- Beranda
- Stories from the Heart
Thread Horor: MENJEMPUT GELAP
...
TS
saujanastory
Thread Horor: MENJEMPUT GELAP
Halo Agan semua, salam kenal. Ane Jana, yang biasa menceritakan dan kisah horor baik berdasarkan kisah nyata, atau terinspirasi dari kisah nyata. Monggo disimak, jangan lupa diramaikan.

Sekian Agan-Agan semua, malam Minggu depan ceritanya akan dilanjutkan.
MENJEMPUT GELAP

Quote:
Original Posted By Bab 1: Kontrakan Bangsal Tiga
Hari ini kondisi cuaca cukup cerah dengan sedikit gumpalan awan berarak yang menjadi tanda bahwasanya hujan tidak akan turun. Dari balik kaca, lelaki itu memandangi jalanan sambil menyesap segelas kopi yang tak lagi panas.
Siang ini ia terpikir beberapa hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Sebuah misi yang seharusnya ia lakukan bertahun-tahun lalu. Mengunjungi tanah leluhurnya. Namun yang ia temukan adalah hal mengerikan yang seharusnya tak pernah terungkap. Sebuah rahasia masa lalu yang disimpan rapat oleh seluruh penduduk desa.
Kemal, 32 tahun. Seorang pemuda medioker yang masih terus berkutat dengan segala hobi dan kegemarannya. Kehidupan keluarganya yang sangat sederhana membuat masa kecilnya lebih terbatas jika dibandingkan dengan kawan sebayanya.
Ayahnya yang ketika itu masih berada di posisi cukup rendah di tempat kerjanya membuat hidup keluarga sangat sederhana. Ayah Kemal yang memulai karir di sebuah BUMN sebagai sekuriti hanya mendapatkan gaji 275 ribu rupiah per bulan. Saat itu masih sekitar tahun 1991.
Ibunya sedang mengandung sang adik. Sementara Kemal yang statusnya ‘disembunyikan’ berada di desa asal sang ibu. Sebuah desa tertinggal di provinsi paling timur di pulau Jawa. Sebuah desa yang pada saat itu hanya dihuni para petani, dengan kehidupan miskin dan jauh dari kata cukup.
Pada saat itu, ayah Kemal baru saja mendapatkan pekerjaanya. Dan menurut peraturan, pegawai tidak boleh menikah sebelum 3 tahun masa kerja. Karena ayah dan ibu Kemal menikah di luar ketentuan itu, maka kelahiran Kemal terpaksa disembunyikan dari rekan kerja sang ayah.
Dan ia pun dirawat oleh sang nenek, si mbok dari sang ibu.
Dalam rumah bangsal petak itu Harti sedang menggigil ketakutan. Keringat dingin membasahi tubuhnya, sementara ia hanya berada di kontrakan itu sendirian. Husin sedang bertugas sebagai sekuriti dan akan pulang pukul 11 malam. Yang mana akan tiba di rumah 20 hingga 30 menit setelah shift jaga selesai.
Sedari pukul 10, Harti mendengar ada sosok yang sedang tertawa cekikikan di depan pintu rumahnya. Sementara ia sangat tahu, bahwa lingkungan tempat tinggalnya adalah lingkungan yang sepi setelah shalat Isya.
Di dalam rumah, Harti tak bisa melakukan apa pun. Hanya bisa duduk meringkuk diatas ranjang sambil melindungi kandungannya yang sudah cukup besar. Ia hanya berdoa semampu yang ia ingat, diiringi kucuran keringat dan tubuhnya yang menggigil ketakutan.
Hingga pukul 11.25, hampir tengah malam suara vespa memecah keheningan malam itu. Husin datang dan langsung memarkirkan motornya tepat di depan rumah. Ia masuk dan disambut dengan tangisan yang memecah keheningan malam.
“Pak, di situ!! Tadi ada orang ketawa nyaring, cekikikan gak berhenti.” Harti tergagap sambil memeluk erat pinggang suaminya.
“Di mana?! Bentar, biar ku bacok kalo emang ada.” Husin langsung mengambil sebilah golok dan kembali mengecek teras rumah mereka. Dan yang ia temukan hanyalah sepinya malam dengan suara jangkrik dari
seberang jalan yang lebarnya tak lebih dari 2 meter.
Malam itu Harti terselamatkan, ia kembali tenang setelah sang suami memastikan tidak ada yang bisa ia temukan di depan rumahnya. Mereka akhirnya bisa terlelap sambil ditemani beberapa benda tajam seperti jarum, silet, gunting dan bulu landak sebagai proteksi sang jabang bayi.
Sore itu, Harti merasa sakit perut dan ingin buang hajat. Ia lalu keluar rumah melalui pintu belakang dan menuju toilet bersama yang berada tepat di belakang kontrakannya. Perlahan ia turun menuju belakang rumah, sambil memegangi perut besarnya dan melihat toilet dalam kondisi tertutup.
Harti menunggu sejenak. Karena tak ada suara, ia memutuskan untuk mendorong pintu toilet tersebut. Ia terkejut, pintu itu tak terkunci, namun di dalamnya ada seorang nenek yang sedang duduk berjongkok di atas kloset seperti sedang membuang hajat.
