- Beranda
- Stories from the Heart
Thread Horor: MENJEMPUT GELAP
...
TS
saujanastory
Thread Horor: MENJEMPUT GELAP
Halo Agan semua, salam kenal. Ane Jana, yang biasa menceritakan dan kisah horor baik berdasarkan kisah nyata, atau terinspirasi dari kisah nyata. Monggo disimak, jangan lupa diramaikan.

Sekian Agan-Agan semua, malam Minggu depan ceritanya akan dilanjutkan.
MENJEMPUT GELAP

Quote:
Original Posted By Bab 1: Kontrakan Bangsal Tiga
Hari ini kondisi cuaca cukup cerah dengan sedikit gumpalan awan berarak yang menjadi tanda bahwasanya hujan tidak akan turun. Dari balik kaca, lelaki itu memandangi jalanan sambil menyesap segelas kopi yang tak lagi panas.
Siang ini ia terpikir beberapa hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Sebuah misi yang seharusnya ia lakukan bertahun-tahun lalu. Mengunjungi tanah leluhurnya. Namun yang ia temukan adalah hal mengerikan yang seharusnya tak pernah terungkap. Sebuah rahasia masa lalu yang disimpan rapat oleh seluruh penduduk desa.
Kemal, 32 tahun. Seorang pemuda medioker yang masih terus berkutat dengan segala hobi dan kegemarannya. Kehidupan keluarganya yang sangat sederhana membuat masa kecilnya lebih terbatas jika dibandingkan dengan kawan sebayanya.
Ayahnya yang ketika itu masih berada di posisi cukup rendah di tempat kerjanya membuat hidup keluarga sangat sederhana. Ayah Kemal yang memulai karir di sebuah BUMN sebagai sekuriti hanya mendapatkan gaji 275 ribu rupiah per bulan. Saat itu masih sekitar tahun 1991.
Ibunya sedang mengandung sang adik. Sementara Kemal yang statusnya ‘disembunyikan’ berada di desa asal sang ibu. Sebuah desa tertinggal di provinsi paling timur di pulau Jawa. Sebuah desa yang pada saat itu hanya dihuni para petani, dengan kehidupan miskin dan jauh dari kata cukup.
Pada saat itu, ayah Kemal baru saja mendapatkan pekerjaanya. Dan menurut peraturan, pegawai tidak boleh menikah sebelum 3 tahun masa kerja. Karena ayah dan ibu Kemal menikah di luar ketentuan itu, maka kelahiran Kemal terpaksa disembunyikan dari rekan kerja sang ayah.
Dan ia pun dirawat oleh sang nenek, si mbok dari sang ibu.
Dalam rumah bangsal petak itu Harti sedang menggigil ketakutan. Keringat dingin membasahi tubuhnya, sementara ia hanya berada di kontrakan itu sendirian. Husin sedang bertugas sebagai sekuriti dan akan pulang pukul 11 malam. Yang mana akan tiba di rumah 20 hingga 30 menit setelah shift jaga selesai.
Sedari pukul 10, Harti mendengar ada sosok yang sedang tertawa cekikikan di depan pintu rumahnya. Sementara ia sangat tahu, bahwa lingkungan tempat tinggalnya adalah lingkungan yang sepi setelah shalat Isya.
Di dalam rumah, Harti tak bisa melakukan apa pun. Hanya bisa duduk meringkuk diatas ranjang sambil melindungi kandungannya yang sudah cukup besar. Ia hanya berdoa semampu yang ia ingat, diiringi kucuran keringat dan tubuhnya yang menggigil ketakutan.
Hingga pukul 11.25, hampir tengah malam suara vespa memecah keheningan malam itu. Husin datang dan langsung memarkirkan motornya tepat di depan rumah. Ia masuk dan disambut dengan tangisan yang memecah keheningan malam.
“Pak, di situ!! Tadi ada orang ketawa nyaring, cekikikan gak berhenti.” Harti tergagap sambil memeluk erat pinggang suaminya.
“Di mana?! Bentar, biar ku bacok kalo emang ada.” Husin langsung mengambil sebilah golok dan kembali mengecek teras rumah mereka. Dan yang ia temukan hanyalah sepinya malam dengan suara jangkrik dari
seberang jalan yang lebarnya tak lebih dari 2 meter.
Malam itu Harti terselamatkan, ia kembali tenang setelah sang suami memastikan tidak ada yang bisa ia temukan di depan rumahnya. Mereka akhirnya bisa terlelap sambil ditemani beberapa benda tajam seperti jarum, silet, gunting dan bulu landak sebagai proteksi sang jabang bayi.
Sore itu, Harti merasa sakit perut dan ingin buang hajat. Ia lalu keluar rumah melalui pintu belakang dan menuju toilet bersama yang berada tepat di belakang kontrakannya. Perlahan ia turun menuju belakang rumah, sambil memegangi perut besarnya dan melihat toilet dalam kondisi tertutup.
Harti menunggu sejenak. Karena tak ada suara, ia memutuskan untuk mendorong pintu toilet tersebut. Ia terkejut, pintu itu tak terkunci, namun di dalamnya ada seorang nenek yang sedang duduk berjongkok di atas kloset seperti sedang membuang hajat.
“Maaf, saya kira gak ada orang.” Ucapnya sambil langsung menutup pintu dan menunggu di mulut pintu rumahnya.
Beberapa menit berlalu, tak ada tanda bahwa sang nenek sudah selesai. Bahkan tidak ada suara sama sekali dari dalam toilet. Sementara hajat Harti sudah sulit untuk ditahan. Ia pun kembali mengetuk pintu toilet tersebut, seketika toilet itu terbuka. Di dalamnya tak ada orang, nenek yang sedang berjongkok di atas toilet sudah hilang.
Karena sudah menunggu lama dan tak bisa ditahan lagi. Maka Harti langsung saja masuk ke dalam toilet dan menuntaskan hajatnya yang sudah hampir tak terbendung. Sore itu, adalah pertama kali Harti melihat sosok tak asing yang mungkin saja bukan manusia.
Pagi menyingsing, hawa dingin dan sejuk mengiringi niat Harti yang ingin berjalan-jalan. Kumpulan tumbuhan pandan tumbuh di depan rumahnya yang di bawahnya merupakan genangan air. Kontrakan 3 pintu yang hanya memilik satu toilet bersama. Toilet yang berada tepat di belakang dapur rumah Harti.
Ditemani sang suami, Harti berjalan-jalan sambil menikmati udara pagi
yang segar. Disambut dengan sapaan para tetangga yang mayoritas adalah warga suku lokal. Dengan logat Kutai dan Banjar yang kental, mereka menyapa sembari menyapu atau menyiram tanaman.
“Hendak ke mana kita? Gaknya tumat lagi lahir ni. – Mau kemana? Sepertinya sebentar lagi lahiran.” ucap seorang wanita penjual kue-kue basah yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbok Joi dengan logat Kutai
yang kental.
“Ohh, bejalanan aja. Biar kena kalo lahiran lancar, – Mau jalan-jalan saja. Supaya nanti lahiran lancar,” jawab Husin dengan logat Banjar.
“Bulu landak ngan gunting jangan lupa dibawa, biar ndik dilirik kuyang, – Bulu landak sama gunting jangan lupa dibawa, supaya tidak dilirik (hantu) kuyang,” timpal Mbok Joi lagi sambil tersenyum sembari merapikan kue dagangannya.
“Iya, makasih, Mbok Joi.” Husin tersenyum sambil melanjutkan menemani Harti berjalan berkeliling.
Di kota ini, mitos dan rumor tentang kuyang memang sangat dipercaya. Terutama oleh para warga asli yang memang sangat memegang teguh kepercayaan lokal. Dan entah, percaya/tidak percaya semua itu diceritakan turun-temurun dan kabarnya memang sudah ada yang pernah membuktikan keberadaan dan kebenarannya.
Harti dan Husin berjalan menikmati pagi dengan santai. Embun masih terasa membasahi kulit, juga meninggalkan titik-titik bulir air di atas dedaunan di kiri-kanan gang. Banyak orang berlalu-lalang membawa keranjang belanjaan karena pasar juga masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Juga anak-anak sekolah yang sedang jalan bergerombol menuju tempat mereka menuntut ilmu. Juga beberapa ibu yang sedang berjalan berlainan arah. Salah satunya menggunakan kerudung dengan ujung yang melilit di lehernya.
Mereka bercakap sambil salah satunya menatap Harti yang dengan pandangan yang menyelidik. Hingga saat perpapasan, ia bahkan sampai menolehkan kepalanya memandang Harti yang sedang berjalan sambil memegangi perutnya Wanita itu menelan ludahnya sambil menjilat bibirnya sendiri.
“Hmmm.. Wangi..” batinnya.
Siang ini ia terpikir beberapa hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Sebuah misi yang seharusnya ia lakukan bertahun-tahun lalu. Mengunjungi tanah leluhurnya. Namun yang ia temukan adalah hal mengerikan yang seharusnya tak pernah terungkap. Sebuah rahasia masa lalu yang disimpan rapat oleh seluruh penduduk desa.
***
Kemal, 32 tahun. Seorang pemuda medioker yang masih terus berkutat dengan segala hobi dan kegemarannya. Kehidupan keluarganya yang sangat sederhana membuat masa kecilnya lebih terbatas jika dibandingkan dengan kawan sebayanya.
Ayahnya yang ketika itu masih berada di posisi cukup rendah di tempat kerjanya membuat hidup keluarga sangat sederhana. Ayah Kemal yang memulai karir di sebuah BUMN sebagai sekuriti hanya mendapatkan gaji 275 ribu rupiah per bulan. Saat itu masih sekitar tahun 1991.
Ibunya sedang mengandung sang adik. Sementara Kemal yang statusnya ‘disembunyikan’ berada di desa asal sang ibu. Sebuah desa tertinggal di provinsi paling timur di pulau Jawa. Sebuah desa yang pada saat itu hanya dihuni para petani, dengan kehidupan miskin dan jauh dari kata cukup.
Pada saat itu, ayah Kemal baru saja mendapatkan pekerjaanya. Dan menurut peraturan, pegawai tidak boleh menikah sebelum 3 tahun masa kerja. Karena ayah dan ibu Kemal menikah di luar ketentuan itu, maka kelahiran Kemal terpaksa disembunyikan dari rekan kerja sang ayah.
Dan ia pun dirawat oleh sang nenek, si mbok dari sang ibu.
***
Dalam rumah bangsal petak itu Harti sedang menggigil ketakutan. Keringat dingin membasahi tubuhnya, sementara ia hanya berada di kontrakan itu sendirian. Husin sedang bertugas sebagai sekuriti dan akan pulang pukul 11 malam. Yang mana akan tiba di rumah 20 hingga 30 menit setelah shift jaga selesai.
Sedari pukul 10, Harti mendengar ada sosok yang sedang tertawa cekikikan di depan pintu rumahnya. Sementara ia sangat tahu, bahwa lingkungan tempat tinggalnya adalah lingkungan yang sepi setelah shalat Isya.
Di dalam rumah, Harti tak bisa melakukan apa pun. Hanya bisa duduk meringkuk diatas ranjang sambil melindungi kandungannya yang sudah cukup besar. Ia hanya berdoa semampu yang ia ingat, diiringi kucuran keringat dan tubuhnya yang menggigil ketakutan.
Hingga pukul 11.25, hampir tengah malam suara vespa memecah keheningan malam itu. Husin datang dan langsung memarkirkan motornya tepat di depan rumah. Ia masuk dan disambut dengan tangisan yang memecah keheningan malam.
“Pak, di situ!! Tadi ada orang ketawa nyaring, cekikikan gak berhenti.” Harti tergagap sambil memeluk erat pinggang suaminya.
“Di mana?! Bentar, biar ku bacok kalo emang ada.” Husin langsung mengambil sebilah golok dan kembali mengecek teras rumah mereka. Dan yang ia temukan hanyalah sepinya malam dengan suara jangkrik dari
seberang jalan yang lebarnya tak lebih dari 2 meter.
Malam itu Harti terselamatkan, ia kembali tenang setelah sang suami memastikan tidak ada yang bisa ia temukan di depan rumahnya. Mereka akhirnya bisa terlelap sambil ditemani beberapa benda tajam seperti jarum, silet, gunting dan bulu landak sebagai proteksi sang jabang bayi.
***
Sore itu, Harti merasa sakit perut dan ingin buang hajat. Ia lalu keluar rumah melalui pintu belakang dan menuju toilet bersama yang berada tepat di belakang kontrakannya. Perlahan ia turun menuju belakang rumah, sambil memegangi perut besarnya dan melihat toilet dalam kondisi tertutup.
Harti menunggu sejenak. Karena tak ada suara, ia memutuskan untuk mendorong pintu toilet tersebut. Ia terkejut, pintu itu tak terkunci, namun di dalamnya ada seorang nenek yang sedang duduk berjongkok di atas kloset seperti sedang membuang hajat.
“Maaf, saya kira gak ada orang.” Ucapnya sambil langsung menutup pintu dan menunggu di mulut pintu rumahnya.
Beberapa menit berlalu, tak ada tanda bahwa sang nenek sudah selesai. Bahkan tidak ada suara sama sekali dari dalam toilet. Sementara hajat Harti sudah sulit untuk ditahan. Ia pun kembali mengetuk pintu toilet tersebut, seketika toilet itu terbuka. Di dalamnya tak ada orang, nenek yang sedang berjongkok di atas toilet sudah hilang.
Karena sudah menunggu lama dan tak bisa ditahan lagi. Maka Harti langsung saja masuk ke dalam toilet dan menuntaskan hajatnya yang sudah hampir tak terbendung. Sore itu, adalah pertama kali Harti melihat sosok tak asing yang mungkin saja bukan manusia.
***
Pagi menyingsing, hawa dingin dan sejuk mengiringi niat Harti yang ingin berjalan-jalan. Kumpulan tumbuhan pandan tumbuh di depan rumahnya yang di bawahnya merupakan genangan air. Kontrakan 3 pintu yang hanya memilik satu toilet bersama. Toilet yang berada tepat di belakang dapur rumah Harti.
Ditemani sang suami, Harti berjalan-jalan sambil menikmati udara pagi
yang segar. Disambut dengan sapaan para tetangga yang mayoritas adalah warga suku lokal. Dengan logat Kutai dan Banjar yang kental, mereka menyapa sembari menyapu atau menyiram tanaman.
“Hendak ke mana kita? Gaknya tumat lagi lahir ni. – Mau kemana? Sepertinya sebentar lagi lahiran.” ucap seorang wanita penjual kue-kue basah yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbok Joi dengan logat Kutai
yang kental.
“Ohh, bejalanan aja. Biar kena kalo lahiran lancar, – Mau jalan-jalan saja. Supaya nanti lahiran lancar,” jawab Husin dengan logat Banjar.
“Bulu landak ngan gunting jangan lupa dibawa, biar ndik dilirik kuyang, – Bulu landak sama gunting jangan lupa dibawa, supaya tidak dilirik (hantu) kuyang,” timpal Mbok Joi lagi sambil tersenyum sembari merapikan kue dagangannya.
“Iya, makasih, Mbok Joi.” Husin tersenyum sambil melanjutkan menemani Harti berjalan berkeliling.
Di kota ini, mitos dan rumor tentang kuyang memang sangat dipercaya. Terutama oleh para warga asli yang memang sangat memegang teguh kepercayaan lokal. Dan entah, percaya/tidak percaya semua itu diceritakan turun-temurun dan kabarnya memang sudah ada yang pernah membuktikan keberadaan dan kebenarannya.
Harti dan Husin berjalan menikmati pagi dengan santai. Embun masih terasa membasahi kulit, juga meninggalkan titik-titik bulir air di atas dedaunan di kiri-kanan gang. Banyak orang berlalu-lalang membawa keranjang belanjaan karena pasar juga masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Juga anak-anak sekolah yang sedang jalan bergerombol menuju tempat mereka menuntut ilmu. Juga beberapa ibu yang sedang berjalan berlainan arah. Salah satunya menggunakan kerudung dengan ujung yang melilit di lehernya.
Mereka bercakap sambil salah satunya menatap Harti yang dengan pandangan yang menyelidik. Hingga saat perpapasan, ia bahkan sampai menolehkan kepalanya memandang Harti yang sedang berjalan sambil memegangi perutnya Wanita itu menelan ludahnya sambil menjilat bibirnya sendiri.
“Hmmm.. Wangi..” batinnya.
***
Spoiler for Bab Selanjutnya Gan!:
Spoiler for Bab Selanjutnya Gan!:
Spoiler for Bab Selanjutnya, Gan!:
Spoiler for Lanjut lagi, Gan!:
Spoiler for Selamat bermalam Minggu, Gan!:
Spoiler for Habis konser, lanjut cerita!:
Spoiler for Telat sehari.:
Spoiler for Lanjutan lagi!:
Spoiler for Malming sendu:
Spoiler for Capek motoran:
Spoiler for Habis selesein cerita untuk KUNCEN:
Spoiler for Mau nonton layar tancap:
Spoiler for Minggu pertama Oktober!! Gas!!:
Spoiler for Udah sepertiga cerita nih!:
Sekian Agan-Agan semua, malam Minggu depan ceritanya akan dilanjutkan.
Diubah oleh saujanastory 14-10-2023 19:36
itkgid dan 19 lainnya memberi reputasi
20
4.5K
Kutip
57
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
saujanastory
#11
Lanjut lagi, Gan.
Bab 4. Mengais Ingatan
Sanaksara, Kalimantan, 2017
Kemal mengendarai motor matic-nya menyusuri jalanan sejak pagi. Sebagai pemuda yang bisa dibilang matang dari segi umur, Kemal belum ingin berkeluarga. Ia ingin sepuasnya menikmati hidup.
Masa kecil yang sangat biasa saja membuatnya ingin “membalaskan dendamnya” terhadap keadaan kala itu. Ia bermain semua game yang ia suka, membeli apa pun yang dahulu hanya bisa dilihatnya ketika kecil.
Bahkan di usianya yang 30 tahun, ia masih suka membeli mainan baik itu mobil-mobilan, robot, dan aneka console yang ketika kecil tidak pernah bisa ia miliki.
Kemal kecil memang bisa dibilang cerdas. Meskipun tidak TK, ia sudah bisa membaca dan menulis dengan lancar di tahun pertamanya sekolah. Semua berkat sang ibu dan saran dari tetangga yang juga berprofesi sebagai pengajar.
Di jalan, Kemal banyak memikirkan sesuatu. Selain memperhatikan jalan tentunya, ia juga aktif dalam berimajinasi. Bahkan sambil berkendara pun ia bisa tetap fokus sementara separuh isi kepalanya melayang entah kemana.
Sebagai pemuda yang sebenarnya sudah bisa dibilang tua, Kemal tak pernah berencana bekerja di dengan seragam dan rambut rapi seperti layaknya lelaki seusianya.
Ia sangat mengutamakan kapasitas dan kualitas hasil kerja daripada sekedar penampilan yang tak berbanding lurus dengan daya dan pola pikir seseorang.
Oleh karena itu, ia tak pernah berminat untuk berada di balik meja sebuah instansi pemerintahan mau pun swasta yang berorientasi pada visual. Baginya, visual dan tampilan tak lebih penting jika dibandingkan apa yang bisa ia berikan pada pekerjaannya.
