- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Diubah oleh jurigciwidey 25-08-2023 14:07
iwakcetol dan 49 lainnya memberi reputasi
48
35.6K
Kutip
433
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#112
BAB 33 - KEPANIKAN
“Entis, entis, bangun tis, bangun”
Tanpa berfikir panjang, Adang langsung menutup celah-celah lantai itu oleh tikar yang sudah dia angkat sebelumnya.
Dirinya panik, benar-benar panik, napasnya naik dan turun secara cepat disertai dengan keringat dingin yang langsung membasahi tubuhnya.
Dia tau akan hal ini, dia tau akan munculnya mayat-mayat ini dari dalam kolong rumah tempat mereka di makamkan.
Tapi dia tidak tau kenapa mereka muncul begitu cepat, tidak seharusnya mereka keluar dari tempat peristirahannya yang terakhir pada malam ini.
“Ke, kenapa mereka muncul sekarang, malam ini bukan malam yang seharusnya.”
Rasa bingung, panik, takut kini saling bercampur di dalam pikirannya. Dengan cepat dia langsung berlari ke arah Entis yang masih tertidur pulas. Berharap dirinya bisa membangunkan Entis dan melarikan diri dari Desa Kolong Mayit agar mereka berdua bisa selamat.
Dia terus-terusan berteriak, di iringi dengan suara keras dari bawah rumah dari mereka yang terbangun pada malam ini.
Dug, dug
Dug, dug, dug
Praakkk
Adang kaget. lampu minyak yang dia simpan di lantai untuk penerangan kini terlempar dan pecah karena saking kerasnya mereka memaksa untuk keluar dengan tangan-tangan mereka yang berusaha meraih Adang dan Entis yang ada di atas mereka.
Sehingga
Lampu minyak itu perlahan-lahan menyala, membakar tikar yang Adang duduki dan kayu yang menjadi lantai dari rumah tersebut.
Panik, Adang semakin panik sehingga dia langsung membuka bajunya dan mengibas-ngibaskan dengan sekuat tenaga sambil menginjak-injak lantai yang terbuat dari kayu tersebut, berharap api yang menyala tidak menyebar dan membakar seluruh rumah.
Di tengah-tengah kepanikan itu, Adang masih terus berusaha membangunkan Entis sambil mematikan api yang sudah menyebar dengan cepat.
“ENTISSSS, HUDANGGG, SIA HAYANG PAEH. (KAMU INGIN MATI.)”
Adang berteriak sekeras tenaga, dan rupanya hal itu berhasil membangunkan Entis yang belum sembuh dari luka-lukanya yang terjadi kemaren malam.
Matanya, terbuka secara perlahan, dan pemandangan yang dia lihat pertama kali adalah Adang yang sedang sibuk mematikan api yang kian menyebar dengan cepat di rumah itu.
“Mang, aya naun ieu? (ada apa ini?)” kata Entis dengan nada yang kebingungan.
“Maranehna geus hudang! (mereka sudah terbangun!)” jawab Adang sambil menujuk ke lantai yang masih berisik dengan suara-suara gaduh disana.
Mata Entis tiba-tiba terbelalak, dirinya yang awalnya tertidur kini berusaha terbangun. Terlihat wajahnya yang berusaha menahan rasa sakit dari luka-luka yang belum sembuh atas kejadian kemarin malam.
Wajahnya mengkerut, urat-uratnya terlihat, bahkan tangan dan kakinya yang dipenuhi luka dan memar bergetar karena dia merasa luka-lukanya terbuka kembali setelah kemarin di obati oleh warga desa.
“Kudu kabur ieu mah, keun bae si Pak Brata jeung barudak eta mah, nu penting urang salamet heula ayeuna, (harus kabur ini mah, biarin si Pak Brata dan ana-anak itu, yang penting kita harus selamat terlebih dahulu,)” Kata Adang yang masih berusaha memadamkan api yang kini hampir padam sepenuhnya disana.
