203
Quote:
Giorga datang membawa Beat raja milik Ilo, di sebuah terowongan gelap panjang bekas tambang. Sekelilingnya hanya dipenuhi oleh tanah-tanah terkikis, tidak ada pencahayaan sedikit pun. Tempat ini berada jauh dari kehidupan bermasyarakat, agar tidak menimbulkan keributan yang nantinya bisa merepotkan penghuni didalamnya.
“Misi ku sudah selesai,” ucap Giorga sambil menyodorkan Beat milik Ilo.
Tiba-tiba muncul cahaya berwarna merah terang dari sesosok orang yang duduk santai di singgasana yang terbuat dari bebatuan.
“Bagus, bagaimana apakah kau mengalami kesulitan?” tanya sosok berwarna merah terang itu.
“Hm, sejujurnya ketua Bronze Clan itu sungguh kuat, tapi sayangnya aku jauh lebih kuat,” ucap Giorga sambil bergurau.
Tali berdarah dari urat tubuhnya keluar dari telapak tangan, langsung menangkap Beat yang dipegang oleh Ilo. Hal selanjutnya lebih menjijikan lagi, serangga kumbang berukuran sekepal tangan itu dimakannya dengan lahap.
“Sebaiknya aku keluar dari sini,” Giorga tidak terbiasa dengan hal menjijikan seperti itu, lalu meminta izin tuk keluar.
Setelah serangga kumbang besar selesai dihabiskan, sosok bercahaya merah terang ini tersenyum lebar.
“Sudah lama sampai aku tidak bisa mengingatnya,” dari telapak tangannya keluar sebuah kapak besar, ditebaskan senjata itu ke tanah, seketika tempat bekas tambang ini bergetar hebat. “HAHAHA! TUNGGULAH KALIAN!” suara tawanya menggema, membawa suasana mengerikan.
Sekembalinya tuan Stam dari pertemuan dengan ketua royal clan lainnya. Tidak ada satu pun senyum hadir di Wilson Café, semua merasakan kekhawatiran. Apalagi dari berita bahwa sedang ada pemburuan ketua clan, yang didalangi oleh suruhan Red Sun. Kesimpulannya pemburu tersebut akan datang kapan saja, Djohan lebih mengkhawatirkan efek pertarungannya nanti dibanding keselamatan dirinya.
“Apa kita harus berdiam diri saja di sini menunggu serangan itu datang?” tanya Solo. “maksudku kita bisa meminta bantua---,” Sterling menggebrak meja membuat Solo terdiam.
“Maaf, hanya saja kita tidak bisa melibatkan orang-orang itu sekarang. Lihat betapa ngerinya kerusakan yang ditimbulkan oleh anggota Golden Clan? Jika ketua Bronze clan saja bisa dihabisi, mereka akan lebih mudah terbunuh. Aku juga belum tahu apa rencana dari tuan Stam, kita hanya bisa menunggu,” semuanya kembali hening.
Djohan mengangkat tangannya, “Aku ingin izin sebentar, ada beberapa belanjaan yang harus dibeli,” tidak ada yang menghalanginya.
Djohan pergi untuk mendinginkan kepalanya, tujuannya sebenarnya adalah bukan untuk berbelanja. Semuanya terjadi begitu cepat, tidak terasa kebangkitan Red Sun sudah di depan mata. Bayangan keluarganya tiba-tiba muncul, ada rasa sedih muncul jikalau waktunya telah habis. Namun di satu sisi ada rasa senang karena terror makhluk mengerikan pemangsa manusia akan berakhir tuk selama-lamanya.
“Hei!” seseorang datang menepuk pundak Djohan.
“Kau….,” kapten Julian menyapanya.
“Ada apa? Kulihat dari kejauhan kau tampak murung, apakah usaha kalian sedang sepi pengunjung?” Djohan menggelengkan kepalanya, lalu teringat perkataan seniornya yaitu Sterling tentang menyembunyikan perihal ini dari anggota BASS. Djohan pamit tergesa-gesa beralasan ada sesuatu yang harus dibeli sekarang. “hm, ada yang aneh….,” kapten Julian merasakan ada yang janggal dari sikap Djohan, namun tidak ingin berspekulasi lebih.
Untuk menghindari kecurigaan dari rekan-rekannya di Silver Clan, Djohan tetap berbelanja tanpa adanya daftar apa-apa yang harus dibeli. Seingatnya beberapa bahan masakan telah habis, begitu pun bahan pelengkap kopi. Saat berbelanja pikirannya jauh melayang, memikirkan tentang pergerakan Red Sun yang semakin nyata.
Langkah kakinya pelan, untuk menggambar bahwa dirinya benar-benar niat membeli bahan-bahan yang dibutuhkan di café. Matanya tertuju pada kapten Julian yang mengikutinya sedari tadi, saat itulah Djohan merubah raut wajahnya menjadi seseorang yang tidak ada masalah. Langkahnya pun kini lebih cepat, sambil mengayunkan kantong belanjaannya.
“Benar, ada sesuatu yang disembunyikan, apa ada hubungannya dengan monster Beaters?” pikir kapten Julian dari balik dinding bangunan.
Djohan telah sampai di depan pintu Wilson café, tangannya bergetar ketika ingin membuka daun pintunya. Sesaatnya tangannya maju, Solo sudah membukakan pintu untuknya. Raut wajahnya begitu serius, Djohan ikut masuk ke dalam. Tidak jauh berbeda dengan Solo, semua anggota Silver Clan terlihat begitu serius.
“Ada apa?” tanya Djohan.
“Apa kau melihat tuan Stam di jalan?” tanya Sterling.
“Maksudmu?” Djohan tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan.
“Tuan Stam tidak ada diruangannya,” jawab Lio.
Seketika kantong belanjaan yang dibawa oleh Djohan terjatuh, terkejut mendengarnya dari mulut rekan-rekannya. Jika tuan Stam pergi tanpa pemberitahuan, bisa diartikan bahwa tuan Stam pergi mencari tempat yang aman bagi seluruh anggotanya. Tidak ingin melibatkan semuanya ke dalam bahaya. Djohan pun terpukul mengingat dirinya tidak berdaya ketika melawa Troy. Begitu pun dengan Sterling yang menganggap dirinya tidak cukup kuat untuk meneruskan Silver Clan ini.
“Apakah ada suatu tempat atau lokasi yang sering dikunjungi oleh tuan Stam sendirian?” tanya Djohan, tertuju pada Gonzalo sebagai seseorang yang telah lama mengikuti tuan Stam.
Gonzalo terdiam, ia butuh waktu untuk berpikir. Lalu matanya terbuka lebar, ia tahu di mana keberadaan tuan Stam.
Pemakamam umum kota Surban, banyak batu nisan berjejer dalam berbagai bentuk. Tuan Stam sedang berdiri menghadap pada salah satu batu nisan, yang bertulisan ‘Kaizer’ sebagai mantan ketuanya dahulu. Tidak seperti biasanya, kali ini tuan Stam tidak memakai kacamatanya, matanya tertunduk penuh dengan beban.
“Apakah aku bisa melawannya dengan kekuatanku sekarang?” ucap tuan Stam pada batu nisan Kaizer.