- Beranda
- Stories from the Heart
DESA DIBALIK KABUT [HORROR STORY] [Kompetisi KGPT]
...
TS
jurigciwidey
DESA DIBALIK KABUT [HORROR STORY] [Kompetisi KGPT]
SAMPURASUN
Setelah sebelumnya ane menamatkan cerita Rarasukma, yang Insyallah Ide ceritanya akan di filmkan karena sudah dibeli oleh salah satu PH pada bulan Juli kemarin, yang ceritanya bisa kalian baca disini.
Sebelum ane bercerita kelanjutan tentang thread di atas, (Karena banyak yang request untuk melanjutkan ceritanya).
Ane mau bercerita lagi, sebenarnya cerita ini sudah lama ane buat, mungkin ada juga beberapa yang sudah baca cerita ini di tempat lain.
Namun, ane akan sebarkan ceritanya disini.
Semoga kalian bisa terhibur dengan cerita yang ane buat, sambil menunggu kelanjutan cerita Rarasukma yang ane buat.
NOTE : JANGAN ADA YANG MENGUPLOAD TANPA SEIZIN ANE, KARENA BEBERAPA KALI ADA YANG MENGUPLOADNYA KE YOUTUBE TANPA IZIN SEHINGGA TERPAKSA ANE TIDAK MELANJUTKAN CERITA YANG ANE BUAT
NOTE : JANGAN ADA YANG MENGUPLOAD TANPA SEIZIN ANE, KARENA BEBERAPA KALI ADA YANG MENGUPLOADNYA KE YOUTUBE TANPA IZIN SEHINGGA TERPAKSA ANE TIDAK MELANJUTKAN CERITA YANG ANE BUAT
Quote:
JANGAN LUPA, SUPPORT CERITA PENDEK ANE YANG IKUT KOMPETISI KUNCEN DISINI :
RUMAH
RITUAL TARIK JANIN - KUNCEN
RUMAH
RITUAL TARIK JANIN - KUNCEN
Maka dari itu, selamat menikmati ceritanya.
![DESA DIBALIK KABUT [HORROR STORY] [Kompetisi KGPT]](https://s.kaskus.id/images/2023/08/25/1454678_20230825011653.png)
Spoiler for BAB 1 : PENJARA:
“ABDI BANGUN!!!!”
Trang trang trang
Seorang petugas dengan kasarnya memukul-mukul pintu sel yang aku tempati, ruangan sel dengan ukuran 3x3 meter dengan satu kasur kecil tempat aku tidur, dan toilet kecil yang dipisah oleh tembok yang setinggi satu meter.
“HEY, JANGAN MELAMUN SAJA, AYO BANGUN!!”
Petugas itu berteriak kembali, aku seketika bangun dari tidurku yang tidak nyenyak ini. Dengan perasaan yang masih mengantuk aku melihat petugas itu membuka sel tahanan kemudian masuk ke dalam sel.
BLAM!
Aaaaakh
Petugas itu tiba-tiba memukul kakiku dengan keras dengan tongkat yang dia bawa. Aku seketika kesakitan sembari kedua tanganku memegang kaki yang terkena pukulan dari petugas itu.
Beberapa petugas kemudian datang dan masuk ke sel tahanan, mereka menarik paksa diriku yang masih terkantuk-kantuk untuk dibawanya keluar sel.
BLAM!
AKH..
Sebuah pukulan kembali dilayangkan ke tubuhku, aku kembali kesakitan akibat pukulan itu. Kemudian aku tersungkur di lantai dengan kondisi yang tidak berdaya, dan dua petugas yang datang menarik kakiku sehingga tubuhku tersungkur ke lantai. Aku yang tidak berdaya hanya bisa menahan sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa atas perlakuan petugas itu.
Kepala dan badanku berada di lantai sedangkan kakiku ditarik dengan paksa oleh kedua petugas tersebut.
Aku melewati beberapa sel tahanan lain dalam kondisi tersebut, namun semuanya sama, yang kulihat banyak petugas yang memukuli para tahanan lain dengan beringas, banyak suara teriakan yang menggema di penjara tersebut, suara-suara dari raungan rasa sakit yang mereka terima dari penyiksaan para petugas sipir penjara. Seperti hal yang biasa kami disiksa dan dipukuli dengan kejinya. Kami yang di penjara tidak bisa melawan para petugas, jika kami mencoba sedikit saja melawan mereka, yang ada kami akan dipindahkan ke ruangan khusus yang gelap dan di sana kami tidak diberi makan bahkan minum sedikitpun selama beberapa hari.
Sreeet Sreett
Dua petugas yang menyeretku kemudian berbelok dan memasuki sebuah ruangan, ruangan yang gelap dengan satu cahaya lampu di tengah ruangan, di sana terdapat suatu kursi dengan pengikat yang letaknya tepat di bawah lampu tersebut.
Badanku kemudian diangkat, dan didudukkan di kursi tersebut. Tangan dan kakiku diikat dengan kencang, namun aku sengaja mengangkat tanganku agar tidak menempel dengan kursi agar melonggarkan ikatan dari para penjaga itu.
Kemudian semua petugas yang membawaku perlahan-lahan keluar, mereka keluar secara bergantian dari ruangan itu dan meninggalkan aku sendirian.
“Di mana ini?” Pikirku.
Dengan rasa sakit yang aku terima masih sangat terasa. Aku mencoba melihat ke sekeliling ruangan itu, ruangan yang gelap dan hanya ditemani oleh salah satu lampu yang menggantung di atas kepalaku, aku juga melihat lantai yang disinari oleh cahaya itu, disana terdapat banyak bercak-bercak darah yang sudah mengering terkena sinar lampu yang menyala.
Aku mencoba menggoyang-goyangkan badanku, tangan yang tadi sengaja tidak aku tempelkan ke kursi ini aku coba gerakan, supaya bisa terlepas dari tali yang mengikatku.
Namun tiba-tiba,
Arrrrrghhhhhhhhhh
BLAM..!
Suara teriakan terdengar dari luar, kali ini suara teriakan itu terdengar keras bersamaan dengan suara yang menabrak sesuatu.
Tap tap tap
Beberapa suara kini kembali terdengar, suara orang-orang yang sedang berlari kesana kemari dengan keadaan panik. Suara itu terdengar keras dengan suara-suara teriakan hingga terdengar ke ruangan tempat aku berada.
“TOLONGGG, TOLLONGGG!!!”
BRUAAAAAK
Tampak sesuatu yang menabrak pintu, tabrakan sesuatu itu begitu keras sehingga membuat pintu dari ruangan tempat aku berada terbuka. Terlihat sesosok petugas yang tadi menyeretku tergeletak tidak bernyawa, seperti ada sesuatu yang melemparkan tubuhnya hingga menabrak pintu, dan akhirnya pintu tersebut terbuka. Aku mendadak panik seketika, dengan suara-suara teriakan yang datang membuat aku ingin segera melepas ikatan dari kursi ini, karena aku juga melihat tubuh petugas yang tergeletak di depanku itu penuh dengan darah, juga beberapa sayatan di badannya seperti ada hewan buas yang mencoba memangsanya.
“Ayolah, aku harus bisa melepaskan ikatan ini!” Pikirku dengan keadaan panik sembari sekuat tenaga melepas ikatan itu.
“Sedikit lagi, sedikit lagi, .... aaaarghhh... argggghhh!”
Aku mencoba melepaskan tanganku yang terikat, meskipun sedikit sakit, aku mencoba memaksanya hingga,
“Akhirnya lepas juga, sekarang tinggal kaki yang masih terikat,”
Aku bernafas lega ikatan di tanganku sudah lepas, suara-suara teriakan di tempat itu masih saja terdengar, aku semakin panik dengan keadaan di sel tersebut, aku harus segera melepaskan ikatanku dan keluar dari tempat ini.
Dengan sekuat tenaga akhirnya aku bisa melepaskan ikatan dari kursi tersebut, aku seketika berlari, berlari melewati pintu yang sudah rusak tersebut, tak lupa aku juga mengambil tongkat dari mayat petugas itu, untuk sekedar berjaga-jaga, karena aku yakin ada yang tidak beres dengan tempat ini sekarang.
Namun aku begitu terkejut ketika aku keluar ruangan tersebut, sel tahanan yang seharusnya berada di lorong tempat aku berdiri sekarang berubah, sel tahanan yang kulihat tadi, sekarang berubah menjadi lorong panjang dengan obor di kedua sisinya, obor tersebut menyala di lorong sebelah kanan dengan terangnya berjejer hingga ke ujung. Sel-sel tahanan di kedua sisinya berubah menjadi dinding batu di kedua sisinya, seperti sebuah gua yang memanjang dengan banyak noda darah di sekitarnya.
Ketika aku melihat ke arah kiri, terdapat lorong yang gelap gulita, lorong yang tanpa penerangan sama sekali, yang ada hanya lorong kosong yang gelap dan tidak terlihat apapun di sana.
Aku seketika terdiam, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang. Semuanya berubah secara mendadak, rasa takut yang kurasakan membuatku malas untuk melangkah, namun tiba-tiba sebuah suara muncul. Suara yang datangnya dari arah kanan, yang di mana arah kanan adalah lorong yang diterangi oleh obor.
"AAHAHAHAHAHAHAHAAHA."
DUG DUG DUG
"AHAHAHAHA."
Suara itu kemudian tertawa keras, dengan langkah kaki yang dihentakan membuat suara tersebut terdengar nyaring ke tempat aku berdiri, seketika aku secara spontan mengambil obor yang ada didekatku dan kemudian aku berlari ke arah kiri, ke arah lorong gelap yang tidak ada cahaya sama sekali.
Tap tap tap
Aku berlari sekuat tenaga dengan obor yang aku bawa sebagai penerang, namun seakan-akan lorong tersebut adalah lorong tanpa ujung, aku terus-menerus berlari tanpa tahu kapan aku harus berhenti, suara-suara itu masih terdengar dan kali ini seperti mengejarku dari belakang, sesaat aku melihat kebelakang sembari berlari, namun tidak ada siapa siapa, dan ketika aku berbalik secara tiba-tiba,
Duag
Aku menabrak sesuatu, sesuatu yang besar yang menghalangi jalanku sehingga membuatku terjatuh, dengan obor yang masih di tangan aku mencoba menerangi sesuatu yang menghalangi ku itu. Aku sontak kaget karena apa yang aku lihat ternyata bukanlah manusia,
Ternyata di depanku adalah sosok tinggi besar yang menyeringai kepadaku, sosok yang terlihat besar dengan gigi tajam yang mencuat keluar, dia tertawa kecil dan kemudian membuka mulutnya secara lebar.
“HAHAHAHAHAHAHA.”
Suara itu terdengar sangat keras, suara yang tadinya terdengar di belakang ku kini berada tepat di depanku, dengan wajah yang menyeramkan dia berkata.
“ABDI SEKARANG GILIRANMU, DUA ORANG LAINYA SUDAH AKU MAKAN, DAN KAMU ADALAH ORANG KETIGA UNTUK AKU MAKAN.”
Aku merasa ketakutan, badanku tidak henti-hentinya gemetar, tanpa aku sadari keringat dingin pun bercucuran, juga kakiku seperti membeku, tidak bisa untuk melangkah. Aku hanya bisa melihat mulut makhluk itu membuka rahangnya yang besar, dengan gigi yang mencuat keluar, terlihat gigi yang dipenuhi dengan darah segar mendekat, seakan-akan akan melahapku.
Aku hanya bisa menutup mata dan menutupi kepala dengan tanganku, aku sudah merasa putus asa, mungkin ini adalah akhir dari hidupku, pandanganku mulai gelap sepertinya mulut dari makhluk itu sudah sangat dekat.
Dan akhirnya....
Trang trang trang
Seorang petugas dengan kasarnya memukul-mukul pintu sel yang aku tempati, ruangan sel dengan ukuran 3x3 meter dengan satu kasur kecil tempat aku tidur, dan toilet kecil yang dipisah oleh tembok yang setinggi satu meter.
“HEY, JANGAN MELAMUN SAJA, AYO BANGUN!!”
Petugas itu berteriak kembali, aku seketika bangun dari tidurku yang tidak nyenyak ini. Dengan perasaan yang masih mengantuk aku melihat petugas itu membuka sel tahanan kemudian masuk ke dalam sel.
BLAM!
Aaaaakh
Petugas itu tiba-tiba memukul kakiku dengan keras dengan tongkat yang dia bawa. Aku seketika kesakitan sembari kedua tanganku memegang kaki yang terkena pukulan dari petugas itu.
Beberapa petugas kemudian datang dan masuk ke sel tahanan, mereka menarik paksa diriku yang masih terkantuk-kantuk untuk dibawanya keluar sel.
BLAM!
AKH..
Sebuah pukulan kembali dilayangkan ke tubuhku, aku kembali kesakitan akibat pukulan itu. Kemudian aku tersungkur di lantai dengan kondisi yang tidak berdaya, dan dua petugas yang datang menarik kakiku sehingga tubuhku tersungkur ke lantai. Aku yang tidak berdaya hanya bisa menahan sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa atas perlakuan petugas itu.
Kepala dan badanku berada di lantai sedangkan kakiku ditarik dengan paksa oleh kedua petugas tersebut.
Aku melewati beberapa sel tahanan lain dalam kondisi tersebut, namun semuanya sama, yang kulihat banyak petugas yang memukuli para tahanan lain dengan beringas, banyak suara teriakan yang menggema di penjara tersebut, suara-suara dari raungan rasa sakit yang mereka terima dari penyiksaan para petugas sipir penjara. Seperti hal yang biasa kami disiksa dan dipukuli dengan kejinya. Kami yang di penjara tidak bisa melawan para petugas, jika kami mencoba sedikit saja melawan mereka, yang ada kami akan dipindahkan ke ruangan khusus yang gelap dan di sana kami tidak diberi makan bahkan minum sedikitpun selama beberapa hari.
Sreeet Sreett
Dua petugas yang menyeretku kemudian berbelok dan memasuki sebuah ruangan, ruangan yang gelap dengan satu cahaya lampu di tengah ruangan, di sana terdapat suatu kursi dengan pengikat yang letaknya tepat di bawah lampu tersebut.
Badanku kemudian diangkat, dan didudukkan di kursi tersebut. Tangan dan kakiku diikat dengan kencang, namun aku sengaja mengangkat tanganku agar tidak menempel dengan kursi agar melonggarkan ikatan dari para penjaga itu.
Kemudian semua petugas yang membawaku perlahan-lahan keluar, mereka keluar secara bergantian dari ruangan itu dan meninggalkan aku sendirian.
“Di mana ini?” Pikirku.
Dengan rasa sakit yang aku terima masih sangat terasa. Aku mencoba melihat ke sekeliling ruangan itu, ruangan yang gelap dan hanya ditemani oleh salah satu lampu yang menggantung di atas kepalaku, aku juga melihat lantai yang disinari oleh cahaya itu, disana terdapat banyak bercak-bercak darah yang sudah mengering terkena sinar lampu yang menyala.
Aku mencoba menggoyang-goyangkan badanku, tangan yang tadi sengaja tidak aku tempelkan ke kursi ini aku coba gerakan, supaya bisa terlepas dari tali yang mengikatku.
Namun tiba-tiba,
Arrrrrghhhhhhhhhh
BLAM..!
Suara teriakan terdengar dari luar, kali ini suara teriakan itu terdengar keras bersamaan dengan suara yang menabrak sesuatu.
Tap tap tap
Beberapa suara kini kembali terdengar, suara orang-orang yang sedang berlari kesana kemari dengan keadaan panik. Suara itu terdengar keras dengan suara-suara teriakan hingga terdengar ke ruangan tempat aku berada.
“TOLONGGG, TOLLONGGG!!!”
BRUAAAAAK
Tampak sesuatu yang menabrak pintu, tabrakan sesuatu itu begitu keras sehingga membuat pintu dari ruangan tempat aku berada terbuka. Terlihat sesosok petugas yang tadi menyeretku tergeletak tidak bernyawa, seperti ada sesuatu yang melemparkan tubuhnya hingga menabrak pintu, dan akhirnya pintu tersebut terbuka. Aku mendadak panik seketika, dengan suara-suara teriakan yang datang membuat aku ingin segera melepas ikatan dari kursi ini, karena aku juga melihat tubuh petugas yang tergeletak di depanku itu penuh dengan darah, juga beberapa sayatan di badannya seperti ada hewan buas yang mencoba memangsanya.
“Ayolah, aku harus bisa melepaskan ikatan ini!” Pikirku dengan keadaan panik sembari sekuat tenaga melepas ikatan itu.
“Sedikit lagi, sedikit lagi, .... aaaarghhh... argggghhh!”
Aku mencoba melepaskan tanganku yang terikat, meskipun sedikit sakit, aku mencoba memaksanya hingga,
“Akhirnya lepas juga, sekarang tinggal kaki yang masih terikat,”
Aku bernafas lega ikatan di tanganku sudah lepas, suara-suara teriakan di tempat itu masih saja terdengar, aku semakin panik dengan keadaan di sel tersebut, aku harus segera melepaskan ikatanku dan keluar dari tempat ini.
Dengan sekuat tenaga akhirnya aku bisa melepaskan ikatan dari kursi tersebut, aku seketika berlari, berlari melewati pintu yang sudah rusak tersebut, tak lupa aku juga mengambil tongkat dari mayat petugas itu, untuk sekedar berjaga-jaga, karena aku yakin ada yang tidak beres dengan tempat ini sekarang.
Namun aku begitu terkejut ketika aku keluar ruangan tersebut, sel tahanan yang seharusnya berada di lorong tempat aku berdiri sekarang berubah, sel tahanan yang kulihat tadi, sekarang berubah menjadi lorong panjang dengan obor di kedua sisinya, obor tersebut menyala di lorong sebelah kanan dengan terangnya berjejer hingga ke ujung. Sel-sel tahanan di kedua sisinya berubah menjadi dinding batu di kedua sisinya, seperti sebuah gua yang memanjang dengan banyak noda darah di sekitarnya.
Ketika aku melihat ke arah kiri, terdapat lorong yang gelap gulita, lorong yang tanpa penerangan sama sekali, yang ada hanya lorong kosong yang gelap dan tidak terlihat apapun di sana.
Aku seketika terdiam, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang. Semuanya berubah secara mendadak, rasa takut yang kurasakan membuatku malas untuk melangkah, namun tiba-tiba sebuah suara muncul. Suara yang datangnya dari arah kanan, yang di mana arah kanan adalah lorong yang diterangi oleh obor.
"AAHAHAHAHAHAHAHAAHA."
DUG DUG DUG
"AHAHAHAHA."
Suara itu kemudian tertawa keras, dengan langkah kaki yang dihentakan membuat suara tersebut terdengar nyaring ke tempat aku berdiri, seketika aku secara spontan mengambil obor yang ada didekatku dan kemudian aku berlari ke arah kiri, ke arah lorong gelap yang tidak ada cahaya sama sekali.
Tap tap tap
Aku berlari sekuat tenaga dengan obor yang aku bawa sebagai penerang, namun seakan-akan lorong tersebut adalah lorong tanpa ujung, aku terus-menerus berlari tanpa tahu kapan aku harus berhenti, suara-suara itu masih terdengar dan kali ini seperti mengejarku dari belakang, sesaat aku melihat kebelakang sembari berlari, namun tidak ada siapa siapa, dan ketika aku berbalik secara tiba-tiba,
Duag
Aku menabrak sesuatu, sesuatu yang besar yang menghalangi jalanku sehingga membuatku terjatuh, dengan obor yang masih di tangan aku mencoba menerangi sesuatu yang menghalangi ku itu. Aku sontak kaget karena apa yang aku lihat ternyata bukanlah manusia,
Ternyata di depanku adalah sosok tinggi besar yang menyeringai kepadaku, sosok yang terlihat besar dengan gigi tajam yang mencuat keluar, dia tertawa kecil dan kemudian membuka mulutnya secara lebar.
“HAHAHAHAHAHAHA.”
Suara itu terdengar sangat keras, suara yang tadinya terdengar di belakang ku kini berada tepat di depanku, dengan wajah yang menyeramkan dia berkata.
“ABDI SEKARANG GILIRANMU, DUA ORANG LAINYA SUDAH AKU MAKAN, DAN KAMU ADALAH ORANG KETIGA UNTUK AKU MAKAN.”
Aku merasa ketakutan, badanku tidak henti-hentinya gemetar, tanpa aku sadari keringat dingin pun bercucuran, juga kakiku seperti membeku, tidak bisa untuk melangkah. Aku hanya bisa melihat mulut makhluk itu membuka rahangnya yang besar, dengan gigi yang mencuat keluar, terlihat gigi yang dipenuhi dengan darah segar mendekat, seakan-akan akan melahapku.
Aku hanya bisa menutup mata dan menutupi kepala dengan tanganku, aku sudah merasa putus asa, mungkin ini adalah akhir dari hidupku, pandanganku mulai gelap sepertinya mulut dari makhluk itu sudah sangat dekat.
Dan akhirnya....
INDEX :
BAB 2 - 3
BAB 4 - 5
BAB 6
BAB 7
BAB 8
BAB 9
BAB 10
BAB 11
BAB 12
BAB 13
Diubah oleh jurigciwidey 17-10-2023 11:54
sampeuk dan 23 lainnya memberi reputasi
24
18.3K
Kutip
303
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#21
Spoiler for BAB 9 - PINTU BESI:
Aku yang sudah tiga tahun berada di luar kini merasakan kebingungan yang luar biasa, apalagi seumur hidupku aku baru pertama kali masuk ke bangunan ini.
Namun, aku lebih merasa heran dengan kedua orang tadi yang mengobrol dengan santai bahkan gelagat mereka justru terlihat biasa saja, saat dimana orang lain sedang panik karena mereka tidak bisa keluar desa dan terjebak disini entah sampai kapan.
Aku pun akhirnya menuruni tangga tersebut secara perlahan. Aku sengaja memelankan suara langkahku karena aku takut diketahui oleh mereka berdua, karena aku merasa tempat yang akan mereka tuju mempunyai sesuatu yang disembunyikan yang tidak diketahui oleh warga.
Dibawah tangga tersebut terdapat lorong yang sangat panjang, sebuah lorong yang terlihat seperti sebuah gua, seperti gua belanda dengan dinding yang sudah diberi semen sehingga dindingnya terlihat sangat mulus.
Juga, ada beberapa lampu lima watt yang menyala di dalam lorong tersebut sehingga tidak menyulitkanku untuk melihat keadaan lorong tersebut ketika aku masuk ke dalamnya.
“Aku baru tahu bahwa ada lorong panjang seperti ini,” pikirku.
Aku melangkahkan kakiku secara perlahan, sebuah lorong sempit biasanya akan bisa membuat gema dari setiap langkah kaki sehingga aku tidak bisa mempercepat langkahku pada saat itu.
Apalagi, lantai dari lorong tersebut tampak sangat becek, banyak sekali tetesan-tetesan air yang menetes dan air tersebut menggenang di bawah dan akan menimbulkan bunyi ketika aku melangkahkan kakiku dengan cepat di lorong tersebut.
“Apa mungkin Bapak masuk ke dalam lorong ini?”
“Karena mungkin saja selain kedua orang itu pasti ada orang lain lagi yang tahu tentang adanya lorong ini,” pikirku.
Aku terus berpikir dan mencoba menghubung-hubungkan tentang apa yang terjadi di desa, tentang kejadian yang menimpaku kemarin malam, yang membuatku tidak sadarkan diri di wilayah keluarga Mandala yang berada di ujung kampung.
Juga tentang lorong ini aku sendiri pun baru tahu bahwa ada lorong bawah tanah di bangunan ini.
Aku terus-menerus melangkahkan kakiku melewati lorong tersebut. Namun, sepertinya aku kehilangan jejak dari kedua orang yang masuk ke dalam lorong ini, karena kini lorong tersebut bercabang menjadi beberapa bagian, sehingga aku bingung harus ke arah mana sekarang.
Lorong yang panjang itu berakhir dengan sebuah ruangan kecil yang di dalamnya terdapat tiga buah lorong yang berbeda, sebuah ruangan yang tidak terlalu luas namun tampak berdebu seperti tidak pernah digunakan dalam waktu yang lama.
“Aku harus kemana sekarang?” kataku bingung.
Aku mulai ragu ketika lorong yang aku lewati bercabang, aku takut salah langkah sehingga aku tidak bisa pulang layaknya Bapak yang sudah beberapa hari ini menghilang dan belum ditemukan.
Aku berpikir cukup lama di tempat itu, hingga akhirnya dari lorong paling kiri aku mendengar sebuah suara ketukan, seperti seseorang yang sedang mengetuk sebuah pintu besi sehingga gema nya terdengar hingga ke tempatku pada saat itu.
Seketika, aku pun berpikir bahwa aku harus melewati lorong sebelah kiri dan akhirnya aku pun berbalik dan berjalan kembali ke lorong yang ada di sebelah kiriku pada saat itu.
Wusssshhhh
Sebuah angin yang sejuk tiba-tiba terasa olehku tepat ketika aku masuk melalui lorong tersebut, aku pun merasa aneh darimana arahnya hembusan angin tersebut.
Namun ketika aku berjalan lebih dalam, aku melihat beberapa ventilasi udara kecil yang menembus hingga ke atas sana, bahkan aku pun melihat cahaya matahari dari ventilasi udara tersebut meskipun aku tidak tahu tempat apa yang ada di atas sana.
Aku pun kembali berjalan, dan aku melihat lorong itu tampaknya sedikit berbeda. Terlihat lorong tersebut seperti sebuah lorong yang sudah lama di bangun, karena beton-beton yang menutupi lorong tersebut kini terkelupas dimakan usia. Bahkan jalanan yang aku pijak pun seperti sudah terkikis oleh air yang menetes dari ventilasi udara dari atas sana.
Apalagi, lorong yang kini aku lewati berkelok-kelok, bahkan di beberapa tempat di dinding nya terdapat batu besar yang menutupi sebagian lorong itu sehingga aku harus memiringkan tubuhku agar aku bisa melewatinya.
Semakin lama aku berjalan, pikiranku semakin berpikiran yang aneh-aneh tentang tempat ini. Suasana yang tiba-tiba berubah secara drastis di malam hari, juga tempat yang tersembunyi seperti ini dibawah tanah tempat dimana Bapak menghilang menurut Ibuku tadi pagi, membuatku semakin berpikir ada sesuatu yang sedang disembunyikan dan aku tidak tahu apa itu.
Butuh waktu sepuluh menit aku berjalan, dan tiba-tiba langkahku terhenti tepat ketika dari kejauhan aku melihat sebuah pintu besi besar yang kusam di ujung lorong ini. Sebuah pintu besi yang pinggirannya sudah berkarat dengan baut-baut besar yang menutupi pintu itu.
“Kenapa ada pintu besi di dalam lorong ini?”
Pintu tersebut tampak tertutup, namun entah mengapa, aku bisa mendengar bahwa ada beberapa orang yang sedang mengobrol dibalik pintu tersebut meskipun aku sendiripun tidak bisa mendengar jelas mereka berbicara apa disana, dan aku juga meyakini bahwa kedua orang yang aku temui di dalam bangunan tadi masuk ke dalam pintu besi itu.
Aku pun akhirnya mundur beberapa langkah, dan melihat pintu itu dari kejauhan serta mencoba menjaga jarak agar aku tidak ketahuan dari kedua orang yang sedang aku buntuti pada saat itu.
Suara-suara itu tampak tidak jelas terdengar olehku ketika mendengarkan mereka yang sedang berada di balik pintu besi itu. Namun yang pasti, obrolan tersebut seperti sangat serius karena tidak ada canda tawa yang terdengar olehku pada saat itu.
Hingga, tak terasa setengah jam pun berlalu. Aku yang masih berdiri dan menjaga jarak dari pintu besi itu tiba-tiba dikejutkan oleh suara gemericit dari pintu besi yang dibuka secara perlahan. Pintu besi yang sudah berkarat menyebabkan bunyi yang khas yang membuatku kaget.
Krieeeet
Pintu besi itu pun terbuka, namun pintu itu tidak terbuka sepenuhnya. mungkin karena pintu tersebut adalah pintu lama sehingga hanya bisa terbuka seperempatnya, namun dari sana aku tahu bahwa kedua orang yang aku ikuti tadi keluar dari pintu tersebut.
Bahkan,
“Kenapa orang-orang yang kemarin mengantarkanku ke rumah ada di dalam ruangan itu?”
Aku tiba-tiba kaget, karena ada orang yang kemarin menemukanku tak sadarkan diri dan mengantarkanku beramai-ramai kini muncul dari balik pintu tersebut sambil mengobrol dengan kedua orang yang aku ikuti dari bangunan tadi.
Saking kagetnya atas apa yang aku lihat pada saat itu, tiba-tiba aku menginjak genangan air yang tepat berada di depanku pada saat itu sehingga suara percikannya terdengar hingga ke orang-orang yang ada di depan pintu besi itu.
Splassh
Sontak, orang-orang yang awalnya hanya mengobrol tiba-tiba menoleh ke arah tempat aku berdiri. Tubuhnya yang awalnya santai kini waspada, bahkan salah satu dari mereka tiba-tiba menepuk kedua orang yang aku ikuti pada saat itu juga.
“Hey, kalian gak membawa orang lain ke tempat ini kan?”
Kedua orang itu hanya menggeleng-gelengkan kepala, mereka berdua meyakini bahwa hanya mereka berdualah yang masuk ke tempat ini dan tidak ada orang lain yang ikut bersamanya.
“KALAU GAK ADA YANG IKUT, KENAPA ADA SUARA SEPERTI ITU, COBA KAMU CEK BARANGKALI ADA PENYUSUP YANG MASUK KE DALAM SINI!”
Orang yang bertanya padanya di belakang tiba-tiba mendadak marah dan memerintahkan kepada kedua orang itu untuk mengecek asal suara yang dia dengar.
Aku yang melihat mereka dari kejauhan tiba-tiba merasa panik, dan berusaha berlari meninggalkan tempat itu secepatnya.
DRAP DRAP DRAP
Rupanya, langkah kakiku yang menggema di lorong tersebut terdengar jelas oleh mereka semua, bahkan salah satu dari mereka berteriak bahwa memang benar ada penyusup yang mengetahui tempat ini.
“ITU PENYUSUP, CEPATAN KEJAR!”
Akhirnya, semua orang yang ada dari dalam ruangan itu tiba-tiba berlari mengejarku. Aku benar-benar tidak tahu siapa mereka, kenapa mereka berkumpul di dalam lorong seperti ini, bahkan aku sempat berpikir bahwa Bapak mungkin saja ikut dalam kumpulan orang-orang ini dan menghilang.
Aku berlari melewati lorong itu dengan kepanikan yang luar bisa, detak jantungku berdetak dengan sangat cepat pada waktu itu.
Hingga, aku kemudian sampai di ruangan dengan lorong yang bercabang seperti yang pernah aku lewati sebelumnya.
Pikiranku mulai berpikir dengan sangat cepat, aku berpikir apabila aku berlari ke arah pintu keluar, aku takut mereka akan segera menemukanku karena lorong itu lurus dan tidak berkelok-kelok seperti lorong yang sudah aku lewati tadi.
Sehingga, aku akhirnya memutuskan untuk memasuki salah satu dari lorong yang belum pernah aku masuki, dan tanpa berpikir panjang aku akhirnya berlari ke arah lorong yang berada di paling kanan dari ruangan tersebut.
Aku berusaha bersembunyi di salah satu lorong tersebut hingga situasinya aman, karena aku yakin mereka mungkin akan berlari mengejarku hingga ke arah pintu keluar.
Namun, apa yang aku pikirkan rupanya tidak berhasil. Karena ketika mereka sampai di tengah-tengah percabangan lorong itu, salah satu dari mereka berteriak untuk mencari di semua lorong termasuk lorong tempat aku berada sekarang.
Aku yang awalnya ingin bersembunyi di dalam lorong tersebut akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kaki lebih jauh melewati lorong tersebut.
Rasa panik dan rasa takut kini menyelimutiku pada saat itu, aku tidak tahu bagaimana nasibku ketika aku diketahui oleh orang-orang itu.
Apalagi sepertinya apa yang mereka obrolkan di balik pintu besi itu adalah obrolan yang sangat serius, yang tidak bisa didengar oleh orang diluar kelompok mereka.
Aku terus berlari melewati lorong tersebut, sebuah lorong yang sama tuanya dengan lorong yang ada di paling kiri yang sudah aku masuki.
Meskipun,
Srett
Langkahku tiba-tiba berhenti, tepat ketika lorong tersebut berubah menjadi sebuah lorong batu yang terlihat sangat gelap, karena tidak ada penerangan sama sekali, aku tidak tahu ada apa di dalam kegelapan itu, namun yang pasti itu aku kini berada di dalam dua sisi yang tidak menguntungkanku pada saat itu.
Apakah aku harus menyerahkan diriku kepada mereka, atau aku harus memaksakan masuk ke dalam kegelapan yang aku sendiri pun tidak tahu kemana ujung dari lorong ini.
Aku sempat menoleh ke arah belakang, dan aku mendengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk berlari kembali menembus kegelapan yang aku sendiri pun tidak tahu kemana lorong ini akan membawaku sekarang.
Dengan kondisiku yang panik ini, akhirnya aku berlari di dalam gelap, beberapa kali kakiku tersandung dan kulitku tergores oleh dinding yang masih berbatu di setiap sisinya.
Aku sempat mendengar langkah kaki mereka terhenti, karena mungkin mereka juga merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan pada saat itu.
Meskipun, tampaknya apa yang aku lakukan adalah hal yang salah. Karena ketika aku berlari dengan sekuat tenaga di dalam kegelapan, aku tiba-tiba terperosok ke dalam jurang yang tidak aku lihat karena gelapnya lorong itu, tubuhku tiba-tiba terguling beberapa kali, aku merasakan rasa sakit yang luar biasa pada saat itu.
Hingga akhirnya,
Byurrr
Tubuhku tiba-tiba terjatuh ke air yang mengenang, sebuah air yang mengalir dengan pelan seperti sungai bawah tanah yang mengalir entah kemana.
Namun, aku lebih merasa heran dengan kedua orang tadi yang mengobrol dengan santai bahkan gelagat mereka justru terlihat biasa saja, saat dimana orang lain sedang panik karena mereka tidak bisa keluar desa dan terjebak disini entah sampai kapan.
Aku pun akhirnya menuruni tangga tersebut secara perlahan. Aku sengaja memelankan suara langkahku karena aku takut diketahui oleh mereka berdua, karena aku merasa tempat yang akan mereka tuju mempunyai sesuatu yang disembunyikan yang tidak diketahui oleh warga.
Dibawah tangga tersebut terdapat lorong yang sangat panjang, sebuah lorong yang terlihat seperti sebuah gua, seperti gua belanda dengan dinding yang sudah diberi semen sehingga dindingnya terlihat sangat mulus.
Juga, ada beberapa lampu lima watt yang menyala di dalam lorong tersebut sehingga tidak menyulitkanku untuk melihat keadaan lorong tersebut ketika aku masuk ke dalamnya.
“Aku baru tahu bahwa ada lorong panjang seperti ini,” pikirku.
Aku melangkahkan kakiku secara perlahan, sebuah lorong sempit biasanya akan bisa membuat gema dari setiap langkah kaki sehingga aku tidak bisa mempercepat langkahku pada saat itu.
Apalagi, lantai dari lorong tersebut tampak sangat becek, banyak sekali tetesan-tetesan air yang menetes dan air tersebut menggenang di bawah dan akan menimbulkan bunyi ketika aku melangkahkan kakiku dengan cepat di lorong tersebut.
“Apa mungkin Bapak masuk ke dalam lorong ini?”
“Karena mungkin saja selain kedua orang itu pasti ada orang lain lagi yang tahu tentang adanya lorong ini,” pikirku.
Aku terus berpikir dan mencoba menghubung-hubungkan tentang apa yang terjadi di desa, tentang kejadian yang menimpaku kemarin malam, yang membuatku tidak sadarkan diri di wilayah keluarga Mandala yang berada di ujung kampung.
Juga tentang lorong ini aku sendiri pun baru tahu bahwa ada lorong bawah tanah di bangunan ini.
Aku terus-menerus melangkahkan kakiku melewati lorong tersebut. Namun, sepertinya aku kehilangan jejak dari kedua orang yang masuk ke dalam lorong ini, karena kini lorong tersebut bercabang menjadi beberapa bagian, sehingga aku bingung harus ke arah mana sekarang.
Lorong yang panjang itu berakhir dengan sebuah ruangan kecil yang di dalamnya terdapat tiga buah lorong yang berbeda, sebuah ruangan yang tidak terlalu luas namun tampak berdebu seperti tidak pernah digunakan dalam waktu yang lama.
“Aku harus kemana sekarang?” kataku bingung.
Aku mulai ragu ketika lorong yang aku lewati bercabang, aku takut salah langkah sehingga aku tidak bisa pulang layaknya Bapak yang sudah beberapa hari ini menghilang dan belum ditemukan.
Aku berpikir cukup lama di tempat itu, hingga akhirnya dari lorong paling kiri aku mendengar sebuah suara ketukan, seperti seseorang yang sedang mengetuk sebuah pintu besi sehingga gema nya terdengar hingga ke tempatku pada saat itu.
Seketika, aku pun berpikir bahwa aku harus melewati lorong sebelah kiri dan akhirnya aku pun berbalik dan berjalan kembali ke lorong yang ada di sebelah kiriku pada saat itu.
Wusssshhhh
Sebuah angin yang sejuk tiba-tiba terasa olehku tepat ketika aku masuk melalui lorong tersebut, aku pun merasa aneh darimana arahnya hembusan angin tersebut.
Namun ketika aku berjalan lebih dalam, aku melihat beberapa ventilasi udara kecil yang menembus hingga ke atas sana, bahkan aku pun melihat cahaya matahari dari ventilasi udara tersebut meskipun aku tidak tahu tempat apa yang ada di atas sana.
Aku pun kembali berjalan, dan aku melihat lorong itu tampaknya sedikit berbeda. Terlihat lorong tersebut seperti sebuah lorong yang sudah lama di bangun, karena beton-beton yang menutupi lorong tersebut kini terkelupas dimakan usia. Bahkan jalanan yang aku pijak pun seperti sudah terkikis oleh air yang menetes dari ventilasi udara dari atas sana.
Apalagi, lorong yang kini aku lewati berkelok-kelok, bahkan di beberapa tempat di dinding nya terdapat batu besar yang menutupi sebagian lorong itu sehingga aku harus memiringkan tubuhku agar aku bisa melewatinya.
Semakin lama aku berjalan, pikiranku semakin berpikiran yang aneh-aneh tentang tempat ini. Suasana yang tiba-tiba berubah secara drastis di malam hari, juga tempat yang tersembunyi seperti ini dibawah tanah tempat dimana Bapak menghilang menurut Ibuku tadi pagi, membuatku semakin berpikir ada sesuatu yang sedang disembunyikan dan aku tidak tahu apa itu.
Butuh waktu sepuluh menit aku berjalan, dan tiba-tiba langkahku terhenti tepat ketika dari kejauhan aku melihat sebuah pintu besi besar yang kusam di ujung lorong ini. Sebuah pintu besi yang pinggirannya sudah berkarat dengan baut-baut besar yang menutupi pintu itu.
“Kenapa ada pintu besi di dalam lorong ini?”
Pintu tersebut tampak tertutup, namun entah mengapa, aku bisa mendengar bahwa ada beberapa orang yang sedang mengobrol dibalik pintu tersebut meskipun aku sendiripun tidak bisa mendengar jelas mereka berbicara apa disana, dan aku juga meyakini bahwa kedua orang yang aku temui di dalam bangunan tadi masuk ke dalam pintu besi itu.
Aku pun akhirnya mundur beberapa langkah, dan melihat pintu itu dari kejauhan serta mencoba menjaga jarak agar aku tidak ketahuan dari kedua orang yang sedang aku buntuti pada saat itu.
Suara-suara itu tampak tidak jelas terdengar olehku ketika mendengarkan mereka yang sedang berada di balik pintu besi itu. Namun yang pasti, obrolan tersebut seperti sangat serius karena tidak ada canda tawa yang terdengar olehku pada saat itu.
Hingga, tak terasa setengah jam pun berlalu. Aku yang masih berdiri dan menjaga jarak dari pintu besi itu tiba-tiba dikejutkan oleh suara gemericit dari pintu besi yang dibuka secara perlahan. Pintu besi yang sudah berkarat menyebabkan bunyi yang khas yang membuatku kaget.
Krieeeet
Pintu besi itu pun terbuka, namun pintu itu tidak terbuka sepenuhnya. mungkin karena pintu tersebut adalah pintu lama sehingga hanya bisa terbuka seperempatnya, namun dari sana aku tahu bahwa kedua orang yang aku ikuti tadi keluar dari pintu tersebut.
Bahkan,
“Kenapa orang-orang yang kemarin mengantarkanku ke rumah ada di dalam ruangan itu?”
Aku tiba-tiba kaget, karena ada orang yang kemarin menemukanku tak sadarkan diri dan mengantarkanku beramai-ramai kini muncul dari balik pintu tersebut sambil mengobrol dengan kedua orang yang aku ikuti dari bangunan tadi.
Saking kagetnya atas apa yang aku lihat pada saat itu, tiba-tiba aku menginjak genangan air yang tepat berada di depanku pada saat itu sehingga suara percikannya terdengar hingga ke orang-orang yang ada di depan pintu besi itu.
Splassh
Sontak, orang-orang yang awalnya hanya mengobrol tiba-tiba menoleh ke arah tempat aku berdiri. Tubuhnya yang awalnya santai kini waspada, bahkan salah satu dari mereka tiba-tiba menepuk kedua orang yang aku ikuti pada saat itu juga.
“Hey, kalian gak membawa orang lain ke tempat ini kan?”
Kedua orang itu hanya menggeleng-gelengkan kepala, mereka berdua meyakini bahwa hanya mereka berdualah yang masuk ke tempat ini dan tidak ada orang lain yang ikut bersamanya.
“KALAU GAK ADA YANG IKUT, KENAPA ADA SUARA SEPERTI ITU, COBA KAMU CEK BARANGKALI ADA PENYUSUP YANG MASUK KE DALAM SINI!”
Orang yang bertanya padanya di belakang tiba-tiba mendadak marah dan memerintahkan kepada kedua orang itu untuk mengecek asal suara yang dia dengar.
Aku yang melihat mereka dari kejauhan tiba-tiba merasa panik, dan berusaha berlari meninggalkan tempat itu secepatnya.
DRAP DRAP DRAP
Rupanya, langkah kakiku yang menggema di lorong tersebut terdengar jelas oleh mereka semua, bahkan salah satu dari mereka berteriak bahwa memang benar ada penyusup yang mengetahui tempat ini.
“ITU PENYUSUP, CEPATAN KEJAR!”
Akhirnya, semua orang yang ada dari dalam ruangan itu tiba-tiba berlari mengejarku. Aku benar-benar tidak tahu siapa mereka, kenapa mereka berkumpul di dalam lorong seperti ini, bahkan aku sempat berpikir bahwa Bapak mungkin saja ikut dalam kumpulan orang-orang ini dan menghilang.
Aku berlari melewati lorong itu dengan kepanikan yang luar bisa, detak jantungku berdetak dengan sangat cepat pada waktu itu.
Hingga, aku kemudian sampai di ruangan dengan lorong yang bercabang seperti yang pernah aku lewati sebelumnya.
Pikiranku mulai berpikir dengan sangat cepat, aku berpikir apabila aku berlari ke arah pintu keluar, aku takut mereka akan segera menemukanku karena lorong itu lurus dan tidak berkelok-kelok seperti lorong yang sudah aku lewati tadi.
Sehingga, aku akhirnya memutuskan untuk memasuki salah satu dari lorong yang belum pernah aku masuki, dan tanpa berpikir panjang aku akhirnya berlari ke arah lorong yang berada di paling kanan dari ruangan tersebut.
Aku berusaha bersembunyi di salah satu lorong tersebut hingga situasinya aman, karena aku yakin mereka mungkin akan berlari mengejarku hingga ke arah pintu keluar.
Namun, apa yang aku pikirkan rupanya tidak berhasil. Karena ketika mereka sampai di tengah-tengah percabangan lorong itu, salah satu dari mereka berteriak untuk mencari di semua lorong termasuk lorong tempat aku berada sekarang.
Aku yang awalnya ingin bersembunyi di dalam lorong tersebut akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kaki lebih jauh melewati lorong tersebut.
Rasa panik dan rasa takut kini menyelimutiku pada saat itu, aku tidak tahu bagaimana nasibku ketika aku diketahui oleh orang-orang itu.
Apalagi sepertinya apa yang mereka obrolkan di balik pintu besi itu adalah obrolan yang sangat serius, yang tidak bisa didengar oleh orang diluar kelompok mereka.
Aku terus berlari melewati lorong tersebut, sebuah lorong yang sama tuanya dengan lorong yang ada di paling kiri yang sudah aku masuki.
Meskipun,
Srett
Langkahku tiba-tiba berhenti, tepat ketika lorong tersebut berubah menjadi sebuah lorong batu yang terlihat sangat gelap, karena tidak ada penerangan sama sekali, aku tidak tahu ada apa di dalam kegelapan itu, namun yang pasti itu aku kini berada di dalam dua sisi yang tidak menguntungkanku pada saat itu.
Apakah aku harus menyerahkan diriku kepada mereka, atau aku harus memaksakan masuk ke dalam kegelapan yang aku sendiri pun tidak tahu kemana ujung dari lorong ini.
Aku sempat menoleh ke arah belakang, dan aku mendengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk berlari kembali menembus kegelapan yang aku sendiri pun tidak tahu kemana lorong ini akan membawaku sekarang.
Dengan kondisiku yang panik ini, akhirnya aku berlari di dalam gelap, beberapa kali kakiku tersandung dan kulitku tergores oleh dinding yang masih berbatu di setiap sisinya.
Aku sempat mendengar langkah kaki mereka terhenti, karena mungkin mereka juga merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan pada saat itu.
Meskipun, tampaknya apa yang aku lakukan adalah hal yang salah. Karena ketika aku berlari dengan sekuat tenaga di dalam kegelapan, aku tiba-tiba terperosok ke dalam jurang yang tidak aku lihat karena gelapnya lorong itu, tubuhku tiba-tiba terguling beberapa kali, aku merasakan rasa sakit yang luar biasa pada saat itu.
Hingga akhirnya,
Byurrr
Tubuhku tiba-tiba terjatuh ke air yang mengenang, sebuah air yang mengalir dengan pelan seperti sungai bawah tanah yang mengalir entah kemana.
bebyzha dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Kutip
Balas