- Beranda
- Stories from the Heart
Thread Horor: MENJEMPUT GELAP
...
TS
saujanastory
Thread Horor: MENJEMPUT GELAP
Halo Agan semua, salam kenal. Ane Jana, yang biasa menceritakan dan kisah horor baik berdasarkan kisah nyata, atau terinspirasi dari kisah nyata. Monggo disimak, jangan lupa diramaikan.

Sekian Agan-Agan semua, malam Minggu depan ceritanya akan dilanjutkan.
MENJEMPUT GELAP

Quote:
Original Posted By Bab 1: Kontrakan Bangsal Tiga
Hari ini kondisi cuaca cukup cerah dengan sedikit gumpalan awan berarak yang menjadi tanda bahwasanya hujan tidak akan turun. Dari balik kaca, lelaki itu memandangi jalanan sambil menyesap segelas kopi yang tak lagi panas.
Siang ini ia terpikir beberapa hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Sebuah misi yang seharusnya ia lakukan bertahun-tahun lalu. Mengunjungi tanah leluhurnya. Namun yang ia temukan adalah hal mengerikan yang seharusnya tak pernah terungkap. Sebuah rahasia masa lalu yang disimpan rapat oleh seluruh penduduk desa.
Kemal, 32 tahun. Seorang pemuda medioker yang masih terus berkutat dengan segala hobi dan kegemarannya. Kehidupan keluarganya yang sangat sederhana membuat masa kecilnya lebih terbatas jika dibandingkan dengan kawan sebayanya.
Ayahnya yang ketika itu masih berada di posisi cukup rendah di tempat kerjanya membuat hidup keluarga sangat sederhana. Ayah Kemal yang memulai karir di sebuah BUMN sebagai sekuriti hanya mendapatkan gaji 275 ribu rupiah per bulan. Saat itu masih sekitar tahun 1991.
Ibunya sedang mengandung sang adik. Sementara Kemal yang statusnya ‘disembunyikan’ berada di desa asal sang ibu. Sebuah desa tertinggal di provinsi paling timur di pulau Jawa. Sebuah desa yang pada saat itu hanya dihuni para petani, dengan kehidupan miskin dan jauh dari kata cukup.
Pada saat itu, ayah Kemal baru saja mendapatkan pekerjaanya. Dan menurut peraturan, pegawai tidak boleh menikah sebelum 3 tahun masa kerja. Karena ayah dan ibu Kemal menikah di luar ketentuan itu, maka kelahiran Kemal terpaksa disembunyikan dari rekan kerja sang ayah.
Dan ia pun dirawat oleh sang nenek, si mbok dari sang ibu.
Dalam rumah bangsal petak itu Harti sedang menggigil ketakutan. Keringat dingin membasahi tubuhnya, sementara ia hanya berada di kontrakan itu sendirian. Husin sedang bertugas sebagai sekuriti dan akan pulang pukul 11 malam. Yang mana akan tiba di rumah 20 hingga 30 menit setelah shift jaga selesai.
Sedari pukul 10, Harti mendengar ada sosok yang sedang tertawa cekikikan di depan pintu rumahnya. Sementara ia sangat tahu, bahwa lingkungan tempat tinggalnya adalah lingkungan yang sepi setelah shalat Isya.
Di dalam rumah, Harti tak bisa melakukan apa pun. Hanya bisa duduk meringkuk diatas ranjang sambil melindungi kandungannya yang sudah cukup besar. Ia hanya berdoa semampu yang ia ingat, diiringi kucuran keringat dan tubuhnya yang menggigil ketakutan.
Hingga pukul 11.25, hampir tengah malam suara vespa memecah keheningan malam itu. Husin datang dan langsung memarkirkan motornya tepat di depan rumah. Ia masuk dan disambut dengan tangisan yang memecah keheningan malam.
“Pak, di situ!! Tadi ada orang ketawa nyaring, cekikikan gak berhenti.” Harti tergagap sambil memeluk erat pinggang suaminya.
“Di mana?! Bentar, biar ku bacok kalo emang ada.” Husin langsung mengambil sebilah golok dan kembali mengecek teras rumah mereka. Dan yang ia temukan hanyalah sepinya malam dengan suara jangkrik dari
seberang jalan yang lebarnya tak lebih dari 2 meter.
Malam itu Harti terselamatkan, ia kembali tenang setelah sang suami memastikan tidak ada yang bisa ia temukan di depan rumahnya. Mereka akhirnya bisa terlelap sambil ditemani beberapa benda tajam seperti jarum, silet, gunting dan bulu landak sebagai proteksi sang jabang bayi.
Sore itu, Harti merasa sakit perut dan ingin buang hajat. Ia lalu keluar rumah melalui pintu belakang dan menuju toilet bersama yang berada tepat di belakang kontrakannya. Perlahan ia turun menuju belakang rumah, sambil memegangi perut besarnya dan melihat toilet dalam kondisi tertutup.
Harti menunggu sejenak. Karena tak ada suara, ia memutuskan untuk mendorong pintu toilet tersebut. Ia terkejut, pintu itu tak terkunci, namun di dalamnya ada seorang nenek yang sedang duduk berjongkok di atas kloset seperti sedang membuang hajat.
“Maaf, saya kira gak ada orang.” Ucapnya sambil langsung menutup pintu dan menunggu di mulut pintu rumahnya.
Beberapa menit berlalu, tak ada tanda bahwa sang nenek sudah selesai. Bahkan tidak ada suara sama sekali dari dalam toilet. Sementara hajat Harti sudah sulit untuk ditahan. Ia pun kembali mengetuk pintu toilet tersebut, seketika toilet itu terbuka. Di dalamnya tak ada orang, nenek yang sedang berjongkok di atas toilet sudah hilang.
Karena sudah menunggu lama dan tak bisa ditahan lagi. Maka Harti langsung saja masuk ke dalam toilet dan menuntaskan hajatnya yang sudah hampir tak terbendung. Sore itu, adalah pertama kali Harti melihat sosok tak asing yang mungkin saja bukan manusia.
Pagi menyingsing, hawa dingin dan sejuk mengiringi niat Harti yang ingin berjalan-jalan. Kumpulan tumbuhan pandan tumbuh di depan rumahnya yang di bawahnya merupakan genangan air. Kontrakan 3 pintu yang hanya memilik satu toilet bersama. Toilet yang berada tepat di belakang dapur rumah Harti.
Ditemani sang suami, Harti berjalan-jalan sambil menikmati udara pagi
yang segar. Disambut dengan sapaan para tetangga yang mayoritas adalah warga suku lokal. Dengan logat Kutai dan Banjar yang kental, mereka menyapa sembari menyapu atau menyiram tanaman.
“Hendak ke mana kita? Gaknya tumat lagi lahir ni. – Mau kemana? Sepertinya sebentar lagi lahiran.” ucap seorang wanita penjual kue-kue basah yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbok Joi dengan logat Kutai
yang kental.
“Ohh, bejalanan aja. Biar kena kalo lahiran lancar, – Mau jalan-jalan saja. Supaya nanti lahiran lancar,” jawab Husin dengan logat Banjar.
“Bulu landak ngan gunting jangan lupa dibawa, biar ndik dilirik kuyang, – Bulu landak sama gunting jangan lupa dibawa, supaya tidak dilirik (hantu) kuyang,” timpal Mbok Joi lagi sambil tersenyum sembari merapikan kue dagangannya.
“Iya, makasih, Mbok Joi.” Husin tersenyum sambil melanjutkan menemani Harti berjalan berkeliling.
Di kota ini, mitos dan rumor tentang kuyang memang sangat dipercaya. Terutama oleh para warga asli yang memang sangat memegang teguh kepercayaan lokal. Dan entah, percaya/tidak percaya semua itu diceritakan turun-temurun dan kabarnya memang sudah ada yang pernah membuktikan keberadaan dan kebenarannya.
Harti dan Husin berjalan menikmati pagi dengan santai. Embun masih terasa membasahi kulit, juga meninggalkan titik-titik bulir air di atas dedaunan di kiri-kanan gang. Banyak orang berlalu-lalang membawa keranjang belanjaan karena pasar juga masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Juga anak-anak sekolah yang sedang jalan bergerombol menuju tempat mereka menuntut ilmu. Juga beberapa ibu yang sedang berjalan berlainan arah. Salah satunya menggunakan kerudung dengan ujung yang melilit di lehernya.
Mereka bercakap sambil salah satunya menatap Harti yang dengan pandangan yang menyelidik. Hingga saat perpapasan, ia bahkan sampai menolehkan kepalanya memandang Harti yang sedang berjalan sambil memegangi perutnya Wanita itu menelan ludahnya sambil menjilat bibirnya sendiri.
“Hmmm.. Wangi..” batinnya.
Siang ini ia terpikir beberapa hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Sebuah misi yang seharusnya ia lakukan bertahun-tahun lalu. Mengunjungi tanah leluhurnya. Namun yang ia temukan adalah hal mengerikan yang seharusnya tak pernah terungkap. Sebuah rahasia masa lalu yang disimpan rapat oleh seluruh penduduk desa.
***
Kemal, 32 tahun. Seorang pemuda medioker yang masih terus berkutat dengan segala hobi dan kegemarannya. Kehidupan keluarganya yang sangat sederhana membuat masa kecilnya lebih terbatas jika dibandingkan dengan kawan sebayanya.
Ayahnya yang ketika itu masih berada di posisi cukup rendah di tempat kerjanya membuat hidup keluarga sangat sederhana. Ayah Kemal yang memulai karir di sebuah BUMN sebagai sekuriti hanya mendapatkan gaji 275 ribu rupiah per bulan. Saat itu masih sekitar tahun 1991.
Ibunya sedang mengandung sang adik. Sementara Kemal yang statusnya ‘disembunyikan’ berada di desa asal sang ibu. Sebuah desa tertinggal di provinsi paling timur di pulau Jawa. Sebuah desa yang pada saat itu hanya dihuni para petani, dengan kehidupan miskin dan jauh dari kata cukup.
Pada saat itu, ayah Kemal baru saja mendapatkan pekerjaanya. Dan menurut peraturan, pegawai tidak boleh menikah sebelum 3 tahun masa kerja. Karena ayah dan ibu Kemal menikah di luar ketentuan itu, maka kelahiran Kemal terpaksa disembunyikan dari rekan kerja sang ayah.
Dan ia pun dirawat oleh sang nenek, si mbok dari sang ibu.
***
Dalam rumah bangsal petak itu Harti sedang menggigil ketakutan. Keringat dingin membasahi tubuhnya, sementara ia hanya berada di kontrakan itu sendirian. Husin sedang bertugas sebagai sekuriti dan akan pulang pukul 11 malam. Yang mana akan tiba di rumah 20 hingga 30 menit setelah shift jaga selesai.
Sedari pukul 10, Harti mendengar ada sosok yang sedang tertawa cekikikan di depan pintu rumahnya. Sementara ia sangat tahu, bahwa lingkungan tempat tinggalnya adalah lingkungan yang sepi setelah shalat Isya.
Di dalam rumah, Harti tak bisa melakukan apa pun. Hanya bisa duduk meringkuk diatas ranjang sambil melindungi kandungannya yang sudah cukup besar. Ia hanya berdoa semampu yang ia ingat, diiringi kucuran keringat dan tubuhnya yang menggigil ketakutan.
Hingga pukul 11.25, hampir tengah malam suara vespa memecah keheningan malam itu. Husin datang dan langsung memarkirkan motornya tepat di depan rumah. Ia masuk dan disambut dengan tangisan yang memecah keheningan malam.
“Pak, di situ!! Tadi ada orang ketawa nyaring, cekikikan gak berhenti.” Harti tergagap sambil memeluk erat pinggang suaminya.
“Di mana?! Bentar, biar ku bacok kalo emang ada.” Husin langsung mengambil sebilah golok dan kembali mengecek teras rumah mereka. Dan yang ia temukan hanyalah sepinya malam dengan suara jangkrik dari
seberang jalan yang lebarnya tak lebih dari 2 meter.
Malam itu Harti terselamatkan, ia kembali tenang setelah sang suami memastikan tidak ada yang bisa ia temukan di depan rumahnya. Mereka akhirnya bisa terlelap sambil ditemani beberapa benda tajam seperti jarum, silet, gunting dan bulu landak sebagai proteksi sang jabang bayi.
***
Sore itu, Harti merasa sakit perut dan ingin buang hajat. Ia lalu keluar rumah melalui pintu belakang dan menuju toilet bersama yang berada tepat di belakang kontrakannya. Perlahan ia turun menuju belakang rumah, sambil memegangi perut besarnya dan melihat toilet dalam kondisi tertutup.
Harti menunggu sejenak. Karena tak ada suara, ia memutuskan untuk mendorong pintu toilet tersebut. Ia terkejut, pintu itu tak terkunci, namun di dalamnya ada seorang nenek yang sedang duduk berjongkok di atas kloset seperti sedang membuang hajat.
“Maaf, saya kira gak ada orang.” Ucapnya sambil langsung menutup pintu dan menunggu di mulut pintu rumahnya.
Beberapa menit berlalu, tak ada tanda bahwa sang nenek sudah selesai. Bahkan tidak ada suara sama sekali dari dalam toilet. Sementara hajat Harti sudah sulit untuk ditahan. Ia pun kembali mengetuk pintu toilet tersebut, seketika toilet itu terbuka. Di dalamnya tak ada orang, nenek yang sedang berjongkok di atas toilet sudah hilang.
Karena sudah menunggu lama dan tak bisa ditahan lagi. Maka Harti langsung saja masuk ke dalam toilet dan menuntaskan hajatnya yang sudah hampir tak terbendung. Sore itu, adalah pertama kali Harti melihat sosok tak asing yang mungkin saja bukan manusia.
***
Pagi menyingsing, hawa dingin dan sejuk mengiringi niat Harti yang ingin berjalan-jalan. Kumpulan tumbuhan pandan tumbuh di depan rumahnya yang di bawahnya merupakan genangan air. Kontrakan 3 pintu yang hanya memilik satu toilet bersama. Toilet yang berada tepat di belakang dapur rumah Harti.
Ditemani sang suami, Harti berjalan-jalan sambil menikmati udara pagi
yang segar. Disambut dengan sapaan para tetangga yang mayoritas adalah warga suku lokal. Dengan logat Kutai dan Banjar yang kental, mereka menyapa sembari menyapu atau menyiram tanaman.
“Hendak ke mana kita? Gaknya tumat lagi lahir ni. – Mau kemana? Sepertinya sebentar lagi lahiran.” ucap seorang wanita penjual kue-kue basah yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbok Joi dengan logat Kutai
yang kental.
“Ohh, bejalanan aja. Biar kena kalo lahiran lancar, – Mau jalan-jalan saja. Supaya nanti lahiran lancar,” jawab Husin dengan logat Banjar.
“Bulu landak ngan gunting jangan lupa dibawa, biar ndik dilirik kuyang, – Bulu landak sama gunting jangan lupa dibawa, supaya tidak dilirik (hantu) kuyang,” timpal Mbok Joi lagi sambil tersenyum sembari merapikan kue dagangannya.
“Iya, makasih, Mbok Joi.” Husin tersenyum sambil melanjutkan menemani Harti berjalan berkeliling.
Di kota ini, mitos dan rumor tentang kuyang memang sangat dipercaya. Terutama oleh para warga asli yang memang sangat memegang teguh kepercayaan lokal. Dan entah, percaya/tidak percaya semua itu diceritakan turun-temurun dan kabarnya memang sudah ada yang pernah membuktikan keberadaan dan kebenarannya.
Harti dan Husin berjalan menikmati pagi dengan santai. Embun masih terasa membasahi kulit, juga meninggalkan titik-titik bulir air di atas dedaunan di kiri-kanan gang. Banyak orang berlalu-lalang membawa keranjang belanjaan karena pasar juga masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Juga anak-anak sekolah yang sedang jalan bergerombol menuju tempat mereka menuntut ilmu. Juga beberapa ibu yang sedang berjalan berlainan arah. Salah satunya menggunakan kerudung dengan ujung yang melilit di lehernya.
Mereka bercakap sambil salah satunya menatap Harti yang dengan pandangan yang menyelidik. Hingga saat perpapasan, ia bahkan sampai menolehkan kepalanya memandang Harti yang sedang berjalan sambil memegangi perutnya Wanita itu menelan ludahnya sambil menjilat bibirnya sendiri.
“Hmmm.. Wangi..” batinnya.
***
Spoiler for Bab Selanjutnya Gan!:
Spoiler for Bab Selanjutnya Gan!:
Spoiler for Bab Selanjutnya, Gan!:
Spoiler for Lanjut lagi, Gan!:
Spoiler for Selamat bermalam Minggu, Gan!:
Spoiler for Habis konser, lanjut cerita!:
Spoiler for Telat sehari.:
Spoiler for Lanjutan lagi!:
Spoiler for Malming sendu:
Spoiler for Capek motoran:
Spoiler for Habis selesein cerita untuk KUNCEN:
Spoiler for Mau nonton layar tancap:
Spoiler for Minggu pertama Oktober!! Gas!!:
Spoiler for Udah sepertiga cerita nih!:
Sekian Agan-Agan semua, malam Minggu depan ceritanya akan dilanjutkan.
Diubah oleh saujanastory 14-10-2023 19:36
itkgid dan 19 lainnya memberi reputasi
20
4.5K
Kutip
57
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
saujanastory
#25
Quote:
Bab 15. Mereka Ada Di Mana-Mana
“Assalamualaikum”
Kemal dan Akbar tiba di sebuah rumah sederhana dengan halaman yang luas dari tanah yang dipadatkan. Sekeliling rumah dipagari oleh tanaman beluntas yang membatasi halaman dengan jalanan. Sebuah rumah yang sebelah kirinya tanah sawah yang luas, dibatasi deretan pohon-pohon bambu hingga bagian belakang jika dilihat dari jalan.
Rumah bude Darti, satu-satunya kakak kandung ibu Kemal yang tidak merantau ke Kalimantan. Kebetulan ia memang menikah dengan seorang yang berasal dari keluarga yang ekonominya cukup, juga memiliki berbidang tanah sawah.
“Walaikumsalam”
Suara seorang wanita terdengar dari dalam rumah, yang ternyata itu adalah Bude Darti. Seorang wanita yang cukup berumur dengan rambut panjang digelung. Helaian uban terlihat disela-sela rambut hitamnya yang lurus.
“Piye kabare? Kok yo ra langsung mrene pas teko? Ayo mlebu!– Gimana kabarnya? Kok gak langsung ke mari pas sampai? Ayo masuk!” Bude Darti mengajak mereka masuk ke dalam rumah.
Akbar hanya mengangguk sopan sambil melihat ke sekeliling. Untuk ukuran orang desa, rumah bude Darti memang termasuk luas. Jika diperkirakan ukuran lahan rumah bude sekitar 20 x 30 meter. Belum luas sawah yang letaknya bersebelahan berbatas rumpun-rumpun bambu.
Rumah ini berada di pinggir kanan lahan. Beratap genting dan bertiang bambu di bagian teras. Dindingnya sudah terbuat dari bata yang diaci rapih. Namun seperti rumah kebanyakan orang desa, tidak ada plafon sebagai pembatas ruangan dan atap.
Ruang tamu itu terasa sangat lega, dengan tiga deret kamar di sebelah kanan yang masing-masing jendelanya langsung mengarah ke deretan rumpun bambu yang tingginya lebih dari tiga meter. Sementara di bagian atas, terlihat kayu-kayu besar yang kokoh sebagai penyangga atap.
Foto keluarga dipajang berjejer di dinding, dengan beberapa ornament batik yang diukir di kusen pintu kamar. Entah ornament itu dibuat hanya sebagai hiasan dan penghargaan terhadap budaya, atau justru ada sesuatu yang bersifat batiniah. Namun, kesan pertama ketika memasuki rumah itu rasanya sangat sejuk dan nyaman.
“Wes, lungguh sek. Ben digawekno ngombe disik. – Udah, duduk dulu. Biar dibikinkan minum dulu.”
Bude Darti berlalu masuk ke dapur sambil terdengar suaranya yang sedang mengobrol dengan seseorang dengan suara lirih. Bisa jadi di dapur ada sepupu Kemal, anak bungsu bude Darti yang tetap dipanggil dengan sebutan “Mbak” meskipun lebih mudah dari Kemal karena pangkatnya lebih tua.
Tak berapa lama, bude Darti keluar dan membawa ceret berisi teh panas dan beberapa gelas. Tak ketinggalan setoples rengginang renyah yang sepertinya sudah jadi kudapan wajib. Karena seingat Kemal, budenya ini memang suka menggoreng rengginang.
Mereka akhirnya bercengkerama dan saling bertanya kabar. Meskipun jauh, ibu Kemal sesekali suka bertandang ke Lapengan dan Sebuki. Biasanya karena diajak temannya. Hanya Kemal yang baru kali ini pulang kampung. Bude juga berkenalan dan berbincang dengan Akbar, ia sangat penasaran. Bagaimana ceritanya seorang Kemal yang ada di Sanaksara justru pulang kampung dengan pemuda baru puber dari Sidoarto.
Bude akhirnya bercerita tentang perkembangan Desa Sebuki yang dirasa jauh lebih pesat jika dibandingkan desa-desa lain di area itu. Bahkan di tahun ’92, Desa Sebuki sudah dialiri listrik kolektif bahkan ketika desa lain belum dialiri listrik. Meskipun listrik itu hanya dialirkan sejak pukul 6 sore hingga 11 malam.
Kemal akhirnya ingat, ia sempat diajak nonton wayang dan layar tancap ketika masih kecil bersama para sepupunya. Anak bude Darti ada tiga orang yang kesemuanya adalah perempuan. Itulah sebabnya ketika Kemal dijemput untuk diboyong ke Sanaksara, bude sangat keras menolak. Alasan utamanya adalah ia tak memiliki anak laki-laki.
Akbar dan bude akhirnya asik mengobrol, karena kebetulan orang tuanya juga dulunya bertani sebelum menjadi pengusaha tambak. Kemal berdiri dan menelisik, ia mencoba mengingat dan mencocokkan keadaan rumah dengan ingatan terakhirnya. Ia juga berjalan ke dapur untuk melihat halaman belakang.
Kemal duduk di bale bambu di belakang rumah, ia memandang sekeliling. Keadaan tak jauh berbeda dengan halaman depan. Lantai halaman belakang masih berupa tanah yang dipadatkan, sebelak kanannya terlihat serakan daun bambu kering yang berjatuhan. Sementara toiletnya terlihat lebih terang, lebih bagus dari yang terakhir kali ia lihat. Dan letaknya masih sama, sekitar sepuluh meter dari rumah.
“Ternyata masih sama."
Ia hanya membatin ketika memandang halaman belakang, dan rasa seramnya juga masih sama. Terutama ketika angin kencang menerpa rumpun bambu yang menimbulkan bunyi gesekan-gesekan aneh. Beda yang paling kentara adalah beberapa pohon mangga gadung yang rimbun berbuah. Di sebelah kiri, dekat pohon mangga ada sebuah bangunan baru yang difungsikan sebagai gudang penyimpanan padi, jagung dan berbagai hasil panen.
Tepat di sebalah kiri rumah ditumbuhi beberapa tanaman obat, bunga-bunga dan tetap dibatasi oleh deretan tanaman beluntas. Sehingga ia Kemal bisa melihat penampakan rumah tetangga yang sedikit lebih sederhana. Lahan rumah bude memang sebegitu luasnya, bahkan halaman samping kiri rumah masih ada sekitar sepuluh meter.
“Mbok, kayaknya tadi ngobrol sama orang di dapur. Tapi kok ndak ada orang?” kedatangan Kemal yang tiba-tiba menyela pembicaraan mengagetkan bude yang sedang asik mengobrol masalah tambak dengan Akbar.
“Oh, itu tadi ada Mbak Nur, orangnya masuk kamar,” jawabnya singkat sambil menunjukkan mimik muka yang sedikit gelisah.
“Lah terus Pakde mana?”
“Lha kuwi, nyemprot obat nang sawah. Engko bengi nginep nang kene ae, Pak Bayan ben tak bel,– Lha itu, nyemprot obat (pestisida) di sawah. Nanti malam nginap di sini aja, Pak Bayan biar aku telpon,” ucapnya sambil beranjak dari duduknya menuju kamar untuk mengambil handphone.
Sambil menunggu, akhirnya Akbar dan Kemal keluar rumah untuk melihat persawahan yang luas. Karena memang lokasinya paling ujung, mereka berdua hanya tinggal keluar pagar dan menoleh ke kiri. Ketika menoleh ke kanan, terlihat beberapa anak yang sedang asik berlarian sambil mengejar bola, juga tetangga yang sedang asik menyapu sambil mengobrol.
Mereka berbelok ke kiri dan memandang pematang sawah yang luar biasa luasnya. Di sawah terlihat petani yang sedang sibuk menyemprot pestisida. Satu petak sawah digarap oleh satu orang petani, yang sejujurnya Kemal pun tak tahu yang mana pakdenya. Maklum, karena sudah terlalu lama dan ia juga sudah tak ingat bagaimana wajah pakdenya.
“Koyok’e asik iki Bar nak nginep nang kene. Panganan opo ae ono nang kene. – Kayaknya asik Bar kalo nginap di sini. Makanan apa aja ada di sini.”
Kemal berseru mantap, karena ia yakin keadaan tak akan banyak berubah. Semenjak kecil ia memang selalu dimanja oleh bude dan pakdenya. Seandainya berubah pun, mungkin karena sang bude kini sudah memiliki cucu laki-laki yang diharap bisa melanjutkan usaha mereka.
Senja menyingsing, matahari sore perlahan tenggelam memerah di atas persawahan. Pemandangan menakjubkan nan indah dibarengi dengan bayangan mencekam orang-orangan sawah membuat takjub sekaligus ngeri. Namun tidak sepatutnya dijadikan sesuatu yang menyulut ketakutan. Para petani juga sudah tak lagi menggarap sawah.
Suara mengaji terdengar merdu dari masjid di ujung persimpangan jalan. Anak-anak ramai berlarian berkalung sarung ditemani oleh ibu mereka yang sudah mengenakan mukena. Lampu jalanan remang juga sudah menyala, sedikit jauh lebih baik jika dibandingkan di Dusun Lapengan.
Suasana aneh sempat dirasakan oleh Kemal ketika mandi, mengingat kamar mandi letaknya terpisah cukup jauh dari rumah. Sementara di Sanaksara, kamar mandi di rumahnya terletak di dalam rumah. Ada rasa merinding dan sedikit khawatir, ia merasa sedikit diawasi dari lubang ventilasi kamar mandi yang tak berpenutup. Seperti ada sepasang mata yang memandangnya dari kejauhan. Membuatnya segera menuntaskan urusan kamar mandinya.
Kemal dan Akbar menempati kamar tengah yang merupakan kamar sang kakak sepupu. Namun kamar itu hanya sesekali ditempati jika ada tamu, atau sang sepupu bertandang menginap. Maklum, jarak umur bude dan ibu Kemal terpaut sekitar 12 tahun. Yang berarti, Kemal juga terpaut jauh umurnya dengan sang kakak sepupu.
Kamar itu terlihat sangat sederhana, berukuran tiga kali tiga meter dengan ranjang kapuk. Juga ada lemari pakaian dua pintu yang dalamnya hanya berisi pakaian lama, juga lipatan kain jarik yang bertumpuk rapi. Juga digantung beberapa kebaya dan kemeja batik yang biasa dipake ketika ada acara kenduri.
Kamar bercat putih itu terasa kontras dengan langit-langit yang gelap, terbuka langsung ke genting tanpa adanya plafon. Lampu-lampu dan instalasi kabel diletakkan di sebuah balok kayu besar yang melintang di tengah ruangan.
Suasana yang tak pernah Kemal rasakan ketika ia berada di Kalimantan. Karena rata-rata rumah di Kalimantan beratap seng dan akan panas ketika siang, oleh sebab itu plafon adalah sebuah elemen yang wajib ada di sebuah rumah. Setidaknya untuk mendinginkan suhu ruangan dan meredam panas dari atap.
“Bude, kayaknya rumah ini dari dulu ndak banyak berubah. Kenapa ndak diluasin aja ke sebelah?” sambil makan, Kemal berceletuk.
“Yaa ndakpapa, yang tinggal di sini juga sisa bertiga. Mbakmu sudah nikah, tinggal Nur aja yang belom,” jawabnya sambil menunjuk anak bungsunya.
“Trus itu pohon bambu kenapa masih dibiarin begitu? Kok ya ndak sekalian dipagar tembok aja?” Kemal yang sebenarnya penakut berusaha memancing cerita. Namun tidak digubris dan justru diberikan alasan sekenanya.
Kondisi di meja makan malam ini terasa cukup istimewa, dengan menu ikan dan ayam bakar beserta sayur lodeh dan sambal terasi. Tak ketinggalan lalapan berupa irisan mentimun dan daun kemangi. Menu yang sebenarnya biasa, namun dengan kondisi yang sangat hangat. Kondisi yang jarang Kemal rasakan ketika di rumah karena kesibukan masing-masing.
Kemal makan dengan lahap, Akbar pun begitu. Perkataan Kemal tentang makanan nikmat yang akan di dapat diamini semesta. Semua terasa sangat nikmat, terasa sangat hangat dan mewah. Meskipun menunya masih tergolong sederhana.
“Pakde, kok kamar mandi ndak sekalian disatuin sama rumah aja? Renovasi kok ya nanggung,” cerocos Kemal yang baru saja selesai makan sembari menyulut sebatang rokok.
“Dulu, rencananya memang mau disatuin kamar mandi, wc sama rumah. Biar kalo mau mandi ato ke wc ndak jauh-jauh. Karna kalo malam pas hujan pasti repot, mau pipis aja pake segala kehujanan. Tapi baru mau dibongkar, dah dimimpiin sama yang jagain tempat. Kayaknya memang ndak dibolehin pindah kamar mandi. Tapi yaa begitu, kadang suka ngintipin kalo orang lagi mandi.”
Hal yang tadinya hendak ditutupi bude justru diungkapkan oleh pakde. Padahal bude tidak ingin terkesan menakuti tamu mereka. Ditambah, setelah sekian puluh tahun sang anak lanang pulang ke pelukan mereka meskipun hanya menginap semalam.
Sesungguhnya keluarga bude Darti termasuk keluarga yang hangat, hanya saja terkadang terkesan terlalu berhemat. Televisi yang berada di ruang keluarga pun sangat jarang dinyalakan atas dasar berhemat. Sehari-hari mereka hanya mendengarkan radio lokal yang berisi lagu-lagu campur sari dan gending Jawa ketika malam.
“Ayo, mlaku-mlaku golek welut!– Ayo, jalan-jalan cari belut!” pakde beranjak berdiri dan mengajak mereka keluar rumah.
Bude Darti sempat melotot agar mereka tetap berada di rumah. Namun justru tidak digubris oleh pakde, mengingat momen seperti ini jarang bisa dapatkan. Belum tentu Kemal akan kembali ke rumah mereka lagi nanti ketika sudah kembali ke Sanaksara.
Sudah lepas shalat Isya, kondisi desa sudah lumayan sepi. Hanya beberapa bapak-bapak yang sesekali lewat menuju poskamling. Itu juga karena sedang mendapat giliran jaga, yang ternyata malam ini adalah giliran pakde. Mereka sengaja diajak untuk ikut merasakan sensasi siskamling di desa, karena di kota tentu saja jarang dilakukan.
Pakde, Kemal dan Akbar berbelok ke kanan saat keluar rumah, menuju arah kedatangan mereka pagi tadi. Po situ berada di sebelah kiri, beberapa meter setelah pertigaan. Dan ketika sampai, mereka bertiga disambut dengan empat bapak-bapak berkumis dengan sarung yang tersampir di pundak. Pakde Romli, Pakde Sani dan Pakde Karsono.
Mereka semua adalah petani dan warga asli desa Sebuki. Para pelaku dan saksi hidup perkembangan desa selama puluhan tahun. Merekalah yang secara detail mengerti tentang desa dan seluk-beluknya.
Kemal dan Akbar akhirnya berkenalan dan ikut bercengkerama, bertukar cerita tentang bagaimana keadaan Kalimantan yang sebenarnya. Mengingat banyak orang dari pulau Jawa yang mengira Kalimantan hanya berupa hutan dan tambang.
Satu demi satu pertanyaan dijawab Kemal dengan sabar. Ia sudah biasa menemui pertanyaan-pertanyaan seperti itu, karena jaringan pertemanannya yang lintas provinsi di internet. Mulai hal sederhana, rumit, hingga horor ditanyakan. Dan dijawab Kemal sambil merokok santai.
Pukul 1.15 malam, pembicaraan mereka terusik dengan suara-suara seperti orang yang berlari. Mereka berenam serempak berhenti berbicara dan menoleh ke arah yang sama, persimpangan menuju rumah bude Darti.
Segera mereka beranjak dan berlari pelan sambil memastikan, mencoba memusatkan kemampuan indera pendengaran mereka. Dan ya, itu adalah suara sandal yang bergesekan dengan jalanan aspal. Namun suara itu terlihat tak berwujud.
“Ayo digodak, sopo ngerti iku maling!– Ayo dikejar, siapa tau itu maling!”
Sebuah aba-aba dari pakde Karsono langsung membuat mereka serempak berlari mengejar sumber suara. Ternyata benar, ada seseorang yang sedang berlari menuju arah persawahan. Bayangan orang itu seperti lelaki dengan celana dan baju hitam, yang hanya nampak ketika melewati cahaya lampu jalan yang remang.
Namun jarak lelaki itu lumayan jauh, hampir seratus meter di depan mereka. Lelaki itu terlihat melangkah dengan cepat melewati pematang sawah, berlari lurus tanpa menoleh hingga hilang ditelan kegelapan.
“Assalamualaikum”
Kemal dan Akbar tiba di sebuah rumah sederhana dengan halaman yang luas dari tanah yang dipadatkan. Sekeliling rumah dipagari oleh tanaman beluntas yang membatasi halaman dengan jalanan. Sebuah rumah yang sebelah kirinya tanah sawah yang luas, dibatasi deretan pohon-pohon bambu hingga bagian belakang jika dilihat dari jalan.
Rumah bude Darti, satu-satunya kakak kandung ibu Kemal yang tidak merantau ke Kalimantan. Kebetulan ia memang menikah dengan seorang yang berasal dari keluarga yang ekonominya cukup, juga memiliki berbidang tanah sawah.
“Walaikumsalam”
Suara seorang wanita terdengar dari dalam rumah, yang ternyata itu adalah Bude Darti. Seorang wanita yang cukup berumur dengan rambut panjang digelung. Helaian uban terlihat disela-sela rambut hitamnya yang lurus.
“Piye kabare? Kok yo ra langsung mrene pas teko? Ayo mlebu!– Gimana kabarnya? Kok gak langsung ke mari pas sampai? Ayo masuk!” Bude Darti mengajak mereka masuk ke dalam rumah.
Akbar hanya mengangguk sopan sambil melihat ke sekeliling. Untuk ukuran orang desa, rumah bude Darti memang termasuk luas. Jika diperkirakan ukuran lahan rumah bude sekitar 20 x 30 meter. Belum luas sawah yang letaknya bersebelahan berbatas rumpun-rumpun bambu.
Rumah ini berada di pinggir kanan lahan. Beratap genting dan bertiang bambu di bagian teras. Dindingnya sudah terbuat dari bata yang diaci rapih. Namun seperti rumah kebanyakan orang desa, tidak ada plafon sebagai pembatas ruangan dan atap.
Ruang tamu itu terasa sangat lega, dengan tiga deret kamar di sebelah kanan yang masing-masing jendelanya langsung mengarah ke deretan rumpun bambu yang tingginya lebih dari tiga meter. Sementara di bagian atas, terlihat kayu-kayu besar yang kokoh sebagai penyangga atap.
Foto keluarga dipajang berjejer di dinding, dengan beberapa ornament batik yang diukir di kusen pintu kamar. Entah ornament itu dibuat hanya sebagai hiasan dan penghargaan terhadap budaya, atau justru ada sesuatu yang bersifat batiniah. Namun, kesan pertama ketika memasuki rumah itu rasanya sangat sejuk dan nyaman.
“Wes, lungguh sek. Ben digawekno ngombe disik. – Udah, duduk dulu. Biar dibikinkan minum dulu.”
Bude Darti berlalu masuk ke dapur sambil terdengar suaranya yang sedang mengobrol dengan seseorang dengan suara lirih. Bisa jadi di dapur ada sepupu Kemal, anak bungsu bude Darti yang tetap dipanggil dengan sebutan “Mbak” meskipun lebih mudah dari Kemal karena pangkatnya lebih tua.
Tak berapa lama, bude Darti keluar dan membawa ceret berisi teh panas dan beberapa gelas. Tak ketinggalan setoples rengginang renyah yang sepertinya sudah jadi kudapan wajib. Karena seingat Kemal, budenya ini memang suka menggoreng rengginang.
Mereka akhirnya bercengkerama dan saling bertanya kabar. Meskipun jauh, ibu Kemal sesekali suka bertandang ke Lapengan dan Sebuki. Biasanya karena diajak temannya. Hanya Kemal yang baru kali ini pulang kampung. Bude juga berkenalan dan berbincang dengan Akbar, ia sangat penasaran. Bagaimana ceritanya seorang Kemal yang ada di Sanaksara justru pulang kampung dengan pemuda baru puber dari Sidoarto.
Bude akhirnya bercerita tentang perkembangan Desa Sebuki yang dirasa jauh lebih pesat jika dibandingkan desa-desa lain di area itu. Bahkan di tahun ’92, Desa Sebuki sudah dialiri listrik kolektif bahkan ketika desa lain belum dialiri listrik. Meskipun listrik itu hanya dialirkan sejak pukul 6 sore hingga 11 malam.
Kemal akhirnya ingat, ia sempat diajak nonton wayang dan layar tancap ketika masih kecil bersama para sepupunya. Anak bude Darti ada tiga orang yang kesemuanya adalah perempuan. Itulah sebabnya ketika Kemal dijemput untuk diboyong ke Sanaksara, bude sangat keras menolak. Alasan utamanya adalah ia tak memiliki anak laki-laki.
Akbar dan bude akhirnya asik mengobrol, karena kebetulan orang tuanya juga dulunya bertani sebelum menjadi pengusaha tambak. Kemal berdiri dan menelisik, ia mencoba mengingat dan mencocokkan keadaan rumah dengan ingatan terakhirnya. Ia juga berjalan ke dapur untuk melihat halaman belakang.
…
Kemal duduk di bale bambu di belakang rumah, ia memandang sekeliling. Keadaan tak jauh berbeda dengan halaman depan. Lantai halaman belakang masih berupa tanah yang dipadatkan, sebelak kanannya terlihat serakan daun bambu kering yang berjatuhan. Sementara toiletnya terlihat lebih terang, lebih bagus dari yang terakhir kali ia lihat. Dan letaknya masih sama, sekitar sepuluh meter dari rumah.
“Ternyata masih sama."
Ia hanya membatin ketika memandang halaman belakang, dan rasa seramnya juga masih sama. Terutama ketika angin kencang menerpa rumpun bambu yang menimbulkan bunyi gesekan-gesekan aneh. Beda yang paling kentara adalah beberapa pohon mangga gadung yang rimbun berbuah. Di sebelah kiri, dekat pohon mangga ada sebuah bangunan baru yang difungsikan sebagai gudang penyimpanan padi, jagung dan berbagai hasil panen.
Tepat di sebalah kiri rumah ditumbuhi beberapa tanaman obat, bunga-bunga dan tetap dibatasi oleh deretan tanaman beluntas. Sehingga ia Kemal bisa melihat penampakan rumah tetangga yang sedikit lebih sederhana. Lahan rumah bude memang sebegitu luasnya, bahkan halaman samping kiri rumah masih ada sekitar sepuluh meter.
“Mbok, kayaknya tadi ngobrol sama orang di dapur. Tapi kok ndak ada orang?” kedatangan Kemal yang tiba-tiba menyela pembicaraan mengagetkan bude yang sedang asik mengobrol masalah tambak dengan Akbar.
“Oh, itu tadi ada Mbak Nur, orangnya masuk kamar,” jawabnya singkat sambil menunjukkan mimik muka yang sedikit gelisah.
“Lah terus Pakde mana?”
“Lha kuwi, nyemprot obat nang sawah. Engko bengi nginep nang kene ae, Pak Bayan ben tak bel,– Lha itu, nyemprot obat (pestisida) di sawah. Nanti malam nginap di sini aja, Pak Bayan biar aku telpon,” ucapnya sambil beranjak dari duduknya menuju kamar untuk mengambil handphone.
Sambil menunggu, akhirnya Akbar dan Kemal keluar rumah untuk melihat persawahan yang luas. Karena memang lokasinya paling ujung, mereka berdua hanya tinggal keluar pagar dan menoleh ke kiri. Ketika menoleh ke kanan, terlihat beberapa anak yang sedang asik berlarian sambil mengejar bola, juga tetangga yang sedang asik menyapu sambil mengobrol.
Mereka berbelok ke kiri dan memandang pematang sawah yang luar biasa luasnya. Di sawah terlihat petani yang sedang sibuk menyemprot pestisida. Satu petak sawah digarap oleh satu orang petani, yang sejujurnya Kemal pun tak tahu yang mana pakdenya. Maklum, karena sudah terlalu lama dan ia juga sudah tak ingat bagaimana wajah pakdenya.
“Koyok’e asik iki Bar nak nginep nang kene. Panganan opo ae ono nang kene. – Kayaknya asik Bar kalo nginap di sini. Makanan apa aja ada di sini.”
Kemal berseru mantap, karena ia yakin keadaan tak akan banyak berubah. Semenjak kecil ia memang selalu dimanja oleh bude dan pakdenya. Seandainya berubah pun, mungkin karena sang bude kini sudah memiliki cucu laki-laki yang diharap bisa melanjutkan usaha mereka.
***
Senja menyingsing, matahari sore perlahan tenggelam memerah di atas persawahan. Pemandangan menakjubkan nan indah dibarengi dengan bayangan mencekam orang-orangan sawah membuat takjub sekaligus ngeri. Namun tidak sepatutnya dijadikan sesuatu yang menyulut ketakutan. Para petani juga sudah tak lagi menggarap sawah.
Suara mengaji terdengar merdu dari masjid di ujung persimpangan jalan. Anak-anak ramai berlarian berkalung sarung ditemani oleh ibu mereka yang sudah mengenakan mukena. Lampu jalanan remang juga sudah menyala, sedikit jauh lebih baik jika dibandingkan di Dusun Lapengan.
Suasana aneh sempat dirasakan oleh Kemal ketika mandi, mengingat kamar mandi letaknya terpisah cukup jauh dari rumah. Sementara di Sanaksara, kamar mandi di rumahnya terletak di dalam rumah. Ada rasa merinding dan sedikit khawatir, ia merasa sedikit diawasi dari lubang ventilasi kamar mandi yang tak berpenutup. Seperti ada sepasang mata yang memandangnya dari kejauhan. Membuatnya segera menuntaskan urusan kamar mandinya.
Kemal dan Akbar menempati kamar tengah yang merupakan kamar sang kakak sepupu. Namun kamar itu hanya sesekali ditempati jika ada tamu, atau sang sepupu bertandang menginap. Maklum, jarak umur bude dan ibu Kemal terpaut sekitar 12 tahun. Yang berarti, Kemal juga terpaut jauh umurnya dengan sang kakak sepupu.
Kamar itu terlihat sangat sederhana, berukuran tiga kali tiga meter dengan ranjang kapuk. Juga ada lemari pakaian dua pintu yang dalamnya hanya berisi pakaian lama, juga lipatan kain jarik yang bertumpuk rapi. Juga digantung beberapa kebaya dan kemeja batik yang biasa dipake ketika ada acara kenduri.
Kamar bercat putih itu terasa kontras dengan langit-langit yang gelap, terbuka langsung ke genting tanpa adanya plafon. Lampu-lampu dan instalasi kabel diletakkan di sebuah balok kayu besar yang melintang di tengah ruangan.
Suasana yang tak pernah Kemal rasakan ketika ia berada di Kalimantan. Karena rata-rata rumah di Kalimantan beratap seng dan akan panas ketika siang, oleh sebab itu plafon adalah sebuah elemen yang wajib ada di sebuah rumah. Setidaknya untuk mendinginkan suhu ruangan dan meredam panas dari atap.
…
“Bude, kayaknya rumah ini dari dulu ndak banyak berubah. Kenapa ndak diluasin aja ke sebelah?” sambil makan, Kemal berceletuk.
“Yaa ndakpapa, yang tinggal di sini juga sisa bertiga. Mbakmu sudah nikah, tinggal Nur aja yang belom,” jawabnya sambil menunjuk anak bungsunya.
“Trus itu pohon bambu kenapa masih dibiarin begitu? Kok ya ndak sekalian dipagar tembok aja?” Kemal yang sebenarnya penakut berusaha memancing cerita. Namun tidak digubris dan justru diberikan alasan sekenanya.
Kondisi di meja makan malam ini terasa cukup istimewa, dengan menu ikan dan ayam bakar beserta sayur lodeh dan sambal terasi. Tak ketinggalan lalapan berupa irisan mentimun dan daun kemangi. Menu yang sebenarnya biasa, namun dengan kondisi yang sangat hangat. Kondisi yang jarang Kemal rasakan ketika di rumah karena kesibukan masing-masing.
Kemal makan dengan lahap, Akbar pun begitu. Perkataan Kemal tentang makanan nikmat yang akan di dapat diamini semesta. Semua terasa sangat nikmat, terasa sangat hangat dan mewah. Meskipun menunya masih tergolong sederhana.
…
“Pakde, kok kamar mandi ndak sekalian disatuin sama rumah aja? Renovasi kok ya nanggung,” cerocos Kemal yang baru saja selesai makan sembari menyulut sebatang rokok.
“Dulu, rencananya memang mau disatuin kamar mandi, wc sama rumah. Biar kalo mau mandi ato ke wc ndak jauh-jauh. Karna kalo malam pas hujan pasti repot, mau pipis aja pake segala kehujanan. Tapi baru mau dibongkar, dah dimimpiin sama yang jagain tempat. Kayaknya memang ndak dibolehin pindah kamar mandi. Tapi yaa begitu, kadang suka ngintipin kalo orang lagi mandi.”
Hal yang tadinya hendak ditutupi bude justru diungkapkan oleh pakde. Padahal bude tidak ingin terkesan menakuti tamu mereka. Ditambah, setelah sekian puluh tahun sang anak lanang pulang ke pelukan mereka meskipun hanya menginap semalam.
Sesungguhnya keluarga bude Darti termasuk keluarga yang hangat, hanya saja terkadang terkesan terlalu berhemat. Televisi yang berada di ruang keluarga pun sangat jarang dinyalakan atas dasar berhemat. Sehari-hari mereka hanya mendengarkan radio lokal yang berisi lagu-lagu campur sari dan gending Jawa ketika malam.
“Ayo, mlaku-mlaku golek welut!– Ayo, jalan-jalan cari belut!” pakde beranjak berdiri dan mengajak mereka keluar rumah.
Bude Darti sempat melotot agar mereka tetap berada di rumah. Namun justru tidak digubris oleh pakde, mengingat momen seperti ini jarang bisa dapatkan. Belum tentu Kemal akan kembali ke rumah mereka lagi nanti ketika sudah kembali ke Sanaksara.
Sudah lepas shalat Isya, kondisi desa sudah lumayan sepi. Hanya beberapa bapak-bapak yang sesekali lewat menuju poskamling. Itu juga karena sedang mendapat giliran jaga, yang ternyata malam ini adalah giliran pakde. Mereka sengaja diajak untuk ikut merasakan sensasi siskamling di desa, karena di kota tentu saja jarang dilakukan.
Pakde, Kemal dan Akbar berbelok ke kanan saat keluar rumah, menuju arah kedatangan mereka pagi tadi. Po situ berada di sebelah kiri, beberapa meter setelah pertigaan. Dan ketika sampai, mereka bertiga disambut dengan empat bapak-bapak berkumis dengan sarung yang tersampir di pundak. Pakde Romli, Pakde Sani dan Pakde Karsono.
Mereka semua adalah petani dan warga asli desa Sebuki. Para pelaku dan saksi hidup perkembangan desa selama puluhan tahun. Merekalah yang secara detail mengerti tentang desa dan seluk-beluknya.
Kemal dan Akbar akhirnya berkenalan dan ikut bercengkerama, bertukar cerita tentang bagaimana keadaan Kalimantan yang sebenarnya. Mengingat banyak orang dari pulau Jawa yang mengira Kalimantan hanya berupa hutan dan tambang.
Satu demi satu pertanyaan dijawab Kemal dengan sabar. Ia sudah biasa menemui pertanyaan-pertanyaan seperti itu, karena jaringan pertemanannya yang lintas provinsi di internet. Mulai hal sederhana, rumit, hingga horor ditanyakan. Dan dijawab Kemal sambil merokok santai.
…
Pukul 1.15 malam, pembicaraan mereka terusik dengan suara-suara seperti orang yang berlari. Mereka berenam serempak berhenti berbicara dan menoleh ke arah yang sama, persimpangan menuju rumah bude Darti.
Segera mereka beranjak dan berlari pelan sambil memastikan, mencoba memusatkan kemampuan indera pendengaran mereka. Dan ya, itu adalah suara sandal yang bergesekan dengan jalanan aspal. Namun suara itu terlihat tak berwujud.
“Ayo digodak, sopo ngerti iku maling!– Ayo dikejar, siapa tau itu maling!”
Sebuah aba-aba dari pakde Karsono langsung membuat mereka serempak berlari mengejar sumber suara. Ternyata benar, ada seseorang yang sedang berlari menuju arah persawahan. Bayangan orang itu seperti lelaki dengan celana dan baju hitam, yang hanya nampak ketika melewati cahaya lampu jalan yang remang.
Namun jarak lelaki itu lumayan jauh, hampir seratus meter di depan mereka. Lelaki itu terlihat melangkah dengan cepat melewati pematang sawah, berlari lurus tanpa menoleh hingga hilang ditelan kegelapan.
namakuve dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas