- Beranda
- Stories from the Heart
Satu Kelas Dengan Dia
...
TS
aguzblackrx
Satu Kelas Dengan Dia
Horror, Romance


Quote:
PROLOG
Bagas tak sengaja menjadi indigo karena insiden tenggelam di kolam empang yang berair kotor saat masih berumur 3 tahun yang membuat jiwanya terbawa ke alam gaib dan mendapat kemapuan bisa melihat makhuk tak kasat mata meski tidak sekaligus dan berangsur angsur lama hingga dia bertemu dengan sosok di sekolah nya yang membuat dirinya menyadari memiliki kemampuan dan mendapatkan sebuah tanggung jawab besar dalam hidupnya
Quote:
Spoiler for Jangan di Buka:
Quote:
Diubah oleh aguzblackrx 21-09-2024 09:52
dwi.haryana.982 dan 28 lainnya memberi reputasi
27
30.3K
1.6K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aguzblackrx
#131
Part 24
#Kasus
Malam yang dingin semua siswa sudah kembali tenda masing -masing akupun berjalan dan mendapati bungkusan yang dilemparkan Hesty tadi.
Sebuah makanan yang masih hangat berupa nasi liwet lengkap dengan telor dadar dan irisan timun. Meski kondisinya sedikit tidak beraturan aku fikir memakannya adalah sebuah kehormatan. untungnya memang tidak tumpah ke tanah dan masih layak makan.
Akupun membawanya ke tenda meski dalam perasaan bersalah. Mengapa aku tidak memahami perasaan nya seutuhnya apalagi tidak ada pengakuan dan ikrar tentang hubungan kami. Apakah sebuah cinta perlu dikatakan dan dibuktikan? Akupun masih cukup belia untuk memahaminya.
Urusan Wanita aku belum berpengalaman memahami perasaan mereka apalagi kita belum lama kenal satu sama lain aku takut malah merusak pertemanan ku hanya karena aku terburu buru mengucapkan cinta dan menjalin sebuah hubungan yang aku pikir rumit. Begitulah isi fikiran ku saat itu.
Sesampainya di tenda teman teman ku ternyata sudah selesai makan, mereka seperti biasa memainkan hpnya. Bayu pun. Terheran dengan kedatangan ku
"Lu kemana sih. Tadi Hesty balik bawa makanan. " Ucap Bayu. Matanya melirik ke bungkusan yang aku bawa
"Udah ketemu Deket danau. Ini udah aku ambil, kalian udah pada makan ?" Jawab ku yang ditambah pertanyaan.
"Belum dua kali hehee. "
"Yaudah makan bareng yuk" Bayu pun sumringah dan diikuti Radit yang ikut nguping dengan senyuman mengerikannya
Kami pun makan bersama, yang lain tampak kelelahan dan tidur meringkuk. Tenda yang pengap ini menjadi hotel kami selama semalam.
Pagi pun tiba, setelah melaksanan solat subuh berjamaah, semua siswa menyiapkan sarapan masing masing. Namun mata ku malah mengedar ke arah tenda perempuan. Mata ku mencari sosok yang sempat meninggalkan ku semalam. Hesty tidak nampak sama sekali dari kerumunan siswa siswi yang nampak sibuk memasak.
Di tenda ku Ade, yasin dan Rohman bertugas menyiapkan sarapan pagi dengan memasak mie instan goreng (tapi direbus) semua berjalan normal tanpa hambatan.
Setelah selesai sarapan semua siswa diarahkan untuk segera kumpul ditengah tengah antara tanda perempuan dan laki laki. Ada pengarahan kegiatan akhir dari acara kemah ini yaitu mencari jejak. Rute yang dilakukan itu menaiki sebuah bukit kecil dan harus menemukan benda berupa kertas karton yang disiapkan panitia titik point' disetiap jalur.
Setiap titik point ada senior yang siap memberikan pertanyaan seputar dunia sekolah dan pendidikan. Kelompok yang mampu menjawab akan diberikan kertas karton berupa point. Kelompok yang mendapatkan kertas karton terbanyak akan mendapatkan hadiah dari panitia.
Satu persatu semua kelompok berjalan sesuai arahan kakak senior termasuk kami. Kelompok yang berjalan disilang laki laki dan perempuan. Sangat kebetulan kelompok ku adalah setelah kelompok Hesty, dia berjalan melewati kelompok ku saat pemanggilan. Saat melewati kami, pandangan ku mengarah pada Hesty yang berjalan namun tidak didapati lirikan darinya. Sepetinya dia cuek terhadap ku kali ini. Wajah cantiknya sedikit muram menandakan sesuatu telah terjadi. Akupun menyadari kejadian semalam merupakan kesalahan fatal bagi seorang pria yang dekat dengan wanita. Betapa bodohnya aku tidak segera mengejarnya.
Setalah giliran kelompok ku kami pun berjalan menuju jalan setapak dan menaiki bukit, pos demi pos kami lewati. Di setiap pos akan diberikan pertanyaan oleh senior dan harus dijawab kurang dari 3 menit jika jawaban benar maka kami diberi point sesuai kepuasan senior. Jika kami salah makan tidak mendapatkan point' sama sekali lalu bila kami Melawati jawaban 3 menit maka kelompok disuruh untuk push up. Sialnya kelompok kami sudah melewati 3 pos namun baru 1 post yang dijawab benar sisanya salah karena panik dengan waktu berfikir 3 menit.
Di post ke 4 kami mendapati keributan di depan kami. Beberapa panitia nampak berkumpul seperti terjadi sesuatu. Kelompok kami pun segera menghampiri mereka.
Seseorang yang ku kenal sebelumnya sedang jongkok dengan wajah panik. Siswa pria yang berkecamata memegang lengan tangan seseorang yang tidak terlihat wajahnya dari kami berjalan. Siswa pria berkecamata adalah Angga yang dulu sempat aku tolong saat dibully oleh Aryo. Kenapa dia ada di kelompok perempuan? Dan apa yang dia sedang lakukan?
Perjalan ku semakin dekat dan sampai pada kelompok yang diduga kelompok Hesty dan ternyata yang sedang terbaring itu adalah Hesty. Wajah cantiknya pucat pasi dan berkeringat , matanya terpejam dan mulutnya meracau.
Aku pun panik dan segera mendekati tubuhnya dan hendak ikut membantu. Nampak 2 siswi lain nampak kelelahan dan hampir sama sedang ditolong oleh senior.
"Hesty kenapa? " Tanya ku pada angga
"Dia pingsan , tolong bantu pindahin ke bawah pohon yang teduh " ucapnya tanpa menoleh ke arah ku.
Kening ku berkerut terlihat gurat perhatian dari wajah Angga. Tangan nya cekatan menata tubuh Hesty yang terkulai lemah. Aku dan Radit membantu Angga memboyong tubuh Hesty ke bawah pohon besar yang berjarak 5 meter dari jalan setapak agar mendapat oksigen cukup dan teduh.
Senior dan beberapa siswi memberikan pertolongan kepada tiga siswi yang pingsan itu. Salah satu siswi telah sadar dan bercerita bahwa mereka belum sarapan bahkan dia bercerita Hesty tidak terlihat makan dan minum sejak semalam.
Aku terkejut dengan pengakuan temannya , kenapa bisa tidak makan sejak semalam ?. Dengan telaten Angga memberikan minum pada Hesty mesti dalam keadaan mata tertutup. Mulutnya dipaksa dibuka dan dimasukan air dari sedotan. Terlihat ada gerakan dari tenggorokan Hesty meski dia dalam keadaan pingsan.
Sekitar 10 menit Hesty pun sadar, matanya perlahan terbuka meski terpincing karena hari sudah mulai panas dan menoleh ke sekitar termasuk diriku dan Angga yang sudah ada disamping nya.
Angga seperti tersenyum senang dan melirik ke arah ku. Senyuman yang dimilikinya seperti ada arti tersendiri. Hesty pun. Melirik ke arah Angga dan juga diriku aka tetapi respon nya berbeda. Pada diri ku Hesty seolah tidak memiliki kesan akan tetapi dia pun malah tersenyum tipis pada angga. Tentu saja perbedaan itu membuat tidak enak hati bagi diriku yang merupakan teman dekatnya.
"Hes , kamu gak apa apa? " Tanya ku mencoba berkomunikasi.
" ..... " Tidak ada jawaban darinya apalagi matanya mengarah pada teman satu kelompoknya.
"Hes gimana. Bisa bangun?" Tanya Angga
Respon Hesti pun masih sama tidak menjawab akan tetapi dia hanya menganggukkan kepalanya. Dengan sigap akupun mencoba membantu Hesty untuk bangun. Setalah duduk Hesty tetap diam tak menyebutkan satu patah kata pun. Lalu bangkit meski seperti ke susahan.
"Dek, kita turun saja dan langsung ke tempat kemah untuk perawatan" seru senior perempuan yang ternyata yang pernah menghukum ku saat MOS pertama.
"Iya kak, biar saya yang antar " ucap Angga yang membuat ku cukup terkejut
Mata ku lumayan menatap tajam ke arah Angga dan sebuah senyuman kecut dibalas olehnya.
"Aku juga ikut kak, " sahut ku pada senior
Teman ku Radit sempat memperingatkan ku tentang pos berikutnya yang harus kami lewati akan tetapi aku menolak dan ingin menolong Hesty.
Saat hendak membopong lengah Hesty, akupun ditolak oleh nya dan digantikan oleh teman satu kelompoknya dan Angga tersenyum menang ke arah ku. Akan tetapi aku tidak tinggal diam, aku membuntuti mereka dari belakang dan berjaga jaga bola Hesty kembali pingsan diperjalanan dan membawa air minum yang tadi sempat diberikan oleh senior.
Sesampainya di kemah, Hesty dibawa ke tenda senior yang menyediakan medis. Dia dimasukan kedalam tenda dan diriku pun meninggalkan Hesty di tenda itu. Begitu juga Angga akan tetapi diantara kami tidak ada pembicaraan sama sekali dan kembali ke tenda masing masing untuk istirahat.
Di tenda aku merenung dan menyesali respon Hesty yang berubah drastis. Apalagi aku merasa bersalah akan kejadian semalam yang merupakan penyebab itu semua. Apalagi tidak makannya Hesti mungkin ada hubungannya dengan perasaanya yaang mungkin terluka.
Karena teringat akan perintah ku pada Anna , akupun segera memanggil Anna mumpung aku sendirian di dalam tenda.
"Dewi Sukma kelana, hadir"
Tak kurang dari 3 detik Anna muncul di dalam tenda ku. Harum wangi semerbak menyergarkan fikiran ku apalagi suhu didalam tenda yang tadinya panas kini berubah menjadi sejuk seperti hawa angin masuk ke dalam tenda.
Anna pun duduk dihadapan ku , senyum manisnya membuat ku merasa tenang dari kegalauan yang tadi melanda. Aku pun membalas senyumnya
"Kakang, maafkan aku. Semalam aku tidak berani membangunkan mu karena sudah terlelap tidur " ucap Anna sembari meletakan kedua tangannya di dada dan membungkukkan punggung nya.
"Tidak usah seperti itu Anna, bagaimana semalam ? Apa yang kau ketahui kondisi teman ku ?" Tanya ku pada Anna yang sudah meletakan tangannya di rambut kanannya yang menjuntai dibelainya.
"Jadi teman mu memang diganggu oleh beberapa makhluk disana, akan tetapi dia pingsan namun sudah ditolong oleh para pembantunya, aku pikir bukan masalah besar " ucap anna menjelaskan
"Apa kau yakin tidak ada masalah besar ? " Tanya ku pada anna memastikan
"Ada juga sosok di dalam kolam renang nya, cukup kuat akan tetapi dia tidak ikut menganggu nya" ucap Anna sembari menaikan alis kirinya
"Sosok wanita setengah ular itu?" Timpal ku pada Anna
Anna pun terkejut dan matanya membesar mengetahui bahwa sosok itu memang wanita setengah ular.
"Bagaimana kakang mengetahuinya?" Tanya Anna heran
"Sebelumnya aku pernah ke rumahnya, dan melihat sosok itu di dalam kolam renang. Sosoknya mirip dengan penghuni sini bedanya seluruh tubuhnya pasti sisik" kata ku menjelaskan
"Tapi menurut ku sekarang teman mu aman. Jadi tidak perlu khawatir " ucap Anna meyakinkan
"Syukurlah, terima kasih atas bantuan mu Anna " ucap ku yang spontan menyentuh kedua bahu Anna
Anna nampak memerah wajahnya dan tersipu malu. Matanya melirik tangan ku lalu merambat sampai kepada kedua mata ku. Akupun terheran dengan tatapannya. Aku fikir dia akan menyerang ku lagi.
"Kakang, kita berdua disini apakah kau tidak menginginkannya?" Tanya Anna yang membuat dahi ku mengerut
"Apa maksud mu Anna?" Tanya ku heran
"Apakah yang semalam kita bisa melanjutkan kehangatan lagi?" Ucap Anna membuat ku tercengang
"Apa maksud mu? " Tanya ku lagi seolah tidak paham
Seketika Anna mendekatkan wajahnya ke arah ku, mataku membesar mana kala tatapannya mulai mendekat perlahan. Tubuh ku mulai condong ke belakang dan kedua tangan ku sudah sejajar di belakang punggung ku.
Tap
Wajah Anna terbenam di dada ku, tangannya merangkul pinggang ku dan beberapa menit berlalu tidak ada pergerakan lain selain diam
Anna Seperti orang yang sedang tidur, matanya terpejam damai . Akupun tidak menolak ini dan tiba tiba tubuh ku rebah di atas tikar tenda.
Kini posisi ku ditindih oleh Anna. Meski tubuhnya tinggi besar akan tetapi bobotnya cukup ringan mungkin sekitar 45 kg.
Tanpa sadar perlahan mata ku terlelap menuju alam mimpi yang indah di siang hari. Tidak bisa dibayangkan bahwa aku tidur bersama seorang gadis. Untungnya dia tidak melakukan hal seperti waktu malam tadi.
"Gas.... Bangun, ..."
Terdengar suara seseorang yang tidak asing lagi. Bayu teman satu kelas ku menepuk nepuk wajah ku.
"Gas...bangun , kita mau pulang. Tenda mau diberesin nih" sambungnya
Mata ku mulai terbuka perlahan seolah sekejap rasanya tidur di dalam tenda
"Haah pulang? " Tanya ku pada Bayu
"Udah sore nih. Ayo kita beres beres " jawab Bayu sambil mengambil tas nya
Beberapa teman ku yang satu tenda sudah merapihkan barang bawaanya. Dengan sigap akupun segera merapihkan barang barang ku.
Singkat waktu kamipun segera menaiki bus jemputan yang sudah terparkir di halaman parkir.
Dalam kerumunan aku pun sempat melihat seseorang membawa tropi , dialah Aryo geng ninja biang reseh ternyata menjuarai kegiatan mencari jejak. Aku yang menatapnya lalu disadarinya , dengan sikap congkak mengejek ku dengan jempol terbalik
Kami pun akhirnya pulang dengan rasa lelah dan letih tapi tidak dengan ku. Rasa yang ku alami adalah galau
Sesampainya disekolah, aku pun pulang menaiki motor matic ku , nampak Hesty sudah dijemput oleh supir pribadi nya akan tetapi seorang telah mengantarkannya ke depan pintu mobil. Angga seperti nya dia menjadi pria paling dekat dengan Hesty kali ini . Sempat terfikir ingin menyudahi drama Indosiar ini yang bikin fikiran tidak fokus .
Mesin sudah menyala motor ku sudah siap dipacu ala motogp. Raungan mesin nya yang Cemen sudah tidak diperlukan lagi. Kini hanya rasa kalut yang ada fikiran ku .
Beberapa mobil sudah bisa ku salip tanpa rasa takut. Bahkan mobil truk pun dengan mudah disalip. Namun baru saja 10 menit perjalanan kini kondisi jalan malah macet, terdengar sirine ambulance nampak melewati ku dari arah belakang. Saat melewati titik utama kemacetan terlihat banyak mobil polisi yang berjejer di pinggir jalan didepan sebuah bangunan rumah yang memang sudah kosong sejak lama.
Akupun berhenti di dekat warga yang sedang berkerumun seperti menyaksikan tontonan gratis. Dengan rasa penasaran aku bertanya pada seorang bapak bapak yang mungkin warga sekitar.
"Maaf pak , ada apa yah ? Banyak polisi dan ada ambulance?" Tanya ku pada si bapak yang mungkin sudah lebih 50 tahun
"Oh ... Ada penemuan mayat. Diduga sementara korban pembunuhan . Tapi tidak tau juga sih persis nya " jawab bapak itu yang memakai kaos warna merah
"Oh begitu ya pak. Makasih yah" ucap ku lalu berlalu pergi meninggalkan tempat perkara
Sebelum sesaat pergi pulang dari kerumunan itu, aku melihat sosok yang menatap ke arah ku dilantai 2 rumah tesebut seseorang yang bersimbah darah dari kepala hingga tubuhnya. Siapakah Dia?
#Kasus
Malam yang dingin semua siswa sudah kembali tenda masing -masing akupun berjalan dan mendapati bungkusan yang dilemparkan Hesty tadi.
Sebuah makanan yang masih hangat berupa nasi liwet lengkap dengan telor dadar dan irisan timun. Meski kondisinya sedikit tidak beraturan aku fikir memakannya adalah sebuah kehormatan. untungnya memang tidak tumpah ke tanah dan masih layak makan.
Akupun membawanya ke tenda meski dalam perasaan bersalah. Mengapa aku tidak memahami perasaan nya seutuhnya apalagi tidak ada pengakuan dan ikrar tentang hubungan kami. Apakah sebuah cinta perlu dikatakan dan dibuktikan? Akupun masih cukup belia untuk memahaminya.
Urusan Wanita aku belum berpengalaman memahami perasaan mereka apalagi kita belum lama kenal satu sama lain aku takut malah merusak pertemanan ku hanya karena aku terburu buru mengucapkan cinta dan menjalin sebuah hubungan yang aku pikir rumit. Begitulah isi fikiran ku saat itu.
Sesampainya di tenda teman teman ku ternyata sudah selesai makan, mereka seperti biasa memainkan hpnya. Bayu pun. Terheran dengan kedatangan ku
"Lu kemana sih. Tadi Hesty balik bawa makanan. " Ucap Bayu. Matanya melirik ke bungkusan yang aku bawa
"Udah ketemu Deket danau. Ini udah aku ambil, kalian udah pada makan ?" Jawab ku yang ditambah pertanyaan.
"Belum dua kali hehee. "
"Yaudah makan bareng yuk" Bayu pun sumringah dan diikuti Radit yang ikut nguping dengan senyuman mengerikannya
Kami pun makan bersama, yang lain tampak kelelahan dan tidur meringkuk. Tenda yang pengap ini menjadi hotel kami selama semalam.
Pagi pun tiba, setelah melaksanan solat subuh berjamaah, semua siswa menyiapkan sarapan masing masing. Namun mata ku malah mengedar ke arah tenda perempuan. Mata ku mencari sosok yang sempat meninggalkan ku semalam. Hesty tidak nampak sama sekali dari kerumunan siswa siswi yang nampak sibuk memasak.
Di tenda ku Ade, yasin dan Rohman bertugas menyiapkan sarapan pagi dengan memasak mie instan goreng (tapi direbus) semua berjalan normal tanpa hambatan.
Setelah selesai sarapan semua siswa diarahkan untuk segera kumpul ditengah tengah antara tanda perempuan dan laki laki. Ada pengarahan kegiatan akhir dari acara kemah ini yaitu mencari jejak. Rute yang dilakukan itu menaiki sebuah bukit kecil dan harus menemukan benda berupa kertas karton yang disiapkan panitia titik point' disetiap jalur.
Setiap titik point ada senior yang siap memberikan pertanyaan seputar dunia sekolah dan pendidikan. Kelompok yang mampu menjawab akan diberikan kertas karton berupa point. Kelompok yang mendapatkan kertas karton terbanyak akan mendapatkan hadiah dari panitia.
Satu persatu semua kelompok berjalan sesuai arahan kakak senior termasuk kami. Kelompok yang berjalan disilang laki laki dan perempuan. Sangat kebetulan kelompok ku adalah setelah kelompok Hesty, dia berjalan melewati kelompok ku saat pemanggilan. Saat melewati kami, pandangan ku mengarah pada Hesty yang berjalan namun tidak didapati lirikan darinya. Sepetinya dia cuek terhadap ku kali ini. Wajah cantiknya sedikit muram menandakan sesuatu telah terjadi. Akupun menyadari kejadian semalam merupakan kesalahan fatal bagi seorang pria yang dekat dengan wanita. Betapa bodohnya aku tidak segera mengejarnya.
Setalah giliran kelompok ku kami pun berjalan menuju jalan setapak dan menaiki bukit, pos demi pos kami lewati. Di setiap pos akan diberikan pertanyaan oleh senior dan harus dijawab kurang dari 3 menit jika jawaban benar maka kami diberi point sesuai kepuasan senior. Jika kami salah makan tidak mendapatkan point' sama sekali lalu bila kami Melawati jawaban 3 menit maka kelompok disuruh untuk push up. Sialnya kelompok kami sudah melewati 3 pos namun baru 1 post yang dijawab benar sisanya salah karena panik dengan waktu berfikir 3 menit.
Di post ke 4 kami mendapati keributan di depan kami. Beberapa panitia nampak berkumpul seperti terjadi sesuatu. Kelompok kami pun segera menghampiri mereka.
Seseorang yang ku kenal sebelumnya sedang jongkok dengan wajah panik. Siswa pria yang berkecamata memegang lengan tangan seseorang yang tidak terlihat wajahnya dari kami berjalan. Siswa pria berkecamata adalah Angga yang dulu sempat aku tolong saat dibully oleh Aryo. Kenapa dia ada di kelompok perempuan? Dan apa yang dia sedang lakukan?
Perjalan ku semakin dekat dan sampai pada kelompok yang diduga kelompok Hesty dan ternyata yang sedang terbaring itu adalah Hesty. Wajah cantiknya pucat pasi dan berkeringat , matanya terpejam dan mulutnya meracau.
Aku pun panik dan segera mendekati tubuhnya dan hendak ikut membantu. Nampak 2 siswi lain nampak kelelahan dan hampir sama sedang ditolong oleh senior.
"Hesty kenapa? " Tanya ku pada angga
"Dia pingsan , tolong bantu pindahin ke bawah pohon yang teduh " ucapnya tanpa menoleh ke arah ku.
Kening ku berkerut terlihat gurat perhatian dari wajah Angga. Tangan nya cekatan menata tubuh Hesty yang terkulai lemah. Aku dan Radit membantu Angga memboyong tubuh Hesty ke bawah pohon besar yang berjarak 5 meter dari jalan setapak agar mendapat oksigen cukup dan teduh.
Senior dan beberapa siswi memberikan pertolongan kepada tiga siswi yang pingsan itu. Salah satu siswi telah sadar dan bercerita bahwa mereka belum sarapan bahkan dia bercerita Hesty tidak terlihat makan dan minum sejak semalam.
Aku terkejut dengan pengakuan temannya , kenapa bisa tidak makan sejak semalam ?. Dengan telaten Angga memberikan minum pada Hesty mesti dalam keadaan mata tertutup. Mulutnya dipaksa dibuka dan dimasukan air dari sedotan. Terlihat ada gerakan dari tenggorokan Hesty meski dia dalam keadaan pingsan.
Sekitar 10 menit Hesty pun sadar, matanya perlahan terbuka meski terpincing karena hari sudah mulai panas dan menoleh ke sekitar termasuk diriku dan Angga yang sudah ada disamping nya.
Angga seperti tersenyum senang dan melirik ke arah ku. Senyuman yang dimilikinya seperti ada arti tersendiri. Hesty pun. Melirik ke arah Angga dan juga diriku aka tetapi respon nya berbeda. Pada diri ku Hesty seolah tidak memiliki kesan akan tetapi dia pun malah tersenyum tipis pada angga. Tentu saja perbedaan itu membuat tidak enak hati bagi diriku yang merupakan teman dekatnya.
"Hes , kamu gak apa apa? " Tanya ku mencoba berkomunikasi.
" ..... " Tidak ada jawaban darinya apalagi matanya mengarah pada teman satu kelompoknya.
"Hes gimana. Bisa bangun?" Tanya Angga
Respon Hesti pun masih sama tidak menjawab akan tetapi dia hanya menganggukkan kepalanya. Dengan sigap akupun mencoba membantu Hesty untuk bangun. Setalah duduk Hesty tetap diam tak menyebutkan satu patah kata pun. Lalu bangkit meski seperti ke susahan.
"Dek, kita turun saja dan langsung ke tempat kemah untuk perawatan" seru senior perempuan yang ternyata yang pernah menghukum ku saat MOS pertama.
"Iya kak, biar saya yang antar " ucap Angga yang membuat ku cukup terkejut
Mata ku lumayan menatap tajam ke arah Angga dan sebuah senyuman kecut dibalas olehnya.
"Aku juga ikut kak, " sahut ku pada senior
Teman ku Radit sempat memperingatkan ku tentang pos berikutnya yang harus kami lewati akan tetapi aku menolak dan ingin menolong Hesty.
Saat hendak membopong lengah Hesty, akupun ditolak oleh nya dan digantikan oleh teman satu kelompoknya dan Angga tersenyum menang ke arah ku. Akan tetapi aku tidak tinggal diam, aku membuntuti mereka dari belakang dan berjaga jaga bola Hesty kembali pingsan diperjalanan dan membawa air minum yang tadi sempat diberikan oleh senior.
Sesampainya di kemah, Hesty dibawa ke tenda senior yang menyediakan medis. Dia dimasukan kedalam tenda dan diriku pun meninggalkan Hesty di tenda itu. Begitu juga Angga akan tetapi diantara kami tidak ada pembicaraan sama sekali dan kembali ke tenda masing masing untuk istirahat.
Di tenda aku merenung dan menyesali respon Hesty yang berubah drastis. Apalagi aku merasa bersalah akan kejadian semalam yang merupakan penyebab itu semua. Apalagi tidak makannya Hesti mungkin ada hubungannya dengan perasaanya yaang mungkin terluka.
Karena teringat akan perintah ku pada Anna , akupun segera memanggil Anna mumpung aku sendirian di dalam tenda.
"Dewi Sukma kelana, hadir"
Tak kurang dari 3 detik Anna muncul di dalam tenda ku. Harum wangi semerbak menyergarkan fikiran ku apalagi suhu didalam tenda yang tadinya panas kini berubah menjadi sejuk seperti hawa angin masuk ke dalam tenda.
Anna pun duduk dihadapan ku , senyum manisnya membuat ku merasa tenang dari kegalauan yang tadi melanda. Aku pun membalas senyumnya
"Kakang, maafkan aku. Semalam aku tidak berani membangunkan mu karena sudah terlelap tidur " ucap Anna sembari meletakan kedua tangannya di dada dan membungkukkan punggung nya.
"Tidak usah seperti itu Anna, bagaimana semalam ? Apa yang kau ketahui kondisi teman ku ?" Tanya ku pada Anna yang sudah meletakan tangannya di rambut kanannya yang menjuntai dibelainya.
"Jadi teman mu memang diganggu oleh beberapa makhluk disana, akan tetapi dia pingsan namun sudah ditolong oleh para pembantunya, aku pikir bukan masalah besar " ucap anna menjelaskan
"Apa kau yakin tidak ada masalah besar ? " Tanya ku pada anna memastikan
"Ada juga sosok di dalam kolam renang nya, cukup kuat akan tetapi dia tidak ikut menganggu nya" ucap Anna sembari menaikan alis kirinya
"Sosok wanita setengah ular itu?" Timpal ku pada Anna
Anna pun terkejut dan matanya membesar mengetahui bahwa sosok itu memang wanita setengah ular.
"Bagaimana kakang mengetahuinya?" Tanya Anna heran
"Sebelumnya aku pernah ke rumahnya, dan melihat sosok itu di dalam kolam renang. Sosoknya mirip dengan penghuni sini bedanya seluruh tubuhnya pasti sisik" kata ku menjelaskan
"Tapi menurut ku sekarang teman mu aman. Jadi tidak perlu khawatir " ucap Anna meyakinkan
"Syukurlah, terima kasih atas bantuan mu Anna " ucap ku yang spontan menyentuh kedua bahu Anna
Anna nampak memerah wajahnya dan tersipu malu. Matanya melirik tangan ku lalu merambat sampai kepada kedua mata ku. Akupun terheran dengan tatapannya. Aku fikir dia akan menyerang ku lagi.
"Kakang, kita berdua disini apakah kau tidak menginginkannya?" Tanya Anna yang membuat dahi ku mengerut
"Apa maksud mu Anna?" Tanya ku heran
"Apakah yang semalam kita bisa melanjutkan kehangatan lagi?" Ucap Anna membuat ku tercengang
"Apa maksud mu? " Tanya ku lagi seolah tidak paham
Seketika Anna mendekatkan wajahnya ke arah ku, mataku membesar mana kala tatapannya mulai mendekat perlahan. Tubuh ku mulai condong ke belakang dan kedua tangan ku sudah sejajar di belakang punggung ku.
Tap
Wajah Anna terbenam di dada ku, tangannya merangkul pinggang ku dan beberapa menit berlalu tidak ada pergerakan lain selain diam
Anna Seperti orang yang sedang tidur, matanya terpejam damai . Akupun tidak menolak ini dan tiba tiba tubuh ku rebah di atas tikar tenda.
Kini posisi ku ditindih oleh Anna. Meski tubuhnya tinggi besar akan tetapi bobotnya cukup ringan mungkin sekitar 45 kg.
Tanpa sadar perlahan mata ku terlelap menuju alam mimpi yang indah di siang hari. Tidak bisa dibayangkan bahwa aku tidur bersama seorang gadis. Untungnya dia tidak melakukan hal seperti waktu malam tadi.
"Gas.... Bangun, ..."
Terdengar suara seseorang yang tidak asing lagi. Bayu teman satu kelas ku menepuk nepuk wajah ku.
"Gas...bangun , kita mau pulang. Tenda mau diberesin nih" sambungnya
Mata ku mulai terbuka perlahan seolah sekejap rasanya tidur di dalam tenda
"Haah pulang? " Tanya ku pada Bayu
"Udah sore nih. Ayo kita beres beres " jawab Bayu sambil mengambil tas nya
Beberapa teman ku yang satu tenda sudah merapihkan barang bawaanya. Dengan sigap akupun segera merapihkan barang barang ku.
Singkat waktu kamipun segera menaiki bus jemputan yang sudah terparkir di halaman parkir.
Dalam kerumunan aku pun sempat melihat seseorang membawa tropi , dialah Aryo geng ninja biang reseh ternyata menjuarai kegiatan mencari jejak. Aku yang menatapnya lalu disadarinya , dengan sikap congkak mengejek ku dengan jempol terbalik
Kami pun akhirnya pulang dengan rasa lelah dan letih tapi tidak dengan ku. Rasa yang ku alami adalah galau
Sesampainya disekolah, aku pun pulang menaiki motor matic ku , nampak Hesty sudah dijemput oleh supir pribadi nya akan tetapi seorang telah mengantarkannya ke depan pintu mobil. Angga seperti nya dia menjadi pria paling dekat dengan Hesty kali ini . Sempat terfikir ingin menyudahi drama Indosiar ini yang bikin fikiran tidak fokus .
Mesin sudah menyala motor ku sudah siap dipacu ala motogp. Raungan mesin nya yang Cemen sudah tidak diperlukan lagi. Kini hanya rasa kalut yang ada fikiran ku .
Beberapa mobil sudah bisa ku salip tanpa rasa takut. Bahkan mobil truk pun dengan mudah disalip. Namun baru saja 10 menit perjalanan kini kondisi jalan malah macet, terdengar sirine ambulance nampak melewati ku dari arah belakang. Saat melewati titik utama kemacetan terlihat banyak mobil polisi yang berjejer di pinggir jalan didepan sebuah bangunan rumah yang memang sudah kosong sejak lama.
Akupun berhenti di dekat warga yang sedang berkerumun seperti menyaksikan tontonan gratis. Dengan rasa penasaran aku bertanya pada seorang bapak bapak yang mungkin warga sekitar.
"Maaf pak , ada apa yah ? Banyak polisi dan ada ambulance?" Tanya ku pada si bapak yang mungkin sudah lebih 50 tahun
"Oh ... Ada penemuan mayat. Diduga sementara korban pembunuhan . Tapi tidak tau juga sih persis nya " jawab bapak itu yang memakai kaos warna merah
"Oh begitu ya pak. Makasih yah" ucap ku lalu berlalu pergi meninggalkan tempat perkara
Sebelum sesaat pergi pulang dari kerumunan itu, aku melihat sosok yang menatap ke arah ku dilantai 2 rumah tesebut seseorang yang bersimbah darah dari kepala hingga tubuhnya. Siapakah Dia?
Spoiler for for You:
Diubah oleh aguzblackrx 04-05-2024 23:26
Araka dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Tutup

