- Beranda
- Stories from the Heart
Thread Horor: MENJEMPUT GELAP
...
TS
saujanastory
Thread Horor: MENJEMPUT GELAP
Halo Agan semua, salam kenal. Ane Jana, yang biasa menceritakan dan kisah horor baik berdasarkan kisah nyata, atau terinspirasi dari kisah nyata. Monggo disimak, jangan lupa diramaikan.

Sekian Agan-Agan semua, malam Minggu depan ceritanya akan dilanjutkan.
MENJEMPUT GELAP

Quote:
Original Posted By Bab 1: Kontrakan Bangsal Tiga
Hari ini kondisi cuaca cukup cerah dengan sedikit gumpalan awan berarak yang menjadi tanda bahwasanya hujan tidak akan turun. Dari balik kaca, lelaki itu memandangi jalanan sambil menyesap segelas kopi yang tak lagi panas.
Siang ini ia terpikir beberapa hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Sebuah misi yang seharusnya ia lakukan bertahun-tahun lalu. Mengunjungi tanah leluhurnya. Namun yang ia temukan adalah hal mengerikan yang seharusnya tak pernah terungkap. Sebuah rahasia masa lalu yang disimpan rapat oleh seluruh penduduk desa.
Kemal, 32 tahun. Seorang pemuda medioker yang masih terus berkutat dengan segala hobi dan kegemarannya. Kehidupan keluarganya yang sangat sederhana membuat masa kecilnya lebih terbatas jika dibandingkan dengan kawan sebayanya.
Ayahnya yang ketika itu masih berada di posisi cukup rendah di tempat kerjanya membuat hidup keluarga sangat sederhana. Ayah Kemal yang memulai karir di sebuah BUMN sebagai sekuriti hanya mendapatkan gaji 275 ribu rupiah per bulan. Saat itu masih sekitar tahun 1991.
Ibunya sedang mengandung sang adik. Sementara Kemal yang statusnya ‘disembunyikan’ berada di desa asal sang ibu. Sebuah desa tertinggal di provinsi paling timur di pulau Jawa. Sebuah desa yang pada saat itu hanya dihuni para petani, dengan kehidupan miskin dan jauh dari kata cukup.
Pada saat itu, ayah Kemal baru saja mendapatkan pekerjaanya. Dan menurut peraturan, pegawai tidak boleh menikah sebelum 3 tahun masa kerja. Karena ayah dan ibu Kemal menikah di luar ketentuan itu, maka kelahiran Kemal terpaksa disembunyikan dari rekan kerja sang ayah.
Dan ia pun dirawat oleh sang nenek, si mbok dari sang ibu.
Dalam rumah bangsal petak itu Harti sedang menggigil ketakutan. Keringat dingin membasahi tubuhnya, sementara ia hanya berada di kontrakan itu sendirian. Husin sedang bertugas sebagai sekuriti dan akan pulang pukul 11 malam. Yang mana akan tiba di rumah 20 hingga 30 menit setelah shift jaga selesai.
Sedari pukul 10, Harti mendengar ada sosok yang sedang tertawa cekikikan di depan pintu rumahnya. Sementara ia sangat tahu, bahwa lingkungan tempat tinggalnya adalah lingkungan yang sepi setelah shalat Isya.
Di dalam rumah, Harti tak bisa melakukan apa pun. Hanya bisa duduk meringkuk diatas ranjang sambil melindungi kandungannya yang sudah cukup besar. Ia hanya berdoa semampu yang ia ingat, diiringi kucuran keringat dan tubuhnya yang menggigil ketakutan.
Hingga pukul 11.25, hampir tengah malam suara vespa memecah keheningan malam itu. Husin datang dan langsung memarkirkan motornya tepat di depan rumah. Ia masuk dan disambut dengan tangisan yang memecah keheningan malam.
“Pak, di situ!! Tadi ada orang ketawa nyaring, cekikikan gak berhenti.” Harti tergagap sambil memeluk erat pinggang suaminya.
“Di mana?! Bentar, biar ku bacok kalo emang ada.” Husin langsung mengambil sebilah golok dan kembali mengecek teras rumah mereka. Dan yang ia temukan hanyalah sepinya malam dengan suara jangkrik dari
seberang jalan yang lebarnya tak lebih dari 2 meter.
Malam itu Harti terselamatkan, ia kembali tenang setelah sang suami memastikan tidak ada yang bisa ia temukan di depan rumahnya. Mereka akhirnya bisa terlelap sambil ditemani beberapa benda tajam seperti jarum, silet, gunting dan bulu landak sebagai proteksi sang jabang bayi.
Sore itu, Harti merasa sakit perut dan ingin buang hajat. Ia lalu keluar rumah melalui pintu belakang dan menuju toilet bersama yang berada tepat di belakang kontrakannya. Perlahan ia turun menuju belakang rumah, sambil memegangi perut besarnya dan melihat toilet dalam kondisi tertutup.
Harti menunggu sejenak. Karena tak ada suara, ia memutuskan untuk mendorong pintu toilet tersebut. Ia terkejut, pintu itu tak terkunci, namun di dalamnya ada seorang nenek yang sedang duduk berjongkok di atas kloset seperti sedang membuang hajat.
“Maaf, saya kira gak ada orang.” Ucapnya sambil langsung menutup pintu dan menunggu di mulut pintu rumahnya.
Beberapa menit berlalu, tak ada tanda bahwa sang nenek sudah selesai. Bahkan tidak ada suara sama sekali dari dalam toilet. Sementara hajat Harti sudah sulit untuk ditahan. Ia pun kembali mengetuk pintu toilet tersebut, seketika toilet itu terbuka. Di dalamnya tak ada orang, nenek yang sedang berjongkok di atas toilet sudah hilang.
Karena sudah menunggu lama dan tak bisa ditahan lagi. Maka Harti langsung saja masuk ke dalam toilet dan menuntaskan hajatnya yang sudah hampir tak terbendung. Sore itu, adalah pertama kali Harti melihat sosok tak asing yang mungkin saja bukan manusia.
Pagi menyingsing, hawa dingin dan sejuk mengiringi niat Harti yang ingin berjalan-jalan. Kumpulan tumbuhan pandan tumbuh di depan rumahnya yang di bawahnya merupakan genangan air. Kontrakan 3 pintu yang hanya memilik satu toilet bersama. Toilet yang berada tepat di belakang dapur rumah Harti.
Ditemani sang suami, Harti berjalan-jalan sambil menikmati udara pagi
yang segar. Disambut dengan sapaan para tetangga yang mayoritas adalah warga suku lokal. Dengan logat Kutai dan Banjar yang kental, mereka menyapa sembari menyapu atau menyiram tanaman.
“Hendak ke mana kita? Gaknya tumat lagi lahir ni. – Mau kemana? Sepertinya sebentar lagi lahiran.” ucap seorang wanita penjual kue-kue basah yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbok Joi dengan logat Kutai
yang kental.
“Ohh, bejalanan aja. Biar kena kalo lahiran lancar, – Mau jalan-jalan saja. Supaya nanti lahiran lancar,” jawab Husin dengan logat Banjar.
“Bulu landak ngan gunting jangan lupa dibawa, biar ndik dilirik kuyang, – Bulu landak sama gunting jangan lupa dibawa, supaya tidak dilirik (hantu) kuyang,” timpal Mbok Joi lagi sambil tersenyum sembari merapikan kue dagangannya.
“Iya, makasih, Mbok Joi.” Husin tersenyum sambil melanjutkan menemani Harti berjalan berkeliling.
Di kota ini, mitos dan rumor tentang kuyang memang sangat dipercaya. Terutama oleh para warga asli yang memang sangat memegang teguh kepercayaan lokal. Dan entah, percaya/tidak percaya semua itu diceritakan turun-temurun dan kabarnya memang sudah ada yang pernah membuktikan keberadaan dan kebenarannya.
Harti dan Husin berjalan menikmati pagi dengan santai. Embun masih terasa membasahi kulit, juga meninggalkan titik-titik bulir air di atas dedaunan di kiri-kanan gang. Banyak orang berlalu-lalang membawa keranjang belanjaan karena pasar juga masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Juga anak-anak sekolah yang sedang jalan bergerombol menuju tempat mereka menuntut ilmu. Juga beberapa ibu yang sedang berjalan berlainan arah. Salah satunya menggunakan kerudung dengan ujung yang melilit di lehernya.
Mereka bercakap sambil salah satunya menatap Harti yang dengan pandangan yang menyelidik. Hingga saat perpapasan, ia bahkan sampai menolehkan kepalanya memandang Harti yang sedang berjalan sambil memegangi perutnya Wanita itu menelan ludahnya sambil menjilat bibirnya sendiri.
“Hmmm.. Wangi..” batinnya.
Siang ini ia terpikir beberapa hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Sebuah misi yang seharusnya ia lakukan bertahun-tahun lalu. Mengunjungi tanah leluhurnya. Namun yang ia temukan adalah hal mengerikan yang seharusnya tak pernah terungkap. Sebuah rahasia masa lalu yang disimpan rapat oleh seluruh penduduk desa.
***
Kemal, 32 tahun. Seorang pemuda medioker yang masih terus berkutat dengan segala hobi dan kegemarannya. Kehidupan keluarganya yang sangat sederhana membuat masa kecilnya lebih terbatas jika dibandingkan dengan kawan sebayanya.
Ayahnya yang ketika itu masih berada di posisi cukup rendah di tempat kerjanya membuat hidup keluarga sangat sederhana. Ayah Kemal yang memulai karir di sebuah BUMN sebagai sekuriti hanya mendapatkan gaji 275 ribu rupiah per bulan. Saat itu masih sekitar tahun 1991.
Ibunya sedang mengandung sang adik. Sementara Kemal yang statusnya ‘disembunyikan’ berada di desa asal sang ibu. Sebuah desa tertinggal di provinsi paling timur di pulau Jawa. Sebuah desa yang pada saat itu hanya dihuni para petani, dengan kehidupan miskin dan jauh dari kata cukup.
Pada saat itu, ayah Kemal baru saja mendapatkan pekerjaanya. Dan menurut peraturan, pegawai tidak boleh menikah sebelum 3 tahun masa kerja. Karena ayah dan ibu Kemal menikah di luar ketentuan itu, maka kelahiran Kemal terpaksa disembunyikan dari rekan kerja sang ayah.
Dan ia pun dirawat oleh sang nenek, si mbok dari sang ibu.
***
Dalam rumah bangsal petak itu Harti sedang menggigil ketakutan. Keringat dingin membasahi tubuhnya, sementara ia hanya berada di kontrakan itu sendirian. Husin sedang bertugas sebagai sekuriti dan akan pulang pukul 11 malam. Yang mana akan tiba di rumah 20 hingga 30 menit setelah shift jaga selesai.
Sedari pukul 10, Harti mendengar ada sosok yang sedang tertawa cekikikan di depan pintu rumahnya. Sementara ia sangat tahu, bahwa lingkungan tempat tinggalnya adalah lingkungan yang sepi setelah shalat Isya.
Di dalam rumah, Harti tak bisa melakukan apa pun. Hanya bisa duduk meringkuk diatas ranjang sambil melindungi kandungannya yang sudah cukup besar. Ia hanya berdoa semampu yang ia ingat, diiringi kucuran keringat dan tubuhnya yang menggigil ketakutan.
Hingga pukul 11.25, hampir tengah malam suara vespa memecah keheningan malam itu. Husin datang dan langsung memarkirkan motornya tepat di depan rumah. Ia masuk dan disambut dengan tangisan yang memecah keheningan malam.
“Pak, di situ!! Tadi ada orang ketawa nyaring, cekikikan gak berhenti.” Harti tergagap sambil memeluk erat pinggang suaminya.
“Di mana?! Bentar, biar ku bacok kalo emang ada.” Husin langsung mengambil sebilah golok dan kembali mengecek teras rumah mereka. Dan yang ia temukan hanyalah sepinya malam dengan suara jangkrik dari
seberang jalan yang lebarnya tak lebih dari 2 meter.
Malam itu Harti terselamatkan, ia kembali tenang setelah sang suami memastikan tidak ada yang bisa ia temukan di depan rumahnya. Mereka akhirnya bisa terlelap sambil ditemani beberapa benda tajam seperti jarum, silet, gunting dan bulu landak sebagai proteksi sang jabang bayi.
***
Sore itu, Harti merasa sakit perut dan ingin buang hajat. Ia lalu keluar rumah melalui pintu belakang dan menuju toilet bersama yang berada tepat di belakang kontrakannya. Perlahan ia turun menuju belakang rumah, sambil memegangi perut besarnya dan melihat toilet dalam kondisi tertutup.
Harti menunggu sejenak. Karena tak ada suara, ia memutuskan untuk mendorong pintu toilet tersebut. Ia terkejut, pintu itu tak terkunci, namun di dalamnya ada seorang nenek yang sedang duduk berjongkok di atas kloset seperti sedang membuang hajat.
“Maaf, saya kira gak ada orang.” Ucapnya sambil langsung menutup pintu dan menunggu di mulut pintu rumahnya.
Beberapa menit berlalu, tak ada tanda bahwa sang nenek sudah selesai. Bahkan tidak ada suara sama sekali dari dalam toilet. Sementara hajat Harti sudah sulit untuk ditahan. Ia pun kembali mengetuk pintu toilet tersebut, seketika toilet itu terbuka. Di dalamnya tak ada orang, nenek yang sedang berjongkok di atas toilet sudah hilang.
Karena sudah menunggu lama dan tak bisa ditahan lagi. Maka Harti langsung saja masuk ke dalam toilet dan menuntaskan hajatnya yang sudah hampir tak terbendung. Sore itu, adalah pertama kali Harti melihat sosok tak asing yang mungkin saja bukan manusia.
***
Pagi menyingsing, hawa dingin dan sejuk mengiringi niat Harti yang ingin berjalan-jalan. Kumpulan tumbuhan pandan tumbuh di depan rumahnya yang di bawahnya merupakan genangan air. Kontrakan 3 pintu yang hanya memilik satu toilet bersama. Toilet yang berada tepat di belakang dapur rumah Harti.
Ditemani sang suami, Harti berjalan-jalan sambil menikmati udara pagi
yang segar. Disambut dengan sapaan para tetangga yang mayoritas adalah warga suku lokal. Dengan logat Kutai dan Banjar yang kental, mereka menyapa sembari menyapu atau menyiram tanaman.
“Hendak ke mana kita? Gaknya tumat lagi lahir ni. – Mau kemana? Sepertinya sebentar lagi lahiran.” ucap seorang wanita penjual kue-kue basah yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbok Joi dengan logat Kutai
yang kental.
“Ohh, bejalanan aja. Biar kena kalo lahiran lancar, – Mau jalan-jalan saja. Supaya nanti lahiran lancar,” jawab Husin dengan logat Banjar.
“Bulu landak ngan gunting jangan lupa dibawa, biar ndik dilirik kuyang, – Bulu landak sama gunting jangan lupa dibawa, supaya tidak dilirik (hantu) kuyang,” timpal Mbok Joi lagi sambil tersenyum sembari merapikan kue dagangannya.
“Iya, makasih, Mbok Joi.” Husin tersenyum sambil melanjutkan menemani Harti berjalan berkeliling.
Di kota ini, mitos dan rumor tentang kuyang memang sangat dipercaya. Terutama oleh para warga asli yang memang sangat memegang teguh kepercayaan lokal. Dan entah, percaya/tidak percaya semua itu diceritakan turun-temurun dan kabarnya memang sudah ada yang pernah membuktikan keberadaan dan kebenarannya.
Harti dan Husin berjalan menikmati pagi dengan santai. Embun masih terasa membasahi kulit, juga meninggalkan titik-titik bulir air di atas dedaunan di kiri-kanan gang. Banyak orang berlalu-lalang membawa keranjang belanjaan karena pasar juga masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Juga anak-anak sekolah yang sedang jalan bergerombol menuju tempat mereka menuntut ilmu. Juga beberapa ibu yang sedang berjalan berlainan arah. Salah satunya menggunakan kerudung dengan ujung yang melilit di lehernya.
Mereka bercakap sambil salah satunya menatap Harti yang dengan pandangan yang menyelidik. Hingga saat perpapasan, ia bahkan sampai menolehkan kepalanya memandang Harti yang sedang berjalan sambil memegangi perutnya Wanita itu menelan ludahnya sambil menjilat bibirnya sendiri.
“Hmmm.. Wangi..” batinnya.
***
Spoiler for Bab Selanjutnya Gan!:
Spoiler for Bab Selanjutnya Gan!:
Spoiler for Bab Selanjutnya, Gan!:
Spoiler for Lanjut lagi, Gan!:
Spoiler for Selamat bermalam Minggu, Gan!:
Spoiler for Habis konser, lanjut cerita!:
Spoiler for Telat sehari.:
Spoiler for Lanjutan lagi!:
Spoiler for Malming sendu:
Spoiler for Capek motoran:
Spoiler for Habis selesein cerita untuk KUNCEN:
Spoiler for Mau nonton layar tancap:
Spoiler for Minggu pertama Oktober!! Gas!!:
Spoiler for Udah sepertiga cerita nih!:
Sekian Agan-Agan semua, malam Minggu depan ceritanya akan dilanjutkan.
Diubah oleh saujanastory 14-10-2023 19:36
itkgid dan 19 lainnya memberi reputasi
20
4.5K
Kutip
57
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
saujanastory
#16
Maaf, Gan. Semalem lupa update. Ayo kita lanjut.
Bab VIII. Rencana Mentah Pemuda Bodoh
Sanaksara – Sidoarto, 2017
Kemal menempuh perjalanan menuju bandara diantar seorang driver ojek online yang kebetulan adalah temannya sendiri. Sayang rasanya jika ia harus naik taksi atau diantar orang lain. Lebih baik uangnya diberikan untuk teman sebagai tambahan modal jasa antar makanan.
Membawa tas ransel dan uang tunai seperlunya, Kemal dengan mantap menghantam aspal menuju bandara. Sebenarnya masih terlalu pagi, namun lebih baik terlalu cepat daripada ia harus terhalang kemacetan kendaraan besar antar-kota. Ditambah, terkadang jalan menuju bandara sering terhalang banjir jika hujan deras.
Sejauh ini, perhitungan Kemal tepat. Ia tentu tak akan terlambat untuk check-in, tak akan terhadang kemacetan karena ia berangkat dua jam lebih cepat dari keberangkatannya. Dan tentunya semakin lancar karena tidak ada hujan dari semalam.
Di perjalanan, Kemal melihat sekeliling. Embun masih menyelimuti sebagian kecil Kota Sanaksara. Jalan menuju bandara juga terlihat sedikit berkabut karena jauh dari tengah kota. Pepohonan dan tanah merah terlihat sejauh mata memandang.
Namun tetap saja, tak bisa terlalu santai dan lengah karena penguasa jalan poros ini adalah truk-truk pengangkut alat berat dan bus antar-kota sebesar Megatron. Sekilas membuyarkan acara zone-out yang menjadi ritual sehari-hari Kemal.
Semalam, Kemal sudah menghubungi Akbar tentang jadwal keberangkatan dan nomor penerbangannya. Ia juga meminta Akbar untuk menjemputnya di bandara, setidaknya agar ia tak tersesat di Sidoarto.
Kurang lebih satu jam perjalanan, mereka akhirnya sampai di depan gerbang bandara. Jalan masuknya lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Sehingga mau tidak mau ia meminta diantar sampai depan pintu masuk.
Menenteng ransel, Kemal berpamitan kepada temannya sambil menyerahkan uang Rp 50.000,- sebagai ongkos mengantar. Ia juga meminta doa agar perjalanannya lancar, mengingat ia akan pergi ke tempat yang sudah lama ia tinggalkan. Dan meminta sang teman untuk berhati-hati ketika pulang menuju tengah kota. Karena sinyal internet cukup sulit ditemukan di perjalanan.
Menunggu keberangkatan, Kemal membaca beberapa artikel mengenai daerah yang akan ia datangi. Tak lupa mengabari Akbar bahwa satu jam lagi ia akan terbang. Koordinasi sangat ia perlukan saat ini.
“Mal, kamu tuh dah lama ndak pulang ke Lapengan, kemungkinan besar orang di sana ndak ada yang kenal. Jadi kalo nanti kamu dah sampe Lapengan, bilang aja kamu anaknya, cucunya Jaminah.” Harti menelepon, takut jika Kemal dianggap orang asing di desa.
“Iya, nanti pasti ngomong sama orang sana. Ibuk kalo bisa hubungi salah satu keluarga di sana, biar mereka ndak kaget kalo Kemal datang,” jawab Kemal singkat pada sang ibu.
Harti juga berpesan tentang beberapa pantangan yang ada di Desa Lapengan. Mengingatkan kembali agar tidak sembarangan, karena hingga saat ini Desa Lapengan masih saja wingit. Juga tentang beberapa area yang tidak boleh ia datangi sendirian, apalagi ia adalah “orang luar”.
Setelah banyak pesan dan nasehat, mereka mengahiri panggilan telepon. Dan Kemal kembali mendengarkan lagu sambil browsing dan berkabar dengan Akbar dan beberapa teman yang kemungkinan bisa diajak bertemu setelah kunjungan ke Lapengan.
Pemandangan yang sudah lama tak Kemal temui akhirnya terhampar di hadapannya. Sejauh mata memandang hanya ada awan dan hamparan laut yang biru. Juga beberapa kapal yang terlihat seperti miniatur di bawah sana.
Sudah empat tahun sejak pengalaman terakhirnya terbang. Salah satu hal yang paling ia rindukan, baik pemandangan, maupun ketenangannya. Berada di udara memang selalu membuat semangat dan rasa gugup membuncah bersamaan.
Jujur, ia ingin sejenak memejamkan mata karena hari ini ia bangun terlalu pagi. Namun sangat sayang jika ia harus merelakan pemandangan langka hanya untuk pergi ke alam mimpi. Hingga akhirnya ia kembali ber-zone out, membayangkan betapa menyenangkannya apa yang akan ia lakukan nanti.
“Perhatian kepada para penumpang. Sesaat lagi kita akan landing di bandara Juanda. Harap tegakkan kursi dan kencangkan sabuk pengaman.”
Suara lirih seorang pramugari terdengar memberi peringatan. Kemal bergegas memandang ke luar jendela. Dan terlihat hamparan laut biru muda bercampur warna kecoklatan, kumpulan kapal, juga hamparan daratan di kejauhan.
“Sebentar lagi pengalaman baru bakal dimulai,” gumamnya dalam hati.
Pesawat pun rasanya terbang lebih rendah, berputar melintasi hamparan atap gedung dan gedung perkantoran. Terlihat sangat terang di bawah sana karena matahari hampir tepat di atas kepala. Dan beberapa saat, pesawat pun mendarat.
Kemal berjalan menyusuri gerbang kedatangan sambil menyematkan kacamata di atas tulang hidungnya. Rambutnya diurai sepundak dan ditutup hoodie abu-abu, dipadukan dengan celana jeans pendek selutut juga sepatu Adidas running hitam.
Dari kejauhan, terlihat sosok pemuda cungkring berambut hampir sebahu sedang duduk sambil mengobrol dengan handphone-nya. Sepertinya ia sedang asik bermain game sambil voice-chat.
“Bar!” Kemal menepuk bahu Akbar yang sedari tadi tak menyadari kehadirannya.
“Eh, Mas!” ucapnya bersalaman sambil menutup game yang ia mainkan. Tak peduli nantinya ia akan AFK dan dimarahi habis-habisan.
“Piye, wis suwi?– Gimana, udah lama (nunggu)?”
“Alah, biasa wae, Mas. Ak nunggu yo nyambi nge-game kok, ra kroso blas, – Halah, biasa aja, Mas. Aku yaa nunggu sambil main game kok, gak kerasa sama sekali (nunggunya),” jawab Akbar yang memang merupakan gamers ML sejati.
“Yaudah, ayo kalo gitu. Langsung aja nyari makan, trus ke hotel buat naruh barang. Uabot ki!” Kemal langsung mengajak Akbar meninggalkan bandara sambil menahan berat ransel.
Mereka berdua menaiki taksi online dari bandara. Kondisi jalan cukup lancar karena hari ini memang bukan hari libur. Lalu lintas menuju dan dari bandara terlihat ramai tapi sangat lancar. Cuaca sangat cerah dan cenderung panas, membuat silau mata yang memandang keluar jendela.
Mereka akhirnya saling menanyakan kondisi, bagaimana diperjalanan tadi, juga mematangkan rencana yang akan dilaksanakan. Sejauh ini, perhitungan Kemal sudah cukup akurat. Baik dari segi perjalanan, pendanaan dan agenda apa saja yang akan dilakukan. Karena rencananya mereka akan singgah di Malang untuk meetup dengan beberapa kenalan.
Mereka berhenti di depan sebuah gedung berlantai empat yang kemungkinan adalah beberapa unit ruko yang dijadikan satu dan difungsikan sebagai hotel murah. Gedungnya terlihat cukup baru dengan warna tosca beraksen kuning. Dengan deretan perabot dan meja resepsionis berwarna putih gading.
Jujur, Kemal memang tidak banyak mengetahui tentang hotel ini. Ia hanya memesan berdasarkan harga dan rating di aplikasi. Lagipula penilaiannya juga bagus dengan komentar yang meyakinkan, jadi tak ada salahnya ia pesan. Sekalian menghemat biaya akomodasi, karena tentu tidak enak jika harus menginap di rumah Akbar.
Kemal mendapat kamar di lantai tiga dengan nomor 312 yang letaknya hampir di ujung lorong. Sehingga ia harus menyusuri koridor sekeluarnya dari lift.
“Sepi ne nemen iki, Mas, – Sepinya keterlaluan ini, Mas,” celetuk Akbar yang menemani Kemal.
“Halah, rapopo, Bar. Sesok yoo checkout. – Halah, gakpapa, Bar. Besok yaa checkout kok.” Kemal tak menggubris perkataan Akbar.
Kemal tak ingin pikiran dan bayangan negatif merusak ekspektasinya. Apalagi ia berada di kota yang bukan lahan bermainnya. Meskipun harus diakui, kalau hotel ini terlampau sepi. Mengingat lokasinya yang terletak di dekat pusat kota.
Akbar menunggu di dekat pintu, sementara Kemal meletakkan ransel bawaannya, mengecek kelengkapan kamar mandi dan kebersihan kamar. Juga mengambil tas kecil berisi rokok, vaporizer, dan charger handphone yang akan dibawa ketika nongkrong.
Mereka pun berangkat meninggalkan kamar menuju salah satu warkop tempat biasanya Akbar nongkrong bersama beberapa temannya. Di sana Akbar menitipkan motor yang sudah diservis sedari pagi.
Sekian, Gan. Kali ini gak ada horornya, minggu depan baru ada. Selamat malam.
Quote:
Bab VIII. Rencana Mentah Pemuda Bodoh
Sanaksara – Sidoarto, 2017
Kemal menempuh perjalanan menuju bandara diantar seorang driver ojek online yang kebetulan adalah temannya sendiri. Sayang rasanya jika ia harus naik taksi atau diantar orang lain. Lebih baik uangnya diberikan untuk teman sebagai tambahan modal jasa antar makanan.