“Maaf, saya kira gak ada orang.” Ucapnya sambil langsung menutup pintu dan menunggu di mulut pintu rumahnya.
Beberapa menit berlalu, tak ada tanda bahwa sang nenek sudah selesai. Bahkan tidak ada suara sama sekali dari dalam toilet. Sementara hajat Harti sudah sulit untuk ditahan. Ia pun kembali mengetuk pintu toilet tersebut, seketika toilet itu terbuka. Di dalamnya tak ada orang, nenek yang sedang berjongkok di atas toilet sudah hilang.
Karena sudah menunggu lama dan tak bisa ditahan lagi. Maka Harti langsung saja masuk ke dalam toilet dan menuntaskan hajatnya yang sudah hampir tak terbendung. Sore itu, adalah pertama kali Harti melihat sosok tak asing yang mungkin saja bukan manusia.
Pagi menyingsing, hawa dingin dan sejuk mengiringi niat Harti yang ingin berjalan-jalan. Kumpulan tumbuhan pandan tumbuh di depan rumahnya yang di bawahnya merupakan genangan air. Kontrakan 3 pintu yang hanya memilik satu toilet bersama. Toilet yang berada tepat di belakang dapur rumah Harti.
Ditemani sang suami, Harti berjalan-jalan sambil menikmati udara pagi
yang segar. Disambut dengan sapaan para tetangga yang mayoritas adalah warga suku lokal. Dengan logat Kutai dan Banjar yang kental, mereka menyapa sembari menyapu atau menyiram tanaman.
“Hendak ke mana kita? Gaknya tumat lagi lahir ni. – Mau kemana? Sepertinya sebentar lagi lahiran.” ucap seorang wanita penjual kue-kue basah yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbok Joi dengan logat Kutai
yang kental.
“Ohh, bejalanan aja. Biar kena kalo lahiran lancar, – Mau jalan-jalan saja. Supaya nanti lahiran lancar,” jawab Husin dengan logat Banjar.
“Bulu landak ngan gunting jangan lupa dibawa, biar ndik dilirik kuyang, – Bulu landak sama gunting jangan lupa dibawa, supaya tidak dilirik (hantu) kuyang,” timpal Mbok Joi lagi sambil tersenyum sembari merapikan kue dagangannya.
“Iya, makasih, Mbok Joi.” Husin tersenyum sambil melanjutkan menemani Harti berjalan berkeliling.
Di kota ini, mitos dan rumor tentang kuyang memang sangat dipercaya. Terutama oleh para warga asli yang memang sangat memegang teguh kepercayaan lokal. Dan entah, percaya/tidak percaya semua itu diceritakan turun-temurun dan kabarnya memang sudah ada yang pernah membuktikan keberadaan dan kebenarannya.
Harti dan Husin berjalan menikmati pagi dengan santai. Embun masih terasa membasahi kulit, juga meninggalkan titik-titik bulir air di atas dedaunan di kiri-kanan gang. Banyak orang berlalu-lalang membawa keranjang belanjaan karena pasar juga masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Juga anak-anak sekolah yang sedang jalan bergerombol menuju tempat mereka menuntut ilmu. Juga beberapa ibu yang sedang berjalan berlainan arah. Salah satunya menggunakan kerudung dengan ujung yang melilit di lehernya.
Mereka bercakap sambil salah satunya menatap Harti yang dengan pandangan yang menyelidik. Hingga saat perpapasan, ia bahkan sampai menolehkan kepalanya memandang Harti yang sedang berjalan sambil memegangi perutnya Wanita itu menelan ludahnya sambil menjilat bibirnya sendiri.
“Hmmm.. Wangi..” batinnya.
Siang ini ia terpikir beberapa hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Sebuah misi yang seharusnya ia lakukan bertahun-tahun lalu. Mengunjungi tanah leluhurnya. Namun yang ia temukan adalah hal mengerikan yang seharusnya tak pernah terungkap. Sebuah rahasia masa lalu yang disimpan rapat oleh seluruh penduduk desa.
***
Kemal, 32 tahun. Seorang pemuda medioker yang masih terus berkutat dengan segala hobi dan kegemarannya. Kehidupan keluarganya yang sangat sederhana membuat masa kecilnya lebih terbatas jika dibandingkan dengan kawan sebayanya.
Ayahnya yang ketika itu masih berada di posisi cukup rendah di tempat kerjanya membuat hidup keluarga sangat sederhana. Ayah Kemal yang memulai karir di sebuah BUMN sebagai sekuriti hanya mendapatkan gaji 275 ribu rupiah per bulan. Saat itu masih sekitar tahun 1991.
Ibunya sedang mengandung sang adik. Sementara Kemal yang statusnya ‘disembunyikan’ berada di desa asal sang ibu. Sebuah desa tertinggal di provinsi paling timur di pulau Jawa. Sebuah desa yang pada saat itu hanya dihuni para petani, dengan kehidupan miskin dan jauh dari kata cukup.
Pada saat itu, ayah Kemal baru saja mendapatkan pekerjaanya. Dan menurut peraturan, pegawai tidak boleh menikah sebelum 3 tahun masa kerja. Karena ayah dan ibu Kemal menikah di luar ketentuan itu, maka kelahiran Kemal terpaksa disembunyikan dari rekan kerja sang ayah.
Dan ia pun dirawat oleh sang nenek, si mbok dari sang ibu.
***
Dalam rumah bangsal petak itu Harti sedang menggigil ketakutan. Keringat dingin membasahi tubuhnya, sementara ia hanya berada di kontrakan itu sendirian. Husin sedang bertugas sebagai sekuriti dan akan pulang pukul 11 malam. Yang mana akan tiba di rumah 20 hingga 30 menit setelah shift jaga selesai.
Sedari pukul 10, Harti mendengar ada sosok yang sedang tertawa cekikikan di depan pintu rumahnya. Sementara ia sangat tahu, bahwa lingkungan tempat tinggalnya adalah lingkungan yang sepi setelah shalat Isya.
Di dalam rumah, Harti tak bisa melakukan apa pun. Hanya bisa duduk meringkuk diatas ranjang sambil melindungi kandungannya yang sudah cukup besar. Ia hanya berdoa semampu yang ia ingat, diiringi kucuran keringat dan tubuhnya yang menggigil ketakutan.
Hingga pukul 11.25, hampir tengah malam suara vespa memecah keheningan malam itu. Husin datang dan langsung memarkirkan motornya tepat di depan rumah. Ia masuk dan disambut dengan tangisan yang memecah keheningan malam.
“Pak, di situ!! Tadi ada orang ketawa nyaring, cekikikan gak berhenti.” Harti tergagap sambil memeluk erat pinggang suaminya.
“Di mana?! Bentar, biar ku bacok kalo emang ada.” Husin langsung mengambil sebilah golok dan kembali mengecek teras rumah mereka. Dan yang ia temukan hanyalah sepinya malam dengan suara jangkrik dari
seberang jalan yang lebarnya tak lebih dari 2 meter.
Malam itu Harti terselamatkan, ia kembali tenang setelah sang suami memastikan tidak ada yang bisa ia temukan di depan rumahnya. Mereka akhirnya bisa terlelap sambil ditemani beberapa benda tajam seperti jarum, silet, gunting dan bulu landak sebagai proteksi sang jabang bayi.
***
Sore itu, Harti merasa sakit perut dan ingin buang hajat. Ia lalu keluar rumah melalui pintu belakang dan menuju toilet bersama yang berada tepat di belakang kontrakannya. Perlahan ia turun menuju belakang rumah, sambil memegangi perut besarnya dan melihat toilet dalam kondisi tertutup.
Harti menunggu sejenak. Karena tak ada suara, ia memutuskan untuk mendorong pintu toilet tersebut. Ia terkejut, pintu itu tak terkunci, namun di dalamnya ada seorang nenek yang sedang duduk berjongkok di atas kloset seperti sedang membuang hajat.
“Maaf, saya kira gak ada orang.” Ucapnya sambil langsung menutup pintu dan menunggu di mulut pintu rumahnya.
Beberapa menit berlalu, tak ada tanda bahwa sang nenek sudah selesai. Bahkan tidak ada suara sama sekali dari dalam toilet. Sementara hajat Harti sudah sulit untuk ditahan. Ia pun kembali mengetuk pintu toilet tersebut, seketika toilet itu terbuka. Di dalamnya tak ada orang, nenek yang sedang berjongkok di atas toilet sudah hilang.
Karena sudah menunggu lama dan tak bisa ditahan lagi. Maka Harti langsung saja masuk ke dalam toilet dan menuntaskan hajatnya yang sudah hampir tak terbendung. Sore itu, adalah pertama kali Harti melihat sosok tak asing yang mungkin saja bukan manusia.
***
Pagi menyingsing, hawa dingin dan sejuk mengiringi niat Harti yang ingin berjalan-jalan. Kumpulan tumbuhan pandan tumbuh di depan rumahnya yang di bawahnya merupakan genangan air. Kontrakan 3 pintu yang hanya memilik satu toilet bersama. Toilet yang berada tepat di belakang dapur rumah Harti.
Ditemani sang suami, Harti berjalan-jalan sambil menikmati udara pagi
yang segar. Disambut dengan sapaan para tetangga yang mayoritas adalah warga suku lokal. Dengan logat Kutai dan Banjar yang kental, mereka menyapa sembari menyapu atau menyiram tanaman.
“Hendak ke mana kita? Gaknya tumat lagi lahir ni. – Mau kemana? Sepertinya sebentar lagi lahiran.” ucap seorang wanita penjual kue-kue basah yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbok Joi dengan logat Kutai
yang kental.
“Ohh, bejalanan aja. Biar kena kalo lahiran lancar, – Mau jalan-jalan saja. Supaya nanti lahiran lancar,” jawab Husin dengan logat Banjar.
“Bulu landak ngan gunting jangan lupa dibawa, biar ndik dilirik kuyang, – Bulu landak sama gunting jangan lupa dibawa, supaya tidak dilirik (hantu) kuyang,” timpal Mbok Joi lagi sambil tersenyum sembari merapikan kue dagangannya.
“Iya, makasih, Mbok Joi.” Husin tersenyum sambil melanjutkan menemani Harti berjalan berkeliling.
