- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Diubah oleh jurigciwidey 25-08-2023 14:07
iwakcetol dan 49 lainnya memberi reputasi
48
35.6K
Kutip
433
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#162
BAB 46 - KEMBALI
Quote:
“Lepasin gue, sudah kubilang lepasin gue!!”
Plak
Sebuah tamparan keras mengenai pipi Dewi, Pak Brata yang awalnya santai tiba-tiba melempar rokoknya dan menampar Dewi dengan sekuat tenaga.
Pak Brata pun tiba-tiba jongkok, dan melihat Dewi dari dekat.
“Diam, kamu diam saja sekarang, jangan menghabiskan tenagamu sebelum kamu mati sepenuhnya.”
Pak Brata tersenyum, mulutnya menyeringai ketika dia melihat wajah Dewi yang masih berusaha untuk melepaskan ikatannya pada saat itu.
Suasana tempat ritual bagi orang-orang desa, yang kini dimanfaatkan oleh Pak BRata untuk melakukan perjanjian dengan salah satu makhluk yang ada disana, kini semakin mencekam.
Bagaimana tidak, darah yang mengucur bekas pengorbanan Dimas dan Ardi masih terlihat dengan jelas di tanah.
Juga tubuh mereka yang kini kaku dan tidak bernyawa hanya tergeletak begitu saja di tanah, bersamaan dengan kamera dan peralatan yang terciprat oleh darah mereka ketika dikorbankan pada saat itu.
“Jangan sampai anak ini lepas, kita akan menunggu Mbah Walang agar memanggil si Aki lagi untuk mengorbankan anak ini.”
Pak Brata kemudian berdiri kembali, dia mendekati Eko dan Aji yang ada disana, tak lama menunjuk ke arah Dewi yang masih terikat dengan erat sambil merokok kembali di belakang mereka berdua.
Fuhhhh
Asap tebal tiba-tiba mengepul ke atas dan hilang di antara rumpun bambu yang menutupi tempat itu.
“Tinggal satu orang lagi ya?” Tanya Pak Brata ke Aji dan Eko yang ada di depannya.
Aji berbalik dan mengangguk, lalu dia mendekat dan berkata bahwa dia akan mencari Rara yang mungkin masih berada di sekitar desa.
Namun, Pak Brata menolak, dia menyarankan untuk tetap disini sampai Mbah Walang datang dan mengorbankan Danang dan Dewi di depan sosok Aki yang dihormati untuk meminta kekayaan dan kesuksesan dimasa mendatang.
“Jangan, kalau kamu menghilang nanti kamu tidak ada selamat ketika nanti kita pulang.”
“Karena aku tidak ingin bertemu dengan warga desa yang mungkin akan marah atas apa yang kita lakukan pada malam ini.”
“Meskipun badan kalian berdua besar, namun apabila seluruh warga desa menyalahkan kita semua dan mengeroyok kita akibat apa yang kita perbuat malam ini sehingga mayat itu muncul lebih awal dari yang sudah mereka perkirakan.”
“Maka kita juga akan mati di tangan mereka.”
“Jadi, tunggu saja, kita akan cari Rara untuk korban terakhir sekaligus untuk kunci kita bisa keluar dari situasi ini.”
“Karena kita akan pulang kembali melewati Leuweung Kunti, sehingga kita tidak perlu bertemu dengan para warga ketika pagi tiba.”
Aji dan Eko pun hanya mengangguk, dia tau bahwa bossnya adalah orang yang serakah, orang yang paling bisa memanipulasi orang.
Karena sudah berapa banyak orang yang sudah dia korbankan untuk keserakahannya atas uang dan bisnis yang dijalankan.
Sehingga mereka pun takut apabila melawan, karena bisa saja mereka berdua yang malah dikorbankan oleh Pak Brata di situasi seperti ini.
***
Dua puluh menit berlalu, akhirnya orang yang Pak Brata tunggu tiba.
Dia melihat Danang yang awalnya hanya tertidur, kini penuh dengan luka, terlihat seperti sudah di siksa oleh Mbah Walang sebelum akhirnya dia pasrah mengikuti Mbah Walang dengan tangannya yang terikat.
Pak Brata yang melihat hal itu langsung mendekati Mbah Walang.
“Walang, jangan kau bikin cacat dia, biarkan Aji dan Eko yang mengeksekusi dia di depan aki.” Kata Pak Brata sambil tersenyum kepadanya.
