- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
SUPPORT AGAR ANE SEMANGAT TERUS UNTUK MENULIS YA, KALIAN BISA KIRIM TRAKTEER DISINI.
TRAKTIR CENDOL
Diubah oleh jurigciwidey 11-02-2026 11:19
reverbriks dan 52 lainnya memberi reputasi
51
37.4K
Kutip
437
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#155
BAB 44 - MENGHILANG KEMBALI
Quote:
Entah mengapa, malam ini terasa sangat panjang.
Waktu berjalan begitu lambat, sinar matahari seperti enggan untuk muncul dan lebih memilih untuk memberikan langit kepada sang bulan dan bintang-bintang di atas sana lebih lama dari sebelumnya.
Tak terasa, tangan, kaki, bahkan tubuh yang dari tadi bergerak akhirnya mencapai batasnya juga.
Tubuh Dewi menunduk, keringat-keringat di wajahnya kini menetes ke tanah. sebuah tanah yang penuh dengan rumput dan ilalang yang mulai berembun karena waktu sudah masuk ke sepertiga malam.
Hah, hah, hah
Jantungnya berdetak kencang tanpa henti, di tambah lagi nafasnya yang kini berat seperti ditekan di segala arah oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Di sekelilingnya hanya ada pepohonan yang menjulang tinggi ke atas, dia benar-benar tidak tahu ada dimana sekarang.
Dia seperti tersesat tak tentu arah, bahkan Rara yang dia kejar pun menghilang dalam kegelapan malam begitu cepat.
“Raraaaaaa….”
“Raraaaaaa….”
“Raaa…. Ohok, ohok”
Tenaganya benar-benar terkuras pada malam ini, pikirannya kacau, dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih atas apa yang terjadi semalam.
Dia mengangkat salah satu tangannya, lalu tak lama tangan itu memegang salah satu pohon yang ada di dekatnya.
‘Aku harus cepat-cepat mencari Rara, aku tidak mau nasibnya sama seperti Ardi dan Dimas’
Batinnya terus bergejolak, dia terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi.
Sehingga, dia memaksakan tubuhnya yang sudah lemas itu untuk kembali berjalan. meskipun dia harus menyusuri jalanan setapak demi setapak dengan bantuan pepohonan yang harus dipegang agar tubuhnya tidak ambruk pada saat itu.
Dia berjalan dengan sangat pelan. senter kecil yang dia pegang untuk penerangan hanya bisa menyorot pepohonan yang ada di depannya, dan memperkirakan arah mana Rara berjalan di kegelapan malam.
Ada sebuah tanggung jawab yang diemban, sehingga dia melakukan hal ini meskipun dia seharusnya tidak bisa berjalan lagi.
Dia terus memaksakan diri di tengah-tengah ketakutan yang memenuhi diri dan pikirannya pada malam itu.
Hingga
Di saat dia melewati sebuah pohon beringin besar, tiba-tiba dia melihat sebuah jalan yang sedikit agak lebar.
Sebuah jalan yang tembus ke Desa Kolong Mayit yang letaknya tak jauh dari sana.
Apalagi.
Tepat ketika dia menyorotkan cahaya senternya ke arah jalanan tersebut.
Nampak seseorang sedang berjalan melewati jalanan tersebut dengan santainya, dia berjalan sendirian tanpa ada penerangan apapun.
Sontak.
Dewi langsung berteriak, memanggil dirinya agar berhenti disana.
“Ra, raraaaaa!!!”
Brugg
Namun, tubuhnya tiba-tiba ambruk, tenaganya sudah benar-benar habis. tubuhnya sempoyongan dan terjatuh begitu saja setelah dia melepaskan tangannya dari pohon yang dia pegang.
Tidak ada jawaban dari apa yang dia teriakan, Rara terus berjalan begitu saja ke arah desa yang mungkin masih dipenuhi oleh mayat-mayat itu.
Dewi yang tau akan hal itu tentu saja tidak akan membiarkan hal itu terjadi kepadanya.
Dia langsung bangkit kembali, dia menggertakan giginya sambil mencoba mengumpulkan tenaganya yang tersisa agar bisa menopang tubuhnya yang ambruk itu untuk bisa berdiri kembali.
Dia terus memanggil-manggil Rara dari kejauhan, tenaganya yang benar-benar terkuras habis membuatnya tidak bisa berlari untuk mengejarnya.
“Raaaa, Raraaa.”
Dia terus-terusan berteriak, suara yang awalnya lantang kini secara perlahan mengecil karena tenaganya semakin habis.
Namun, Rara seakan tidak peduli, dia malah terus berjalan begitu saja tanpa memperdulikan orang yang meneriakinya dari belakang.
Apalagi, jalanan itu kini semakin melebar. terlihat tak jauh dari sana sudah mulai banyak rumah-rumah dari warga desa yang kini sudah ditinggalkan.
“Ra, tolong ra, berhenti ra, jangan masuk kesana ra, jangaaan.”
“Aku takut mayat-mayat itu akan menggigit kamu seperti yang terjadi kepada Ma Uneh ra.”
Tak terasa, air mata Dewi kembali keluar, dia mengulurkan tangannya seperti ingin menggapai Rara yang masih berjalan menuju desa.
Benar saja, ketika dirinya semakin dekat.
Dewi dengan jelas melihat mayat-mayat itu masih berada di Desa Kolong Mayit, dengan kain kafan yang masih menempel di tubuh-tubuh mereka.
Mereka serentak melihat ke arah Rara yang kini berjalan mendekati mereka yang berkeliaran di desa.
Wajahnya yang sudah setengah menjadi tengkorak, bahkan ada yang sudah menjadi tengkorak karena sudah ratusan tahun mereka dikuburkan di sana kini terlihat dengan jelas oleh kedua mata Dewi pada saat itu.
Rara, terus berjalan, dia juga tidak memperdulikan puluhan bahkan mungkin ratusan mayat-mayat yang terbangun disana.
Mayat-mayat itu melihat Rara dengan seksama, kepalanya dimiringkan dan melihat Rara dengan tatapannya yang tajam.
Dewi terdiam sebentar, dia terlihat seperti mengumpulkan tenaganya yang tersisa.
‘Ayo wi, tarik Rara, jangan sampai dia masuk dan menjadi santapan bagi mayat-mayat itu’
Batin Dewi berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Dia mengambil nafas panjang beberapa kali, mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang ada di dalam tubuhnya.
Dan tak lama.
Tap, tap, tap
Dia langsung berlari, mencoba menggapai Rara dan menariknya untuk keluar desa.
Satu langkah
Dua langkah
Tiga langkah
Semakin lama dia berlari, semakin dekat dia mendekati Rara.
Tinggal beberapa meter lagi sampai tangannya menggapai tubuhnya pada saat itu.
Namun,
Tiba-tiba saja.
Kakinya tiba-tiba berhenti. bahkan kini dia mendadak mundur kembali karena dia mendengar suara langkah kaki dari arah kiri dan kanan jalan.
Dia langsung menyorot cahaya senternya ke arah suara, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat, banyak sekali sesuatu yang bergerak dengan benda putih yang mereka kenakan.
Rupanya, mayat-mayat itu muncul dari arah sisi kiri dan kanan, seperti mencoba untuk menghalangi Dewi untuk menarik Rara yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dari tubuhnya.
Sedangkan Rara.
Tiba-tiba dia berbalik, dan melihat ke arah Dewi sambil tersenyum, dia hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali, sebelum akhirnya dia membalikan badannya lagi dan berjalan menembus desa.
Anehnya, mayat-mayat itu seperti sengaja menutupi Rara, dan Rara pun seperti bisa leluasa berjalan begitu saja di tengah-tengah mayat yang berjalan disana.
