- Beranda
- Stories from the Heart
Thread Horor: MENJEMPUT GELAP
...
TS
saujanastory
Thread Horor: MENJEMPUT GELAP
Halo Agan semua, salam kenal. Ane Jana, yang biasa menceritakan dan kisah horor baik berdasarkan kisah nyata, atau terinspirasi dari kisah nyata. Monggo disimak, jangan lupa diramaikan.

Sekian Agan-Agan semua, malam Minggu depan ceritanya akan dilanjutkan.
MENJEMPUT GELAP

Quote:
Original Posted By Bab 1: Kontrakan Bangsal Tiga
Hari ini kondisi cuaca cukup cerah dengan sedikit gumpalan awan berarak yang menjadi tanda bahwasanya hujan tidak akan turun. Dari balik kaca, lelaki itu memandangi jalanan sambil menyesap segelas kopi yang tak lagi panas.
Siang ini ia terpikir beberapa hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Sebuah misi yang seharusnya ia lakukan bertahun-tahun lalu. Mengunjungi tanah leluhurnya. Namun yang ia temukan adalah hal mengerikan yang seharusnya tak pernah terungkap. Sebuah rahasia masa lalu yang disimpan rapat oleh seluruh penduduk desa.
Kemal, 32 tahun. Seorang pemuda medioker yang masih terus berkutat dengan segala hobi dan kegemarannya. Kehidupan keluarganya yang sangat sederhana membuat masa kecilnya lebih terbatas jika dibandingkan dengan kawan sebayanya.
Ayahnya yang ketika itu masih berada di posisi cukup rendah di tempat kerjanya membuat hidup keluarga sangat sederhana. Ayah Kemal yang memulai karir di sebuah BUMN sebagai sekuriti hanya mendapatkan gaji 275 ribu rupiah per bulan. Saat itu masih sekitar tahun 1991.
Ibunya sedang mengandung sang adik. Sementara Kemal yang statusnya ‘disembunyikan’ berada di desa asal sang ibu. Sebuah desa tertinggal di provinsi paling timur di pulau Jawa. Sebuah desa yang pada saat itu hanya dihuni para petani, dengan kehidupan miskin dan jauh dari kata cukup.
Pada saat itu, ayah Kemal baru saja mendapatkan pekerjaanya. Dan menurut peraturan, pegawai tidak boleh menikah sebelum 3 tahun masa kerja. Karena ayah dan ibu Kemal menikah di luar ketentuan itu, maka kelahiran Kemal terpaksa disembunyikan dari rekan kerja sang ayah.
Dan ia pun dirawat oleh sang nenek, si mbok dari sang ibu.
Dalam rumah bangsal petak itu Harti sedang menggigil ketakutan. Keringat dingin membasahi tubuhnya, sementara ia hanya berada di kontrakan itu sendirian. Husin sedang bertugas sebagai sekuriti dan akan pulang pukul 11 malam. Yang mana akan tiba di rumah 20 hingga 30 menit setelah shift jaga selesai.
Sedari pukul 10, Harti mendengar ada sosok yang sedang tertawa cekikikan di depan pintu rumahnya. Sementara ia sangat tahu, bahwa lingkungan tempat tinggalnya adalah lingkungan yang sepi setelah shalat Isya.
Di dalam rumah, Harti tak bisa melakukan apa pun. Hanya bisa duduk meringkuk diatas ranjang sambil melindungi kandungannya yang sudah cukup besar. Ia hanya berdoa semampu yang ia ingat, diiringi kucuran keringat dan tubuhnya yang menggigil ketakutan.
Hingga pukul 11.25, hampir tengah malam suara vespa memecah keheningan malam itu. Husin datang dan langsung memarkirkan motornya tepat di depan rumah. Ia masuk dan disambut dengan tangisan yang memecah keheningan malam.
“Pak, di situ!! Tadi ada orang ketawa nyaring, cekikikan gak berhenti.” Harti tergagap sambil memeluk erat pinggang suaminya.
“Di mana?! Bentar, biar ku bacok kalo emang ada.” Husin langsung mengambil sebilah golok dan kembali mengecek teras rumah mereka. Dan yang ia temukan hanyalah sepinya malam dengan suara jangkrik dari
seberang jalan yang lebarnya tak lebih dari 2 meter.
Malam itu Harti terselamatkan, ia kembali tenang setelah sang suami memastikan tidak ada yang bisa ia temukan di depan rumahnya. Mereka akhirnya bisa terlelap sambil ditemani beberapa benda tajam seperti jarum, silet, gunting dan bulu landak sebagai proteksi sang jabang bayi.
Sore itu, Harti merasa sakit perut dan ingin buang hajat. Ia lalu keluar rumah melalui pintu belakang dan menuju toilet bersama yang berada tepat di belakang kontrakannya. Perlahan ia turun menuju belakang rumah, sambil memegangi perut besarnya dan melihat toilet dalam kondisi tertutup.
Harti menunggu sejenak. Karena tak ada suara, ia memutuskan untuk mendorong pintu toilet tersebut. Ia terkejut, pintu itu tak terkunci, namun di dalamnya ada seorang nenek yang sedang duduk berjongkok di atas kloset seperti sedang membuang hajat.
“Maaf, saya kira gak ada orang.” Ucapnya sambil langsung menutup pintu dan menunggu di mulut pintu rumahnya.
Beberapa menit berlalu, tak ada tanda bahwa sang nenek sudah selesai. Bahkan tidak ada suara sama sekali dari dalam toilet. Sementara hajat Harti sudah sulit untuk ditahan. Ia pun kembali mengetuk pintu toilet tersebut, seketika toilet itu terbuka. Di dalamnya tak ada orang, nenek yang sedang berjongkok di atas toilet sudah hilang.
