- Beranda
- Stories from the Heart
TOLONG AKU HANTU!
...
TS
adamtzero
TOLONG AKU HANTU!
Quote:

"Hantu Gasimah" cr: pickpik
Sinop
Quote:
Nanti malah spoiler, baca aja kalau minat...

INDEX
Quote:
Spoiler for Arc Perkenalan:
Spoiler for Arc Lima Elit:
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
Spoiler for Arc Gasimah:
Spoiler for Arc ???:
Note:
- Cerita ini fiksi 100 %
- Tidak ada maksud tertentu, kalau ada kesamaan hanya kebetulan semata.
- Enjoy
- Kamis
Diubah oleh adamtzero 14-09-2024 20:03
wikanrahma12070 dan 5 lainnya memberi reputasi
4
5.4K
Kutip
189
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
adamtzero
#8
3
Quote:
Seseorang berjalan menaiki tangga, mengenakan kemeja kotak-kotak dan juga ransel dipunggungnya. Setelah naik ke lantai dua, orang ini melihat sebuah pintu yang terbuka. Didekati pintu itu, ternyata sang pemuda pembuat konten misteri tertidur lelap di atas meja laptopnya, dengan keadaan yang masih menyala.
Seperti sudah mengenali pemuda tersebut, orang itu masuk tanpa izin.
Membuka sepatunya terlebih dahulu, agar tidak mengotori lantai.
“Duh si pe’ak, pantes enggak masuk,” melihat ke arah layar laptop. “coba kita lihat yang nonton berapa,” ternyata tidak lebih dari seratus orang, komen yang masuk pun beragam. “woy…Pan….Panwir!” orang itu menggoyangkan bahu pemuda tersebut.
“Siapa?” ucapnya bertanya-tanya, sedikit demi sedikit matanya pun terbuka semua. “oh lo Dit, bentar yah gue beres-beres dulu…,” tubuhnya beranjak naik, baru sejengkal saja langkahnya terhenti.
“Lo mau ke mana? Kelasnya udah beres kali, makanya gue mampir.”
“HAH? BENERAN?!” seketika jiwanya terkumpul semua, dilihatnya jarum jam di dinding, hari sudah siang.
Satu kelas perkuliahan harus dilewatkan begitu saja oleh Pandu, yang mempunyai nama lengkap Pandu Wirata. Sedangkan teman yang mampir ke tempatnya bernama Ardit Kolosal, orang yang dikenalnya saat sedang melakukan masa pengenalan kampus. Sebelum pergi melakukan penulusuran, Pandu sempat memberitahu Ardit rencananya itu. Dan minta disusul jika dirinya telat bangun, siapa disangka Ardit juga tidak datang tepat waktu. Meskipun telat ia masih bisa menyelesaikan kelasnya.
Pandu mulai bercerita kepada Ardit tentang penulusuran perdananya itu. Lokasinya tidak jauh dari tempatnya sekarang, sebuah gudang besar yang terbengkalai dan dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya. Dengan ditemani oleh seorang kuncen, Pandu melakukan penulusurannya, hingga sampai ke tahap penutup yaitu melakukan uji nyali di sebuah area yang dianggap memiliki medan mistis yang kuat. Tetapi ketika melakukan uji nyali sendiri, yang dirasakan oleh Pandu hanyalah hawa yang menjadi dingin secara mendadak. Sehingga konten yang diunggahnya tersebut hanya begitu-begitu saja tanpa ada nilai lebih menurutnya.
“Hm, perasaan tuh tempat kan emang angker. Lo liat enggak konten Bosman bersaudara? Kan mereka sampai dilemparin kerikil sama ada penampakan bocah gaib,” ucap Ardit.
“Iya gue nonton beberapa konten tuh tempat sebelum eksekusi, mungkin beda orang beda pengalaman kali,” Pandu berniat untuk membelikan Ardit cemilan, meninggalkan temannya itu sendiri.
Di saat Pandu keluar membeli cemilan, Ardit mengamati konten yang dibuat temannya itu. Dicermatinya dengan seksama, mulai dari pembawaan sampai ke tahap pengolahan rekamannya. Sebenarnya tidak ada masalah, semua terlihat benar dan seperti pembuat konten pro lainnya. Hanya saja tidak ada ‘bumbu’ penting, yaitu gangguan atau kemunculan makhluk halus. Lalu mulai muncul ide dari dalam benak Ardit tentang konten Pandu selanjutnya.
“Hm, cakep juga,” matanya melirik melihat seorang perempuan berjalan di luar. “penghuni baru kah?” Ardit pun tersenyum lebar. “pantes aja tuh pintu enggak ditutup-tutup.”
Pandu kembali datang sambil membawa plastik hitam berisi makanan. Tidak semewah makanan luar, hanya satu bungkus gorengan dan batagor kuah untuknya. Lalu diambilnya sebuah piring beling bersih, ditumpahkan bungkus gorengan ke atas piring. Remah-remah gorengan bergoyang meliuk-liuk mengikuti alur, sedangkan batagor kuar meluncur hebat ke atas mangkuk klasik bergambar ayam jago.
“Lagi nonton konten siapa lo?” tanya Pandu sambil menawarkan makanan.
“Ini, gue lagi liat-liat aja. Siapa tau aja ada yang deket lokasinya, jadi gue bisa ikut,” perkataan Ardit membuat Pandu bertanya-tanya.
“Hah? Maksudnya?” tanya Pandu.
“Gue bantu lo Pan…Wir, kayaknya lo butuh Cameraman deh,” jawab Ardit sambil memainkan laptop. “NAH!” suaranya keluar keras mengagetkan Pandu. “ke sini aja gimana?” Pandu mendekati wajahnya ke layar laptop. Lalu melirik ke arah Ardit. Sebuah tempat berdarah terpampang di layar, yang akan menjadi tujuan selanjutnya.
Seperti sudah mengenali pemuda tersebut, orang itu masuk tanpa izin.
Membuka sepatunya terlebih dahulu, agar tidak mengotori lantai.
“Duh si pe’ak, pantes enggak masuk,” melihat ke arah layar laptop. “coba kita lihat yang nonton berapa,” ternyata tidak lebih dari seratus orang, komen yang masuk pun beragam. “woy…Pan….Panwir!” orang itu menggoyangkan bahu pemuda tersebut.
“Siapa?” ucapnya bertanya-tanya, sedikit demi sedikit matanya pun terbuka semua. “oh lo Dit, bentar yah gue beres-beres dulu…,” tubuhnya beranjak naik, baru sejengkal saja langkahnya terhenti.
“Lo mau ke mana? Kelasnya udah beres kali, makanya gue mampir.”
“HAH? BENERAN?!” seketika jiwanya terkumpul semua, dilihatnya jarum jam di dinding, hari sudah siang.
Satu kelas perkuliahan harus dilewatkan begitu saja oleh Pandu, yang mempunyai nama lengkap Pandu Wirata. Sedangkan teman yang mampir ke tempatnya bernama Ardit Kolosal, orang yang dikenalnya saat sedang melakukan masa pengenalan kampus. Sebelum pergi melakukan penulusuran, Pandu sempat memberitahu Ardit rencananya itu. Dan minta disusul jika dirinya telat bangun, siapa disangka Ardit juga tidak datang tepat waktu. Meskipun telat ia masih bisa menyelesaikan kelasnya.
Pandu mulai bercerita kepada Ardit tentang penulusuran perdananya itu. Lokasinya tidak jauh dari tempatnya sekarang, sebuah gudang besar yang terbengkalai dan dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya. Dengan ditemani oleh seorang kuncen, Pandu melakukan penulusurannya, hingga sampai ke tahap penutup yaitu melakukan uji nyali di sebuah area yang dianggap memiliki medan mistis yang kuat. Tetapi ketika melakukan uji nyali sendiri, yang dirasakan oleh Pandu hanyalah hawa yang menjadi dingin secara mendadak. Sehingga konten yang diunggahnya tersebut hanya begitu-begitu saja tanpa ada nilai lebih menurutnya.
“Hm, perasaan tuh tempat kan emang angker. Lo liat enggak konten Bosman bersaudara? Kan mereka sampai dilemparin kerikil sama ada penampakan bocah gaib,” ucap Ardit.
“Iya gue nonton beberapa konten tuh tempat sebelum eksekusi, mungkin beda orang beda pengalaman kali,” Pandu berniat untuk membelikan Ardit cemilan, meninggalkan temannya itu sendiri.
Di saat Pandu keluar membeli cemilan, Ardit mengamati konten yang dibuat temannya itu. Dicermatinya dengan seksama, mulai dari pembawaan sampai ke tahap pengolahan rekamannya. Sebenarnya tidak ada masalah, semua terlihat benar dan seperti pembuat konten pro lainnya. Hanya saja tidak ada ‘bumbu’ penting, yaitu gangguan atau kemunculan makhluk halus. Lalu mulai muncul ide dari dalam benak Ardit tentang konten Pandu selanjutnya.
“Hm, cakep juga,” matanya melirik melihat seorang perempuan berjalan di luar. “penghuni baru kah?” Ardit pun tersenyum lebar. “pantes aja tuh pintu enggak ditutup-tutup.”
Pandu kembali datang sambil membawa plastik hitam berisi makanan. Tidak semewah makanan luar, hanya satu bungkus gorengan dan batagor kuah untuknya. Lalu diambilnya sebuah piring beling bersih, ditumpahkan bungkus gorengan ke atas piring. Remah-remah gorengan bergoyang meliuk-liuk mengikuti alur, sedangkan batagor kuar meluncur hebat ke atas mangkuk klasik bergambar ayam jago.
“Lagi nonton konten siapa lo?” tanya Pandu sambil menawarkan makanan.
“Ini, gue lagi liat-liat aja. Siapa tau aja ada yang deket lokasinya, jadi gue bisa ikut,” perkataan Ardit membuat Pandu bertanya-tanya.
“Hah? Maksudnya?” tanya Pandu.
“Gue bantu lo Pan…Wir, kayaknya lo butuh Cameraman deh,” jawab Ardit sambil memainkan laptop. “NAH!” suaranya keluar keras mengagetkan Pandu. “ke sini aja gimana?” Pandu mendekati wajahnya ke layar laptop. Lalu melirik ke arah Ardit. Sebuah tempat berdarah terpampang di layar, yang akan menjadi tujuan selanjutnya.
pulaukapok dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Kutip
Balas