- Beranda
- Stories from the Heart
Sekamar Kos Dengan Dia Season 3
...
TS
aguzblackrx
Sekamar Kos Dengan Dia Season 3
Fan Page : sekamar kos dengan dia

Part 1
#kemunculan Sinta
(Bersambung)
INDEX

Quote:
Part 1
#kemunculan Sinta
Suara adzan berkumandang, perlahan tangan ku terasa digoyangkan oleh seseorang. Iya dia via istriku membangunkan ku untuk solat subuh.
Setelah aku bangun dengan manja aku berjalan gontai menuju kamar mandi. Selesai melakukan kegiatan wudhu aku pun pergi ke mushola menggunakan sarung , baju koko dan peci hitam peninggalan bapak ku tak lupa memakai sendal jepit bermerkan swalow.
Udara yang dingin tidak merontokan niat ku untuk melaksanakan kewajiban terhadap Allah Swt berjamaah di mushola. Solat subuh dan berzikir pagi pun selesai aku pulang ke rumah melalui jalan setapak di kampung ku.
Selama perjlanan pulang Banyak orang yang sudah melakukan aktivitas . Ada yang sudah berangkat bekerja ke kantor, ada yang sudah jualan nasi uduk dan bubur ayam, dan bahkan sudah ada yang bersiap pergi ke pasar.
Sesampainya di rumah nampak sepi keadaanya. Maklum ibu sedang menginap di rumah kakak ku mas bono.
via pun ternyata sudah selesai sholat, namun sepertinya dia tertidur lagi masih menggunakan mukena yang dia pakai.
"Wah. Dia ketiduran lagi" gumamku dalam hati
aku tidak berani membangunkanya mungkin dia merasa masih lelah karena kemarin menjaga dan mengasuh keponakan ku serta pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga.
Aku yang sudah tidak ngantuk berniat menonton Tv di ruang tengah namun Tiba tiba aku mencium aroma khas yang aku kenal. Perasaan ku saat itu senang dan bahagia karena sudah lama tidak menciumnya sejak dikosan dulu. Benar ini aroma kedatangan shinta, tidak biasanya selalu mendadak nongol yang membuat ku kaget.
Kemudian terdengar suara pintu terbuka dari ruang tamu.
"Cckkreek "
Lalu aku bergegas menuju arah depan rumah. Aku melihat seorang wanita yang tidak asing bagi ku. Rambutnya yang panjang dan wajahnya manis putih seperti orang jepang. Dia adalah sinta , jin penjaga ku yang sudah lama tidak aku temui.
Namun anehnya tidak biasanya dia membuka pintu.
Dia tersenyum ke arah ku, senyuman manis khasnya yang membuat diri ini terpesona olehnya.
"Hayy yan.... Gimana kabar mu?" Tanya sinta
" Eh.. ta koq kamu pakaiannya sepeti itu? ". Tanyaku pada sinta karena keheranan
"Awas yan..mata mu keluar. Melotot gitu" ketus sinta namun suara manjanya yang bikin aku senang.
Sebenarnya sinta selalu memakai pakaian gaun putih khas mbak kunti. Namun kali ini dia memakai pakaian layaknya manusia. Memakai celana jeans ketat dan kaos lengan pendek nampak pusarnya sedikit mengintip.
' ga biasnya ta. Menurut ku kurang bagus " protes ku kepada sinta
" Lah aku harus bagaimana?" Sinta bertanyA balik pada ku. Sambil.manyun menandakan dia tidak menerima saran ku.
"Pakai pakaian seperti di mimpi ku dulu , seperti robin di one piece " timpal ku sambil aku mengkedip kedipkan mata ku padanya.
" Huu... Dasar. Otak mesum. Udah punya istri masih mikir begitu. emang aku cewek apakah?" Sahut sinta begitu menohok. Namun gaya nya seperti abg gaul di jaman sekarang.
" Ya udh kalau ga mau nurut. Aku buang kamu ke tengah laut ' ancam ku namun sambil cengengesan menggoda sinta.
Namun kagetnya aku ketika shinta melakukan hal diluar nurul. Maksudnya dia melakukan nya spontan merubah pakaiamya persis seperti robin di dalam one piece. Temam teman bisa membayNgkan tampilannya pakaian bikini atasan bergaris hitam hijau dan celana pendek hotpans se selangkangan.
Aku terkaget dan tidak menduga hal demikian apa yang dilakukan Shinta membuat ku terpana.
Shinta kemudian mendekati ku perlahan tatapannya begitu menggoda . Tak sadar aku menelan lidah. Aku pun sampai lupa bahwa di kamar masih ada istriku tertidur.
"Ta.. ap ap apaa yang akan kamu lakukan Ta?" tanyaku pada Shinta meski mataku masih fokus dengan tubuh sinta yang begitu putih mulus langsing dengan pakaian begitu minim.
