- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Diubah oleh jurigciwidey 25-08-2023 14:07
iwakcetol dan 49 lainnya memberi reputasi
48
35.6K
Kutip
433
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#148
BAB 43 - BANTUAN
Quote:
“Neng, geus ulah hariwang, anu asup ka awak ieu lain sasaha, lain anu bakal nyilakakeun maraneh duaan (Nenggg, sudah jangan khawatir, yang masuk ke tubuh ini bukan siapa-siapa, bukan yang akan mencelakakan kalian berdua)”
Rara menatap Dewi dan Danang yang masih kecapean disana, dia berkata dengan nada yang halus seperti seseorang yang sudah berumur namun tutur katanya sangat baik.
“Lamun neng apal, didieu geus ngalarang jang ka tempat ieu ti kamari, tapi aya jelema anu ngahaja ngajauhkeun urang meh teu bisa deket jeung si neng ieu. (Kalau neng tau, aku sudah melarang untuk ke tempat ini dari kemarin, tapi ada manusia yang sengaja menjauhkan aku agar tidak bisa dekat dengan si neng ini.)”
“Manehna ngajaha nutupan awak si neng ieu, ngahaja ngajauhkeun urang meh manehna euweuh gangguan. (Dia sengaja menutup tubuh si neng ini, sengaja agar menjauhkan aku agar dia tidak ada gangguan.)”
“Ulah, ulah sieun, (Jangan, jangan takut,)”
“Ngan, awak ieu di pinjeum heula sakeudeung, aya urusan anu kudu di bereskeun heula ku didieu, terutama nyangkut anak didieu anu ikut campur urusan ieu nepi ka dua babaturan neng kudu jadi korban. (Tapi, tubuh ini di pinjam dulu sebentar, ada urusan yang harus dibereskan disini, terutama menyangkut anakku yang sekarang ikut campur urusan ini sampai dua temanmu menjadi korban.)”
Rara, tiba-tiba berdiri, dia sedikit membungkuk untuk meminta izin kepada Dewi dan Danang yang terlihat sangat letih disana.
“Ra, ra mau kemana lu, ra, ra.”
Danang langsung berteriak, dia mencoba mengangkat kakinya, namun nampaknya energinya sudah habis terkuras karena menggendong Rara dan berlari kesana kemari dalam beberapa jam ini.
Arggghhhh
Dia berusaha berdiri, kedua tangannya langsung memegang kakinya agar dia bisa berdiri dengan tegak.
Namun
Bruak
Tubuhnya tidak kuat untuk berlari, bahkan untuk berlari saja nampak kesusahan. dia harus beristirahat dalam beberapa jam agar bisa kembali kembali pulih.
Namun, Rara terus berjalan dan tidak menghiraukan mereka berdua. dia berjalan di dalam kegelapan tanpa ada penerangan sama sekali.
Dewi yang melihat Rara seperti itu pun kini berusaha untuk mengejarnya. dia yang hanya berlari sendirian masih mempunyai tenaga untuk mengejar Rara pada saat itu.
“Nang, lu bisa tunggu bentar disini, gue ngejar Rara dulu. gue ga tau dia akan pergi kemana, namun gue takut dia jadi korban lagi.” Kata Dewi sambil berdiri dengan sekuat tenaga.
Danang hanya mengangguk dan menyuruh Dewi untuk berangkat duluan, sedangkan dirinya masih harus beristirahat karena tenaga sudah terkuras habis.
“Ra, ra tunggu gue ra,”
Dewi akhirnya ikut berlari mengejar Rara yang terus berjalan tanpa arah disana.
Rara terus berjalan tanpa sekalipun menoleh ke arah Dewi yang mengejarnya dengan tenaga yang tersisa.
Sedangkan Danang.
Haaaaaahhh
Dia menghela nafas panjang, kepalanya disandarkan ke arah pohon yang ada dibelakangnya. Dia kini hanya bisa memandangi langit-langit malam yang hitam tanpa bintang dan tertutup dengan rimbunnya pohon bambu yang menutupi pandangannya.
Hening, semuanya kini kembali hening, tidak ada angin yang menggerakan dedaunan yang ada di atas sana.
Tidak ada teriakan atau hembusan nafas berat dari mayat-mayat yang ditemui di desa, atau tidak ada suara dari tawa dan canda Dimas dan Ardi yang kini sudah meregang nyawa.
“Arggghhh, kenapa pada waktu itu gue ga maksa si Dewi untuk kembali pulang.”
“Padahal waktu di Leuweung Kunti sudah jelas-jelas ada yang aneh dengan Pak Brata dan tim nya.”
Duagg
Dia mengepalkan tangannya, dan memukul rumpun bambu yang ada di belakang sehingga membuatnya bergetar.
Dia merasa bersalah, dia merasa takut dan tidak mau bersuara karena Dewi yang semangat akan film dokumenter yang dia buat.
Dewi dan tim rarasukma yang dia buat memang sudah membantu perekonomian dirinya ketika sedang kuliah. Dia tidak perlu membayar kos, karena Dewi sudah menyewa rumah yang dibuat menjadi basecamp untuk mereka.
Dia juga bisa menabung dan memakan makanan yang layak selama kuliah, bahkan baju dan endorse yang ada pun membuat dia bisa memakainya meskipun tugas dirinya hanya ikut membantu mereka yang pekerjaannya lebih banyak.
Hah, hah, hah
Amarah, benci, kekhawatiran, dan rasa takut, semuanya tercampur dalam diri Danang sekarang.
Dia tidak tau harus bagaimana, kejadian Dimas dan Ardi yang tersungkur dengan darah yang mengucur masih membekas dalam pikiran dirinya.
Apalagi, dirinya masih belum selamat, begitupun Rara dan Dewi yang kini menghilang entah kemana.
Rasa lelah dan letih yang ada di dalam dirinya membuat mata Danang secara perlahan-lahan terpejam.
Matanya sudah tidak kuat untuk terus terbuka, dia hanya ingin beristirahat sebentar memulihkan tenaganya sebelum nantinya dia mencari Dewi dan Rara yang mungkin masih berada di sekitar dirinya.
Tak lama, dirinya tertidur disana, dia benar-benar kelelahan kali ini.
Meskipun
Baru beberapa menit dirinya tertidur, dari samping sebelah kini. terlihat Pak Brata dan kedua pengawalnya serta Mbah Walang datang kepadanya.
“Haha, disini rupanya dia,” kata Pak Brata yang berjalan dengan santai sambil menghisap rokok yang dia bawa.
“Mbah, gimana, kita langsung serahkan saja kepada si aki di tempat ini atau gimana.”
Mbah Walang yang ada di sebelahnya hanya menggelengkan kepalanya.
“Jangan, biarkan aku yang ngurus ini, kita harus mengorbankannya di tempat itu, karena kalau tidak, kalian tidak akan bisa keluar karena mayat-mayat itu masih berkeliaran disana.”
“Lebih baik, aku yang membawa dia, dan kalian yang mencari dua orang lagi untuk dibawa.”
“Setelah semuanya beres, ritualnya akan berjalan dan Pak Brata akan bisa lebih sukses dari yang sekarang.”
Pak Brata langsung tertawa, dia menepuk pundak Mbah Walang sambil berkata.
“Kamu memang terbaik, selalu mempunyai cara agar aku bisa terus kaya dan kaya, kamu benar-benar partnerku yang berharga.” Kata Pak Brata sambil menghisap rokok dan mengeluarkan asapnya yang mengepul dari mulutnya.
“Ya sudah, aku, Aji dan Eko akan mencari Dewi dan Rara.”
“Sambil menunggu kita di tempat itu, silahkan Mbah Walang beristirahat dahulu, dan tunggu beberapa jam, karena aku yakin mereka tidak akan jauh dari tempat ini.”
Pak Brata langsung mengangkat tangannya, dia memerintahkan Aji dan Eko untuk ikut bersamanya mencari Dewi dan Rara.
Seperti tidak ada ketakutan sama sekali di tengah-tengah kegelapan malam dan mayat-mayat yang sedang berkeliaran di sana.
Ambisi untuk cepat kaya dan sukses menutupi rasa takut yang dia rasakan sekarang. Sehingga dia tidak peduli dengan sesuatu diluar itu pada saat ini.
Sedangkan Mbah Walang, dia mendekati Danang yang tertidur pulas, dia jongkok dan berkata secara perlahan kepadanya.
“Maaf, beberapa dari kalian harus jadi korban dari apa yang sedang terjadi di tempat ini.” Katanya sambil menunduk pelan di dekat Danang.
Rara menatap Dewi dan Danang yang masih kecapean disana, dia berkata dengan nada yang halus seperti seseorang yang sudah berumur namun tutur katanya sangat baik.
“Lamun neng apal, didieu geus ngalarang jang ka tempat ieu ti kamari, tapi aya jelema anu ngahaja ngajauhkeun urang meh teu bisa deket jeung si neng ieu. (Kalau neng tau, aku sudah melarang untuk ke tempat ini dari kemarin, tapi ada manusia yang sengaja menjauhkan aku agar tidak bisa dekat dengan si neng ini.)”
“Manehna ngajaha nutupan awak si neng ieu, ngahaja ngajauhkeun urang meh manehna euweuh gangguan. (Dia sengaja menutup tubuh si neng ini, sengaja agar menjauhkan aku agar dia tidak ada gangguan.)”
“Ulah, ulah sieun, (Jangan, jangan takut,)”
“Ngan, awak ieu di pinjeum heula sakeudeung, aya urusan anu kudu di bereskeun heula ku didieu, terutama nyangkut anak didieu anu ikut campur urusan ieu nepi ka dua babaturan neng kudu jadi korban. (Tapi, tubuh ini di pinjam dulu sebentar, ada urusan yang harus dibereskan disini, terutama menyangkut anakku yang sekarang ikut campur urusan ini sampai dua temanmu menjadi korban.)”
Rara, tiba-tiba berdiri, dia sedikit membungkuk untuk meminta izin kepada Dewi dan Danang yang terlihat sangat letih disana.
“Ra, ra mau kemana lu, ra, ra.”
Danang langsung berteriak, dia mencoba mengangkat kakinya, namun nampaknya energinya sudah habis terkuras karena menggendong Rara dan berlari kesana kemari dalam beberapa jam ini.
Arggghhhh
Dia berusaha berdiri, kedua tangannya langsung memegang kakinya agar dia bisa berdiri dengan tegak.
Namun
Bruak
Tubuhnya tidak kuat untuk berlari, bahkan untuk berlari saja nampak kesusahan. dia harus beristirahat dalam beberapa jam agar bisa kembali kembali pulih.
Namun, Rara terus berjalan dan tidak menghiraukan mereka berdua. dia berjalan di dalam kegelapan tanpa ada penerangan sama sekali.
Dewi yang melihat Rara seperti itu pun kini berusaha untuk mengejarnya. dia yang hanya berlari sendirian masih mempunyai tenaga untuk mengejar Rara pada saat itu.
“Nang, lu bisa tunggu bentar disini, gue ngejar Rara dulu. gue ga tau dia akan pergi kemana, namun gue takut dia jadi korban lagi.” Kata Dewi sambil berdiri dengan sekuat tenaga.
Danang hanya mengangguk dan menyuruh Dewi untuk berangkat duluan, sedangkan dirinya masih harus beristirahat karena tenaga sudah terkuras habis.
“Ra, ra tunggu gue ra,”
Dewi akhirnya ikut berlari mengejar Rara yang terus berjalan tanpa arah disana.
Rara terus berjalan tanpa sekalipun menoleh ke arah Dewi yang mengejarnya dengan tenaga yang tersisa.
Sedangkan Danang.
Haaaaaahhh
Dia menghela nafas panjang, kepalanya disandarkan ke arah pohon yang ada dibelakangnya. Dia kini hanya bisa memandangi langit-langit malam yang hitam tanpa bintang dan tertutup dengan rimbunnya pohon bambu yang menutupi pandangannya.
Hening, semuanya kini kembali hening, tidak ada angin yang menggerakan dedaunan yang ada di atas sana.
Tidak ada teriakan atau hembusan nafas berat dari mayat-mayat yang ditemui di desa, atau tidak ada suara dari tawa dan canda Dimas dan Ardi yang kini sudah meregang nyawa.
“Arggghhh, kenapa pada waktu itu gue ga maksa si Dewi untuk kembali pulang.”
“Padahal waktu di Leuweung Kunti sudah jelas-jelas ada yang aneh dengan Pak Brata dan tim nya.”
Duagg
Dia mengepalkan tangannya, dan memukul rumpun bambu yang ada di belakang sehingga membuatnya bergetar.
Dia merasa bersalah, dia merasa takut dan tidak mau bersuara karena Dewi yang semangat akan film dokumenter yang dia buat.
Dewi dan tim rarasukma yang dia buat memang sudah membantu perekonomian dirinya ketika sedang kuliah. Dia tidak perlu membayar kos, karena Dewi sudah menyewa rumah yang dibuat menjadi basecamp untuk mereka.
Dia juga bisa menabung dan memakan makanan yang layak selama kuliah, bahkan baju dan endorse yang ada pun membuat dia bisa memakainya meskipun tugas dirinya hanya ikut membantu mereka yang pekerjaannya lebih banyak.
Hah, hah, hah
Amarah, benci, kekhawatiran, dan rasa takut, semuanya tercampur dalam diri Danang sekarang.
Dia tidak tau harus bagaimana, kejadian Dimas dan Ardi yang tersungkur dengan darah yang mengucur masih membekas dalam pikiran dirinya.
Apalagi, dirinya masih belum selamat, begitupun Rara dan Dewi yang kini menghilang entah kemana.
Rasa lelah dan letih yang ada di dalam dirinya membuat mata Danang secara perlahan-lahan terpejam.
Matanya sudah tidak kuat untuk terus terbuka, dia hanya ingin beristirahat sebentar memulihkan tenaganya sebelum nantinya dia mencari Dewi dan Rara yang mungkin masih berada di sekitar dirinya.
Tak lama, dirinya tertidur disana, dia benar-benar kelelahan kali ini.
Meskipun
Baru beberapa menit dirinya tertidur, dari samping sebelah kini. terlihat Pak Brata dan kedua pengawalnya serta Mbah Walang datang kepadanya.
“Haha, disini rupanya dia,” kata Pak Brata yang berjalan dengan santai sambil menghisap rokok yang dia bawa.
“Mbah, gimana, kita langsung serahkan saja kepada si aki di tempat ini atau gimana.”
Mbah Walang yang ada di sebelahnya hanya menggelengkan kepalanya.
“Jangan, biarkan aku yang ngurus ini, kita harus mengorbankannya di tempat itu, karena kalau tidak, kalian tidak akan bisa keluar karena mayat-mayat itu masih berkeliaran disana.”
“Lebih baik, aku yang membawa dia, dan kalian yang mencari dua orang lagi untuk dibawa.”
“Setelah semuanya beres, ritualnya akan berjalan dan Pak Brata akan bisa lebih sukses dari yang sekarang.”
Pak Brata langsung tertawa, dia menepuk pundak Mbah Walang sambil berkata.
“Kamu memang terbaik, selalu mempunyai cara agar aku bisa terus kaya dan kaya, kamu benar-benar partnerku yang berharga.” Kata Pak Brata sambil menghisap rokok dan mengeluarkan asapnya yang mengepul dari mulutnya.
“Ya sudah, aku, Aji dan Eko akan mencari Dewi dan Rara.”
“Sambil menunggu kita di tempat itu, silahkan Mbah Walang beristirahat dahulu, dan tunggu beberapa jam, karena aku yakin mereka tidak akan jauh dari tempat ini.”
Pak Brata langsung mengangkat tangannya, dia memerintahkan Aji dan Eko untuk ikut bersamanya mencari Dewi dan Rara.
Seperti tidak ada ketakutan sama sekali di tengah-tengah kegelapan malam dan mayat-mayat yang sedang berkeliaran di sana.
Ambisi untuk cepat kaya dan sukses menutupi rasa takut yang dia rasakan sekarang. Sehingga dia tidak peduli dengan sesuatu diluar itu pada saat ini.
Sedangkan Mbah Walang, dia mendekati Danang yang tertidur pulas, dia jongkok dan berkata secara perlahan kepadanya.
“Maaf, beberapa dari kalian harus jadi korban dari apa yang sedang terjadi di tempat ini.” Katanya sambil menunduk pelan di dekat Danang.
sampeuk dan 19 lainnya memberi reputasi
20
Kutip
Balas
Tutup