Karena sudah menunggu lama dan tak bisa ditahan lagi. Maka Harti langsung saja masuk ke dalam toilet dan menuntaskan hajatnya yang sudah hampir tak terbendung. Sore itu, adalah pertama kali Harti melihat sosok tak asing yang mungkin saja bukan manusia.
Pagi menyingsing, hawa dingin dan sejuk mengiringi niat Harti yang ingin berjalan-jalan. Kumpulan tumbuhan pandan tumbuh di depan rumahnya yang di bawahnya merupakan genangan air. Kontrakan 3 pintu yang hanya memilik satu toilet bersama. Toilet yang berada tepat di belakang dapur rumah Harti.
Ditemani sang suami, Harti berjalan-jalan sambil menikmati udara pagi
yang segar. Disambut dengan sapaan para tetangga yang mayoritas adalah warga suku lokal. Dengan logat Kutai dan Banjar yang kental, mereka menyapa sembari menyapu atau menyiram tanaman.
“Hendak ke mana kita? Gaknya tumat lagi lahir ni. – Mau kemana? Sepertinya sebentar lagi lahiran.” ucap seorang wanita penjual kue-kue basah yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbok Joi dengan logat Kutai
yang kental.
“Ohh, bejalanan aja. Biar kena kalo lahiran lancar, – Mau jalan-jalan saja. Supaya nanti lahiran lancar,” jawab Husin dengan logat Banjar.
“Bulu landak ngan gunting jangan lupa dibawa, biar ndik dilirik kuyang, – Bulu landak sama gunting jangan lupa dibawa, supaya tidak dilirik (hantu) kuyang,” timpal Mbok Joi lagi sambil tersenyum sembari merapikan kue dagangannya.
“Iya, makasih, Mbok Joi.” Husin tersenyum sambil melanjutkan menemani Harti berjalan berkeliling.
Di kota ini, mitos dan rumor tentang kuyang memang sangat dipercaya. Terutama oleh para warga asli yang memang sangat memegang teguh kepercayaan lokal. Dan entah, percaya/tidak percaya semua itu diceritakan turun-temurun dan kabarnya memang sudah ada yang pernah membuktikan keberadaan dan kebenarannya.
Harti dan Husin berjalan menikmati pagi dengan santai. Embun masih terasa membasahi kulit, juga meninggalkan titik-titik bulir air di atas dedaunan di kiri-kanan gang. Banyak orang berlalu-lalang membawa keranjang belanjaan karena pasar juga masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Juga anak-anak sekolah yang sedang jalan bergerombol menuju tempat mereka menuntut ilmu. Juga beberapa ibu yang sedang berjalan berlainan arah. Salah satunya menggunakan kerudung dengan ujung yang melilit di lehernya.
Mereka bercakap sambil salah satunya menatap Harti yang dengan pandangan yang menyelidik. Hingga saat perpapasan, ia bahkan sampai menolehkan kepalanya memandang Harti yang sedang berjalan sambil memegangi perutnya Wanita itu menelan ludahnya sambil menjilat bibirnya sendiri.
“Hmmm.. Wangi..” batinnya.
Siang ini ia terpikir beberapa hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Sebuah misi yang seharusnya ia lakukan bertahun-tahun lalu. Mengunjungi tanah leluhurnya. Namun yang ia temukan adalah hal mengerikan yang seharusnya tak pernah terungkap. Sebuah rahasia masa lalu yang disimpan rapat oleh seluruh penduduk desa.
***
Kemal, 32 tahun. Seorang pemuda medioker yang masih terus berkutat dengan segala hobi dan kegemarannya. Kehidupan keluarganya yang sangat sederhana membuat masa kecilnya lebih terbatas jika dibandingkan dengan kawan sebayanya.
Ayahnya yang ketika itu masih berada di posisi cukup rendah di tempat kerjanya membuat hidup keluarga sangat sederhana. Ayah Kemal yang memulai karir di sebuah BUMN sebagai sekuriti hanya mendapatkan gaji 275 ribu rupiah per bulan. Saat itu masih sekitar tahun 1991.
Ibunya sedang mengandung sang adik. Sementara Kemal yang statusnya ‘disembunyikan’ berada di desa asal sang ibu. Sebuah desa tertinggal di provinsi paling timur di pulau Jawa. Sebuah desa yang pada saat itu hanya dihuni para petani, dengan kehidupan miskin dan jauh dari kata cukup.
Pada saat itu, ayah Kemal baru saja mendapatkan pekerjaanya. Dan menurut peraturan, pegawai tidak boleh menikah sebelum 3 tahun masa kerja. Karena ayah dan ibu Kemal menikah di luar ketentuan itu, maka kelahiran Kemal terpaksa disembunyikan dari rekan kerja sang ayah.
Dan ia pun dirawat oleh sang nenek, si mbok dari sang ibu.
***
Dalam rumah bangsal petak itu Harti sedang menggigil ketakutan. Keringat dingin membasahi tubuhnya, sementara ia hanya berada di kontrakan itu sendirian. Husin sedang bertugas sebagai sekuriti dan akan pulang pukul 11 malam. Yang mana akan tiba di rumah 20 hingga 30 menit setelah shift jaga selesai.
Sedari pukul 10, Harti mendengar ada sosok yang sedang tertawa cekikikan di depan pintu rumahnya. Sementara ia sangat tahu, bahwa lingkungan tempat tinggalnya adalah lingkungan yang sepi setelah shalat Isya.
Di dalam rumah, Harti tak bisa melakukan apa pun. Hanya bisa duduk meringkuk diatas ranjang sambil melindungi kandungannya yang sudah cukup besar. Ia hanya berdoa semampu yang ia ingat, diiringi kucuran keringat dan tubuhnya yang menggigil ketakutan.
