- Beranda
- Stories from the Heart
TOLONG AKU HANTU!
...
TS
adamtzero
TOLONG AKU HANTU!
Quote:

"Hantu Gasimah" cr: pickpik
Sinop
Quote:
Nanti malah spoiler, baca aja kalau minat...

INDEX
Quote:
Spoiler for Arc Perkenalan:
Spoiler for Arc Lima Elit:
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
Spoiler for Arc Gasimah:
Spoiler for Arc ???:
Note:
- Cerita ini fiksi 100 %
- Tidak ada maksud tertentu, kalau ada kesamaan hanya kebetulan semata.
- Enjoy
- Kamis
Diubah oleh adamtzero 14-09-2024 20:03
wikanrahma12070 dan 5 lainnya memberi reputasi
4
5.4K
Kutip
189
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
adamtzero
#35
18
Quote:
Tanpa diduga sama sekali oleh Pandu dan juga Ardit, seorang akun besar pun tetap memakai jasa Kuncen Dj sebagai pawang dan juga pemandu nanti ketika melakukan penelusuran. Mungkin setelah video viral itu Kuncen Dj juga ikut besar namanya. Namun Pandu masih belum bisa menerima dengan lapang dada, apalagi ketika ingin menghubunginya harus melalui manajemen, menurutnya itu sudah di luar logika sederhananya.
“Kalian sudah saling kenal?” ucap manajer Bosman bersaudara.
“Iya, mereka ini kasarnya anak didik saya. Lihat kan hasilnya sekarang?” dengan nada bicara yang tinggi, sedangkan Ardit dan Pandu yang mendengarkannya terasa sakit di perut, seperti ingin muntah.
“Bosmannya mana?” tanya Kuncen Dj.
“Lagi siap-siap di mobil, ada beberapa ritual sih sebelum mereka melakukan penelusuran,” ungkap manajer Bosman bersaudara. Lalu izin untuk meninggalkan mereka di sana.
Kuncen Dj memalingkan wajahnya seperti sedang mencari seseorang, padahal Ardit dan Pandu sudah berdiri tepat dihadapannya. Di sini Pandu menyadari bahwa Kuncen Dj juga tahu tentang sosok Gasimah, banyak pertanyaan yang ingin ditanyai. Akhirnya Pandu melabrak Kuncen Dj dengan memberikan beberapa pertanyaan, termasuk dengan kejadian yang sebenarnya terjadi. Karena di video itu setelah Pandu pingsan rekamannya terhenti.
“Hm, emang Ardit enggak cerita?” Kuncen Dj malah membalikan pertanyaannya.
“Lah, kan situ yang lari paling kenceng, ninggalin saya,” bela Ardit.
“Iya, benar juga,” sambil tertawa di saat situasinya sedang tidak memungkinkan untuk melakukan bercandaan. “oke kalau begitu jadi---,” tiba-tiba suara sorakan terdengar keras ketika pintu mobil dibuka.
“LETS GO!” Rangga keluar dengan pakaiannya yang aneh dengan model rambut yang tidak biasa, diikuti oleh Aldi dengan penampilan yang lebih normal.
“Eh jadi ritualnya itu dandan?” ucap Pandu dalam hati.
Semuanya sudah berkumpul, Kuncen Dj berjanji akan menceritakannya setelah penelusuran ini berakhir. Karena kesuksesannya sekarang juga ada andilnya dengan ajakan dari Pandu dan juga Ardit. Jika ia tidak menerima tawarannya, maka hasil besar itu akan jatuh ke tangan orang lain. Sebelum penelusuran dimulai seperti biasa Kuncen DJ akan menjelaskan beberapa hal terkait tempat yang akan dijadikan ajang penelusuran. Terutama hal-hal yang terlarang dilakukan agar tidak terjadi kejadian serupa pada saat Pandu melakukan uji nyali di ruang eksekusi, wajah Pandu menjadi merah karena malu hal yang diingat adalah ketika dirinya pingsan.
Penelusuran tidak dibagi menjadi 2 tim, berarti baik tim Pandu dan juga Bosman bersaudara akan melakukannya bersama-sama. Tetap dengan penjagaan Kuncen DJ dibelakang kamera. Berbeda dengan persiapan Ardit dengan menggunakan satu kamera beserta lampunya yang terpasang, lalu mikropon sederhana asal suaranya dapat terdengar jelas. Di satu sisi Bosman bersaudara menggunakan alat-alat yang lebih memadai dengan berbagai sudut pandang kamera serta lampu besar yang malah membuat kesan seram hilang karena sinar yang hampir menyinari bagian gelap.
Bagian pertama yang mereka datangi adalah sebuah lorong panjang yang berada di bagian samping bangunan rumah sakit. Lorong ini menyambung ke segala arah, bisa disebut bahwa jalan yang mereka telusuri sekarang dapat membawa mereka kemanapun. Banyak ruangan di sebelah kiri dan kanan yang gelap, beberapa bagian masih terlihat terawatt, hanya debu-debu yang menyelimuti mereka dikegelapan malam. Rangga Bosman mulai menjelaskan tempatnya dengan suara yang keras dan lantang, sementara Pandu hanya mengiyakan saja. Kadang Pandu ikut memberi tahu saat jaraknya dengan Bosman agak sedikit jauh agar suara keras rekannya itu tidak membuat video bocor.
“Kayak begini enggak efektif,” ujar Ardit kepada Pandu.
“Ya mau gimana lagi, kita tau dirilah,” untung saja perekaman dihentikan dahulu, agar tidak menyusahkan ketika direvisi.
Bosman bersaudara dan tim Pandu masih berada di lorong, Rangga memberi arahan harus melalui jalan mana. Ketika sedang ingin memasuki sebuah Gedung, tiba-tiba Aldi berhenti melangkah. Kepalanya menoleh dengan cepat ke salah satu arah, sebuah ruangan kecil berada jauh di sana. Tetapi Aldi tidak mengucapkan satu patah pun, Rangga meminta tim kameranya untuk menyoroti arah yang ditunjuk.
“Ada apa?!” sahut Rangga kepada Aldi.
“Hm, ada sesuatu,” setelah mengucapkan itu, ada orang dari tim kamera Bosman berteriak melihat sosok.
“Cepet-cepet! Kita kesana!” Rangga berlarian diikuti oleh tim kameranya, sedangkan Aldi berjalan santai bersama sang manajer.
Pandu dan Ardit ditinggal dibelakang, karena Kuncen Dj juga ternyata lebih senang mengikuti Bosman bersaudara. Lalu sebuah kerikil kecil entah dari mana mengenai kepala Ardit.
“Duh, ada yang lempar batu ke kepala gue!” ucap Ardit.
“Ah masa?” tanya Pandu.
“Iya dari arah---,” betapa terkejutnya ketika kamera diarahkan, muncul sosok wanita berambut panjang berdiri tegak. Memakai gaun putih yang melayang di atas tanah, sosok itu tergambar jelas dari kamera milik Ardit. “kun….,” bulu kuduknya berdiri semua.
Memanfaatkan momen ini, Pandu mulai menjelaskan sosok yang dimaksud dengan mencoba perlahan mendekati sosok itu. Ardit sempat melarangnya, tetapi Pandu memberikan tanda bahwa semua akan baik-baik saja.
“Oke sekarang gue coba deketin sosoknya,” Pandu begitu tenang seakan sosok itu sama sekali tidak membuatnya takut.
“Jangan-jangan,” Ardit dengan cepatnya segera menyadari bahwa sosok itu mungkin adalah sosok yang sudah dikenali olehnya.
