- Beranda
- Stories from the Heart
Kehidupan Kami
...
TS
aranea
Kehidupan Kami

"Kalau ga ada dia, mungkin saja aku ga bisa melewati semuanya" Desember 2016
Setiap kita pasti pernah dihadapkan pada sebuah pengambilan keputusan yang sulit. Lantas bagaimana kita menyikapinya? Bahkan ketika kita sendiri tak tahu apakah keputusan kita adalah yang terbaik? Bagaimana jika tak sesuai harapan? "Ada hikmah dari setiap perjalanan hidup"
INDEX Cerita
1. Masa Kecil
2. Pertemuan Pertama
3. Sebuah Peristiwa
4. Air Mata
5. Rumah
6. Pesan
7. Mencari Jawaban
8. Bertemu
9. Keputusan
10. Lantunan Doa
11. Kabar
12. Memori - Bag 1
13. Memori - Bag 2
14. Pertemuan Kedua
15. Sahabat
16. Satu Jalan
17. Rahasia Kecil Syifa
18. Cincin
19. Melodi Pernikahan
20. Dua Insan
21. Abdi
22. LDM
22. LDM 2
23. Perubahan Hidup
24. Kesalahan
25. Kebersamaan
26. Kasih Sayang
27. Teman Baru
28. Syifa Bakery
29. Kebahagiaan Keluarga
30. Duka
31. Pancake Strawberry
32. Kembali ke Jakarta
33. Hari Syifa
34. Pulang ke Bandung
35. Keluarga Ceria
36. Sebuah Musibah
37. Kecemasan
38. Anugerah dari Teman
39. Suami takut Istri
40. Satu Berita
41. Kejutan Kecil untuk Jafar
42. Cindy
43. Flashback 1 - Si Pria Kalem
44. Flashback 2 - Hancur
45. Flashback 3 - Sang Pelindung
46. Flashback 4 - Chandra
47. Flashback 5 - Dendam
48. Pergi Berlibur
49. Que Sera, Sera
50. Kekuatan Cinta
51. D-Day
52. Gugur
53. Tahap Pemulihan
54. Sebuah Rasa
55. Melepas Rindu
56. Rindu tak Terbendung
57. Jalan Kehidupan
58. Kenyataan
59. Dua Pria
60. Bertemu Cindy lagi?
61. Aisyah Nur Aulia
62. Ungkapan Hati
63. Cahaya Memudar
64. Perjuangan
65. Puncak Kebahagiaan Syifa
66. Sebuah Masa
67. Kehidupan Kami (Ending)
68. Langit Biru di Balik Badai
Diubah oleh aranea 08-09-2023 19:36
percyjackson321 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
9.4K
186
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aranea
#103
Kehidupan Kami

"Sayang, coba tebak" kata Jafar
"Ada apa aa? Keliatannya seneng banget" kata Syifa
"Saya diundang untuk ngisi ceramah di pesantren Manba'ul Huda
"Serius aa? Pesantren tempatku belajar?" kata Syifa
"Iya, tapi saya gugup. Karena ini pertama kalinya" kata Jafar
"Tenang a, bismillah dulu. Seingatku disana anak muda semua kan, mungkin mereka mengundang aa, karena aa udah jadi inspirasi mereka" kata Syifa
"Tetap saja, tanggung jawabnya besar" kata Jafar
"Neng yakin aa bisa. Sampaikan dari hati a" kata Syifa
"Doakan ya" kata Jafar
"Tanpa diminta aa" kata Syifa sambil memeluk Jafar
Keesokan paginya, Jafar tengah siap menghadiri acara tersebut bersama Syifa dan Aisyah. Undangan untuk mengisi ceramah di pesantren yang terkenal adalah suatu kehormatan bagi Jafar. Dia merasa bahwa ini adalah kesempatan untuk berbagi pengalaman dan pandangan hidupnya kepada para santri di pesantren tersebut. Meskipun dia sibuk dengan bisnisnya, dia merasa bahwa memberikan inspirasi kepada generasi muda adalah tugas penting.
Mengenakan pakaian yang rapi, Jafar tiba di pesantren dengan perasaan campur aduk. Dia diterima dengan hangat oleh para pengurus pesantren dan dia diajak ke ruangan yang telah disiapkan untuk ceramahnya.
"Terima kasih telah datang. Kami sangat menghormati kehadiran mas Jafar" kata ustadz Bayu
"Sama-sama, saya sangat senang mendapat kesempatan ini" kata Jafar
Ketika saat ceramah tiba, Jafar berdiri di depan para santri yang duduk dengan tertib. Dia merasa tanggung jawab besar karena mereka datang untuk mendengar pengalamannya. Sesaat ketika Jafar berdiri didepan panggung, ia kembali mendengar suara yang mengajaknya untuk pulang. Ia juga mendengar suara Syifa saat sebelum berangkat yang mengatakan "Sampaikan dari hati".
Ceramahpun dimulai dengan membahas tentang kisah hidupnya. Mulai dari saat kehilangan orang tua, saat ia mendapati rasa dendam karena kepergian orang tuanya, kepergian Satrio, dan amarah pada Chandra. Hingga ia bercerita tentang sebuah mimpi yang selama ini dia alami, namun ia sedikit ubah ceritanya agar Syifa merasa tidak curiga.
"Kullu nafsin zaikatul maut" ucap Jafar
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati" ucap Jafar didepan, dan ucap Syifa yang sedang mendengarkan
Saat Jafar mengatakan hal itu, Syifa merasa ada sesuatu yang berbeda dari Jafar. Jantung Syifa berdegup kencang sambil terus menatap mata suaminya itu dari barisan belakang.
"Namun, apa yang akan mengiringi kita di akhirat adalah amal dan keimanan kita. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk menghadapi kematian dengan hati yang tenang, serta memberi kita taufik untuk menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya.
Perenungan atas kematian dapat membantu kita menjalani kehidupan ini dengan lebih bermakna. Kita menjadi lebih berhati-hati dalam segala tindakan kita, mengingat bahwa setiap langkah kita akan dihitung di hadapan Allah. Kita harus merenungkan apakah kita telah menjalani hidup ini dengan penuh cinta kasih, toleransi, dan kebaikan kepada sesama manusia.
Janganlah kita terbuai oleh kesenangan dunia semata. Semua harta dan kenikmatan dunia ini hanyalah sementara. Yang kekal adalah apa yang kita persiapkan untuk akhirat. Oleh karena itu, mari tingkatkan ibadah, sedekah, dan amal kebaikan kita."
Sebuah hal yang tak disangka, Syifa melihat ada sebuah cahaya yang memancar di wajah Jafar. Itu merupakan senyuman terbaik yang pernah Jafar berikan. Hingga pada akhir ceramah, Jafar mengajak semua jamaah untuk beristigfar bersama-sama. Tak sedikit dari mereka yang menitikan air mata.
"Akhir kata, mari kita panjatkan doa kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosa kita, memberi kita kekuatan dalam menghadapi cobaan hidup, dan mengaruniakan kita husnul khatimah, yaitu akhir yang baik. Amin ya Rabbal 'alamin. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucap Jafar diakhir ceramah
Singkat cerita, setelah acara selesai, Syifa menghampiri Jafar yang tengah duduk di sebuah bangku taman seorang diri sambil menatap ke arah tanaman bunga hias yang berada di hadapannya. Ia menatap kosong kedepan, kearah langit, begitu secara bergantian selama beberapa saat. Ingatannya berputar bagaimana semua kejadian yang telah berlalu terjadi begitu saja. Ia mengangkat tangannya, menatap kedua telapak tangannya, kemudian mengepalkan tangannya seraya mengucapkan
"Terima kasih"
Ia memejamkan mata sejenak, hening, semilir angin membuat tubuhnya merasa begitu ringan. Hingga Syifa datang menghampirinya.
"Aa, kok disini? Neng cariin, ummi bilang aa ke belakang" tanya Syifa
"Gapapa kok, sejuk banget disini" kata Jafar tersenyum
"Dulu ga sebagus sekarang a" kata Syifa
"Sini sayang, duduk" ucap Jafar mengajak Syifa duduk sambil membiarkan Jafar menggendong Aisyah
"Indah ya a" kata Syifa
"Sangat. Ga aneh kalau kamu bisa sebetah itu belajar disini, hingga menjadi hafidzah" kata Jafar
"Alhamdulillah a" kata Syifa
"Saya bangga padamu. Saya yakin, kamu bisa menjadi ibu yang baik untuk Aisyah" kata Jafar
"Dan neng yakin, aa bisa menjadi ayah yang baik untuk Aisyah" kata Syifa
Jafar tersenyum manis pada Syifa. Syifa menyandarkan kepalanya di pundak Jafar. Jafar lagi-lagi melihat sosok laki-laki tengah berjalan diantara bunga yang ada di hadapannya. Laki-laki yang sama seperti yang ia lihat di kafe. Laki-laki itu nampak tersenyum dan mengangguk. Jafar membalas senyumannya dengan senyuman ikhlas dari hatinya.
Beberapa hari terakhir Jafar meninggalkan kafenya untuk fokus bersama Syifa dan Aisyah. Hingga saat ini menjadi salah satu hari yang paling membahagiakan untuknya. Di malam hari, Jafar mengaji untuk Syifa dan Aisyah. Syifapun tak ingin melewatkan kesempatan ini, dan ia bergabung untuk mengaji bersama Jafar sambil menggendong Aisyah.
Keesokan paginya, Jafar memutuskan untuk berpuasa. Syifa nampak sedikit bingung karena tidak biasanya Jafar berpuasa. Tapi dengan cepat ia membuang pikiran negatifnya. Pagi itu merupakan pagi yang cerah, tidak terlalu panas, suhu udara masih terasa cukup dingin. Jafar yang sedang menggendong Aisyah kemudian mendekati Syifa yang sedang sarapan dari yang semula duduk dihadapannya, kini duduk disamping Syifa.
"Saya sangat mencintai kamu Naya, dan Aisyah" kata Jafar
"Neng juga cinta sama aa, iya kan Ai" kata Syifa
Aisyah tertawa manis
"Tuh, Aisyah pun begitu aa" kata Syifa
"Abi pergi dulu ya, Aisyah jangan nakal, kasian ummi Naya" kata Jafar
"Sudah lama aku ga denger panggilan itu aa" kata Syifa
"Ga pernah menyangka kita bertemu dan bersatu" kata Jafar
"Aa yakin mau ke kafe?" tanya Syifa sedikit ragu
"Iya sayang. Kenapa?" tanya Jafar
"Gapapa aa. Aa hati-hati ya, pake mobil kan?" tanya Syifa
"Pake motor, sayang. Saya ditunggu klien dan pagi ini pasti macet" kata Jafar
"Hati-hati ya aa. Neng menanti aa pulang" kata Syifa
"Iya sayang. Saya pergi ya, jaga Aisyah, doakan aa dapat rejeki buat kalian ya" kata Jafar
"Aamiin" ucap Syifa kemudian memeluk Jafar dengan erat
Jafarpun mengendarai motornya. Sebelum ia berangkat, ia menatap Syifa dengan senyuman ikhlas seperti sebelumnya. Air mata Jafar menetes dari balik kaca helmnya. Dengan mengucap basmalah, Jafarpun berangkat.
Jafar merasakan angin sejuk yang mengelus wajahnya saat dia mengemudikan motornya. Dalam perjalanannya, dia merenung tentang semua orang yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Wajah orang tuanya yang lembut tersirat dalam ingatannya, memberikan rasa kedamaian dan dukungan. Dia juga teringat akan senyuman adik-adiknya, Nilam dan Sarah, yang telah menjadi sumber inspirasinya.
Sambil mengemudikan motornya, Jafar merasa begitu bahagia dan tenang. Dia merasa bahwa hidupnya telah memberinya banyak hal untuk bersyukur dan dihargai.
Namun, tiba-tiba, saat Jafar terus berjalan di jalanan yang sepi, dia melihat sosok-sosok yang sangat dikenalnya berdiri di tengah jalan. Wajah kedua orang tuanya, yang telah tiada, dan semua kenangan indah bersama mereka tergambar di depan matanya.
"Ayah, Ibu... Jafar merindukan kalian" ucap Jafar
Namun, sebelum dia bisa mengungkapkan lebih banyak perasaannya, semuanya menjadi gelap. Dia merasakan benturan keras dan tiba-tiba kehilangan kendali atas motor. Peristiwa itu terjadi dengan cepat, mengakhiri perjalanan Jafar dalam sekejap
Dirumah, Syifa tengah bermain bersama Aisyah sambil dilantunkan ayat suci Al-Qur'an. Hari sudah siang, suasana sangat hening dirumah. Syifa tersenyum ketika mengingat semua kenangan manis bersama Jafar. Namun, momen kedamaian itu tiba-tiba terputus ketika seseorang mengetuk pintu rumahnya. Saat pintu terbuka, dia melihat wajah familiar yang datang, Amel, salah seorang teman dekatnya
Dengan berat hati, Amel akhirnya memberanikan diri untuk memberitahu Syifa tentang apa yang telah terjadi. Dia memberi tahu bahwa Jafar mengalami kecelakaan. Dia berusaha untuk menjelaskan dengan bijaksana, tetapi berita ini mengguncangkan Syifa dengan keras
"Kamu kenapa Mel? Santi? Kamu disini?" kata Syifa
"Fa . . . kamu yang sabar ya" kata Amel
"Mel . . Mel . . Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Syifa menjadi cemas
Amel melepaskan pelukannya dan menatap mata Syifa dengan penuh empati, tetapi juga dengan rasa berat hati.
"Fa, aku tahu ini akan sangat berat buat kamu. Tapi, aku harus memberitahumu kalau kak Jafar... kak Jafar udah ga ada" ucap Amel
"Apa sih Mel, kamu bilang apa sih? Jangan bercanda" kata Syifa tak percaya
"Aku ga bercanda Fa . . . Kamu kuat ya" ucap Amel memeluk Syifa kembali
Syifa masih nampak tidak menangkap ucapan Amel, hingga ia melihat wajah Santi yang berdiri di belakangnya.
"Ga mungkin Mel . . . " ucap Syifa melepas pelukan Amel dengan mendorongnya
"Fa . . . kamu yang sabar Fa . . . " ucap Amel memegang pundak Syifa
"Ga . . .ga . . ga mungkin. Dia baik-baik aja. Tadi pagi dia berangkat kerja" kata Syifa
"Fa . . yang sabar . . . " ucap Amel berulang
"Ga mungkin . . Mel . . . a . . . aa . . ga mungkin kan" kata Syifa
"Kita ke rumah sakit sekarang ya . . . " kata Amel
Amel memeluk Syifa kembali, mencoba memberikan dukungan sebanyak mungkin. Keduanya menangis bersama, merasakan kehilangan yang mendalam. Kematian Jafar, terutama setelah saat-saat penuh kebahagiaan bersama di kebun teh dan momen indah lainnya, adalah pukulan yang begitu berat bagi Syifa. Kini, dia harus menghadapi kenyataan bahwa orang yang paling dicintainya telah pergi meninggalkannya
Syifa, Amel, dan Santi pergi ke rumah sakit dengan hati yang berat. Mereka tiba di sana dengan perasaan cemas dan tidak percaya atas apa yang telah terjadi. Saat memasuki ruang tunggu rumah sakit, suasana hening dan tegang terasa begitu kental. Amel memberikan dukungan kepada Syifa sambil memeluknya erat. Dia tahu betapa beratnya ini bagi Syifa, dan dia berusaha sekuat tenaga untuk memberikan dukungan sebanyak yang dia bisa.
"Aku di sini untukmu, Syifa. Semua bakal baik-baik aja" kata Amel
Santi berbicara dengan petugas rumah sakit untuk mendapatkan informasi terbaru tentang keadaan Jafar. Dia ingin memastikan bahwa semuanya baik-baik saja dan memberitahu Syifa. Amel juga berbicara dengan Syifa tentang yang harus dilakukan. Dia meminta Syifa untuk memberi tahu orang lain, terutama kedua adiknya Nilam dan Sarah, tentang apa yang terjadi pada Jafar. Dia juga meminta bantuan kepada Syifa untuk menghubungi karyawan cabang kafe di Jakarta untuk menjemput kedua adiknya secepat mungkin
"Aku tahu ini sangat sulit, Syifa. Tapi kalian adalah keluarga, dan mereka harus tahu" ucap Amel, dan Syifapun mengangguk
Saat mereka akhirnya diberi izin untuk masuk ke ruangan Jafar, Syifa merasakan campuran emosi yang tak terkendali. Dia melihat Jafar terbaring di tempat tidur rumah sakit, dan tangisannya tidak bisa lagi dia bendung
"Aa . . . Sayang . . ini neng a . . . aa . . . bangun a" ucap Syifa dalam tangisnya
Dia mendekati tempat tidur Jafar dan memegang tangannya dengan lembut. Dia mencoba untuk menyampaikan perasaan cintanya, kesedihannya, dan rasa kehilangannya melalui sentuhan tulus itu. Kepergian Jafar adalah pukulan besar bagi mereka semua, terutama bagi Syifa dan Aisyah. Dalam momen-momen seperti ini, dukungan dari orang-orang terdekat sangat penting untuk membantu mereka mengatasi perasaan kesedihan yang mendalam.
Ketika memeluk Jafar, teringat kembali semua hal manis yang terjadi belakang ini. Mulai dari Jafar yang terlihat lebih dekat dengan Aisyah, Jafar yang terlihat lebih sering mengaji dari biasanya, terutama saat ia mengaji bersama Jafar. Teringat kembali saat Jafar mengisi ceramah tentang kehidupan hingga kata-kata yang terlontar mengenai surat Ali Imran ayat 185, surat Al Anbiya ayat 35, dan surat Al Ankabut ayat 57 "Setiap yang bernyawa pasti akan mati". Ternyata itu merupakan tanda-tanda kepergian yang ia tak sadari dari awal. Histeris tangis Syifa membuat seisi ruangan menjadi dipenuhi dengan rasa kesedihan. Aisyah menangis, menangis, dan menangis. Suster mencoba menenangkan Syifa namun Syifa tetap menggoyangkan tubuh Jafar, berharap Jafar membuka matanya.
Amel memberikan Aisyah pada Santi kemudian mencoba menenangkan Syifa. Tangisnya semakin menjadi-jadi ketika Amel mengusap punggung Syifa. Karena hal itulah yang selalu Jafar lakukan saat Syifa merasa sedih.
"Mel . . . . . aa . . . Mel . . . " ucap Syifa dalam tangisnya
"Iya iya, kamu tenang, kalau kamu seperti ini, dia ga tenang nanti. Kita semua jadi makin sedih" kata Amel
Nilam dan Sarahpun sangat terpukul karena keluarga yang mereka miliki hanyalah Jafar seorang. Kini akan menjadi tugas bagi Syifa untuk merawat, mendidik, menjaga, dan membesarkan Nilam dan Sarah. Tentunya Aisyah juga akan selalu menemani mereka semua.
Di tengah kenangan indah dan tantangan yang mereka hadapi, Syifa terus mengingat mimpi-mimpi dan impian yang pernah dibagikan dengan Jafar. Kehadirannya masih terasa begitu dekat, dan saat Syifa memandang langit, dia merasa seperti dia bisa merasakan sentuhan hangat Jafar yang melindunginya. Suatu malam, Syifa tertidur dengan pikiran yang damai. Dalam mimpinya, dia menemukan dirinya berada di tempat yang penuh cahaya dan tenang. Dia melihat Jafar di kejauhan, tersenyum kepadanya dengan penuh cinta
"Apa kau tahu? Saya selalu ada di sini, meskipun tak terlihat oleh mata" ucap Jafar
"Aa . . ." ucap Syifa tersenyum sendu
Jafar mengulurkan tangannya, dan Syifa merasakan sentuhan lembutnya di kulitnya. Dia merasa begitu tenang dan nyaman, seolah-olah semua beban dan kesedihan telah hilang. Syifa memeluk Jafar dengan perasaan yang tak menentu.
"Ingatlah bahwa aku selalu ada dalam hatimu. Impian kita, cinta kita, semuanya masih hidup" ucap Jafar
"Aa, neng rindu aa" ucap Syifa penuh harap
"Kita tidak pernah benar-benar berpisah. Cinta kita akan selalu menghubungkan kita" ucap Jafar
"Aa kenapa ninggalin neng sama Aisyah secepat ini?" ucap Syifa mulai menangis
"Seperti yang barusan saya katakan, cinta akan selalu menghubungkan kita" ucap Jafar
Syifa merasa seperti dia terbangun dari mimpi dengan hati yang tenang dan penuh harap. Meskipun Jafar telah pergi, cintanya tetap ada di dalam dirinya dan melingkupi setiap aspek kehidupannya. Dia tahu bahwa meskipun fisik mereka terpisah, ikatan cinta yang mereka miliki akan selalu terjaga. Setiap kali Syifa memanggil Jafar dengan sebutan "aa," dia merasakan kehadirannya di sampingnya. Dia berbagi cerita, canda tawa, dan tangis dengan Jafar, bahkan jika dia tidak bisa melihatnya lagi. Dalam hati dan ingatannya, Jafar tetap hidup.