Hingga pukul 11.25, hampir tengah malam suara vespa memecah keheningan malam itu. Husin datang dan langsung memarkirkan motornya tepat di depan rumah. Ia masuk dan disambut dengan tangisan yang memecah keheningan malam.
“Pak, di situ!! Tadi ada orang ketawa nyaring, cekikikan gak berhenti.” Harti tergagap sambil memeluk erat pinggang suaminya.
“Di mana?! Bentar, biar ku bacok kalo emang ada.” Husin langsung mengambil sebilah golok dan kembali mengecek teras rumah mereka. Dan yang ia temukan hanyalah sepinya malam dengan suara jangkrik dari
seberang jalan yang lebarnya tak lebih dari 2 meter.
Malam itu Harti terselamatkan, ia kembali tenang setelah sang suami memastikan tidak ada yang bisa ia temukan di depan rumahnya. Mereka akhirnya bisa terlelap sambil ditemani beberapa benda tajam seperti jarum, silet, gunting dan bulu landak sebagai proteksi sang jabang bayi.
***
Sore itu, Harti merasa sakit perut dan ingin buang hajat. Ia lalu keluar rumah melalui pintu belakang dan menuju toilet bersama yang berada tepat di belakang kontrakannya. Perlahan ia turun menuju belakang rumah, sambil memegangi perut besarnya dan melihat toilet dalam kondisi tertutup.
Harti menunggu sejenak. Karena tak ada suara, ia memutuskan untuk mendorong pintu toilet tersebut. Ia terkejut, pintu itu tak terkunci, namun di dalamnya ada seorang nenek yang sedang duduk berjongkok di atas kloset seperti sedang membuang hajat.
“Maaf, saya kira gak ada orang.” Ucapnya sambil langsung menutup pintu dan menunggu di mulut pintu rumahnya.
Beberapa menit berlalu, tak ada tanda bahwa sang nenek sudah selesai. Bahkan tidak ada suara sama sekali dari dalam toilet. Sementara hajat Harti sudah sulit untuk ditahan. Ia pun kembali mengetuk pintu toilet tersebut, seketika toilet itu terbuka. Di dalamnya tak ada orang, nenek yang sedang berjongkok di atas toilet sudah hilang.
Karena sudah menunggu lama dan tak bisa ditahan lagi. Maka Harti langsung saja masuk ke dalam toilet dan menuntaskan hajatnya yang sudah hampir tak terbendung. Sore itu, adalah pertama kali Harti melihat sosok tak asing yang mungkin saja bukan manusia.
***
Pagi menyingsing, hawa dingin dan sejuk mengiringi niat Harti yang ingin berjalan-jalan. Kumpulan tumbuhan pandan tumbuh di depan rumahnya yang di bawahnya merupakan genangan air. Kontrakan 3 pintu yang hanya memilik satu toilet bersama. Toilet yang berada tepat di belakang dapur rumah Harti.
Ditemani sang suami, Harti berjalan-jalan sambil menikmati udara pagi
yang segar. Disambut dengan sapaan para tetangga yang mayoritas adalah warga suku lokal. Dengan logat Kutai dan Banjar yang kental, mereka menyapa sembari menyapu atau menyiram tanaman.
“Hendak ke mana kita? Gaknya tumat lagi lahir ni. – Mau kemana? Sepertinya sebentar lagi lahiran.” ucap seorang wanita penjual kue-kue basah yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbok Joi dengan logat Kutai
yang kental.
“Ohh, bejalanan aja. Biar kena kalo lahiran lancar, – Mau jalan-jalan saja. Supaya nanti lahiran lancar,” jawab Husin dengan logat Banjar.
“Bulu landak ngan gunting jangan lupa dibawa, biar ndik dilirik kuyang, – Bulu landak sama gunting jangan lupa dibawa, supaya tidak dilirik (hantu) kuyang,” timpal Mbok Joi lagi sambil tersenyum sembari merapikan kue dagangannya.
“Iya, makasih, Mbok Joi.” Husin tersenyum sambil melanjutkan menemani Harti berjalan berkeliling.
Di kota ini, mitos dan rumor tentang kuyang memang sangat dipercaya. Terutama oleh para warga asli yang memang sangat memegang teguh kepercayaan lokal. Dan entah, percaya/tidak percaya semua itu diceritakan turun-temurun dan kabarnya memang sudah ada yang pernah membuktikan keberadaan dan kebenarannya.
Harti dan Husin berjalan menikmati pagi dengan santai. Embun masih terasa membasahi kulit, juga meninggalkan titik-titik bulir air di atas dedaunan di kiri-kanan gang. Banyak orang berlalu-lalang membawa keranjang belanjaan karena pasar juga masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Juga anak-anak sekolah yang sedang jalan bergerombol menuju tempat mereka menuntut ilmu. Juga beberapa ibu yang sedang berjalan berlainan arah. Salah satunya menggunakan kerudung dengan ujung yang melilit di lehernya.
Mereka bercakap sambil salah satunya menatap Harti yang dengan pandangan yang menyelidik. Hingga saat perpapasan, ia bahkan sampai menolehkan kepalanya memandang Harti yang sedang berjalan sambil memegangi perutnya Wanita itu menelan ludahnya sambil menjilat bibirnya sendiri.
“Hmmm.. Wangi..” batinnya.
***
Spoiler for Bab Selanjutnya Gan!:
Spoiler for Bab Selanjutnya Gan!:
Spoiler for Bab Selanjutnya, Gan!:
Spoiler for Lanjut lagi, Gan!:
Spoiler for Selamat bermalam Minggu, Gan!:
Spoiler for Habis konser, lanjut cerita!:
Spoiler for Telat sehari.:
Spoiler for Lanjutan lagi!:
Spoiler for Malming sendu:
Spoiler for Capek motoran:
Spoiler for Habis selesein cerita untuk KUNCEN:
Spoiler for Mau nonton layar tancap:
Spoiler for Minggu pertama Oktober!! Gas!!:
Spoiler for Udah sepertiga cerita nih!:
Sekian Agan-Agan semua, malam Minggu depan ceritanya akan dilanjutkan.
