- Beranda
- Stories from the Heart
TOLONG AKU HANTU!
...
TS
adamtzero
TOLONG AKU HANTU!
Quote:

"Hantu Gasimah" cr: pickpik
Sinop
Quote:
Nanti malah spoiler, baca aja kalau minat...

INDEX
Quote:
Spoiler for Arc Perkenalan:
Spoiler for Arc Lima Elit:
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
Spoiler for Arc Gasimah:
Spoiler for Arc ???:
Note:
- Cerita ini fiksi 100 %
- Tidak ada maksud tertentu, kalau ada kesamaan hanya kebetulan semata.
- Enjoy
- Kamis
Diubah oleh adamtzero 14-09-2024 20:03
wikanrahma12070 dan 5 lainnya memberi reputasi
4
5.3K
Kutip
189
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
adamtzero
#26
13
Quote:
Langkahnya begitu cepat, hawa semakin mencekam merupakan pertanda yang sangat nyata bahwa Pandu telah mengucapkan kata terlarang. Goa bekas penjajah ini jika ditelusuri memang akan menembus gunung dan membuka pintu ke daerah lain, tetapi akses jalannya sudah ditutup untuk umum. Tetapi sekuat apapun Kuncen DJ mencoba meraih ruang eksekusi, rasanya kakinya hanya berlari berkeliling saja. Pengalaman bertahun-tahun sebagai kuncen tidak ada artinya lagi.
“BOGEL!” dalam keputusasaan, Kuncen DJ memanggil makhluk halus yang selama ini ikut dengannya. Bernama Bogel dalam bentuk sehari-harinya merupakan orang pendek berwajah tua.
“Aku enggak berani keluar, untuk sebangsa kami saja Mister Uwo itu sangat menyeramkan…,” ucap Bogel yang mengintip dari bahu Kuncen DJ.
“Bukan buat ngelawan Mister Uwo, tunjukin aja jalannya!” Bogel tetap tidak mau, sosoknya malah menghilang.
Sebelumnya Pandu sudah memberikan aba-aba kepada penonton bahwa ia akan melakukan sesuatu yang dilarang di tempat ini, lebih tepatnya mengucapkan kata terlarang. Sebuah kata yang merupakan bumbu dapur, yaitu ‘Garam’. Pandu sudah siap, langkah ini diambil karena tidak terjadi apa-apa yang signifikan selama dirinya berada di dalam. Pikirnya dengan cara ini akan hadir gangguan yang dahsyat.
“GARAM!” ucap Pandu secara lantang.
Tidak terjadi apa-apa, Pandu sudah merasa bahwa lagi-lagi Kuncen DJ telah menipu dirinya. Bahkan setelah mengucapkan kata terlarang dengan keras, bayangan yang lewat saja tak nampak. Pandu ingin memberitahu pada penonton bahwa jangan terlalu percaya dengan takhayul maupun pantangan-pantangan yang diberikan oleh Kuncen di suatu tempat yang angker.
“Jadi gaes….,” tiba-tiba tempatnya berada menjadi sangat hening, telinganya berdenging kuat. Lampu senternya meredup lalu mati, membuatnya gelap gulita. “………….,” yang lebih aneh, Pandu tidak bisa mendengarkan suaranya sendiri.
Lantainya kemudian bergetar, dari yang getarannya rendah hingga menjadi sangat kuat, ditemani dengan suara auman yang anehnya terdengar oleh Pandu tapi suaranya sendiri tidak nyata. Kedua mata merah menyala hadir di tengah kegelapan, diikuti dengan tanduk besar lalu rambut yang panjang hingga menyentuh tanah, belum tampak kepala bahkan keseluruhan badannya. Tanpa disadari, tubuh Pandu bergetar hebat, baru ini ada rasa kengerian dalam dirinya.
“Coba ucapkan sekali lagi,” suara berat terdengar.
Bagaimana Pandu bisa mengucapkannya jika suaranya sendiri saja rasanya tidak ada. Badannya hanya terdiam, matanya membesar sambil memperhatikan mata merah yang penuh dengan rasa bengis. Karena tidak ada balasan dari Pandu, sosok bermata merah menyala dan mempunyai tanduk besar ini perlahan-lahan muncul dari dalam kegelapan. Sosoknya tinggi besar hingga atapnya tidak bisa menopang, lehernya ditekuk agar tanduknya tidak menancap. Seluruh badannya berwarna merah, kekar layaknya binaragawan.
“AKU BILANG, COBA UCAPKAN SEKALI LAGI!!!” Suaranya begitu keras dan lantang, Pandu semakin membatu dengan getaran tubuh yang semakin menjadi-jadi. “kalian pikir, karena kalian itu manusia bisa berbuat seenaknya? Sekarang, kau bisa rasakan sendiri tidak bisa apa-apa ketika ku paksa masuk ke dalam dimensi ku,” lanjutnya. “kau ingin tahu, apa yang terjadi pada seseorang yang mengucapkan kata itu sebelum kau?” tanyanya. “ku---,” entah muncul dari mana sosok wanita berpakaian gaun putih berlari menarik lengan Pandu untuk keluar dari tempat ini. Sosok tinggi besar bermata merah hanya tertawa melihatnya.