“Tapi mang, bayarana kumaha? (bayarannya gimana?)” Tanya Entis dengan nada yang panik
“Tong mikir bayaran heula, ayeuna tinggal milih, neangan Pak Brata tapi aya potensi maneh paeh didieu, atau kabur ayeuna. (jangan mikir bayaran dulu, sekarang tinggal milih, mau nyari pak brata tapi ada potensi kamu mati disini, atau kabur sekarang.)”
Psttttt
Api yang menyala telah padam. Rumah yang awalnya menyala terang kini gelap gulita. Adang dan Entis hanya bisa terdiam sejenak karena lampu minyak yang menjadi penerangan satu-satunya telah padam.
Suara-suara itu masih terdengar, bahkan lebih lama lebih banyak dan bertambah gaduh dibawah sana. Adang tidak tau ada berapa orang yang sudah dimakamkan dibawah rumah ini selama ratusan tahun lamanya. Sehingga terdengar sangat banyak mereka memaksa keluar dari bawah sana.
“Hayu burukeun, ku urang bantuan maneh meh bisa kaluar ti imah ieu. (Ayo cepat, akan ku bantu agar kamu bisa keluar dari rumah ini.)”
Adang langsung mengangkat tubuh Entis, dia meringis kesakitan karena lukanya belum benar-benar sembuh sepenuhnya.
Argggghhh
“Lalaunan!! (Pelan-pelan!!)” kata Entis sambil meringis kesakitan.
“Tahan, urang kudu gancang kaluar tidieu, jadi tahan, wayahna tahan heula. (tahan, kita harus cepat keluar dari sini, jadi tahan, tahan dulu.)” kata adang sambil mengangkat tubuh Entis.
Situasi semakin tidak terkendali, Adang yang masih membawa senter kecil di salah satu tangannya kini dia nyalakan lagi. Dia berusaha kabur dari rumah itu sambil membawa Entis yang masih terluka disana.
Dug,
Dug, dug, dug
Haaaaaaaaahhhhhh
Haaaaaaaaahhhhhh
Suara-suara keras dibawah rumah kini terdengar lebih banyak, apalagi kini terdengar pula suara erangan dari mayat-mayat itu, suaranya benar-benar menyeramkan seperti hembusan napas yang sangat lirih dari mayat-mayat yang bangkit pada malam itu.
Adang seperti tidak peduli apa yang terjadi disana, bagaimana mayat-mayat itu bisa keluar dari yang sudah seharusnya. Namun yang pasti, yang dia pikirkan pada saat ini bagaimana dirinya harus selamat, karena dia tau dari cerita-cerita tentang desa kolong mayit ketika kejadian ini terjadi.
Bahwa mereka akan mengejar ketika melihat manusia yang masih hidup, sehingga para penduduk desa menutup kolong rumah itu dengan rapat, meskipun dia tau bahwa siang tadi atas perintah Pak Cece para warga membuka kolong rumah untuk keperluan dokumenter tim rarasukma tanpa ada ke khawatiran.
Karena mereka tau bahwa seharusnya malam ini bukanlah malam yang sudah ditentukan. meskipun, kali ini sepertinya akan menjadi bencana karena mereka muncul lebih cepat dari yang mereka perkirakan.
***
BRUAAAKKK
Pak Cece nampak begitu marah, matanya melotot tajam ke arah Mbah Walang yang duduk di depannya. urat-uratnya terlihat dengan jelas ketika emosinya memuncak pada saat itu.
“AINK TEU NYAHO MANEH NGALAKUKEUN NAUN DIDINYA (AKU TIDAK TAU KAMU MELAKUKAN APA DISANA)”
“TAPI”
“LAMUN SI AKI GEUS SATUJU URANG OGE TEU BISA KUKUMAHA (KALAU SI AKI TIDAK SETUJU, AKU JUGA TIDAK BISA BERBUAT APA-APA)”
Duaggg
Tangan yang dia kepalkan kini dia pukul ke dinding bilik yang ada di sebelahnya. matanya benar-benar memancarkan kemarahan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Namun, dirinya tidak bisa melampiaskan kemarahan yang sudah menumpuk di ubun-ubun. dirinya ingin sekali membunuh Mbah Walang dengan sebuah parang yang mengantung disana. namun dia tidak bisa melakukan itu karena dia harus menghormati adat dan istiadat yang ada di kolong mayit ini.
***
Nampak, diluar rumah Pak Cece. Pak Brata nampak bersantai sambil menghisap rokok yang sudah dia bawa. Meskipun kedua pengawalnya nampak sedikit panik karena suara-suara gaduh dari bawah rumah di sekitar mereka.
Namun, Pak Brata benar-benar terlihat santai tanpa ada kepanikan sedikit pun yang muncul di dalam dirinya.
“Pak, kenapa rumah-rumah itu berisik pak, ada yang berteriak, ada yang nangis, ada yang berlarin, bahkan dibawah rumah-rumah ini nampak gaduh sekali.” kata Eko yang berdiri di dekat Pak Brata dengan kedua matanya yang melirik ke kiri dan ke kanan.
“Sudah kamu santai aja, Mbah Walang sepertinya terlalu bersemangat sehingga dia mempercepat apa yang sudah dia lakukan.”
“Sekarang, kita se sebaiknya keluar desa dulu untuk sementara, karena kalau kita tidak cepat keluar nanti kita semua akan celaka.”
“Kita harus bisa melakukan hal itu secepat mungkin, supaya mereka tidak menyerang kita dan kita bisa pulang dengan selamat di esok hari.”
Fuhhhh
Pak Brata langsung melempar rokoknya, dia berdiri dan turun dari rumah Pak Cece. Dia berjalan dengan santai di tengah-tengah kegaduhan yang terjadi di Desa Kolong Mayit pada malam itu.
“Ayo, kita keluar dulu, biarkan Mbah Walang membereskan urusannya. kita akan bertemu lagi di tempat yang sudah kita tentukan nantinya,” kata Pak Brata sambil mengajak Aji dan Eko untuk keluar dari desa itu untuk sementara.
Quote:
“Entis, entis, bangun tis, bangun”
Tanpa berfikir panjang, Adang langsung menutup celah-celah lantai itu oleh tikar yang sudah dia angkat sebelumnya.
Dirinya panik, benar-benar panik, napasnya naik dan turun secara cepat disertai dengan keringat dingin yang langsung membasahi tubuhnya.
Dia tau akan hal ini, dia tau akan munculnya mayat-mayat ini dari dalam kolong rumah tempat mereka di makamkan.
Tapi dia tidak tau kenapa mereka muncul begitu cepat, tidak seharusnya mereka keluar dari tempat peristirahannya yang terakhir pada malam ini.
“Ke, kenapa mereka muncul sekarang, malam ini bukan malam yang seharusnya.”
Rasa bingung, panik, takut kini saling bercampur di dalam pikirannya. Dengan cepat dia langsung berlari ke arah Entis yang masih tertidur pulas. Berharap dirinya bisa membangunkan Entis dan melarikan diri dari Desa Kolong Mayit agar mereka berdua bisa selamat.
Dia terus-terusan berteriak, di iringi dengan suara keras dari bawah rumah dari mereka yang terbangun pada malam ini.
Dug, dug
Dug, dug, dug
Praakkk
Adang kaget. lampu minyak yang dia simpan di lantai untuk penerangan kini terlempar dan pecah karena saking kerasnya mereka memaksa untuk keluar dengan tangan-tangan mereka yang berusaha meraih Adang dan Entis yang ada di atas mereka.
Sehingga
Lampu minyak itu perlahan-lahan menyala, membakar tikar yang Adang duduki dan kayu yang menjadi lantai dari rumah tersebut.
Panik, Adang semakin panik sehingga dia langsung membuka bajunya dan mengibas-ngibaskan dengan sekuat tenaga sambil menginjak-injak lantai yang terbuat dari kayu tersebut, berharap api yang menyala tidak menyebar dan membakar seluruh rumah.
Di tengah-tengah kepanikan itu, Adang masih terus berusaha membangunkan Entis sambil mematikan api yang sudah menyebar dengan cepat.
“ENTISSSS, HUDANGGG, SIA HAYANG PAEH. (KAMU INGIN MATI.)”
Adang berteriak sekeras tenaga, dan rupanya hal itu berhasil membangunkan Entis yang belum sembuh dari luka-lukanya yang terjadi kemaren malam.
Matanya, terbuka secara perlahan, dan pemandangan yang dia lihat pertama kali adalah Adang yang sedang sibuk mematikan api yang kian menyebar dengan cepat di rumah itu.
“Mang, aya naun ieu? (ada apa ini?)” kata Entis dengan nada yang kebingungan.
“Maranehna geus hudang! (mereka sudah terbangun!)” jawab Adang sambil menujuk ke lantai yang masih berisik dengan suara-suara gaduh disana.
Mata Entis tiba-tiba terbelalak, dirinya yang awalnya tertidur kini berusaha terbangun. Terlihat wajahnya yang berusaha menahan rasa sakit dari luka-luka yang belum sembuh atas kejadian kemarin malam.
Wajahnya mengkerut, urat-uratnya terlihat, bahkan tangan dan kakinya yang dipenuhi luka dan memar bergetar karena dia merasa luka-lukanya terbuka kembali setelah kemarin di obati oleh warga desa.
“Kudu kabur ieu mah, keun bae si Pak Brata jeung barudak eta mah, nu penting urang salamet heula ayeuna, (harus kabur ini mah, biarin si Pak Brata dan ana-anak itu, yang penting kita harus selamat terlebih dahulu,)” Kata Adang yang masih berusaha memadamkan api yang kini hampir padam sepenuhnya disana.
“Tapi mang, bayarana kumaha? (bayarannya gimana?)” Tanya Entis dengan nada yang panik
“Tong mikir bayaran heula, ayeuna tinggal milih, neangan Pak Brata tapi aya potensi maneh paeh didieu, atau kabur ayeuna. (jangan mikir bayaran dulu, sekarang tinggal milih, mau nyari pak brata tapi ada potensi kamu mati disini, atau kabur sekarang.)”
Psttttt
Api yang menyala telah padam. Rumah yang awalnya menyala terang kini gelap gulita. Adang dan Entis hanya bisa terdiam sejenak karena lampu minyak yang menjadi penerangan satu-satunya telah padam.
Suara-suara itu masih terdengar, bahkan lebih lama lebih banyak dan bertambah gaduh dibawah sana. Adang tidak tau ada berapa orang yang sudah dimakamkan dibawah rumah ini selama ratusan tahun lamanya. Sehingga terdengar sangat banyak mereka memaksa keluar dari bawah sana.
“Hayu burukeun, ku urang bantuan maneh meh bisa kaluar ti imah ieu. (Ayo cepat, akan ku bantu agar kamu bisa keluar dari rumah ini.)”
Adang langsung mengangkat tubuh Entis, dia meringis kesakitan karena lukanya belum benar-benar sembuh sepenuhnya.
Argggghhh
“Lalaunan!! (Pelan-pelan!!)” kata Entis sambil meringis kesakitan.
“Tahan, urang kudu gancang kaluar tidieu, jadi tahan, wayahna tahan heula. (tahan, kita harus cepat keluar dari sini, jadi tahan, tahan dulu.)” kata adang sambil mengangkat tubuh Entis.
Situasi semakin tidak terkendali, Adang yang masih membawa senter kecil di salah satu tangannya kini dia nyalakan lagi. Dia berusaha kabur dari rumah itu sambil membawa Entis yang masih terluka disana.
Dug,
Dug, dug, dug
Haaaaaaaaahhhhhh
Haaaaaaaaahhhhhh
Suara-suara keras dibawah rumah kini terdengar lebih banyak, apalagi kini terdengar pula suara erangan dari mayat-mayat itu, suaranya benar-benar menyeramkan seperti hembusan napas yang sangat lirih dari mayat-mayat yang bangkit pada malam itu.
Adang seperti tidak peduli apa yang terjadi disana, bagaimana mayat-mayat itu bisa keluar dari yang sudah seharusnya. Namun yang pasti, yang dia pikirkan pada saat ini bagaimana dirinya harus selamat, karena dia tau dari cerita-cerita tentang desa kolong mayit ketika kejadian ini terjadi.
Bahwa mereka akan mengejar ketika melihat manusia yang masih hidup, sehingga para penduduk desa menutup kolong rumah itu dengan rapat, meskipun dia tau bahwa siang tadi atas perintah Pak Cece para warga membuka kolong rumah untuk keperluan dokumenter tim rarasukma tanpa ada ke khawatiran.
Karena mereka tau bahwa seharusnya malam ini bukanlah malam yang sudah ditentukan. meskipun, kali ini sepertinya akan menjadi bencana karena mereka muncul lebih cepat dari yang mereka perkirakan.
***
BRUAAAKKK
Pak Cece nampak begitu marah, matanya melotot tajam ke arah Mbah Walang yang duduk di depannya. urat-uratnya terlihat dengan jelas ketika emosinya memuncak pada saat itu.
“AINK TEU NYAHO MANEH NGALAKUKEUN NAUN DIDINYA (AKU TIDAK TAU KAMU MELAKUKAN APA DISANA)”
“TAPI”
“LAMUN SI AKI GEUS SATUJU URANG OGE TEU BISA KUKUMAHA (KALAU SI AKI TIDAK SETUJU, AKU JUGA TIDAK BISA BERBUAT APA-APA)”
Duaggg
Tangan yang dia kepalkan kini dia pukul ke dinding bilik yang ada di sebelahnya. matanya benar-benar memancarkan kemarahan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Namun, dirinya tidak bisa melampiaskan kemarahan yang sudah menumpuk di ubun-ubun. dirinya ingin sekali membunuh Mbah Walang dengan sebuah parang yang mengantung disana. namun dia tidak bisa melakukan itu karena dia harus menghormati adat dan istiadat yang ada di kolong mayit ini.
***
Nampak, diluar rumah Pak Cece. Pak Brata nampak bersantai sambil menghisap rokok yang sudah dia bawa. Meskipun kedua pengawalnya nampak sedikit panik karena suara-suara gaduh dari bawah rumah di sekitar mereka.
Namun, Pak Brata benar-benar terlihat santai tanpa ada kepanikan sedikit pun yang muncul di dalam dirinya.
“Pak, kenapa rumah-rumah itu berisik pak, ada yang berteriak, ada yang nangis, ada yang berlarin, bahkan dibawah rumah-rumah ini nampak gaduh sekali.” kata Eko yang berdiri di dekat Pak Brata dengan kedua matanya yang melirik ke kiri dan ke kanan.
“Sudah kamu santai aja, Mbah Walang sepertinya terlalu bersemangat sehingga dia mempercepat apa yang sudah dia lakukan.”
“Sekarang, kita se sebaiknya keluar desa dulu untuk sementara, karena kalau kita tidak cepat keluar nanti kita semua akan celaka.”
“Kita harus bisa melakukan hal itu secepat mungkin, supaya mereka tidak menyerang kita dan kita bisa pulang dengan selamat di esok hari.”
Fuhhhh
Pak Brata langsung melempar rokoknya, dia berdiri dan turun dari rumah Pak Cece. Dia berjalan dengan santai di tengah-tengah kegaduhan yang terjadi di Desa Kolong Mayit pada malam itu.
“Ayo, kita keluar dulu, biarkan Mbah Walang membereskan urusannya. kita akan bertemu lagi di tempat yang sudah kita tentukan nantinya,” kata Pak Brata sambil mengajak Aji dan Eko untuk keluar dari desa itu untuk sementara.
Diubah oleh jurigciwidey 31-07-2023 05:08
sampeuk dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Kutip
Balas
Tutup