Kaskus

Story

getih.sangitAvatar border
TS
getih.sangit
Anak-Anak Tumbal
Anak-Anak Tumbal


Quote:

SINOPSIS CERITA

Quote:

INDEX









emoticon-Cendol Gan HAPPY READING!!emoticon-Cendol Gan


Diubah oleh getih.sangit 28-11-2023 19:25
rbrataatmadjaAvatar border
itkgidAvatar border
ismyoshiAvatar border
ismyoshi dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.2K
34
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread1Anggota
Tampilkan semua post
getih.sangitAvatar border
TS
getih.sangit
#23
PART 4 - MALAM PERJANJIAN (part 2)
Aku tidak ingin mengambil resiko dan ingin segera keluar, tapi saat kembali ke pintu entah mengapa pintu tidak bisa kubuka. Pintu rumah Nek Eva terkunci dengan sendirinya.

“Put! Kita kekunci put!” Ucapku Panik.

Putri masih dengan keadaannya yang aneh. Ia berdiri dengan mata terus menatap ke kamar Kak Fani. Aku berusaha menggedor jendela dan mencari pertolongan dari orang yang mungkin lewat di jalan. Tapi saat melihat keluar, aku tidak lagi bisa berkata apa-apa.

Berbeda dengan apa yang kulihat selama di jalan tadi, saat aku melihat dari balik jendela rumah Nek Eva aku melihat ada berbagai makhluk dengan wajah mengerikan memenuhi jalanan kompleks ini.

Pocong dengan sebagian tubuhnya sudah hancur termakan belatung, sepasang kaki tanpa badan, makhluk hitam besar setinggi tiang listrik. Makhluk-makhluk itu berkumpul di sepanjang jalan ini.

Saat itu aku berpikir, apa mungkin asal bau bangkai yang tercium setiap malam berasal dari mereka? Apa mungkin anak yang takut masuk ke gang ini takut karena ia menyadari keberadaan setan-setan ini?

“Put.. ini gimana, Put?” Tanyaku.

Bukanya menjawab pertanyaanku, Putri malah dengan perlahan menoleh ke arahku memamerkan wajah pucatnya. Matanya melotot dan tersenyum dengan mengerikan.

“Khikhik…khikhik…khikhikhi….” Putri tertawa dengan nafas yang tersengal-sengal.

Saat itu aku teringat bahwa anak-anak bercerita bahwa putri masih sering kesurupan. Tapi mengapa terjadi di saat seperti ini?

Tawa itu benar-benar mengerikan, bersamaan dengan itu terdengar suara dari balik kamar Kak Fani. Dok… dok… dok…!

Suara pintu yang digedor terdengar lagi.

Dok… Dok… dok…!

Tak hanya berasal dari kamar Kak Fani, ada lagi suara yang terdengar dari balik pintu kamar lain dan kamar mandi. “Put! Sadar put! Sadar!!” teriakku. Namun tetap saja aku tidak berani mendekati Putri. Sebaliknya, ia malah tertawa dengan semakin melengking.

Makhluk itu muncul. Seolah menjawab tawa dari Putri, dari kamar mandi tiba-tiba pintu terbuka perlahan. Ada makhluk seperti bayi-bayi kecil berkulit hitam merangkak keluar. Tubuhnya yang penuh borok, dan matanya yang memerah menatap kami dengan wajah yang mengerikan.

Aku terjatuh.. Kali ini aku sedang tidak bersembunyi. Mereka pasti melihat keberadaanku.

Tes… tes…

Di tengah ketakutanku, tiba-tiba ada sesuatu yang menetes dan jatuh di pundakku. Aku menoleh dan mendapati cairan kental berbau amis membasahi bajuku. Tetesan itu berasal dari atas. Seketika aku pun menoleh dan mendapati ada perempuan berambut panjang acak-acakan sedang bergelantungan di langit-langit. Wanita itu hanya memiliki tangan tanpa tubuh bagian bawah. Yang menetes di bahuku adalah cairan dari usus-usus yang menggantung.

Aku hampir tak mampu menahan kesadaranku.

“Put! Lari put!” Aku menarik tangan Putri mengajaknya pergi ke tempat yang lebih aman, atau mencari tempat yang mungkin bisa menjadi persembunyian kami lagi. Tapi belum jauh melangkah, tiba-tiba Putri menahan tanganku dan berhenti tepat di dekat meja rias dengan cermin yang besar.

Perasaanku tidak enak, namun entah ada rasa ingin untuk menoleh ke arah cermin itu.

Benar saja.. Cermin itu menunjukkan pemandangan yang mengerikan. Cermin itu menunjukkan Putri tidak sendiri. Ada seorang nenek yang menaiki duduk di pundaknya. Putri terlihat sedang menggendong seorang nenek berambut acak-acakan dengan wajah mengerikan. Ia terlihat terus tertawa seperti orang gila.

“Khikhikhi… khikhikhi…” Nenek itu tertawa, namun ia menunjuk ke arah kamar kak fany.

Aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi Putri berjalan ke arah kamar itu dengan tatapan yang kosong. “Put, jangan put!” Teriakku. Tapi ia tidak peduli. Ia terus berjalan ke arah kamar Kak Fany.

Belum sempat putri sampai ke pintu kamar itu, tiba-tiba ada sosok perempuan yang keluar menembus dari pintu kamar itu. Seorang perempuan dengan setengah wajah yang gosong dan sebagian kulit kepalanya penuh dengan belatung. Ia tidak menatap putri, tapi ia seolah menatap ke arah sosok yang menunggangi tubuh putri itu. Matanya wanita itu kesal seolah mengancam.

Brakkk!!!

“Khikhikhihki….”

Putri tertawa dan pintu kamar Kak Fani terbuka dengan kasar

Saat itu sebuah pemandangan yang tidak kusangka terlihat dengan jelas.

Tubuh Kak Fani terbaring di sebuah tikar bersama nampan berisi sesajen yang sudah kering dan kepala ayam cemani yang dihidangkan dalam sebuah piring kayu. Sama seperti dulu, kepala ayam itu masih hidup. Putri memaksa masuk, namun setan itu mencoba menghalanginya. Tapi putri malah memasang wajah yang mengerikan ke arah makhluk itu.

Sesajen itu diporak-porandakan oleh putri. Aku yang penasaran pun mencoba melihat lebih dekat. Dan saat itu pintu kamar mandi terbuka dengan sendirinya, begitu juga pintu kamar yang satunya.

Gila.. sama seperti di kamar Kak Fani. Ada tubuh Gita dan Intan yang terbaring diatas tikar dengan Nampan sesaji di dekatnya. Yang berbeda, di sesajen Intan piring itu diisi kepala kambing, dan di sesajen Gita ada kepala anjing. Yang membuatku semakin ketakutan, tubuh Intan dan Gita sekarang sama seperti Kak Fani. Kurus kering dengan beberapa bagian kulit yang menghitam.

Aku tidak habis pikir, bagaimana kepala hewan tanpa tubuh itu bisa bergerak seperti masih hidup tanpa memiliki badan.

Saat itu Kak Fani terbangun dan mencoba berdiri, saat itu aku sadar wajah Kak Fani tidak seperti dirinya. Gerak-geriknya persis seperti setan perempuan yang sebelah wajahnya gosong itu. Ia mengancam Putri.

Aku melihat Gita mulai terbangun juga. Ia merayap di tanah tanpa menggunakan kakinya. Intan pun tersadar dan merangkak seperti bayi yang baru lahir. Mereka mengincar kami. Kali ini aku merasa kami ada dalam bahaya. Yang aku dengar, setan itu seharusnya tidak bisa melukai manusia. Kecuali, ada manusia yang menjadi perantaranya.

namun sebelum Kak Fani berdiri dan mencoba mencekik Putri, Putri menginjak injak kepala ayam cemani di piring itu berkali-kali. Ia seolah memastikan kepala ayam itu benar-benar mati. Aneh,  seketika Kak Fani pun kembali terjatuh.

Ketika itu tanpa sadar, sebuah tangan menggenggam kakiku. Aku menoleh ke bawah, dan melihat kuku-kuku Gita yang sudah menghitam mencengkeram kakiku hingga berdarah.

Mengerikan… wajah kak Gita benar-benar mengerikan. Aku berusaha melepas sekuat tenaga melepaskan genggaman itu dan berlari. Aku berpikir bagaimana caraku bisa keluar dari rumah ini dengan selamat?

Tapi di tengah kebingunganku, aku sedikit tersadar. Kak Fani tidak terbangun lagi. Apa mungkin jika aku membunuh kepala hewan yang ada di nampan sesajen itu, Gita dan Intan akan kembali tak sadar?

Aku pun tidak ada pilihan lain untuk mencobanya. Putri sedang berseteru dengan Intan yang berlaku seperti setan kerdil itu, sepertinya ia memang mengincar kepala kambing di nampan yang berada di kamar mandi. Dengan cepat aku membalik nampan di kamar Kak Gita dan menginjak kepala anjing yang mengerikan itu.

Suara lolongan kecil terdengar dari kepala itu. Hewan itu benar-benar masih hidup. Aku hampir merasa tidak tega, tapi saat melihat Kak Gita sudah merayap mendekat ke arahku, aku tidak punya pilihan lain. Kuambil kursi kayu di sudut kamar Kak Gita, dan sekuat tenaga kubantingkan ke kepala anjing itu.

Darah bermuncratan ke lantai kamar, namun dugaanku benar. Gita tak lagi bergerak. Begitu juga dengan Intan, ia terkapar di lantai ruang makan saat Putri dengan sadisnya menginjak-injak kepala kambing itu. Nafasku tersengal-sengal, aku benar benar lelah dengan semua kejadian ini.

“Jangan macam-macam dengan cucuku!” Ucap Putri tiba-tiba dengan dengan suara yang menyerupai nenek nenek. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi, tapi setelah itu Putri tiba-tiba jatuh tergeletak di lantai begitu saja. Tubuhku terlalu lelah untuk mengangkat Putri, aku berpikir mungkin sebaiknya aku mencoba untuk keluar dan meminta pertolongan.

Belum sempat aku sampai ke pintu, tiba-tiba terdengar suara berisik dari arah depan rumah. Jendela dan pintu digedor tak beraturan. Suaranya seperti suara orang-orang yang menggerebek sebuah rumah. Tapi saat menyadari asal suara itu, aku tak lagi bisa mempertahankan kesadaranku.

Pemandangan itu terlalu mengerikan.

Setan-setan yang tadi kulihat berkumpul di jalanan. Setan-setan yang menyebabkan bau bangkai di sekitar komplek ini. Kini memaksa untuk masuk ke dalam rumah. Mereka menggedor dengan paksa seolah tidak bisa memasuki rumah ini begitu saja.

Itu adalah pemandangan terakhir yang kulihat sebelum akhirnya aku terlalu lelah dan kehilangan kesadaranku.


Saat ini rumah Nek Eva tidak lagi sama. Bangunan itu sudah dibongkar dan dibangun ulang oleh penghuni baru yang juga seorang ustad. Warga sudah menceritakan tentang masa lalu rumah itu, tapi ustad itu tetap yakin untuk membeli rumah itu dan tinggal di sana. Jika aku kembali ke tempat itu, aku sudah hampir tidak mengenali rumah Nek Eva yang sempat membuatku trauma hingga sekarang.

Hanya warga-warga lama yang masih ingat tentang kejadian pada saat itu.

Aku dan Putri ditemukan oleh ibu dan warga dalam keadaan tak sadarkan diri di rumah Nek Eva. Tak hanya kami, tapi mereka juga menemukan tiga jasad lain. Jasad Kak Fani, Kak Gita, dan Intan. Jasadnya sudah membusuk dan rusak, jauh berbeda dari saat malam itu aku lihat.

Kasus penemuan ketiga jasad ini sempat ramai saat itu, namun saat itu warga kesulitan untuk mencari keberadaan Nek Eva dan kedua orang tua mereka.

Saat memeriksa nya, Pak Sigit menduga bahwa sebenarnya mereka bertiga sudah meninggal sejak lama. Ia sebenarnya sudah sedikit curiga dengan yang dilakukan oleh keluarga Nek Eva itu. Menurutnya, Jasad mereka bertiga itu diisi dan dipermainkan oleh sosok Jin yang dipelihara oleh Nek Eva.

Nek Eva dipercaya oleh kedua orang tua Intan untuk merawat ketiga anaknya. Namun menurut Pak Sigit, Nek Eva memiliki rencana lain. Entah kesepakatan apa yang terjadi antara Nek Eva dan kedua orang tua Intan.

Pak Sigit sudah menduga rencana itu, namun kelebihan yang dimiliki Pak Sigit belum mampu untuk membongkar niat Nek Eva. Menurutnya, sesuatu yang dilakukan Nek Eva benar-benar sesuatu yang sangat Jahat. Dan setelah penemuan tiga jasad itu, Nek Eva pun menghilang.

Beberapa bulan kemudian warga mendapat kabar bahwa kedua orang tua Intan meninggal dengan keadaan yang mengenaskan pada sebuah kecelakaan. Entah ada hubungannya atau tidak, tapi saat mendengar ceritanya aku segera teringat akan Nek Eva.

Ibu Intan meninggal dengan sebagian kepalanya terbakar hingga sebelah wajah dan sebagian kepalanya gosong. Dan ayah Intan meninggal dengan tubuh yang terbelah jadi dua. Ia merayap keluar dari mobil tanpa kaki dan pinggangnya sebelum akhirnya meninggal kehabisan darah. Bentuk kedua jasad mereka persis seperti dua sosok makhluk di rumah itu.

Dan ada yang menjadi misteri untukku hingga saat ini. Setelah kematian orang tua Intan, aku pernah melihat seorang perempuan datang di tengah malam ke bekas rumah Nek Eva. Aku menebak perempuan itu berkisar umur tiga puluhan dan wajahnya juga cukup cantik. Tapi anehnya, aku samar-samar mencium bau sangit dari orang itu. Bau yang sama yang pernah aku cium di rumah Nek Eva dulu. Aku tersadar, walaupun terlihat masih muda entah mengapa wajahnya mirip dengan wajah Nek Eva, dan cara berjalannya sedikit seperti seorang nenek-nenek.

Ia menoleh ke arahku saat menyadari aku memperhatikannya dari balik jendela. Dia tersenyum, dan aku mengenal senyuman mengerikan itu. Itu senyuman milik nenek misterius pemilik rumah itu sebelumnya, Nek Eva.

<TAMAT>

Diubah oleh getih.sangit 28-11-2023 19:23
itkgid
riri49
winehsuka
winehsuka dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.