Diubah oleh saujanastory 14-10-2023 19:36
itkgid dan 19 lainnya memberi reputasi
20
4.4K
Kutip
57
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
saujanastory
#18
Sudah malem Minggu lagi, Gan. Waktunya lanjut cerita.
Sekian lanjutan cerita malam ini, Gan. Selamat bermalam Minggu!!
Quote:
Bab 9. Yakin Berani?
Sedari pergi dari peginapan, Akbar seperti memikirkan sesuatu. Bahkan ketika mereka pergi untuk makan siang dan nongkrong pun ia terlihat gelisah. Beberapa kali ia ingin berbicara tentang sesuatu namun tidak dilakukannya.
Angkringan itu terlihat sederhana namun cukup nyaman, bukan tempat yang terkesan fancy seperti café atau pun coffee shop. Piring makannya juga menggunakan anyaman rotan yang dilapisi kertas coklat untuk bungkus.
Mereka duduk lesehan bersama beberapa teman nongkrong Akbar yang asik bermain game online di handphone masing-masing. Ada juga yang asik merokok sambil bergosip sembari meminum kopi sachet. Karena penasaran, akhirnya Kemal membuka omongan.
“Lapo, Bar? Kok ket mau usrek ae?– Kenapa, Bar? Kok dari tadi gelisah?” Kemal yang sedari tadi siang merasa aneh akhirnya bertanya pada Akbar.
“Rapopo, Mas. – Gakpapa, Mas.”
“Tenan, ono opo? Ket mau we kok koyok arep ngomong tapi rasido, – Beneran, kenapa? Dari tadi kok kayak mau ngomong sesuatu tapi gak jadi terus,” ia kembali bertanya. Karena sepenuhnya mereka harus saling terbuka tentang sesuatu, mengingat mereka akan menjadi partner perjalanan jauh.
“Ngene, Mas. Hotel iku mbiyen tau ono kasus pembunuhan. Hawane singup. – Gini, Mas. Hotel itu dulu pernah ada kasus pembunuhan. Hawanya pengap.” Mau tak mau akhirnya Akbar membuka omongan, dan beberapa teman Akbar yang lain ikut mengiyakan.
“Lha kapan Bar? Wis suwi? – Lha kapan, Bar? Sudah lama?”
“Mbiyen Mas, sak durunge dadi hotel. Ono cah wedhok dipateni, gulune ditujes glathi. – Dulu, Mas. Sebelum akhirnya jadi hotel. Ada perempuan dibunuh, lehernya ditusuk pisau.”
Mau tidak mau akhirnya Akbar menceritakan kabar tentang hotel itu dan diafirmasi oleh beberapa temannya yang kebetulan duduk satu meja sembari minum kopi dan bermain game. Mereka segera menyudahi kegiatannya dan ikut nimbrung.
Meskipun kejadian itu sudah lama, tapi desas-desus keangkeran hotel itu sudah menjadi rahasia umum. Terutama bagi mereka yang suka nginap di hotel murah untuk sekedar berkencan.
Kemal tak mau ambil pusing dengan hal itu, meskipun sebenarnya ia juga bukan seorang yang pemberani. Namun ia harus bisa menguatkan diri, karena terlalu sayang jika check-out dan pindah menginap hanya karena takut.
Baginya saat ini adalah bagaimana caranya untuk tetap berfikiran positif. Karena menurutnya, hal seperti itu adalah manifestasi dari ketakutan manusia itu sendiri. Ia tak ingin memikirkan hal yang seram, karena bisa jadi itu yang akan mewujud.
Namun jika diperhatikan dengan seksama, keadaan kamar itu memang tampak lebih remang dari kamar hotel atau hotel yang pernah ditemui oleh Kemal. Mengingat dahulu ia bersekolah di sekolah pariwisata yang tentu saja tak asing dengan kondisi kamar hotel dan hotel.
Ketika normalnya kamar hotel atau hotel berwarna cerah dengan penerangan di setiap sudut ruangan. Kamar ini justru hanya menggunakan dua lampu bohlam putih di area kamar tidur dan kamar mandi. Bahkan tidak ada lampu duduk di nakas.
Perkakasnya juga tidak semodern yang dibayangkan, juga ada lukisan pemandangan pantai yang menggantung di dinding dekat televisi. Dengan meja berwarna coklat gelap dari kayu jati yang sepertinya cukup tua, yang dilengkapi beberapa laci dengan handle besi berwarna hitam.
Kemal mengurutkan ingatan-ingatan sekilas yang ia dapat tentang kamar yang akan ia tempati malam ini sambil mendengar cerita-cerita tentang gedung itu dari Akbar dan beberapa temannya. Namun semakin ia mencocokkan dan menyambungkan yang ia lihat dengan cerita, perasaan aman itu mulai terkikis menjadi khawatir.
“Wes ngene ae Bar, kowe nginep ae wes. Dadine sesuk isuk iso cek motor meneh trus langsung budhal. – Yasudah, gini aja, Bar. Kamu ikut nginap aja. Biar besok pagi bisa cek motor, terus langsung berangkat.”
Mau tidak mau Kemal akhirnya mengambil keputusan. Cerita horor yang ia dengar akhirnya sukses membuatnya bergidik. Karena pikiran aneh dan negatif sudah merasuk dan merusak optimisme Kemal.
Sebenarnya beberapa teman Akbar tersenyum-senyum simpul karena berhasil membuat Kemal bergidik. Namun mereka berani bersumpah kalau semua cerita yang mereka tuturkan benar adanya.
“Tapi aku muleh sek, Mas. Diluk, jupuk tas, wes tak siapno kok. – Tapi aku pulang dulu, Mas. Sebentar, cuma ambil tas. Sudah aku siapkan kok.”
Akbar langsung beranjak dan berpamitan untuk pulang sebentar mengambil peralatan. Motor Akbar juga terlihat cukup prima untuk menempuh perjalanan panjang. Ia menggunakan motor matic yang kemungkinan sudah diulik mesinnya. Dilengkapi dengan knalpot racing yang tak terlalu nyaring.
Sementara menunggu Akbar mengambil segala perlengkapan dan berpamitan, Kemal bercengkerama dengan teman-teman Akbar yang baru saja ia kenal. Mereka terlihat akrab dan nyambung, meskipun perbedaan umur mereka bisa dibilang cukup jauh.
Tak lupa beberapa petuah juga diberikan kepada Kemal, mengingat ia bukan ‘akamsi’ yang bisa jadi belum mengerti seluk-beluk Sidoarto dan perjalanan menuju Kujang. Tak lupa mereka juga mengisahkan beberapa kejadian-kejadian dan peristiwa yang bisa dijadikan pertimbangan. Terutama tentang keselamatan selama di perjalanan esok hari.
“Intine Mas, sampeyan karo Akbar ojo budal awan. Wedine malah kesorean terus bengi teko kono. Soale rodhok wingit area’ne. Mblebu deso’ne yo ngono, sepi dhalane. Wedi nak ono wong jahat, – Intinya, Mas sama Akbar jangan berangkat siang. Takutnya malah kesorean terus nyampenya malam. Soalnya agak angker areanya. Masuk desanya juga gitu, sepi jalanannya. Takutnya ada orang jahat di jalan,” tutur seorang pemuda bernama Muksin yang berambut cepak gaya undercut.
Teman yang lain juga ikut mengiyakan perkataan Muksin, terutama yang berasal dari kabupaten sekitar Kujang. Tak lupa mereka memberi pesan agar tidak sembarangan berucap dan membuang sampah di area yang sepi, baik itu area persawahan, kebun, maupun hutan yang akan mereka lewati.
Konon, di area hutan yang akan dilewati pernah terjadi sebuah kecelakaan tunggal yang sangat janggal. Dimana ada seorang pengendara sepeda motor menabrak batu besar yang terlihat seperti guguran daun jika dilihat dengan mata lahiriah.
Juga tentang seorang tetua yang konon moksa di hutan tersebut. Sosok itu bersemedi di dalam petilasan di tengah hutan dan tak pernah ditemukan lagi jasadnya. Hanya tersisa kain pengikat kepala dan sebuah cincin yang dahulunya pernah dikenakan.
Perbincangan menjadi seru, mulai dari petuah, cerita masa lalu, hingga tentang hobi. Mengingat Kemal adalah seorang yang suka bermain game, penikmat kopi dan seorang musisi. Tak lupa, mereka juga menanyakan tentang Kalimantan dan kota Sanaksara. Tentunya tak ketinggalan pertanyaan tentang mitos dan stereotype orang Kalimantan yang selalu dianggap kaya.
45 menit berselang, Akbar kembali dengan membawa tas ransel ukuran sedang berisi pakaian ganti, peralatan mandi, sandal jepit dan tetek-bengek lainnya. Tak lupa ia juga memakai jaket hoodie dan helm untuk Kemal.
Sekitar pukul 12, Kemal dan Akbar akhirnya meninggalkan angkringan dengan perut kenyang. Sejujurnya mereka berdua masih sangat ingin nongkrong sambil mengobrol banyak hal. Apalagi obrolan mitos dan horor di Kalimantan sedang seru. Namun karena paginya harus mampir ke bengkel untuk memeriksa keamanan motor dan langsung berangkat, akhirnya mereka meninggalkan angkringan.
Jalanan di Sidoarto sudah cukup lengang, hanya ada beberapa motor bersuara nyaring yang melintas dengan kecepatan tinggi. Tak ketinggalan gerombolan anak motor yang sedang asik nongkrong di pinggir jalan protokol sambil merokok.
“Helm’e digowo mlebu ae Mas. Ketimbang malah dicolong karo wong,– Helm-nya dibawa masuk aja, Mas. Dari pada malah diambil sama orang,” ucap Akbar sambil menstandar motor. Kemal hanya mengiyakan lalu masuk beriringan dengan pemuda itu.
Keadaan hotel terasa sangat sepi, hanya ada seorang resepsionis yang sedang duduk sambil menonton televisi. Resepsionis ini bisa dibilang cukup muda, dengan kumis tipis dan rambut ikal disisir samping.
Saat itu ia benar-benar sendirian, tak ada seorang pun di lobby. Kondisi ruangan sangat lengang dengan lampu bohlam kuning di setiap pojok ruangan yang diisi lirih suara televisi dengan bahasa Jawa. Sekuriti pun hanya duduk santai berjaga di parkiran sambil santai merokok.
“Ah, mungkin karena hari kerja. Makanya sepi begini.” Kemal hanya bergumam di dalam hati karena parkiran juga terlihat lengang. Hanya ada tiga motor di sana.
Mereka menyapa sang resepsionis sambil berlalu menuju lift di sebelah kiri lobby. Meskipun tidak terlalu tinggi, namun keberadaan lift sangat membantu jika ada tamu yang membawa koper besar. Dan entah mengapa, perjalanan menuju lantai tiga terasa sangat lama.
Ketika sampai dan pintu lift terbuka, di hadapan mereka benar-benar remang dan kosong. Kondisi koridor semakin temaram karena karpet berwarna gelap membuat cahaya semakin terserap dan redup. Seperti yang diceritakan sebelumnya, memang ada yang janggal di hotel ini.
Di sudut jauh terlihat ada sebuah siluet sama, tepat di ujung koridor dekat kamar mereka. Namun sepertinya Akbar tidak menyadari hal itu, sementara Kemal tetap berusaha melogikakan apa yang ia lihat. Bisa jadi itu adalah bayang binatang atau kotoran yang menempel di bohlam.
‘Cklek’
Pintu kamar terbuka dengan kondisi remang. Kemal memang hanya menyalakan lampu kamar mandi ketika meninggalkan kamar siang tadi. Sepersekian detik ia merasakan ada sesuatu yang sedang berdiri di sudut jauh, tepat di depan tirai. Namun ternyata tidak ada apa-apa setelah lampu kamar dinyalakan.
“Piye, Mas? Mau arep turu dewe. Nak wes ngene sampeyan wani? – Gimana, Mas? Tetap mau tidur sendiri? Kalau kayak sekarang sampeyan berani?” ucap Akbar sambil cengegesan.
“Pas awan mau rodhok enak hawane, saiki malah singup. Untung we gelem ngancani. – Pas siang tadi agak enak hawanya, sekarang malah sumpek kayak banyak orang. untung kamu mau nemenin.”
Kemal menjawab singkat sambil berlalu ke kamar mandi untuk sekedar buang hajat dan cuci muka. Tak ada mandi malam ini karena sudah terlalu lelah. Ia cukup kekurangan jam tidur hari ini, ditambah besok pagi harus segera bangun.
Sekembalinya dari kamar mandi, Akbar terlihat sudah tidur miring sambil men-scroll social media. Kemal langsung saja naik ke ranjang di sisi seberangnya dan langsung memejamkan mata. Meninggalkan Akbar yang masih terjaga.
“Mas, bangun.” Akbar menepuk-nepuk tangan Kemal pelan. Suaranya lirih berbisik.
“Ono opo Bar? Jam piro iki?”Kemal mengucek matanya sambil menoleh ke arah Akbar yang memandang di sudut ruangan, sebelah kanan kaki mereka.
“Iku Mas!” ucapnya lirih sambil tangannya menunjuk.
Seketika Kemal terhenyak, terlihat tirai yang bergerak-gerak sendiri seperti sedang dibuka-tutup. Suhu ruangan yang ber-AC juga tak terasa sejuk, justru cenderung gerah. Padahal seingat Kemal, ia mengatur suhu sekitar 20 derajat. Yang mana itu cukup sejuk untuk kamar tidur yang diisi dua orang.
“Wes, ben ae Bar. Gek ndang turu, ngko malah ngantuk nang ndalan. – Udah, biar aja, Bar. Cepat tidur, nanti malah ngantuk di jalan.” Meskipun Kemal juga menyaksikan fenomena poltergeist yang terjadi, ia tak ingin mengambil pusing.
Akbar berusaha mengikuti perkataan Kemal dengan memalingkan wajah dan menutup matanya. Terdengar lirih komat-kamit membaca doa agar tak ada gangguan lanjutan. Samar Kemal mendengar Akbar membaca surat-surat pendek dan Ayat Kursi sebagai bentuk perlindungan. Hingga beberapa saat kemudian, Kemal pun kembali tertidur. Namun sebenarnya godaan belum berakhir, bahkan belum dimulai
Sedari pergi dari peginapan, Akbar seperti memikirkan sesuatu. Bahkan ketika mereka pergi untuk makan siang dan nongkrong pun ia terlihat gelisah. Beberapa kali ia ingin berbicara tentang sesuatu namun tidak dilakukannya.
Angkringan itu terlihat sederhana namun cukup nyaman, bukan tempat yang terkesan fancy seperti café atau pun coffee shop. Piring makannya juga menggunakan anyaman rotan yang dilapisi kertas coklat untuk bungkus.
Mereka duduk lesehan bersama beberapa teman nongkrong Akbar yang asik bermain game online di handphone masing-masing. Ada juga yang asik merokok sambil bergosip sembari meminum kopi sachet. Karena penasaran, akhirnya Kemal membuka omongan.
“Lapo, Bar? Kok ket mau usrek ae?– Kenapa, Bar? Kok dari tadi gelisah?” Kemal yang sedari tadi siang merasa aneh akhirnya bertanya pada Akbar.
“Rapopo, Mas. – Gakpapa, Mas.”
“Tenan, ono opo? Ket mau we kok koyok arep ngomong tapi rasido, – Beneran, kenapa? Dari tadi kok kayak mau ngomong sesuatu tapi gak jadi terus,” ia kembali bertanya. Karena sepenuhnya mereka harus saling terbuka tentang sesuatu, mengingat mereka akan menjadi partner perjalanan jauh.
“Ngene, Mas. Hotel iku mbiyen tau ono kasus pembunuhan. Hawane singup. – Gini, Mas. Hotel itu dulu pernah ada kasus pembunuhan. Hawanya pengap.” Mau tak mau akhirnya Akbar membuka omongan, dan beberapa teman Akbar yang lain ikut mengiyakan.
“Lha kapan Bar? Wis suwi? – Lha kapan, Bar? Sudah lama?”
“Mbiyen Mas, sak durunge dadi hotel. Ono cah wedhok dipateni, gulune ditujes glathi. – Dulu, Mas. Sebelum akhirnya jadi hotel. Ada perempuan dibunuh, lehernya ditusuk pisau.”
Mau tidak mau akhirnya Akbar menceritakan kabar tentang hotel itu dan diafirmasi oleh beberapa temannya yang kebetulan duduk satu meja sembari minum kopi dan bermain game. Mereka segera menyudahi kegiatannya dan ikut nimbrung.
Meskipun kejadian itu sudah lama, tapi desas-desus keangkeran hotel itu sudah menjadi rahasia umum. Terutama bagi mereka yang suka nginap di hotel murah untuk sekedar berkencan.
Kemal tak mau ambil pusing dengan hal itu, meskipun sebenarnya ia juga bukan seorang yang pemberani. Namun ia harus bisa menguatkan diri, karena terlalu sayang jika check-out dan pindah menginap hanya karena takut.
Baginya saat ini adalah bagaimana caranya untuk tetap berfikiran positif. Karena menurutnya, hal seperti itu adalah manifestasi dari ketakutan manusia itu sendiri. Ia tak ingin memikirkan hal yang seram, karena bisa jadi itu yang akan mewujud.
Namun jika diperhatikan dengan seksama, keadaan kamar itu memang tampak lebih remang dari kamar hotel atau hotel yang pernah ditemui oleh Kemal. Mengingat dahulu ia bersekolah di sekolah pariwisata yang tentu saja tak asing dengan kondisi kamar hotel dan hotel.
Ketika normalnya kamar hotel atau hotel berwarna cerah dengan penerangan di setiap sudut ruangan. Kamar ini justru hanya menggunakan dua lampu bohlam putih di area kamar tidur dan kamar mandi. Bahkan tidak ada lampu duduk di nakas.
Perkakasnya juga tidak semodern yang dibayangkan, juga ada lukisan pemandangan pantai yang menggantung di dinding dekat televisi. Dengan meja berwarna coklat gelap dari kayu jati yang sepertinya cukup tua, yang dilengkapi beberapa laci dengan handle besi berwarna hitam.
Kemal mengurutkan ingatan-ingatan sekilas yang ia dapat tentang kamar yang akan ia tempati malam ini sambil mendengar cerita-cerita tentang gedung itu dari Akbar dan beberapa temannya. Namun semakin ia mencocokkan dan menyambungkan yang ia lihat dengan cerita, perasaan aman itu mulai terkikis menjadi khawatir.
“Wes ngene ae Bar, kowe nginep ae wes. Dadine sesuk isuk iso cek motor meneh trus langsung budhal. – Yasudah, gini aja, Bar. Kamu ikut nginap aja. Biar besok pagi bisa cek motor, terus langsung berangkat.”
Mau tidak mau Kemal akhirnya mengambil keputusan. Cerita horor yang ia dengar akhirnya sukses membuatnya bergidik. Karena pikiran aneh dan negatif sudah merasuk dan merusak optimisme Kemal.
Sebenarnya beberapa teman Akbar tersenyum-senyum simpul karena berhasil membuat Kemal bergidik. Namun mereka berani bersumpah kalau semua cerita yang mereka tuturkan benar adanya.
“Tapi aku muleh sek, Mas. Diluk, jupuk tas, wes tak siapno kok. – Tapi aku pulang dulu, Mas. Sebentar, cuma ambil tas. Sudah aku siapkan kok.”
Akbar langsung beranjak dan berpamitan untuk pulang sebentar mengambil peralatan. Motor Akbar juga terlihat cukup prima untuk menempuh perjalanan panjang. Ia menggunakan motor matic yang kemungkinan sudah diulik mesinnya. Dilengkapi dengan knalpot racing yang tak terlalu nyaring.
Sementara menunggu Akbar mengambil segala perlengkapan dan berpamitan, Kemal bercengkerama dengan teman-teman Akbar yang baru saja ia kenal. Mereka terlihat akrab dan nyambung, meskipun perbedaan umur mereka bisa dibilang cukup jauh.
Tak lupa beberapa petuah juga diberikan kepada Kemal, mengingat ia bukan ‘akamsi’ yang bisa jadi belum mengerti seluk-beluk Sidoarto dan perjalanan menuju Kujang. Tak lupa mereka juga mengisahkan beberapa kejadian-kejadian dan peristiwa yang bisa dijadikan pertimbangan. Terutama tentang keselamatan selama di perjalanan esok hari.
“Intine Mas, sampeyan karo Akbar ojo budal awan. Wedine malah kesorean terus bengi teko kono. Soale rodhok wingit area’ne. Mblebu deso’ne yo ngono, sepi dhalane. Wedi nak ono wong jahat, – Intinya, Mas sama Akbar jangan berangkat siang. Takutnya malah kesorean terus nyampenya malam. Soalnya agak angker areanya. Masuk desanya juga gitu, sepi jalanannya. Takutnya ada orang jahat di jalan,” tutur seorang pemuda bernama Muksin yang berambut cepak gaya undercut.
Teman yang lain juga ikut mengiyakan perkataan Muksin, terutama yang berasal dari kabupaten sekitar Kujang. Tak lupa mereka memberi pesan agar tidak sembarangan berucap dan membuang sampah di area yang sepi, baik itu area persawahan, kebun, maupun hutan yang akan mereka lewati.
Konon, di area hutan yang akan dilewati pernah terjadi sebuah kecelakaan tunggal yang sangat janggal. Dimana ada seorang pengendara sepeda motor menabrak batu besar yang terlihat seperti guguran daun jika dilihat dengan mata lahiriah.
Juga tentang seorang tetua yang konon moksa di hutan tersebut. Sosok itu bersemedi di dalam petilasan di tengah hutan dan tak pernah ditemukan lagi jasadnya. Hanya tersisa kain pengikat kepala dan sebuah cincin yang dahulunya pernah dikenakan.
Perbincangan menjadi seru, mulai dari petuah, cerita masa lalu, hingga tentang hobi. Mengingat Kemal adalah seorang yang suka bermain game, penikmat kopi dan seorang musisi. Tak lupa, mereka juga menanyakan tentang Kalimantan dan kota Sanaksara. Tentunya tak ketinggalan pertanyaan tentang mitos dan stereotype orang Kalimantan yang selalu dianggap kaya.
45 menit berselang, Akbar kembali dengan membawa tas ransel ukuran sedang berisi pakaian ganti, peralatan mandi, sandal jepit dan tetek-bengek lainnya. Tak lupa ia juga memakai jaket hoodie dan helm untuk Kemal.
…
Sekitar pukul 12, Kemal dan Akbar akhirnya meninggalkan angkringan dengan perut kenyang. Sejujurnya mereka berdua masih sangat ingin nongkrong sambil mengobrol banyak hal. Apalagi obrolan mitos dan horor di Kalimantan sedang seru. Namun karena paginya harus mampir ke bengkel untuk memeriksa keamanan motor dan langsung berangkat, akhirnya mereka meninggalkan angkringan.
Jalanan di Sidoarto sudah cukup lengang, hanya ada beberapa motor bersuara nyaring yang melintas dengan kecepatan tinggi. Tak ketinggalan gerombolan anak motor yang sedang asik nongkrong di pinggir jalan protokol sambil merokok.
“Helm’e digowo mlebu ae Mas. Ketimbang malah dicolong karo wong,– Helm-nya dibawa masuk aja, Mas. Dari pada malah diambil sama orang,” ucap Akbar sambil menstandar motor. Kemal hanya mengiyakan lalu masuk beriringan dengan pemuda itu.
Keadaan hotel terasa sangat sepi, hanya ada seorang resepsionis yang sedang duduk sambil menonton televisi. Resepsionis ini bisa dibilang cukup muda, dengan kumis tipis dan rambut ikal disisir samping.
Saat itu ia benar-benar sendirian, tak ada seorang pun di lobby. Kondisi ruangan sangat lengang dengan lampu bohlam kuning di setiap pojok ruangan yang diisi lirih suara televisi dengan bahasa Jawa. Sekuriti pun hanya duduk santai berjaga di parkiran sambil santai merokok.
“Ah, mungkin karena hari kerja. Makanya sepi begini.” Kemal hanya bergumam di dalam hati karena parkiran juga terlihat lengang. Hanya ada tiga motor di sana.
Mereka menyapa sang resepsionis sambil berlalu menuju lift di sebelah kiri lobby. Meskipun tidak terlalu tinggi, namun keberadaan lift sangat membantu jika ada tamu yang membawa koper besar. Dan entah mengapa, perjalanan menuju lantai tiga terasa sangat lama.
Ketika sampai dan pintu lift terbuka, di hadapan mereka benar-benar remang dan kosong. Kondisi koridor semakin temaram karena karpet berwarna gelap membuat cahaya semakin terserap dan redup. Seperti yang diceritakan sebelumnya, memang ada yang janggal di hotel ini.
Di sudut jauh terlihat ada sebuah siluet sama, tepat di ujung koridor dekat kamar mereka. Namun sepertinya Akbar tidak menyadari hal itu, sementara Kemal tetap berusaha melogikakan apa yang ia lihat. Bisa jadi itu adalah bayang binatang atau kotoran yang menempel di bohlam.
‘Cklek’
Pintu kamar terbuka dengan kondisi remang. Kemal memang hanya menyalakan lampu kamar mandi ketika meninggalkan kamar siang tadi. Sepersekian detik ia merasakan ada sesuatu yang sedang berdiri di sudut jauh, tepat di depan tirai. Namun ternyata tidak ada apa-apa setelah lampu kamar dinyalakan.
“Piye, Mas? Mau arep turu dewe. Nak wes ngene sampeyan wani? – Gimana, Mas? Tetap mau tidur sendiri? Kalau kayak sekarang sampeyan berani?” ucap Akbar sambil cengegesan.
“Pas awan mau rodhok enak hawane, saiki malah singup. Untung we gelem ngancani. – Pas siang tadi agak enak hawanya, sekarang malah sumpek kayak banyak orang. untung kamu mau nemenin.”
Kemal menjawab singkat sambil berlalu ke kamar mandi untuk sekedar buang hajat dan cuci muka. Tak ada mandi malam ini karena sudah terlalu lelah. Ia cukup kekurangan jam tidur hari ini, ditambah besok pagi harus segera bangun.
Sekembalinya dari kamar mandi, Akbar terlihat sudah tidur miring sambil men-scroll social media. Kemal langsung saja naik ke ranjang di sisi seberangnya dan langsung memejamkan mata. Meninggalkan Akbar yang masih terjaga.
…
“Mas, bangun.” Akbar menepuk-nepuk tangan Kemal pelan. Suaranya lirih berbisik.
“Ono opo Bar? Jam piro iki?”Kemal mengucek matanya sambil menoleh ke arah Akbar yang memandang di sudut ruangan, sebelah kanan kaki mereka.
“Iku Mas!” ucapnya lirih sambil tangannya menunjuk.
Seketika Kemal terhenyak, terlihat tirai yang bergerak-gerak sendiri seperti sedang dibuka-tutup. Suhu ruangan yang ber-AC juga tak terasa sejuk, justru cenderung gerah. Padahal seingat Kemal, ia mengatur suhu sekitar 20 derajat. Yang mana itu cukup sejuk untuk kamar tidur yang diisi dua orang.
“Wes, ben ae Bar. Gek ndang turu, ngko malah ngantuk nang ndalan. – Udah, biar aja, Bar. Cepat tidur, nanti malah ngantuk di jalan.” Meskipun Kemal juga menyaksikan fenomena poltergeist yang terjadi, ia tak ingin mengambil pusing.
Akbar berusaha mengikuti perkataan Kemal dengan memalingkan wajah dan menutup matanya. Terdengar lirih komat-kamit membaca doa agar tak ada gangguan lanjutan. Samar Kemal mendengar Akbar membaca surat-surat pendek dan Ayat Kursi sebagai bentuk perlindungan. Hingga beberapa saat kemudian, Kemal pun kembali tertidur. Namun sebenarnya godaan belum berakhir, bahkan belum dimulai
Sekian lanjutan cerita malam ini, Gan. Selamat bermalam Minggu!!

namakuve dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas