- Beranda
- Stories from the Heart
Ranti
...
TS
fanya06
Ranti

Part 1
Ranti mengendarai sepeda motor melewati jalanan sepi. Jalan beraspal yang sisi kanan dan kirinya banyak ditumbuhi pohon kopi serta beberapa sayuran merambat yang ditanam oleh warga yang kini sudah tumbuh liar hampir mengenai bahu jalan. Ini adalah jalan menuju desa. Mata Ranti seketika fokus saat melihat tempat duduk yang hampir roboh tepat di sisi kiri jalan.
Dulu, Ranti pernah beberapa kali duduk di sana. Selalu, bersama Adit. Lelaki remaja yang mendekatinya saat ia duduk di bangku 3 SMP. Berkenalan secara tidak sengaja saat keduanya sama sama menemani seorang teman untuk berkencan.
Sore itu sepulang menjadi nyamuk bagi dua sejoli yang sedang dimabuk cinta, Ranti merebahkan dirinya di atas ranjang kamarnya. Tiba tiba terlintas bayangan Adit yang baru ia temui sore tadi. Senyumnya yang menawan berhasil memikat hati gadis beralis tipis itu.
Ting! Sebuah notif membuyarkan lamunan Ranti. Hatinya semakin tak karuan ketika mendapati sebuah pesan dari ponsel jadulnya.
[Hai Ran, sudah sampai rumah? Ini Adit]
Kalimat singkat yang membuat Ranti tersenyum riang. Tanpa basa basi ia segera membalas pesan itu.
[Iya udah. Dapet nomerku dari mana?]
[Dari Dedy. Tadi aku minta ke dia, Dedy minta ke temenmu tadi]
Setelah percakapan itu, mereka saling berhubungan dengan intens. tak pernah sehari pun tanpa saling berbagi kabar. Kadang kala saat Ranti di ajak berkebun oleh orang tuanya pun, ia hanya memainkan ponselnya saja demi selalu terhubung dengan pujaan hatinya itu.
Saat itu pergaulan Ranti sedikit dibatasi oleh orang tuanya, meski diperbolehkan mempunyai ponsel namun dia tak boleh mengajak pria berkunjung ke rumah. Hingga mereka nekat membuat janji bertemu di luar rumah. Itupun dengan membawa teman masing-masing yang tentu saja sudah disuap dengan traktiran sepulang berkencan. Walau saat bertemu mereka hanya sekedar duduk dan mengobrol. Begitu saja sudah berhasil membuat hati dua sejoli itu berbunga-bunga.
Memasuki tahun ajaran sekolah baru, setelah Ranti dan Adit lulus SMP mereka melanjutkan sekolah di salah satu SMA Negeri yang sama di desa tak jauh tempat mereka tinggal. Tapi, seolah Tuhan tak merestui. Meski sudah satu sekolah dan sama sama masih kelas satu mereka dipisahkan oleh kelas yang berbeda. Dan dengan alasan larangan pacaran, mereka memutuskan untuk menyembunyikan hubungan. Ah, Saling mencintai tapi berpura-pura tidak kenal itu adalah hal yang menyiksa, bukan?
Kadangkala Adit dengan sengaja datang ke kelas Ranti. Berpura pura meminjam buku milik teman semasa SMP nya yang menjadi teman satu kelas Ranti. Sesekali keduanya saling mencuri pandang dengan mesra, dan tersenyum ketika mata mereka saling beradu, jika ada yang benar benar memperhatikan keduanya, akan jelas terlihat percik cinta di antara mereka.
Menjadi murid baru di sekolah. Semua siswa-siswi diwajibkan berkumpul di perpustakaan untuk meminjam buku-buku pelajaran yang akan mereka gunakan untuk menambah ilmu. Satu persatu siswa berbaju putih abu-abu berjalan memasuki ruangan panjang dan lebar yang dipenuhi buku-buku pelajaran.
Ranti dan ketiga sahabatnya berjalan penuh semangat sambil bergandengan satu sama lain ketika memasuki ruang perpustakaan yang hampir di penuhi siswa-siswi kelas satu. Ranti berjalan ke arah rak buku bertuliskan Biologi. Menelisik setiap sudut ruangan mencari buku yang ia butuhkan. Tiba-tiba tanpa sengaja matanya menangkap senyum sesosok pria yang selalu ia rindukan. Lama mata keduanya saling beradu tatap, lelaki itu tersenyum manis menunjukan barisan giginya. Lalu, perlahan kakinya melangkah menuju ke arah Ranti.
Ranti melihat ke arah kanan dan kiri, dia menyadari bahwa itu bukan tempat yang pas untuk mereka bertemu. Saat gadis itu berjalan menjauh tiba-tiba Ranti dikagetkan dengan cubitan di lengannya.
"Kamu liat cowok yang di sana gak?" Ucapnya sambil menunjuk ke arah dua pria yang sedang berjalan ke arahnya.
"Kenapa emang?" Ranti balik bertanya.
"Aku lagi PDKT sama dia!"
Terkejut, Ranti merasakan hawa panas menjalar ke dadanya. Gadis itu masih Berusaha mewaraskan diri. Bukankah di sana ada dua pria? Siapa yang dimaksud oleh Fatma? Masih menyembunyikan sesak di dada. Ranti langsung menoleh ke arah Fatma.
"Yang pake rompi coklat?"
Fatma menggeleng, dia menunjuk ke arah lain. Lebih tepatnya ke sebelah pria berompi coklat.
"Sebelahnya." Ucapnya tegas.
"Adit? Dia pacarku!"
Mendengarnya Fatma langsung menutup mulutnya cepat. Ranti yang merasa jengkel langsung meninggalkan perpustakaan tanpa basa basi. Berlari menuju kelasnya yang tak jauh dari gedung perpustakaan. Ranti duduk sambil terisak didalam kelas. sahabatnya yang menyadari ada hal aneh langsung berlari mengejar. Menanyakan hal yang baru saja terjadi.
Ranti menceritakan semuanya pada sahabatnya. Mereka sahabat setianya sejak SMP, mendengar hal itu membuat mereka menahan amarah, mereka merencanakan ingin melabrak Fatma tapi urung setelah dihentikan oleh Ranti. Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk kembali ke perpustakaan menyuruh Adit untuk mengajak Ranti bertemu di belakang gedung sekolah.
"Tadi kenapa kabur sih? Ini sekarang malah kayak abis nangis!" Ucapnya membuka percakapan saat sudah duduk berdua di belakang gedung.
Tanpa menjawab gadis itu hanya melirik Adit sekilas. Yang berhasil membuat laki-laki itu kebingungan.
Hah! Apa dia belum tau aku sudah mengetahui kalau dia bermain di belakangku bersama Fatma? Batin Ranti kesal. Dengan posisi membuang muka. Rasanya Ranti sangat malu berduaan seperti ini. Apalagi melihat sahabatnya mengintip dari sisi gedung diujung sana.
"Kenapa, Dek. Kok tiba tiba ngajak ketemu?" Ulang laki-laki itu saat menyadari wajah Ranti seperti menahan kesal.
"Kamu lagi PDKT ya, Mas sama Fatma?"
Seketika Adit menatap wajah gadis yang dicintainya itu, memasang wajah yang sulit digambarkan.
"Hah!" Adit terkejut, tapi sambil menahan tawa saat mendengarnya.
"Kok kamu jahat, Mas?" Suara Ranti sedikit meninggi. Menatap Adit dalam-dalam. Adit membalas tatapan itu lalu menemukan mata itu penuh kekecewaan, Ranti hampir menangis tapi sengaja ditahan. Cepat cepat Gadis itu membuang muka, menatap ke sembarang arah saat menyadari wajahnya memerah menahan malu. Karena meski mereka sudah berpacaran lebih dari sebulan, itu pertama kalinya mereka saling menatap dalam jarak yang begitu dekat.
"Maksudnya gimana sih? Dia lagi PDKT sama Mas atau Mas yang lagi PDKT sama dia?"
"Emang apa bedanya?" Ranti balik bertanya dengan wajah bingung.
"Ya, beda dong, Dek! Kalau dia bilang lagi PDKT sama Mas berarti dia yang ada rencana deketin Mas." Ucapnya tegas penuh percaya diri meyakinkan Ranti.
Seketika wajah Ranti memerah. Ia menepuk jidatnya sendiri. Merasa malu sudah menuduhnya berselingkuh di belakangnya. Menyadari ia telah salah, Ranti melirik ke arah sahabatnya yang sudah tidak ada diposisi mereka mengintip tadi. Gadis itu langsung berlari meninggalkan Adit sendirian, menuju ke sisi gedung. Mendapati ketiga sahabatnya sedang berdiri membelakanginya. Di depan ketiganya, Ranti melihat Fatma menunduk sambil memainkan ujung jilbabnya. Melihat Ranti berjalan ke arahnya, Fatma langsung berlari meninggalkan mereka dengan wajah yang terlihat menahan malu.
Bersambung ...
Dilarang mengcopas tanpa seizin penulis!
Diubah oleh fanya06 19-08-2025 20:08
hllowrld23 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
1.6K
65
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fanya06
#16
Part 5
POV Adit
Selepas sholat subuh, Adit mengecek ponselnya. Membuka kotak pesan, ia menghela napas kasar. Karena tak menemukan satu pesannya dibalas oleh Ranti. Kini gadis itu mengabaikannya. Akhirnya pagi itu ia kembali mengirim pesan pada Ranti.
[Pagi, Sayang. Udah bangun?]
30 menit, tak juga ada balasan. Tiba tiba Adit sangat merindukan kekasihnya itu, mengingat biasanya setiap pagi seperti ini mereka selalu saling berbalas pesan.
[Dek? Mas, kangen. Nanti pagi Mas jemput ya, Sayang?]
Adit mengirim pesan lagi. Beberapa detik kemudian ....
Ting!
Adit terkesiap mendengar notif di ponselnya, matanya seketika berbinar ketika tau Ranti yang membalas pesannya. Segera ia membuka pesan itu.
[Gak usah jemput. Aku jalan kaki sama kakak. Kasian kalau dia jalan sendirian.]
Bahkan kali ini Ranti tak menyebut dirinya Adek lagi.
"Apa semarah itu Ranti padaku?" Ujar Adit bicara dengan dirinya sendiri. Adit mengacak rambutnya kesal. Lalu kembali meletakkan ponselnya ke atas nakas.
Pagi itu setelah Adit bersiap-siap ia segera berangkat ke sekolah. Selesai memarkirkan motornya, gegas ia melangkah memasuki halaman sekolah menuju kelasnya.
Ketika melewati kelas Ranti, Adit tersenyum senang melihat gadis itu. Meskipun dalam hati ia merasa bahwa kekasihnya itu menjaga jarak dengannya. Ranti membalas tatapan Adit dengan tatapan acuh, bahkan seolah tak melihat pria itu di depan kelasnya.
Adit berinisiatif menghampiri Ranti. lalu mendekat ke arahnya. Kini ia sudah duduk di sebelah gadis itu.
"Dek? Mas mau ngomong sesuatu." Ucapnya sambil menatap Ranti.
"Gak usah dijelasin lagi. Aku udah tau semuanya." jawab Ranti acuh, sambil membaca buku di mejanya.
"Kalau udah tau kenapa masih marah?" Tanya Adit.
"Aku gak marah, aku cuma harus lebih sadar sama posisiku." Ucap Ranti datar.
"Maksud adek?" Adit mengernyitkan dahinya.
Adit benar-benar tidak mengerti maksud perkataan kekasihnya itu.
"Ini, Mas. Aku kembaliin kado yang kemarin Mas kasih." Ucap gadis itu sambil membuka tasnya, lalu mengambil dan memberikan kotak hadiah yang berisi jam tangan.
"Kenapa dikembalikan? Ini kan udah mas kasih ke adek. Apa jamnya, adek gak suka? Atau, gak muat?"
Ranti menatap ke arah Adit, gadis itu mengernyitkan dahinya.
Sesaat, netra mereka beradu tatap. Kali ini Adit merasa bahwa Gadis itu menatap Adit seolah penuh kebencian. Sedangkan Lelaki itu melihat dengan penuh kerinduan, ia kaget saat baru menyadari mata gadis itu sedikit bengkak seperti habis menangis semalaman.
"Adek semalem nangis?" tanya Adit.
Ranti yang mendengar itu langsung membuang pandangannya.
"Enggak. Ini tadi malam kelilipan, makanya bengkak!" jawab Ranti mengelus kedua matanya.
"Coba liat. Masa separah itu kelilipan sampe bengkak." Ucapnya sambil berusaha melihat wajah Ranti.
"Udah lah, Mas. Keluar sana! Aku gak mau nanti dikira Pelakor sama Rita!" ucap gadis itu dengan nada sedikit tinggi.
"Dek, mas gak ada hubungan apa-apa sama Rita."
"Gak usah bohong, Mas! Jelas-jelas kamu ngasih jam tangan yang sama kaya punya aku ke dia!" Kini Ranti membalikan badannya.
"Nah, itu! yang Mas bingung sampe sekarang. Kenapa kemarin dia tiba tiba ngomong gitu di depan adek." Adit berusaha menjelaskan pada Ranti.
"Kenapa bingung? Kan, kalian pacaran? Ya, engga papa dong kalau ngasih dia hadiah?" jawab Ranti berpura pura tak peduli.
"Hah? Engga, Dek! Pacar Mas cuma kamu. Rita itu sebenarnya ..."
Ucapan Adit terhenti ketika lonceng berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai. Satu persatu siswa-siswi yang berada di luar ruangan mulai memasuki kelas masing-masing. Dengan keadaan seperti itu, Adit terpaksa meninggalkan kekasihnya lalu menuju kelasnya yang hanya berjarak beberapa meter dari kelas Ranti.
------
Setelah sampai di kelas, Adit menjatuhkan bobot di atas kursi. Ia duduk sambil meremas rambutnya, kepalanya terasa pusing memikirkan ucapan Ranti tadi pagi. Mengapa gadis itu mengatakan bahwa Rita adalah pacarnya? Adit baru sadar ketika mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu saat ia sedang membeli kado ulang tahun untuk sang kekasih.
"Mba, aku mau yang ini ya. Tolong dibungkus. Oh, ya, Mbak. Kasih pita sekalian supaya lebih cantik." Adit bicara pada mbak kasir sambil menyerahkan jam tangan yang sudah ia pilih.
"Baik, Mas. Mau dikasih kartu ucapan sekalian gak?" tanya mbak kasir.
"Gak usah, Mbak."
Mbak kasir pun langsung membungkus hadiah yang dibeli Adit. Sambil menunggu Mbak kasir menyelesaikan pesanannya, Adit melihat-lihat isi toko. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara yang memanggil namanya dari arah belakang.
Seketika Adit menoleh ke arah sumber suara. Lalu melihat sosok gadis semampai yang sedang tersenyum ke arahnya. Menatap sosok itu membuat Adit merasakan lemas. Rita, perempuan masa lalu Adit yang pernah meninggalkan bekas cinta dan luka yang sama sama dalam.
"Rita?" Adit bertanya penuh keheranan. Karena yang ia tahu sejak Rita lulus SMP, gadis itu pindah ke kabupaten bersama keluarganya.
"Kamu apa kabar, Dit?" tanya Rita sambil tersenyum.
"Aku masih hidup kok." jawab Adit singkat.
Rita hanya tertawa kecil mendengarnya.
"Aku pindah lagi ke sini, Dit. Gak betah di kota. Sering kangen kamu."
"Ngaco kamu, Ta!" Adit mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Kemudian gadis itu mengambil sesuatu dari dalam tas, memberikan sebuah kotak musik berukuran kecil pada Adit.
"Aku masih simpen hadiah dari kamu." Ucap gadis itu.
"Aku gak peduli, Ta!"Adit menyerahkan kembali kotak itu ke tangan Rita.
"Gak mungkin, Dit! Dulu kamu sayang banget sama aku."
"Itu dulu! Sebelum kamu mutusin aku demi Dino!" Ucap Adit kesal.
"Aku nyesel, Dit. Ternyata Dino jahat sama aku. Dia selingkuh sama temenku." Mata Rita mulai berkaca-kaca.
"Aku baru sadar ternyata kamu cintanya aku, Dit!" Lanjutnya lagi.
Adit terkesiap mendengar perkataan Rita. Sebenarnya Adit juga sudah mengetahui bahwa Rita adalah murid baru di kelas dua sekolahnya. Hanya saja Adit selalu menghindar jika hampir bertemu dengan gadis itu, demi menjaga perasaan Ranti. Apalagi kali ini ia sudah mengetahui bahwa Rita masih memiliki perasaan terhadapnya.
"Mas, kadonya sudah selesai!" Ucap mba kasir menghentikan obrolan di antara keduanya. Lalu kemudian Adit pulang. Meninggalkan Rita yang masih menatapnya dari jauh.
Adit baru menyadari bahwa pertemuan nya hari itu dengan mantan kekasihnya adalah ancaman hubungannya dengan Ranti.
Adit berhenti mengingat tentang pertemuannya dengan Rita di hari itu. Kini ia beralih pandangan ke arah suara teman-temannya yang bersorak penuh kegirangan saat tahu guru yang bertugas mengajar sedang ada keperluan mendesak. Itu berarti jam mereka kosong.
Dari dalam ruangan, Adit melihat ke arah jendela kaca. Dilihatnya Rita sedang berdiri di dekat lapangan volley. Kebetulan lapangan itu terletak di depan kelas siswa-siswi di sekolah itu belajar. Dengan perasaan yang campur aduk gegas Adit keluar kelas, lalu menghampiri gadis itu.
POV Adit end
-------
Bersambung ...
kembali ke indeks cerita
POV Adit
Selepas sholat subuh, Adit mengecek ponselnya. Membuka kotak pesan, ia menghela napas kasar. Karena tak menemukan satu pesannya dibalas oleh Ranti. Kini gadis itu mengabaikannya. Akhirnya pagi itu ia kembali mengirim pesan pada Ranti.
[Pagi, Sayang. Udah bangun?]
30 menit, tak juga ada balasan. Tiba tiba Adit sangat merindukan kekasihnya itu, mengingat biasanya setiap pagi seperti ini mereka selalu saling berbalas pesan.
[Dek? Mas, kangen. Nanti pagi Mas jemput ya, Sayang?]
Adit mengirim pesan lagi. Beberapa detik kemudian ....
Ting!
Adit terkesiap mendengar notif di ponselnya, matanya seketika berbinar ketika tau Ranti yang membalas pesannya. Segera ia membuka pesan itu.
[Gak usah jemput. Aku jalan kaki sama kakak. Kasian kalau dia jalan sendirian.]
Bahkan kali ini Ranti tak menyebut dirinya Adek lagi.
"Apa semarah itu Ranti padaku?" Ujar Adit bicara dengan dirinya sendiri. Adit mengacak rambutnya kesal. Lalu kembali meletakkan ponselnya ke atas nakas.
Pagi itu setelah Adit bersiap-siap ia segera berangkat ke sekolah. Selesai memarkirkan motornya, gegas ia melangkah memasuki halaman sekolah menuju kelasnya.
Ketika melewati kelas Ranti, Adit tersenyum senang melihat gadis itu. Meskipun dalam hati ia merasa bahwa kekasihnya itu menjaga jarak dengannya. Ranti membalas tatapan Adit dengan tatapan acuh, bahkan seolah tak melihat pria itu di depan kelasnya.
Adit berinisiatif menghampiri Ranti. lalu mendekat ke arahnya. Kini ia sudah duduk di sebelah gadis itu.
"Dek? Mas mau ngomong sesuatu." Ucapnya sambil menatap Ranti.
"Gak usah dijelasin lagi. Aku udah tau semuanya." jawab Ranti acuh, sambil membaca buku di mejanya.
"Kalau udah tau kenapa masih marah?" Tanya Adit.
"Aku gak marah, aku cuma harus lebih sadar sama posisiku." Ucap Ranti datar.
"Maksud adek?" Adit mengernyitkan dahinya.
Adit benar-benar tidak mengerti maksud perkataan kekasihnya itu.
"Ini, Mas. Aku kembaliin kado yang kemarin Mas kasih." Ucap gadis itu sambil membuka tasnya, lalu mengambil dan memberikan kotak hadiah yang berisi jam tangan.
"Kenapa dikembalikan? Ini kan udah mas kasih ke adek. Apa jamnya, adek gak suka? Atau, gak muat?"
Ranti menatap ke arah Adit, gadis itu mengernyitkan dahinya.
Sesaat, netra mereka beradu tatap. Kali ini Adit merasa bahwa Gadis itu menatap Adit seolah penuh kebencian. Sedangkan Lelaki itu melihat dengan penuh kerinduan, ia kaget saat baru menyadari mata gadis itu sedikit bengkak seperti habis menangis semalaman.
"Adek semalem nangis?" tanya Adit.
Ranti yang mendengar itu langsung membuang pandangannya.
"Enggak. Ini tadi malam kelilipan, makanya bengkak!" jawab Ranti mengelus kedua matanya.
"Coba liat. Masa separah itu kelilipan sampe bengkak." Ucapnya sambil berusaha melihat wajah Ranti.
"Udah lah, Mas. Keluar sana! Aku gak mau nanti dikira Pelakor sama Rita!" ucap gadis itu dengan nada sedikit tinggi.
"Dek, mas gak ada hubungan apa-apa sama Rita."
"Gak usah bohong, Mas! Jelas-jelas kamu ngasih jam tangan yang sama kaya punya aku ke dia!" Kini Ranti membalikan badannya.
"Nah, itu! yang Mas bingung sampe sekarang. Kenapa kemarin dia tiba tiba ngomong gitu di depan adek." Adit berusaha menjelaskan pada Ranti.
"Kenapa bingung? Kan, kalian pacaran? Ya, engga papa dong kalau ngasih dia hadiah?" jawab Ranti berpura pura tak peduli.
"Hah? Engga, Dek! Pacar Mas cuma kamu. Rita itu sebenarnya ..."
Ucapan Adit terhenti ketika lonceng berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai. Satu persatu siswa-siswi yang berada di luar ruangan mulai memasuki kelas masing-masing. Dengan keadaan seperti itu, Adit terpaksa meninggalkan kekasihnya lalu menuju kelasnya yang hanya berjarak beberapa meter dari kelas Ranti.
------
Setelah sampai di kelas, Adit menjatuhkan bobot di atas kursi. Ia duduk sambil meremas rambutnya, kepalanya terasa pusing memikirkan ucapan Ranti tadi pagi. Mengapa gadis itu mengatakan bahwa Rita adalah pacarnya? Adit baru sadar ketika mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu saat ia sedang membeli kado ulang tahun untuk sang kekasih.
"Mba, aku mau yang ini ya. Tolong dibungkus. Oh, ya, Mbak. Kasih pita sekalian supaya lebih cantik." Adit bicara pada mbak kasir sambil menyerahkan jam tangan yang sudah ia pilih.
"Baik, Mas. Mau dikasih kartu ucapan sekalian gak?" tanya mbak kasir.
"Gak usah, Mbak."
Mbak kasir pun langsung membungkus hadiah yang dibeli Adit. Sambil menunggu Mbak kasir menyelesaikan pesanannya, Adit melihat-lihat isi toko. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara yang memanggil namanya dari arah belakang.
Seketika Adit menoleh ke arah sumber suara. Lalu melihat sosok gadis semampai yang sedang tersenyum ke arahnya. Menatap sosok itu membuat Adit merasakan lemas. Rita, perempuan masa lalu Adit yang pernah meninggalkan bekas cinta dan luka yang sama sama dalam.
"Rita?" Adit bertanya penuh keheranan. Karena yang ia tahu sejak Rita lulus SMP, gadis itu pindah ke kabupaten bersama keluarganya.
"Kamu apa kabar, Dit?" tanya Rita sambil tersenyum.
"Aku masih hidup kok." jawab Adit singkat.
Rita hanya tertawa kecil mendengarnya.
"Aku pindah lagi ke sini, Dit. Gak betah di kota. Sering kangen kamu."
"Ngaco kamu, Ta!" Adit mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Kemudian gadis itu mengambil sesuatu dari dalam tas, memberikan sebuah kotak musik berukuran kecil pada Adit.
"Aku masih simpen hadiah dari kamu." Ucap gadis itu.
"Aku gak peduli, Ta!"Adit menyerahkan kembali kotak itu ke tangan Rita.
"Gak mungkin, Dit! Dulu kamu sayang banget sama aku."
"Itu dulu! Sebelum kamu mutusin aku demi Dino!" Ucap Adit kesal.
"Aku nyesel, Dit. Ternyata Dino jahat sama aku. Dia selingkuh sama temenku." Mata Rita mulai berkaca-kaca.
"Aku baru sadar ternyata kamu cintanya aku, Dit!" Lanjutnya lagi.
Adit terkesiap mendengar perkataan Rita. Sebenarnya Adit juga sudah mengetahui bahwa Rita adalah murid baru di kelas dua sekolahnya. Hanya saja Adit selalu menghindar jika hampir bertemu dengan gadis itu, demi menjaga perasaan Ranti. Apalagi kali ini ia sudah mengetahui bahwa Rita masih memiliki perasaan terhadapnya.
"Mas, kadonya sudah selesai!" Ucap mba kasir menghentikan obrolan di antara keduanya. Lalu kemudian Adit pulang. Meninggalkan Rita yang masih menatapnya dari jauh.
Adit baru menyadari bahwa pertemuan nya hari itu dengan mantan kekasihnya adalah ancaman hubungannya dengan Ranti.
Adit berhenti mengingat tentang pertemuannya dengan Rita di hari itu. Kini ia beralih pandangan ke arah suara teman-temannya yang bersorak penuh kegirangan saat tahu guru yang bertugas mengajar sedang ada keperluan mendesak. Itu berarti jam mereka kosong.
Dari dalam ruangan, Adit melihat ke arah jendela kaca. Dilihatnya Rita sedang berdiri di dekat lapangan volley. Kebetulan lapangan itu terletak di depan kelas siswa-siswi di sekolah itu belajar. Dengan perasaan yang campur aduk gegas Adit keluar kelas, lalu menghampiri gadis itu.
POV Adit end
-------
Bersambung ...
kembali ke indeks cerita
Diubah oleh fanya06 22-11-2023 15:39
suryos dan 4 lainnya memberi reputasi
5