Di kota ini, mitos dan rumor tentang kuyang memang sangat dipercaya. Terutama oleh para warga asli yang memang sangat memegang teguh kepercayaan lokal. Dan entah, percaya/tidak percaya semua itu diceritakan turun-temurun dan kabarnya memang sudah ada yang pernah membuktikan keberadaan dan kebenarannya.
Harti dan Husin berjalan menikmati pagi dengan santai. Embun masih terasa membasahi kulit, juga meninggalkan titik-titik bulir air di atas dedaunan di kiri-kanan gang. Banyak orang berlalu-lalang membawa keranjang belanjaan karena pasar juga masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Juga anak-anak sekolah yang sedang jalan bergerombol menuju tempat mereka menuntut ilmu. Juga beberapa ibu yang sedang berjalan berlainan arah. Salah satunya menggunakan kerudung dengan ujung yang melilit di lehernya.
Mereka bercakap sambil salah satunya menatap Harti yang dengan pandangan yang menyelidik. Hingga saat perpapasan, ia bahkan sampai menolehkan kepalanya memandang Harti yang sedang berjalan sambil memegangi perutnya Wanita itu menelan ludahnya sambil menjilat bibirnya sendiri.
“Hmmm.. Wangi..” batinnya.
***
Spoiler for Bab Selanjutnya Gan!:
Spoiler for Bab Selanjutnya Gan!:
Spoiler for Bab Selanjutnya, Gan!:
Spoiler for Lanjut lagi, Gan!:
Spoiler for Selamat bermalam Minggu, Gan!:
Spoiler for Habis konser, lanjut cerita!:
Spoiler for Telat sehari.:
Spoiler for Lanjutan lagi!:
Spoiler for Malming sendu:
Spoiler for Capek motoran:
Spoiler for Habis selesein cerita untuk KUNCEN:
Spoiler for Mau nonton layar tancap:
Spoiler for Minggu pertama Oktober!! Gas!!:
Spoiler for Udah sepertiga cerita nih!:
Sekian Agan-Agan semua, malam Minggu depan ceritanya akan dilanjutkan.
Diubah oleh saujanastory 14-10-2023 19:36
itkgid dan 19 lainnya memberi reputasi
20
4.4K
Kutip
57
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
saujanastory
#12
Gak kerasa udah minggu ke-5, lanjut lagi Gan!
Sekian, Gan! Bagi cendol kalo suka sama ceritanya.
Quote:
Bab V. Ampun?
Sanaksara, Kalimantan – Desa Lapengan, Jatim, 1993
“Ron, aku intuk telegram teko njowo, jarene mbok loro. Dadine aku arep muleh, nak iso kowe ra usah turu kene dewean. Soale ngarep omah nek bengi onok mbah-mbah sing ngguyu cekikikan, – Ron, aku dapat telegram dari Jawa, katanya si Mbok sakit. Jadinya aku mau pulang, kalo bisa kamu gak usah nginep di sini sendirian. Soalnya di depan rumah kalau malam ada nenek-nenek ketawa cekikian,”
ucap Harti sambil menyodorkan piring yang baru saja diambilnya dari dapur.
“Halah, mosok?! Ngapusi, sing koyok ngono iku ra ono. Wes ah, ak ben turu kene ae pas sampeyan muleh.” Sambar Roni dengan nada meremehkan dan sok berani. – Halah, masa sih?! Bohong aja, yang begitu itu gak ada. Dah lah, ak biar nginap di sini aja pas sampeyan pulang (kampung).”
“Sing penting ak wis ngomong lho yoo. Ra nanggung nek awakmu ditekani. Soale pas meteng Rosi, yen bengi mesti ono sing ngguyu nang ngarep omah. – Yang penting aku sudah bilang loh ya. Gak tanggung jawab pokoknya kalo sampe kamu didatangi. Soalnya pas hamil Rosi, tiap malam pasti ada yang ketawa di depan rumah,” jawab Harti dengan malas karena sikap adiknya yang satu ini memang sok berani.
Suasana toko ramai dan banyak pengunjung yang datang. Meskipun belum membeli dan hanya sekedar bertanya saja, namun suasana terlihat cukup membuat orang penasaran. Maklum, ini adalah akhir pekan.
Roni yang biasanya ketika siang merangkap sebagai supir ikut membantu menjelaskan beberapa barang elektronik yang kebanyakan berupa tv dan perangkat pemutar musik berupa tape recorder dan aneka amplifier. Juga ada yang bertanya seputar mesin cuci maupun lemari pendingin.
Roni merupakan pekerja yang giat, meskipun hanya lulusan SMP kala itu. Namun seiring berjalannya waktu, ia bisa menempatkan diri dan menjadi salah satu orang kepercayaan pemilik usaha.
Namun tetap saja, sebaik dan sepercaya apa pun sang pemilik toko termasuk orang yang menyebalkan. Bukan menyebalkan, namun lebih tepatnya terlalu mengenggam etos kerja yang berlebihan. Sehingga ada kalanya tak memahami waktu libur karyawan.
Bahkan pernah suatu ketika orang tua sang pemilik meninggal, ia tak sejenak berkabung dan menutup usahanya barang sehari. Semua perniagaan tetap dibuka, seolah mengejar uang. Di hari raya pun begitu, sehingga beberapa karyawan merasa jengkel dan sering memberontak ketika tak diberi libur.
Di teras toko Olympia, Roni duduk sejenak dan memandangi jalanan yang remang. Memang seperti itulah jalanan di Prima Niaga, tidak terlalu banyak lampu jalan yang nyala. Mungkin agar semua toko terlihat lebih terang dan mencolok.
Roni sejenak termenung memikirkan malam ini. Ada rasa khawatir yang terpancar di wajahnya yang sok berani. Sang kakak beserta putrinya baru saja berangkat pagi tadi dengan KM. Tidar. Yang berarti, ini adalah malam pertama ia tidur sendirian di kontrakan.
“Ron, tolong itu tv Panasonic di bawain trus diiketin di motor Mas yang ini,” ucap seorang pria gemuk berkacamata bulat seperti yang dipakai Lennon.
“Oh siap bos,” jawabnya singkat lalu bergegas berdiri dan mengangkat tv Panasonic 14’ dan mengikatkan di motor Force1 Jetcooled milik pelanggan.
Setelah beres dengan mengikat tv tabung itu, Roni kembali ke dalam toko dan membantu rekannya yang lain. Sejenak pikiran seram di kepalanya sirna, namun itu tak berlangsung lama.
Roni pulang dengan motor Alpha yang dipinjamkan oleh toko ke rumah Husin dan Harti. Ia sudah diberi kunci cadangan sehingga tak perlu sulit untuk masuk. Selain itu, tetangga juga sudah tahu kalau nanti kontrakan itu akan dijaga oleh Roni.
Dengan santai Roni membuka pintu dan melempar kunci ke atas meja oshin. Ia langsung menuju dapur dan mencuci kaki, mengganti pakaian tidur dengan kaos singlet dan celana pendek. Tak lupa ia menyalakan tv dan menonton MacGyver. Dan akhirnya ia terlelap….
Malam terasa sepi, keheningan total seketika menyergap. Suara jangkrik dan gerombolannya seketika menghilang. Malam seolah berpindah ke dalam sebuah kehampaan, tanpa suara, tanpa apa pun. Bahkan detak jantung pun akan terdengar sebegitu nyaringnya.
Sementara keheningan total dari sekitar, muncul suara di kolong rumah. Suara seperti bebek yang mencari makan di kubangan, berangsur ke belakang rumah, lalu hilang. Berganti dengan langkah kaki di dinding belakang rumah. Langkah itu bergerak menuju atap dan berhenti tepat di atas Roni yang sedang tidur.
“Hii.. Hii.. Hii.. Hii..” Suara tawa perempuan terdengar samar.
Roni menggeliat-geliat merasakan tubuhnya digerayangi. Matanya masih terpejam, namun tubuhnya menggeliat kegelian seperti cacing kepanasan. Ia berusaha menutupi pinggangnya dari gelitik yang ia rasakan.
Seketika matanya terbuka dan nafasnya terasa memburu. Ia menoleh kiri dan kanan, namun keadaan masih sama. Ia sendirian dan tv masih dalam keadaan menyala dengan layar berbintik pertanda siaran malam itu sudah usai.
Di luar rumah terdengar suara binatang malam yang besahutan. Detak jam dinding juga terdengar mengiringi degup jantungnya yang memburu. Juga keringat sebesar biji jagung nampak di dahi dan pelipisnya. Sekilas ia hanya menganggap yang ia alami dan ia dengar hanyalah mimpi.
Roni beranjak menuju dapur dan mengambil segelas air putih dan menenggaknya habis. Keringat semakin mengucur deras, bahkan punggungnya terasa terasa lengket dengan kaos singlet yang ia pakai. Roni mulai sadar, bahwasanya keadaan sebenarnya tidak sedang baik-baik saja.
Ia kembali mencoba memejamkan matanya yang lelah, kondisi toko yang ramai membuatnya harus mengeluarkan perhatian dan tenaga ekstra untuk melayani pelanggan. Ia sudah cukup bekerja keras seharian ini dan sudah sepatutnya beristirahat dengan tenang.
Namun ada hal janggal yang seketika ia rasakan. Malam menjadi terasa sangat sunyi, sebuah keheningan mutlak. Suara katak dan jangkrik yang sebelumnya riuh di luar tiba-tiba lenyap. Menyisakan hening, suara detak jam, dan degup jantungnya sendiri.
Ia berusaha menafikan keadaan itu, meskipun ia sadar ada hal yang tidak beres.
Roni kembali memejamkan kedua kelopak matanya sambil komat-kamit berdoa seadanya. Ia menganggap mimpi yang ia alami tadi adalah buah dari keteledorannya karena tidak berdoa sebelum memejamkan mata. Namun sesuatu terdengar.
Derit lantai kayu terdengar dari arah dapur yang jaraknya tak lebih dari 10 meter dari posisinya tidur. Juga ada lirih suara langkah yang terdengar mengendap-endap. “Ahh.. Paling-paling orang sebelah.” batinnya berkata demikian.
Baru sejenak matanya rapat terpejam, kembali ia rasakan ada sentuhan di paha dan pinggangnya. Ia merasa ada tangan dingin yang menyentuh tubuhnya, juga jemari panjang yang meraba pinggangnya. Menekan-nekan tulang rusuknya dari samping, mencari titik sensitif yang membuatnya geli.
