- Beranda
- Stories from the Heart
DESA DIBALIK KABUT [HORROR STORY] [Kompetisi KGPT]
...
TS
jurigciwidey
DESA DIBALIK KABUT [HORROR STORY] [Kompetisi KGPT]
SAMPURASUN
Setelah sebelumnya ane menamatkan cerita Rarasukma, yang Insyallah Ide ceritanya akan di filmkan karena sudah dibeli oleh salah satu PH pada bulan Juli kemarin, yang ceritanya bisa kalian baca disini.
Sebelum ane bercerita kelanjutan tentang thread di atas, (Karena banyak yang request untuk melanjutkan ceritanya).
Ane mau bercerita lagi, sebenarnya cerita ini sudah lama ane buat, mungkin ada juga beberapa yang sudah baca cerita ini di tempat lain.
Namun, ane akan sebarkan ceritanya disini.
Semoga kalian bisa terhibur dengan cerita yang ane buat, sambil menunggu kelanjutan cerita Rarasukma yang ane buat.
NOTE : JANGAN ADA YANG MENGUPLOAD TANPA SEIZIN ANE, KARENA BEBERAPA KALI ADA YANG MENGUPLOADNYA KE YOUTUBE TANPA IZIN SEHINGGA TERPAKSA ANE TIDAK MELANJUTKAN CERITA YANG ANE BUAT
NOTE : JANGAN ADA YANG MENGUPLOAD TANPA SEIZIN ANE, KARENA BEBERAPA KALI ADA YANG MENGUPLOADNYA KE YOUTUBE TANPA IZIN SEHINGGA TERPAKSA ANE TIDAK MELANJUTKAN CERITA YANG ANE BUAT
Quote:
JANGAN LUPA, SUPPORT CERITA PENDEK ANE YANG IKUT KOMPETISI KUNCEN DISINI :
RUMAH
RITUAL TARIK JANIN - KUNCEN
RUMAH
RITUAL TARIK JANIN - KUNCEN
Maka dari itu, selamat menikmati ceritanya.
![DESA DIBALIK KABUT [HORROR STORY] [Kompetisi KGPT]](https://s.kaskus.id/images/2023/08/25/1454678_20230825011653.png)
Spoiler for BAB 1 : PENJARA:
“ABDI BANGUN!!!!”
Trang trang trang
Seorang petugas dengan kasarnya memukul-mukul pintu sel yang aku tempati, ruangan sel dengan ukuran 3x3 meter dengan satu kasur kecil tempat aku tidur, dan toilet kecil yang dipisah oleh tembok yang setinggi satu meter.
“HEY, JANGAN MELAMUN SAJA, AYO BANGUN!!”
Petugas itu berteriak kembali, aku seketika bangun dari tidurku yang tidak nyenyak ini. Dengan perasaan yang masih mengantuk aku melihat petugas itu membuka sel tahanan kemudian masuk ke dalam sel.
BLAM!
Aaaaakh
Petugas itu tiba-tiba memukul kakiku dengan keras dengan tongkat yang dia bawa. Aku seketika kesakitan sembari kedua tanganku memegang kaki yang terkena pukulan dari petugas itu.
Beberapa petugas kemudian datang dan masuk ke sel tahanan, mereka menarik paksa diriku yang masih terkantuk-kantuk untuk dibawanya keluar sel.
BLAM!
AKH..
Sebuah pukulan kembali dilayangkan ke tubuhku, aku kembali kesakitan akibat pukulan itu. Kemudian aku tersungkur di lantai dengan kondisi yang tidak berdaya, dan dua petugas yang datang menarik kakiku sehingga tubuhku tersungkur ke lantai. Aku yang tidak berdaya hanya bisa menahan sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa atas perlakuan petugas itu.
Kepala dan badanku berada di lantai sedangkan kakiku ditarik dengan paksa oleh kedua petugas tersebut.
Aku melewati beberapa sel tahanan lain dalam kondisi tersebut, namun semuanya sama, yang kulihat banyak petugas yang memukuli para tahanan lain dengan beringas, banyak suara teriakan yang menggema di penjara tersebut, suara-suara dari raungan rasa sakit yang mereka terima dari penyiksaan para petugas sipir penjara. Seperti hal yang biasa kami disiksa dan dipukuli dengan kejinya. Kami yang di penjara tidak bisa melawan para petugas, jika kami mencoba sedikit saja melawan mereka, yang ada kami akan dipindahkan ke ruangan khusus yang gelap dan di sana kami tidak diberi makan bahkan minum sedikitpun selama beberapa hari.
Sreeet Sreett
Dua petugas yang menyeretku kemudian berbelok dan memasuki sebuah ruangan, ruangan yang gelap dengan satu cahaya lampu di tengah ruangan, di sana terdapat suatu kursi dengan pengikat yang letaknya tepat di bawah lampu tersebut.
Badanku kemudian diangkat, dan didudukkan di kursi tersebut. Tangan dan kakiku diikat dengan kencang, namun aku sengaja mengangkat tanganku agar tidak menempel dengan kursi agar melonggarkan ikatan dari para penjaga itu.
Kemudian semua petugas yang membawaku perlahan-lahan keluar, mereka keluar secara bergantian dari ruangan itu dan meninggalkan aku sendirian.
“Di mana ini?” Pikirku.
Dengan rasa sakit yang aku terima masih sangat terasa. Aku mencoba melihat ke sekeliling ruangan itu, ruangan yang gelap dan hanya ditemani oleh salah satu lampu yang menggantung di atas kepalaku, aku juga melihat lantai yang disinari oleh cahaya itu, disana terdapat banyak bercak-bercak darah yang sudah mengering terkena sinar lampu yang menyala.
Aku mencoba menggoyang-goyangkan badanku, tangan yang tadi sengaja tidak aku tempelkan ke kursi ini aku coba gerakan, supaya bisa terlepas dari tali yang mengikatku.
Namun tiba-tiba,
Arrrrrghhhhhhhhhh
BLAM..!
Suara teriakan terdengar dari luar, kali ini suara teriakan itu terdengar keras bersamaan dengan suara yang menabrak sesuatu.
Tap tap tap
Beberapa suara kini kembali terdengar, suara orang-orang yang sedang berlari kesana kemari dengan keadaan panik. Suara itu terdengar keras dengan suara-suara teriakan hingga terdengar ke ruangan tempat aku berada.
“TOLONGGG, TOLLONGGG!!!”
BRUAAAAAK
Tampak sesuatu yang menabrak pintu, tabrakan sesuatu itu begitu keras sehingga membuat pintu dari ruangan tempat aku berada terbuka. Terlihat sesosok petugas yang tadi menyeretku tergeletak tidak bernyawa, seperti ada sesuatu yang melemparkan tubuhnya hingga menabrak pintu, dan akhirnya pintu tersebut terbuka. Aku mendadak panik seketika, dengan suara-suara teriakan yang datang membuat aku ingin segera melepas ikatan dari kursi ini, karena aku juga melihat tubuh petugas yang tergeletak di depanku itu penuh dengan darah, juga beberapa sayatan di badannya seperti ada hewan buas yang mencoba memangsanya.
“Ayolah, aku harus bisa melepaskan ikatan ini!” Pikirku dengan keadaan panik sembari sekuat tenaga melepas ikatan itu.
“Sedikit lagi, sedikit lagi, .... aaaarghhh... argggghhh!”
Aku mencoba melepaskan tanganku yang terikat, meskipun sedikit sakit, aku mencoba memaksanya hingga,
“Akhirnya lepas juga, sekarang tinggal kaki yang masih terikat,”
Aku bernafas lega ikatan di tanganku sudah lepas, suara-suara teriakan di tempat itu masih saja terdengar, aku semakin panik dengan keadaan di sel tersebut, aku harus segera melepaskan ikatanku dan keluar dari tempat ini.
Dengan sekuat tenaga akhirnya aku bisa melepaskan ikatan dari kursi tersebut, aku seketika berlari, berlari melewati pintu yang sudah rusak tersebut, tak lupa aku juga mengambil tongkat dari mayat petugas itu, untuk sekedar berjaga-jaga, karena aku yakin ada yang tidak beres dengan tempat ini sekarang.
Namun aku begitu terkejut ketika aku keluar ruangan tersebut, sel tahanan yang seharusnya berada di lorong tempat aku berdiri sekarang berubah, sel tahanan yang kulihat tadi, sekarang berubah menjadi lorong panjang dengan obor di kedua sisinya, obor tersebut menyala di lorong sebelah kanan dengan terangnya berjejer hingga ke ujung. Sel-sel tahanan di kedua sisinya berubah menjadi dinding batu di kedua sisinya, seperti sebuah gua yang memanjang dengan banyak noda darah di sekitarnya.
Ketika aku melihat ke arah kiri, terdapat lorong yang gelap gulita, lorong yang tanpa penerangan sama sekali, yang ada hanya lorong kosong yang gelap dan tidak terlihat apapun di sana.
Aku seketika terdiam, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang. Semuanya berubah secara mendadak, rasa takut yang kurasakan membuatku malas untuk melangkah, namun tiba-tiba sebuah suara muncul. Suara yang datangnya dari arah kanan, yang di mana arah kanan adalah lorong yang diterangi oleh obor.
"AAHAHAHAHAHAHAHAAHA."
DUG DUG DUG
"AHAHAHAHA."
Suara itu kemudian tertawa keras, dengan langkah kaki yang dihentakan membuat suara tersebut terdengar nyaring ke tempat aku berdiri, seketika aku secara spontan mengambil obor yang ada didekatku dan kemudian aku berlari ke arah kiri, ke arah lorong gelap yang tidak ada cahaya sama sekali.
Tap tap tap
Aku berlari sekuat tenaga dengan obor yang aku bawa sebagai penerang, namun seakan-akan lorong tersebut adalah lorong tanpa ujung, aku terus-menerus berlari tanpa tahu kapan aku harus berhenti, suara-suara itu masih terdengar dan kali ini seperti mengejarku dari belakang, sesaat aku melihat kebelakang sembari berlari, namun tidak ada siapa siapa, dan ketika aku berbalik secara tiba-tiba,
Duag
Aku menabrak sesuatu, sesuatu yang besar yang menghalangi jalanku sehingga membuatku terjatuh, dengan obor yang masih di tangan aku mencoba menerangi sesuatu yang menghalangi ku itu. Aku sontak kaget karena apa yang aku lihat ternyata bukanlah manusia,
Ternyata di depanku adalah sosok tinggi besar yang menyeringai kepadaku, sosok yang terlihat besar dengan gigi tajam yang mencuat keluar, dia tertawa kecil dan kemudian membuka mulutnya secara lebar.
“HAHAHAHAHAHAHA.”
Suara itu terdengar sangat keras, suara yang tadinya terdengar di belakang ku kini berada tepat di depanku, dengan wajah yang menyeramkan dia berkata.
“ABDI SEKARANG GILIRANMU, DUA ORANG LAINYA SUDAH AKU MAKAN, DAN KAMU ADALAH ORANG KETIGA UNTUK AKU MAKAN.”
Aku merasa ketakutan, badanku tidak henti-hentinya gemetar, tanpa aku sadari keringat dingin pun bercucuran, juga kakiku seperti membeku, tidak bisa untuk melangkah. Aku hanya bisa melihat mulut makhluk itu membuka rahangnya yang besar, dengan gigi yang mencuat keluar, terlihat gigi yang dipenuhi dengan darah segar mendekat, seakan-akan akan melahapku.
Aku hanya bisa menutup mata dan menutupi kepala dengan tanganku, aku sudah merasa putus asa, mungkin ini adalah akhir dari hidupku, pandanganku mulai gelap sepertinya mulut dari makhluk itu sudah sangat dekat.
Dan akhirnya....
Trang trang trang
Seorang petugas dengan kasarnya memukul-mukul pintu sel yang aku tempati, ruangan sel dengan ukuran 3x3 meter dengan satu kasur kecil tempat aku tidur, dan toilet kecil yang dipisah oleh tembok yang setinggi satu meter.
“HEY, JANGAN MELAMUN SAJA, AYO BANGUN!!”
Petugas itu berteriak kembali, aku seketika bangun dari tidurku yang tidak nyenyak ini. Dengan perasaan yang masih mengantuk aku melihat petugas itu membuka sel tahanan kemudian masuk ke dalam sel.
BLAM!
Aaaaakh
Petugas itu tiba-tiba memukul kakiku dengan keras dengan tongkat yang dia bawa. Aku seketika kesakitan sembari kedua tanganku memegang kaki yang terkena pukulan dari petugas itu.
Beberapa petugas kemudian datang dan masuk ke sel tahanan, mereka menarik paksa diriku yang masih terkantuk-kantuk untuk dibawanya keluar sel.
BLAM!
AKH..
Sebuah pukulan kembali dilayangkan ke tubuhku, aku kembali kesakitan akibat pukulan itu. Kemudian aku tersungkur di lantai dengan kondisi yang tidak berdaya, dan dua petugas yang datang menarik kakiku sehingga tubuhku tersungkur ke lantai. Aku yang tidak berdaya hanya bisa menahan sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa atas perlakuan petugas itu.
Kepala dan badanku berada di lantai sedangkan kakiku ditarik dengan paksa oleh kedua petugas tersebut.
Aku melewati beberapa sel tahanan lain dalam kondisi tersebut, namun semuanya sama, yang kulihat banyak petugas yang memukuli para tahanan lain dengan beringas, banyak suara teriakan yang menggema di penjara tersebut, suara-suara dari raungan rasa sakit yang mereka terima dari penyiksaan para petugas sipir penjara. Seperti hal yang biasa kami disiksa dan dipukuli dengan kejinya. Kami yang di penjara tidak bisa melawan para petugas, jika kami mencoba sedikit saja melawan mereka, yang ada kami akan dipindahkan ke ruangan khusus yang gelap dan di sana kami tidak diberi makan bahkan minum sedikitpun selama beberapa hari.
Sreeet Sreett
Dua petugas yang menyeretku kemudian berbelok dan memasuki sebuah ruangan, ruangan yang gelap dengan satu cahaya lampu di tengah ruangan, di sana terdapat suatu kursi dengan pengikat yang letaknya tepat di bawah lampu tersebut.
Badanku kemudian diangkat, dan didudukkan di kursi tersebut. Tangan dan kakiku diikat dengan kencang, namun aku sengaja mengangkat tanganku agar tidak menempel dengan kursi agar melonggarkan ikatan dari para penjaga itu.
Kemudian semua petugas yang membawaku perlahan-lahan keluar, mereka keluar secara bergantian dari ruangan itu dan meninggalkan aku sendirian.
“Di mana ini?” Pikirku.
Dengan rasa sakit yang aku terima masih sangat terasa. Aku mencoba melihat ke sekeliling ruangan itu, ruangan yang gelap dan hanya ditemani oleh salah satu lampu yang menggantung di atas kepalaku, aku juga melihat lantai yang disinari oleh cahaya itu, disana terdapat banyak bercak-bercak darah yang sudah mengering terkena sinar lampu yang menyala.
Aku mencoba menggoyang-goyangkan badanku, tangan yang tadi sengaja tidak aku tempelkan ke kursi ini aku coba gerakan, supaya bisa terlepas dari tali yang mengikatku.
Namun tiba-tiba,
Arrrrrghhhhhhhhhh
BLAM..!
Suara teriakan terdengar dari luar, kali ini suara teriakan itu terdengar keras bersamaan dengan suara yang menabrak sesuatu.
Tap tap tap
Beberapa suara kini kembali terdengar, suara orang-orang yang sedang berlari kesana kemari dengan keadaan panik. Suara itu terdengar keras dengan suara-suara teriakan hingga terdengar ke ruangan tempat aku berada.
“TOLONGGG, TOLLONGGG!!!”
BRUAAAAAK
Tampak sesuatu yang menabrak pintu, tabrakan sesuatu itu begitu keras sehingga membuat pintu dari ruangan tempat aku berada terbuka. Terlihat sesosok petugas yang tadi menyeretku tergeletak tidak bernyawa, seperti ada sesuatu yang melemparkan tubuhnya hingga menabrak pintu, dan akhirnya pintu tersebut terbuka. Aku mendadak panik seketika, dengan suara-suara teriakan yang datang membuat aku ingin segera melepas ikatan dari kursi ini, karena aku juga melihat tubuh petugas yang tergeletak di depanku itu penuh dengan darah, juga beberapa sayatan di badannya seperti ada hewan buas yang mencoba memangsanya.
“Ayolah, aku harus bisa melepaskan ikatan ini!” Pikirku dengan keadaan panik sembari sekuat tenaga melepas ikatan itu.
“Sedikit lagi, sedikit lagi, .... aaaarghhh... argggghhh!”
Aku mencoba melepaskan tanganku yang terikat, meskipun sedikit sakit, aku mencoba memaksanya hingga,
“Akhirnya lepas juga, sekarang tinggal kaki yang masih terikat,”
Aku bernafas lega ikatan di tanganku sudah lepas, suara-suara teriakan di tempat itu masih saja terdengar, aku semakin panik dengan keadaan di sel tersebut, aku harus segera melepaskan ikatanku dan keluar dari tempat ini.
Dengan sekuat tenaga akhirnya aku bisa melepaskan ikatan dari kursi tersebut, aku seketika berlari, berlari melewati pintu yang sudah rusak tersebut, tak lupa aku juga mengambil tongkat dari mayat petugas itu, untuk sekedar berjaga-jaga, karena aku yakin ada yang tidak beres dengan tempat ini sekarang.
Namun aku begitu terkejut ketika aku keluar ruangan tersebut, sel tahanan yang seharusnya berada di lorong tempat aku berdiri sekarang berubah, sel tahanan yang kulihat tadi, sekarang berubah menjadi lorong panjang dengan obor di kedua sisinya, obor tersebut menyala di lorong sebelah kanan dengan terangnya berjejer hingga ke ujung. Sel-sel tahanan di kedua sisinya berubah menjadi dinding batu di kedua sisinya, seperti sebuah gua yang memanjang dengan banyak noda darah di sekitarnya.
Ketika aku melihat ke arah kiri, terdapat lorong yang gelap gulita, lorong yang tanpa penerangan sama sekali, yang ada hanya lorong kosong yang gelap dan tidak terlihat apapun di sana.
Aku seketika terdiam, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang. Semuanya berubah secara mendadak, rasa takut yang kurasakan membuatku malas untuk melangkah, namun tiba-tiba sebuah suara muncul. Suara yang datangnya dari arah kanan, yang di mana arah kanan adalah lorong yang diterangi oleh obor.
"AAHAHAHAHAHAHAHAAHA."
DUG DUG DUG
"AHAHAHAHA."
Suara itu kemudian tertawa keras, dengan langkah kaki yang dihentakan membuat suara tersebut terdengar nyaring ke tempat aku berdiri, seketika aku secara spontan mengambil obor yang ada didekatku dan kemudian aku berlari ke arah kiri, ke arah lorong gelap yang tidak ada cahaya sama sekali.
Tap tap tap
Aku berlari sekuat tenaga dengan obor yang aku bawa sebagai penerang, namun seakan-akan lorong tersebut adalah lorong tanpa ujung, aku terus-menerus berlari tanpa tahu kapan aku harus berhenti, suara-suara itu masih terdengar dan kali ini seperti mengejarku dari belakang, sesaat aku melihat kebelakang sembari berlari, namun tidak ada siapa siapa, dan ketika aku berbalik secara tiba-tiba,
Duag
Aku menabrak sesuatu, sesuatu yang besar yang menghalangi jalanku sehingga membuatku terjatuh, dengan obor yang masih di tangan aku mencoba menerangi sesuatu yang menghalangi ku itu. Aku sontak kaget karena apa yang aku lihat ternyata bukanlah manusia,
Ternyata di depanku adalah sosok tinggi besar yang menyeringai kepadaku, sosok yang terlihat besar dengan gigi tajam yang mencuat keluar, dia tertawa kecil dan kemudian membuka mulutnya secara lebar.
“HAHAHAHAHAHAHA.”
Suara itu terdengar sangat keras, suara yang tadinya terdengar di belakang ku kini berada tepat di depanku, dengan wajah yang menyeramkan dia berkata.
“ABDI SEKARANG GILIRANMU, DUA ORANG LAINYA SUDAH AKU MAKAN, DAN KAMU ADALAH ORANG KETIGA UNTUK AKU MAKAN.”
Aku merasa ketakutan, badanku tidak henti-hentinya gemetar, tanpa aku sadari keringat dingin pun bercucuran, juga kakiku seperti membeku, tidak bisa untuk melangkah. Aku hanya bisa melihat mulut makhluk itu membuka rahangnya yang besar, dengan gigi yang mencuat keluar, terlihat gigi yang dipenuhi dengan darah segar mendekat, seakan-akan akan melahapku.
Aku hanya bisa menutup mata dan menutupi kepala dengan tanganku, aku sudah merasa putus asa, mungkin ini adalah akhir dari hidupku, pandanganku mulai gelap sepertinya mulut dari makhluk itu sudah sangat dekat.
Dan akhirnya....
INDEX :
BAB 2 - 3
BAB 4 - 5
BAB 6
BAB 7
BAB 8
BAB 9
BAB 10
BAB 11
BAB 12
BAB 13
Diubah oleh jurigciwidey 17-10-2023 11:54
sampeuk dan 23 lainnya memberi reputasi
24
18.6K
Kutip
303
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#3
Spoiler for BAB 4 - MELARIKAN DIRI:
Aku seketika mengarahkan pandanganku ke atas, tepat disana ku kulihat wanita yang sedang duduk, wanita itu duduk dengan kaki yang menggantung di atas ranting-ranting pohon yang besar itu, dengan rambut yang menutupi wajahnya dia menatap tajam ke arahku yang ada di bawahnya.
Hihihihihi....
Tercium aroma bunga melati yang menyeruak tetapi penampilannya tidak seindah wanginya dengan mulutnya seketika terbuka, dengan tertawa yang menyeramkan dia tertawa menertawakanku yang sedang panik di bawah sini.
Giginya yang tajam sedikit terlihat dari sela-sela rambut yang terurai dari wajahnya, juga baju putih yang terlihat kotor dan lusuh, juga noda-noda darah merah yang sepertinya sudah mengering terlihat dari bajunya yang putih itu.
“Itu kuntilanak kan?” pikirku.
Aku mundur beberapa langkah, berusaha menjauh dari pohon di pinggir jurang tempat kuntilanak itu duduk dan menertawakanku malam itu.
“Aya korban hiji deui. (Ada korban satu lagi.)”
Hihihihihihihi
Wussshh
Tiba-tiba kuntilanak itu seketika terbang dia seperti mengelilingiku yang sedang ada di bawah sana, akhirnya mau tidak mau aku harus kembali ke dalam desa yang tiba-tiba berubah menjadi menyeramkan, tepat setelah aku sampai di sore itu.
Tap
Tap
Tap
Aku berlari sekuat tenaga, berusaha menghindari wanita itu, dia terus-menerus tertawa dengan menyeramkan mengikutiku dari atas sana, dengan tertawanya yang khas membuatku semakin merinding.
Hihihi.....
Hihihi.....
Hihihi.....
Meskipun takut dan sedikit ragu, aku beberapa kali melompati retakan-retakan tanah yang berasap di sekitaran kampung, dengan bau belerang yang sangat menyengat, aku menutup hidungku sembari berlari ke dalam kampung untuk mencari tempat untuk berlindung.
Hosh hosh hosh... Nafasku terasa berat.
Aku panik, sangat panik, aku terus-menerus berlari sambil melihat di sekelilingku, berusaha mencari tempat yang bisa membuatku tidak dikejar-kejar lagi oleh kuntilanak itu.
“Apakah ini masih mimpi?” pikirku sembari berusaha mencubit kulitku.
Aw
Namun rasa sakit yang kurasakan ini menyakinkan aku bahwa ini bukanlah mimpi, Aku pun akhirnya terus-menerus berlari hingga,
Tap tap tap tap tap...
"Sepertinya aku harus coba mengetuk rumah-rumah, mungkin akan ada yang membukakan pintunya untukku," dengan sedikit berharap aku pun mencoba menghampiri setiap rumah yang aku lewati dan mengetuknya.
Tok tok tok
"Tolong buka pintu nya!" Aku berteriak meminta pertolongan penghuni rumah.
Tidak ada yang menjawab, aku berlari lagi ke rumah lainnya sambil terus berlari.
Tok tok tok
"Tolong buka pintu nya!"
Tok tok tok
"TOLONG AKU MOHON BUKA PINTUNYA BIARKAN AKU MASUK!"
Aku mengetuk ke setiap pintu rumah, berharap akan ada yang menjawab dan membiarkanku masuk ke dalam rumah mereka, namun hasilnya nihil, tidak ada jawaban apapun dari dalam rumah, dalam keadaan panik aku menengok ke belakang.
Hihihi.... Hihihi..
Suara kuntilanak itu ternyata masih terdengar, kuntilanak itu terbang dari atas dan masih mengikutiku.
Aku begitu putus asa, makhluk itu terus mengikutiku sambil menertawakan ku yang tidak bisa bersembunyi, ke mana pun aku coba menghindar makhluk itu terus saja ada di belakang ku.
DAKKK..
Aku menabrak sebuah dinding, sebuah dinding rumah besar yang ada di dalam kampung, rumah itu tampak menyeramkan apabila melihatnya dari luar, sebuah rumah besar dengan pagar-pagar tinggi di sekelilingnya, juga beberapa tiang besar di luar rumah itu yang berwarna merah, di sela-sela dinding itu terdapat beberapa tumbuhan yang merambat namun kondisinya layu, juga tangkainya yang berduri melilit pagar yang mengelilingi rumah itu.
Aku seketika terjatuh, namun kulihat ada retakan kecil yang berlubang di bawah dinding tersebut, sebuah retakan yang bisa kumasuki, mungkin ketika aku memasuki lubang itu, aku terhindar dari kuntilanak yang mengejarku.
Secara spontan aku merangkak melewati lubang itu, rasa takut ini masih saja ku rasakan. Aku hanya berpikir bagaimana aku bisa keluar dari situasi ini, karena baru pertama kali aku mengalami kejadian yang menyeramkan seperti ini.
Hah, hah, hah,
Aku berhasil masuk dalam retakan itu, ternyata di balik tembok itu terdapat banyak tumbuhan yang merambat yang menutupi badanku, sehingga ketika aku masuk aku tertutup oleh tumbuhan tersebut.
Jantungku masih berdegup kencang, aku sengaja menutup mulutku dengan tanganku di balik lubang kecil itu, berharap makhluk itu tidak menemukanku sekarang ini.
Tiba-tiba,
Hihihihihi
Aku melihat wanita terbang tepat di atasku, dia mengelilingi halaman rumah itu untuk mencariku, kali ini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas, wajah yang pucat dengan beberapa luka darah yang sudah mengering semakin membuat wanita itu sangat mengerikan.
Aku berusaha sekuat tenaga menyandarkan tubuhku di balik tembok itu, berharap tubuhku yang tertutup oleh tumbuhan tersebut bisa membuat diriku tidak terlihat oleh kuntilanak tersebut.
Butuh waktu hingga 10 menit aku berdiam diri di sana, sampai akhirnya aku tidak mendengar lagi suara makhluk tersebut, aku memastikan bahwa makhluk itu benar-benar tidak ada, dengan melihat ke sekeliling rumah besar itu, hingga akhirnya aku perlahan-lahan keluar dari tumbuhan yang merambat tersebut, dan berjalan menuju rumah besar yang ada di depanku.
Aku sudah tidak heran dengan rumah-rumah besar yang berdiri di Desa Cihalimun ini, karena hampir seluruh penduduk disini kaya raya, para tetua desa mengatakan bahwa semua warga Desa Cihalimun diberkahi oleh kekayaan yang melimpah dari zaman dahulu hingga sekarang, juga kemudahan dalam menjalani kehidupannya dari lahir hingga meninggal.
Termasuk aku dan keluargaku selama hidup disini.
Banyak para warga yang berdagang di luar dan kerja di kota kemudian sukses di sana, namun mereka tidak bisa tinggal di luar, mereka harus kembali ketika sudah selesai dengan pekerjaannya di luar, karena itu adalah syarat mutlak yang diamanatkan oleh para tetua desa.
Aku melihat rumah besar itu, berharap aku bisa berlindung dari makhluk yang mengerikan malam ini, aku melihat suatu simbol di atas rumah tersebut salah satu simbol yang menjadi simbol salah satu keluarga yang ada di Desa Cihalimun.
“Aku berlari hingga ke wilayah keluarga Mandala ternyata, aku tak sadar melewati rumahku ketika aku berlari,” pikirku sembari melangkah maju ke arah rumah tersebut.
Tok
Tok
Tok
“Kang,, punteunn, Kanggggg! (Kang,,, permisi,,, Kangg!)” Aku mengetuk pintu dalam keadaan panik, sesekali aku menengok ke arah belakang, aku takut makhluk wanita itu muncul lagi dan akan mengejarku lagi.
“Kang, Kang, punnnn....” Aku mencoba mengetuk pintu sembari mencoba membuka engsel pintu di rumah itu, namun ternyata rumah tersebut tidak dikunci sama sekali.
Drrrrkkkkkkk
Pintu rumah besar itu tiba-tiba terbuka, keadaanya sangat gelap gulita di dalam, namun pikiranku saat ini, daripada aku harus berada diluar dengan kabut merah dan makhluk yang mengejarku, aku lebih baik masuk rumah dan mencari tempat perlindungan di dalam.
Seketika aku masuk, aku melangkahkan kakiku secara perlahan-lahan, dan aku menutup kembali pintu itu, rumah itu sangat gelap, tidak ada penerangan sama sekali sehingga aku meraba-raba di sekitar dinding rumah tersebut, untuk mencari saklar lampu untuk menyalakan lampu di ruangan tersebut.
Clak
Aku berhasil menyalakan saklar di dalam rumah itu, tak lama lampu dari rumah itu menyala, namun nyala lampu tersebut ternyata redup, setidaknya aku bisa melihat isi dalam rumah tersebut.
"Punten Kang?"
Aku berusaha memanggil pemilik rumah, salah satu pemilik rumah dari keluarga Mandala, namun tidak ada yang menjawab panggilanku, yang ada hanya foto besar leluhur keluarga Mandala dengan baju kerajaan zaman dulu yang berdiri tegak dalam bingkai yang besar menempel di dinding ruang tamu, tempat ku berdiri saat ini.
"Punten, aya jalmi teu? (Permisi, ada orang tidak?)"
Aku mencoba berkeliling di rumah itu, untuk memastikan bahwa rumah tersebut aman, dan aku juga tak henti-hentinya memanggil para pemilik rumah itu, namun tidak ada satupun jawaban yang keluar, seperti hanya aku saja seorang yang sedang berada di rumah itu saat ini.
Butuh waktu setengah jam aku berkeliling untuk memastikan aku aman untuk beristirahat di malam ini, karena aku takut apabila aku kembali keluar, aku akan dikejar-kejar kembali oleh wanita yang terbang itu.
Hingga akhirnya aku pun duduk dibalik pintu depan, mencoba menghalangi mereka apabila mereka memaksa masuk ke dalam rumah untuk mencari ku, aku mencoba duduk dan tertunduk, karena rasa kantuk sudah mulai menyerangku.
Aku berpikir tentang banyak hal selama aku duduk di sana, hal yang aku tidak mengerti selama aku berada di kampung ini, karena semuanya tiba-tiba berubah, berubah menjadi menyeramkan ketika aku datang.
Aku larut dalam lamunanku malam itu, rasa kantuk pun semakin menyerang, beberapa kali aku ketiduran di sana, namun aku mencoba untuk bangun dan waspada, karena aku merasa aku belum sepenuhnya aman.
Brak
Brak
BRAKKKK
Sebuah tangan besar terlihat di sebelahku menembus pintu rumah itu secara tiba-tiba, dia dengan sekuat tenaga memukul pintu di dalam rumah itu hingga akhirnya tangan itu masuk, seketika pintu rumah itu rusak, aku yang sedang duduk sembari menutupi pintu itu terpental beberapa meter.
Krak
Krak
Krak
Brak
Tangan besar itu mencoba meraba-raba, lalu seketika tangan itu menarik pintu tersebut, sehingga membuatnya hancur berantakan ketika ditarik kembali.
Cahaya merah yang tadinya tidak terlihat kini terlihat kembali, cahaya yang tertutup kabut merah itu tertutup oleh salah satu bayangan yang hitam dan besar yang menutupi pintu masuk dari rumah tersebut.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA..... "
Aku sontak berteriak, berteriak sekeras-kerasnya pada malam itu, terlihat makhluk itu mendekat secara perlahan, lalu secara tak sadar badanku mulai lemas dan pandanganku secara perlahan menjadi gelap gulita, aku tersungkur tidak berdaya di dalam rumah itu dengan beberapa makhluk yang mengelilingiku malam itu.
Spoiler for BAB 5 - PAGI:
"Awas itu kepalanya!!"
"Geser geser ke kanan sedikit."
"Pelan-pelan."
Terdengar suara-suara di telingaku banyak sekali suara gaduh yang terdengar, suara dari orang-orang yang seperti sedang sibuk akan sesuatu, aku secara perlahan tersadar dan membuka mataku, terlihat di sana aku seperti sedang di gotong oleh para warga yang berbondong-bondong membawaku dengan tandu yang dibuat secara darurat.
“Bawa ke Puskesmas, awas minggir, ada orang yang selamat,” teriak seseorang yang sedang menanduku.
Jari-jari tanganku mulai bisa digerakkan dan mataku mulai terbuka sedikit demi sedikit, terlihat cahaya matahari pagi kini menyinari tubuhku, aku menengok ke sebelah kiri dan terlihat rumah-rumah besar yang berjejer dengan mewahnya disana, juga beberapa motor trail yang terparkir berjejer di rumah-rumah tersebut.
Pemandangan ini adalah pemandangan yang tidak asing bagiku, karena apa yang kulihat ini adalah Desa Cihalimun yang aku kenal.
Tubuhku sangat lemas, aku belum bisa menggerakan badanku saat ini, namun aku masih bisa melihat dengan mataku bahwa benar ini adalah desa yang aku kenal, namun kenapa desa tempat tinggalku berubah menjadi menyeramkan ketika malam tiba.
Banyak sekali yang aku pikirkan, namun aku tidak menemukan petunjuk apapun tentang hal itu, aku berpikir bahwa kemarin adalah mimpi, seperti mimpiku ketika tertidur di dalam truk, sesaat setelah aku keluar dari penjara.
“Kang, Kang!” Aku berusaha memanggil seseorang yang menanduku pagi itu.
Orang-orang yang menanduku tampak kaget ketika aku memanggil mereka, seketika mereka berhenti, karena mereka tahu bahwa aku sudah sadar.
“Aku mau dibawa kemana Kang?” tanyaku kepada mereka.
“Akang mau dibawa ke Puskesmas,”
Aku secara spontan menggelengkan kepala.
“Bawa aja aku ke rumah Ibu Saidah dari keluarga Wilaga Kang,” kata ku dengan nada yang lemas.
“Owh keluarga Wilaga, pantes aku baru kali melihatmu, tapi kenapa kamu bisa ke wilayah keluarga Mandala?” kata orang yang menanduku.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala kembali, karena aku tidak tahu apa yang terjadi semalam, yang aku tahu aku berlari dan tiba dirumah besar dengan lambang keluarga Mandala yang ada di dalam rumah tersebut.
"Baiklah, kita antar Akang ke rumah Bu Saidah," kata orang yang memandu ku.
"Terima kasih banyak Kang," Aku pun mencoba untuk bangun tetapi tubuhku masih sangat lemas tidak bisa bangun sama sekali.
"Akang, tidak perlu bangun. Sudah tiduran lagi aja tubuh Akang pasti masih lemas biar kita tandu Akang sampai sana," kata orang yang ikut mengantar.
Akhirnya orang-orang yang menanduku berbelok dan berjalan keluar dari Wilayah keluarga Mandala, menuju ke arah wilayah keluarga Wilaga yang letaknya tepat di depan pintu masuk kampung.
Dengan beriringan mereka membawaku yang lemas tak berdaya menuju rumah, rumah yang sudah ku tinggalkan selama tiga tahun ini.
Namun terlihat dari kejauhan beberapa pasang mata yang melihatku, melihatku dari kejauhan tanpa sekalipun mendekat kepadaku, namun aku tidak peduli dengan hal itu, yang aku inginkan saat ini hanyalah pulang ke rumah bertemu keluarga ku dan menanyakan tentang apa yang terjadi kepada keluargaku.
Banyak sekali yang ingin aku tanyakan, dari mulai kenapa mereka tidak menolongku sampai aku harus dipenjara, kenapa aku dibiarkan sendirian di penjara tanpa ada kabar dari keluarga juga kenapa kondisi tempat ini saat ini begitu aneh ketika aku tiba.
Tapi itu semua hanya lah pertanyaan yang ada di benakku yang terpenting saat ini aku sangat merindukan kedua orang tuaku sampai-sampai aku tidak sabar ingin segera bertemu mereka.
***
Seseorang terlihat berlari dari kejauhan, seorang wanita paruh baya dengan wajah yang terlihat tidak asing, setelah sampai di depan tandu ternyata wanita ini merupakan Ibuku berlari menghampiriku yang sedang ditandu oleh beberapa orang dari keluarga Mandala.
"Astaga, ini Abdi kan? Kang ini bagaimana bisa di tandu begini?" Ibuku terdengar begitu khawatir.
"Tenang Bu, lebih baik kita baringkan dahulu Akangnya," kata orang yang mengantar.
"Ah, iya iya silakan bawa ke sebelah sini," Ibu langsung dengan sigap membukakan pintu juga merapikan kasur agar aku bisa nyaman saat dibaringkan.
Aku di gotong ke dalam kamar, kemudian Ibuku berterima kasih kepada orang-orang dari Mandala karena sudah mengantarkanku pulang.
"Terima kasih banyak Akang-akang ini sudah membantu mengantarkan anak saya,"
"Iya Bu, tidak masalah. Kami hanya merasa kasihan Akang ini pingsan di rumah salah satu warga kami. Rencananya kami akan bawa ke Puskesmas tapi Akang ini minta di antar ke rumah Ibu."
Ibu hanya mengangguk.
"Kalau begitu kami permisi ya Bu,"
"Muhun Kang, mangga. (Iya Kang, silakan.)."
Aku berbaring di dalam kamar yang sudah aku tinggalkan selama tiga tahun yang lalu.
Kamar yang tidak sedikitpun berubah meskipun aku harus mendekam dipenjara dan tidak tidur di dalam kamar ini selama tiga tahun lamanya.
Kondisi kamar ini masih sama dengan terakhir kali aku tinggalkannya, kasur dan furniture tidak ada yang bergeser dari tempatnya semula, bahan buku-bukuku pun masih lengkap berjejer di atas lemari.
"Abdi, badan kamu masih sakit ya? Ibu panggil tukang pijat ke sini ya," Ibu tampak khawatir dengan kondisi badanku.
"Tidak perlu Bu, sebentar lagi juga sembuh," Aku mencoba menenangkan Ibu.
Ibuku kemudian memanggil tukang pijat untuk memastikan keadaanku tidak apa-apa, namun aku menahanya, karena aku bilang aku tidak apa-apa, aku hanya shock aja dengan kejadian yang menurutku aneh ketika aku sampai di sini.
"Bagaimana kabar Ibu?"
Aku mencoba menanyakan kabar Ibu, namun dia tiba-tiba meminta maaf sambil menangis dengan begitu tersedu-sedu kepadaku.
“Hiks... hiks... Abdi, Ibu rindu sekali tapi pertama-tama Ibu minta maaf, seharusnya kemarin di hari kepulanganmu, Ibu dengan Bapak seharusnya menjemputmu, namun Ibu tidak bisa, karena semua orang yang ada disini tidak bisa keluar desa sekarang,” kata Ibu sembari menangis.
"Eh?"
Aku merasa aneh dengan semua ini, desa yang berubah menjadi menyeramkan, jembatan yang hilang, juga ucapan Ibu bahwa dia bilang dia tidak bisa keluar desa.
Aku ingin bertanya tentang hal ini, namun belum sempat aku bertanya, Ibu kembali berkata.
“Seharusnya kamu tidak masuk kembali kesini ini Abdi, desa ini menjadi desa yang terkutuk."
"Kini, kita tidak bisa keluar dari desa ini, sehingga kita semua terjebak, bahkan Bapak sudah tiga hari menghilang, dan belum kembali hingga saat ini hiks hiks....”
Ibu menangis tersedu-sedu, dia tidak henti-hentinya meminta maaf, dan dia mengharapkan aku untuk tidak kembali ke pulang.
Semakin lama Ibu menangis, semakin banyak pertanyaan dalam pikiranku, aku tidak tahu harus darimana aku mulai bertanya, karena semuanya terjadi begitu cepat.
Kemudian Ibu memelukku pada saat itu, dia masih menangis tersedu-sedu, lalu aku pun mencoba menenangkan Ibu, sembari bertanya.
“Aku senang sekali bisa bertemu lagi dengan Ibu, Ibu tenang ya Bu. Masalah Bapak, aku akan mencarinya, namun aku butuh penjelasan yang logis tentang semua ini, karena aku tidak mengerti tentang apa yang saat ini terjadi di kampung ini?”
Aku berusaha menenangkan Ibu yang sedang memelukku saat itu.
“Aku janji, aku akan mencari Bapak, namun tolong kasih tahu apa yang terjadi disini, karena ini bukan seperti kampung yang aku kenal.”
bebyzha dan 18 lainnya memberi reputasi
19
Kutip
Balas
Tutup