- Beranda
- Stories from the Heart
Sekamar Kos Dengan Dia Season 3
...
TS
aguzblackrx
Sekamar Kos Dengan Dia Season 3
Fan Page : sekamar kos dengan dia

Part 1
#kemunculan Sinta
(Bersambung)
INDEX

Quote:
Part 1
#kemunculan Sinta
Suara adzan berkumandang, perlahan tangan ku terasa digoyangkan oleh seseorang. Iya dia via istriku membangunkan ku untuk solat subuh.
Setelah aku bangun dengan manja aku berjalan gontai menuju kamar mandi. Selesai melakukan kegiatan wudhu aku pun pergi ke mushola menggunakan sarung , baju koko dan peci hitam peninggalan bapak ku tak lupa memakai sendal jepit bermerkan swalow.
Udara yang dingin tidak merontokan niat ku untuk melaksanakan kewajiban terhadap Allah Swt berjamaah di mushola. Solat subuh dan berzikir pagi pun selesai aku pulang ke rumah melalui jalan setapak di kampung ku.
Selama perjlanan pulang Banyak orang yang sudah melakukan aktivitas . Ada yang sudah berangkat bekerja ke kantor, ada yang sudah jualan nasi uduk dan bubur ayam, dan bahkan sudah ada yang bersiap pergi ke pasar.
Sesampainya di rumah nampak sepi keadaanya. Maklum ibu sedang menginap di rumah kakak ku mas bono.
via pun ternyata sudah selesai sholat, namun sepertinya dia tertidur lagi masih menggunakan mukena yang dia pakai.
"Wah. Dia ketiduran lagi" gumamku dalam hati
aku tidak berani membangunkanya mungkin dia merasa masih lelah karena kemarin menjaga dan mengasuh keponakan ku serta pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga.
Aku yang sudah tidak ngantuk berniat menonton Tv di ruang tengah namun Tiba tiba aku mencium aroma khas yang aku kenal. Perasaan ku saat itu senang dan bahagia karena sudah lama tidak menciumnya sejak dikosan dulu. Benar ini aroma kedatangan shinta, tidak biasanya selalu mendadak nongol yang membuat ku kaget.
Kemudian terdengar suara pintu terbuka dari ruang tamu.
"Cckkreek "
Lalu aku bergegas menuju arah depan rumah. Aku melihat seorang wanita yang tidak asing bagi ku. Rambutnya yang panjang dan wajahnya manis putih seperti orang jepang. Dia adalah sinta , jin penjaga ku yang sudah lama tidak aku temui.
Namun anehnya tidak biasanya dia membuka pintu.
Dia tersenyum ke arah ku, senyuman manis khasnya yang membuat diri ini terpesona olehnya.
"Hayy yan.... Gimana kabar mu?" Tanya sinta
" Eh.. ta koq kamu pakaiannya sepeti itu? ". Tanyaku pada sinta karena keheranan
"Awas yan..mata mu keluar. Melotot gitu" ketus sinta namun suara manjanya yang bikin aku senang.
Sebenarnya sinta selalu memakai pakaian gaun putih khas mbak kunti. Namun kali ini dia memakai pakaian layaknya manusia. Memakai celana jeans ketat dan kaos lengan pendek nampak pusarnya sedikit mengintip.
' ga biasnya ta. Menurut ku kurang bagus " protes ku kepada sinta
" Lah aku harus bagaimana?" Sinta bertanyA balik pada ku. Sambil.manyun menandakan dia tidak menerima saran ku.
"Pakai pakaian seperti di mimpi ku dulu , seperti robin di one piece " timpal ku sambil aku mengkedip kedipkan mata ku padanya.
" Huu... Dasar. Otak mesum. Udah punya istri masih mikir begitu. emang aku cewek apakah?" Sahut sinta begitu menohok. Namun gaya nya seperti abg gaul di jaman sekarang.
" Ya udh kalau ga mau nurut. Aku buang kamu ke tengah laut ' ancam ku namun sambil cengengesan menggoda sinta.
Namun kagetnya aku ketika shinta melakukan hal diluar nurul. Maksudnya dia melakukan nya spontan merubah pakaiamya persis seperti robin di dalam one piece. Temam teman bisa membayNgkan tampilannya pakaian bikini atasan bergaris hitam hijau dan celana pendek hotpans se selangkangan.
Aku terkaget dan tidak menduga hal demikian apa yang dilakukan Shinta membuat ku terpana.
Shinta kemudian mendekati ku perlahan tatapannya begitu menggoda . Tak sadar aku menelan lidah. Aku pun sampai lupa bahwa di kamar masih ada istriku tertidur.
"Ta.. ap ap apaa yang akan kamu lakukan Ta?" tanyaku pada Shinta meski mataku masih fokus dengan tubuh sinta yang begitu putih mulus langsing dengan pakaian begitu minim.
"Ini kan yang kamu mau ryan? " Goda sinta seraya medekati ku.
Dia berjalan berlenggak lenggok bagaikan super model dengan tatapan mata yang menggoda. Aku yang terpana seolah tak bisa bergerak lalu jari telunjuk nya yang dibalikan menuju dagu wajah ku.
Lalu Lirikan matanya menoleh ke arah sarung ku. Padahal aku hanya memakai sempak di dalamnya.
"Bahaya ini... Bisa ada pertempuran" fikir ku sepintas.
"Silahkan kalau berani. Aku ikhlas Shinta" jelas ku malah menantang shinta melakukannya.
Namun sebenarnya aku takut juga bagaimana seorang laki laki manusia bertempur dengan jin seperti shinta. Apakah nikmat atau ......xxx....
Seketika tangan shinta meraih sarung ku dan .....
Setelah aku bangun dengan manja aku berjalan gontai menuju kamar mandi. Selesai melakukan kegiatan wudhu aku pun pergi ke mushola menggunakan sarung , baju koko dan peci hitam peninggalan bapak ku tak lupa memakai sendal jepit bermerkan swalow.
Udara yang dingin tidak merontokan niat ku untuk melaksanakan kewajiban terhadap Allah Swt berjamaah di mushola. Solat subuh dan berzikir pagi pun selesai aku pulang ke rumah melalui jalan setapak di kampung ku.
Selama perjlanan pulang Banyak orang yang sudah melakukan aktivitas . Ada yang sudah berangkat bekerja ke kantor, ada yang sudah jualan nasi uduk dan bubur ayam, dan bahkan sudah ada yang bersiap pergi ke pasar.
Sesampainya di rumah nampak sepi keadaanya. Maklum ibu sedang menginap di rumah kakak ku mas bono.
via pun ternyata sudah selesai sholat, namun sepertinya dia tertidur lagi masih menggunakan mukena yang dia pakai.
"Wah. Dia ketiduran lagi" gumamku dalam hati
aku tidak berani membangunkanya mungkin dia merasa masih lelah karena kemarin menjaga dan mengasuh keponakan ku serta pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga.
Aku yang sudah tidak ngantuk berniat menonton Tv di ruang tengah namun Tiba tiba aku mencium aroma khas yang aku kenal. Perasaan ku saat itu senang dan bahagia karena sudah lama tidak menciumnya sejak dikosan dulu. Benar ini aroma kedatangan shinta, tidak biasanya selalu mendadak nongol yang membuat ku kaget.
Kemudian terdengar suara pintu terbuka dari ruang tamu.
"Cckkreek "
Lalu aku bergegas menuju arah depan rumah. Aku melihat seorang wanita yang tidak asing bagi ku. Rambutnya yang panjang dan wajahnya manis putih seperti orang jepang. Dia adalah sinta , jin penjaga ku yang sudah lama tidak aku temui.
Namun anehnya tidak biasanya dia membuka pintu.
Dia tersenyum ke arah ku, senyuman manis khasnya yang membuat diri ini terpesona olehnya.
"Hayy yan.... Gimana kabar mu?" Tanya sinta
" Eh.. ta koq kamu pakaiannya sepeti itu? ". Tanyaku pada sinta karena keheranan
"Awas yan..mata mu keluar. Melotot gitu" ketus sinta namun suara manjanya yang bikin aku senang.
Sebenarnya sinta selalu memakai pakaian gaun putih khas mbak kunti. Namun kali ini dia memakai pakaian layaknya manusia. Memakai celana jeans ketat dan kaos lengan pendek nampak pusarnya sedikit mengintip.
' ga biasnya ta. Menurut ku kurang bagus " protes ku kepada sinta
" Lah aku harus bagaimana?" Sinta bertanyA balik pada ku. Sambil.manyun menandakan dia tidak menerima saran ku.
"Pakai pakaian seperti di mimpi ku dulu , seperti robin di one piece " timpal ku sambil aku mengkedip kedipkan mata ku padanya.
" Huu... Dasar. Otak mesum. Udah punya istri masih mikir begitu. emang aku cewek apakah?" Sahut sinta begitu menohok. Namun gaya nya seperti abg gaul di jaman sekarang.
" Ya udh kalau ga mau nurut. Aku buang kamu ke tengah laut ' ancam ku namun sambil cengengesan menggoda sinta.
Namun kagetnya aku ketika shinta melakukan hal diluar nurul. Maksudnya dia melakukan nya spontan merubah pakaiamya persis seperti robin di dalam one piece. Temam teman bisa membayNgkan tampilannya pakaian bikini atasan bergaris hitam hijau dan celana pendek hotpans se selangkangan.
Aku terkaget dan tidak menduga hal demikian apa yang dilakukan Shinta membuat ku terpana.
Shinta kemudian mendekati ku perlahan tatapannya begitu menggoda . Tak sadar aku menelan lidah. Aku pun sampai lupa bahwa di kamar masih ada istriku tertidur.
"Ta.. ap ap apaa yang akan kamu lakukan Ta?" tanyaku pada Shinta meski mataku masih fokus dengan tubuh sinta yang begitu putih mulus langsing dengan pakaian begitu minim.
"Ini kan yang kamu mau ryan? " Goda sinta seraya medekati ku.
Dia berjalan berlenggak lenggok bagaikan super model dengan tatapan mata yang menggoda. Aku yang terpana seolah tak bisa bergerak lalu jari telunjuk nya yang dibalikan menuju dagu wajah ku.
Lalu Lirikan matanya menoleh ke arah sarung ku. Padahal aku hanya memakai sempak di dalamnya.
"Bahaya ini... Bisa ada pertempuran" fikir ku sepintas.
"Silahkan kalau berani. Aku ikhlas Shinta" jelas ku malah menantang shinta melakukannya.
Namun sebenarnya aku takut juga bagaimana seorang laki laki manusia bertempur dengan jin seperti shinta. Apakah nikmat atau ......xxx....
Seketika tangan shinta meraih sarung ku dan .....
(Bersambung)
INDEX
Quote:
Diubah oleh aguzblackrx 27-03-2024 11:02
tf96065053 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
7.7K
209
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aguzblackrx
#7
Part 3
Makhluk itu masih bergantung kaki nya menempel di langit langit ruang kantor yang aku kerjakan. Shinta pun masih mengawasi makhluk itu yang memiliki gigi tajam. Aku mengodok saku celana ku mengambil cincin pemberian bapak untuk berjaga jaga jika dia melakukan tidakan menyerang.
"Ini makhluk mau nya apa sih?" Gerutu ku dalam hati karena pemandangannya tidak mengenakan mata.
"Yan ... Gpp jika dia bergerak saja aku akan tebas lehernya" ucap shinta menenangkan ku.
Aku pun melanjutkan kerjaan menginstalasi dan memasang kabel kabel LAN pada komputer ditemani pak bos hanya berdua di ruangan itu.
Terdengar langkah kaki menuju ruangan mungkin beberapa oranng. Terbuka pintu kaca ruangan ku lihat kaki jenjang memakai span pendek dia atas lutylut terbelah di kaki kirinya nampak paha kiri nya yang mulus. Ku pandangi pwrlahan ke atas ternyata sosok wanita dan staff lainnya di belakangnya mengarah berjalan ke arah kami.
"Selamat siang bapak bapak" ucap wanita itu yang sangat elegan. Dia tersenyum dan tak di duga dia berkata lagi
" Ryan ...? Kamu ryan... Kan?" Tanya dia memastikan dengan raut wajah begitu bahagia senyum wajah melebar.
Aku pun tersenyum lebar membalas senyumannya. Tak di duga yang datang adalah anggi. Sahabat ku saat kuliah. Terlihat perbedaan yang jelas dari segi penampilan. Dia lebih anggu dengan stelan kemeja dilapisi blezer dan rok span pendek terbelah menambah keanggunan nya.
" Eh... Anggi.. bener anggi kan ya?" Tanya balik namun aku sudah memestikannya.
"Iya yan. Emang nya kamu udah ga kenal sama aku?" Anggi merasa heran
"Oh gak koq masih kenal koq. Masih cantik seperti dulu" goda ku pada anggi karena aku memang suka bercanda.
Kemudian pak bos ikut berbicara pada anggi.
"Bu. Kenal ya sama ryan ?" Tanya pak bos ke anggi.
"Iya pak. Ini teman kuliah saya dulu. Ga nyangka bisa ketemu lagi dengan nya di kantor papa saya" jawab anggi ke pak bos kemudian anggi berjabat tangan dengan saya dan juga pak bos.
"Anggi gak nyangka ini kantor papa mu toh. besar sekali. " Aku terkagum kagum karena baru tahu di kota ini merupakan perusahaan papa anggi yang bergerak di bidang infrastruktur.
"Yan. Kenapa ga kerja disini aja " ucap pak bos
"Iya yan. Tau gini kenapa kamu ga ngontak aku saja . Toh ini kantor akan menambah divisi dan ruangan ini perlu karyawan baru "
"Wah... Aku tak tahu kalau papa kamu punya kantor. Lagi pula banyak urusan yang aku kerjakan dengan bapak ku" timpal ku membalas jawaban pak boss dan anggi.
"Ga apa apa yan. Di toko kan gaji nya kecil" kata pak bos meyakinkan
"Lah ... Gmna pak bos malah saya suruh pindah kerja begini. Ga enak sama teman saya" perkataan ku pada bos maksud nya saya merasa ga enak sama pak bos karena pekerjaan ku sangat saya nikmati.
" Ya yan. Kerja dikantor papa ku aja. Pak bos mu aja mengizinkan koq" anggi mecoba merayu ku
"Nanti saya bicarakan dengan pak bos dan juga istri ku dulu biar sama sama enak." Terang ku pada anggi dan pak bos.
Namun karena asyiknya mengobrol aku lupa shinta sedang manyun di atas lemari berkas di ruang kantor. Dia memandang ku sesekali memalingkan wajahnya. Nampak seorang pacar yang sedang cemburu pada pasangannya.
Dan makhluk hitam mirip betmen pun ternyata sudah hilang di langit langit aku pun lega karena takut nya mengganggu kami di dalam ruangan.
Selesai mengobrol anggi memeriksa satu persatu komputer mengecek kesiapan program dan instalasi yang nantinya akan di pakai karyawan namun pekerjaan ku belum beres semuanya.
"Bu anggi... Maaf ini belum beres, mungkin sekitar 1 jam lagi beres" pak bos menerangkan kepada anggi tentang pekerjaan nya.
"Oh iya pak dibereskan aja dulu, nanti setelah beres ke ruangan aku ya di samping ruangan ini koq sebelah kiri." Kata anggi sambil berlalu
Setelah anggi dan staff lain kembali ke ruangan masing masing, saya dan pak bos membereskan pekerjaan kami . satu persatu kami teliti jangan sampai ada kabel atau hub yang lain tidak terkoneksi. Kami tes jaringan internet dan mencoba printer apakah layak digunakan atau tidak
Setelah semua dipastikan beres saya dan pak bos akhirnya bergegas ke ruangan yang anggi katakana tadi. Kami berjalan di lorong hanya bebrapa menit saja sudah sampai. Sesampainya di depan pintu ruangan saya mengetuk pintu
“tok … tok .. tokk” ketuukan pintu terbuat dari kaca
“silahkan masuk” terdengar suara anggi dari dalam mengizinkan kami masuk ruangan.
“bu anggi, kami sudah beres menyelesaikan instalasi computer dan LAN pokonya sudah beres” ucap pak bos pada anggi sembari menyerahkan detail barang yang dipasang dan jumlah harga dan jasa nya.
“oh iya, terima kasih pak. Sangat membantu sekali. Untuk pembayaran apakah uang cash atau ditransfer pak?” Tanya anggi pada pak bos
“terserah ibu saja, totalnya ada di rincian pembiayaan totalnya 125 juta Plus jasa pemasangan” jawab pak bos
“ ya sudah, saya transfer saja via rekening, tulis saja nomor rekeningnya” ucap anggi menyodorkan berkas dan pulpen kepada aku.
“Yan, tulis ya, rekening yang biasa dipakai dari bank BNI” perintah pak bos pada ku
“baik pak bos …” jawab ku singkat. Aku menulis dengan seksama sambal melihat catatan di hp ku karena nomor rekening aku cattan di galeri catatan ku. Namun ketika aku menuliskan nomor rekening sekelebat bayangan hitam berlari di samping jendela ruangan anggi, aku menoleh kea rah kanan dan kiri.
“ loh yan , kamu kenapa seolah bingung?” Tanya anggi melihatku seolah kebingungan.
“ maaf, nggi… aku lupa nomor rekening menyipannya dimana, sebentar ya “ aku melanjukan penulisan nomor rekening
“ oh , kirain kenapa” anggi mengangguk menandakan memahami ku.
“ ini sudah beres, pak bos” berkasas dan nomor rekening sudah selesai dan diberikan kepada pak bos. Tidak langsung ke anggi supaya tidak salah paham dan pak bos mengecek kebenaran rekeningnya. Kemudian berkas tersebut diberikan kepada anggi.
“ baik pak, dan ryan, nanti saya kirim sejumlah uang ke nomor rekening perusahaan bapak” anggi meyakinkan pak bos dan saya,
“yasaudah, saya permisi dulu ya bu” ucap pak bos
“ wah kenapa buru buru, yan makan bareng dulu sama aku” ajak anggi kepada ku, namun aku menolaknya dengan alasan pekerjaan.
“ aduh terima kasih anggi, bukannya tidak mau, aku dan pak bos masih ada klien lain sedang menunggu” aku memastikan kepada anggi.
“baik, ini kartu nama ku yan, nomor dan email ku. Jika kamu butuh sesuatu atau pekerjaan nanti aku kondisikan” sambal menyodorkan kartu nama kepada ku. Anggi tersenyum
“baik, kalau begitu aku dan pak bos mohon undur diri” jawab ku sambal tersenyum
“iya, silahkan yan. Aku antar ya”
“ tidak usah repot - repot , nanti capek kamunya kayak ke pejabat saja“
Aku pun bersalaman dengan anggi begitu pula pak bos hanya saja anggi seolah ingin tetap bersama ku,
“Yan, aku ikut yak e bawah sekalian mau ke kantin” ucap anggi seolah mencari alasan
“oh… ya sudah, mari anggi duluan” aku mempersilahkan anggi untuk berjalan di depan. Namun tak di duga tangan anggi meraih lengan ku tak peduli ada pak bos. Aku sedikit canggung krena sedari tadi shinta ternyata ada di belakang ku sambil menatap ku tajam.
“Awas yan, kalau sudah di jalan” ucap shinta membisikan di telinga ku
Aku begidik ngeri, aku menoleh ke arah sinta dan mengdipkan mata tanda menawarkan perdamaian. Namun hati ku dag dig dug kalau dia malah jail pada ku,
“asem, nolak tangan anggi salah, dibiarin shinta marah lagi” gumam ku dalam hati. Kami berjalan di sebuah lorong , anggi masih tetap memegang lengan ku kemudian kami berhenti di depan Lift. Anggi menekan tombol open dan beberapa saat kemudian lift terbuka , namun sekelebat bayangan hitam muncul kembali. Shinta pun sudah menyadari hal itu.
“ hei.. yan ada makhluk aura negative di sini, dia kabur setelah melihat ku” ucap shinta memberi tahu agar aku waspada
Sambil berjalan masuk ke dalam lift aku berkata pada shinta“ benar kamu ta, dari tadi ada yang aneh di sini” ucap ku dalam hati karena jika aku bicara normal bisa dianggap gila aku ini sama anggi, jatuh harga diri ku yang ganteng ini.
Kemudian anggi menekan tombol angka 1 menunjukan lift harus menuju lantai dasar. Di dalam lift aku berbincang dengan anggi, pak bos namun tidak ada hal ganjil lain namun aura negative masih ada.
Aku memperhatikan nomor yang bergerak di dasbord lift
5
4
3
2
1
TING ….. lift terbuka secara perlahan, namun tiba – tiba …….
(bersambung)
Makhluk itu masih bergantung kaki nya menempel di langit langit ruang kantor yang aku kerjakan. Shinta pun masih mengawasi makhluk itu yang memiliki gigi tajam. Aku mengodok saku celana ku mengambil cincin pemberian bapak untuk berjaga jaga jika dia melakukan tidakan menyerang.
"Ini makhluk mau nya apa sih?" Gerutu ku dalam hati karena pemandangannya tidak mengenakan mata.
"Yan ... Gpp jika dia bergerak saja aku akan tebas lehernya" ucap shinta menenangkan ku.
Aku pun melanjutkan kerjaan menginstalasi dan memasang kabel kabel LAN pada komputer ditemani pak bos hanya berdua di ruangan itu.
Terdengar langkah kaki menuju ruangan mungkin beberapa oranng. Terbuka pintu kaca ruangan ku lihat kaki jenjang memakai span pendek dia atas lutylut terbelah di kaki kirinya nampak paha kiri nya yang mulus. Ku pandangi pwrlahan ke atas ternyata sosok wanita dan staff lainnya di belakangnya mengarah berjalan ke arah kami.
"Selamat siang bapak bapak" ucap wanita itu yang sangat elegan. Dia tersenyum dan tak di duga dia berkata lagi
" Ryan ...? Kamu ryan... Kan?" Tanya dia memastikan dengan raut wajah begitu bahagia senyum wajah melebar.
Aku pun tersenyum lebar membalas senyumannya. Tak di duga yang datang adalah anggi. Sahabat ku saat kuliah. Terlihat perbedaan yang jelas dari segi penampilan. Dia lebih anggu dengan stelan kemeja dilapisi blezer dan rok span pendek terbelah menambah keanggunan nya.
" Eh... Anggi.. bener anggi kan ya?" Tanya balik namun aku sudah memestikannya.
"Iya yan. Emang nya kamu udah ga kenal sama aku?" Anggi merasa heran
"Oh gak koq masih kenal koq. Masih cantik seperti dulu" goda ku pada anggi karena aku memang suka bercanda.
Kemudian pak bos ikut berbicara pada anggi.
"Bu. Kenal ya sama ryan ?" Tanya pak bos ke anggi.
"Iya pak. Ini teman kuliah saya dulu. Ga nyangka bisa ketemu lagi dengan nya di kantor papa saya" jawab anggi ke pak bos kemudian anggi berjabat tangan dengan saya dan juga pak bos.
"Anggi gak nyangka ini kantor papa mu toh. besar sekali. " Aku terkagum kagum karena baru tahu di kota ini merupakan perusahaan papa anggi yang bergerak di bidang infrastruktur.
"Yan. Kenapa ga kerja disini aja " ucap pak bos
"Iya yan. Tau gini kenapa kamu ga ngontak aku saja . Toh ini kantor akan menambah divisi dan ruangan ini perlu karyawan baru "
"Wah... Aku tak tahu kalau papa kamu punya kantor. Lagi pula banyak urusan yang aku kerjakan dengan bapak ku" timpal ku membalas jawaban pak boss dan anggi.
"Ga apa apa yan. Di toko kan gaji nya kecil" kata pak bos meyakinkan
"Lah ... Gmna pak bos malah saya suruh pindah kerja begini. Ga enak sama teman saya" perkataan ku pada bos maksud nya saya merasa ga enak sama pak bos karena pekerjaan ku sangat saya nikmati.
" Ya yan. Kerja dikantor papa ku aja. Pak bos mu aja mengizinkan koq" anggi mecoba merayu ku
"Nanti saya bicarakan dengan pak bos dan juga istri ku dulu biar sama sama enak." Terang ku pada anggi dan pak bos.
Namun karena asyiknya mengobrol aku lupa shinta sedang manyun di atas lemari berkas di ruang kantor. Dia memandang ku sesekali memalingkan wajahnya. Nampak seorang pacar yang sedang cemburu pada pasangannya.
Dan makhluk hitam mirip betmen pun ternyata sudah hilang di langit langit aku pun lega karena takut nya mengganggu kami di dalam ruangan.
Selesai mengobrol anggi memeriksa satu persatu komputer mengecek kesiapan program dan instalasi yang nantinya akan di pakai karyawan namun pekerjaan ku belum beres semuanya.
"Bu anggi... Maaf ini belum beres, mungkin sekitar 1 jam lagi beres" pak bos menerangkan kepada anggi tentang pekerjaan nya.
"Oh iya pak dibereskan aja dulu, nanti setelah beres ke ruangan aku ya di samping ruangan ini koq sebelah kiri." Kata anggi sambil berlalu
Setelah anggi dan staff lain kembali ke ruangan masing masing, saya dan pak bos membereskan pekerjaan kami . satu persatu kami teliti jangan sampai ada kabel atau hub yang lain tidak terkoneksi. Kami tes jaringan internet dan mencoba printer apakah layak digunakan atau tidak
Setelah semua dipastikan beres saya dan pak bos akhirnya bergegas ke ruangan yang anggi katakana tadi. Kami berjalan di lorong hanya bebrapa menit saja sudah sampai. Sesampainya di depan pintu ruangan saya mengetuk pintu
“tok … tok .. tokk” ketuukan pintu terbuat dari kaca
“silahkan masuk” terdengar suara anggi dari dalam mengizinkan kami masuk ruangan.
“bu anggi, kami sudah beres menyelesaikan instalasi computer dan LAN pokonya sudah beres” ucap pak bos pada anggi sembari menyerahkan detail barang yang dipasang dan jumlah harga dan jasa nya.
“oh iya, terima kasih pak. Sangat membantu sekali. Untuk pembayaran apakah uang cash atau ditransfer pak?” Tanya anggi pada pak bos
“terserah ibu saja, totalnya ada di rincian pembiayaan totalnya 125 juta Plus jasa pemasangan” jawab pak bos
“ ya sudah, saya transfer saja via rekening, tulis saja nomor rekeningnya” ucap anggi menyodorkan berkas dan pulpen kepada aku.
“Yan, tulis ya, rekening yang biasa dipakai dari bank BNI” perintah pak bos pada ku
“baik pak bos …” jawab ku singkat. Aku menulis dengan seksama sambal melihat catatan di hp ku karena nomor rekening aku cattan di galeri catatan ku. Namun ketika aku menuliskan nomor rekening sekelebat bayangan hitam berlari di samping jendela ruangan anggi, aku menoleh kea rah kanan dan kiri.
“ loh yan , kamu kenapa seolah bingung?” Tanya anggi melihatku seolah kebingungan.
“ maaf, nggi… aku lupa nomor rekening menyipannya dimana, sebentar ya “ aku melanjukan penulisan nomor rekening
“ oh , kirain kenapa” anggi mengangguk menandakan memahami ku.
“ ini sudah beres, pak bos” berkasas dan nomor rekening sudah selesai dan diberikan kepada pak bos. Tidak langsung ke anggi supaya tidak salah paham dan pak bos mengecek kebenaran rekeningnya. Kemudian berkas tersebut diberikan kepada anggi.
“ baik pak, dan ryan, nanti saya kirim sejumlah uang ke nomor rekening perusahaan bapak” anggi meyakinkan pak bos dan saya,
“yasaudah, saya permisi dulu ya bu” ucap pak bos
“ wah kenapa buru buru, yan makan bareng dulu sama aku” ajak anggi kepada ku, namun aku menolaknya dengan alasan pekerjaan.
“ aduh terima kasih anggi, bukannya tidak mau, aku dan pak bos masih ada klien lain sedang menunggu” aku memastikan kepada anggi.
“baik, ini kartu nama ku yan, nomor dan email ku. Jika kamu butuh sesuatu atau pekerjaan nanti aku kondisikan” sambal menyodorkan kartu nama kepada ku. Anggi tersenyum
“baik, kalau begitu aku dan pak bos mohon undur diri” jawab ku sambal tersenyum
“iya, silahkan yan. Aku antar ya”
“ tidak usah repot - repot , nanti capek kamunya kayak ke pejabat saja“
Aku pun bersalaman dengan anggi begitu pula pak bos hanya saja anggi seolah ingin tetap bersama ku,
“Yan, aku ikut yak e bawah sekalian mau ke kantin” ucap anggi seolah mencari alasan
“oh… ya sudah, mari anggi duluan” aku mempersilahkan anggi untuk berjalan di depan. Namun tak di duga tangan anggi meraih lengan ku tak peduli ada pak bos. Aku sedikit canggung krena sedari tadi shinta ternyata ada di belakang ku sambil menatap ku tajam.
“Awas yan, kalau sudah di jalan” ucap shinta membisikan di telinga ku
Aku begidik ngeri, aku menoleh ke arah sinta dan mengdipkan mata tanda menawarkan perdamaian. Namun hati ku dag dig dug kalau dia malah jail pada ku,
“asem, nolak tangan anggi salah, dibiarin shinta marah lagi” gumam ku dalam hati. Kami berjalan di sebuah lorong , anggi masih tetap memegang lengan ku kemudian kami berhenti di depan Lift. Anggi menekan tombol open dan beberapa saat kemudian lift terbuka , namun sekelebat bayangan hitam muncul kembali. Shinta pun sudah menyadari hal itu.
“ hei.. yan ada makhluk aura negative di sini, dia kabur setelah melihat ku” ucap shinta memberi tahu agar aku waspada
Sambil berjalan masuk ke dalam lift aku berkata pada shinta“ benar kamu ta, dari tadi ada yang aneh di sini” ucap ku dalam hati karena jika aku bicara normal bisa dianggap gila aku ini sama anggi, jatuh harga diri ku yang ganteng ini.
Kemudian anggi menekan tombol angka 1 menunjukan lift harus menuju lantai dasar. Di dalam lift aku berbincang dengan anggi, pak bos namun tidak ada hal ganjil lain namun aura negative masih ada.
Aku memperhatikan nomor yang bergerak di dasbord lift
5
4
3
2
1
TING ….. lift terbuka secara perlahan, namun tiba – tiba …….
(bersambung)
Diubah oleh aguzblackrx 28-12-2023 15:19
tf96065053 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Tutup