Di tempat lainnya, ketika Bosman bersaudara sudah sampai di sebuah ruangan. Sosok yang tadi dilihat oleh salah satu orang di tim kamera menghilang tanpa jejak. Rangga mencoba membuka ruangan itu, tetapi hanya ada beberapa ruangan yang boleh dibuka, sisanya dibiarkan begitu saja agar tidak disalahgunakan oleh orang-orang. Aldi merasakan sesuatu dibelakang, benar saja ia melihat dengan jelas sosok perempuan berambut panjang yang sedang didekati oleh Pandu.
“Wah dia hilang!” ucap Pandu karena memang sosok didepannya itu menghilang setelah diketahui keberadaannya oleh Aldi.
“Kita stop dulu,” ucap Ardit lalu mendekati Pandu. “itu tadi…,” Pandu mengangguk. Malam masih sangat panjang, entah apa tujuan Gasimah melakukan ini.
“Kalian sudah saling kenal?” ucap manajer Bosman bersaudara.
“Iya, mereka ini kasarnya anak didik saya. Lihat kan hasilnya sekarang?” dengan nada bicara yang tinggi, sedangkan Ardit dan Pandu yang mendengarkannya terasa sakit di perut, seperti ingin muntah.
“Bosmannya mana?” tanya Kuncen Dj.
“Lagi siap-siap di mobil, ada beberapa ritual sih sebelum mereka melakukan penelusuran,” ungkap manajer Bosman bersaudara. Lalu izin untuk meninggalkan mereka di sana.
Kuncen Dj memalingkan wajahnya seperti sedang mencari seseorang, padahal Ardit dan Pandu sudah berdiri tepat dihadapannya. Di sini Pandu menyadari bahwa Kuncen Dj juga tahu tentang sosok Gasimah, banyak pertanyaan yang ingin ditanyai. Akhirnya Pandu melabrak Kuncen Dj dengan memberikan beberapa pertanyaan, termasuk dengan kejadian yang sebenarnya terjadi. Karena di video itu setelah Pandu pingsan rekamannya terhenti.
“Hm, emang Ardit enggak cerita?” Kuncen Dj malah membalikan pertanyaannya.
“Lah, kan situ yang lari paling kenceng, ninggalin saya,” bela Ardit.
“Iya, benar juga,” sambil tertawa di saat situasinya sedang tidak memungkinkan untuk melakukan bercandaan. “oke kalau begitu jadi---,” tiba-tiba suara sorakan terdengar keras ketika pintu mobil dibuka.
“LETS GO!” Rangga keluar dengan pakaiannya yang aneh dengan model rambut yang tidak biasa, diikuti oleh Aldi dengan penampilan yang lebih normal.
“Eh jadi ritualnya itu dandan?” ucap Pandu dalam hati.
Semuanya sudah berkumpul, Kuncen Dj berjanji akan menceritakannya setelah penelusuran ini berakhir. Karena kesuksesannya sekarang juga ada andilnya dengan ajakan dari Pandu dan juga Ardit. Jika ia tidak menerima tawarannya, maka hasil besar itu akan jatuh ke tangan orang lain. Sebelum penelusuran dimulai seperti biasa Kuncen DJ akan menjelaskan beberapa hal terkait tempat yang akan dijadikan ajang penelusuran. Terutama hal-hal yang terlarang dilakukan agar tidak terjadi kejadian serupa pada saat Pandu melakukan uji nyali di ruang eksekusi, wajah Pandu menjadi merah karena malu hal yang diingat adalah ketika dirinya pingsan.
Penelusuran tidak dibagi menjadi 2 tim, berarti baik tim Pandu dan juga Bosman bersaudara akan melakukannya bersama-sama. Tetap dengan penjagaan Kuncen DJ dibelakang kamera. Berbeda dengan persiapan Ardit dengan menggunakan satu kamera beserta lampunya yang terpasang, lalu mikropon sederhana asal suaranya dapat terdengar jelas. Di satu sisi Bosman bersaudara menggunakan alat-alat yang lebih memadai dengan berbagai sudut pandang kamera serta lampu besar yang malah membuat kesan seram hilang karena sinar yang hampir menyinari bagian gelap.
Bagian pertama yang mereka datangi adalah sebuah lorong panjang yang berada di bagian samping bangunan rumah sakit. Lorong ini menyambung ke segala arah, bisa disebut bahwa jalan yang mereka telusuri sekarang dapat membawa mereka kemanapun. Banyak ruangan di sebelah kiri dan kanan yang gelap, beberapa bagian masih terlihat terawatt, hanya debu-debu yang menyelimuti mereka dikegelapan malam. Rangga Bosman mulai menjelaskan tempatnya dengan suara yang keras dan lantang, sementara Pandu hanya mengiyakan saja. Kadang Pandu ikut memberi tahu saat jaraknya dengan Bosman agak sedikit jauh agar suara keras rekannya itu tidak membuat video bocor.
“Kayak begini enggak efektif,” ujar Ardit kepada Pandu.
“Ya mau gimana lagi, kita tau dirilah,” untung saja perekaman dihentikan dahulu, agar tidak menyusahkan ketika direvisi.
Bosman bersaudara dan tim Pandu masih berada di lorong, Rangga memberi arahan harus melalui jalan mana. Ketika sedang ingin memasuki sebuah Gedung, tiba-tiba Aldi berhenti melangkah. Kepalanya menoleh dengan cepat ke salah satu arah, sebuah ruangan kecil berada jauh di sana. Tetapi Aldi tidak mengucapkan satu patah pun, Rangga meminta tim kameranya untuk menyoroti arah yang ditunjuk.
“Ada apa?!” sahut Rangga kepada Aldi.
“Hm, ada sesuatu,” setelah mengucapkan itu, ada orang dari tim kamera Bosman berteriak melihat sosok.
“Cepet-cepet! Kita kesana!” Rangga berlarian diikuti oleh tim kameranya, sedangkan Aldi berjalan santai bersama sang manajer.
Pandu dan Ardit ditinggal dibelakang, karena Kuncen Dj juga ternyata lebih senang mengikuti Bosman bersaudara. Lalu sebuah kerikil kecil entah dari mana mengenai kepala Ardit.
“Duh, ada yang lempar batu ke kepala gue!” ucap Ardit.
“Ah masa?” tanya Pandu.
“Iya dari arah---,” betapa terkejutnya ketika kamera diarahkan, muncul sosok wanita berambut panjang berdiri tegak. Memakai gaun putih yang melayang di atas tanah, sosok itu tergambar jelas dari kamera milik Ardit. “kun….,” bulu kuduknya berdiri semua.
Memanfaatkan momen ini, Pandu mulai menjelaskan sosok yang dimaksud dengan mencoba perlahan mendekati sosok itu. Ardit sempat melarangnya, tetapi Pandu memberikan tanda bahwa semua akan baik-baik saja.
“Oke sekarang gue coba deketin sosoknya,” Pandu begitu tenang seakan sosok itu sama sekali tidak membuatnya takut.
“Jangan-jangan,” Ardit dengan cepatnya segera menyadari bahwa sosok itu mungkin adalah sosok yang sudah dikenali olehnya.
Di tempat lainnya, ketika Bosman bersaudara sudah sampai di sebuah ruangan. Sosok yang tadi dilihat oleh salah satu orang di tim kamera menghilang tanpa jejak. Rangga mencoba membuka ruangan itu, tetapi hanya ada beberapa ruangan yang boleh dibuka, sisanya dibiarkan begitu saja agar tidak disalahgunakan oleh orang-orang. Aldi merasakan sesuatu dibelakang, benar saja ia melihat dengan jelas sosok perempuan berambut panjang yang sedang didekati oleh Pandu.
“Wah dia hilang!” ucap Pandu karena memang sosok didepannya itu menghilang setelah diketahui keberadaannya oleh Aldi.
“Kita stop dulu,” ucap Ardit lalu mendekati Pandu. “itu tadi…,” Pandu mengangguk. Malam masih sangat panjang, entah apa tujuan Gasimah melakukan ini.
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas