Kaskus

Story

tyasnitinegoroAvatar border
TS
tyasnitinegoro
KEMBANG KANTHIL 🔥
KEMBANG KANTHIL 🔥



KEMBANG KANTHIL
-DENDAMNYA MENGHABISI SEMUA KELUARGANYA-




emoticon-Takutemoticon-Takut

Di sebuah rumah yang berdiri di atas sebidang tanah dengan luasan 800an meter persegi itu tampak mewah pada tahun itu. Rumah bercat dominan kuning dengan pagar tembok batu bata setinggi dada orang dewasa mengelilingi. Di halaman yang bisa di masuki tiga mobil sekaligus itu terdapat dua pohon mangga yang rimbun, menambah suasana rumah terkesan lebih sejuk dan asri. Tepatnya di dalam ruangan yang biasa untuk menerima tamu, Anton tidak sendirian. Dia bersama wanita paru baya sedang membicarakan sesuatu. Keduanya tampak serius.

“Buk, sudah tau belum kalau Rita sudah balik?”

“Katanya siapa, Le?” ucap Warni, wanita umur 50an, ibu kandung Anton, balik bertanya.

“Gak reti, Buk. Katanya sekarang lagi di rumahnya Mayang.” jawab Anton sembari menyesap rokok filternya.

Warni perlahan membuka jendela, menatap lurus keluar tertuju pada sebuah rumah kosong tak berpenghuni, tepatnya di samping rumah sederhana milik Mayang. Membayangkan dalam pikirannya satu atau dua tahun yang lalu, di mana Anton anaknya pertama kali menempati rumah tersebut bersama Rita, menantunya.

Namun sebuah keputusan sepihak yang diambil Warni, membuat Anton dan Rita harus sementara pisah ranjang karena suatu hal. Awalnya Anton tak mengerti, kenapa Ibunya sampai harus meminta Anton untuk meninggalkan istrinya. Padahal Anton sendiri sangat mencintai Rita, walaupun semua keluarganya menentang, tapi setelah mengetahui kabar miring yang disampaikan Ibunya, Anton mempercayainya.

“Buk, kok malah melamun? Mikir apa?”
Lamunan Warni seketika buyar, mendengar suara berat milik Anton yang tiba-tiba saja mengejutkannya. Tapi sebentar kemudian, senyum tipis mengembang menutupi keresahan di hadapan anaknya.

“Ora, Le. Ibuk gak mikir apa-apa. Hanya teringat kejadian dulu. Tapi sudahlah. Lupakan saja.” jawab Warni menutupi.

“Oalah, sing uwes yo uwes, Buk.” (Yang sudah ya sudah, buk) sahut Anton menghibur.

Warni kemudian mendekat ke arah Anton, menatapnya seraya menepuk lembut pundak anaknya. Dera nafasnya beberapa kali keluar dari dada Warni. Ia tak ingin kebahagiaan anaknya terenggut dengan kehadiran menantunya kembali, yang sangat di bencinya sebab telah mengingkari janji pernikahannya dengan anaknya.

Suasana semakin ramai di halaman depan rumahnya. Di samping waktu sudah menunjukkan waktu ashar, beberapa tetangga mulai berdatangan, karena beberapa jam lagi Warni akan melangsungkan acara syukuran untuk kakaknya yang baru saja mendapatkan proyek besar. Para tetangga, saudara saling membantu untuk mempersiapkan acara tersebut.

Sementara, dari dalam sebuah rumah sederhana, tepatnya hanya berjarak tak sampai 50 meteran dari rumah Anton. Sepasang mata tengah mengawasi dari balik jendela. Sorot mata milik wanita umur 25an itu tajam. Selaras dengan alisnya yang mengerucut kaku. Dadanya begitu cepat naik turun, tarikan nafasnya terkadang berat, seperti menyimpan sebuah beban yang berat.

Lumayan lama ia berdiri sembari terus mengawasi semua kegiatan yang ada di rumah Warni. Ia baru beranjak dan menghenyakkan tubuhnya di sofa, ketika seorang perempuan seumuran datang dari belakang.

“Gimana, May?” tanya perempuan itu tampak tak sabar.

“Keluarga mertuamu, Rit. Nanti malam mau ngadain syukuran buat Pakdhenya Anton.” jawab pelan wanita yang di panggil May atau Mayang.

“Sopo, May? Pakdhe Sulis, po?” sahut Rita dengan wajah tenang.

“Iyo, jarene bar oleh proyek geden.” (Katanya habis dapet proyek besar) sahut Mayang sedikit menjelaskan.

“Apa kamu yakin Rit, mau kesana?” sambung Mayang bertanya setelah beberapa saat dirinya melihat Rita melamun.

“Iya, May. Aku nanti malam mau menemui Mas Anton mau ngajak rujuk lagi.” jawab Rita mantap.

“Apa kamu benar-benar sudah siap? Kamu juga tau sendiri kan, bagaimana watak mertua dan semua keluarganya!” ucap Mayang memastikan kembali.

Tarikan nafas berat akhirnya terdengar. Rita mendadak merasai sakit dan nyesek pada dadanya. Kepalanya menyandar sembari kedua tangannya mengusap lembut perutnya yang sudah membesar. Manakala dirinya teringat dengan kejadian satu tahun silam. Bagaimana dirinya di campakkan oleh mertuanya sendiri di depan suaminya. Apalagi tanpa bukti yang jelas. Membuat Rita waktu itu harus menerima kenyataan pahit.

Tak lama Rita bangun dari duduknya, kemudian berjalan ke arah meja kecil yang ada di samping Mayang berdiri. Mengambil bungkusan berwarna coklat corak batik dan meremasnya.

“Sepertinya Bu Warni dan suamiku sudah membenciku, May. Tapi apa salah, kalau aku punya niat baik untuk memperbaiki semuanya?” ucap Rita lirih penuh rasa sesal.

“Terus kamu mau gimana, Rit?” tanya Mayang pelan.

Rita hanya diam. Matanya menatap jauh keluar jendela. Pikirannya kosong, jiwanya terguncang, mendapati kenyataan pahit harus dirinya terima setelah satu tahun meninggalkan suaminya oleh suatu hal. Sedangkan tepat di bulan itu, perut Rita sudah menginjak umur hampir 9 bulan.

“Sementara aku numpang di rumahmu dulu ya, May. Boleh gak? Besok kalau udah selesai urusannya, aku juga balik kok.” ucap Rita penuh harap.

Mayang menghela nafas berat dan mengiyakan permintaan Rita. Bukan persoalan Rita menumpang yang dirinya pikir berat, tetapi keadaan yang bakal terjadi nanti, setelah semua orang tahu bahwa Rita akan hadir di acara keluarga besar suaminya.

***


Merangkak Sore, suasana di rumah Warni semakin ramai. Tampak terdengar suara alunan musik terdengar menggema, karena acara sebentar lagi akan dimulai. Walaupun ini hanya syukuran biasa, tapi bagi Warni yang notabene dari keturunan keluarga balungan wesi, tak mau acaranya terlihat murahan.

Menjelang malam, kesibukan semakin terlihat. Tawa ceria, bahagia terpancar dari wajah-wajah tamu yang datang, terutama Sulis. Karena malam itu, dirinya bakal melangsungkan acara besar karena memenangkan proyek besar.

Berbeda dengan Warni, ulasan senyum dari bibirnya terlihat kaku. Matanya menyirat kecemasan, takut menyadari menantunya akan datang dalam acara ini. Dirinya tahu Rita berada di rumah Mayang, untuk itu Warni khawatir jika terjadi demikian. Apalagi semua keluarga besarnya datang, terutama ke empat kakaknya yang sedari dulu tak menyukai Rita setelah menerima kabar miring tentangnya. Kabar perselingkuhan dengan mantan kekasihnya yang berujung hamil.

Sementara Rita sendiri sudah tampak ayu dengan setelan kebaya yang dikenakannya. Dengan rambut disanggul dan hiasan manik-manik yang menghiasi. Membuat semakin pangling saja. Semua itu ia lakukan setelah mendengar dari Mayang, jika malam nanti suami dan semua keluarga besarnya bakal melangsungkan sebuah acara.

“Rit. Kamu sudah yakin? Mau ke sana beneran?” tanya Mayang yang melihat penampilan Rita yang berbeda malam itu.

“Bener, May. Aku sudah menurunkan derajatku untuk ini. Semoga kabar baik yang akan aku dapatkan.” jawab Rita yakin dan mantap.

“Yang aku khawatirkan, kalau sampai semua keluarga besarnya tahu kamu datang, Rit. Bakal ada keributan.”

Kali ini Rita terdiam setelah mendengar ucapan Mayang. Membuat wajah Rita berubah. Bagaimana pun kata-kata Mayang barusan ada benarnya juga. Mayang adalah orang yang sangat dekat dengan keluarga Warni. Hingga kabar miring yang menimpa Rita pun dia tahu sebelum menyebar di desa.

“Aku harus datang, May. Aku gak mau mencari keributan, justru aku mau memperbaiki ini semua. Tau sendiri kan, kalau aku sedang hamil anaknya Mas Anton? Intinya aku juga mau meminta pertanggungjawaban dia sebagai suami” ujar Rita mantap.

Giliran Mayang yang terdiam menghela nafas. Dalam batinnya ia meragukan keinginan Rita bisa terwujud. Ia tahu betul siapa itu Warni, Anton dan saudara-saudara sekandung Warni. Tak akan gampang untuk menerima Rita lagi, walaupun Mayang juga mengakui jika Rita tak bersalah atas semua masalah yang terjadi di rumah tangga mereka.

Mayang pun tak bisa mencegah, ia hanya menatap kepergian Rita ke rumah mertuanya. Rasa tak tega menggurat pada wajahnya, memikirkan Rita nantinya.

Di halaman luas rumah Warni, tampak puluhan orang sudah berkerumun, mengitari meja prasmanan yang di atasnya sudah tersaji beberapa lauk dan makanan. Sedangkan yang sedang duduk di kursi berjejer, tampak tiga pria dan satu wanita atau tepatnya Pakdhe dan Budhenya Anton, terlihat sumringah, terlihat dari pancaran wajahnya.

Namun suasana meriah itu tiba-tiba berubah, manakala Warni melihat kedatangan Rita. Hal itu membuat Warni berjalan sedikit cepat untuk mendatangi Rita yang sedang berdiri. Seketika semua mata tertuju ke arah Warni setelah dirinya melontarkan kata-kata kasar kepada Rita, yang membuat Anton saat itu juga sedikit terkejut.

“Dasar perempuan gak tau diri! Mau apa lagi kamu kesini!” sengit dan keras kalimat yang keluar dari bibir Warni.

“Saya kesini mau menjelaskan semuanya, Bu. Saya pengen bisa hidup bareng lagi sama Mas Anton.” sahut Rita sedikit bergetar.

“Dan saya kesini juga mau meminta pertanggungjawaban Mas Anton atas bayi yang saya kandungan ini. Karena ini adalah darah dagingnya Mas Anton juga.” sambung Rita masih dengan bibir bergetar.

“Aku wes gak duwe bojo! Iku dudu anakku! Njaluk tanggung jawab karo mantanmu ojo karo aku!” (Aku sudah tidak punya istri! Dan itu juga bukan anakku! Kalau mau meminta pertanggungjawaban, ya minta saja sama mantanmu, jangan kesini!) lebih sengit dan keras kali ini yang di ucapkan Anton.

Suasana pun semakin gaduh kala dua lelaki yang sedari duduk mengamati, ikut berdiri, melototkan mata pada Rita.

“Mas Anton, ini bukti kalau aku serius. Ini tanda tali tresnoku!” ucap Rita sembari meletakkan bungkusan warna coklat corak batik yang ia bawa sedari awal datang.

Rita sudah tak peduli lagi dengan tatapan penuh amarah dari saudara-saudara Warni maupun Anton, suaminya. Dirinya sudah terlalu malu untuk mundur.

Sejenak suasana hening. Semua terdiam menunggu reaksi dan ucapan dari Anton yang baru saja terdiam setelah Rita mengulurkan bungkusan di tangannya. Sampai tak lebih dari satu menit, Anton bereaksi. Menatap tajam pada Rita, sebelum berjalan menuju ke arahnya. Karena setelahnya, Anton menerima bungkusan itu dan kemudian membuangnya tepat di hadapan Rita.

“Minggat kowe seko kene!” (Pergi kamu dari sini!) ketus dan penuh amarah kalimat yang di ucapkan Anton kepada Rita, sebelum berjalan menuju ke dalam tanpa mengucap kalimat apapun lagi.

“Wes, Nduk. Sudah tau kan jawabannya!” seru seorang wanita, Budhenya Anton, Murni.

Walau terdengar sengak, tetapi bukan itu yang membuat hati Rita merasakan sakit teramat dalam, tetapi dari sikap suaminya lah yang membuat wajah Rita merah padam.

Rita pun segera berbalik dan melangkah keluar dengan penuh rasa kecewa dan sakit hati yang sangat mendalam. Tapi belum juga kakinya keluar halaman, satu cengkraman tangan menahan Rita.

“Nduk, iki barangmu ketinggalan.” (Nduk, ini barangmu tertinggal) ujar Murni kembali.

Rita mengulurkan tangannya, menerima kembali bungkusan yang sudah berantakan. Beberapa pasang mata terbelalak, ketika melihat isi dalam bungkusan itu, seperti terkejut. Menandakan ada sesuatu yang dirasa janggal dibalik isi dalam bungkusan yang dibawa Rita.

Sepeninggalan Rita, acara syukuran yang awalnya gaduh, kini di lanjutkan kembali. Kegaduhan yang sempat menunda acara, telah tergantikan dengan suara gelak tawa bahagia dari orang-orang yang diundang. Tapi tidak untuk orang tua yang sedari tadi mengamati kejadian beberapa menit yang lalu. Wajahnya terlihat cemas.

“Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Rita.” ucapnya dengan lelaki lebih muda darinya.

“Ada apa Mbah? Kok ngomongnya gitu.” sahut lelaki di sebelahnya penasaran.

“Perasaanku gak enak ae, Bi.” jawab kembali sosok lelaki tua yang di panggilnya Mbah atau biasa warga setempat memanggilnya Mbah Malik.

“Lha ada apa, Mbah?” tanya Abi penasaran.

Mbah Malik menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya yang mulai dipenuhi keriput, tampak tegang. Tangannya kemudian mematik korek yang sedari tadi ia pegang, kemudian membakar sebatang rokok yang baru saja diselipkan di bibirnya.

“SEKAR PATI” ucap Mbah Malik sebelum menghembuskan asap rokoknya ke udara.

Terlihat Abi mengangguk beberapa kali. Ia tak mengerti tentang maksud Sekar Pati yang baru saja diucapkan Mbah Malik. Tapi, jika dilihat dari getaran pada suaranya, berarti menandakan bahwa itu bukan perkara yang baik.

“Apa itu, Mbah?” tanya Abi, tak lagi mampu menahan rasa penasarannya.

“Aku durung iso mestheke. Nanging sing jelas ora apik nolak ketulusane uwong. Opo maneh karo kembang kantil sing ana ing jero bungkusan mau. Iku artine tondo tali tresno jero nikahan. Nek jawane, kantil utawa kemantil-kantil iku artine tansah eling nengdi wae utowo tetep nduweni sesambungan kenceng sanadyan alame wis seje. Mulo iku, menawa tekan sesuk ono kedadeyan sing ora-ora, iso simbah pestheke, yen keluargane Warni bakal ono masalah gede”

(Aku belum bisa memastikan. Namun yang jelas tidak baik menolak ketulusan seseorang. Apalagi dengan kembang kantil yang ada di dalam bungkusan tadi. Itu adalah tanda tali tresno dalam pernikahan. Dalam bahasa jawa, kantil atau kemantil-kantil yang artinya selalu ingat di manapun berada atau tetap mempunyai hubungan yang erat walaupun alamnya sudah berbeda. Makanya itu, jika sampai ada kejadian yang tidak-tidak, bisa simbah pastikan, kalau keluarga Warni sedang dalam masalah besar.)

“Kembang kantil. Beda alam. Keluarga Warni. Masalah besar.” gumam Abi, setelah sedikit mengerti penjelasan dari Mbah Malik.

“Uwes, gak usah dipikir. Ini bukan urusanmu, Bi. Jangan ikut campur.” sahut Mbah Malik setelah sedikit menjawab rasa penasaran Abi, dirinya bangkit dan mengajak Abi untuk segera pulang.


***



Hawa dingin dirasa Mayang ketika sayup angin malam menyapu kulitnya. Menyadarkan Mayang jika malam merangkak larut. Ia pun segera meninggalkan kediaman Warni setelah dirinya selesai membantu dalam acara tersebut. Tapi belum juga Mayang sampai rumahnya, ketika ia melewati jalanan sedikit berlumpur karena genangan air hujan, tepatnya setelah melewati rumah kosong milik Warni. Mayang terdiam sebentar. Menajamkan netranya ke arah rumah itu berada. Keningnya semakin berkerut, manakala semakin jelas matanya mendapati bayangan di bagian belakang rumah. Bayangan itu semakin jelas ketika bergerak, berjalan ke arah belakang rumahnya.

Sempat berpikir untuk menghampiri, namun tertahan oleh suara ramai dari arah rumah Warni. Mayang pun menduga jika bayangan itu adalah salah satu pemuda atau tetangga yang sedang melintas. Akhirnya Mayang putuskan untuk pulang, mengingat besok pagi dirinya masih ada pekerjaan lain yang sudah menunggunya.

Sesampainya Mayang di rumah, untuk memastikan saja, beberapa kali ia memanggil pelan nama Rita, namun tak ada sahutan. Saat itu, Mayang hanya menduga kalau Rita belum balik atau lagi mencari tempat untuk menyendiri. Rasa lelah membuat tubuh serta mata Mayang tak mampu bertahan. Ia pun tertidur tanpa menunggu Rita kembali.

Entah pukul berapa malam itu, yang pasti Mayang terbangun dari tidurnya. Mendapati jika Mayang mendengar suara lirih orang menangis. Suaranya benar-benar lirih hingga memaksa Mayang untuk menajamkan pendengarannya. Mayang segera bangkit, tanpa ragu melangkah keluar ingin memastikan.

“Loh, Rit. Kamu dari mana?” tanya Mayang ketika melihat Rita duduk dengan sesenggukan.

“Gak dari mana-mana, May. May aku minta maaf ya kalau selama ini merepotkan.” ucap Rita memelas.

Sebentar Mayang terdiam, meresapi kalimat yang baru saja Rita ucapkan.

“Ya sudah, Rit. Ayo istirahat dulu. Tidur. Jaga kondisimu juga, lagi hamil besar gitu kok.” ujar Mayang menenangkan.

“Gak May. Aku ameh balik ae bengi iki.” pinta Rita.

“Loh jangan gila kamu, Rit. Ini sudah larut malam, lho.” ujar Mayang tak mengerti.

“Gak papa, May. Rumahku kan deket.” Jawab Rita.

“Mbok besok pagi aja, aku anter sekalian.”

“Gak usah, May.” tungkas Rita.

Mayang semakin bingung mendengar Rita berpamitan malam itu. Ia tahu, jika rumah Rita berada di ujung desa yang berbatasan dengan desa sebelah, jika ditempuh dengan berjalan kaki akan memakan waktu mungkin sekitar kurang dari 10 menitan. Tapi apakah wajar, wanita hamil besar jalan malam-malam sendirian di kampung yang notabene jarak rumah satu ke rumah lain itu masih berjauhan. 

“Besok ae, Rit. Ini udah malam banget.” Kejar Mayang, berharap Rita mau mendengarkan ajakan Mayang.

Rita berganti diam. Wajahnya menunduk, menatapi kembang kantil yang ada di genggamannya. Tapi ada benarnya juga ucapan Mayang kali ini. Namun selang satu menit ketika Rita tak menjawab, ia bangkit dan menatap datar Mayang, sebelum melangkah keluar tanpa mengucap apa pun. 

Suara serangga malam mengiringi perjalanan Rita malam itu setelah berpamitan dari rumah Mayang. Bahkan dirinya tak menyangka jika Anton sampai setega itu, apalagi dengan fitnah mertuanya yang membuat semua keluarga suaminya membenci dan tak mau menerima Rita kembali. Hatinya hancur, rasa dendam mulai menyelimuti jiwanya, rasa ingin mengakhiri hidupnya pun mulai tumbuh, tapi tertahan oleh satu nyawa yang sedang bersarang di perutnya. Itulah salah satu alasan Rita untuk tetap bertahan.

Awalnya Mayang ingin mencegah, tapi setelah dikejar keluar, Mayang sudah tak mendapati Rita di sana. Aneh, di mana Rita? Yang baru beberapa ratus detik tadi keluar, tiba-tiba menghilang. Sudah beberapa tempat yang ada di sekitar rumah Mayang datangi, namun tetap saja tak menemukan Rita. Mayang akhirnya memilih masuk, ingin mengistirahatkan tubuhnya yang sempat terganggu. Namun dalam benaknya, ada sedikit rasa khawatir dan was-was. Akhirnya ia putuskan untuk mencari Rita lebih jauh lagi. 

Tak lama setelah 50 meteran Mayang mengayuh sepedanya, ia menemukan sosok Rita yang sedang berjalan terhuyung. Dengan ayunan cepat ia menyusul Rita. Malam itu tangisan Rita mengiringi mereka menyusuri jalanan sepi nan gelap. Hingga rasa lelahnya menuntun mereka ke rumah sederhana milik Rita.

Sesampainya di rumah, rasa lelah membuat tubuh serta mata Mayang tak mampu bertahan. Ia pun tertidur dengan terlelap, meninggalkan Rita sendiri dalam keheningan dan kesunyian malam. Malam di mana akan terjadinya peristiwa mengerikan terjadi.

****



Bersambung part 2

KEMBANG KANTHIL PART 2.1
KEMBANG KANTHIL PART 2.2
KEMBANG KANTHIL PART 3.1
KEMBANG KANTHIL PART 3.2
KEMBANG KANTHIL PART 4.1
KEMBANG KANTHIL 4.2
KEMBANG KANTHIL PART 5
KEMBANG KANTHIL PART 6 END


Pembaca yang baik biasanya ninggalin komentar 😁😁

emoticon-Ngakak
Diubah oleh tyasnitinegoro 21-09-2023 21:40
69banditosAvatar border
kamalkusAvatar border
lifi1994Avatar border
lifi1994 dan 39 lainnya memberi reputasi
34
11.9K
68
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
tyasnitinegoroAvatar border
TS
tyasnitinegoro
#2
KEMBANG KANTHIL PART 3.1
kaskus-image

Sesampainya di depan rumah, Mirna terlihat tertatih berjalan masuk ke dalam rumah. Ia lalu mengambil gelas dan menuangkan air putih dalam kendi. Satu dua tiga tegukan, sedikit mengobati ketegangan di wajahnya. Tapi degupan jantungnya masih berdetak tak menentu, kala teringat sosok Rita dalam pikirannya.

Warni yang melihat anaknya begitu pucat, lalu memberondong pertanyaan.

“Nduk, seko ndi? Kok pucet ngono, koyo bar di oyak setan?” (Nduk, dari mana? Kok pucat begitu, kaya habis di kejar setan?) tanya Warni, ibunya.

“Saking masjid, buk. Wangsul kok udan, dadi peplayon niki.” (Dari masjid, buk. Pulangnya kok malah ujan, jadi lari tadi) jawab Mirna beralasan.

“Seko masjid kok bali-bali koyo wong keweden?” (Dari masjid kok pulang-pulang kayak orang ketakutan?) tanya Warni sekali lagi, kali ini dengan nada sedikit tinggi.

Belum sempat Mirna menjawab, Anton lebih dulu menyela, membuat Mirna dan Warni secara bersamaan memandang Anton.

“Buk! Mbak! Saiki ibuk di kon moro neng omahe Pakde Mardi. Penting jare.” (Buk! Mbak! Sekarang ibuk di suruh ke rumah Pakde Mardi. Penting katanya) ucap Anton dengan wajah panik.

“Enek opo, Le? Kok awakmu koyo panik ngono?” (Ada apa, Nak? Kok kamu kayak panik gitu?) tanya Warni.

“Pakde Buk! Pakde gerah!” (Pakde buk! Pakde sakit) jawab Anton.

Melihat wajah anaknya yang begitu panik, Warni lalu buru-buru ke rumah Mardi setelah berpamitan dengan kedua anaknya.

Mirna bangkit lalu berjalan ke arah jendela ruang tamu. Pandangannya menatap lurus ke depan. Ingatannya kembali pada beberapa menit yang lalau, pada saat melihat sosok Rita berdiri di depan rumah Mardi, dan setelahnya terdengar suara jeritan dari dalam rumah.

“Opo sik di omongke Abi kui benar?” (Apa yang di katakan Abi itu benar?) gumam Mirna, yang tanpa sadar Anton mendengarnya.

“Eneng opo, Mbak? Kok tekan Mas Abi barang?” (Ada apa, Mbak? Kok sampai sampai mas Abi segala? Tanya Anton penasaran.

“Ton, jawaben jujur! Sakjane Rita kui salah opo ora?” (Ton, jawab jujur! Sebenarnya Rita itu salah apa tidak)

Mendengar pertanyaan Mbakyunya, Anton mengerutkan dahi. Tak lama wajahnya berubah menunjukkan ketidaksukaan.

“Lha kok malah ngomongin Rita to, Mbak!” (Kenapa malah ngomongin Rita sih, Mbak?) jawab Anton ketus.

“Mbak yakin, Pakde Mardi loro iki ono hubungane karo arwahe Rita. Mergo aku mau ra sengojo nemoni arwahe Rita ndek omahe Pakde.” (Mbak yakin, Pakde Mardi sakit ini ada hubungannya sama arwahnya Rita. Karena mbak tadi gak sengaja bertemu arwahnya Rita lagi di depan rumahnya Pakde) terang Mirna menjelaskan.

Bahkan setelah Mirna menjelaskan panjang lebar tentang hal itu, Anton tetap tidak percaya. Ia malah menuduh, jika kakak perempuannya ini telah di pengaruhi oleh Abi. Terjadi keributan antara keduanya. Mereka saling kekeh pada keyakinan masing-masing.

Mirna sadar, ia adalah anak paling tua, ia mengalah dengan memilih duduk di sofa ruang tamu sembari meredakan emosinya. Keduanya saling diam, hanyut dalam pikiran masing-masing.

Tapi tak lama dari itu, mereka di kejutkan oleh suara keras dari luar rumah. Mirna kemudian bangkit, berjalan mendekat ke arah jendela ruang tamu, memastikan.

“Opo kae, Mbak?” (Apa itu, Mbak?) tanya Anton sambil bangkit dari duduk dan menghampiri Mirna.

“Gak reti.” (Gak tahu) jawab Mirna sambil menyapu pandangannya ke luar dari balik jendela.

Sesaat suasana hening tercipta, menyelimuti dalam rumah Warni. Namun beberapa detik kemudian, keduanya saling tatap, ketika suara bergedebuk layaknya benda yang terjatuh ke tanah terulang kembali.

Mirna kemudian membuka pintu. Hanya gelap dan dingin yang ia rasakan dan lihat di luar. Anton yang penasaran, akhirnya ikut keluar rumah, mengedarkan pandangannya untuk menatap keluar. Tak ada apa pun yang tertangkap matanya kecuali pepohonan dan seluruh area pekarangan. 

Namun berbeda dengan Mirna. Pandangannya seketika membeku ke arah sebuah rumah kosong tak berpenghuni. Di mana ia melihat seseorang tengah duduk di kursi kayu sambil menggendong sesuatu. Sosok itu semakin jelas terlihat ketika lampu penerangan jalan itu berkedip-kedip. Apalagi ketika sosok Rita berdiri dan menghampiri sosok terbungkus pocong tanpa ikat kepala, yang tergantung di kayu blandar rumah. Hal itu membuat Mirna semakin ketakutan.

“Mbak....Mbak...?” panggil Anton karena heran melihat wajah kakak perempuannya berubah menegang.

Bahkan suara panggilan adiknya itu tak membuat Mirna bergerak. Ia masih terpaku, matanya terus saja memperhatikan ke arah rumah, di mana wajah sosok itu semakin jelas terlihat. 

“Rita!” gumam Mirna lirih.

“Mbak!” sahut Anton kaget, mendengar gumaman kakak perempuannya.  

“Bojomu, Ton! Rita kae lagi lingguhan karo gendong anake!” (Istrimu, Ton! Itu Rita lagi duduk sambil gendong anak!) suara Mirna lirih seperti ketakutan.

Tapi berkali-kali Anton memicingkan mata mengikuti arahan Mirna, ia tak melihat apa pun. Hanya gelap dan rumah kosong.

Anton yang merasa di permainkan Mirna, sempat ingin marah. Namun tiba-tiba Anton terjingkat kaget oleh sebutan takbir keras Mirna di sampingnya.

“Allahhuakbar!”

“Allahhuakbar!”

Hal itu membuat Anton panik. Ia pun menarik lengan Mirna ke belakang, masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.

“Pakde Mardi, Ton! Pakde Mardi....!” desis Mirna sambil bibirnya bergetar.

“Mbak! Pakde Mardi kenopo (kenapa), Mbak?” seru Anton.

“Pakde di gantung neng omah kae mau!” (Pakde di gantung di rumah itu tadi) jawab Mirna dengan suara bergetar.

Anton hanya menggelengkan kepalanya. Ia tetap tak percaya dengan apa yang telah di ucapkan kakaknya. Anton pun lalu keluar, berjalan mendekat ke arah rumah yang di maksud Mirna sambil berkata lantang.

Sedangkan Mirna yang masih di rundung ketakutan, tak mampu menahan sang adik, ia pun bergegas mengejar hingga sampai di halaman rumahnya.

Berkali-kali Mirna memanggil Anton yang sedang melempari rumah bekas itu sambil berteriak. Tetapi Anton seakan membiarkan ucapan kakaknya. Ia terus berjalan semakin dekat sebelum akhirnya berhenti tepat di depan rumah sambil menantang.

“Rit! Rita! Njedulo! Nek wani njedulo! Jare koe mateni pakde Mardi!” (Rit! Rita! Keluarlah! Kalo berani keluar! Katanya kamu membunuh pakde Mardi!) teriak Anton sengit.

Awalnya tak ada apa pun yang janggal. Bahkan apa yang di lihat Mirna beberapa menit yang lalu, hilang. Namun tak lama kemudian, Mira terpaku di tempatnya. Tubuhnya gemetar, bukan karena Anton yang semakin menggila, namun Mirna melihat sosok perempuan berpakaian layaknya pengantin berdiri tepat di belakang Anton.

Ingin rasanya Mirna berteriak, tapi mulutnya tiba-tiba saja seperti terkunci. Mirna pasrah dalam ketakutan, menyaksikan sosok Rita mendekati Anton.

Tapi anehnya, ketika sosok Rita sudah berdiri tepat di samping Anton, sosok Rita tak berbuat apa-apa. Ia hanya berdiri tanpa melakukan apa pun. Bahkan Mirna melihat, kalau sosok Rita seperti menangis ketika Anton meninggalkan area rumah bekas itu.

Mirna dan Anton akhirnya kembali masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam, Mirna mendapatkan ocehan pedas yang keluar dari mulut adiknya. Sempat terjadi keributan antara keduanya, tapi tak lama terhenti ketika terdengar suara ketukan pintu dari arah depan.

“Pripun buk? Pakde sakit nopo?” (Gimanaa buk? Pakde sakit apa) tanya Anton pada ibunya yang baru saja pulang.

“Jare tibo neng kamar mandi terus semaput. Tapi iki mau terus di gowo neng rumah sakit.” (Katanya jatuh di kamar mandi terus pingsan. Tapi ini tadi langsung di bawa ke rumah sakit.) jawab Warni setelah pantatnya sudah menyentuh sofa.

“Bariki ibuk arep neng rumah sakit. Cah loro arep melu opo jogo omah?” (Setelah ini ibuk mau ke rumah sakit. Kalian berdua mau ikut atau jaga rumah?) sambung Warni.

Keduanya menggeleng. Alasan utama Mirna kenapa tidak mau ikut, karena dia takut kalau nanti ia di perlihatkan kejadian yang lebih mengerikan lagi.

Sepeninggalan Warni, keheningan malam itu menuntun Mirna dan Anton merebahkan tubuh di kamar masing-masing. Bagi Mirna, semua kejadian yang baru saja di alaminya seperti sebuah pertanda. Kalau keluarganya sedang tidak baik-baik saja. Apalagi baru kali ini Mirna berurusan dengan hal gaib yang bersangkutan dengan keluarganya. Terlebih dengan arwah Rita yang tiba-tiba saja gentayangan menyambangi rumah pakdenya.

Terlalu lelah memikirkan hal yang tak masuk akal, Mirna memilih untuk memejamkan mata.

 

***



Diubah oleh tyasnitinegoro 09-09-2023 19:35
69banditos
namakuve
bebyzha
bebyzha dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.