Kaskus

News

tyrodinthorAvatar border
TS
tyrodinthor
Agama Manichaeisme | Agama (yang pernah) Terbesar di Dunia
Agama Manichaeisme | Agama (yang pernah) Terbesar di Dunia            Agama Manichaeisme | Agama (yang pernah) Terbesar di Dunia


Pada abad ke-3 M, lahirlah seorang nabi yang dipercaya sebagai nabi terakhir yang telah dinubuatkan kedatangannya di dalam Taurat dan Injil, yang akan menjadi penerus Al-Masih / Mesias, yang akan membawa terang dan kedamaian dunia. Dialah nabi yang disebutkan oleh Yesus di dalam Injil sebagai Parakleitos("Sang Penghibur"). Dialah sang nabi yang menyempurnakan seluruh ajaran para nabi dan para pendiri agama-agama besar terdahulu.

Anjay... susunan kalimat pembuka gua udah kayak sales agama belom? emoticon-Leh Uga

Jika kamu mengira nabi terakhir yang dimaksud di atas adalah Muhammad, maka kamu keliru. Muhammad itu hidup di abad ke-7 M. Nabi terakhir yang dimaksud di sini adalah Mani dari Persia. Gua yakin pasti banyak di antara kita yang tidak tahu siapa itu Mani. Mani adalah tokoh relijius dari Persia yang mengklaim dirinya sebagai nabi terakhir yang telah dinubuatkan Taurat dan Injil, yang telah dinubuatkan Yesus sebagai Parakleitos ("Sang Penghibur"), yang telah dinubuatkan Zarathustra sebagai Ahravan (titisan Ahura Mazda), dan yang telah dinubuatkan oleh Sang Buddha sebagai Buddha Maitreya (Buddha terakhir yang muncul di akhir zaman). Klaim ini tentu saja tidak bisa kita bantah, sebagaimana kita juga tidak bisa membantah klaim bahwa Muhammad juga nabi terakhir yang dinubuatkan di dalam Taurat dan Injil, atau klaim bahwa Yesus adalah Mesias yang telah dinubuatkan di dalam Taurat. Namanya juga iman, masa mau kamu bantah.

Menariknya, agama ini pernah menjadi agama terbesar di dunia lho. Sebenernya sih istilah "terbesar di dunia ini" agak problematik, karena dunia yang dimaksud di sini mungkin hanya Eropa Barat, Eropa Timur, Afrika Utara, Timur Dekat, Timur Tengah, Indo-Yunani, Cina Barat, dan Cina Selatan. Dan meskipun kita tidak memiliki data sensus secara pasti terkait jumlah penganutnya, namun para sejarahwan benar-benar telah sepakat akan besarnya jumlah penganut agama ini. Pada saat itu, atau setidaknya sepanjang abad ke-3 sampai 7, agama ini telah dianut di beragam belahan dunia yang kusebutkan di atas. Hal ini berbeda dengan Kekristenan yang saat itu hanya dianut di Eropa Barat, Eropa Timur, Afrika Utara, dan Timur Tengah. Juga berbeda dengan Buddhisme yang juga hanya dianut di Indo-Yunani, Cina, dan India. Para sejarahwan menemukan banyak sekali peninggalan dan petunjuk historiografi bahwa agama ini memang sempat menjadi agama terbesar di belahan-belahan dunia yang justru menjadi dunia yang umumnya basis kuat Kekristenan dan Buddhisme. Tentu saja saat itu belum ada Islam. Dan bahkan setelah Islam muncul, agama ini masih tetap berdiri meskipun mengalami penyusutan pengaruh di Timur Tengah.

Untuk itulah thread ini saya tulis, untuk membahas tentang sebuah agama yang pernah menjadi agama terbesar di dunia, yang bahkan mengalahkan Kekristenan, yang sekarang sudah punah. Agama ini namanya Manichaeisme, dan thread ini ane dedikasikan untuk para penggemar sejarah agama dan budaya untuk mengenal lebih dekat tentang Manichaeisme. Harapannya sih semoga bisa membuka wawasan kita semua tentang Manichaeisme dan gak ada lagi yang salah paham tentang Manichaeisme. Selamat membaca gan.

INDEX:
1. Pendahuluan.
2. Biografi Nabi Mani Menurut Tradisi.
3. Doktrin Utama dan Misi Agama.
4. Tokoh-Tokoh Supranatural (Mitologi).
5. Sistem Konversi / Perpindahan Agama.
6. Ritual Peribadatan dan Perayaan.
7. Peraturan (Syari'at) dan Suluk.
8. Sejarah: Asal-Usul Kepercayaan Manichaeisme.