Kehidupan Syifa terus berjalan, diwarnai oleh kenangan-kenangan indah bersama Jafar. Dia mengajarkan Aisyah tentang cinta yang tak terbatas dan kekuatan yang bisa datang dari keluarga dan teman-teman. Setiap kali matahari terbit dan terbenam, Syifa tahu bahwa Jafar ada di sana bersamanya, mengawasinya dari tempat yang lebih baik, dan itu memberinya kekuatan untuk menjalani setiap hari dengan penuh semangat.
"Terima kasih, untuk semua kebahagiaan itu a, neng janji akan melanjutkan kebahagiaan itu untuk Aisyah" ucap Syifa saat selesai mengaji dengan Aisyah yang tertidur di pangkuannya
Akhir cerita ini adalah pengingat tentang bagaimana cinta abadi dapat mengatasi segala halangan, bahkan kematian. Meskipun fisiknya telah pergi, Jafar tetap hadir dalam setiap sudut kehidupan Syifa, sebagai sumber inspirasi, kebahagiaan, dan kekuatan
"Ada apa aa? Keliatannya seneng banget" kata Syifa
"Saya diundang untuk ngisi ceramah di pesantren Manba'ul Huda
"Serius aa? Pesantren tempatku belajar?" kata Syifa
"Iya, tapi saya gugup. Karena ini pertama kalinya" kata Jafar
"Tenang a, bismillah dulu. Seingatku disana anak muda semua kan, mungkin mereka mengundang aa, karena aa udah jadi inspirasi mereka" kata Syifa
"Tetap saja, tanggung jawabnya besar" kata Jafar
"Neng yakin aa bisa. Sampaikan dari hati a" kata Syifa
"Doakan ya" kata Jafar
"Tanpa diminta aa" kata Syifa sambil memeluk Jafar
Keesokan paginya, Jafar tengah siap menghadiri acara tersebut bersama Syifa dan Aisyah. Undangan untuk mengisi ceramah di pesantren yang terkenal adalah suatu kehormatan bagi Jafar. Dia merasa bahwa ini adalah kesempatan untuk berbagi pengalaman dan pandangan hidupnya kepada para santri di pesantren tersebut. Meskipun dia sibuk dengan bisnisnya, dia merasa bahwa memberikan inspirasi kepada generasi muda adalah tugas penting.
Mengenakan pakaian yang rapi, Jafar tiba di pesantren dengan perasaan campur aduk. Dia diterima dengan hangat oleh para pengurus pesantren dan dia diajak ke ruangan yang telah disiapkan untuk ceramahnya.
"Terima kasih telah datang. Kami sangat menghormati kehadiran mas Jafar" kata ustadz Bayu
"Sama-sama, saya sangat senang mendapat kesempatan ini" kata Jafar
Ketika saat ceramah tiba, Jafar berdiri di depan para santri yang duduk dengan tertib. Dia merasa tanggung jawab besar karena mereka datang untuk mendengar pengalamannya. Sesaat ketika Jafar berdiri didepan panggung, ia kembali mendengar suara yang mengajaknya untuk pulang. Ia juga mendengar suara Syifa saat sebelum berangkat yang mengatakan "Sampaikan dari hati".
Ceramahpun dimulai dengan membahas tentang kisah hidupnya. Mulai dari saat kehilangan orang tua, saat ia mendapati rasa dendam karena kepergian orang tuanya, kepergian Satrio, dan amarah pada Chandra. Hingga ia bercerita tentang sebuah mimpi yang selama ini dia alami, namun ia sedikit ubah ceritanya agar Syifa merasa tidak curiga.
"Kullu nafsin zaikatul maut" ucap Jafar
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati" ucap Jafar didepan, dan ucap Syifa yang sedang mendengarkan
Saat Jafar mengatakan hal itu, Syifa merasa ada sesuatu yang berbeda dari Jafar. Jantung Syifa berdegup kencang sambil terus menatap mata suaminya itu dari barisan belakang.
"Namun, apa yang akan mengiringi kita di akhirat adalah amal dan keimanan kita. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk menghadapi kematian dengan hati yang tenang, serta memberi kita taufik untuk menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya.
Perenungan atas kematian dapat membantu kita menjalani kehidupan ini dengan lebih bermakna. Kita menjadi lebih berhati-hati dalam segala tindakan kita, mengingat bahwa setiap langkah kita akan dihitung di hadapan Allah. Kita harus merenungkan apakah kita telah menjalani hidup ini dengan penuh cinta kasih, toleransi, dan kebaikan kepada sesama manusia.
Janganlah kita terbuai oleh kesenangan dunia semata. Semua harta dan kenikmatan dunia ini hanyalah sementara. Yang kekal adalah apa yang kita persiapkan untuk akhirat. Oleh karena itu, mari tingkatkan ibadah, sedekah, dan amal kebaikan kita."
Sebuah hal yang tak disangka, Syifa melihat ada sebuah cahaya yang memancar di wajah Jafar. Itu merupakan senyuman terbaik yang pernah Jafar berikan. Hingga pada akhir ceramah, Jafar mengajak semua jamaah untuk beristigfar bersama-sama. Tak sedikit dari mereka yang menitikan air mata.
"Akhir kata, mari kita panjatkan doa kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosa kita, memberi kita kekuatan dalam menghadapi cobaan hidup, dan mengaruniakan kita husnul khatimah, yaitu akhir yang baik. Amin ya Rabbal 'alamin. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucap Jafar diakhir ceramah
Singkat cerita, setelah acara selesai, Syifa menghampiri Jafar yang tengah duduk di sebuah bangku taman seorang diri sambil menatap ke arah tanaman bunga hias yang berada di hadapannya. Ia menatap kosong kedepan, kearah langit, begitu secara bergantian selama beberapa saat. Ingatannya berputar bagaimana semua kejadian yang telah berlalu terjadi begitu saja. Ia mengangkat tangannya, menatap kedua telapak tangannya, kemudian mengepalkan tangannya seraya mengucapkan
"Terima kasih"
Ia memejamkan mata sejenak, hening, semilir angin membuat tubuhnya merasa begitu ringan. Hingga Syifa datang menghampirinya.
"Aa, kok disini? Neng cariin, ummi bilang aa ke belakang" tanya Syifa
"Gapapa kok, sejuk banget disini" kata Jafar tersenyum
"Dulu ga sebagus sekarang a" kata Syifa
"Sini sayang, duduk" ucap Jafar mengajak Syifa duduk sambil membiarkan Jafar menggendong Aisyah
"Indah ya a" kata Syifa
"Sangat. Ga aneh kalau kamu bisa sebetah itu belajar disini, hingga menjadi hafidzah" kata Jafar
"Alhamdulillah a" kata Syifa
"Saya bangga padamu. Saya yakin, kamu bisa menjadi ibu yang baik untuk Aisyah" kata Jafar
"Dan neng yakin, aa bisa menjadi ayah yang baik untuk Aisyah" kata Syifa
Jafar tersenyum manis pada Syifa. Syifa menyandarkan kepalanya di pundak Jafar. Jafar lagi-lagi melihat sosok laki-laki tengah berjalan diantara bunga yang ada di hadapannya. Laki-laki yang sama seperti yang ia lihat di kafe. Laki-laki itu nampak tersenyum dan mengangguk. Jafar membalas senyumannya dengan senyuman ikhlas dari hatinya.
Beberapa hari terakhir Jafar meninggalkan kafenya untuk fokus bersama Syifa dan Aisyah. Hingga saat ini menjadi salah satu hari yang paling membahagiakan untuknya. Di malam hari, Jafar mengaji untuk Syifa dan Aisyah. Syifapun tak ingin melewatkan kesempatan ini, dan ia bergabung untuk mengaji bersama Jafar sambil menggendong Aisyah.
Keesokan paginya, Jafar memutuskan untuk berpuasa. Syifa nampak sedikit bingung karena tidak biasanya Jafar berpuasa. Tapi dengan cepat ia membuang pikiran negatifnya. Pagi itu merupakan pagi yang cerah, tidak terlalu panas, suhu udara masih terasa cukup dingin. Jafar yang sedang menggendong Aisyah kemudian mendekati Syifa yang sedang sarapan dari yang semula duduk dihadapannya, kini duduk disamping Syifa.
"Saya sangat mencintai kamu Naya, dan Aisyah" kata Jafar
"Neng juga cinta sama aa, iya kan Ai" kata Syifa
Aisyah tertawa manis
"Tuh, Aisyah pun begitu aa" kata Syifa
"Abi pergi dulu ya, Aisyah jangan nakal, kasian ummi Naya" kata Jafar
"Sudah lama aku ga denger panggilan itu aa" kata Syifa
"Ga pernah menyangka kita bertemu dan bersatu" kata Jafar
"Aa yakin mau ke kafe?" tanya Syifa sedikit ragu
"Iya sayang. Kenapa?" tanya Jafar
"Gapapa aa. Aa hati-hati ya, pake mobil kan?" tanya Syifa
"Pake motor, sayang. Saya ditunggu klien dan pagi ini pasti macet" kata Jafar
"Hati-hati ya aa. Neng menanti aa pulang" kata Syifa
"Iya sayang. Saya pergi ya, jaga Aisyah, doakan aa dapat rejeki buat kalian ya" kata Jafar
"Aamiin" ucap Syifa kemudian memeluk Jafar dengan erat
Jafarpun mengendarai motornya. Sebelum ia berangkat, ia menatap Syifa dengan senyuman ikhlas seperti sebelumnya. Air mata Jafar menetes dari balik kaca helmnya. Dengan mengucap basmalah, Jafarpun berangkat.
Jafar merasakan angin sejuk yang mengelus wajahnya saat dia mengemudikan motornya. Dalam perjalanannya, dia merenung tentang semua orang yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Wajah orang tuanya yang lembut tersirat dalam ingatannya, memberikan rasa kedamaian dan dukungan. Dia juga teringat akan senyuman adik-adiknya, Nilam dan Sarah, yang telah menjadi sumber inspirasinya.
Sambil mengemudikan motornya, Jafar merasa begitu bahagia dan tenang. Dia merasa bahwa hidupnya telah memberinya banyak hal untuk bersyukur dan dihargai.
Namun, tiba-tiba, saat Jafar terus berjalan di jalanan yang sepi, dia melihat sosok-sosok yang sangat dikenalnya berdiri di tengah jalan. Wajah kedua orang tuanya, yang telah tiada, dan semua kenangan indah bersama mereka tergambar di depan matanya.
"Ayah, Ibu... Jafar merindukan kalian" ucap Jafar
Namun, sebelum dia bisa mengungkapkan lebih banyak perasaannya, semuanya menjadi gelap. Dia merasakan benturan keras dan tiba-tiba kehilangan kendali atas motor. Peristiwa itu terjadi dengan cepat, mengakhiri perjalanan Jafar dalam sekejap
Dirumah, Syifa tengah bermain bersama Aisyah sambil dilantunkan ayat suci Al-Qur'an. Hari sudah siang, suasana sangat hening dirumah. Syifa tersenyum ketika mengingat semua kenangan manis bersama Jafar. Namun, momen kedamaian itu tiba-tiba terputus ketika seseorang mengetuk pintu rumahnya. Saat pintu terbuka, dia melihat wajah familiar yang datang, Amel, salah seorang teman dekatnya
Dengan berat hati, Amel akhirnya memberanikan diri untuk memberitahu Syifa tentang apa yang telah terjadi. Dia memberi tahu bahwa Jafar mengalami kecelakaan. Dia berusaha untuk menjelaskan dengan bijaksana, tetapi berita ini mengguncangkan Syifa dengan keras
"Kamu kenapa Mel? Santi? Kamu disini?" kata Syifa
"Fa . . . kamu yang sabar ya" kata Amel
"Mel . . Mel . . Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Syifa menjadi cemas
Amel melepaskan pelukannya dan menatap mata Syifa dengan penuh empati, tetapi juga dengan rasa berat hati.
"Fa, aku tahu ini akan sangat berat buat kamu. Tapi, aku harus memberitahumu kalau kak Jafar... kak Jafar udah ga ada" ucap Amel
"Apa sih Mel, kamu bilang apa sih? Jangan bercanda" kata Syifa tak percaya
"Aku ga bercanda Fa . . . Kamu kuat ya" ucap Amel memeluk Syifa kembali
Syifa masih nampak tidak menangkap ucapan Amel, hingga ia melihat wajah Santi yang berdiri di belakangnya.
"Ga mungkin Mel . . . " ucap Syifa melepas pelukan Amel dengan mendorongnya
"Fa . . . kamu yang sabar Fa . . . " ucap Amel memegang pundak Syifa
"Ga . . .ga . . ga mungkin. Dia baik-baik aja. Tadi pagi dia berangkat kerja" kata Syifa
"Fa . . yang sabar . . . " ucap Amel berulang
"Ga mungkin . . Mel . . . a . . . aa . . ga mungkin kan" kata Syifa
"Kita ke rumah sakit sekarang ya . . . " kata Amel
Amel memeluk Syifa kembali, mencoba memberikan dukungan sebanyak mungkin. Keduanya menangis bersama, merasakan kehilangan yang mendalam. Kematian Jafar, terutama setelah saat-saat penuh kebahagiaan bersama di kebun teh dan momen indah lainnya, adalah pukulan yang begitu berat bagi Syifa. Kini, dia harus menghadapi kenyataan bahwa orang yang paling dicintainya telah pergi meninggalkannya
Syifa, Amel, dan Santi pergi ke rumah sakit dengan hati yang berat. Mereka tiba di sana dengan perasaan cemas dan tidak percaya atas apa yang telah terjadi. Saat memasuki ruang tunggu rumah sakit, suasana hening dan tegang terasa begitu kental. Amel memberikan dukungan kepada Syifa sambil memeluknya erat. Dia tahu betapa beratnya ini bagi Syifa, dan dia berusaha sekuat tenaga untuk memberikan dukungan sebanyak yang dia bisa.
"Aku di sini untukmu, Syifa. Semua bakal baik-baik aja" kata Amel
Santi berbicara dengan petugas rumah sakit untuk mendapatkan informasi terbaru tentang keadaan Jafar. Dia ingin memastikan bahwa semuanya baik-baik saja dan memberitahu Syifa. Amel juga berbicara dengan Syifa tentang yang harus dilakukan. Dia meminta Syifa untuk memberi tahu orang lain, terutama kedua adiknya Nilam dan Sarah, tentang apa yang terjadi pada Jafar. Dia juga meminta bantuan kepada Syifa untuk menghubungi karyawan cabang kafe di Jakarta untuk menjemput kedua adiknya secepat mungkin
"Aku tahu ini sangat sulit, Syifa. Tapi kalian adalah keluarga, dan mereka harus tahu" ucap Amel, dan Syifapun mengangguk
Saat mereka akhirnya diberi izin untuk masuk ke ruangan Jafar, Syifa merasakan campuran emosi yang tak terkendali. Dia melihat Jafar terbaring di tempat tidur rumah sakit, dan tangisannya tidak bisa lagi dia bendung
"Aa . . . Sayang . . ini neng a . . . aa . . . bangun a" ucap Syifa dalam tangisnya
Dia mendekati tempat tidur Jafar dan memegang tangannya dengan lembut. Dia mencoba untuk menyampaikan perasaan cintanya, kesedihannya, dan rasa kehilangannya melalui sentuhan tulus itu. Kepergian Jafar adalah pukulan besar bagi mereka semua, terutama bagi Syifa dan Aisyah. Dalam momen-momen seperti ini, dukungan dari orang-orang terdekat sangat penting untuk membantu mereka mengatasi perasaan kesedihan yang mendalam.
Ketika memeluk Jafar, teringat kembali semua hal manis yang terjadi belakang ini. Mulai dari Jafar yang terlihat lebih dekat dengan Aisyah, Jafar yang terlihat lebih sering mengaji dari biasanya, terutama saat ia mengaji bersama Jafar. Teringat kembali saat Jafar mengisi ceramah tentang kehidupan hingga kata-kata yang terlontar mengenai surat Ali Imran ayat 185, surat Al Anbiya ayat 35, dan surat Al Ankabut ayat 57 "Setiap yang bernyawa pasti akan mati". Ternyata itu merupakan tanda-tanda kepergian yang ia tak sadari dari awal. Histeris tangis Syifa membuat seisi ruangan menjadi dipenuhi dengan rasa kesedihan. Aisyah menangis, menangis, dan menangis. Suster mencoba menenangkan Syifa namun Syifa tetap menggoyangkan tubuh Jafar, berharap Jafar membuka matanya.
Amel memberikan Aisyah pada Santi kemudian mencoba menenangkan Syifa. Tangisnya semakin menjadi-jadi ketika Amel mengusap punggung Syifa. Karena hal itulah yang selalu Jafar lakukan saat Syifa merasa sedih.
"Mel . . . . . aa . . . Mel . . . " ucap Syifa dalam tangisnya
"Iya iya, kamu tenang, kalau kamu seperti ini, dia ga tenang nanti. Kita semua jadi makin sedih" kata Amel
Nilam dan Sarahpun sangat terpukul karena keluarga yang mereka miliki hanyalah Jafar seorang. Kini akan menjadi tugas bagi Syifa untuk merawat, mendidik, menjaga, dan membesarkan Nilam dan Sarah. Tentunya Aisyah juga akan selalu menemani mereka semua.
Di tengah kenangan indah dan tantangan yang mereka hadapi, Syifa terus mengingat mimpi-mimpi dan impian yang pernah dibagikan dengan Jafar. Kehadirannya masih terasa begitu dekat, dan saat Syifa memandang langit, dia merasa seperti dia bisa merasakan sentuhan hangat Jafar yang melindunginya. Suatu malam, Syifa tertidur dengan pikiran yang damai. Dalam mimpinya, dia menemukan dirinya berada di tempat yang penuh cahaya dan tenang. Dia melihat Jafar di kejauhan, tersenyum kepadanya dengan penuh cinta
"Apa kau tahu? Saya selalu ada di sini, meskipun tak terlihat oleh mata" ucap Jafar
"Aa . . ." ucap Syifa tersenyum sendu
Jafar mengulurkan tangannya, dan Syifa merasakan sentuhan lembutnya di kulitnya. Dia merasa begitu tenang dan nyaman, seolah-olah semua beban dan kesedihan telah hilang. Syifa memeluk Jafar dengan perasaan yang tak menentu.
"Ingatlah bahwa aku selalu ada dalam hatimu. Impian kita, cinta kita, semuanya masih hidup" ucap Jafar
"Aa, neng rindu aa" ucap Syifa penuh harap
"Kita tidak pernah benar-benar berpisah. Cinta kita akan selalu menghubungkan kita" ucap Jafar
"Aa kenapa ninggalin neng sama Aisyah secepat ini?" ucap Syifa mulai menangis
"Seperti yang barusan saya katakan, cinta akan selalu menghubungkan kita" ucap Jafar
Syifa merasa seperti dia terbangun dari mimpi dengan hati yang tenang dan penuh harap. Meskipun Jafar telah pergi, cintanya tetap ada di dalam dirinya dan melingkupi setiap aspek kehidupannya. Dia tahu bahwa meskipun fisik mereka terpisah, ikatan cinta yang mereka miliki akan selalu terjaga. Setiap kali Syifa memanggil Jafar dengan sebutan "aa," dia merasakan kehadirannya di sampingnya. Dia berbagi cerita, canda tawa, dan tangis dengan Jafar, bahkan jika dia tidak bisa melihatnya lagi. Dalam hati dan ingatannya, Jafar tetap hidup.
Kehidupan Syifa terus berjalan, diwarnai oleh kenangan-kenangan indah bersama Jafar. Dia mengajarkan Aisyah tentang cinta yang tak terbatas dan kekuatan yang bisa datang dari keluarga dan teman-teman. Setiap kali matahari terbit dan terbenam, Syifa tahu bahwa Jafar ada di sana bersamanya, mengawasinya dari tempat yang lebih baik, dan itu memberinya kekuatan untuk menjalani setiap hari dengan penuh semangat.
"Terima kasih, untuk semua kebahagiaan itu a, neng janji akan melanjutkan kebahagiaan itu untuk Aisyah" ucap Syifa saat selesai mengaji dengan Aisyah yang tertidur di pangkuannya
Akhir cerita ini adalah pengingat tentang bagaimana cinta abadi dapat mengatasi segala halangan, bahkan kematian. Meskipun fisiknya telah pergi, Jafar tetap hadir dalam setiap sudut kehidupan Syifa, sebagai sumber inspirasi, kebahagiaan, dan kekuatan
Diubah oleh aranea 07-09-2023 20:35
percyjackson321 memberi reputasi
1