- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
SUPPORT AGAR ANE SEMANGAT TERUS UNTUK MENULIS YA, KALIAN BISA KIRIM TRAKTEER DISINI.
TRAKTIR CENDOL
Diubah oleh jurigciwidey 11-02-2026 11:19
reverbriks dan 52 lainnya memberi reputasi
51
37.4K
Kutip
437
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#167
BAB 47 - DATANG
Quote:
“WALAAANGGG!!!”
Pak Brata begitu marah ketika dirinya merasa terkhianati oleh salah satu orang kepercayaannya.
Semua yang dia lakukan ternyata mempunyai maksud tertentu, yang mengakibatkan dua pengawalnya kini bersimbah darah dan tidak berdaya tepat dibawah batu besar yang ada di dekatnya.
Dia mencoba kembali bangkit, bahkan dia menendang Danang yang ada di dekatnya.
Duagg
Dia menendang Danang dengan sangat keras, dia beguling beberapa kali sehingga tubuhnya menabrak rumpun bambu dengan sangat keras.
Pak Brata benar-benar marah, urat di wajahnya terlihat dengan jelas, hembusan nafasnya mendadak menjadi sangat berat.
Dia berjalan mendekat Danang yang kini kesakitan atas apa yang sudah diperbuatnya.
“Kamu terhasut oleh anak-anak ini haah.”
“Kamu terhasut oleh si Rara dan mereka sehingga kamu berbalik melawanku haah.”
Pak Brata menunjuk-nunjuk Mbah Walang dengan salah satu tangannya, dia berjalan mendekati Danang sambil menatap Mbah Walang dengan kemarahannya yang memuncak.
“Apa yang sudah mereka berikan kepadamu sehingga kamu menghianatiku.”
“Apa!!”
“Jawab walang.”
“JAWAB!!!”
“Selama ini aku sudah memberikan semuanya, sudah memberimu rumah yang layak, koneksi yang bagus agar client mu semakin banyak!”
“Juga, kamu juga sudah aku sejahterakan sehingga kamu bisa hidup dengan tenang ketika kamu hidup di rumahmu yang ada di kampung itu.”
Mbah Walang yang mendengar hal itu hanya bisa menggelengkan kepala, dia menyangkal semua tuduhan yang diberikan oleh Pak Brata pada malam itu.
Dewi yang melihat hal itu semua, hanya bisa terdiam. semuanya kacau dan tidak bisa ditebak atas perselisihan kedua orang ini.
Dia hanya bisa terdiam dengan kedua tangannya yang terikat oleh tali yang kuat.
Sedangkan Danang, dia masih merintih kesakitan, namun dirinya bisa bangkit secara perlahan setelah ditendang begitu kuat oleh Pak Brata.
Dewi tidak tahu skenario apa yang sedang mereka jalankan, apalagi Danang yang tadi menabrakan tubuhnya ke arah Pak Brata mungkin tau apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini.
Pak Brata tiba-tiba mengambil sebuah batu akik yang disimpan di sakunya, dia langsung memakainya dan bersiap untuk memukul Danang sekuat tenaga.
“Kalau itu yang kamu mau, maka aku akan mengorbankan semuanya termasuk kamu yang ada disini walang.”
“Aku siap untuk berkelahi dengan tubuhmu yang kecil itu, aku siap bertaruh nyawa agar aku bisa meminta lebih terhadap makhluk besar itu untuk kekayaan ku.”
“Kalau memang itu maumu, aku akan memulainya dengan menghancurkan kepala anak ini dengan tanganku sendiri.”
Pak Brata dengan emosinya yang memuncak, dia langsung mengangkat tangannya, dan secepat kilat langsung melayangkannya ke arah Danang.
Namun.
Tap,
Tiba-tiba, tangannya terhenti. terlihat ada sesosok manusia lain yang menahannya agar tangan itu tidak menyentuh Danang.
Sontak, Pak Brata langsung berbalik, dan ketika dia melihat siapa yang menghalangi tindakannya.
Tiba-tiba
Buaakk
Sebuah pukulan keras langsung mendarat ke arah wajahnya, dan hal itu langsung membuat Pak Brata terjatuh.
Danang dan Dewi benar-benar terkejut atas apa yang terjadi pada malam itu. karena selain ada orang tersebut yang memukul Pak Brata dengan kerasnya.
Dibelakangnya ada seseorang yang dia kenal dan kini berdiri mengikuti orang itu sambil sedikit tertunduk.
“RARAAAA.”
Danang, dan Dewi sontak berteriak, begitupun dengan Rara yang melihat Dewi dan Danang yang kini kondisinya terluka parah.
Rara langsung berlari ke arah Dewi, berusaha memutuskan tali yang mengikatnya sambil menangis dan meminta maaf kepada mereka berdua.
“Maaf, maafin aku, aku ga bisa mencegah kalian, kalau pada waktu itu aku mengikuti semua bisikan itu, aku bisa menghindari kematian Dimas dan Ardi.” Kata Rara dengan nada yang sedih.
Danang yang awalnya ada di dekat Pak Brata yang kini terjatuh ke tanah, langsung berdiri dan menghampiri Rara pada saat itu.
Dia sempat melirik ke seseorang yang memukulnya, dan dia ingat orang tersebut karena dia sudah pernah bertemu bahkan mengobrol dengannya.
Tapi, seperti yang sudah tau tentang hal itu, dia hanya menatapnya sebentar dan langsung berlari ke arah Rara.
“Euuh, kenapa sih talinya susah banget.” Kata Rara yang berusaha melepaskan tali yang mengikat Dewi.
Dengan wajahnya yang menangis, dia berusaha melepaskan tali itu dengan kedua tangannya.
Namun.
“Pake ini Ra, agar kamu bisa melepaskan temanmu.”
Mbah Walang tiba-tiba mendekat dan memberikan salah satu pisau yang dia pegang.
Pisau tersebut masih berlumuran darah dari salah satu pengawal Pak Brata yang sudah ditusuk beberapa waktu yang lalu.
Tak lama, setelah dia memberikan pisau itu, dia hanya berkata.
“Aku meminta maaf atas kedua temanmu yang menjadi korban, juga atas apa yang aku lakukan terhadap tubuhmu agar mereka tidak bisa masuk ke dalam mimpi dan menghasutmu untuk tidak datang ke tempat ini.”
“Hal itu akan membuat rencana ini gagal apabila aku mencegah hal itu, sehingga aku senantiasa menutupmu dari hal-hal yang bisa membuat semuanya berantakan.”
“Sekali lagi aku minta maaf atas apa yang terjadi, aku minta maaf.”
Mbah Walang hanya berjalan melewati Rara, Dewi dan Danang yang kini berkumpul disana.
Lalu dia mendekati Pak Brata yang kesakitan disana sambil memberikan pisau yang lain di salah satu tangannya ke orang yang memukul Pak Brata.
Pak Brata pun panik, dia berdiri dan berteriak kepada orang yang memukulnya.
“Siapa kamu, kenapa kamu ikut campur dengan urusanku.” Katanya dengan nada yang semakin marah.
Orang itu hanya terdiam sebentar ketika dia menerima pisau pemberian Mbah Walang.
“Aku adalah orang yang dulu dimasukan ke dalam rumah sakit jiwa olehmu, orang yang seluruh keluarganya di ditumbalkan dengan dalih bunuh diri di dalam rumah itu.”
“Sudah lama aku melarikan diri dari rumah sakit jiwa itu, hidup di jalanan dan mencari kehidupan sambil memupuk dendam atas apa yang kamu lakukan kepada keluargaku.”
“Aku akhirnya ditakdirkan bertemu denganmu di live anak-anak ini.”
“Bahkan aku percaya tentang mereka yang sudah diincar oleh mu dengan bantuan Mbah Walang.”
“Sehingga aku pun sempat bertemu mereka sekali, mengawasinya, bahkan mengantarkan ke rumah sakit karena jiwanya terguncang oleh jiwa-jiwa keluargaku yang membuat mata batinnya terbuka.”
“Aku Ragil, anak bungsu dari keluarga yang sudah kamu bantai untuk kesuksesan bisnismu.”
“Dan aku datang kembali setelah aku menyadarkan Mbah Walang atas apa yang sudah dia lakukan, dan sepakat melakukan ini untuk yang terakhir kalinya.”
“Aku melakukannya agar tidak ada Brata-brata yang lain yang sepertimu diluaran sana.”
Pak Brata langsung terdiam, rasa marah atas apa yang terjadi mendadak berubah menjadi sebuah ketakutan yang mendalam.
Ingin sekali dia melarikan diri dari tempat ini.
Namun.
Heeehhhh, eeeeehhhh
Di sela-sela rumpun bambu yang mengelilingi tempat itu. mayat-mayat yang awalnya ada di desa kini muncul disana dan mengelilingi mereka semua.
Mereka seperti mengikuti Pak Ragil hingga mereka bisa sampai ke tempat ini.
Entah apa yang terjadi, namun sepertinya Pak Ragil adalah orang pertama yang membuat kesepakatan dengan sosok aki yang kini masih mengamati mereka semua di atas batu besar itu.
“Hahahaha, aing resep jalma lamun geus kieu. (aku suka manusia kalau sudah seperti ini.)”
“jelema mah sarakah, jelema mah bisa ngahalalkeun kabeh anu bisa manehna lakukan sangkan kahayangna kacapai. (Manusia itu serakah, manusia bisa menghalalkan semua yang bisa dia lakukan agar kemauannya tercapai.)”
“Nu Hiji hayang beunghar, nu hiji hayang balas dendam. (yang satu ingin kaya, yang satu ingin balas dendam.)”
“Hahaha, hahaha.”
Bayangan besar itu hanya tertawa melihat keserakahan manusia yang ada disana. sedangkan Rara, Dewi dan Danang hanya terdiam di tengah.
Danang bahkan berkata, dia sebenarnya sudah tau apa yang terjadi, Mbah Walang memberitahukan semuanya.
Dia sedikit marah karena apa yang mereka lakukan mengorbankan Dimas dan Ardi, namun Mbah Walang berkata bahwa hal itu harus dilakukan agar semuanya sempurna.
Namun, dirinya berkata bahwa tidak perlu khawatir, karena dia memastikan bahwa kita bertiga bisa pulang dengan selamat.
“Mbah.”
Pak Ragil, tiba-tiba memerintahkan Mbah Walang untuk melakukan sesuatu, dia mengangguk. dia seperti tau apa yang sudah dia lakukan disana.
Seketika, dia mengangkat tangannya, dan dia membacakan mantera pada malam itu.
Brug.
Pak Brata langsung ambruk, tubuhnya lemas dan tidak berdaya, sedangkan Pak Ragil langsung mendekatinya dengan pisau tajam yang masih berlumuran darah di ujungnya.
“Mungkin, seperti inilah perasaan Ibu, Bapak, dan saudaraku ketika mereka akan ditumbalkan olehmu.”
“Dan pada malam ini, kamu juga akan merasakannya.”
Pak Brata kini ketakutan, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika Pak Ragil mendekati dirinya sambil menempelkan pisau itu ke lehernya.
Arrggghhhh
Suara teriakan terdengar keras, tubuhnya berusaha meronta-ronta disertai dengan darah keras yang mengalir dan membasahi tanah.
Seketika, suara teriakan itu tertutup oleh suara tertawa dari mahluk yang berada di atas batu itu.
Dia seperti senang melihat para manusia yang saling bertikai di bawah sana.
Tak lama kemudian.
“Hahaha, ayeuna tumbal geus sampurna, tinggal kahayang maneh naon manusa?, nu ku urang kudu di kabulkeun. (sekarang tumbal sudah sempurna, tinggal kemauan mu apa manusia? yang akan aku kabulkan.)”
sampeuk dan 18 lainnya memberi reputasi
19
Kutip
Balas
Tutup