9. Sejarah: Masa Kenabian Mani.
10. Kitab-Kitab Suci Manichaeisme.
11. Keduabelas Murid/Rasul Mani.
12. Penyebaran Manichaeisme ke Timur.
13. Penyebaran Manichaeisme ke Barat (1).
14. Penyebaran Manichaeisme ke Barat (2).
15. Daftar Tokoh Manichaean dari Abad 3 s.d. 7.
16. Daftar Tokoh Manichaean dari Abad 8 s.d. 10.
17. Skisma Manichaeisme.
18. Kemunduran dan Kepunahan Manichaeisme.
19. Sejarah Penelitian Sejarah Manichaeisme.
20. Trivia.
Diubah oleh tyrodinthor 16-10-2024 23:03
scorpiolamaAvatar border
sweetjuliaAvatar border
atamleeAvatar border
atamlee dan 23 lainnya memberi reputasi
24
3.9K
86
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
Sejarah & Xenology
KASKUS Official
6.5KThread11.6KAnggota
Tampilkan semua post
tyrodinthorAvatar border
TS
tyrodinthor
#14
Penyebaran Manichaeisme ke Barat (1)
Dalam hal kaitannya persebaran Manichaeisme ke barat, kita memiliki banyak sekali catatan apologetika dari Kekristenan yang berkaitan dengan upaya mereka menangkal Manichaeisme, terutama yang berasal dari abad ke-3 sampai 5. Upaya ini dapat dimengerti dalam kerangka polemik sektarian, dimana misionaris Manichaeisme berdakwah dengan sangat masif di kota-kota yang telah tumbuh basis Kekristenan yang kuat, seperti kota Damaskus, Yerusalem, Alexandria, hingga Libia dan Numidia. Apologet Kristen yang terkenal paling banyak membicarakan tentang Manichaeisme adalah Agustinus dari Hippo (w. 430), atau yang populer disebut "Santo Agustinus". Tokoh besar gereja trinitarian yang bergelar Doctor Ecclesiae Universalis sekaligus menjadi uskup Gereja Hippo Regius di provinsi Numidia (sekarang Aljazair) ini memiliki pengalaman khusus dengan Manichaeisme, karena dia sempat keluar dari seminari, dan murtad dari Kekristenan untuk memeluk Manichaeisme di Gereja Manichaean Numidia. Catatan Agustinus dari Hippo tentang Manichaeisme ini sangat penting bagi sejarahwan, karena catatan ini menggambarkan bagaimana Manichaeisme bisa tumbuh subur mengalahkan Kekristenan dan bagaimana kemudian Manichaeisme justru mundur dikalahkan Kekristenan. Catatan Agustinus ini berada pada periode peralihan dari dominasi Manichaeisme menjadi dominasi Kekristenan, dan bahkan Agustinus lah yang berperan besar dalam kemunduran perkembangan Manichaeisme di barat. Namun, sebelum kita membahas tentang Agustinus, kita akan bahas dulu bagaimana persebaran Manichaeisme ke barat.

Menurut tradisi Manichaeisme, salah seorang dari keduabelas murid sekaligus rasul Mani yang menyebarkan ajaran Manichaeisme ke barat adalah Adda (w. ?). Dikisahkan bahwa menjelang akhir hayat Nabi Mani sebelum sang Nabi itu ditangkap di Gundeshapur oleh pasukan Maharaja Bahram I, Nabi Mani mengutus salah seorang muridnya yang bernama Pattig sebagai duta ke Kekaisaran Romawi. Setahun kemudian, Pattig kembali ke Tesifon dan mengabarkan bahwa pemerintah Romawi ingin mendengar langsung "ajaran terang" ini. Mendengar respon positif ini, Nabi Mani mengutus Adda karena kepandaiannya dalam berorasi. Untuk misi besar ini, Nabi Mani bahkan mengutus Pattig dan Gabryab (salah seorang muridnya yang lain) untuk mendampingi Adda dalam pengembaraan ke Romawi. Sambil membawa kitab "Injil Yang Hidup" (Injil Mani), Adda bersama Pattig dan Gabryab berangkat ke Roma dengan rute Mahoze (Al-Mada'in di Iraq), Edessa, Nisibis, Palmyra, Yerusalem, Alexandria, Libia, lalu menyeberang ke Roma. Adda diceritakan memiliki mukjizat mampu menyembuhkan orang sakit. Saat Adda berada di Palmyra, dia bertemu dengan penguasa lokal Palmyra, yaitu Raja Odaina (Septimius Odaenathus) dan Ratu Tadi/Bat-Zabbai (Septimia Zenobia Augusta). Sang Ratu meminta Adda untuk menyembuhkan adiknya, Putri Nafsha, yang sedang jatuh sakit parah. Karena Adda berhasil menyembuhkannya melalui mukjizatnya, seluruh keluarga bangsawan Septimius Palmyra memeluk Manichaeisme. Kisah ini memang tidak tercatat baik dalam catatan resmi Romawi maupun Palmyra, namun penyebutan nama "Tadi" bagi Ratu Zenobia tidak lain merujuk pada sebutan wilayah yang dikuasai oleh sang ratu, yaitu Thadmor (Tadmur). Dalam catatan Koptik, Zenobia adalah adipati (duchess) Tadmur, sehingga dia disebut "Thaddia" dalam bahasa Yunani, yang artinya "Adipati Tadmur" (Duchess of Thadmor). Mengingat penyebutan nama "Tadi" dalam tradisi Manichaean ini signifikan dengan gelar bagi Zenobia, maka kemungkinan besar Adda memang berkunjung ke Palmyra, atau bahkan menemui sang ratu, walaupun kisah penyembuhan dan konversi keluarga bangsawan Palmyra ini patut diragukan. Menariknya, catatan Romawi memang menyebutkan adanya Gereja Manichaean Palmyra yang terletak di Zenobia/Birtha (Halabiyah), tepat di tepi sungai Eufrat. Perjalanan sang rasul Adda berlanjut dari Palmyra ke Damaskus. Di Damaskus, Adda diceritakan telah menyembuhkan rombongan orang kusta yang berasal dari Philadelphia (Amman). Masyarakat di Philadelphia mengharapkan kedatangan Adda. Adda pun singgah di Philadelphia dan berkhotbah tentang "Buah dari Kebajikan dan Keburukan", judul khotbah yang sangat mirip dengan konsep khammaphala dalam ajaran Buddhisme. Adda dikabarkan juga singgah sebentar ke Yerusalem, namun dia diusir oleh komunitas Kristen Yerusalem. Dia pun melanjutkan perjalanan ke Alexandria (Iskandariyah) dan kembali menunjukkan banyak mukjizat serta konversi besar-besaran di sana. Menurut tradisi Manichaeisme, Alexandria menjadi tonggak utama/kunci peningkatan pemeluk Manichaeisme di barat. Adda pun melanjutkan perjalanan ke Kirene/Cyrene di Libia, lalu menyeberangi kapal ke Roma. Sayangnya, tidak ada kisah selanjutnya bagaimana aktifitas dakwahnya di Roma.

Berdasarkan catatan dari Santo Agustinus, Afrika utara memang menjadi basis utama Manichaean di barat. Dalam catatan Agustinus, terdapat sebuah gereja Manichaean besar di Mileve (Millah) di Aljazair, tepatnya di Numidia. Gereja Manichaean Numidia ini dikepalai oleh uskup bernama Faustus dari Mileve (w. ?). Agustinus kecil lahir dari kalangan keluarga Berber di Karthago, Hippo Regius di Numidia. Ayahnya, Patricius, pada mulanya adalah pagan. Dia konversi memeluk Kekristenan setelah menikahi ibunya, Monica. Setelah Agustinus lahir di tahun 354, Agustinus dibaptis di Gereja Thagaste. Agustinus kecil disekolahkan teologi Kekristenan di pesantren/seminari Madaurus. Dalam traktat pengakuan dosanya yang berjudul Confessiones, Agustinus menulis bahwa dirinya justru malah tertarik dengan ajaran-ajaran paganisme selama berada di seminari. Setelah itu, dia tertarik dengan tulisan-tulisan Apuleius (w. circa 170), filsuf Neoplatonisme di Numidia. Dari situ dia mulai mempertanyakan doktrin Kekristenan tentang kehendak bebas manusia. Dalam keraguan imannya, dia mempertanyakan kenapa Allah menghendaki Adam memakan buah dari pohon terlarang. Dia banyak berdebat dengan rekan seperguruan hingga guru-guru seminarinya tentang dosa asal. Setiap manusia lahir membawa dosa asal Adam. Menurutnya saat itu, aneh jika Allah turun ke bumi menjadi Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia, bukankah itu kehendak Sang Bapa sendiri? Jika Dia Maha Berkehendak, mengapa Dia menghendaki manusia untuk jatuh ke dalam dosa, mengusir manusia dari Taman Eden, membiarkan manusia mewarisi dosa tsb, dan menyelamatkan manusia dari dosa yang seharusnya Dia sendiri dapat mengampuninya tanpa harus menjelma menjadi Yesus untuk menebus dosanya. Pertentangan iman Agustinus ini memang merupakan salah satu tema teologi terpenting dalam Kekristenan, yaitu "Problem of Evil". Menurutnya saat itu, teologi Kekristenan tidak masuk akal, sebab Tuhan dikatakan Maha Baik, Dia mengasihi seluruh manusia, semua kebaikan berasal dari-Nya, namun darimana dosa manusia itu berasal jika seluruh kebaikan berasal dari-Nya? Jika Dia menciptakan manusia dan menghendaki manusia untuk kebaikan, maka seharusnya tidak ada manusia yang berbuat dosa. Agustinus saat itu menemukan jawaban yang memuaskan dari kalangan Manichaean, bahwa sebenarnya dosa berasal dari kuasa roh gelap yang terpisah dengan roh terang. Allah sejatinya adalah Roh Terang Tertinggi, Sang Bapa Keagungan, yang menghendaki segala kebaikan. Namun, Penguasa Alam Gelap, yaitu Raja Kegelapan, menghendaki segala keburukan. Dalam konflik perang antara Alam Terang melawan Alam Gelap itu, roh-roh gelap ini bermetamorfosis menjadi materi (termasuk manusia) setelah roh-roh gelap ini kalah dan dimakan oleh roh-roh terang. Itu sebabnya, manusia memiliki pilihan/kehendak bebas, dapat melakukan kebaikan dan keburukan. Sampai titik ini, Agustinus merasa ajaran Manichaeisme lebih logis daripada ajaran Kekristenan. Di dalam Confessiones itu, Agustinus mengaku telah murtad setelah dia lulus dari seminari Madaurus dan melanjutkan sekolah Retorika di Karthago pada usia 17 tahun dari beasiswa walikota, namun dia belum memeluk Manichaeisme. Sebaliknya, dia justru menjadi liar sejak itu. Dia berpacaran dengan gadis di Karthago, dan berzina dengan pacarnya selama 15 tahun sampai pacarnya melahirkan putranya yang bernama Adeodathus (w. 388). Menariknya, nama "Adeodathus" artinya adalah "Hadiah Dari Tuhan". Agustinus menamai demikian karena saat itu dia percaya bahwa tidak ada yang namanya "anak haram/haram jadah" di mata Tuhan, dimana stigma "anak haram" itu selalu melekat dalam tradisi Kekristenan dalam memandang perzinahan. Ini juga merupakan pernyataan sikap Agustinus muda dalam melawan Kekristenan. Selama menjalin pacaran 5 (lima) tahun pertama itulah, Agustinus baru memeluk Manichaeisme melalui pembaptisan yang diselenggarakan oleh Faustus, uskup Gereja Manichaean Numidia. Karthago adalah kota dengan mayoritas Manichaean, sedangkan Numidia adalah kota dengan jumlah seimbang antara pemeluk Manichaean dengan pemeluk Kristen.

Namun, meskipun Agustinus mengaku telah memeluk Manichaeisme, tapi dari sikap dan pemikirannya, para sejarahwan lebih bersepakat bahwa Agustinus sebenarnya tidak benar-benar mengimani Manichaeisme, saat itu Agustinus lebih seperti seorang skeptis yang sedang mencari jawaban atas keraguan imannya. Sebab, setelah dia dibaptis oleh uskup Faustus ke dalam Manichaeisme, dia justru malah sering terlibat perdebatan dengan Faustus. Dia mengaku dirinya tidak tergabung baik dalam kelas hirarki The Elects maupun The Hearers, dan menurut para sejarahwan ini cukup janggal. Sebab, seseorang yang telah dibaptis dalam Manichaeisme, maka orang tsb telah otomatis dianggap The Hearer. Entah apakah pengakuan baptis Agustinus itu hanya sekedar retorika hiperbola untuk menunjukkan dosa tertinggi dari kemurtadannya, atau memang saat itu Agustinus memang dibaptis namun secara hipokrit menjadi The Hearer sambil tetap skeptis terhadap ajaran Manichaeisme. Selama menjadi Manichaean di Karthago, dia sering mengikuti khotbah-khotbah Faustus kepada The Hearers. Faustus pernah mengajarkan soal bolehnya memakan buah dan sayuran, namun dengan syarat bahwa buah dan sayuran itu bukan hasil petik/panen sendiri. Dalam tarekat Manichaeisme, terdapat sebuah pantangan memetik buah dan memanen sayur-mayur. Faustus menjelaskan bahwa memetik buah dan memanen sayur-mayur adalah kejahatan. Roh gelap menginginkan manusia untuk merusak tanaman dan tumbuhan, dan menginginkan manusia untuk menjadi budak nafsu duniawi melalui keinginan/hasrat memetik buah sebagaimana hasrat tsb pernah menguasai Adam. Agustinus lantas bertanya bagaimana caranya memakan buah tanpa memetik, dan memakan sayuran tanpa memanen. Faustus menjawab, bahwa buah dan sayur tsb harus dibeli di pasar, atau meminta orang lain untuk memetikkan buah. Agustinus mempertanyakan ajaran yang menurutnya aneh ini, bukankah menyuruh orang lain memetik buah yang jelas dilarang adalah sama saja menyuruh orang lain untuk berbuat dosa, dan bukankah menyuruh orang lain untuk berbuat dosa sama saja telah berdosa? Faustus tidak memiliki jawaban yang memuaskan. Menurut Faustus, biarlah orang lain jatuh ke dalam dosa karena kuasa gelapnya, yang penting kita berhasil membebaskan roh terang dari kuasa gelap kita sendiri. Pada titik ini, Agustinus merasakan kejanggalan ajaran Manichaeisme. Menurutnya, Manichaeisme hanya tampak masuk akal di kulit luar, namun di bagian intinya menyimpan banyak hal yang tidak masuk akal. Banyak keraguan iman Manichaeisme dan perdebatannya dengan Faustus yang dia catat dalam Confessiones. Tema perdebatan lainnya adalah soal dualisme Alam Terang dan Alam Gelap. Dalam sebuah khotbah Faustus, Faustus menyatakan bahwa Alam Terang dan Alam Gelap memiliki derajat yang sama, bagaikan kembaran yang bertolak-belakang. Terang-gelap, baik-buruk, hitam-putih, kanan-kiri, atas-bawah, dan demikianlah hakikat jagad semesta sebenarnya, dan kedua alam ini saling bertolak-belakang dan bermusuhan. Menurut Agustinus, ini kejanggalan yang lebih aneh lagi. Bagaimana mungkin ada 2 (dua) kekuatan yang 1 (satu) hakikat tapi tidak saling melengkapi, melainkan malah saling bermusuhan satu sama lain. Bagaimanakah terang dapat dikatakan terang tanpa adanya gelap? Bukankah permusuhan itu sendiri adalah sebuah kejahatan, mengapa Alam Terang memusuhi dan memerangi Alam Gelap jika Alam Terang itu sendiri adalah sumber dari perdamaian dan kedamaian? Jawaban Faustus lagi-lagi, masih menurutnya, jauh lebih tidak masuk akal. Faustus mengklaim bahwa Alam Gelap itu yang memulai permusuhan dengan Alam Terang, dan tentunya Alam Terang merespon peperangan itu agar tercipta perdamaian. Tapi, dalam keraguan iman Manichaeisme-nya, Agustinus berpendapat bahwa perdamaian tidak berarti memusnahkan. Adanya hasrat dalam diri roh-roh terang ingin memusnahkan roh-roh gelap, tidak lain adalah kuasa gelap itu sendiri. Bagaimana mungkin Alam Terang yang menjadi sumber perdamaian memiliki hasrat untuk memusnahkan? Karena setelah memeluk Manichaeisme ini justru Agustinus menjadi ragu dengan ajaran Manichaeisme, maka dia hanya memeluk Manichaeisme selama 10 tahun. Agustinus pun akhirnya murtad juga dari Manichaeisme, dan saat itu dia mengaku tidak memeluk agama apapun. Dia pun memutuskan untuk melanjutkan studi Retorika-nya ke Roma di tahun 379, lebih tepatnya ke Academia (Akademi Neoplatonisme) dan bergabung dalam kelas Skeptisisme. Di Academia, seluruh pelajar lintas latar belakang berbaur di sana. Ada pelajar pagan, Kristen, Manichaean, dan gnostik lainnya. Namun, setahun kemudian pada tanggal 27 Februari 380, Kaisar Theodosius I mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa Kekristenan menjadi agama resmi Negara, yang kemudian dikenal sebagai Maklumat Tesalonika (Edict of Thessalonica). Dua tahun kemudian (tahun 382), pemerintahan Theodosius I mengeluarkan maklumat lagi yang berisi perintah untuk menangkap dan membunuh semua uskup dan rahib Manichaean di wilayah kedaulatannya. Saat itu, Agustinus mengaku bahwa Tuhan sangat mengasihinya, karena dia telah dibebaskan dari kesesatan Manichaeisme sebelum maklumat ini keluar. Dia memandang jalan hidupnya yang penuh keraguan iman Kekristenan sebelumnya merupakan rencana baik Tuhan untuk mempersiapkan dirinya menjadi seorang Kristen yang kuat imannya. Meskipun pada saat Maklumat Tesalonika itu terbit, dia masih belum kembali memeluk Kekristenan. Dia baru "bertobat" setelah bertemu uskup Ambrosius dari Milan (w. 397) dan menyampaikan pengakuan dosanya di bilik pengakuan dosa Gereja Katolik Milan. Agustinus menulis momentum ini dengan sangat gemilang, dengan kalimat: "kebenaran telah dimenangkan". Dia juga menggambarkan betapa uskup Ambrosius sangat sedih mendengar pengakuannya, mengingat sang uskup sendiri masih sedang berjuang untuk menangkal "bidat" Arianisme yang berpusat pula di Afrika utara, dan kali ini bidat terbesar telah memenuhi Afrika utara lagi, yaitu Manichaeisme. Agustinus memperoleh jawaban dari Ambrosius mengenai "Problem of Evil"-nya yang pernah dia ragukan sejak masih di seminari Numidia. Di dalam Confessiones, dia menulis tentang sebuah kenangan masa kecilnya, dimana dia pernah bersama teman-teman sesama bocil mencuri buah di sebuah kebun tetangga. Dia menyadari bahwa dia mencuri buah tsb bukan karena lapar, tapi karena "buah itu terlarang". Insting manusia memang secara alami akan melakukan sesuatu yang dilarang, mirip dengan joke "larangan adalah perintah". Agustinus kecil waktu itu secara tidak sadar berkata dalam hati: "Aku tahu ini salah, tapi aku suka". Masih menurut Agustinus, manusia terdorong insting untuk berbuat dosa karena adanya larangan sehingga manusia akhirnya melakukan apa yang dilarang itu. Itulah pergolakan batin Adam ketika dia dilarang Tuhan untuk memakan buah pengetahuan. Tuhan selalu menghendaki kebaikan, Dia menciptakan manusia menurut rupa/gambar-Nya sendiri. Sebagaimana Tuhan memiliki kehendak, manusia juga memiliki kehendak. Karena Tuhan itu mengasihi Adam, maka Tuhan memberikan Adam kehendak agar dia dapat merasakan memiliki kehendak seperti diri-Nya. Pada mulanya, Adam hidup selaras dengan Tuhan, kehendak Adam selaras dengan kehendak Tuhan. Namun, kehendak yang dipilih Adam tidak selalu baik, tidak seperti Tuhan yang selalu menghendaki kebaikan. Adam "memilih jalannya sendiri" dengan melakukan apa yang dilarang Tuhan. Artinya, dosa Adam bukanlah kehendak Tuhan, melainkan kehendak Adam sendiri. Keluarnya Adam dari Taman Eden, masih menurut Agustinus, adalah terpisahnya kehendak manusia dari kehendak Allah. Manusia berbuat dosa karena kehendaknya sendiri, bukan kehendak Allah. Dan karena keterpisahan inilah manusia terjerumus ke dalam jurang maut/kebinasaan dan jauh dari kehidupan yang kekal sebagaimana yang dikehendaki Allah. Sebaliknya, karena Allah selalu mengasihi manusia dan tidak menghendaki manusia jatuh ke dalam kebinasaan, menurut Agustinus, Allah menjadi Kristus untuk menebus manusia dari seluruh dosa yang berasal dari kehendak bebasnya. Allah menjadi Kristus untuk menyelamatkan manusia agar tidak jatuh ke jurang kebinasaan dan dapat beroleh hidup yang kekal di Kerajaan Sorganya. Dengan segala kutipan kitab suci, Agustinus menjawab semua keraguan yang dia alami selama masih muda.
Diubah oleh tyrodinthor 25-04-2024 13:20
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.