Mayat-mayat itu seperti memberi jalan kepadanya, meskipun terlihat dari wajah-wajah mereka yang ingin menerkam Rara pada malam itu. Namun mereka seperti menjaga jarak dengan Rara.
Entah apa yang terjadi, namun hal itu benar-benar tidak dipercaya bahkan oleh Dewi yang menyaksikan langsung pemandangan itu.
Tak lama, Rara akhirnya hilang kembali di antara mayat-mayat itu.
Bahkan mayat yang muncul dari sisi kiri dan kanan jalan kini berjalan kembali ke arah desa dan meninggalkan Dewi sendirian disana.
Dewi kini pasrah, tenaganya benar-benar habis, sudah tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang.
Dia hanya terdiam dan menangis, dia benar-benar khawatir dengan kondisi Rara yang kini menghilang disana.
Namun.
Rasa kekhawatiran itu tak lama.
Karena
ARGGGHHH
Dewi tiba-tiba menjerit kesakitan, dia merasakan ada sesuatu yang menarik rambutnya dengan keras. Seketika, dia memalingkan wajahnya.
Dan terlihat, Aji, Eko serta Pak Brata sudah ada di belakangnya dengan senyumannya yang menyeringai.
Aji yang menarik rambutnya langsung menyeretnya dengan sangat kasar, bahkan hal itu membuat tubuhnya langsung terjatuh ke tanah.
“Hey, jangan kasar, dia masih kita pakai untuk kesempurnaan ritual kita pada malam ini.” kata Pak Brata yang sedikit marah kepada AJi yang sedang menarik rambut Dewi dengan sangat kuat pada saat itu.
“Tinggal satu orang lagi yang kini menghilang dan belum di temukan.”
“Eko, bawa dia, kalau perlu, ikat dia dengan kuat, kita akan kembali ke tempat itu dan menyelesaikan semuanya.”
“Ketika semuanya selesai, kuburkan mereka bersamaan di bawah salah satu rumah warga yang ada di desa, dan ketika semuanya sudah terkubur dan mayat-mayat itu tertidur kembali, berarti ritual kita sudah selesai dan kita akan pulang dengan selamat.”
Waktu berjalan begitu lambat, sinar matahari seperti enggan untuk muncul dan lebih memilih untuk memberikan langit kepada sang bulan dan bintang-bintang di atas sana lebih lama dari sebelumnya.
Tak terasa, tangan, kaki, bahkan tubuh yang dari tadi bergerak akhirnya mencapai batasnya juga.
Tubuh Dewi menunduk, keringat-keringat di wajahnya kini menetes ke tanah. sebuah tanah yang penuh dengan rumput dan ilalang yang mulai berembun karena waktu sudah masuk ke sepertiga malam.
Hah, hah, hah
Jantungnya berdetak kencang tanpa henti, di tambah lagi nafasnya yang kini berat seperti ditekan di segala arah oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Di sekelilingnya hanya ada pepohonan yang menjulang tinggi ke atas, dia benar-benar tidak tahu ada dimana sekarang.
Dia seperti tersesat tak tentu arah, bahkan Rara yang dia kejar pun menghilang dalam kegelapan malam begitu cepat.
“Raraaaaaa….”
“Raraaaaaa….”
“Raaa…. Ohok, ohok”
Tenaganya benar-benar terkuras pada malam ini, pikirannya kacau, dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih atas apa yang terjadi semalam.
Dia mengangkat salah satu tangannya, lalu tak lama tangan itu memegang salah satu pohon yang ada di dekatnya.
‘Aku harus cepat-cepat mencari Rara, aku tidak mau nasibnya sama seperti Ardi dan Dimas’
Batinnya terus bergejolak, dia terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi.
Sehingga, dia memaksakan tubuhnya yang sudah lemas itu untuk kembali berjalan. meskipun dia harus menyusuri jalanan setapak demi setapak dengan bantuan pepohonan yang harus dipegang agar tubuhnya tidak ambruk pada saat itu.
Dia berjalan dengan sangat pelan. senter kecil yang dia pegang untuk penerangan hanya bisa menyorot pepohonan yang ada di depannya, dan memperkirakan arah mana Rara berjalan di kegelapan malam.
Ada sebuah tanggung jawab yang diemban, sehingga dia melakukan hal ini meskipun dia seharusnya tidak bisa berjalan lagi.
Dia terus memaksakan diri di tengah-tengah ketakutan yang memenuhi diri dan pikirannya pada malam itu.
Hingga
Di saat dia melewati sebuah pohon beringin besar, tiba-tiba dia melihat sebuah jalan yang sedikit agak lebar.
Sebuah jalan yang tembus ke Desa Kolong Mayit yang letaknya tak jauh dari sana.
Apalagi.
Tepat ketika dia menyorotkan cahaya senternya ke arah jalanan tersebut.
Nampak seseorang sedang berjalan melewati jalanan tersebut dengan santainya, dia berjalan sendirian tanpa ada penerangan apapun.
Sontak.
Dewi langsung berteriak, memanggil dirinya agar berhenti disana.
“Ra, raraaaaa!!!”
Brugg
Namun, tubuhnya tiba-tiba ambruk, tenaganya sudah benar-benar habis. tubuhnya sempoyongan dan terjatuh begitu saja setelah dia melepaskan tangannya dari pohon yang dia pegang.
Tidak ada jawaban dari apa yang dia teriakan, Rara terus berjalan begitu saja ke arah desa yang mungkin masih dipenuhi oleh mayat-mayat itu.
Dewi yang tau akan hal itu tentu saja tidak akan membiarkan hal itu terjadi kepadanya.
Dia langsung bangkit kembali, dia menggertakan giginya sambil mencoba mengumpulkan tenaganya yang tersisa agar bisa menopang tubuhnya yang ambruk itu untuk bisa berdiri kembali.
Dia terus memanggil-manggil Rara dari kejauhan, tenaganya yang benar-benar terkuras habis membuatnya tidak bisa berlari untuk mengejarnya.
“Raaaa, Raraaa.”
Dia terus-terusan berteriak, suara yang awalnya lantang kini secara perlahan mengecil karena tenaganya semakin habis.
Namun, Rara seakan tidak peduli, dia malah terus berjalan begitu saja tanpa memperdulikan orang yang meneriakinya dari belakang.
Apalagi, jalanan itu kini semakin melebar. terlihat tak jauh dari sana sudah mulai banyak rumah-rumah dari warga desa yang kini sudah ditinggalkan.
“Ra, tolong ra, berhenti ra, jangan masuk kesana ra, jangaaan.”
“Aku takut mayat-mayat itu akan menggigit kamu seperti yang terjadi kepada Ma Uneh ra.”
Tak terasa, air mata Dewi kembali keluar, dia mengulurkan tangannya seperti ingin menggapai Rara yang masih berjalan menuju desa.
Benar saja, ketika dirinya semakin dekat.
Dewi dengan jelas melihat mayat-mayat itu masih berada di Desa Kolong Mayit, dengan kain kafan yang masih menempel di tubuh-tubuh mereka.
Mereka serentak melihat ke arah Rara yang kini berjalan mendekati mereka yang berkeliaran di desa.
Wajahnya yang sudah setengah menjadi tengkorak, bahkan ada yang sudah menjadi tengkorak karena sudah ratusan tahun mereka dikuburkan di sana kini terlihat dengan jelas oleh kedua mata Dewi pada saat itu.
Rara, terus berjalan, dia juga tidak memperdulikan puluhan bahkan mungkin ratusan mayat-mayat yang terbangun disana.
Mayat-mayat itu melihat Rara dengan seksama, kepalanya dimiringkan dan melihat Rara dengan tatapannya yang tajam.
Dewi terdiam sebentar, dia terlihat seperti mengumpulkan tenaganya yang tersisa.
‘Ayo wi, tarik Rara, jangan sampai dia masuk dan menjadi santapan bagi mayat-mayat itu’
Batin Dewi berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Dia mengambil nafas panjang beberapa kali, mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang ada di dalam tubuhnya.
Dan tak lama.
Tap, tap, tap
Dia langsung berlari, mencoba menggapai Rara dan menariknya untuk keluar desa.
Satu langkah
Dua langkah
Tiga langkah
Semakin lama dia berlari, semakin dekat dia mendekati Rara.
Tinggal beberapa meter lagi sampai tangannya menggapai tubuhnya pada saat itu.
Namun,
Tiba-tiba saja.
Kakinya tiba-tiba berhenti. bahkan kini dia mendadak mundur kembali karena dia mendengar suara langkah kaki dari arah kiri dan kanan jalan.
Dia langsung menyorot cahaya senternya ke arah suara, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat, banyak sekali sesuatu yang bergerak dengan benda putih yang mereka kenakan.
Rupanya, mayat-mayat itu muncul dari arah sisi kiri dan kanan, seperti mencoba untuk menghalangi Dewi untuk menarik Rara yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dari tubuhnya.
Sedangkan Rara.
Tiba-tiba dia berbalik, dan melihat ke arah Dewi sambil tersenyum, dia hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali, sebelum akhirnya dia membalikan badannya lagi dan berjalan menembus desa.
Anehnya, mayat-mayat itu seperti sengaja menutupi Rara, dan Rara pun seperti bisa leluasa berjalan begitu saja di tengah-tengah mayat yang berjalan disana.
Mayat-mayat itu seperti memberi jalan kepadanya, meskipun terlihat dari wajah-wajah mereka yang ingin menerkam Rara pada malam itu. Namun mereka seperti menjaga jarak dengan Rara.
Entah apa yang terjadi, namun hal itu benar-benar tidak dipercaya bahkan oleh Dewi yang menyaksikan langsung pemandangan itu.
Tak lama, Rara akhirnya hilang kembali di antara mayat-mayat itu.
Bahkan mayat yang muncul dari sisi kiri dan kanan jalan kini berjalan kembali ke arah desa dan meninggalkan Dewi sendirian disana.
Dewi kini pasrah, tenaganya benar-benar habis, sudah tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang.
Dia hanya terdiam dan menangis, dia benar-benar khawatir dengan kondisi Rara yang kini menghilang disana.
Namun.
Rasa kekhawatiran itu tak lama.
Karena
ARGGGHHH
Dewi tiba-tiba menjerit kesakitan, dia merasakan ada sesuatu yang menarik rambutnya dengan keras. Seketika, dia memalingkan wajahnya.
Dan terlihat, Aji, Eko serta Pak Brata sudah ada di belakangnya dengan senyumannya yang menyeringai.
Aji yang menarik rambutnya langsung menyeretnya dengan sangat kasar, bahkan hal itu membuat tubuhnya langsung terjatuh ke tanah.
“Hey, jangan kasar, dia masih kita pakai untuk kesempurnaan ritual kita pada malam ini.” kata Pak Brata yang sedikit marah kepada AJi yang sedang menarik rambut Dewi dengan sangat kuat pada saat itu.
“Tinggal satu orang lagi yang kini menghilang dan belum di temukan.”
“Eko, bawa dia, kalau perlu, ikat dia dengan kuat, kita akan kembali ke tempat itu dan menyelesaikan semuanya.”
“Ketika semuanya selesai, kuburkan mereka bersamaan di bawah salah satu rumah warga yang ada di desa, dan ketika semuanya sudah terkubur dan mayat-mayat itu tertidur kembali, berarti ritual kita sudah selesai dan kita akan pulang dengan selamat.”
itkgid dan 18 lainnya memberi reputasi
19
Kutip
Balas
Tutup