"Ini kan yang kamu mau ryan? " Goda sinta seraya medekati ku.
Dia berjalan berlenggak lenggok bagaikan super model dengan tatapan mata yang menggoda. Aku yang terpana seolah tak bisa bergerak lalu jari telunjuk nya yang dibalikan menuju dagu wajah ku.
Lalu Lirikan matanya menoleh ke arah sarung ku. Padahal aku hanya memakai sempak di dalamnya.
"Bahaya ini... Bisa ada pertempuran" fikir ku sepintas.
"Silahkan kalau berani. Aku ikhlas Shinta" jelas ku malah menantang shinta melakukannya.
Namun sebenarnya aku takut juga bagaimana seorang laki laki manusia bertempur dengan jin seperti shinta. Apakah nikmat atau ......xxx....
Seketika tangan shinta meraih sarung ku dan .....
Setelah aku bangun dengan manja aku berjalan gontai menuju kamar mandi. Selesai melakukan kegiatan wudhu aku pun pergi ke mushola menggunakan sarung , baju koko dan peci hitam peninggalan bapak ku tak lupa memakai sendal jepit bermerkan swalow.
Udara yang dingin tidak merontokan niat ku untuk melaksanakan kewajiban terhadap Allah Swt berjamaah di mushola. Solat subuh dan berzikir pagi pun selesai aku pulang ke rumah melalui jalan setapak di kampung ku.
Selama perjlanan pulang Banyak orang yang sudah melakukan aktivitas . Ada yang sudah berangkat bekerja ke kantor, ada yang sudah jualan nasi uduk dan bubur ayam, dan bahkan sudah ada yang bersiap pergi ke pasar.
Sesampainya di rumah nampak sepi keadaanya. Maklum ibu sedang menginap di rumah kakak ku mas bono.
via pun ternyata sudah selesai sholat, namun sepertinya dia tertidur lagi masih menggunakan mukena yang dia pakai.
"Wah. Dia ketiduran lagi" gumamku dalam hati
aku tidak berani membangunkanya mungkin dia merasa masih lelah karena kemarin menjaga dan mengasuh keponakan ku serta pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga.
Aku yang sudah tidak ngantuk berniat menonton Tv di ruang tengah namun Tiba tiba aku mencium aroma khas yang aku kenal. Perasaan ku saat itu senang dan bahagia karena sudah lama tidak menciumnya sejak dikosan dulu. Benar ini aroma kedatangan shinta, tidak biasanya selalu mendadak nongol yang membuat ku kaget.
Kemudian terdengar suara pintu terbuka dari ruang tamu.
"Cckkreek "
Lalu aku bergegas menuju arah depan rumah. Aku melihat seorang wanita yang tidak asing bagi ku. Rambutnya yang panjang dan wajahnya manis putih seperti orang jepang. Dia adalah sinta , jin penjaga ku yang sudah lama tidak aku temui.
Namun anehnya tidak biasanya dia membuka pintu.
Dia tersenyum ke arah ku, senyuman manis khasnya yang membuat diri ini terpesona olehnya.
"Hayy yan.... Gimana kabar mu?" Tanya sinta
" Eh.. ta koq kamu pakaiannya sepeti itu? ". Tanyaku pada sinta karena keheranan
"Awas yan..mata mu keluar. Melotot gitu" ketus sinta namun suara manjanya yang bikin aku senang.
Sebenarnya sinta selalu memakai pakaian gaun putih khas mbak kunti. Namun kali ini dia memakai pakaian layaknya manusia. Memakai celana jeans ketat dan kaos lengan pendek nampak pusarnya sedikit mengintip.
' ga biasnya ta. Menurut ku kurang bagus " protes ku kepada sinta
" Lah aku harus bagaimana?" Sinta bertanyA balik pada ku. Sambil.manyun menandakan dia tidak menerima saran ku.
"Pakai pakaian seperti di mimpi ku dulu , seperti robin di one piece " timpal ku sambil aku mengkedip kedipkan mata ku padanya.
" Huu... Dasar. Otak mesum. Udah punya istri masih mikir begitu. emang aku cewek apakah?" Sahut sinta begitu menohok. Namun gaya nya seperti abg gaul di jaman sekarang.
" Ya udh kalau ga mau nurut. Aku buang kamu ke tengah laut ' ancam ku namun sambil cengengesan menggoda sinta.
Namun kagetnya aku ketika shinta melakukan hal diluar nurul. Maksudnya dia melakukan nya spontan merubah pakaiamya persis seperti robin di dalam one piece. Temam teman bisa membayNgkan tampilannya pakaian bikini atasan bergaris hitam hijau dan celana pendek hotpans se selangkangan.
Aku terkaget dan tidak menduga hal demikian apa yang dilakukan Shinta membuat ku terpana.
Shinta kemudian mendekati ku perlahan tatapannya begitu menggoda . Tak sadar aku menelan lidah. Aku pun sampai lupa bahwa di kamar masih ada istriku tertidur.
"Ta.. ap ap apaa yang akan kamu lakukan Ta?" tanyaku pada Shinta meski mataku masih fokus dengan tubuh sinta yang begitu putih mulus langsing dengan pakaian begitu minim.
"Ini kan yang kamu mau ryan? " Goda sinta seraya medekati ku.
Dia berjalan berlenggak lenggok bagaikan super model dengan tatapan mata yang menggoda. Aku yang terpana seolah tak bisa bergerak lalu jari telunjuk nya yang dibalikan menuju dagu wajah ku.
Lalu Lirikan matanya menoleh ke arah sarung ku. Padahal aku hanya memakai sempak di dalamnya.
"Bahaya ini... Bisa ada pertempuran" fikir ku sepintas.
"Silahkan kalau berani. Aku ikhlas Shinta" jelas ku malah menantang shinta melakukannya.
Namun sebenarnya aku takut juga bagaimana seorang laki laki manusia bertempur dengan jin seperti shinta. Apakah nikmat atau ......xxx....
Seketika tangan shinta meraih sarung ku dan .....
(Bersambung)
INDEX
Quote:
Diubah oleh aguzblackrx 27-03-2024 11:02
tf96065053 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
7.7K
209
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aguzblackrx
#83
Part 25
#Kabut Selimut
Deru angin kencang menerpa wajah ku, aku kira cuaca akan berubah terlihat pepohonan bergerak tak karuan oleh terpaan angin. Suasana malah makin mencekam manakala penerangan di tempat yang dianggap sebagai stasiun kereta api ini hanya menampakan obor bambu. Cahaya temaram membuat bulu kuduk ku merinding.
Tidak bagi Helena dia nampak biasa saja berdiri disamping ku namun aku yang gusar karena kereta belum juga kunjung datang akan makin lama aku ada di alam ini. Menurut Mbah Margono akan berbahaya bagi nyawa ku apabila terlalu lama di alam jin karena sifat sifat kemanusiaan ku akan hilang disini.
"Ahh....lama kali kereta datang? Apakah memang tidak ada kereta di malam hari? " Tanya ku memastikan pada Helena yang sedari tadi mondar mandir melihat sekitar area stasiun.
"Kereta disini tidak akan pernah berhenti beroperasi meski penumpang kosong, sebentar lagi pasti datang" ucap Helena meyakinkan ku
"Ngookkk ngookkkk"
Sayup sayup suara yang aku kenal terdengar memecah sunyi malam, aku mencari sumber suara ke arah kiri dan kanan namun tidak aku temui. Aneh memang itu sangat bisa dipastikan merupakan suara kereta api.
"Tuh kan sudah datang kereta nya" sahut Helena memberitahu ku dengan garis senyum dipipi nya. Meski temaram bisa banget wajah Helena nampak jelas kecantikannya.
Lambat laun suara kereta semakin mendekat namun karena kegelapan di malam hari tentu seharusnya lampu kereta api menyoroti rel kereta. Tak lama kemudian munculah sosok besi tua nampak keluar dari rimbunan hutan yang tadi sore sebenarnya tidak ada hutan sama sekali aku lihat, yang ada hanya hamparan kebun dan persawahan. Namun semua berubah manakala malam hari.
"Perasaan tadi di kanan kiri kita tidak ada hutan? Koq sekarang mendadak banyak pepohonan besar?" Ucap ku lirih yang ternyata di dengar oleh Helena ,
"Kalau di alam ini semua berubah dengan cepat jadi jangan heran banyak manusia yang tersesat di alam gaib karena mereka tidak bisa membedakan tempat yang telah ia kunjungi dengan tempat yang belum dikunjungi kadang nampak sama persis. Itu makanya aku harus ikut dengan mu" sahut Helena yang membuat mata ini terbelalak
"Ngeri juga yah. " Ucap ku singkat sambil memperhatikan laju kereta yang nampak melambat ke arah kami.
Tidak lama kemudian kereta sudah berhenti tepat di depan kami namun tanpa cahaya penerangan di depan bahkan di dalam kerata. Gerbong yang ada ditempat kami adalah gerbong kereta ke 4. Pintu pun terbuka aku pun diajak helena untuk segera masuk ke dalam kereta. Aku agak ragu takutnya isi di dalam kereta pasti makhluk makhluk astral karena nampak dari luar banyak sosok sosok yang sedang duduk dengan bentuk bentuk kepala dan postur tubuh yang berbeda beda. Akupun sempat takut dibuatnya apalagi pengalaman tempo hari bertempur dengan makhluk manusia serigala.
Helana pun mengajaku masuk , aku yang ada dibelakangnya hanya mengekor pada Helena. Nampak Helena biasa saja , memang mereka adalah makhluk sejenis yang sudah biasa dengan wujud wujud mengerikan.
Kesan Setelah di dalam kereta suasana nampak temaram karena pencahayaan hanya dari sinar cahaya rembulan dari luar dan suasana hening meski banyak penumpangnya, nampak dari mereka tidak ada yang melakukan pembicaraan, semua membisu dengan tatapan kosong serta berwajah pucat.

aku berdiri melihat ke seluruh area gerbong untuk mencari bangku kosong yang sekira nya lebih nyaman , setalah aku menemukannya kemudian aku memilih bangku yang ada di dekat pintu keluar seperti kemarin. Sekarang aku tidak sendirian di dalam kereta bisa mengobrol bersama Helena.
"Kita duduk disana saja " kata ku sambil menunjuk deretan bangku kosong yang nampak berdebu dan usang.
Helana pun mengangguk tanda menyetujui lalu kami berjalan ke bangku kosong itu. Akupun memilih di dekat jendela kamu saling berdampingan.
Pintu kereta pun tertutup , ternyata hanya kami berdua yang masuk ke dalam kereta tidak ada orang yang masuk atau pun keluar. Kereta berjalan dengan kecepatan konstan nampak tidak ada goyangan dari kereta seperti melayang di atas rel.
Aku bersama Helena banyak berbincang selama perjalanan , banyak hal yang diceritakan oleh Helena tentang keluarga dan kekasihnya dulu.
Sampai suatu ketika aku kagetkan dengan suara anak anak yang tertawa seolah mereka sedang bercanda. Sosok mereka terlihat siluet dari arah gerbong nomor 3 seolah sedang bermain dengan temannya.
Dengan penasaran akupun melihat tingkah dua bocah seumuran 5 tahunan yang sedang saling dorong dan pukul serta cubitan sambil tertawa riang menikmati candaan mereka.
Aku yang menatap mereka lama seolah menjadi tontonan yang mengasyikan. Seandainya aku sudah memiliki dua anak mungkin mereka akan bertingkah sama.
Akhirnya tatapan ku disadari oleh mereka lalu candaan mereka sejenak berhenti sambil melihat ke arah ku. Matanya nampak putih dalam kegelapan. Seketika bulu kuduk ku berdiri.
Dua bocah cilik itu seolah sedang membicarakan sesuatu sesekali melirik ke arah ku. Lalu tiba tiba mereka berlari menuju gerbong 4 ini. Tidak lama kemudian kedua bocah botak itu datang dan berdiri di depan kami.
Perawakan mereka yang mirip anak umur 5 tahun ternyata berwajah kembar mereka nampak mirip satu sama lain namun yang membedaknnya adalah baju yang mereka pakai.
Baju lusuh merah dan kuning selengan dan celana pendek selutut. Hal yang membuat mengerutkan dahi Terdapat tulisan dan gambar di dada kedua anak itu. Jelas di baju warna merah berupa gambar super Hero Japan yang telah dikenal semua orang di tahun 90 an. Ksatria baja hitam betul itu adalah tulisan dan gambar yang familiar yang aku ingat sejak kecil adalah tontonan favorit ku. Aku kira film itu tayang tahun 1994.
Yang kedua baju berwarna kuning bertulisan tuyul dan Mbak Yul serta gambar bocah botak si Ucil yang dulu juga jadi tontonan favorit ku di tahun 90 an.
Mereka berdua menatap ku dan aku pun membalas tatapan mereka . Lalu mereka saling menoleh satu sama lain. Hal tak diduga mereka ucapkan.
"Kak maen yuk kak. Ayo kak maen kak.. " Seru salah satu bocah dengan tangan pucat nan dingin mereka menarik narik tangan ku.
Aku pun terkejut dan menoleh ke arah Helena yang nampak senyum senyum ke arah ku.
"Aduh dek... Ga bisa main kakak nya. Nanti menggangu penumpang lainnya " tolak ku yang tidak melepas genggaman tangan dingin bocah botak itu
"Iya kak ayo main sama kami, ayo kak" ucapnya manja dari satu lagi bocah botak yang memakai pakaian kuning.
Akupun agak bingung dengan ajakan mereka mana mungkin aku yang sudah dewasa begini bermain di tempat umum layaknya anak kecil.
"Kak.... ayo kak ...maen kak" kedua bocah kecil itu mulai membuat ku gusar .
Sedikit rasa tidak suka akhirnya aku mendorong tangan mereka meski pelan nampak mereka tidak menyerah dan terus melakukan hal yang sama tanpa henti.
Suara mereka semakin lama semakin nyaring dan membuatku semakin kesal. Nampak helana raut wajahnya berubah namun tidak kunjung membantuku.
"Aduh ini anak kenapa sih. Helena coba bujuk mereka " ucap ku pada Helena
"Ryan... Ibu nya datang" bisik Helena lirih lalu aku menoleh ke arah dimana tadi kedua bocah botak ini ber asal.
Ternyata benar, seorang sosok sedang berdiri di antara gerbong 3 dan 4. Baju panjanh nya nampak robek robek dengan sesuatu yang menggelantung di depan kedua dadanya . Mata nya menyala merah serta rambutnya awut awutan tak karuan. Meski gelap terlihat samar namun pasti kuku kuku panjang dan tajam terjulur memegang kiri dan kanan lubang pintu masuk ke gerbong 4 ini.
"Gawat ini masalah lagi" gumam ku dalam hati.
Setalah menyadari bahwa ibu kedua bocah ini sedang memperhatikan rengekan mereka terhadap ku seketika mereka terdiam ketakutan.
"Itu ibu, San .... Ibu marah tuh" sahut bocah berbaju merah lusuh.
"Ihh kak gmna ini ? " Tanya bocah berbaju kuning yang ternyata adiknya.
Mata merah pada sosok yang mungkin Wewe gembel itu masih berdiri di depan pintu gerbong 4. Bau menyengat seperti bau sampah busuk menusuk hidungku semenjak sosok itu berdiri disana. Lalu Tangan berkuku panjang itu melambai lambai ke arah kami , mungkin menyuruh anak anaknya untuk mengentikan aksi mereka.
Kedua bocah tadi kemudian meninggalkan ku , mereka berlari menuju sosok berwujud Wewe gembel tadi. Setelah sampai pada sosok tadi kedua bocah itu lalu meraih tetek sosok tadi dan seolah menyusui. Pemandangan itu membuat ku merasa mual sekaligus ngeri.
Sempat terpikir dari kedua bocah tadi merupakan anak manusia yang mungkin diculik oleh Wewe gembel tadi hingga meninggal. Apalagi rasa dingin dari tangan kedua bocah tadi menunjukan mereka bukanlah manusia lagi.
Lalu ketiga sosok tadi kembali ke gerbong dengan cara melayang ke gerbong 3 lalu seperti duduk dibangku tadi.
"Mereka sudah pergi, kita aman disini . Untungnya kamu tidak memarahi kedua anak tadi. Jika sampai dimarahi maka sang ibu malah mungkin akan menyerang kita" bisik Helena yang membuat mataku terbelalak.
"Iya yah... Tadi sempat kesal juga tapi Karana mereka anak kecil aku biarkan saja" sahut ku pada Helena
Kami pun melanjutkan perbincangan ringan yang mungkin tidak lah penting. Tak lama kemudian sesuatu membuat ku terkejut, seseorang telah datang yang dilihat meski samar namun dia memakai seragam yang dipastikan itu seragam warna biru muda Makai topi khas petugas jaman dulu.
Dia berjalan melayang sejengkal di atas lantai kereta kemudian berhenti dihadapan kami.
Sosok itu tersenyum dingin ke arah ku tapi menatap tajam ke arah ku.
"Kau.. pasti ...tersesat... anak... muda..." ucap sosok itu dengan suara berat dan pelan.
Akupun tertegun dan menganggukkan kepala dua kali dengan perasaan cemas lalu ucapnya disambung
"Setelah stasiun ini kau akan sampai di alam manusia , turunlah " ucap sosok itu lalu bergerak menuju gerbong 3 tanpa memberi kesempatan mengucapkan terima kasih pada nya.
Banyak pertanyaan dalam pikiran ku bagaimana dia tahu bahwa aku manusia dan sedang menuju pulang. Helena pun yang mengetahui arti lamunan ku pun hanya tersenyum lebar.
Lalu tiba tiba kereta berhenti , aku pun membalikan badan melihat ke arah jendela. Nampak diluar jendela masih gelap. Kemudian pintu kereta api terbuka dengan sendirinya.
"Brakkk .." suara pintu terbuka
"Alhamdulillah akhirnya sampai , tapi ..." Ucap ku heran
" Sudah lah cepat kita keluar kereta sebelum kereta ini berjalan lagi" sahut helana membuyarkan lamunanku
Aku pun berdiri dari posisi duduk lalu berjalan menuju pintu keluar. Sebelum keluar banyak sosok sosok yang didalam kereta nampak menoleh ke arah kami berdua. Tanpa pikir panjang aku pun keluar bersama helana.
Setelah keluar tiba tiba kereta tertutup pintunya lalu berjalan kembali menembus gelapnya malam.
"Kita masih di alam gaib ya?" Tanya ku heran pada helana.
"Keluarkan kain putih pemberian Mbah Sayuti lalu taburkan disini" ucap Helena
Akupun teringat akan benda berbentuk kain putih itu lalu kuambil dari kantong jaket ku . Kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan putih yang ternyata isinya hanya tanah kering biasa. Lalu aku taburkan tanah yang seukuran kepalan tangan di lantai peron .
Sesuatu pun terjadi , setalah beberapa saat tanah jatuh di peron , muncul kepulan asap yang muncul dari tanah tersebut . Asapnya tebal putih menyelimuti kami berdua sampai sampai kami tidak bisa saling melihat.
"Helena ..." Teriak ku sambil mencoba meraih tubuh Helena namun tidak aku temui
"Ryan.... Kau dimana?" Teriak helana seolah panik.
Aku pun kelimpungan tak karuan, suara helana perlahan mengecil dan hingga menghilang tiba tiba padangan ku gelap tanpa cahaya sama sekali. Dan .....

(Bersambung)
#Kabut Selimut
Deru angin kencang menerpa wajah ku, aku kira cuaca akan berubah terlihat pepohonan bergerak tak karuan oleh terpaan angin. Suasana malah makin mencekam manakala penerangan di tempat yang dianggap sebagai stasiun kereta api ini hanya menampakan obor bambu. Cahaya temaram membuat bulu kuduk ku merinding.
Tidak bagi Helena dia nampak biasa saja berdiri disamping ku namun aku yang gusar karena kereta belum juga kunjung datang akan makin lama aku ada di alam ini. Menurut Mbah Margono akan berbahaya bagi nyawa ku apabila terlalu lama di alam jin karena sifat sifat kemanusiaan ku akan hilang disini.
"Ahh....lama kali kereta datang? Apakah memang tidak ada kereta di malam hari? " Tanya ku memastikan pada Helena yang sedari tadi mondar mandir melihat sekitar area stasiun.
"Kereta disini tidak akan pernah berhenti beroperasi meski penumpang kosong, sebentar lagi pasti datang" ucap Helena meyakinkan ku
"Ngookkk ngookkkk"
Sayup sayup suara yang aku kenal terdengar memecah sunyi malam, aku mencari sumber suara ke arah kiri dan kanan namun tidak aku temui. Aneh memang itu sangat bisa dipastikan merupakan suara kereta api.
"Tuh kan sudah datang kereta nya" sahut Helena memberitahu ku dengan garis senyum dipipi nya. Meski temaram bisa banget wajah Helena nampak jelas kecantikannya.
Lambat laun suara kereta semakin mendekat namun karena kegelapan di malam hari tentu seharusnya lampu kereta api menyoroti rel kereta. Tak lama kemudian munculah sosok besi tua nampak keluar dari rimbunan hutan yang tadi sore sebenarnya tidak ada hutan sama sekali aku lihat, yang ada hanya hamparan kebun dan persawahan. Namun semua berubah manakala malam hari.
"Perasaan tadi di kanan kiri kita tidak ada hutan? Koq sekarang mendadak banyak pepohonan besar?" Ucap ku lirih yang ternyata di dengar oleh Helena ,
"Kalau di alam ini semua berubah dengan cepat jadi jangan heran banyak manusia yang tersesat di alam gaib karena mereka tidak bisa membedakan tempat yang telah ia kunjungi dengan tempat yang belum dikunjungi kadang nampak sama persis. Itu makanya aku harus ikut dengan mu" sahut Helena yang membuat mata ini terbelalak
"Ngeri juga yah. " Ucap ku singkat sambil memperhatikan laju kereta yang nampak melambat ke arah kami.
Tidak lama kemudian kereta sudah berhenti tepat di depan kami namun tanpa cahaya penerangan di depan bahkan di dalam kerata. Gerbong yang ada ditempat kami adalah gerbong kereta ke 4. Pintu pun terbuka aku pun diajak helena untuk segera masuk ke dalam kereta. Aku agak ragu takutnya isi di dalam kereta pasti makhluk makhluk astral karena nampak dari luar banyak sosok sosok yang sedang duduk dengan bentuk bentuk kepala dan postur tubuh yang berbeda beda. Akupun sempat takut dibuatnya apalagi pengalaman tempo hari bertempur dengan makhluk manusia serigala.
Helana pun mengajaku masuk , aku yang ada dibelakangnya hanya mengekor pada Helena. Nampak Helena biasa saja , memang mereka adalah makhluk sejenis yang sudah biasa dengan wujud wujud mengerikan.
Kesan Setelah di dalam kereta suasana nampak temaram karena pencahayaan hanya dari sinar cahaya rembulan dari luar dan suasana hening meski banyak penumpangnya, nampak dari mereka tidak ada yang melakukan pembicaraan, semua membisu dengan tatapan kosong serta berwajah pucat.

aku berdiri melihat ke seluruh area gerbong untuk mencari bangku kosong yang sekira nya lebih nyaman , setalah aku menemukannya kemudian aku memilih bangku yang ada di dekat pintu keluar seperti kemarin. Sekarang aku tidak sendirian di dalam kereta bisa mengobrol bersama Helena.
"Kita duduk disana saja " kata ku sambil menunjuk deretan bangku kosong yang nampak berdebu dan usang.
Helana pun mengangguk tanda menyetujui lalu kami berjalan ke bangku kosong itu. Akupun memilih di dekat jendela kamu saling berdampingan.
Pintu kereta pun tertutup , ternyata hanya kami berdua yang masuk ke dalam kereta tidak ada orang yang masuk atau pun keluar. Kereta berjalan dengan kecepatan konstan nampak tidak ada goyangan dari kereta seperti melayang di atas rel.
Aku bersama Helena banyak berbincang selama perjalanan , banyak hal yang diceritakan oleh Helena tentang keluarga dan kekasihnya dulu.
Sampai suatu ketika aku kagetkan dengan suara anak anak yang tertawa seolah mereka sedang bercanda. Sosok mereka terlihat siluet dari arah gerbong nomor 3 seolah sedang bermain dengan temannya.
Dengan penasaran akupun melihat tingkah dua bocah seumuran 5 tahunan yang sedang saling dorong dan pukul serta cubitan sambil tertawa riang menikmati candaan mereka.
Aku yang menatap mereka lama seolah menjadi tontonan yang mengasyikan. Seandainya aku sudah memiliki dua anak mungkin mereka akan bertingkah sama.
Akhirnya tatapan ku disadari oleh mereka lalu candaan mereka sejenak berhenti sambil melihat ke arah ku. Matanya nampak putih dalam kegelapan. Seketika bulu kuduk ku berdiri.
Dua bocah cilik itu seolah sedang membicarakan sesuatu sesekali melirik ke arah ku. Lalu tiba tiba mereka berlari menuju gerbong 4 ini. Tidak lama kemudian kedua bocah botak itu datang dan berdiri di depan kami.
Perawakan mereka yang mirip anak umur 5 tahun ternyata berwajah kembar mereka nampak mirip satu sama lain namun yang membedaknnya adalah baju yang mereka pakai.
Baju lusuh merah dan kuning selengan dan celana pendek selutut. Hal yang membuat mengerutkan dahi Terdapat tulisan dan gambar di dada kedua anak itu. Jelas di baju warna merah berupa gambar super Hero Japan yang telah dikenal semua orang di tahun 90 an. Ksatria baja hitam betul itu adalah tulisan dan gambar yang familiar yang aku ingat sejak kecil adalah tontonan favorit ku. Aku kira film itu tayang tahun 1994.
Yang kedua baju berwarna kuning bertulisan tuyul dan Mbak Yul serta gambar bocah botak si Ucil yang dulu juga jadi tontonan favorit ku di tahun 90 an.
Mereka berdua menatap ku dan aku pun membalas tatapan mereka . Lalu mereka saling menoleh satu sama lain. Hal tak diduga mereka ucapkan.
"Kak maen yuk kak. Ayo kak maen kak.. " Seru salah satu bocah dengan tangan pucat nan dingin mereka menarik narik tangan ku.
Aku pun terkejut dan menoleh ke arah Helena yang nampak senyum senyum ke arah ku.
"Aduh dek... Ga bisa main kakak nya. Nanti menggangu penumpang lainnya " tolak ku yang tidak melepas genggaman tangan dingin bocah botak itu
"Iya kak ayo main sama kami, ayo kak" ucapnya manja dari satu lagi bocah botak yang memakai pakaian kuning.
Akupun agak bingung dengan ajakan mereka mana mungkin aku yang sudah dewasa begini bermain di tempat umum layaknya anak kecil.
"Kak.... ayo kak ...maen kak" kedua bocah kecil itu mulai membuat ku gusar .
Sedikit rasa tidak suka akhirnya aku mendorong tangan mereka meski pelan nampak mereka tidak menyerah dan terus melakukan hal yang sama tanpa henti.
Suara mereka semakin lama semakin nyaring dan membuatku semakin kesal. Nampak helana raut wajahnya berubah namun tidak kunjung membantuku.
"Aduh ini anak kenapa sih. Helena coba bujuk mereka " ucap ku pada Helena
"Ryan... Ibu nya datang" bisik Helena lirih lalu aku menoleh ke arah dimana tadi kedua bocah botak ini ber asal.
Ternyata benar, seorang sosok sedang berdiri di antara gerbong 3 dan 4. Baju panjanh nya nampak robek robek dengan sesuatu yang menggelantung di depan kedua dadanya . Mata nya menyala merah serta rambutnya awut awutan tak karuan. Meski gelap terlihat samar namun pasti kuku kuku panjang dan tajam terjulur memegang kiri dan kanan lubang pintu masuk ke gerbong 4 ini.
"Gawat ini masalah lagi" gumam ku dalam hati.
Setalah menyadari bahwa ibu kedua bocah ini sedang memperhatikan rengekan mereka terhadap ku seketika mereka terdiam ketakutan.
"Itu ibu, San .... Ibu marah tuh" sahut bocah berbaju merah lusuh.
"Ihh kak gmna ini ? " Tanya bocah berbaju kuning yang ternyata adiknya.
Mata merah pada sosok yang mungkin Wewe gembel itu masih berdiri di depan pintu gerbong 4. Bau menyengat seperti bau sampah busuk menusuk hidungku semenjak sosok itu berdiri disana. Lalu Tangan berkuku panjang itu melambai lambai ke arah kami , mungkin menyuruh anak anaknya untuk mengentikan aksi mereka.
Kedua bocah tadi kemudian meninggalkan ku , mereka berlari menuju sosok berwujud Wewe gembel tadi. Setelah sampai pada sosok tadi kedua bocah itu lalu meraih tetek sosok tadi dan seolah menyusui. Pemandangan itu membuat ku merasa mual sekaligus ngeri.
Sempat terpikir dari kedua bocah tadi merupakan anak manusia yang mungkin diculik oleh Wewe gembel tadi hingga meninggal. Apalagi rasa dingin dari tangan kedua bocah tadi menunjukan mereka bukanlah manusia lagi.
Lalu ketiga sosok tadi kembali ke gerbong dengan cara melayang ke gerbong 3 lalu seperti duduk dibangku tadi.
"Mereka sudah pergi, kita aman disini . Untungnya kamu tidak memarahi kedua anak tadi. Jika sampai dimarahi maka sang ibu malah mungkin akan menyerang kita" bisik Helena yang membuat mataku terbelalak.
"Iya yah... Tadi sempat kesal juga tapi Karana mereka anak kecil aku biarkan saja" sahut ku pada Helena
Kami pun melanjutkan perbincangan ringan yang mungkin tidak lah penting. Tak lama kemudian sesuatu membuat ku terkejut, seseorang telah datang yang dilihat meski samar namun dia memakai seragam yang dipastikan itu seragam warna biru muda Makai topi khas petugas jaman dulu.
Dia berjalan melayang sejengkal di atas lantai kereta kemudian berhenti dihadapan kami.
Sosok itu tersenyum dingin ke arah ku tapi menatap tajam ke arah ku.
"Kau.. pasti ...tersesat... anak... muda..." ucap sosok itu dengan suara berat dan pelan.
Akupun tertegun dan menganggukkan kepala dua kali dengan perasaan cemas lalu ucapnya disambung
"Setelah stasiun ini kau akan sampai di alam manusia , turunlah " ucap sosok itu lalu bergerak menuju gerbong 3 tanpa memberi kesempatan mengucapkan terima kasih pada nya.
Banyak pertanyaan dalam pikiran ku bagaimana dia tahu bahwa aku manusia dan sedang menuju pulang. Helena pun yang mengetahui arti lamunan ku pun hanya tersenyum lebar.
Lalu tiba tiba kereta berhenti , aku pun membalikan badan melihat ke arah jendela. Nampak diluar jendela masih gelap. Kemudian pintu kereta api terbuka dengan sendirinya.
"Brakkk .." suara pintu terbuka
"Alhamdulillah akhirnya sampai , tapi ..." Ucap ku heran
" Sudah lah cepat kita keluar kereta sebelum kereta ini berjalan lagi" sahut helana membuyarkan lamunanku
Aku pun berdiri dari posisi duduk lalu berjalan menuju pintu keluar. Sebelum keluar banyak sosok sosok yang didalam kereta nampak menoleh ke arah kami berdua. Tanpa pikir panjang aku pun keluar bersama helana.
Setelah keluar tiba tiba kereta tertutup pintunya lalu berjalan kembali menembus gelapnya malam.
"Kita masih di alam gaib ya?" Tanya ku heran pada helana.
"Keluarkan kain putih pemberian Mbah Sayuti lalu taburkan disini" ucap Helena
Akupun teringat akan benda berbentuk kain putih itu lalu kuambil dari kantong jaket ku . Kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan putih yang ternyata isinya hanya tanah kering biasa. Lalu aku taburkan tanah yang seukuran kepalan tangan di lantai peron .
Sesuatu pun terjadi , setalah beberapa saat tanah jatuh di peron , muncul kepulan asap yang muncul dari tanah tersebut . Asapnya tebal putih menyelimuti kami berdua sampai sampai kami tidak bisa saling melihat.
"Helena ..." Teriak ku sambil mencoba meraih tubuh Helena namun tidak aku temui
"Ryan.... Kau dimana?" Teriak helana seolah panik.
Aku pun kelimpungan tak karuan, suara helana perlahan mengecil dan hingga menghilang tiba tiba padangan ku gelap tanpa cahaya sama sekali. Dan .....

(Bersambung)
Diubah oleh aguzblackrx 03-05-2024 12:30
habibhiev dan 7 lainnya memberi reputasi
8