Wanita berpakaian gaun putih ini tidak melepaskan pegangannya sambil terus berlari, barulah setelah menjauh akhirnya Pandu dapat mendengarkan suaranya lagi. Rambutnya hitam sebahu, badan perawakan kecil, dan tangan selembut sutra adalah apa yang dirasakan oleh Pandu sekarang. Seingatnya tidak ada orang lain di tempat ini selain dirinya dan Ardit.
“Kamu…siapa---,” pandangan Pandu tiba-tiba menghitam, tubuhnya menjadi sangat lemas hingga tersungkur jatuh.
Beberapa saat kemudian, secara perlahan Pandu bisa membuka matanya. Ada sebuah lemari baju besar yang tidak asing baginya, sangat berbeda dengan yang ada dikosannya. Badannya pun melompat, sekarang ia ada dirumahnya. Hal pertama yang dicarinya adalah ponsel miliknya, karena seingatnya ia sedang melakukan uji nyali di sebuah goa bekas penjajah. Lalu terjadi sesuatu dan ada sosok menyeramkan. Di saat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, datang wanita bergaun putih menolongnya.
“Pandu…,” terdengar suara dari Ibunya di saat Pandu sedang mencerna semuanya. “Pandu udah bangun? Ke sini sebentar bantu Mama…,” tidak bisa menolak permintaan Ibunya, Pandu sampai lupa jika harus mencari ponselnya.
Kakinya pelan menuruni tangga rumahnya, harum masakan sudah tercium dari jarak sejauh ini. Posisi dapur dirumahnya berada di sudut ujung, agar asapnya tidak berlari ke area utama rumah. Setelah sampai dapur, Ibunya sedang memasak masakan untuk keluarganya. Sambil membelakangi belum menyadari anaknya sudah sampai.
“Eh Pandu, coba tolong Mama,” tanpa menoleh kebelakang, sekarang sudah menyadari kedatangan anaknya.
“Iya, kenapa Ma?” tanya Pandu.
“Tolong dong ambilin Mama garam, ini belum dibumbuin lho,” pinta sang Ibu.
Dengan rasa mengeluh, Pandu mengambilkan garam untuk Ibunya. Padahal menurutnya, bumbu masak itu bisa diambil sendiri tanpa perlu menyuruhnya. Garam dirumahnya ditempatkan pada wadah plastik bening segi empat. Pandu membuka rak atas pertama, tidak ada wadah garam di sana, hanya ada beberapa mie instan. Lalu menuju rak sampingnya, di sini bukannya garam tetapi bumbu lainnya seperti gula dan lada.
“Kok lama sih, ketemu enggak Garamnya?” tiba-tiba wajah sang Ibu sudah berada di dekat leher Pandu, senyumnya aneh hingga ujung bibirnya menyentuh ujung telinga bawah. Kepalanya miring seperti orang yang lehernya patah. Pandu melirik dengan wajah tegang, dirinya sangat terkejut Ibunya melakukan hal itu.
“BOGEL!” dalam keputusasaan, Kuncen DJ memanggil makhluk halus yang selama ini ikut dengannya. Bernama Bogel dalam bentuk sehari-harinya merupakan orang pendek berwajah tua.
“Aku enggak berani keluar, untuk sebangsa kami saja Mister Uwo itu sangat menyeramkan…,” ucap Bogel yang mengintip dari bahu Kuncen DJ.
“Bukan buat ngelawan Mister Uwo, tunjukin aja jalannya!” Bogel tetap tidak mau, sosoknya malah menghilang.
Sebelumnya Pandu sudah memberikan aba-aba kepada penonton bahwa ia akan melakukan sesuatu yang dilarang di tempat ini, lebih tepatnya mengucapkan kata terlarang. Sebuah kata yang merupakan bumbu dapur, yaitu ‘Garam’. Pandu sudah siap, langkah ini diambil karena tidak terjadi apa-apa yang signifikan selama dirinya berada di dalam. Pikirnya dengan cara ini akan hadir gangguan yang dahsyat.
“GARAM!” ucap Pandu secara lantang.
Tidak terjadi apa-apa, Pandu sudah merasa bahwa lagi-lagi Kuncen DJ telah menipu dirinya. Bahkan setelah mengucapkan kata terlarang dengan keras, bayangan yang lewat saja tak nampak. Pandu ingin memberitahu pada penonton bahwa jangan terlalu percaya dengan takhayul maupun pantangan-pantangan yang diberikan oleh Kuncen di suatu tempat yang angker.
“Jadi gaes….,” tiba-tiba tempatnya berada menjadi sangat hening, telinganya berdenging kuat. Lampu senternya meredup lalu mati, membuatnya gelap gulita. “………….,” yang lebih aneh, Pandu tidak bisa mendengarkan suaranya sendiri.
Lantainya kemudian bergetar, dari yang getarannya rendah hingga menjadi sangat kuat, ditemani dengan suara auman yang anehnya terdengar oleh Pandu tapi suaranya sendiri tidak nyata. Kedua mata merah menyala hadir di tengah kegelapan, diikuti dengan tanduk besar lalu rambut yang panjang hingga menyentuh tanah, belum tampak kepala bahkan keseluruhan badannya. Tanpa disadari, tubuh Pandu bergetar hebat, baru ini ada rasa kengerian dalam dirinya.
“Coba ucapkan sekali lagi,” suara berat terdengar.
Bagaimana Pandu bisa mengucapkannya jika suaranya sendiri saja rasanya tidak ada. Badannya hanya terdiam, matanya membesar sambil memperhatikan mata merah yang penuh dengan rasa bengis. Karena tidak ada balasan dari Pandu, sosok bermata merah menyala dan mempunyai tanduk besar ini perlahan-lahan muncul dari dalam kegelapan. Sosoknya tinggi besar hingga atapnya tidak bisa menopang, lehernya ditekuk agar tanduknya tidak menancap. Seluruh badannya berwarna merah, kekar layaknya binaragawan.
“AKU BILANG, COBA UCAPKAN SEKALI LAGI!!!” Suaranya begitu keras dan lantang, Pandu semakin membatu dengan getaran tubuh yang semakin menjadi-jadi. “kalian pikir, karena kalian itu manusia bisa berbuat seenaknya? Sekarang, kau bisa rasakan sendiri tidak bisa apa-apa ketika ku paksa masuk ke dalam dimensi ku,” lanjutnya. “kau ingin tahu, apa yang terjadi pada seseorang yang mengucapkan kata itu sebelum kau?” tanyanya. “ku---,” entah muncul dari mana sosok wanita berpakaian gaun putih berlari menarik lengan Pandu untuk keluar dari tempat ini. Sosok tinggi besar bermata merah hanya tertawa melihatnya.
Wanita berpakaian gaun putih ini tidak melepaskan pegangannya sambil terus berlari, barulah setelah menjauh akhirnya Pandu dapat mendengarkan suaranya lagi. Rambutnya hitam sebahu, badan perawakan kecil, dan tangan selembut sutra adalah apa yang dirasakan oleh Pandu sekarang. Seingatnya tidak ada orang lain di tempat ini selain dirinya dan Ardit.
“Kamu…siapa---,” pandangan Pandu tiba-tiba menghitam, tubuhnya menjadi sangat lemas hingga tersungkur jatuh.
Beberapa saat kemudian, secara perlahan Pandu bisa membuka matanya. Ada sebuah lemari baju besar yang tidak asing baginya, sangat berbeda dengan yang ada dikosannya. Badannya pun melompat, sekarang ia ada dirumahnya. Hal pertama yang dicarinya adalah ponsel miliknya, karena seingatnya ia sedang melakukan uji nyali di sebuah goa bekas penjajah. Lalu terjadi sesuatu dan ada sosok menyeramkan. Di saat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, datang wanita bergaun putih menolongnya.
“Pandu…,” terdengar suara dari Ibunya di saat Pandu sedang mencerna semuanya. “Pandu udah bangun? Ke sini sebentar bantu Mama…,” tidak bisa menolak permintaan Ibunya, Pandu sampai lupa jika harus mencari ponselnya.
Kakinya pelan menuruni tangga rumahnya, harum masakan sudah tercium dari jarak sejauh ini. Posisi dapur dirumahnya berada di sudut ujung, agar asapnya tidak berlari ke area utama rumah. Setelah sampai dapur, Ibunya sedang memasak masakan untuk keluarganya. Sambil membelakangi belum menyadari anaknya sudah sampai.
“Eh Pandu, coba tolong Mama,” tanpa menoleh kebelakang, sekarang sudah menyadari kedatangan anaknya.
“Iya, kenapa Ma?” tanya Pandu.
“Tolong dong ambilin Mama garam, ini belum dibumbuin lho,” pinta sang Ibu.
Dengan rasa mengeluh, Pandu mengambilkan garam untuk Ibunya. Padahal menurutnya, bumbu masak itu bisa diambil sendiri tanpa perlu menyuruhnya. Garam dirumahnya ditempatkan pada wadah plastik bening segi empat. Pandu membuka rak atas pertama, tidak ada wadah garam di sana, hanya ada beberapa mie instan. Lalu menuju rak sampingnya, di sini bukannya garam tetapi bumbu lainnya seperti gula dan lada.
“Kok lama sih, ketemu enggak Garamnya?” tiba-tiba wajah sang Ibu sudah berada di dekat leher Pandu, senyumnya aneh hingga ujung bibirnya menyentuh ujung telinga bawah. Kepalanya miring seperti orang yang lehernya patah. Pandu melirik dengan wajah tegang, dirinya sangat terkejut Ibunya melakukan hal itu.
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas