melesat mengenai perut sosok kera itu.
Bugghh
Sosok itu terbelalak matanya tanpa sebelum menangkis serangan ku, lalu kaki kanan ku melayang dari arah samping dan mengenai tubuh sosok itu lalu jatuh tersungkur menimpa teman yang ada disebelahnya.
Aaaaarggghh
Sosok kera menjerit kesakitan, aku pun melompat ke arah belakang , tubuhku yang berwujud astral ternyata bisa melompat cukup jauh karena dari tadi terasa ringan.
"Ayo , mumpung ada kesempatan kita segera keluar " ajak ku pada Hesty lalu dibalas nya dengan anggukan
Lalu dipaksakan Merry oleh tangan Hesty begitu juga oleh ku. Jadi kini Merry diapit oleh ku dan juga Hesty disamping kiri dan kanan.
"Lepaskan, mau dibawa kemana aku?" Jerit Merry meronta
Namun karena sudah tidak banyak waktu sbelum sosok yang dianggap tuan oleh para satpam tadi yang kini sedang terkapar jatuh ke lantai menahan sakit , kamipun melewati mereka cukup mudah.
Setelah keluar kamar kami menuruni tangga dan menuju ruang tamu dan hendak keluar menuju pintu utama. Akan tetapi banyak pekerja yang masih membereskan acara resepsi namun tiba tiba saja muncul sosok berbulu lebat dan berpostur tinggi sedang bediri di halaman depan
Sosok itu bermata merah dengan suara geraman yang cukup mengerikan dan menakutkan. Entah bagaimana sosok itu hadir tanpa kami duga.
"Lepaskan calon istri ku, aaaaaaaaarrrrrrrrr" sosok itu berucap sambil menggeram
Anehnya Merry malah seperti bahagia melihat sosok yang diduga calon suaminya. Aku dan Hesty saling melirik dan cemas dengan ancaman yang ada dihadapan kami berdua.
Merry meronta dan lepas lalu berlari menghampiri sosok berbulu itu , seperti sepasang kekasih Merry memeluk erat sosok berbulu itu tanpa rasa takut, lalu sosok itu mencium bibir Merry dengan kucuran air liur yang menetes membasahi pipi dan juga baju Merry.
Pemandangan menjijikan itu sempat membuat ku mual begitu juga Hesty dia nampak mual dan seolah mau muntah mengeluarkan isi perutnya namun ditahannya. Oleh kedua tangannya .
"Siap... Ada apa dengan Merry ?" Gumam ku dalam hati lalu melirik ke arah Hesty yang sedari tadi nampak menahan mulutnya dan membelakangi ku.
"HES, bertahanlah " ucap ku mencoba menenangkan Hesty yang nampak kena mental itu
Setelah ciuman menjijikan itu berhenti sosok itu memegang erat tangan Merry yang mungil itu. Matanya menyorot tajam ke arah kami berdua.
Semua pegawai yang merapihkan dekorasi nampak mematung dan hanya melihat ke arah kami.
"Sekarang, kalian berdua akan aku hukum, bersiaplah "
Sebuah gerakan dari tangan berbulu memutar tangan dari bawah ke atas lalu ke tengah bagian dada lalu diarahkan nya pada ku dan juga Hesty. Seketika terjadilah angin besar lalu menghantam kami berdua . Tubuhku tepental menabrak pintu sedangkan Hesty jatuh masuk ke ruang tengah.
Aku yang terkapar menahan sakit di area dada dan perut menatap nanar ke arah sosok itu,
"Bagassss..,"
Suara terakan dari Hesty yang membuat ku terkejut , aku menduga ada sosok lain yang menangkap Hesty atau melukainya. Saat ku menoleh kearah ruang tamu yang aku masih terkapar tak kalah terkejut.
Aku tidak menemui sosok Hesty, di ruangan itu kosong tidak ada siapapun. Hesty bak hilang ditelan bumi karena aku yakin dia jatuh tidak jauh dari posisi ku yang ada di depan pintu.
Sosok yang ku kira sosok genderuwo itu tertawa terbahak bahak puas dengan kondisi kami.
Tatapan ku nanar melihat ke arah sosok berbulu itu lalu bangkit berdiri sambil memegang dada ku yang masih cukup sesak.
"Ini belum seberapa anak manusia, kau nampak punya nyali sepertinya " ucap sosok itu tertawa
"Kemana teman ku, apakah kau menyandra nya?" Pekik ku pada sosok genderuwo itu
"Hahaha... Dia pergi meninggalkan mu, malang sekali nasib mu"
Mendengar ucapan sosok itu aku rasa tidak mungkin Hesty pergi meninggalkan ku seorang diri, apalagi dia yang mengajaku.
"Apa? , Tidak mungkin . Kau pasti bercanda , cepat katakan kemana teman ku tadi"
Sosok itu hanya tertawa
"Ya, itu urusan mu anak manusia , kini kau yang akan menjadi hiasan di acara pesta ku besok, haha"
"Tidak, tidak akan ku biarkan kau membawa Merry teman ku, cepat lepaskan dia juga" pekik ku pada sosok itu dengan mengepalkan kedua tangan ku.
Lalu mataku melirik ke arah Merry yang nampak Tersenyum namun tatapanya kosong
"Merry sadarlah, kau dalam pengaruh mahluk itu, " ucap ku berteriak
Ucpanku sepertinya tidak diindahkan karena tidak ada reaksi dari Merry. Sosok yang memegang erat tangan Merry hanya tertawa mengejek ku
"Percuma saja, sekarang kau akan ku hukum "
"Hekkkkkk arggghh"
Leherku tiba tiba saja tercekik oleh sesuatu yang tidak terlihat (telekinesis) . Tubuhku kaku diangkat setinggi 2 meter lalu dilemparkannya hingga jatuh dan terguling guling di area parkir.
Tubuhku terasa sakit , kondisi ini aku benar benar tidak sedang beruntung apalagi Anna tidak dapat membantu ku karena dia memiliki ikrar sumpah yang tidak bisa dia langgar.
Sosok genderuwo itu lalu berjalan ke arah ku dan membiarkan Merry berdiri sendiri . Langkahnya yang cukup berat membuat pijakan ku bergetar seperti gempa kecil.
Blebb bllebbb blebb
Langkah kaki yang mengarah pada ku cukup pelan tapi begerakannya begitu menakutkan . Baru kali ini aku berhadapan dengan mahluk yang bernama genderuwo. Aku yakin dia mahluk berilmu tinggi.
Mengingat pertarungan di alam jin di danau tempo hari aku teringat dengan Ki Ageng Panji , sosok leluhurku yang pernah menolong ku.
"Ki Ageng Panji , tolong aku" ucpanku dalam hati
Akan tetapi sudah beberapa detik tidak ada reaksi apapun. Aku mulai panik bagaimana melawan Sosok yang cukup kuat ini.
Tidak ada cara lain selain dengan melawan sosok genderuwo itu. Rasa takut adalah yang pertama yang ku lawan ,akupun mencoba menjajal ilmu beladiri yang dipelajari di sekolah. Aku melakukan gerakan menyatukan kedua telapak tangan di dada dengan menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan , tiba tiba saja tubuhku terasa hangat , sosok genderuwo semakin dekat lalu aku memhunuskan tangan kiri ku ke arah sosok genderuwo.
Meski ragu tapi tidak ada pilihan lain.
Sebuah ayunan tangan dari sosok itu membuat ku harus berkelit melompat ke belakang , disusul kembali ayunan tangan lainnya apalagi kuku kuku panjang yang tadi tidak ada sepeti bilah pisau yang siap mencabik cabik. Untungnya tubuh ku yang terasa ringan mampu menghindari dengan mudah.
"Haha... Ayo lawan aku bocah tengik, bukannya kau tadi berani melawan kedua ponggawa ku? Keluarkan kemampuan mu bocah tengik hahaaaa" ucap sosok itu
Dari posisi ku yang agak jauh dan luas parkiran yang cukup untuk melakukan lompatan dan pukulan, akupun menyalurkan Tenaga pada kaki dan tangan ku, satu tarikan napas rapalan dzikir aku bacakan dengan penuh harapan agar misi ini selesai. Lalu aku berlari beberapa meter hingga disatu titik aku melompat dan mengarah kepalan tangan kanan ku yang terasa oleh tenaga .
"Bismillah ....."
Satu pukulan ku lancarkan, sosok genderuwo nampak tersenyum kecut melihat ke atas dimana aku melayang sejuah 4 meteran.
Sssshhhhh.... dep
Dengan mudah , tangan besar dan berbulu menahan serangan ku , akan tetapi rencana kedua yang telah aku siapkan berupa tendangan yang lancarkan pada sosok itu mengenai mulut sosok itu yang tadinya tertawa.
Brugg
Tendangan ku akhirnya mengenai wajah sosok genderuwo, tubuh besarnya bergerak mundur dua langkah dan kedua tangannya memegang wajahnya .
Aku yang bersalto kembali ke posisi berdiri ku. Melihat kesempatan kedua akupun kembali berlari hendak menyeberang.
Hiaaaatt bugghhh
Sebuah tendangan kembali aku lancarkan, kali ini sosok itu jatuh terjungkal menimpa kursi -kursi yang ada di dalam tenda. Kau tersenyum senang usaha ku kini berhasil.
Saat melirik Merry dia nampaknya gusar terhadap ku lalu memandang ke arah sosok genderuwo itu dengan tatapan Kasihan, lalu menghampiri sosok itu. Dia seperti menangisi sosok genderuwo terlihat dari matanya yang berkaca-kaca.
Sosok genderuwo menggeram kesal lalu bangkit tak memperdulikan Merry yang menghampirinya.
"Kurang ajar anak manusia, terimalah ini atas perbuatan mu " pekik sosok genderuwo itu lalu melemparkan kursi kursi ke arah ku
Namun
Crash crash crash
Sebuah kilatan cahaya datang memotong kursi kursi yang melayang dan jatuh tepat didahapan ku. Sebuah sinar itu menancap di depan ku berjarak 2 meter.
Sosok genderuwo terbelalak tidak percaya serangan nya gagal. Cahaya biru itu berubah menjadi sebuah pedang yang memndarkaj cahaya.
"Kakang, gunakan pedang itu dan lawanlah" ucap suara yang ku kenal sepeti suara Anna namun kali ini sosoknya tidak aku jumpai.
"Cepatlah kakang, kau tidak boleh berlama lama di alam jin jiwa mu bisa terserap dan tidak bisa kembali" sambung suara Anna dari arah yang tidak diketahui
"Terima kasih Anna, "
Lalu aku mengambil pedang itu dengan berlari lalu sebuah sabetan dari jarak jauh membuat gelombang kejut yang mengempaskan sosok genderuwo
Aaaaaarrrrrrrrrrrhh
(Bersambung)
Diubah oleh aguzblackrx 17-05-2024 09:22
Araka dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Tutup

