- Beranda
- Stories from the Heart
Sekamar Kos Dengan Dia Season 3
...
TS
aguzblackrx
Sekamar Kos Dengan Dia Season 3
Fan Page : sekamar kos dengan dia

Part 1
#kemunculan Sinta
(Bersambung)
INDEX

Quote:
Part 1
#kemunculan Sinta
Suara adzan berkumandang, perlahan tangan ku terasa digoyangkan oleh seseorang. Iya dia via istriku membangunkan ku untuk solat subuh.
Setelah aku bangun dengan manja aku berjalan gontai menuju kamar mandi. Selesai melakukan kegiatan wudhu aku pun pergi ke mushola menggunakan sarung , baju koko dan peci hitam peninggalan bapak ku tak lupa memakai sendal jepit bermerkan swalow.
Udara yang dingin tidak merontokan niat ku untuk melaksanakan kewajiban terhadap Allah Swt berjamaah di mushola. Solat subuh dan berzikir pagi pun selesai aku pulang ke rumah melalui jalan setapak di kampung ku.
Selama perjlanan pulang Banyak orang yang sudah melakukan aktivitas . Ada yang sudah berangkat bekerja ke kantor, ada yang sudah jualan nasi uduk dan bubur ayam, dan bahkan sudah ada yang bersiap pergi ke pasar.
Sesampainya di rumah nampak sepi keadaanya. Maklum ibu sedang menginap di rumah kakak ku mas bono.
via pun ternyata sudah selesai sholat, namun sepertinya dia tertidur lagi masih menggunakan mukena yang dia pakai.
"Wah. Dia ketiduran lagi" gumamku dalam hati
aku tidak berani membangunkanya mungkin dia merasa masih lelah karena kemarin menjaga dan mengasuh keponakan ku serta pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga.
Aku yang sudah tidak ngantuk berniat menonton Tv di ruang tengah namun Tiba tiba aku mencium aroma khas yang aku kenal. Perasaan ku saat itu senang dan bahagia karena sudah lama tidak menciumnya sejak dikosan dulu. Benar ini aroma kedatangan shinta, tidak biasanya selalu mendadak nongol yang membuat ku kaget.
Kemudian terdengar suara pintu terbuka dari ruang tamu.
"Cckkreek "
Lalu aku bergegas menuju arah depan rumah. Aku melihat seorang wanita yang tidak asing bagi ku. Rambutnya yang panjang dan wajahnya manis putih seperti orang jepang. Dia adalah sinta , jin penjaga ku yang sudah lama tidak aku temui.
Namun anehnya tidak biasanya dia membuka pintu.
Dia tersenyum ke arah ku, senyuman manis khasnya yang membuat diri ini terpesona olehnya.
"Hayy yan.... Gimana kabar mu?" Tanya sinta
" Eh.. ta koq kamu pakaiannya sepeti itu? ". Tanyaku pada sinta karena keheranan
"Awas yan..mata mu keluar. Melotot gitu" ketus sinta namun suara manjanya yang bikin aku senang.
Sebenarnya sinta selalu memakai pakaian gaun putih khas mbak kunti. Namun kali ini dia memakai pakaian layaknya manusia. Memakai celana jeans ketat dan kaos lengan pendek nampak pusarnya sedikit mengintip.
' ga biasnya ta. Menurut ku kurang bagus " protes ku kepada sinta
" Lah aku harus bagaimana?" Sinta bertanyA balik pada ku. Sambil.manyun menandakan dia tidak menerima saran ku.
"Pakai pakaian seperti di mimpi ku dulu , seperti robin di one piece " timpal ku sambil aku mengkedip kedipkan mata ku padanya.
" Huu... Dasar. Otak mesum. Udah punya istri masih mikir begitu. emang aku cewek apakah?" Sahut sinta begitu menohok. Namun gaya nya seperti abg gaul di jaman sekarang.
" Ya udh kalau ga mau nurut. Aku buang kamu ke tengah laut ' ancam ku namun sambil cengengesan menggoda sinta.
Namun kagetnya aku ketika shinta melakukan hal diluar nurul. Maksudnya dia melakukan nya spontan merubah pakaiamya persis seperti robin di dalam one piece. Temam teman bisa membayNgkan tampilannya pakaian bikini atasan bergaris hitam hijau dan celana pendek hotpans se selangkangan.
Aku terkaget dan tidak menduga hal demikian apa yang dilakukan Shinta membuat ku terpana.
Shinta kemudian mendekati ku perlahan tatapannya begitu menggoda . Tak sadar aku menelan lidah. Aku pun sampai lupa bahwa di kamar masih ada istriku tertidur.
"Ta.. ap ap apaa yang akan kamu lakukan Ta?" tanyaku pada Shinta meski mataku masih fokus dengan tubuh sinta yang begitu putih mulus langsing dengan pakaian begitu minim.
"Ini kan yang kamu mau ryan? " Goda sinta seraya medekati ku.
Dia berjalan berlenggak lenggok bagaikan super model dengan tatapan mata yang menggoda. Aku yang terpana seolah tak bisa bergerak lalu jari telunjuk nya yang dibalikan menuju dagu wajah ku.
Lalu Lirikan matanya menoleh ke arah sarung ku. Padahal aku hanya memakai sempak di dalamnya.
"Bahaya ini... Bisa ada pertempuran" fikir ku sepintas.
"Silahkan kalau berani. Aku ikhlas Shinta" jelas ku malah menantang shinta melakukannya.
Namun sebenarnya aku takut juga bagaimana seorang laki laki manusia bertempur dengan jin seperti shinta. Apakah nikmat atau ......xxx....
Seketika tangan shinta meraih sarung ku dan .....
Setelah aku bangun dengan manja aku berjalan gontai menuju kamar mandi. Selesai melakukan kegiatan wudhu aku pun pergi ke mushola menggunakan sarung , baju koko dan peci hitam peninggalan bapak ku tak lupa memakai sendal jepit bermerkan swalow.
Udara yang dingin tidak merontokan niat ku untuk melaksanakan kewajiban terhadap Allah Swt berjamaah di mushola. Solat subuh dan berzikir pagi pun selesai aku pulang ke rumah melalui jalan setapak di kampung ku.
Selama perjlanan pulang Banyak orang yang sudah melakukan aktivitas . Ada yang sudah berangkat bekerja ke kantor, ada yang sudah jualan nasi uduk dan bubur ayam, dan bahkan sudah ada yang bersiap pergi ke pasar.
Sesampainya di rumah nampak sepi keadaanya. Maklum ibu sedang menginap di rumah kakak ku mas bono.
via pun ternyata sudah selesai sholat, namun sepertinya dia tertidur lagi masih menggunakan mukena yang dia pakai.
"Wah. Dia ketiduran lagi" gumamku dalam hati
aku tidak berani membangunkanya mungkin dia merasa masih lelah karena kemarin menjaga dan mengasuh keponakan ku serta pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga.
Aku yang sudah tidak ngantuk berniat menonton Tv di ruang tengah namun Tiba tiba aku mencium aroma khas yang aku kenal. Perasaan ku saat itu senang dan bahagia karena sudah lama tidak menciumnya sejak dikosan dulu. Benar ini aroma kedatangan shinta, tidak biasanya selalu mendadak nongol yang membuat ku kaget.
Kemudian terdengar suara pintu terbuka dari ruang tamu.
"Cckkreek "
Lalu aku bergegas menuju arah depan rumah. Aku melihat seorang wanita yang tidak asing bagi ku. Rambutnya yang panjang dan wajahnya manis putih seperti orang jepang. Dia adalah sinta , jin penjaga ku yang sudah lama tidak aku temui.
Namun anehnya tidak biasanya dia membuka pintu.
Dia tersenyum ke arah ku, senyuman manis khasnya yang membuat diri ini terpesona olehnya.
"Hayy yan.... Gimana kabar mu?" Tanya sinta
" Eh.. ta koq kamu pakaiannya sepeti itu? ". Tanyaku pada sinta karena keheranan
"Awas yan..mata mu keluar. Melotot gitu" ketus sinta namun suara manjanya yang bikin aku senang.
Sebenarnya sinta selalu memakai pakaian gaun putih khas mbak kunti. Namun kali ini dia memakai pakaian layaknya manusia. Memakai celana jeans ketat dan kaos lengan pendek nampak pusarnya sedikit mengintip.
' ga biasnya ta. Menurut ku kurang bagus " protes ku kepada sinta
" Lah aku harus bagaimana?" Sinta bertanyA balik pada ku. Sambil.manyun menandakan dia tidak menerima saran ku.
"Pakai pakaian seperti di mimpi ku dulu , seperti robin di one piece " timpal ku sambil aku mengkedip kedipkan mata ku padanya.
" Huu... Dasar. Otak mesum. Udah punya istri masih mikir begitu. emang aku cewek apakah?" Sahut sinta begitu menohok. Namun gaya nya seperti abg gaul di jaman sekarang.
" Ya udh kalau ga mau nurut. Aku buang kamu ke tengah laut ' ancam ku namun sambil cengengesan menggoda sinta.
Namun kagetnya aku ketika shinta melakukan hal diluar nurul. Maksudnya dia melakukan nya spontan merubah pakaiamya persis seperti robin di dalam one piece. Temam teman bisa membayNgkan tampilannya pakaian bikini atasan bergaris hitam hijau dan celana pendek hotpans se selangkangan.
Aku terkaget dan tidak menduga hal demikian apa yang dilakukan Shinta membuat ku terpana.
Shinta kemudian mendekati ku perlahan tatapannya begitu menggoda . Tak sadar aku menelan lidah. Aku pun sampai lupa bahwa di kamar masih ada istriku tertidur.
"Ta.. ap ap apaa yang akan kamu lakukan Ta?" tanyaku pada Shinta meski mataku masih fokus dengan tubuh sinta yang begitu putih mulus langsing dengan pakaian begitu minim.
"Ini kan yang kamu mau ryan? " Goda sinta seraya medekati ku.
Dia berjalan berlenggak lenggok bagaikan super model dengan tatapan mata yang menggoda. Aku yang terpana seolah tak bisa bergerak lalu jari telunjuk nya yang dibalikan menuju dagu wajah ku.
Lalu Lirikan matanya menoleh ke arah sarung ku. Padahal aku hanya memakai sempak di dalamnya.
"Bahaya ini... Bisa ada pertempuran" fikir ku sepintas.
"Silahkan kalau berani. Aku ikhlas Shinta" jelas ku malah menantang shinta melakukannya.
Namun sebenarnya aku takut juga bagaimana seorang laki laki manusia bertempur dengan jin seperti shinta. Apakah nikmat atau ......xxx....
Seketika tangan shinta meraih sarung ku dan .....
(Bersambung)
INDEX
Quote:
Diubah oleh aguzblackrx 27-03-2024 11:02
tf96065053 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
7.7K
209
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aguzblackrx
#30
Part 10
#Cakaran







Aku memejamkan mata dan menutup wajah ku dengan kedua tangan yang bersilangan. Akan tetapi suara gemuruh ledakkan dan kobaran api tidak terdengar lagi, apalagi aku mengira bahwa naga sudah sampai menyerang tubuh ku namun sudah sekian menit tidak terjadi apa apa .
Saat ku buka mata aku pun terbangun yang ternyata berada di dalam kamar dengan cucuran air keringat di tubuh ku. Terdengar Sayup sayup suara azan waktu Zuhur telah berkumandang .
"Allahu Akbar Allahu Akbar"
"Ah... Tadi mimpi ya? " Gumam ku sambil mengusap wajah dengan tangan kiri ku.
Tersadar dengan Shinta , kartu yang bergambar Shinta tergeletak ada di samping ku di atas kasur. Kemudian aku meraihnya dan memandangnya lagi.
"Shinta, aku akan menolong mu. Aku janji" ucap ku lirih
Kemudian aku bangkit dari kasur lalu berdiri. Syukurlah badan ku lebih sehat dari sebelumnya. Rasa pusing dan lemas sudah tidak terasa. Aku pun berniat akan melaksanakan sholat Zuhur ke masjid.
Aku pun keluar kamar, ku lihat via istri ku tidak ada di ruang tengah. Namun tercium aroma masakan dari arah dapur.
"Via... Sayang kamu dimana?" Teriak mencoba memastikan
"Iya mas, aku di dapur lagi masak " jawab via dari arah dapur
Kemudian aku melangkah ke dapur dan bertemu dengan via. Terlihat dia sedang memasak sesuatu.
"Eh ... Mas. Sudah bangun? " Tanya via
"Iya nih. Aku ketiduran tadi" jawab ku dengan mulut terbuka heuai...
"Mas udah baikan sekarang?" Tanya lagi via
"Alhamdulillah ini badan terasa baikan, aku mandi dulu yah" ucap ku sambil tersenyum.
"Yaudah mas , beres mandi dan sholat kemudian makan. Ini masakan ku bentar lagi mateng" ucap via yang sedang memasak tadi.
Setelah beres mengobrol aku mengambil handuk dan bergegas untuk mandi. Aku membuka seluruh pakaianku hingga tak sehelai benang pun.
Aku guyurkan satu dua gayung ke tubuh ku .
"Byurrr...bbyyurr"
Sialnya saat di kamar mandi suara desingan itu muncul kembali. Cukup nyaring namun aku tidak merasakan pusing seperti malam tadi.
"Nngggiiiiiiinggg nngggiiiiinggggh"
"Astaghfirullah... Dia datang lagi" ucap ku kesal
Aku pun segera membereskan mandi ku akan tetapi sesuatu aneh terasa. Punggung ku mendadak perih saat aku mengguyurkan air ke tubuh ku seolah telah terluka oleh sesuatu.
"Aduuhh... Apa lagi ini?" Keluh ku yang masih mendengar suara desingan
Aku pun mengusap punggung ku , aku pun kaget saat aku periksa ternyata terdapat darah di tangan ku.
"Tidak mungkin? Kok bisa" Tanya ku heran
Kemudian aku memastikan Dengan melihat di kaca di kamar mandi. Terlihat tiga bekas cakaran melintang di punggung ku hampir ke arah pinggang.
Aku pun segera keluar kamar mandi. Aku mencoba melindungi bekas luka ini dengan berjalan menyamping pura pura di depan via istri ku.
"Loh koq mas jalan nya menyamping begitu?" Tanya via keheranan
"Gak koq mas. Malu ada panu di belakang punggung ku hehe" jawab ku ngeles kepada via.
Via hanya menganggukkan kepalanya tanda dia setuju.
Kemudian aku berjalan mundur dan langsung masuk ke kamar. Lalu membersihkan noda darah yang mulai mengering dan memberikan Betadine supaya tidak infeksi.
Aku heran apakah ini juga perlakuan dari ular naga tadi? Apa tujuan dia sebenarnya?. Tidak ambil pusing akupun segera melaksanakan kewajiban ku melaksanakan sholat Zuhur. Karena insiden tadi aku fikir telat berjamaah dan melaksanakan sholat hanya di rumah saja.
Selesai solat aku pun pergi ke dapur dan makan bersama istri ku. Dia memasak makanan favorit ku yaitu ikan asin , kangkung terasi dan sambal. Kami makan dengan lahapnya.
"Setelah makan, mas mau izin ke rumah Mbah Margono ya? " Ucap ku
"Oh ada apa mas? Kan masih sakit" jawab via
" udah sehat begini kok, mas ada perlu sama si mbah . Penting " jawab ku
"Pentingan aku atau si Mbah sih ?" Ucap ketus via sambil manyun
" Yaelah... Cembokur ke si Mbah? Pentingan kamu lah sayang. Mas mau konsultasi perpindahan tempat kerja mas" jawab ku sambil tertawa karena ulah via
"Ooohh... yaudah , tapi hati hati yah. Kan ke rumah si Mbah melewati areal sawah dan lapangan jalannya pasti licin. " Ucap via memperingatkan ku
Setelah makan selesai aku pun pamit dan berjalan kaki menuju rumah Mbah Margono. Jalan setapak yang ku lalui melewati sebuah lapangan bola yang biasa anak anak pakai.
Dari kejauhan seperti biasa sosok jin bertubuh tinggi kurus selalu ada di tengah lapangan karena itu adalah wilayahnya. Sosok itu menatap ku mengikuti arah jalan ku.
Tiba tiba dia bergerak mendekati ku dengan cepat berjalan dengan langkah yang panjang. Beberapa detik dia sudah ada di tengah jalan.
"Hey... Yan. Kemana jin penjaga mu? " Tanya sosok jin itu
"Apa urusan mu?" Jawab ku dengan nada sebal.
"Kau nampak sendirian, mudah sekali mendapatkan mu hahaha" ucap jin itu
Sebenarnya sosok jin ini adalah jin yang pernah mengganggu ku dulu namun dia tidak berani saat aku dijaga oleh Shinta. Entah mengapa banyak sosok jin ingin menguasai ku.
"Aku pun mudah mengalahkan mu hai jin rendahan" pekik ku menantang
"Hahaha.... Manusia lemah berani kau tanpa pendamping mu? " Ucap jin itu sombong.
"Lihat saja ... Ayo lawan aku" tantang kepada jin
Aku mundur 3 langkah. Menyiapkan serangan. Sosok itu malah tertawa sambil berdiri tegak dengan tinggi sekitar 3 meter. Aku mulai menyiapkan cincin pemberian bapak ku dimasukan ke jari manis.
"Bismilahhi Rohmani Rohim" ucapan basmalah pembuka dari ajian yang diajarkan Mbah Margono.
Jin itu mulai menyerang dengan mengayunkan tangannya ke arah ku. Aku yang mengetahui serangannya dengan sigap melompat mengindari serangannya. Aneh nya tubuhku terasa ringan hampir 2 meter aku melompat mundur.
Saat jin itu lengah, aku melepaskan pukulan ku ke arah tubuh jin tersebut dengan sekuat tenaga. seketika keluar bola bola kuning melesat memutar menerpa tubuh jin itu.
Ddduuuarrrrrrrrr rrr R
Tubuh jin itu terlempar jauh beberapa meter di atas tanah. Terlihat bagian tubuhnya seperti tangan dan kaki putus. Bekas ledakan tadi menimbulkan kepulan asap dan kerusakan di tanah dan rumput.
Tak diduga serangan ku begitu hebat. kekuatan ku seolah meningkat. Aku teringat kalau serangan ku mirip dengan yang terjadi di mimpi tadi siang.
" Apa? Ini seperti di mimpi " gumam ku heran dengan kejadian ini.
Sosok jin itu terlihat sekarat tangan dan kaki nya putus sebagian. Perutnya bolong terkena bola api tadi. Mulutnya mengeluarkan banyak darah dan masih bisa bergerak namun dalam kondisi mengenaskan.
Beberapa jin yang ada disekitar bermunculan melihat kondisi kejadian. Ada yang mengintip dari atas pohon dan ada juga yang lari setelah melihat kejadian itu.
"Gimana rasanya wahai jin rendahan?" Ucap ku pada jin tersebut
"Uuhhkkkk.... Kku rr ang aanjj arr" ucapnya masih belum kapok
"Masih bisa bergerak kau rupanya? Apa kata kata terakhir mu wahai jin?" Teriak ku pada jin
Kemudian jin itu belum sempat berkata -kata lagi lalu tubuhnya terbakar perlahan dan berubah menjadi abu.
Tidak membuang waktu, aku langsung bergerak menuju rumah Mbah Margono yang ada disebrang sawah itu.
Aku berjalan menyusuri pematang sawah dan sampailah di depan rumahnya. Seperti biasa suasana sepi karena Mbah Margono hidup membujang sendirian dirumah.
Ku ucapkan salam dari luar rumah sambil mengetuk pintu kayu berwarna merah tua.
"Tok ... Tok...tok"
"Assalamualaikum, Mbah..." Teriak ku
"Waalaikumsalam, " jawab mbah Margono dari dalam rumah
Kemudian Mbah Margono membuka pintu rumah . Namun Tiba - tiba ......
(Bersambung )

Utamakan Like - komentar - share
#Cakaran
Quote:







Aku memejamkan mata dan menutup wajah ku dengan kedua tangan yang bersilangan. Akan tetapi suara gemuruh ledakkan dan kobaran api tidak terdengar lagi, apalagi aku mengira bahwa naga sudah sampai menyerang tubuh ku namun sudah sekian menit tidak terjadi apa apa .
Saat ku buka mata aku pun terbangun yang ternyata berada di dalam kamar dengan cucuran air keringat di tubuh ku. Terdengar Sayup sayup suara azan waktu Zuhur telah berkumandang .
"Allahu Akbar Allahu Akbar"
"Ah... Tadi mimpi ya? " Gumam ku sambil mengusap wajah dengan tangan kiri ku.
Tersadar dengan Shinta , kartu yang bergambar Shinta tergeletak ada di samping ku di atas kasur. Kemudian aku meraihnya dan memandangnya lagi.
"Shinta, aku akan menolong mu. Aku janji" ucap ku lirih
Kemudian aku bangkit dari kasur lalu berdiri. Syukurlah badan ku lebih sehat dari sebelumnya. Rasa pusing dan lemas sudah tidak terasa. Aku pun berniat akan melaksanakan sholat Zuhur ke masjid.
Aku pun keluar kamar, ku lihat via istri ku tidak ada di ruang tengah. Namun tercium aroma masakan dari arah dapur.
"Via... Sayang kamu dimana?" Teriak mencoba memastikan
"Iya mas, aku di dapur lagi masak " jawab via dari arah dapur
Kemudian aku melangkah ke dapur dan bertemu dengan via. Terlihat dia sedang memasak sesuatu.
"Eh ... Mas. Sudah bangun? " Tanya via
"Iya nih. Aku ketiduran tadi" jawab ku dengan mulut terbuka heuai...
"Mas udah baikan sekarang?" Tanya lagi via
"Alhamdulillah ini badan terasa baikan, aku mandi dulu yah" ucap ku sambil tersenyum.
"Yaudah mas , beres mandi dan sholat kemudian makan. Ini masakan ku bentar lagi mateng" ucap via yang sedang memasak tadi.
Setelah beres mengobrol aku mengambil handuk dan bergegas untuk mandi. Aku membuka seluruh pakaianku hingga tak sehelai benang pun.
Aku guyurkan satu dua gayung ke tubuh ku .
"Byurrr...bbyyurr"
Sialnya saat di kamar mandi suara desingan itu muncul kembali. Cukup nyaring namun aku tidak merasakan pusing seperti malam tadi.
"Nngggiiiiiiinggg nngggiiiiinggggh"
"Astaghfirullah... Dia datang lagi" ucap ku kesal
Aku pun segera membereskan mandi ku akan tetapi sesuatu aneh terasa. Punggung ku mendadak perih saat aku mengguyurkan air ke tubuh ku seolah telah terluka oleh sesuatu.
"Aduuhh... Apa lagi ini?" Keluh ku yang masih mendengar suara desingan
Aku pun mengusap punggung ku , aku pun kaget saat aku periksa ternyata terdapat darah di tangan ku.
"Tidak mungkin? Kok bisa" Tanya ku heran
Kemudian aku memastikan Dengan melihat di kaca di kamar mandi. Terlihat tiga bekas cakaran melintang di punggung ku hampir ke arah pinggang.
Aku pun segera keluar kamar mandi. Aku mencoba melindungi bekas luka ini dengan berjalan menyamping pura pura di depan via istri ku.
"Loh koq mas jalan nya menyamping begitu?" Tanya via keheranan
"Gak koq mas. Malu ada panu di belakang punggung ku hehe" jawab ku ngeles kepada via.
Via hanya menganggukkan kepalanya tanda dia setuju.
Kemudian aku berjalan mundur dan langsung masuk ke kamar. Lalu membersihkan noda darah yang mulai mengering dan memberikan Betadine supaya tidak infeksi.
Aku heran apakah ini juga perlakuan dari ular naga tadi? Apa tujuan dia sebenarnya?. Tidak ambil pusing akupun segera melaksanakan kewajiban ku melaksanakan sholat Zuhur. Karena insiden tadi aku fikir telat berjamaah dan melaksanakan sholat hanya di rumah saja.
Selesai solat aku pun pergi ke dapur dan makan bersama istri ku. Dia memasak makanan favorit ku yaitu ikan asin , kangkung terasi dan sambal. Kami makan dengan lahapnya.
"Setelah makan, mas mau izin ke rumah Mbah Margono ya? " Ucap ku
"Oh ada apa mas? Kan masih sakit" jawab via
" udah sehat begini kok, mas ada perlu sama si mbah . Penting " jawab ku
"Pentingan aku atau si Mbah sih ?" Ucap ketus via sambil manyun
" Yaelah... Cembokur ke si Mbah? Pentingan kamu lah sayang. Mas mau konsultasi perpindahan tempat kerja mas" jawab ku sambil tertawa karena ulah via
"Ooohh... yaudah , tapi hati hati yah. Kan ke rumah si Mbah melewati areal sawah dan lapangan jalannya pasti licin. " Ucap via memperingatkan ku
Setelah makan selesai aku pun pamit dan berjalan kaki menuju rumah Mbah Margono. Jalan setapak yang ku lalui melewati sebuah lapangan bola yang biasa anak anak pakai.
Dari kejauhan seperti biasa sosok jin bertubuh tinggi kurus selalu ada di tengah lapangan karena itu adalah wilayahnya. Sosok itu menatap ku mengikuti arah jalan ku.
Tiba tiba dia bergerak mendekati ku dengan cepat berjalan dengan langkah yang panjang. Beberapa detik dia sudah ada di tengah jalan.
"Hey... Yan. Kemana jin penjaga mu? " Tanya sosok jin itu
"Apa urusan mu?" Jawab ku dengan nada sebal.
"Kau nampak sendirian, mudah sekali mendapatkan mu hahaha" ucap jin itu
Sebenarnya sosok jin ini adalah jin yang pernah mengganggu ku dulu namun dia tidak berani saat aku dijaga oleh Shinta. Entah mengapa banyak sosok jin ingin menguasai ku.
"Aku pun mudah mengalahkan mu hai jin rendahan" pekik ku menantang
"Hahaha.... Manusia lemah berani kau tanpa pendamping mu? " Ucap jin itu sombong.
"Lihat saja ... Ayo lawan aku" tantang kepada jin
Aku mundur 3 langkah. Menyiapkan serangan. Sosok itu malah tertawa sambil berdiri tegak dengan tinggi sekitar 3 meter. Aku mulai menyiapkan cincin pemberian bapak ku dimasukan ke jari manis.
"Bismilahhi Rohmani Rohim" ucapan basmalah pembuka dari ajian yang diajarkan Mbah Margono.
Jin itu mulai menyerang dengan mengayunkan tangannya ke arah ku. Aku yang mengetahui serangannya dengan sigap melompat mengindari serangannya. Aneh nya tubuhku terasa ringan hampir 2 meter aku melompat mundur.
Saat jin itu lengah, aku melepaskan pukulan ku ke arah tubuh jin tersebut dengan sekuat tenaga. seketika keluar bola bola kuning melesat memutar menerpa tubuh jin itu.
Ddduuuarrrrrrrrr rrr R
Tubuh jin itu terlempar jauh beberapa meter di atas tanah. Terlihat bagian tubuhnya seperti tangan dan kaki putus. Bekas ledakan tadi menimbulkan kepulan asap dan kerusakan di tanah dan rumput.
Tak diduga serangan ku begitu hebat. kekuatan ku seolah meningkat. Aku teringat kalau serangan ku mirip dengan yang terjadi di mimpi tadi siang.
" Apa? Ini seperti di mimpi " gumam ku heran dengan kejadian ini.
Sosok jin itu terlihat sekarat tangan dan kaki nya putus sebagian. Perutnya bolong terkena bola api tadi. Mulutnya mengeluarkan banyak darah dan masih bisa bergerak namun dalam kondisi mengenaskan.
Beberapa jin yang ada disekitar bermunculan melihat kondisi kejadian. Ada yang mengintip dari atas pohon dan ada juga yang lari setelah melihat kejadian itu.
"Gimana rasanya wahai jin rendahan?" Ucap ku pada jin tersebut
"Uuhhkkkk.... Kku rr ang aanjj arr" ucapnya masih belum kapok
"Masih bisa bergerak kau rupanya? Apa kata kata terakhir mu wahai jin?" Teriak ku pada jin
Kemudian jin itu belum sempat berkata -kata lagi lalu tubuhnya terbakar perlahan dan berubah menjadi abu.
Tidak membuang waktu, aku langsung bergerak menuju rumah Mbah Margono yang ada disebrang sawah itu.
Aku berjalan menyusuri pematang sawah dan sampailah di depan rumahnya. Seperti biasa suasana sepi karena Mbah Margono hidup membujang sendirian dirumah.
Ku ucapkan salam dari luar rumah sambil mengetuk pintu kayu berwarna merah tua.
"Tok ... Tok...tok"
"Assalamualaikum, Mbah..." Teriak ku
"Waalaikumsalam, " jawab mbah Margono dari dalam rumah
Kemudian Mbah Margono membuka pintu rumah . Namun Tiba - tiba ......
(Bersambung )

Utamakan Like - komentar - share
Diubah oleh aguzblackrx 02-02-2024 12:37
jenggalasunyi dan 5 lainnya memberi reputasi
6