Membawa tas ransel dan uang tunai seperlunya, Kemal dengan mantap menghantam aspal menuju bandara. Sebenarnya masih terlalu pagi, namun lebih baik terlalu cepat daripada ia harus terhalang kemacetan kendaraan besar antar-kota. Ditambah, terkadang jalan menuju bandara sering terhalang banjir jika hujan deras.
Sejauh ini, perhitungan Kemal tepat. Ia tentu tak akan terlambat untuk check-in, tak akan terhadang kemacetan karena ia berangkat dua jam lebih cepat dari keberangkatannya. Dan tentunya semakin lancar karena tidak ada hujan dari semalam.
Di perjalanan, Kemal melihat sekeliling. Embun masih menyelimuti sebagian kecil Kota Sanaksara. Jalan menuju bandara juga terlihat sedikit berkabut karena jauh dari tengah kota. Pepohonan dan tanah merah terlihat sejauh mata memandang.
Namun tetap saja, tak bisa terlalu santai dan lengah karena penguasa jalan poros ini adalah truk-truk pengangkut alat berat dan bus antar-kota sebesar Megatron. Sekilas membuyarkan acara zone-out yang menjadi ritual sehari-hari Kemal.
Semalam, Kemal sudah menghubungi Akbar tentang jadwal keberangkatan dan nomor penerbangannya. Ia juga meminta Akbar untuk menjemputnya di bandara, setidaknya agar ia tak tersesat di Sidoarto.
Kurang lebih satu jam perjalanan, mereka akhirnya sampai di depan gerbang bandara. Jalan masuknya lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Sehingga mau tidak mau ia meminta diantar sampai depan pintu masuk.
Menenteng ransel, Kemal berpamitan kepada temannya sambil menyerahkan uang Rp 50.000,- sebagai ongkos mengantar. Ia juga meminta doa agar perjalanannya lancar, mengingat ia akan pergi ke tempat yang sudah lama ia tinggalkan. Dan meminta sang teman untuk berhati-hati ketika pulang menuju tengah kota. Karena sinyal internet cukup sulit ditemukan di perjalanan.
…
Menunggu keberangkatan, Kemal membaca beberapa artikel mengenai daerah yang akan ia datangi. Tak lupa mengabari Akbar bahwa satu jam lagi ia akan terbang. Koordinasi sangat ia perlukan saat ini.
“Mal, kamu tuh dah lama ndak pulang ke Lapengan, kemungkinan besar orang di sana ndak ada yang kenal. Jadi kalo nanti kamu dah sampe Lapengan, bilang aja kamu anaknya, cucunya Jaminah.” Harti menelepon, takut jika Kemal dianggap orang asing di desa.
“Iya, nanti pasti ngomong sama orang sana. Ibuk kalo bisa hubungi salah satu keluarga di sana, biar mereka ndak kaget kalo Kemal datang,” jawab Kemal singkat pada sang ibu.
Harti juga berpesan tentang beberapa pantangan yang ada di Desa Lapengan. Mengingatkan kembali agar tidak sembarangan, karena hingga saat ini Desa Lapengan masih saja wingit. Juga tentang beberapa area yang tidak boleh ia datangi sendirian, apalagi ia adalah “orang luar”.
Setelah banyak pesan dan nasehat, mereka mengahiri panggilan telepon. Dan Kemal kembali mendengarkan lagu sambil browsing dan berkabar dengan Akbar dan beberapa teman yang kemungkinan bisa diajak bertemu setelah kunjungan ke Lapengan.
***
Pemandangan yang sudah lama tak Kemal temui akhirnya terhampar di hadapannya. Sejauh mata memandang hanya ada awan dan hamparan laut yang biru. Juga beberapa kapal yang terlihat seperti miniatur di bawah sana.
Sudah empat tahun sejak pengalaman terakhirnya terbang. Salah satu hal yang paling ia rindukan, baik pemandangan, maupun ketenangannya. Berada di udara memang selalu membuat semangat dan rasa gugup membuncah bersamaan.
Jujur, ia ingin sejenak memejamkan mata karena hari ini ia bangun terlalu pagi. Namun sangat sayang jika ia harus merelakan pemandangan langka hanya untuk pergi ke alam mimpi. Hingga akhirnya ia kembali ber-zone out, membayangkan betapa menyenangkannya apa yang akan ia lakukan nanti.
“Perhatian kepada para penumpang. Sesaat lagi kita akan landing di bandara Juanda. Harap tegakkan kursi dan kencangkan sabuk pengaman.”
Suara lirih seorang pramugari terdengar memberi peringatan. Kemal bergegas memandang ke luar jendela. Dan terlihat hamparan laut biru muda bercampur warna kecoklatan, kumpulan kapal, juga hamparan daratan di kejauhan.
“Sebentar lagi pengalaman baru bakal dimulai,” gumamnya dalam hati.
Pesawat pun rasanya terbang lebih rendah, berputar melintasi hamparan atap gedung dan gedung perkantoran. Terlihat sangat terang di bawah sana karena matahari hampir tepat di atas kepala. Dan beberapa saat, pesawat pun mendarat.
***
Kemal berjalan menyusuri gerbang kedatangan sambil menyematkan kacamata di atas tulang hidungnya. Rambutnya diurai sepundak dan ditutup hoodie abu-abu, dipadukan dengan celana jeans pendek selutut juga sepatu Adidas running hitam.
Dari kejauhan, terlihat sosok pemuda cungkring berambut hampir sebahu sedang duduk sambil mengobrol dengan handphone-nya. Sepertinya ia sedang asik bermain game sambil voice-chat.
“Bar!” Kemal menepuk bahu Akbar yang sedari tadi tak menyadari kehadirannya.
“Eh, Mas!” ucapnya bersalaman sambil menutup game yang ia mainkan. Tak peduli nantinya ia akan AFK dan dimarahi habis-habisan.
“Piye, wis suwi?– Gimana, udah lama (nunggu)?”
“Alah, biasa wae, Mas. Ak nunggu yo nyambi nge-game kok, ra kroso blas, – Halah, biasa aja, Mas. Aku yaa nunggu sambil main game kok, gak kerasa sama sekali (nunggunya),” jawab Akbar yang memang merupakan gamers ML sejati.
“Yaudah, ayo kalo gitu. Langsung aja nyari makan, trus ke hotel buat naruh barang. Uabot ki!” Kemal langsung mengajak Akbar meninggalkan bandara sambil menahan berat ransel.
Mereka berdua menaiki taksi online dari bandara. Kondisi jalan cukup lancar karena hari ini memang bukan hari libur. Lalu lintas menuju dan dari bandara terlihat ramai tapi sangat lancar. Cuaca sangat cerah dan cenderung panas, membuat silau mata yang memandang keluar jendela.
Mereka akhirnya saling menanyakan kondisi, bagaimana diperjalanan tadi, juga mematangkan rencana yang akan dilaksanakan. Sejauh ini, perhitungan Kemal sudah cukup akurat. Baik dari segi perjalanan, pendanaan dan agenda apa saja yang akan dilakukan. Karena rencananya mereka akan singgah di Malang untuk meetup dengan beberapa kenalan.
Mereka berhenti di depan sebuah gedung berlantai empat yang kemungkinan adalah beberapa unit ruko yang dijadikan satu dan difungsikan sebagai hotel murah. Gedungnya terlihat cukup baru dengan warna tosca beraksen kuning. Dengan deretan perabot dan meja resepsionis berwarna putih gading.
Jujur, Kemal memang tidak banyak mengetahui tentang hotel ini. Ia hanya memesan berdasarkan harga dan rating di aplikasi. Lagipula penilaiannya juga bagus dengan komentar yang meyakinkan, jadi tak ada salahnya ia pesan. Sekalian menghemat biaya akomodasi, karena tentu tidak enak jika harus menginap di rumah Akbar.
Kemal mendapat kamar di lantai tiga dengan nomor 312 yang letaknya hampir di ujung lorong. Sehingga ia harus menyusuri koridor sekeluarnya dari lift.
“Sepi ne nemen iki, Mas, – Sepinya keterlaluan ini, Mas,” celetuk Akbar yang menemani Kemal.
“Halah, rapopo, Bar. Sesok yoo checkout. – Halah, gakpapa, Bar. Besok yaa checkout kok.” Kemal tak menggubris perkataan Akbar.
Kemal tak ingin pikiran dan bayangan negatif merusak ekspektasinya. Apalagi ia berada di kota yang bukan lahan bermainnya. Meskipun harus diakui, kalau hotel ini terlampau sepi. Mengingat lokasinya yang terletak di dekat pusat kota.
Akbar menunggu di dekat pintu, sementara Kemal meletakkan ransel bawaannya, mengecek kelengkapan kamar mandi dan kebersihan kamar. Juga mengambil tas kecil berisi rokok, vaporizer, dan charger handphone yang akan dibawa ketika nongkrong.
Mereka pun berangkat meninggalkan kamar menuju salah satu warkop tempat biasanya Akbar nongkrong bersama beberapa temannya. Di sana Akbar menitipkan motor yang sudah diservis sedari pagi.
Sekian, Gan. Kali ini gak ada horornya, minggu depan baru ada. Selamat malam.

namakuve dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas