- Beranda
- Stories from the Heart
Kehidupan Kami
...
TS
aranea
Kehidupan Kami

"Kalau ga ada dia, mungkin saja aku ga bisa melewati semuanya" Desember 2016
Setiap kita pasti pernah dihadapkan pada sebuah pengambilan keputusan yang sulit. Lantas bagaimana kita menyikapinya? Bahkan ketika kita sendiri tak tahu apakah keputusan kita adalah yang terbaik? Bagaimana jika tak sesuai harapan? "Ada hikmah dari setiap perjalanan hidup"
INDEX Cerita
1. Masa Kecil
2. Pertemuan Pertama
3. Sebuah Peristiwa
4. Air Mata
5. Rumah
6. Pesan
7. Mencari Jawaban
8. Bertemu
9. Keputusan
10. Lantunan Doa
11. Kabar
12. Memori - Bag 1
13. Memori - Bag 2
14. Pertemuan Kedua
15. Sahabat
16. Satu Jalan
17. Rahasia Kecil Syifa
18. Cincin
19. Melodi Pernikahan
20. Dua Insan
21. Abdi
22. LDM
22. LDM 2
23. Perubahan Hidup
24. Kesalahan
25. Kebersamaan
26. Kasih Sayang
27. Teman Baru
28. Syifa Bakery
29. Kebahagiaan Keluarga
30. Duka
31. Pancake Strawberry
32. Kembali ke Jakarta
33. Hari Syifa
34. Pulang ke Bandung
35. Keluarga Ceria
36. Sebuah Musibah
37. Kecemasan
38. Anugerah dari Teman
39. Suami takut Istri
40. Satu Berita
41. Kejutan Kecil untuk Jafar
42. Cindy
43. Flashback 1 - Si Pria Kalem
44. Flashback 2 - Hancur
45. Flashback 3 - Sang Pelindung
46. Flashback 4 - Chandra
47. Flashback 5 - Dendam
48. Pergi Berlibur
49. Que Sera, Sera
50. Kekuatan Cinta
51. D-Day
52. Gugur
53. Tahap Pemulihan
54. Sebuah Rasa
55. Melepas Rindu
56. Rindu tak Terbendung
57. Jalan Kehidupan
58. Kenyataan
59. Dua Pria
60. Bertemu Cindy lagi?
61. Aisyah Nur Aulia
62. Ungkapan Hati
63. Cahaya Memudar
64. Perjuangan
65. Puncak Kebahagiaan Syifa
66. Sebuah Masa
67. Kehidupan Kami (Ending)
68. Langit Biru di Balik Badai
Diubah oleh aranea 08-09-2023 19:36
percyjackson321 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
9.5K
186
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aranea
#85
Kekuatan Cinta
Mohon maaf sebelumnya jika tulisan ini mulai membosankan/kurang menarik, karena memang tujuan saya menulis hanya untuk menyalurkan hobi saja yang kebetulan ada yang meminta dituliskan. Jadi mohon maaf jika jauh dari ekspetasi kalian. Happy reading

Keesokan paginya, Syifa mengajak Jafar untuk sarapan kupat tahu di tempat Syifa membeli makanan itu kemarin. Karena Jafar juga menganggap makanan itu enak, maka Jafar mengiyakan ajakan Syifa. Saat itu mereka melihat wanita paruh baya yang merupakan seseorang yang melayani Syifa kemarin
"Assalamualaikum bu" ucap Syifa
"Waalaikumussalam, eh nduk yang kemarin ya" kata bu Ratih
"Iya bu, ini suami saya. Katanya suka banget sama kupat buatan ibu" kata Syifa
"Waah, alhamdulillah, mau ibu buatkan?" kata bu Ratih
"Iya bu, dua porsi ya. Oh iya a, neng beli air dulu ya" kata Syifa
"Loh, kan disini juga ada" kata Jafar
"Sekalian buat nanti siang, ada yang mau neng beli juga soalnya" kata Syifa
"Yasudah, hati-hati" kata Jafar
Syifapun pergi meninggalkan bu Ratih yang sedang membuat makanan untuk mereka.
"Nak, ibu mau tanya sesuatu" kata bu Ratih
"Tanyalah bu" kata Jafar
"Istrimu itu . . . istimewa ya" kata bu Ratih
"Maksudnya bu?" Jafar bingung
"Kemarin . . . ia berkata kalau ibu jualan dengan bapak, tapi selama dua tahun terakhir, ibu berdagang sendiri. Anak ibu sedang bekerja diluar kota" bu Ratih bercerita
"Saya ga paham bu" kata Jafar
"Istrinya den melihat sosok suami saya yang sudah meninggal dua tahun yang lalu" ucap ibu Ratih sedikit gugup
"Saya turut berduka bu, tapi saya mohon jangan bahas hal ini didepan istri saya. Dia sedang mengandung, saya ga mau ada hal yang membuat dia stres dan mempengaruhi kesehatan kandungannya" kata Jafar
"Iya den, ibu paham. Jaga istrinya ya den, perbanyak ibadahnya" kata bu Ratih
"Iya bu, terima kasih
Tak lama kemudian Syifa datang, dan sarapanlah mereka disana. Setelah sarapan, mereka berdua berbincang sejenak disana.
"Aa, kemarin kita ga sempet berenang" kata Syifa
"Iya, keasikan di kafe sama menikmati matahari terbenam ya" kata Jafar
"Iya aa. Yuk yuk yuk" kata Syifa
"Ada baju renangnya?" kata Jafar
"Ada kok a, tenang ga seksi hehehe" kata Syifa
"Good. Yaudah yuk kita pulang" kata Jafar
Syifa bersemangat untuk mencoba berenang bersama Jafar di fasilitas hotel. Meskipun ia belum bisa berenang, namun dia ingin mencoba untuk mengatasi ketakutannya dan menikmati momen berenang bersama suaminya. Mereka berdua tiba di fasilitas kolam renang hotel yang indah, yang terletak di dekat pantai. Kolam renang itu dikelilingi oleh taman tropis yang menambah suasana santai dan menyenangkan.
Mereka duduk disamping kolam. Tidak banyak pengunjung saat itu sehingga membuat mereka sedikit leluasa. Tak lupa Jafar juga mengoleskan sunblock agar kulitnya tetap terjaga. Tak lupa juga mereka melakukan pemanasan karena sudah cukup lama mereka berdua tidak berenang, terutama Syifa yang memang jarang sekali keluar dari panti selain bekerja. Setelah melakukan pemanasan, Jafarpun turun ke kolam
"Ayo turun" ajak Jafar
"Hehe" Syifa hanya tertawa
"Yeee, malah ketawa. Ayo . . katanya mau berenang" kata Jafar
"Neng ga bisa berenang a" kata Syifa
"Lah gimana, mau berenang tapi ga bisa berenang" kata Jafar
"Iya hehe, kan neng jarang keluar, kecuali ke tempat kerja. Renang waktu sekolah sama kuliah aja jarang ikut hehe" kata Syifa
"Yaudah ayo turun, saya ajari" kata Jafar
"Takut" kata Syifa
"Ada saya. Jangan takut" kata Jafar
Syifapun turun ke dalam kolam yang dalamnya sekitar 1,3 meter itu. Seperti dugaan Jafar, saat Syifa turun, ia tak henti berpegangan pada Jafar bahkan memeluknya.
"Kakinya injak lantai saja, ga begitu dalam kok" kata Jafar
"Iya a" kata Syifa
"Kamu pegang tangan saya, angkat kakinya lalu ayunkan" kata Jafar
"Takut a, takut ga kuat" kata Syifa
"Gapapa, ga usah takut, ada saya" kata Jafar
Jafar mengajarkan Syifa langkah-langkah dasar berenang di kolam yang dangkal. Ia memastikan Syifa merasa nyaman dan selalu mendampinginya dengan penuh perhatian.
"Terima kasih, Aa. Neng merasa lebih percaya diri sekarang" kata Syifa
"Kamu hebat, coba lagi" kata Jafar
Mereka berdua berlatih berenang beberapa kali, dan Syifa semakin mengatasi ketakutannya. Kegembiraan mereka berdua terpancar dari wajah mereka ketika mereka saling bermain air di kolam renang. Syifa mungkin belum ahli berenang, tetapi kebahagiaan dan kebersamaan yang mereka alami membuat momen ini menjadi sangat berarti baginya. Jafar mendukung dan memujinya sepanjang waktu, membuatnya semakin percaya diri. Setelah berenang, mereka berdua beristirahat di pinggir kolam sambil menikmati angin sepoi-sepoi pantai.
"Makasih ya a, ini momen berenang paling menyenangkan buat neng" kata Syifa
"Saya bangga sama kamu. Saya senang kamu menikmatinya" kata Jafar
"Besok kita pulang ya a?" kata Syifa
"Iya, kita harus pulang. Mau ada tamu soalnya" kata Jafar
"Siapa a?" kata Syifa
"Ada lah, nanti juga kamu tau" kata Jafar
"Eh, kok layani tamu sama neng? Emang bukan dari kerjaan aa?" tanya Syifa bingung
"Yaaa kamu bakal tau sendiri hehe" kata Jafar
"Neng masih mau berenang" kata Syifa
"Yaudah, saya pesen makanan dulu ya" kata Jafar
Jafarpun keluar dan memanggil petugas hotel yang bertugas. Ia memesan makan dan minuman untuk mereka. Tak lama kemudian, terdengar keributan dari arah kolam. Pada awalnya Jafar tidak menyadari hal itu, tapi saat ia hampiri,
"Astagfirullah, Syifa . . . . " ucap Jafar sambil menghampiri Syifa
Saat itu Syifa tengah berusaha untuk naik ke permukaan. Dengan segera Jafar melompat kedalam kolam dan menolong Syifa. Ia memeluk Syifa dan berenang ke tepian kolam hingga Syifa dibantu oleh pengunjung lain untuk naik.
"Sudah cukup, biar saya yang gendong" kata Jafar
Tentunya Jafar tidak ingin Syifa disentuh oleh lelaki lain, meskipun hal itu dalam kondisi darurat. Baginya, mereka sudah cukup membantu saat menarik Syifa keluar dari kolam.
"Terima kasih sudah bantu, sisanya biar saya yang urus. Saya minta tolong panggilkan dokter saja, dan saya minta perempuan" ucap Jafar pada beberapa orang disana
Jafar mengeringkan Syifa menggunakan handuk dan langsung menggendongnya ke kamar. Beruntungnya, Syifa dalam keadaan masih sadar dan terbatuk-batuk, karena sepertinya ia terlalu banyak menelan air hingga sempat memuntahkan air saat dikeringkan tadi. Setelah membaik, Syifa terlihat begitu lemas dan kelelahan, kehabisan energi. Sambil menatap Jafar, ia menangis.
"Aa, maafin neng" kata Syifa
"Ssshhh udah udah kamu gapapa kan?" kata Jafar sambil menenangkan
"Maafin neng a" kata Syifa
"Kamu jangan buat saya khawatir" kata Jafar
"Iya aa. Maaf" kata Syifa
"Yasudah gapapa, kok bisa sampai seperti itu?" tanya Jafar
"Tadi neng mau coba belajar renang seperti yang aa contohkan, tapi ternyata neng maju ke area yang dalem. Neng panik" kata Syifa
"Yasudah gapapa, lain kali jangan seperti itu. Maaf juga saya udah ninggalin kamu tadi, harusnya saya ga pergi" kata Jafar
Tak lama dokter datang seperti yang diminta Jafar sebelumnya, seorang dokter perempuan. Dokter melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan detail kejadian yang dialami Syifa.
"Apakah ada rasa sesak napas atau ada rasa nyeri di dada, Bu Syifa? tanya dokter
"Tidak, Dokter. Hanya saja saya merasa sangat panik dan kesulitan untuk bernapas saat itu" jawab Syifa
"Kalau bapak bersedia, bawa Bu Syifa ke klinik saya. Saya akan melakukan beberapa tes untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Jangan khawatir, kami akan merawatnya dengan baik" kata dokter
"Lakukan apa yang harus dilakukan" kata Jafar
"Neng gapapa kok a, udah mendingan" kata Syifa
"Kamu jangan bikin saya takut. Ingat, kamu sedang hamil. Jangan sampai hal itu mempengaruhi kehamilan dan kesehatanmu" kata Jafar
"Hmm . . baiklah aa" kata Syifa pasrah
Singkat cerita, setelah melakukan beberapa tes, yang Jafar sendiripun tidak tahu, dokter mengabarkan kalau Syifa dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada hal yang serius, bahkan kandungannyapun baik-baik saja. Setidaknya itu membuat Jafar menjadi lebih lega. Setelah berbicara dengan dokter dan mendapatkan kabar baik tentang kondisinya, Syifapun merasa lega namun tetap merasa sedikit cemas mengingat kejadian tadi. Jafar tetap berada di sisinya, memberikan dukungan dan kekuatan dalam menghadapi momen yang menegangkan itu.
"Semuanya akan baik-baik saja, Sayang. Kamu kuat, dan saya akan selalu di sampingmu" kata Jafar sambil menggenggam tangan Syifa
"Makasih, Aa. Neng beruntung punya aa" kata Syifa
Setelah meninggalkan klinik, mereka berdua kembali ke hotel. Di kamar, Jafar memastikan Syifa benar-benar beristirahat dengan nyaman dan merasa tenang.
"Udah nyaman, Sayang?
"Sudah. Aa selalu memperhatikan neng dengan baik" kata Syifa tersenyum
"Yasudah istirahatlah, kalau perlu sesuatu bilang aja" kata Jafar
Mereka berdua berpelukan erat, merasakan kehangatan dan cinta di antara mereka. Kejadian di rumah sakit membuat mereka semakin menyadari betapa berartinya kehadiran satu sama lain dalam hidup mereka. Keesokan harinya, mereka berdua tengah bersiap-siap untuk pulang. Jafar mengemas barang-barang mereka berdua, membiarkan Syifa menunggu agar tidak banyak aktivitas
"Kita mau pulang jam berapa a?" kata Syifa
"Jam 10 nanti sayang. Biar sampainya ga kemaleman" kata Jafar
"Ooh okey, seperti biasa ya a. Jangan dipaksain, kalau cape istirahat dulu" kata Syifa
"Iya sayang" jawab Jafar
Waktu berlalu, singkat cerita pulanglah mereka, namun sebelum pulang, Syifa sempat membeli kupat tahu yang sebelumnya pernah ia beli. Ia juga ingin berpamitan pada bu Ratih. Syifapun turun dan Jafar memutuskan menunggu di mobil
"Eh nduk, mau pesan lagi?" kata bu Ratih
"Iya bu, sekalian kami mau pamit pulang" kata Syifa
"Oalah, ibu buatkan dulu sebentar ya" kata bu Ratih
"Iya bu. Bapak kemana bu? Dari kemarin kok aku ga lihat?" kata Syifa
Bu Ratih hanya tersenyum. Kemudian mereka berbincang-bincang sambil menunggu pesanan selesai. Beliau yang awalnya khawatir, kini sudah tidak lagi. Setelah memberikan pesanan pada Syifa, bu Ratih memeluk Syifa dengan erat dan penuh dengan kasih sayang
"Terima kasih ya nduk, sudah main ke tempat ibu. Ibu merasa seperti anak ibu pulang. Dan ibu merasa rindu ibu sama bapak sudah terobati" kata bu Ratih
"Rindu? Maksudnya bu?" kata Syifa
"Suami ibu sudah meninggal dua tahun lalu, nduk. Selama itu ibu bekerja sendiri disini, hanya ditemani tetangga. Anak-anak ibu sedang merantau dan belum sempat pulang" kata bu Ratih
Tentunya Syifa yang mendengar itu merasa kaget dan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Namun kenyataannya memang demikian. Apa yang Syifa lihat saat itu, tidak dilihat oleh orang lain.
"Ini, ibu ada manik-manik, buat kamu saja ya" kata bu Ratih
"Kok buatku bu?" kata Syifa
"Semalam ibu memimpikan almarhum, di mimpi itu, beliau memberikan gelang ini. Gelang yang menjadi saksi cinta antara ibu dan almarhum. Semoga kamu bahagia dengan suamimu" kata bu Ratih
"Tapi ini kan pasti benda penting yang ibu punya" kata Syifa
"Ndak apa-apa nduk. Itu hanya benda. Yang bisa mendekatkan ibu saat ini hanyalah doa untuk almarhum" kata bu Ratih
Syifa memeluk kembali bu Ratih dan kali ini benar-benar pamit untuk pulang.
"Syifa pulang ya bu, insyaAllah kalau ada kesempatan nanti Syifa main lagi kesini" kata bu Ratih
"Iya nduk, hati-hati dijalan" kata bu Ratih

Keesokan paginya, Syifa mengajak Jafar untuk sarapan kupat tahu di tempat Syifa membeli makanan itu kemarin. Karena Jafar juga menganggap makanan itu enak, maka Jafar mengiyakan ajakan Syifa. Saat itu mereka melihat wanita paruh baya yang merupakan seseorang yang melayani Syifa kemarin
"Assalamualaikum bu" ucap Syifa
"Waalaikumussalam, eh nduk yang kemarin ya" kata bu Ratih
"Iya bu, ini suami saya. Katanya suka banget sama kupat buatan ibu" kata Syifa
"Waah, alhamdulillah, mau ibu buatkan?" kata bu Ratih
"Iya bu, dua porsi ya. Oh iya a, neng beli air dulu ya" kata Syifa
"Loh, kan disini juga ada" kata Jafar
"Sekalian buat nanti siang, ada yang mau neng beli juga soalnya" kata Syifa
"Yasudah, hati-hati" kata Jafar
Syifapun pergi meninggalkan bu Ratih yang sedang membuat makanan untuk mereka.
"Nak, ibu mau tanya sesuatu" kata bu Ratih
"Tanyalah bu" kata Jafar
"Istrimu itu . . . istimewa ya" kata bu Ratih
"Maksudnya bu?" Jafar bingung
"Kemarin . . . ia berkata kalau ibu jualan dengan bapak, tapi selama dua tahun terakhir, ibu berdagang sendiri. Anak ibu sedang bekerja diluar kota" bu Ratih bercerita
"Saya ga paham bu" kata Jafar
"Istrinya den melihat sosok suami saya yang sudah meninggal dua tahun yang lalu" ucap ibu Ratih sedikit gugup
"Saya turut berduka bu, tapi saya mohon jangan bahas hal ini didepan istri saya. Dia sedang mengandung, saya ga mau ada hal yang membuat dia stres dan mempengaruhi kesehatan kandungannya" kata Jafar
"Iya den, ibu paham. Jaga istrinya ya den, perbanyak ibadahnya" kata bu Ratih
"Iya bu, terima kasih
Tak lama kemudian Syifa datang, dan sarapanlah mereka disana. Setelah sarapan, mereka berdua berbincang sejenak disana.
"Aa, kemarin kita ga sempet berenang" kata Syifa
"Iya, keasikan di kafe sama menikmati matahari terbenam ya" kata Jafar
"Iya aa. Yuk yuk yuk" kata Syifa
"Ada baju renangnya?" kata Jafar
"Ada kok a, tenang ga seksi hehehe" kata Syifa
"Good. Yaudah yuk kita pulang" kata Jafar
Syifa bersemangat untuk mencoba berenang bersama Jafar di fasilitas hotel. Meskipun ia belum bisa berenang, namun dia ingin mencoba untuk mengatasi ketakutannya dan menikmati momen berenang bersama suaminya. Mereka berdua tiba di fasilitas kolam renang hotel yang indah, yang terletak di dekat pantai. Kolam renang itu dikelilingi oleh taman tropis yang menambah suasana santai dan menyenangkan.
Mereka duduk disamping kolam. Tidak banyak pengunjung saat itu sehingga membuat mereka sedikit leluasa. Tak lupa Jafar juga mengoleskan sunblock agar kulitnya tetap terjaga. Tak lupa juga mereka melakukan pemanasan karena sudah cukup lama mereka berdua tidak berenang, terutama Syifa yang memang jarang sekali keluar dari panti selain bekerja. Setelah melakukan pemanasan, Jafarpun turun ke kolam
"Ayo turun" ajak Jafar
"Hehe" Syifa hanya tertawa
"Yeee, malah ketawa. Ayo . . katanya mau berenang" kata Jafar
"Neng ga bisa berenang a" kata Syifa
"Lah gimana, mau berenang tapi ga bisa berenang" kata Jafar
"Iya hehe, kan neng jarang keluar, kecuali ke tempat kerja. Renang waktu sekolah sama kuliah aja jarang ikut hehe" kata Syifa
"Yaudah ayo turun, saya ajari" kata Jafar
"Takut" kata Syifa
"Ada saya. Jangan takut" kata Jafar
Syifapun turun ke dalam kolam yang dalamnya sekitar 1,3 meter itu. Seperti dugaan Jafar, saat Syifa turun, ia tak henti berpegangan pada Jafar bahkan memeluknya.
"Kakinya injak lantai saja, ga begitu dalam kok" kata Jafar
"Iya a" kata Syifa
"Kamu pegang tangan saya, angkat kakinya lalu ayunkan" kata Jafar
"Takut a, takut ga kuat" kata Syifa
"Gapapa, ga usah takut, ada saya" kata Jafar
Jafar mengajarkan Syifa langkah-langkah dasar berenang di kolam yang dangkal. Ia memastikan Syifa merasa nyaman dan selalu mendampinginya dengan penuh perhatian.
"Terima kasih, Aa. Neng merasa lebih percaya diri sekarang" kata Syifa
"Kamu hebat, coba lagi" kata Jafar
Mereka berdua berlatih berenang beberapa kali, dan Syifa semakin mengatasi ketakutannya. Kegembiraan mereka berdua terpancar dari wajah mereka ketika mereka saling bermain air di kolam renang. Syifa mungkin belum ahli berenang, tetapi kebahagiaan dan kebersamaan yang mereka alami membuat momen ini menjadi sangat berarti baginya. Jafar mendukung dan memujinya sepanjang waktu, membuatnya semakin percaya diri. Setelah berenang, mereka berdua beristirahat di pinggir kolam sambil menikmati angin sepoi-sepoi pantai.
"Makasih ya a, ini momen berenang paling menyenangkan buat neng" kata Syifa
"Saya bangga sama kamu. Saya senang kamu menikmatinya" kata Jafar
"Besok kita pulang ya a?" kata Syifa
"Iya, kita harus pulang. Mau ada tamu soalnya" kata Jafar
"Siapa a?" kata Syifa
"Ada lah, nanti juga kamu tau" kata Jafar
"Eh, kok layani tamu sama neng? Emang bukan dari kerjaan aa?" tanya Syifa bingung
"Yaaa kamu bakal tau sendiri hehe" kata Jafar
"Neng masih mau berenang" kata Syifa
"Yaudah, saya pesen makanan dulu ya" kata Jafar
Jafarpun keluar dan memanggil petugas hotel yang bertugas. Ia memesan makan dan minuman untuk mereka. Tak lama kemudian, terdengar keributan dari arah kolam. Pada awalnya Jafar tidak menyadari hal itu, tapi saat ia hampiri,
"Astagfirullah, Syifa . . . . " ucap Jafar sambil menghampiri Syifa
Saat itu Syifa tengah berusaha untuk naik ke permukaan. Dengan segera Jafar melompat kedalam kolam dan menolong Syifa. Ia memeluk Syifa dan berenang ke tepian kolam hingga Syifa dibantu oleh pengunjung lain untuk naik.
"Sudah cukup, biar saya yang gendong" kata Jafar
Tentunya Jafar tidak ingin Syifa disentuh oleh lelaki lain, meskipun hal itu dalam kondisi darurat. Baginya, mereka sudah cukup membantu saat menarik Syifa keluar dari kolam.
"Terima kasih sudah bantu, sisanya biar saya yang urus. Saya minta tolong panggilkan dokter saja, dan saya minta perempuan" ucap Jafar pada beberapa orang disana
Jafar mengeringkan Syifa menggunakan handuk dan langsung menggendongnya ke kamar. Beruntungnya, Syifa dalam keadaan masih sadar dan terbatuk-batuk, karena sepertinya ia terlalu banyak menelan air hingga sempat memuntahkan air saat dikeringkan tadi. Setelah membaik, Syifa terlihat begitu lemas dan kelelahan, kehabisan energi. Sambil menatap Jafar, ia menangis.
"Aa, maafin neng" kata Syifa
"Ssshhh udah udah kamu gapapa kan?" kata Jafar sambil menenangkan
"Maafin neng a" kata Syifa
"Kamu jangan buat saya khawatir" kata Jafar
"Iya aa. Maaf" kata Syifa
"Yasudah gapapa, kok bisa sampai seperti itu?" tanya Jafar
"Tadi neng mau coba belajar renang seperti yang aa contohkan, tapi ternyata neng maju ke area yang dalem. Neng panik" kata Syifa
"Yasudah gapapa, lain kali jangan seperti itu. Maaf juga saya udah ninggalin kamu tadi, harusnya saya ga pergi" kata Jafar
Tak lama dokter datang seperti yang diminta Jafar sebelumnya, seorang dokter perempuan. Dokter melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan detail kejadian yang dialami Syifa.
"Apakah ada rasa sesak napas atau ada rasa nyeri di dada, Bu Syifa? tanya dokter
"Tidak, Dokter. Hanya saja saya merasa sangat panik dan kesulitan untuk bernapas saat itu" jawab Syifa
"Kalau bapak bersedia, bawa Bu Syifa ke klinik saya. Saya akan melakukan beberapa tes untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Jangan khawatir, kami akan merawatnya dengan baik" kata dokter
"Lakukan apa yang harus dilakukan" kata Jafar
"Neng gapapa kok a, udah mendingan" kata Syifa
"Kamu jangan bikin saya takut. Ingat, kamu sedang hamil. Jangan sampai hal itu mempengaruhi kehamilan dan kesehatanmu" kata Jafar
"Hmm . . baiklah aa" kata Syifa pasrah
Singkat cerita, setelah melakukan beberapa tes, yang Jafar sendiripun tidak tahu, dokter mengabarkan kalau Syifa dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada hal yang serius, bahkan kandungannyapun baik-baik saja. Setidaknya itu membuat Jafar menjadi lebih lega. Setelah berbicara dengan dokter dan mendapatkan kabar baik tentang kondisinya, Syifapun merasa lega namun tetap merasa sedikit cemas mengingat kejadian tadi. Jafar tetap berada di sisinya, memberikan dukungan dan kekuatan dalam menghadapi momen yang menegangkan itu.
"Semuanya akan baik-baik saja, Sayang. Kamu kuat, dan saya akan selalu di sampingmu" kata Jafar sambil menggenggam tangan Syifa
"Makasih, Aa. Neng beruntung punya aa" kata Syifa
Setelah meninggalkan klinik, mereka berdua kembali ke hotel. Di kamar, Jafar memastikan Syifa benar-benar beristirahat dengan nyaman dan merasa tenang.
"Udah nyaman, Sayang?
"Sudah. Aa selalu memperhatikan neng dengan baik" kata Syifa tersenyum
"Yasudah istirahatlah, kalau perlu sesuatu bilang aja" kata Jafar
Mereka berdua berpelukan erat, merasakan kehangatan dan cinta di antara mereka. Kejadian di rumah sakit membuat mereka semakin menyadari betapa berartinya kehadiran satu sama lain dalam hidup mereka. Keesokan harinya, mereka berdua tengah bersiap-siap untuk pulang. Jafar mengemas barang-barang mereka berdua, membiarkan Syifa menunggu agar tidak banyak aktivitas
"Kita mau pulang jam berapa a?" kata Syifa
"Jam 10 nanti sayang. Biar sampainya ga kemaleman" kata Jafar
"Ooh okey, seperti biasa ya a. Jangan dipaksain, kalau cape istirahat dulu" kata Syifa
"Iya sayang" jawab Jafar
Waktu berlalu, singkat cerita pulanglah mereka, namun sebelum pulang, Syifa sempat membeli kupat tahu yang sebelumnya pernah ia beli. Ia juga ingin berpamitan pada bu Ratih. Syifapun turun dan Jafar memutuskan menunggu di mobil
"Eh nduk, mau pesan lagi?" kata bu Ratih
"Iya bu, sekalian kami mau pamit pulang" kata Syifa
"Oalah, ibu buatkan dulu sebentar ya" kata bu Ratih
"Iya bu. Bapak kemana bu? Dari kemarin kok aku ga lihat?" kata Syifa
Bu Ratih hanya tersenyum. Kemudian mereka berbincang-bincang sambil menunggu pesanan selesai. Beliau yang awalnya khawatir, kini sudah tidak lagi. Setelah memberikan pesanan pada Syifa, bu Ratih memeluk Syifa dengan erat dan penuh dengan kasih sayang
"Terima kasih ya nduk, sudah main ke tempat ibu. Ibu merasa seperti anak ibu pulang. Dan ibu merasa rindu ibu sama bapak sudah terobati" kata bu Ratih
"Rindu? Maksudnya bu?" kata Syifa
"Suami ibu sudah meninggal dua tahun lalu, nduk. Selama itu ibu bekerja sendiri disini, hanya ditemani tetangga. Anak-anak ibu sedang merantau dan belum sempat pulang" kata bu Ratih
Tentunya Syifa yang mendengar itu merasa kaget dan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Namun kenyataannya memang demikian. Apa yang Syifa lihat saat itu, tidak dilihat oleh orang lain.
"Ini, ibu ada manik-manik, buat kamu saja ya" kata bu Ratih
"Kok buatku bu?" kata Syifa
"Semalam ibu memimpikan almarhum, di mimpi itu, beliau memberikan gelang ini. Gelang yang menjadi saksi cinta antara ibu dan almarhum. Semoga kamu bahagia dengan suamimu" kata bu Ratih
"Tapi ini kan pasti benda penting yang ibu punya" kata Syifa
"Ndak apa-apa nduk. Itu hanya benda. Yang bisa mendekatkan ibu saat ini hanyalah doa untuk almarhum" kata bu Ratih
Syifa memeluk kembali bu Ratih dan kali ini benar-benar pamit untuk pulang.
"Syifa pulang ya bu, insyaAllah kalau ada kesempatan nanti Syifa main lagi kesini" kata bu Ratih
"Iya nduk, hati-hati dijalan" kata bu Ratih
Diubah oleh aranea 07-08-2023 05:54
khodzimzz memberi reputasi
1