- Beranda
- Stories from the Heart
DESA DIBALIK KABUT [HORROR STORY] [Kompetisi KGPT]
...
TS
jurigciwidey
DESA DIBALIK KABUT [HORROR STORY] [Kompetisi KGPT]
SAMPURASUN
Setelah sebelumnya ane menamatkan cerita Rarasukma, yang Insyallah Ide ceritanya akan di filmkan karena sudah dibeli oleh salah satu PH pada bulan Juli kemarin, yang ceritanya bisa kalian baca disini.
Sebelum ane bercerita kelanjutan tentang thread di atas, (Karena banyak yang request untuk melanjutkan ceritanya).
Ane mau bercerita lagi, sebenarnya cerita ini sudah lama ane buat, mungkin ada juga beberapa yang sudah baca cerita ini di tempat lain.
Namun, ane akan sebarkan ceritanya disini.
Semoga kalian bisa terhibur dengan cerita yang ane buat, sambil menunggu kelanjutan cerita Rarasukma yang ane buat.
NOTE : JANGAN ADA YANG MENGUPLOAD TANPA SEIZIN ANE, KARENA BEBERAPA KALI ADA YANG MENGUPLOADNYA KE YOUTUBE TANPA IZIN SEHINGGA TERPAKSA ANE TIDAK MELANJUTKAN CERITA YANG ANE BUAT
NOTE : JANGAN ADA YANG MENGUPLOAD TANPA SEIZIN ANE, KARENA BEBERAPA KALI ADA YANG MENGUPLOADNYA KE YOUTUBE TANPA IZIN SEHINGGA TERPAKSA ANE TIDAK MELANJUTKAN CERITA YANG ANE BUAT
Quote:
JANGAN LUPA, SUPPORT CERITA PENDEK ANE YANG IKUT KOMPETISI KUNCEN DISINI :
RUMAH
RITUAL TARIK JANIN - KUNCEN
RUMAH
RITUAL TARIK JANIN - KUNCEN
Maka dari itu, selamat menikmati ceritanya.
![DESA DIBALIK KABUT [HORROR STORY] [Kompetisi KGPT]](https://s.kaskus.id/images/2023/08/25/1454678_20230825011653.png)
Spoiler for BAB 1 : PENJARA:
“ABDI BANGUN!!!!”
Trang trang trang
Seorang petugas dengan kasarnya memukul-mukul pintu sel yang aku tempati, ruangan sel dengan ukuran 3x3 meter dengan satu kasur kecil tempat aku tidur, dan toilet kecil yang dipisah oleh tembok yang setinggi satu meter.
“HEY, JANGAN MELAMUN SAJA, AYO BANGUN!!”
Petugas itu berteriak kembali, aku seketika bangun dari tidurku yang tidak nyenyak ini. Dengan perasaan yang masih mengantuk aku melihat petugas itu membuka sel tahanan kemudian masuk ke dalam sel.
BLAM!
Aaaaakh
Petugas itu tiba-tiba memukul kakiku dengan keras dengan tongkat yang dia bawa. Aku seketika kesakitan sembari kedua tanganku memegang kaki yang terkena pukulan dari petugas itu.
Beberapa petugas kemudian datang dan masuk ke sel tahanan, mereka menarik paksa diriku yang masih terkantuk-kantuk untuk dibawanya keluar sel.
BLAM!
AKH..
Sebuah pukulan kembali dilayangkan ke tubuhku, aku kembali kesakitan akibat pukulan itu. Kemudian aku tersungkur di lantai dengan kondisi yang tidak berdaya, dan dua petugas yang datang menarik kakiku sehingga tubuhku tersungkur ke lantai. Aku yang tidak berdaya hanya bisa menahan sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa atas perlakuan petugas itu.
Kepala dan badanku berada di lantai sedangkan kakiku ditarik dengan paksa oleh kedua petugas tersebut.
Aku melewati beberapa sel tahanan lain dalam kondisi tersebut, namun semuanya sama, yang kulihat banyak petugas yang memukuli para tahanan lain dengan beringas, banyak suara teriakan yang menggema di penjara tersebut, suara-suara dari raungan rasa sakit yang mereka terima dari penyiksaan para petugas sipir penjara. Seperti hal yang biasa kami disiksa dan dipukuli dengan kejinya. Kami yang di penjara tidak bisa melawan para petugas, jika kami mencoba sedikit saja melawan mereka, yang ada kami akan dipindahkan ke ruangan khusus yang gelap dan di sana kami tidak diberi makan bahkan minum sedikitpun selama beberapa hari.
Sreeet Sreett
Dua petugas yang menyeretku kemudian berbelok dan memasuki sebuah ruangan, ruangan yang gelap dengan satu cahaya lampu di tengah ruangan, di sana terdapat suatu kursi dengan pengikat yang letaknya tepat di bawah lampu tersebut.
Badanku kemudian diangkat, dan didudukkan di kursi tersebut. Tangan dan kakiku diikat dengan kencang, namun aku sengaja mengangkat tanganku agar tidak menempel dengan kursi agar melonggarkan ikatan dari para penjaga itu.
Kemudian semua petugas yang membawaku perlahan-lahan keluar, mereka keluar secara bergantian dari ruangan itu dan meninggalkan aku sendirian.
“Di mana ini?” Pikirku.
Dengan rasa sakit yang aku terima masih sangat terasa. Aku mencoba melihat ke sekeliling ruangan itu, ruangan yang gelap dan hanya ditemani oleh salah satu lampu yang menggantung di atas kepalaku, aku juga melihat lantai yang disinari oleh cahaya itu, disana terdapat banyak bercak-bercak darah yang sudah mengering terkena sinar lampu yang menyala.
Aku mencoba menggoyang-goyangkan badanku, tangan yang tadi sengaja tidak aku tempelkan ke kursi ini aku coba gerakan, supaya bisa terlepas dari tali yang mengikatku.
Namun tiba-tiba,
Arrrrrghhhhhhhhhh
BLAM..!
Suara teriakan terdengar dari luar, kali ini suara teriakan itu terdengar keras bersamaan dengan suara yang menabrak sesuatu.
Tap tap tap
Beberapa suara kini kembali terdengar, suara orang-orang yang sedang berlari kesana kemari dengan keadaan panik. Suara itu terdengar keras dengan suara-suara teriakan hingga terdengar ke ruangan tempat aku berada.
“TOLONGGG, TOLLONGGG!!!”
BRUAAAAAK
Tampak sesuatu yang menabrak pintu, tabrakan sesuatu itu begitu keras sehingga membuat pintu dari ruangan tempat aku berada terbuka. Terlihat sesosok petugas yang tadi menyeretku tergeletak tidak bernyawa, seperti ada sesuatu yang melemparkan tubuhnya hingga menabrak pintu, dan akhirnya pintu tersebut terbuka. Aku mendadak panik seketika, dengan suara-suara teriakan yang datang membuat aku ingin segera melepas ikatan dari kursi ini, karena aku juga melihat tubuh petugas yang tergeletak di depanku itu penuh dengan darah, juga beberapa sayatan di badannya seperti ada hewan buas yang mencoba memangsanya.
“Ayolah, aku harus bisa melepaskan ikatan ini!” Pikirku dengan keadaan panik sembari sekuat tenaga melepas ikatan itu.
“Sedikit lagi, sedikit lagi, .... aaaarghhh... argggghhh!”
Aku mencoba melepaskan tanganku yang terikat, meskipun sedikit sakit, aku mencoba memaksanya hingga,
“Akhirnya lepas juga, sekarang tinggal kaki yang masih terikat,”
Aku bernafas lega ikatan di tanganku sudah lepas, suara-suara teriakan di tempat itu masih saja terdengar, aku semakin panik dengan keadaan di sel tersebut, aku harus segera melepaskan ikatanku dan keluar dari tempat ini.
Dengan sekuat tenaga akhirnya aku bisa melepaskan ikatan dari kursi tersebut, aku seketika berlari, berlari melewati pintu yang sudah rusak tersebut, tak lupa aku juga mengambil tongkat dari mayat petugas itu, untuk sekedar berjaga-jaga, karena aku yakin ada yang tidak beres dengan tempat ini sekarang.
Namun aku begitu terkejut ketika aku keluar ruangan tersebut, sel tahanan yang seharusnya berada di lorong tempat aku berdiri sekarang berubah, sel tahanan yang kulihat tadi, sekarang berubah menjadi lorong panjang dengan obor di kedua sisinya, obor tersebut menyala di lorong sebelah kanan dengan terangnya berjejer hingga ke ujung. Sel-sel tahanan di kedua sisinya berubah menjadi dinding batu di kedua sisinya, seperti sebuah gua yang memanjang dengan banyak noda darah di sekitarnya.
Ketika aku melihat ke arah kiri, terdapat lorong yang gelap gulita, lorong yang tanpa penerangan sama sekali, yang ada hanya lorong kosong yang gelap dan tidak terlihat apapun di sana.
Aku seketika terdiam, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang. Semuanya berubah secara mendadak, rasa takut yang kurasakan membuatku malas untuk melangkah, namun tiba-tiba sebuah suara muncul. Suara yang datangnya dari arah kanan, yang di mana arah kanan adalah lorong yang diterangi oleh obor.
"AAHAHAHAHAHAHAHAAHA."
DUG DUG DUG
"AHAHAHAHA."
Suara itu kemudian tertawa keras, dengan langkah kaki yang dihentakan membuat suara tersebut terdengar nyaring ke tempat aku berdiri, seketika aku secara spontan mengambil obor yang ada didekatku dan kemudian aku berlari ke arah kiri, ke arah lorong gelap yang tidak ada cahaya sama sekali.
Tap tap tap
Aku berlari sekuat tenaga dengan obor yang aku bawa sebagai penerang, namun seakan-akan lorong tersebut adalah lorong tanpa ujung, aku terus-menerus berlari tanpa tahu kapan aku harus berhenti, suara-suara itu masih terdengar dan kali ini seperti mengejarku dari belakang, sesaat aku melihat kebelakang sembari berlari, namun tidak ada siapa siapa, dan ketika aku berbalik secara tiba-tiba,
Duag
Aku menabrak sesuatu, sesuatu yang besar yang menghalangi jalanku sehingga membuatku terjatuh, dengan obor yang masih di tangan aku mencoba menerangi sesuatu yang menghalangi ku itu. Aku sontak kaget karena apa yang aku lihat ternyata bukanlah manusia,
Ternyata di depanku adalah sosok tinggi besar yang menyeringai kepadaku, sosok yang terlihat besar dengan gigi tajam yang mencuat keluar, dia tertawa kecil dan kemudian membuka mulutnya secara lebar.
“HAHAHAHAHAHAHA.”
Suara itu terdengar sangat keras, suara yang tadinya terdengar di belakang ku kini berada tepat di depanku, dengan wajah yang menyeramkan dia berkata.
“ABDI SEKARANG GILIRANMU, DUA ORANG LAINYA SUDAH AKU MAKAN, DAN KAMU ADALAH ORANG KETIGA UNTUK AKU MAKAN.”
Aku merasa ketakutan, badanku tidak henti-hentinya gemetar, tanpa aku sadari keringat dingin pun bercucuran, juga kakiku seperti membeku, tidak bisa untuk melangkah. Aku hanya bisa melihat mulut makhluk itu membuka rahangnya yang besar, dengan gigi yang mencuat keluar, terlihat gigi yang dipenuhi dengan darah segar mendekat, seakan-akan akan melahapku.
Aku hanya bisa menutup mata dan menutupi kepala dengan tanganku, aku sudah merasa putus asa, mungkin ini adalah akhir dari hidupku, pandanganku mulai gelap sepertinya mulut dari makhluk itu sudah sangat dekat.
Dan akhirnya....
Trang trang trang
Seorang petugas dengan kasarnya memukul-mukul pintu sel yang aku tempati, ruangan sel dengan ukuran 3x3 meter dengan satu kasur kecil tempat aku tidur, dan toilet kecil yang dipisah oleh tembok yang setinggi satu meter.
“HEY, JANGAN MELAMUN SAJA, AYO BANGUN!!”
Petugas itu berteriak kembali, aku seketika bangun dari tidurku yang tidak nyenyak ini. Dengan perasaan yang masih mengantuk aku melihat petugas itu membuka sel tahanan kemudian masuk ke dalam sel.
BLAM!
Aaaaakh
Petugas itu tiba-tiba memukul kakiku dengan keras dengan tongkat yang dia bawa. Aku seketika kesakitan sembari kedua tanganku memegang kaki yang terkena pukulan dari petugas itu.
Beberapa petugas kemudian datang dan masuk ke sel tahanan, mereka menarik paksa diriku yang masih terkantuk-kantuk untuk dibawanya keluar sel.
BLAM!
AKH..
Sebuah pukulan kembali dilayangkan ke tubuhku, aku kembali kesakitan akibat pukulan itu. Kemudian aku tersungkur di lantai dengan kondisi yang tidak berdaya, dan dua petugas yang datang menarik kakiku sehingga tubuhku tersungkur ke lantai. Aku yang tidak berdaya hanya bisa menahan sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa atas perlakuan petugas itu.
Kepala dan badanku berada di lantai sedangkan kakiku ditarik dengan paksa oleh kedua petugas tersebut.
Aku melewati beberapa sel tahanan lain dalam kondisi tersebut, namun semuanya sama, yang kulihat banyak petugas yang memukuli para tahanan lain dengan beringas, banyak suara teriakan yang menggema di penjara tersebut, suara-suara dari raungan rasa sakit yang mereka terima dari penyiksaan para petugas sipir penjara. Seperti hal yang biasa kami disiksa dan dipukuli dengan kejinya. Kami yang di penjara tidak bisa melawan para petugas, jika kami mencoba sedikit saja melawan mereka, yang ada kami akan dipindahkan ke ruangan khusus yang gelap dan di sana kami tidak diberi makan bahkan minum sedikitpun selama beberapa hari.
Sreeet Sreett
Dua petugas yang menyeretku kemudian berbelok dan memasuki sebuah ruangan, ruangan yang gelap dengan satu cahaya lampu di tengah ruangan, di sana terdapat suatu kursi dengan pengikat yang letaknya tepat di bawah lampu tersebut.
Badanku kemudian diangkat, dan didudukkan di kursi tersebut. Tangan dan kakiku diikat dengan kencang, namun aku sengaja mengangkat tanganku agar tidak menempel dengan kursi agar melonggarkan ikatan dari para penjaga itu.
Kemudian semua petugas yang membawaku perlahan-lahan keluar, mereka keluar secara bergantian dari ruangan itu dan meninggalkan aku sendirian.
“Di mana ini?” Pikirku.
Dengan rasa sakit yang aku terima masih sangat terasa. Aku mencoba melihat ke sekeliling ruangan itu, ruangan yang gelap dan hanya ditemani oleh salah satu lampu yang menggantung di atas kepalaku, aku juga melihat lantai yang disinari oleh cahaya itu, disana terdapat banyak bercak-bercak darah yang sudah mengering terkena sinar lampu yang menyala.
Aku mencoba menggoyang-goyangkan badanku, tangan yang tadi sengaja tidak aku tempelkan ke kursi ini aku coba gerakan, supaya bisa terlepas dari tali yang mengikatku.
Namun tiba-tiba,
Arrrrrghhhhhhhhhh
BLAM..!
Suara teriakan terdengar dari luar, kali ini suara teriakan itu terdengar keras bersamaan dengan suara yang menabrak sesuatu.
Tap tap tap
Beberapa suara kini kembali terdengar, suara orang-orang yang sedang berlari kesana kemari dengan keadaan panik. Suara itu terdengar keras dengan suara-suara teriakan hingga terdengar ke ruangan tempat aku berada.
“TOLONGGG, TOLLONGGG!!!”
BRUAAAAAK
Tampak sesuatu yang menabrak pintu, tabrakan sesuatu itu begitu keras sehingga membuat pintu dari ruangan tempat aku berada terbuka. Terlihat sesosok petugas yang tadi menyeretku tergeletak tidak bernyawa, seperti ada sesuatu yang melemparkan tubuhnya hingga menabrak pintu, dan akhirnya pintu tersebut terbuka. Aku mendadak panik seketika, dengan suara-suara teriakan yang datang membuat aku ingin segera melepas ikatan dari kursi ini, karena aku juga melihat tubuh petugas yang tergeletak di depanku itu penuh dengan darah, juga beberapa sayatan di badannya seperti ada hewan buas yang mencoba memangsanya.
“Ayolah, aku harus bisa melepaskan ikatan ini!” Pikirku dengan keadaan panik sembari sekuat tenaga melepas ikatan itu.
“Sedikit lagi, sedikit lagi, .... aaaarghhh... argggghhh!”
Aku mencoba melepaskan tanganku yang terikat, meskipun sedikit sakit, aku mencoba memaksanya hingga,
“Akhirnya lepas juga, sekarang tinggal kaki yang masih terikat,”
Aku bernafas lega ikatan di tanganku sudah lepas, suara-suara teriakan di tempat itu masih saja terdengar, aku semakin panik dengan keadaan di sel tersebut, aku harus segera melepaskan ikatanku dan keluar dari tempat ini.
Dengan sekuat tenaga akhirnya aku bisa melepaskan ikatan dari kursi tersebut, aku seketika berlari, berlari melewati pintu yang sudah rusak tersebut, tak lupa aku juga mengambil tongkat dari mayat petugas itu, untuk sekedar berjaga-jaga, karena aku yakin ada yang tidak beres dengan tempat ini sekarang.
Namun aku begitu terkejut ketika aku keluar ruangan tersebut, sel tahanan yang seharusnya berada di lorong tempat aku berdiri sekarang berubah, sel tahanan yang kulihat tadi, sekarang berubah menjadi lorong panjang dengan obor di kedua sisinya, obor tersebut menyala di lorong sebelah kanan dengan terangnya berjejer hingga ke ujung. Sel-sel tahanan di kedua sisinya berubah menjadi dinding batu di kedua sisinya, seperti sebuah gua yang memanjang dengan banyak noda darah di sekitarnya.
Ketika aku melihat ke arah kiri, terdapat lorong yang gelap gulita, lorong yang tanpa penerangan sama sekali, yang ada hanya lorong kosong yang gelap dan tidak terlihat apapun di sana.
Aku seketika terdiam, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang. Semuanya berubah secara mendadak, rasa takut yang kurasakan membuatku malas untuk melangkah, namun tiba-tiba sebuah suara muncul. Suara yang datangnya dari arah kanan, yang di mana arah kanan adalah lorong yang diterangi oleh obor.
"AAHAHAHAHAHAHAHAAHA."
DUG DUG DUG
"AHAHAHAHA."
Suara itu kemudian tertawa keras, dengan langkah kaki yang dihentakan membuat suara tersebut terdengar nyaring ke tempat aku berdiri, seketika aku secara spontan mengambil obor yang ada didekatku dan kemudian aku berlari ke arah kiri, ke arah lorong gelap yang tidak ada cahaya sama sekali.
Tap tap tap
Aku berlari sekuat tenaga dengan obor yang aku bawa sebagai penerang, namun seakan-akan lorong tersebut adalah lorong tanpa ujung, aku terus-menerus berlari tanpa tahu kapan aku harus berhenti, suara-suara itu masih terdengar dan kali ini seperti mengejarku dari belakang, sesaat aku melihat kebelakang sembari berlari, namun tidak ada siapa siapa, dan ketika aku berbalik secara tiba-tiba,
Duag
Aku menabrak sesuatu, sesuatu yang besar yang menghalangi jalanku sehingga membuatku terjatuh, dengan obor yang masih di tangan aku mencoba menerangi sesuatu yang menghalangi ku itu. Aku sontak kaget karena apa yang aku lihat ternyata bukanlah manusia,
Ternyata di depanku adalah sosok tinggi besar yang menyeringai kepadaku, sosok yang terlihat besar dengan gigi tajam yang mencuat keluar, dia tertawa kecil dan kemudian membuka mulutnya secara lebar.
“HAHAHAHAHAHAHA.”
Suara itu terdengar sangat keras, suara yang tadinya terdengar di belakang ku kini berada tepat di depanku, dengan wajah yang menyeramkan dia berkata.
“ABDI SEKARANG GILIRANMU, DUA ORANG LAINYA SUDAH AKU MAKAN, DAN KAMU ADALAH ORANG KETIGA UNTUK AKU MAKAN.”
Aku merasa ketakutan, badanku tidak henti-hentinya gemetar, tanpa aku sadari keringat dingin pun bercucuran, juga kakiku seperti membeku, tidak bisa untuk melangkah. Aku hanya bisa melihat mulut makhluk itu membuka rahangnya yang besar, dengan gigi yang mencuat keluar, terlihat gigi yang dipenuhi dengan darah segar mendekat, seakan-akan akan melahapku.
Aku hanya bisa menutup mata dan menutupi kepala dengan tanganku, aku sudah merasa putus asa, mungkin ini adalah akhir dari hidupku, pandanganku mulai gelap sepertinya mulut dari makhluk itu sudah sangat dekat.
Dan akhirnya....
INDEX :
BAB 2 - 3
BAB 4 - 5
BAB 6
BAB 7
BAB 8
BAB 9
BAB 10
BAB 11
BAB 12
BAB 13
Diubah oleh jurigciwidey 17-10-2023 11:54
miebaso dan 24 lainnya memberi reputasi
25
18.9K
Kutip
303
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#10
Spoiler for BAB 6 - PENYEBAB:
Aku terdiam melihat Ibu menangis siang itu, kulihat orang-orang yang berlalu lalang kini tidak sesemangat seperti dahulu. Terlihat dari kepanikan wajah-wajah mereka yang seolah-olah menginginkan hal yang terjadi ini akan segera berakhir.
“Ibu tidak tahu kapan persisnya Abdi,” kata Ibuku sembari memegang tanganku.
“Ini dimulai sejak empat hari yang lalu, semuanya tampak normal, Ibu dan Bapakmu seperti biasa pergi ke ladang untuk berkebun dan memanen sayuran yang nantinya akan diberikan ke pengepul di jalan besar dekat hutan perbatasan.”
Kulihat wajahnya Ibu tampak sedih ketika dia menceritakan tentang hal yang sebenarnya, aku yang masih belum mengerti tentang semua ini hanya bisa terdiam melihat Ibuku bercerita tentang apa yang dia ketahui selama ini.
“Ibu tidak tahu bagaimana awalnya terjadi seperti ini, Ibu dan Bapak pulang dari kebun sore hari, dan melihat aktivitas di desa seperti biasa.”
“Namun ketika magrib menjelang, tiba-tiba terdengar teriakan orang yang berada dari luar, semuanya sungguh kacau. Banyak yang tidak percaya dengan desa yang tiba-tiba berubah, Ibu yang saat itu ada di rumah berusaha menyelamatkan diri dengan bersembunyi di dalam lemari. Sedangkan Bapak berjaga di dalam rumah hingga pagi menjelang.”
Aku seakan tidak percaya atas apa yang Ibu ceritakan, seakan-akan cerita ini adalah cerita dongeng ataupun cerita dari film-film fantasi yang sering aku tonton. Namun aku juga tidak menepis hal itu, karena aku sendiri mengalami hal yang sama ketika pertama kali datang ke tempat ini.
“Ibu tidak sanggup lagi apabila mengingat kembali kejadian itu, di dalam lemari Ibu ketakutan, badan Ibumu ini tidak henti-hentinya bergetar, bahkan semalaman Ibu tidak tidur. Begitupun juga Bapak, Abdi. Dia menjaga Ibu hingga pagi tiba."
Kacau, sungguh kacau. Ibu menceritakan hal yang sangat mengerikan yang terjadi di Desa Cihalimun, sesuatu yang tidak akan disangka-sangka oleh seluruh warga desa pada waktu itu.
Suatu desa yang asri dan sejahtera, dan terkenal damai karena sistem yang dikerjakan secara mandiri tanpa bantuan dari pihak luar. Kini keadaanya sangat mengenaskan.
Dalam satu malam Desa Cihalimun mengalami teror yang menakutkan, beruntung Ibu dan Bapak sudah ada di rumah pada malam itu, namun untuk orang-orang yang biasanya nongkrong di luar rumah dengan motor trailnya, juga penjaga warung yang buka hingga waktu malam, mereka menjadi sasaran empuk untuk para makhluk yang datang di malam itu.
Karena mereka tidak menyangka, desa yang dihuni oleh mereka seketika berubah menjadi menyeramkan. Dan mereka terjebak di sana sepanjang malam.
Desa Cihalimun tiba-tiba berubah dengan sendirinya. Desa yang asri itu didatangi makhluk yang menyeramkan datang ke desa setiap malam, sehingga setiap malam Desa Cihalimun menjadi desa yang dihuni oleh para makhluk yang menyeramkan, dan hal itu sudah berlangsung beberapa hari.
Muncul banyak teriakan dan suara menyeramkan di sekitar desa tersebut setiap malam.
Suara tertawa yang melengking terdengar dari luar, juga suara geraman seperti hewan buas dan ketukan pintu yang mengetuk setiap rumah terdengar setiap malam, para warga tidak berani membuka pintu mereka.
Bahkan jendela-jendela mereka tertutup sangat rapat, beberapa warga bahkan sengaja menutup pintu dan jendela mereka dengan lemari atau meja, karena khawatir para makhluk itu akan merangkak masuk ke dalam rumah dan meneror mereka.
Mereka tidak mengerti kenapa hal ini terjadi, hal yang mereka sendiri tidak tahu penyebabnya seperti apa. Namun teror itu berlangsung setiap malam dan berakhir dengan sendirinya ketika sinar matahari pagi muncul dari sela-sela pepohonan di sekitar desa.
Hanya rumah-rumah warga yang menjadi tempat berlindung paling aman apabila malam tiba. Sungguh aneh memang, karena para makhluk itu hanya menggedor pintu rumah atau membuat suara di tembok-tembok rumah, tanpa sekalipun sengaja masuk dan tidak mengganggu rumah-rumah warga.
Mereka hanya mengganggu dan berdiam diri di bangunan-bangunan yang bukan berbentuk rumah, seperti gedung olahraga, gedung pertemuan, Puskesmas dan yang lainnya.
“Tapi Bu,” aku mencoba memotong pembicaraan Ibuku yang sedang bercerita mengenai kejadian tersebut ketika aku tidak ada.
“Ketika aku terjebak di sana, aku bersembunyi di dalam rumah, namun makhluk itu merangkak masuk ke rumah tersebut hingga aku tidak sadarkan diri di sana,” kataku kepada Ibu.
Namun Ibu hanya menggelengkan kepala, karena situasi yang aku ceritakan dengan hal yang Ibu ketahui sungguh berbeda, dia berkata bahwa tidak mungkin di kediaman keluarga Mandala tidak ada orang di dalam rumahnya.
Apalagi keluarga Mandala mempunyai tradisi untuk membuat rumahnya menjadi tempat tinggal yang bisa dihuni oleh beberapa keluarga.
Jadi sangat tidak mungkin apabila aku masuk ke rumah tersebut tanpa sekalipun melihat keluarga mereka yang ada di dalam rumah.
Aku semakin bingung dengan penjelasan Ibu, karena aku melihat sendiri bahwa rumah itu kosong. Namun akhirnya aku tidak terlalu memperdulikan hal itu, karena aku tidak mempunyai bukti yang cukup kuat untuk menyakinkan Ibuku saat itu.
“Lalu orang-orang yang terjebak di malam hari apakah banyak yang selamat sepertiku Bu?” kataku.
Ibu sejenak terdiam, dia seperti mencoba menyusun kata sebelum berbicara kepadaku.
“Hanya beberapa yang bisa selamat Abdi, sisanya hilang entah ke mana," kata Ibuku.
Menurut Ibu, hampir seperempat warga desa kini menghilang entah kemana, tua, muda, laki-laki, perempuan mereka menghilang secara misterius dan belum ditemukan hingga sekarang.
Biasanya mereka hilang karena belum sempat menyelamatkan diri ketika sore hari, sehingga mereka terjebak dan hilang ketika pagi hari.
“Lalu kenapa Bapak bisa menghilang juga Bu? bukannya Bapak ada di rumah bersama Ibu?” kataku kepada Ibu.
Ibu kemudian menunduk, wajahnya terlihat sedih. Dia seperti tidak ingin membicarakan hal tersebut, namun akhirnya dia menguatkan dirinya dan berkata kepadaku.
“Bapak dan beberapa orang berniat untuk mencari para warga yang hilang Abdi, atas perintah tetua desa mereka membentuk tim yang terdiri dari beberapa perwakilan dari tiga keluarga yang ada di Desa Cihalimun.”
“Sebagai orang yang dituakan dari keluarga Wilaga, Bapak ikut mencari bersamaan dengan orang-orang dari keluarga Tarmana dan Mandala.”
“Tim pertama dibentuk untuk memberitahukan apabila waktu malam hampir tiba, mereka bekerja berkeliling desa setiap sore untuk memberitahukan warga bahwa waktu malam sudah tiba, dan tim kedua yang bertugas mencari para warga yang hilang. Namun naas, tim kedua yang didalamnya ada Bapak tak kunjung kembali. ”
Ibu kembali menangis, air matanya terlihat jatuh di depanku. Aku tidak tega melihat Ibu menangis tersedu-sedu di depanku, karena dia kehilangan suaminya akibat kondisi desa yang seperti ini.
“Kita terjebak Abdi, satu hari setelah kejadian itu, warga desa berbondong-bondong keluar. Namun seperti yang kamu lihat, jembatan penghubung desa tiba-tiba berubah menjadi jurang yang sangat dalam sehingga kita terjebak di sini dengan teror yang seperti ini setiap malam.”
Aku seketika memeluk Ibuku saat itu, aku tak kuasa menahan air mata atas kesedihan yang dialami orang tuaku, muncul banyak pertanyaan sepulangnya aku dari penjara. Desa tempat aku hidup kini berubah sepenuhnya menjadi tempat yang menakutkan.
“Ada sesuatu yang salah,” kataku yang aku bergumam sendiri.
“Ibu tidak usah khawatir, Ibu diam aja dirumah, biar aku aja yang mencari Bapak, karena aku juga tidak tahu kondisi kampung saat ini, jadi aku harus berkeliling kampung terlebih dahulu. Semoga hal itu bisa memberikan aku petunjuk.”
“Udah, udah Ibu jangan menangis lagi ya. Bapak pasti pulang kok,” kataku menyemangati Ibu.
Aku pun menyuruh Ibu beristirahat, aku juga berpikir untuk mengetahui sesuatu yang ada dibalik peristiwa ini. Karena pasti ada sesuatu yang salah yang mengakibatkan Desa Cihalimun menjadi seperti ini.
Dan akhirnya ketika Ibu beranjak dari kamarku, aku bertanya.
“Bu apakah Ibu tahu ke mana pertama kali Bapak pergi untuk mencari warga yang hilang?"
“Ibu tidak tahu kapan persisnya Abdi,” kata Ibuku sembari memegang tanganku.
“Ini dimulai sejak empat hari yang lalu, semuanya tampak normal, Ibu dan Bapakmu seperti biasa pergi ke ladang untuk berkebun dan memanen sayuran yang nantinya akan diberikan ke pengepul di jalan besar dekat hutan perbatasan.”
Kulihat wajahnya Ibu tampak sedih ketika dia menceritakan tentang hal yang sebenarnya, aku yang masih belum mengerti tentang semua ini hanya bisa terdiam melihat Ibuku bercerita tentang apa yang dia ketahui selama ini.
“Ibu tidak tahu bagaimana awalnya terjadi seperti ini, Ibu dan Bapak pulang dari kebun sore hari, dan melihat aktivitas di desa seperti biasa.”
“Namun ketika magrib menjelang, tiba-tiba terdengar teriakan orang yang berada dari luar, semuanya sungguh kacau. Banyak yang tidak percaya dengan desa yang tiba-tiba berubah, Ibu yang saat itu ada di rumah berusaha menyelamatkan diri dengan bersembunyi di dalam lemari. Sedangkan Bapak berjaga di dalam rumah hingga pagi menjelang.”
Aku seakan tidak percaya atas apa yang Ibu ceritakan, seakan-akan cerita ini adalah cerita dongeng ataupun cerita dari film-film fantasi yang sering aku tonton. Namun aku juga tidak menepis hal itu, karena aku sendiri mengalami hal yang sama ketika pertama kali datang ke tempat ini.
“Ibu tidak sanggup lagi apabila mengingat kembali kejadian itu, di dalam lemari Ibu ketakutan, badan Ibumu ini tidak henti-hentinya bergetar, bahkan semalaman Ibu tidak tidur. Begitupun juga Bapak, Abdi. Dia menjaga Ibu hingga pagi tiba."
Kacau, sungguh kacau. Ibu menceritakan hal yang sangat mengerikan yang terjadi di Desa Cihalimun, sesuatu yang tidak akan disangka-sangka oleh seluruh warga desa pada waktu itu.
Suatu desa yang asri dan sejahtera, dan terkenal damai karena sistem yang dikerjakan secara mandiri tanpa bantuan dari pihak luar. Kini keadaanya sangat mengenaskan.
Dalam satu malam Desa Cihalimun mengalami teror yang menakutkan, beruntung Ibu dan Bapak sudah ada di rumah pada malam itu, namun untuk orang-orang yang biasanya nongkrong di luar rumah dengan motor trailnya, juga penjaga warung yang buka hingga waktu malam, mereka menjadi sasaran empuk untuk para makhluk yang datang di malam itu.
Karena mereka tidak menyangka, desa yang dihuni oleh mereka seketika berubah menjadi menyeramkan. Dan mereka terjebak di sana sepanjang malam.
Desa Cihalimun tiba-tiba berubah dengan sendirinya. Desa yang asri itu didatangi makhluk yang menyeramkan datang ke desa setiap malam, sehingga setiap malam Desa Cihalimun menjadi desa yang dihuni oleh para makhluk yang menyeramkan, dan hal itu sudah berlangsung beberapa hari.
Muncul banyak teriakan dan suara menyeramkan di sekitar desa tersebut setiap malam.
Suara tertawa yang melengking terdengar dari luar, juga suara geraman seperti hewan buas dan ketukan pintu yang mengetuk setiap rumah terdengar setiap malam, para warga tidak berani membuka pintu mereka.
Bahkan jendela-jendela mereka tertutup sangat rapat, beberapa warga bahkan sengaja menutup pintu dan jendela mereka dengan lemari atau meja, karena khawatir para makhluk itu akan merangkak masuk ke dalam rumah dan meneror mereka.
Mereka tidak mengerti kenapa hal ini terjadi, hal yang mereka sendiri tidak tahu penyebabnya seperti apa. Namun teror itu berlangsung setiap malam dan berakhir dengan sendirinya ketika sinar matahari pagi muncul dari sela-sela pepohonan di sekitar desa.
Hanya rumah-rumah warga yang menjadi tempat berlindung paling aman apabila malam tiba. Sungguh aneh memang, karena para makhluk itu hanya menggedor pintu rumah atau membuat suara di tembok-tembok rumah, tanpa sekalipun sengaja masuk dan tidak mengganggu rumah-rumah warga.
Mereka hanya mengganggu dan berdiam diri di bangunan-bangunan yang bukan berbentuk rumah, seperti gedung olahraga, gedung pertemuan, Puskesmas dan yang lainnya.
“Tapi Bu,” aku mencoba memotong pembicaraan Ibuku yang sedang bercerita mengenai kejadian tersebut ketika aku tidak ada.
“Ketika aku terjebak di sana, aku bersembunyi di dalam rumah, namun makhluk itu merangkak masuk ke rumah tersebut hingga aku tidak sadarkan diri di sana,” kataku kepada Ibu.
Namun Ibu hanya menggelengkan kepala, karena situasi yang aku ceritakan dengan hal yang Ibu ketahui sungguh berbeda, dia berkata bahwa tidak mungkin di kediaman keluarga Mandala tidak ada orang di dalam rumahnya.
Apalagi keluarga Mandala mempunyai tradisi untuk membuat rumahnya menjadi tempat tinggal yang bisa dihuni oleh beberapa keluarga.
Jadi sangat tidak mungkin apabila aku masuk ke rumah tersebut tanpa sekalipun melihat keluarga mereka yang ada di dalam rumah.
Aku semakin bingung dengan penjelasan Ibu, karena aku melihat sendiri bahwa rumah itu kosong. Namun akhirnya aku tidak terlalu memperdulikan hal itu, karena aku tidak mempunyai bukti yang cukup kuat untuk menyakinkan Ibuku saat itu.
“Lalu orang-orang yang terjebak di malam hari apakah banyak yang selamat sepertiku Bu?” kataku.
Ibu sejenak terdiam, dia seperti mencoba menyusun kata sebelum berbicara kepadaku.
“Hanya beberapa yang bisa selamat Abdi, sisanya hilang entah ke mana," kata Ibuku.
Menurut Ibu, hampir seperempat warga desa kini menghilang entah kemana, tua, muda, laki-laki, perempuan mereka menghilang secara misterius dan belum ditemukan hingga sekarang.
Biasanya mereka hilang karena belum sempat menyelamatkan diri ketika sore hari, sehingga mereka terjebak dan hilang ketika pagi hari.
“Lalu kenapa Bapak bisa menghilang juga Bu? bukannya Bapak ada di rumah bersama Ibu?” kataku kepada Ibu.
Ibu kemudian menunduk, wajahnya terlihat sedih. Dia seperti tidak ingin membicarakan hal tersebut, namun akhirnya dia menguatkan dirinya dan berkata kepadaku.
“Bapak dan beberapa orang berniat untuk mencari para warga yang hilang Abdi, atas perintah tetua desa mereka membentuk tim yang terdiri dari beberapa perwakilan dari tiga keluarga yang ada di Desa Cihalimun.”
“Sebagai orang yang dituakan dari keluarga Wilaga, Bapak ikut mencari bersamaan dengan orang-orang dari keluarga Tarmana dan Mandala.”
“Tim pertama dibentuk untuk memberitahukan apabila waktu malam hampir tiba, mereka bekerja berkeliling desa setiap sore untuk memberitahukan warga bahwa waktu malam sudah tiba, dan tim kedua yang bertugas mencari para warga yang hilang. Namun naas, tim kedua yang didalamnya ada Bapak tak kunjung kembali. ”
Ibu kembali menangis, air matanya terlihat jatuh di depanku. Aku tidak tega melihat Ibu menangis tersedu-sedu di depanku, karena dia kehilangan suaminya akibat kondisi desa yang seperti ini.
“Kita terjebak Abdi, satu hari setelah kejadian itu, warga desa berbondong-bondong keluar. Namun seperti yang kamu lihat, jembatan penghubung desa tiba-tiba berubah menjadi jurang yang sangat dalam sehingga kita terjebak di sini dengan teror yang seperti ini setiap malam.”
Aku seketika memeluk Ibuku saat itu, aku tak kuasa menahan air mata atas kesedihan yang dialami orang tuaku, muncul banyak pertanyaan sepulangnya aku dari penjara. Desa tempat aku hidup kini berubah sepenuhnya menjadi tempat yang menakutkan.
“Ada sesuatu yang salah,” kataku yang aku bergumam sendiri.
“Ibu tidak usah khawatir, Ibu diam aja dirumah, biar aku aja yang mencari Bapak, karena aku juga tidak tahu kondisi kampung saat ini, jadi aku harus berkeliling kampung terlebih dahulu. Semoga hal itu bisa memberikan aku petunjuk.”
“Udah, udah Ibu jangan menangis lagi ya. Bapak pasti pulang kok,” kataku menyemangati Ibu.
Aku pun menyuruh Ibu beristirahat, aku juga berpikir untuk mengetahui sesuatu yang ada dibalik peristiwa ini. Karena pasti ada sesuatu yang salah yang mengakibatkan Desa Cihalimun menjadi seperti ini.
Dan akhirnya ketika Ibu beranjak dari kamarku, aku bertanya.
“Bu apakah Ibu tahu ke mana pertama kali Bapak pergi untuk mencari warga yang hilang?"
bebyzha dan 19 lainnya memberi reputasi
20
Kutip
Balas