Danang yang biasanya berontak pun kini terlihat terdiam, dia seperti sudah pasrah akan ditumbalkan oleh Pak Brata dan Mbah Walang disana.
“Iya, saya tau, jadi bagaimana kita mulai saja sekarang ritualnya.” Kata Mbah Walang.
Pak Brata pun mengangguk, dia menunggu untuk bertemu dengan Aki dan memberikan dua tumbal lagi dari lima tumbal yang sudah dipersiapkan pada saat itu.
“Sepertinya, aku harus bersama Aji dan Eko terlebih dahulu, aku harus memberikan sebagian kekuatanku agar dia bisa mengeksekusi mereka berdua tanpa ada rasa takut.”
“Ingat, ini berbeda dengan kedua orang tadi yang belum tau bahwa akan kita tumbalkan.”
“Namun sekarang, dua orang ini tahu akan hal itu, dan aku takut mereka akan berontak ketika dua orang ini menjadi algojo bagi mereka berdua.”
Pak Brata yang mempercayakan semuanya hanya mengangkat tangannya dan menggerakan telapak tangannya beberapa kali, seperti sebuah isyarat bahwa dia setuju atas apa yang dikatakan Mbah Walang.
Mbah Walang pun membalasnya dengan anggukan, tak lama dia pun langsung mengajak Aji dan Eko untuk berdiri di depan Batu yang penuh akan sesajen di bawahnya.
“Kalian harus kuat, apabila dia muncul, kalian harus bisa menatapnya, agar dia menyangka bahwa kalian berdua adalah bagian dari kita semua, sehingga ketika ritualnya selesai dan kita pulang membawa mayat-mayat mereka untuk dimakamkan di desa, kalian tidak akan diganggu oleh para mayat yang masih berkeliaran disana.” Kata Mbah Walang yang kini berdiri di antara mereka berdua.
Aji dan Eko pun mengangguk, dengan tubuh mereka yang besar. mereka berdua langsung berdiri di depan batu dan membiarkan Mbah Walang di belakang mereka.
Dia juga meminjam pisau yang mereka berdua pegang untuk dia mantrai terlebih dahulu.
“Sekarang kalian pejamkan mata, aku akan memanggil kembali Aki yang ada di dalam batu ini.” Kata Mbah Walang dengan mulutnya yang komat kamit.
Dia mengangkat kedua tangannya dengan pisau yang diberi oleh Eko dan Aji pada malam itu. dia terlihat serius membacakan mantra untuk memanggil sosok Aki yang akan menerima persembahan dari Pak Brata untuk keinginannya.
Danang, dan Dewi hanya bisa melihat mereka dengan pasrah. mereka sudah tidak bisa melakukan apapun lagi karena tubuhnya terikat dan tidak bisa melepaskan diri.
Tak lama, suara gemuruh angin kini terdengar, suara-suara dedaunan dari rumpun bambu yang saling bergesekan satu sama lain membuat tempat itu kini berisik atas apa yang dilakukan oleh Mbah Walang.
Hawa dingin yang menusuk, ditambah banyak mata yang muncul secara perlahan di balik rumpun-rumpun bambu yang gelap dan menyeramkan.
“Tahan, kalian jangan membuka mata terlebih dahulu, karena sekarang berbeda dengan apa yang sudah kita lakukan tadi.” Kata Mbah Walang yang kini semakin serius membacakan mantera.
Benar saja, tiba-tiba suara yang gaduh dari sekeliling tempat itu semakin ramai, bahkan pohon-pohon bambu yang menutupi tempat itu tiba-tiba bergetar.
Rupanya, mayat-mayat yang tadi ada di desa kini datang ke tempat itu, mereka seperti terpanggil atas apa yang sedang Mbah Walang lakukan pada saat itu.
Mereka seperti sedang melihat ritual yang ada di tempat tersebut dari rumpun bambu mengelilinginya. Namun, mereka tidak berani mendekat kepada manusia-manusia yang ada di dalamnya.
Tak terasa, lima menit pun berlalu, Mbah Walang semakin serius membacakan mantra dengan dua pisau yang dia pegang.
Tak lama, batu besar yang ada disana secara tiba-tiba menghitam, seperti ada kain hitam yang menutup batu besar itu dan terbang ke atas secara perlahan, membentuk bayangan besar dengan mata merah yang menyala menatap mereka semua.
Pak Brata yang masih merokok di belakang sana hanya tersenyum kecil, dia merasa bahwa impiannya untuk melakukan perjanjian dengan mahluk itu semakin dekat, karena sekarang ada dua orang lagi yang akan ditumbalkan di tempat ini, sebelum nantinya Rara akan menjadi korban terakhir baginya.
Namun, secara mengejutkan.
Tiba-tiba, tepat ketika bayangan itu muncul.
Brugg
Aji dan Eko tiba-tiba tersungkur lemas dan tidak berdaya, matanya hanya bisa terbuka namun dia tidak bisa menggerakan seluruh tubuhnya yang besar.
Bahkan, mulutnya pun tidak bisa berbicara dan hanya bisa memandangi batu itu dari bawah.
Mbah Walang yang ada di belakangnya langsung berdiri, dia mendekati Aji dan Eko yang tersungkur disana.
Lalu, tiba-tiba
Sretttt
Dia menempelkan pisau yang dia bawa ke arah leher Aji dan Eko, seketika dia menariknya dengan cepat sehingga lehernya mengeluarkan darah yang mengucur tepat dibawah batu besar yang ada disana.
Tak lama kemudian.
“WALANGGGGGG, KENAPA KAMU MENGORBANKAN DUA PENGAWALKU.”
Pak Brata tiba-tiba marah, dia tidak menyangka yang kini dia korbankan adalah pengawalnya yang mengikutinya dirinya selama ini.
Seketika, dia melemparkan rokok yang dia pegang, dia berlari ke arah Mbah Walang dengan emosinya yang memuncak.
Namun,
Brugg
Danang yang terduduk di sana, langsung berdiri, dia langsung menabrakkan tubuhnya ke arah Pak Brata sehingga membuat dia terjatuh di tempat itu.
Mbah Walang langsung berdiri, dia langsung menatap bayangan hitam besar yang sedang melihat ke arah mereka semua, lalu kemudian dia berbalik ke arah Pak Brata yang terjatuh dan mendekatinya secara perlahan sambil meminta maaf.
“Maafin aku, sudah cukup aku mengikuti Bapak dengan segala kemauan yang ingin anda capai dalam hidup anda.”
“Namun, kali ini aku harus meminta maaf, karena sebenarnya apa yang terjadi di tempat ini bukan untuk anda pak, namun untuk seseorang yang sudah menyadarkan ku atas apa yang sudah anda lakukan terhadap keluarganya beberapa tahun yang lalu di rumah itu,” kata Mbah Walang sambil sedikit menunduk.
Plak
Sebuah tamparan keras mengenai pipi Dewi, Pak Brata yang awalnya santai tiba-tiba melempar rokoknya dan menampar Dewi dengan sekuat tenaga.
Pak Brata pun tiba-tiba jongkok, dan melihat Dewi dari dekat.
“Diam, kamu diam saja sekarang, jangan menghabiskan tenagamu sebelum kamu mati sepenuhnya.”
Pak Brata tersenyum, mulutnya menyeringai ketika dia melihat wajah Dewi yang masih berusaha untuk melepaskan ikatannya pada saat itu.
Suasana tempat ritual bagi orang-orang desa, yang kini dimanfaatkan oleh Pak BRata untuk melakukan perjanjian dengan salah satu makhluk yang ada disana, kini semakin mencekam.
Bagaimana tidak, darah yang mengucur bekas pengorbanan Dimas dan Ardi masih terlihat dengan jelas di tanah.
Juga tubuh mereka yang kini kaku dan tidak bernyawa hanya tergeletak begitu saja di tanah, bersamaan dengan kamera dan peralatan yang terciprat oleh darah mereka ketika dikorbankan pada saat itu.
“Jangan sampai anak ini lepas, kita akan menunggu Mbah Walang agar memanggil si Aki lagi untuk mengorbankan anak ini.”
Pak Brata kemudian berdiri kembali, dia mendekati Eko dan Aji yang ada disana, tak lama menunjuk ke arah Dewi yang masih terikat dengan erat sambil merokok kembali di belakang mereka berdua.
Fuhhhh
Asap tebal tiba-tiba mengepul ke atas dan hilang di antara rumpun bambu yang menutupi tempat itu.
“Tinggal satu orang lagi ya?” Tanya Pak Brata ke Aji dan Eko yang ada di depannya.
Aji berbalik dan mengangguk, lalu dia mendekat dan berkata bahwa dia akan mencari Rara yang mungkin masih berada di sekitar desa.
Namun, Pak Brata menolak, dia menyarankan untuk tetap disini sampai Mbah Walang datang dan mengorbankan Danang dan Dewi di depan sosok Aki yang dihormati untuk meminta kekayaan dan kesuksesan dimasa mendatang.
“Jangan, kalau kamu menghilang nanti kamu tidak ada selamat ketika nanti kita pulang.”
“Karena aku tidak ingin bertemu dengan warga desa yang mungkin akan marah atas apa yang kita lakukan pada malam ini.”
“Meskipun badan kalian berdua besar, namun apabila seluruh warga desa menyalahkan kita semua dan mengeroyok kita akibat apa yang kita perbuat malam ini sehingga mayat itu muncul lebih awal dari yang sudah mereka perkirakan.”
“Maka kita juga akan mati di tangan mereka.”
“Jadi, tunggu saja, kita akan cari Rara untuk korban terakhir sekaligus untuk kunci kita bisa keluar dari situasi ini.”
“Karena kita akan pulang kembali melewati Leuweung Kunti, sehingga kita tidak perlu bertemu dengan para warga ketika pagi tiba.”
Aji dan Eko pun hanya mengangguk, dia tau bahwa bossnya adalah orang yang serakah, orang yang paling bisa memanipulasi orang.
Karena sudah berapa banyak orang yang sudah dia korbankan untuk keserakahannya atas uang dan bisnis yang dijalankan.
Sehingga mereka pun takut apabila melawan, karena bisa saja mereka berdua yang malah dikorbankan oleh Pak Brata di situasi seperti ini.
***
Dua puluh menit berlalu, akhirnya orang yang Pak Brata tunggu tiba.
Dia melihat Danang yang awalnya hanya tertidur, kini penuh dengan luka, terlihat seperti sudah di siksa oleh Mbah Walang sebelum akhirnya dia pasrah mengikuti Mbah Walang dengan tangannya yang terikat.
Pak Brata yang melihat hal itu langsung mendekati Mbah Walang.
“Walang, jangan kau bikin cacat dia, biarkan Aji dan Eko yang mengeksekusi dia di depan aki.” Kata Pak Brata sambil tersenyum kepadanya.
Danang yang biasanya berontak pun kini terlihat terdiam, dia seperti sudah pasrah akan ditumbalkan oleh Pak Brata dan Mbah Walang disana.
“Iya, saya tau, jadi bagaimana kita mulai saja sekarang ritualnya.” Kata Mbah Walang.
Pak Brata pun mengangguk, dia menunggu untuk bertemu dengan Aki dan memberikan dua tumbal lagi dari lima tumbal yang sudah dipersiapkan pada saat itu.
“Sepertinya, aku harus bersama Aji dan Eko terlebih dahulu, aku harus memberikan sebagian kekuatanku agar dia bisa mengeksekusi mereka berdua tanpa ada rasa takut.”
“Ingat, ini berbeda dengan kedua orang tadi yang belum tau bahwa akan kita tumbalkan.”
“Namun sekarang, dua orang ini tahu akan hal itu, dan aku takut mereka akan berontak ketika dua orang ini menjadi algojo bagi mereka berdua.”
Pak Brata yang mempercayakan semuanya hanya mengangkat tangannya dan menggerakan telapak tangannya beberapa kali, seperti sebuah isyarat bahwa dia setuju atas apa yang dikatakan Mbah Walang.
Mbah Walang pun membalasnya dengan anggukan, tak lama dia pun langsung mengajak Aji dan Eko untuk berdiri di depan Batu yang penuh akan sesajen di bawahnya.
“Kalian harus kuat, apabila dia muncul, kalian harus bisa menatapnya, agar dia menyangka bahwa kalian berdua adalah bagian dari kita semua, sehingga ketika ritualnya selesai dan kita pulang membawa mayat-mayat mereka untuk dimakamkan di desa, kalian tidak akan diganggu oleh para mayat yang masih berkeliaran disana.” Kata Mbah Walang yang kini berdiri di antara mereka berdua.
Aji dan Eko pun mengangguk, dengan tubuh mereka yang besar. mereka berdua langsung berdiri di depan batu dan membiarkan Mbah Walang di belakang mereka.
Dia juga meminjam pisau yang mereka berdua pegang untuk dia mantrai terlebih dahulu.
“Sekarang kalian pejamkan mata, aku akan memanggil kembali Aki yang ada di dalam batu ini.” Kata Mbah Walang dengan mulutnya yang komat kamit.
Dia mengangkat kedua tangannya dengan pisau yang diberi oleh Eko dan Aji pada malam itu. dia terlihat serius membacakan mantra untuk memanggil sosok Aki yang akan menerima persembahan dari Pak Brata untuk keinginannya.
Danang, dan Dewi hanya bisa melihat mereka dengan pasrah. mereka sudah tidak bisa melakukan apapun lagi karena tubuhnya terikat dan tidak bisa melepaskan diri.
Tak lama, suara gemuruh angin kini terdengar, suara-suara dedaunan dari rumpun bambu yang saling bergesekan satu sama lain membuat tempat itu kini berisik atas apa yang dilakukan oleh Mbah Walang.
Hawa dingin yang menusuk, ditambah banyak mata yang muncul secara perlahan di balik rumpun-rumpun bambu yang gelap dan menyeramkan.
“Tahan, kalian jangan membuka mata terlebih dahulu, karena sekarang berbeda dengan apa yang sudah kita lakukan tadi.” Kata Mbah Walang yang kini semakin serius membacakan mantera.
Benar saja, tiba-tiba suara yang gaduh dari sekeliling tempat itu semakin ramai, bahkan pohon-pohon bambu yang menutupi tempat itu tiba-tiba bergetar.
Rupanya, mayat-mayat yang tadi ada di desa kini datang ke tempat itu, mereka seperti terpanggil atas apa yang sedang Mbah Walang lakukan pada saat itu.
Mereka seperti sedang melihat ritual yang ada di tempat tersebut dari rumpun bambu mengelilinginya. Namun, mereka tidak berani mendekat kepada manusia-manusia yang ada di dalamnya.
Tak terasa, lima menit pun berlalu, Mbah Walang semakin serius membacakan mantra dengan dua pisau yang dia pegang.
Tak lama, batu besar yang ada disana secara tiba-tiba menghitam, seperti ada kain hitam yang menutup batu besar itu dan terbang ke atas secara perlahan, membentuk bayangan besar dengan mata merah yang menyala menatap mereka semua.
Pak Brata yang masih merokok di belakang sana hanya tersenyum kecil, dia merasa bahwa impiannya untuk melakukan perjanjian dengan mahluk itu semakin dekat, karena sekarang ada dua orang lagi yang akan ditumbalkan di tempat ini, sebelum nantinya Rara akan menjadi korban terakhir baginya.
Namun, secara mengejutkan.
Tiba-tiba, tepat ketika bayangan itu muncul.
Brugg
Aji dan Eko tiba-tiba tersungkur lemas dan tidak berdaya, matanya hanya bisa terbuka namun dia tidak bisa menggerakan seluruh tubuhnya yang besar.
Bahkan, mulutnya pun tidak bisa berbicara dan hanya bisa memandangi batu itu dari bawah.
Mbah Walang yang ada di belakangnya langsung berdiri, dia mendekati Aji dan Eko yang tersungkur disana.
Lalu, tiba-tiba
Sretttt
Dia menempelkan pisau yang dia bawa ke arah leher Aji dan Eko, seketika dia menariknya dengan cepat sehingga lehernya mengeluarkan darah yang mengucur tepat dibawah batu besar yang ada disana.
Tak lama kemudian.
“WALANGGGGGG, KENAPA KAMU MENGORBANKAN DUA PENGAWALKU.”
Pak Brata tiba-tiba marah, dia tidak menyangka yang kini dia korbankan adalah pengawalnya yang mengikutinya dirinya selama ini.
Seketika, dia melemparkan rokok yang dia pegang, dia berlari ke arah Mbah Walang dengan emosinya yang memuncak.
Namun,
Brugg
Danang yang terduduk di sana, langsung berdiri, dia langsung menabrakkan tubuhnya ke arah Pak Brata sehingga membuat dia terjatuh di tempat itu.
Mbah Walang langsung berdiri, dia langsung menatap bayangan hitam besar yang sedang melihat ke arah mereka semua, lalu kemudian dia berbalik ke arah Pak Brata yang terjatuh dan mendekatinya secara perlahan sambil meminta maaf.
“Maafin aku, sudah cukup aku mengikuti Bapak dengan segala kemauan yang ingin anda capai dalam hidup anda.”
“Namun, kali ini aku harus meminta maaf, karena sebenarnya apa yang terjadi di tempat ini bukan untuk anda pak, namun untuk seseorang yang sudah menyadarkan ku atas apa yang sudah anda lakukan terhadap keluarganya beberapa tahun yang lalu di rumah itu,” kata Mbah Walang sambil sedikit menunduk.
sampeuk dan 19 lainnya memberi reputasi
20
Kutip
Balas
Tutup