Seketika sentuhan pelan itu menjadi gelitikan dari kuku-kuku tajam yang intens. Roni menggeliat-geliat menahan gelitik di perut dan pinggangnya. Telinganya mendengar tawa seorang perempuan tua yang melengking. Hingga akhirnya ia membuka kedua matanya.
“Hii.. Hii.. Hi.. Hi.. Cucu…” ucap sosok itu dengan tawa melengking dan raut wajah keriput yang mengerikan.
“Aaahhhhhh.. Tolong!! Ampun!!” Roni berteriak sekencang yang ia bisa sambil memohon ampun.
Segala doa yang pernah diajarkan ketika kecil benar-benar menguap bagai asap. Tak ada panjatan doa yang mampu meluncur dari mulutnya. Pikirannya mendadak kosong karena merasa syok melihat apa yang ada di hadapannya.
Dalam keremangan ruangan yang redup, ia melihat sosok nenek dengan rambut panjang putih terurai penuh uban dengan kulit kepala yang terlihat samar. Kelopak bawah matanya longsor dan keriput melebihi hidung. Giginya berwarna kuning bercampur merah yang entah itu darah atau sirih.
Senyum nenek itu terlihat lebar, hingga ke telinganya. Dari rongga mulutnya terlihat kilatan liur yang seperti hendak menetes karena tak mampu ditahan oleh mulutnya yang terbuka.
“Tolong, ulun minta maaf!!” Roni hanya bisa meminta tolong, menahan geli dan berusaha memejamkan matanya.
Roni menahan rasa geli, nyeri dan takut yang menjadi satu. Dibubuhi pemandangan teror di depan matanya. Wajah itu terlihat sangat jelas meskipun dalam keremangan, seolah sengaja ditunjukkan. Dan itulah sosok terjelas yang pernah dilihatnya.
Sebagai pemuda yang ‘pemberani’, seharusnya Roni bisa melawan. Bahkan mungkin ia bisa saja melarikan diri dengan mudah. Karena posisinya tidur hanya berjarak satu meter dari pintu. Baru kali ini, ia tertawa dalam ketakutan.
Seiring rabaan dan gelitik yang semakin menjadi. Entah bagaimana caranya, Roni malah merasa telapak kakinya juga ikut digelitik. Padahal ia merasakan kedua sisi pinggangnya tergelitik secara bersamaan.
“Tolooong!! Ampun!!”
Raungan itu hanya dibalas dengan tawa nyaring sang nenek tua. Rambut putihnya yang tipis terlihat transparan. Dan ketika Roni menggelengkan kepala secara acak, ia tak sengaja melihat kaki sang nenek. Ternyata kaki itu juga berbentuk telapak tangan, seperti kaki kera. Dan kaki itulah yang menggelitik telapak kaki Roni.
Rapalan doa terus dipanjatkan sambil terus meminta maaf dan memohon ampun. Seisi ruangan juga terdengar gaduh, namun anehnya tak ada respons dari tetangga. Seolah ia di dalam ruangan isolasi yang kedap suara.
Dengan susah payah ia terus berusaha menutup matanya. Berusaha untuk tidur, atau setidaknya mengurangi kengerian yang ia alami. Karena tawa lebar sang nenek kini justru semakin menjadi dengan liur yang menetes-netes di tubuh Roni.
Semakin ia memaksa menutup mata, justru kedua kelopaknya tak bisa ditutup seolah ia dipaksa melihat sosok mengerikan yang sebelumnya ia ragukan keberadaannya. Sesal hanya bisa ia rasakan sambil menahan gempuran yang terjadi pada tubuhnya.
Dan seketika semua gelap…
̶ Ulun = Saya
“Ron, aku intuk telegram teko njowo, jarene mbok loro. Dadine aku arep muleh, nak iso kowe ra usah turu kene dewean. Soale ngarep omah nek bengi onok mbah-mbah sing ngguyu cekikikan, – Ron, aku dapat telegram dari Jawa, katanya si Mbok sakit. Jadinya aku mau pulang, kalo bisa kamu gak usah nginep di sini sendirian. Soalnya di depan rumah kalau malam ada nenek-nenek ketawa cekikian,”
ucap Harti sambil menyodorkan piring yang baru saja diambilnya dari dapur.
“Halah, mosok?! Ngapusi, sing koyok ngono iku ra ono. Wes ah, ak ben turu kene ae pas sampeyan muleh.” Sambar Roni dengan nada meremehkan dan sok berani. – Halah, masa sih?! Bohong aja, yang begitu itu gak ada. Dah lah, ak biar nginap di sini aja pas sampeyan pulang (kampung).”
“Sing penting ak wis ngomong lho yoo. Ra nanggung nek awakmu ditekani. Soale pas meteng Rosi, yen bengi mesti ono sing ngguyu nang ngarep omah. – Yang penting aku sudah bilang loh ya. Gak tanggung jawab pokoknya kalo sampe kamu didatangi. Soalnya pas hamil Rosi, tiap malam pasti ada yang ketawa di depan rumah,” jawab Harti dengan malas karena sikap adiknya yang satu ini memang sok berani.
***
Suasana toko ramai dan banyak pengunjung yang datang. Meskipun belum membeli dan hanya sekedar bertanya saja, namun suasana terlihat cukup membuat orang penasaran. Maklum, ini adalah akhir pekan.
Roni yang biasanya ketika siang merangkap sebagai supir ikut membantu menjelaskan beberapa barang elektronik yang kebanyakan berupa tv dan perangkat pemutar musik berupa tape recorder dan aneka amplifier. Juga ada yang bertanya seputar mesin cuci maupun lemari pendingin.
Roni merupakan pekerja yang giat, meskipun hanya lulusan SMP kala itu. Namun seiring berjalannya waktu, ia bisa menempatkan diri dan menjadi salah satu orang kepercayaan pemilik usaha.
Namun tetap saja, sebaik dan sepercaya apa pun sang pemilik toko termasuk orang yang menyebalkan. Bukan menyebalkan, namun lebih tepatnya terlalu mengenggam etos kerja yang berlebihan. Sehingga ada kalanya tak memahami waktu libur karyawan.
Bahkan pernah suatu ketika orang tua sang pemilik meninggal, ia tak sejenak berkabung dan menutup usahanya barang sehari. Semua perniagaan tetap dibuka, seolah mengejar uang. Di hari raya pun begitu, sehingga beberapa karyawan merasa jengkel dan sering memberontak ketika tak diberi libur.
Di teras toko Olympia, Roni duduk sejenak dan memandangi jalanan yang remang. Memang seperti itulah jalanan di Prima Niaga, tidak terlalu banyak lampu jalan yang nyala. Mungkin agar semua toko terlihat lebih terang dan mencolok.
Roni sejenak termenung memikirkan malam ini. Ada rasa khawatir yang terpancar di wajahnya yang sok berani. Sang kakak beserta putrinya baru saja berangkat pagi tadi dengan KM. Tidar. Yang berarti, ini adalah malam pertama ia tidur sendirian di kontrakan.
“Ron, tolong itu tv Panasonic di bawain trus diiketin di motor Mas yang ini,” ucap seorang pria gemuk berkacamata bulat seperti yang dipakai Lennon.
“Oh siap bos,” jawabnya singkat lalu bergegas berdiri dan mengangkat tv Panasonic 14’ dan mengikatkan di motor Force1 Jetcooled milik pelanggan.
Setelah beres dengan mengikat tv tabung itu, Roni kembali ke dalam toko dan membantu rekannya yang lain. Sejenak pikiran seram di kepalanya sirna, namun itu tak berlangsung lama.
…
Roni pulang dengan motor Alpha yang dipinjamkan oleh toko ke rumah Husin dan Harti. Ia sudah diberi kunci cadangan sehingga tak perlu sulit untuk masuk. Selain itu, tetangga juga sudah tahu kalau nanti kontrakan itu akan dijaga oleh Roni.
Dengan santai Roni membuka pintu dan melempar kunci ke atas meja oshin. Ia langsung menuju dapur dan mencuci kaki, mengganti pakaian tidur dengan kaos singlet dan celana pendek. Tak lupa ia menyalakan tv dan menonton MacGyver. Dan akhirnya ia terlelap….
Malam terasa sepi, keheningan total seketika menyergap. Suara jangkrik dan gerombolannya seketika menghilang. Malam seolah berpindah ke dalam sebuah kehampaan, tanpa suara, tanpa apa pun. Bahkan detak jantung pun akan terdengar sebegitu nyaringnya.
Sementara keheningan total dari sekitar, muncul suara di kolong rumah. Suara seperti bebek yang mencari makan di kubangan, berangsur ke belakang rumah, lalu hilang. Berganti dengan langkah kaki di dinding belakang rumah. Langkah itu bergerak menuju atap dan berhenti tepat di atas Roni yang sedang tidur.
“Hii.. Hii.. Hii.. Hii..” Suara tawa perempuan terdengar samar.
Roni menggeliat-geliat merasakan tubuhnya digerayangi. Matanya masih terpejam, namun tubuhnya menggeliat kegelian seperti cacing kepanasan. Ia berusaha menutupi pinggangnya dari gelitik yang ia rasakan.
Seketika matanya terbuka dan nafasnya terasa memburu. Ia menoleh kiri dan kanan, namun keadaan masih sama. Ia sendirian dan tv masih dalam keadaan menyala dengan layar berbintik pertanda siaran malam itu sudah usai.
Di luar rumah terdengar suara binatang malam yang besahutan. Detak jam dinding juga terdengar mengiringi degup jantungnya yang memburu. Juga keringat sebesar biji jagung nampak di dahi dan pelipisnya. Sekilas ia hanya menganggap yang ia alami dan ia dengar hanyalah mimpi.
Roni beranjak menuju dapur dan mengambil segelas air putih dan menenggaknya habis. Keringat semakin mengucur deras, bahkan punggungnya terasa terasa lengket dengan kaos singlet yang ia pakai. Roni mulai sadar, bahwasanya keadaan sebenarnya tidak sedang baik-baik saja.
Ia kembali mencoba memejamkan matanya yang lelah, kondisi toko yang ramai membuatnya harus mengeluarkan perhatian dan tenaga ekstra untuk melayani pelanggan. Ia sudah cukup bekerja keras seharian ini dan sudah sepatutnya beristirahat dengan tenang.
Namun ada hal janggal yang seketika ia rasakan. Malam menjadi terasa sangat sunyi, sebuah keheningan mutlak. Suara katak dan jangkrik yang sebelumnya riuh di luar tiba-tiba lenyap. Menyisakan hening, suara detak jam, dan degup jantungnya sendiri.
Ia berusaha menafikan keadaan itu, meskipun ia sadar ada hal yang tidak beres.
Roni kembali memejamkan kedua kelopak matanya sambil komat-kamit berdoa seadanya. Ia menganggap mimpi yang ia alami tadi adalah buah dari keteledorannya karena tidak berdoa sebelum memejamkan mata. Namun sesuatu terdengar.
Derit lantai kayu terdengar dari arah dapur yang jaraknya tak lebih dari 10 meter dari posisinya tidur. Juga ada lirih suara langkah yang terdengar mengendap-endap. “Ahh.. Paling-paling orang sebelah.” batinnya berkata demikian.
Baru sejenak matanya rapat terpejam, kembali ia rasakan ada sentuhan di paha dan pinggangnya. Ia merasa ada tangan dingin yang menyentuh tubuhnya, juga jemari panjang yang meraba pinggangnya. Menekan-nekan tulang rusuknya dari samping, mencari titik sensitif yang membuatnya geli.
Seketika sentuhan pelan itu menjadi gelitikan dari kuku-kuku tajam yang intens. Roni menggeliat-geliat menahan gelitik di perut dan pinggangnya. Telinganya mendengar tawa seorang perempuan tua yang melengking. Hingga akhirnya ia membuka kedua matanya.
“Hii.. Hii.. Hi.. Hi.. Cucu…” ucap sosok itu dengan tawa melengking dan raut wajah keriput yang mengerikan.
“Aaahhhhhh.. Tolong!! Ampun!!” Roni berteriak sekencang yang ia bisa sambil memohon ampun.
Segala doa yang pernah diajarkan ketika kecil benar-benar menguap bagai asap. Tak ada panjatan doa yang mampu meluncur dari mulutnya. Pikirannya mendadak kosong karena merasa syok melihat apa yang ada di hadapannya.
Dalam keremangan ruangan yang redup, ia melihat sosok nenek dengan rambut panjang putih terurai penuh uban dengan kulit kepala yang terlihat samar. Kelopak bawah matanya longsor dan keriput melebihi hidung. Giginya berwarna kuning bercampur merah yang entah itu darah atau sirih.
Senyum nenek itu terlihat lebar, hingga ke telinganya. Dari rongga mulutnya terlihat kilatan liur yang seperti hendak menetes karena tak mampu ditahan oleh mulutnya yang terbuka.
“Tolong, ulun minta maaf!!” Roni hanya bisa meminta tolong, menahan geli dan berusaha memejamkan matanya.
Roni menahan rasa geli, nyeri dan takut yang menjadi satu. Dibubuhi pemandangan teror di depan matanya. Wajah itu terlihat sangat jelas meskipun dalam keremangan, seolah sengaja ditunjukkan. Dan itulah sosok terjelas yang pernah dilihatnya.
Sebagai pemuda yang ‘pemberani’, seharusnya Roni bisa melawan. Bahkan mungkin ia bisa saja melarikan diri dengan mudah. Karena posisinya tidur hanya berjarak satu meter dari pintu. Baru kali ini, ia tertawa dalam ketakutan.
Seiring rabaan dan gelitik yang semakin menjadi. Entah bagaimana caranya, Roni malah merasa telapak kakinya juga ikut digelitik. Padahal ia merasakan kedua sisi pinggangnya tergelitik secara bersamaan.
“Tolooong!! Ampun!!”
Raungan itu hanya dibalas dengan tawa nyaring sang nenek tua. Rambut putihnya yang tipis terlihat transparan. Dan ketika Roni menggelengkan kepala secara acak, ia tak sengaja melihat kaki sang nenek. Ternyata kaki itu juga berbentuk telapak tangan, seperti kaki kera. Dan kaki itulah yang menggelitik telapak kaki Roni.
Rapalan doa terus dipanjatkan sambil terus meminta maaf dan memohon ampun. Seisi ruangan juga terdengar gaduh, namun anehnya tak ada respons dari tetangga. Seolah ia di dalam ruangan isolasi yang kedap suara.
Dengan susah payah ia terus berusaha menutup matanya. Berusaha untuk tidur, atau setidaknya mengurangi kengerian yang ia alami. Karena tawa lebar sang nenek kini justru semakin menjadi dengan liur yang menetes-netes di tubuh Roni.
Semakin ia memaksa menutup mata, justru kedua kelopaknya tak bisa ditutup seolah ia dipaksa melihat sosok mengerikan yang sebelumnya ia ragukan keberadaannya. Sesal hanya bisa ia rasakan sambil menahan gempuran yang terjadi pada tubuhnya.
Dan seketika semua gelap…
̶ Ulun = Saya
Sekian, Gan! Bagi cendol kalo suka sama ceritanya.

namakuve dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Kutip
Balas