Kemal merupakan seorang medioker, ia mempelajari banyak hal meskipun tidak ahli. Ia mampu membuat website, sedikit mengerti bahasa pemrograman, mengerti desain, musik, dan hal-hal lain. Hanya saja ia tak pernah memfokuskan pikirannya pada satu bidang.
Baginya, ia harus tahu dulu meskipun tidak ahli. Karena jika ia ternyata harus menekuni satu bidang, maka ia tak akan sulit untuk mengerti dasarnya. Dan tentunya proses belajaranya juga akan lebih cepat dibanding orang lain.
Saat ini ia menikmati profesinya sebagai driver ojek online. Selain pendapatannya lumayan dan melebihi UMR di daerahnya, profesi ini membuatnya bertemu berbagai macam orang. Baik itu pelanggan maupun rekan sesama driver.
Di sebuah warkop yang dimiliki oleh seorang teman, Kemal memandang handphone-nya sambil membuka google maps. Ia berniat untuk mencari desa asal sang ibu. Desa dimana leluhurnya dikebumikan.
Ia mengais apa yang ia ingat ketika kecil, mulai dari kata yang sering ia dengar yang sekiranya merupakan nama tempat. Yang ia tau hanya kata Kujang, sebuah kabupaten di timur pulau Jawa. Selebihnya ia masih terus mengais apa yang bisa ia ingat.
Kata selanjutnya yaitu Lapengan, sebuah kata yang ia percaya bisa menjadi petunjuk kuat terhadap daerah asal muasal leluhurnya. Dan ketika ia meng-google kata itu, yang muncul adalah area sentra penghasil komoditas pertanian. Yang mana komoditas pertanian itu pernah digeluti oleh Harti, sang ibu.
Kemal memang memiliki jaringan pertemanan yang bisa dibilang cukup luas. Bertahun-tahun bergaul di warnet membuatnya mengerti membangun jaringan di dunia maya dengan orang-orang yang bisa dipercaya.
“Bar, awakmu nang Sidoarto tho? – Bar, kamu di Sidorato kan?” tanya Kemal pada Akbar yang tinggal di Sidoarto.
“Iyo Mas, ono opo? Kok koyok’e penting. – “Iya Mas, ada apa? Kok kayaknya penting.” Tak lama jawaban berisi pertanyaan dari Akbar tampil di layar.
“Kowe sibuk ora? Aku rencanane pengen njaluk kancani mlaku nang Kujang, arep nang kampunge emakku nang Lapengan. – Kamu sibuk apa gak? Aku rencananya pengen minta temani jalan-jalan ke Kujang, pengen ke kampungnya emakku di Lapengan.” jawab Kemal yang masih bisa berbahasa Jawa meskipun suka lupa kosakata.
“Ora sibuk Mas, iki ijek ngenteni ijasah lulusan. Sing penting kabari ae Mas, – “Gak sibuk Mas, ini masih nunggu ijasah lulusan. Yang penting dikabarin aja Mas,” jawab Akbar yang memang masih berumur 19 tahun dan baru mau lulus SMA.
“Iyo Bar, pokok’e bulan iki kok. Awakmu siapno sangu karo klambi ganti ae, transport ben aku sing nanggung, – Iya Bar, pokoknya bulan ini kok. Kamu siapkan aja uang saku sama pakaian ganti, transport biar aku semua yang tanggung.” ucap Kemal mantap.
“Iyo Mas, gampang. Pokok’e kabari seminggu sak durunge, – “Iya Mas, gampang. Pokoknya kabari seminggu sebelumnya,” jawab Akbar yang memang masih menggebu-gebu.
Kemal termenung sejenak mengingat kenangan masa kecilnya, mengingat beberapa denah di desa itu. Satu hal yang paling ia ingat ada 3 hal, sawah bersumur bor yang digunakan untuk menjemur rami, sebuah kolam ikan besar berair hijau yang kabarnya angker tak jauh dari rumahnya, d888an kompleks pemakaman yang letaknya tepat di belakang masjid terbesar di desa itu.
Meskipun hanya itu yang bisa ia ingat dengan jelas, namun beberapa cerita yang konon terjadi di desa itu ikut berputar di kepalanya. Segudang cerita aneh yang tak semuanya dapat ia ingat, hanya sebagian kecil yang masih terngiang.
Dahulu, sang budhe yang masih tinggal di desa sebelah pernah bercerita. Bahwa desa asal leluhur Kemal memiliki cerita kelam. Mulai dari sering ditemukan mayat tanpa identitas di pinggir jalan, hingga beberapa gangguan yang dialami penjual sayur.
Budhe kala itu juga menceritakan bahwa seluruh warga desa sempat diancam akan “disapu” oleh sang penguasa desa. Yang berarti seluruh penduduk desa akan dikutuk dan dihujani pagebluk yang bisa menghilangkan seluruh desa. Sehingga seluruh generasi yang saat itu berada di desa bisa musnah.
Tentu saja mengingat cerita tentang betapa wingitnya desa membuat Kemal sedikit bergidik. Namun ia juga penasaran dengan kebenaran cerita masa kecilnya itu. Yang mana itu aneh, bagaimana seorang anak kecil berumur kurang dari lima tahun didongengkan cerita mengerikan seperti itu.
Namun saat itu orang tak cukup mengerti akan trauma yang bercokol di alam bawah sadar seorang anak ketika diceritakan dongeng horor mengerikan seperti itu. Mungkin saja, itu bukan sekedar dongeng. Bisa jadi, itu adalah sebuah kenyataan pahit yang nyata adanya terjadi di desa. Karena sebisa yang diingat Kemal, di desa itu masih banyak pohon beringin, trembesi, dan jejeran pohon jati di pinggir jalan yang berbatasan dengan sawah.
“Buk, dulu kampungnya si Mbok tuh gimana? Katanya serem, wingit?” tanya Kemal tiba-tiba pada sang ibu. Ia memanggil neneknya dengan sebutan si Mbok juga karena saat itu ia mengikuti tantenya yang masih baru puber.
“Yaa begitulah, lha wong dulu aja sempet sering nemu mayat dalam karung di pinggir jalan kok. Pasti ditaruh di pinggir jalan sebelah sawah, di bawah pohon jati.” Harti bercerita singkat.
Tak bisa dipungkiri bahwa desa itu memang terlambat mengalami kemajuan. Bahkan ketika desa lain sudah ada listrik kolektif yang hanya dinyalakan pukul 6 sore hingga 11 malam dengan mesin diesel, di desa kelahiran Harti justru belum ada sama sekali. Bahkan jalanannya masih tanah, yang akan berlumpur ketika hujan.
Seketika Kemal bertanya dan meminta sang ibu menceritakan pengalaman-pengalaman dan kejadian yang ada di desa mereka. Meskipun terlihat sedikit enggan, namun akhirnya Harti menuruti permintaan anak sulungnya. Salah satunya adalah ketika Harti pulang tahun 1993 dan menjemput Kemal….
Sampe ketemu lagi minggu depan, Gan.
Quote:
Bab 4. Mengais Ingatan
Sanaksara, Kalimantan, 2017
Kemal mengendarai motor matic-nya menyusuri jalanan sejak pagi. Sebagai pemuda yang bisa dibilang matang dari segi umur, Kemal belum ingin berkeluarga. Ia ingin sepuasnya menikmati hidup.
Masa kecil yang sangat biasa saja membuatnya ingin “membalaskan dendamnya” terhadap keadaan kala itu. Ia bermain semua game yang ia suka, membeli apa pun yang dahulu hanya bisa dilihatnya ketika kecil.
Bahkan di usianya yang 30 tahun, ia masih suka membeli mainan baik itu mobil-mobilan, robot, dan aneka console yang ketika kecil tidak pernah bisa ia miliki.
Kemal kecil memang bisa dibilang cerdas. Meskipun tidak TK, ia sudah bisa membaca dan menulis dengan lancar di tahun pertamanya sekolah. Semua berkat sang ibu dan saran dari tetangga yang juga berprofesi sebagai pengajar.
Di jalan, Kemal banyak memikirkan sesuatu. Selain memperhatikan jalan tentunya, ia juga aktif dalam berimajinasi. Bahkan sambil berkendara pun ia bisa tetap fokus sementara separuh isi kepalanya melayang entah kemana.
Sebagai pemuda yang sebenarnya sudah bisa dibilang tua, Kemal tak pernah berencana bekerja di dengan seragam dan rambut rapi seperti layaknya lelaki seusianya.
Ia sangat mengutamakan kapasitas dan kualitas hasil kerja daripada sekedar penampilan yang tak berbanding lurus dengan daya dan pola pikir seseorang.
Oleh karena itu, ia tak pernah berminat untuk berada di balik meja sebuah instansi pemerintahan mau pun swasta yang berorientasi pada visual. Baginya, visual dan tampilan tak lebih penting jika dibandingkan apa yang bisa ia berikan pada pekerjaannya.
Kemal merupakan seorang medioker, ia mempelajari banyak hal meskipun tidak ahli. Ia mampu membuat website, sedikit mengerti bahasa pemrograman, mengerti desain, musik, dan hal-hal lain. Hanya saja ia tak pernah memfokuskan pikirannya pada satu bidang.
Baginya, ia harus tahu dulu meskipun tidak ahli. Karena jika ia ternyata harus menekuni satu bidang, maka ia tak akan sulit untuk mengerti dasarnya. Dan tentunya proses belajaranya juga akan lebih cepat dibanding orang lain.
Saat ini ia menikmati profesinya sebagai driver ojek online. Selain pendapatannya lumayan dan melebihi UMR di daerahnya, profesi ini membuatnya bertemu berbagai macam orang. Baik itu pelanggan maupun rekan sesama driver.
Di sebuah warkop yang dimiliki oleh seorang teman, Kemal memandang handphone-nya sambil membuka google maps. Ia berniat untuk mencari desa asal sang ibu. Desa dimana leluhurnya dikebumikan.
Ia mengais apa yang ia ingat ketika kecil, mulai dari kata yang sering ia dengar yang sekiranya merupakan nama tempat. Yang ia tau hanya kata Kujang, sebuah kabupaten di timur pulau Jawa. Selebihnya ia masih terus mengais apa yang bisa ia ingat.
Kata selanjutnya yaitu Lapengan, sebuah kata yang ia percaya bisa menjadi petunjuk kuat terhadap daerah asal muasal leluhurnya. Dan ketika ia meng-google kata itu, yang muncul adalah area sentra penghasil komoditas pertanian. Yang mana komoditas pertanian itu pernah digeluti oleh Harti, sang ibu.
Kemal memang memiliki jaringan pertemanan yang bisa dibilang cukup luas. Bertahun-tahun bergaul di warnet membuatnya mengerti membangun jaringan di dunia maya dengan orang-orang yang bisa dipercaya.
“Bar, awakmu nang Sidoarto tho? – Bar, kamu di Sidorato kan?” tanya Kemal pada Akbar yang tinggal di Sidoarto.
“Iyo Mas, ono opo? Kok koyok’e penting. – “Iya Mas, ada apa? Kok kayaknya penting.” Tak lama jawaban berisi pertanyaan dari Akbar tampil di layar.
“Kowe sibuk ora? Aku rencanane pengen njaluk kancani mlaku nang Kujang, arep nang kampunge emakku nang Lapengan. – Kamu sibuk apa gak? Aku rencananya pengen minta temani jalan-jalan ke Kujang, pengen ke kampungnya emakku di Lapengan.” jawab Kemal yang masih bisa berbahasa Jawa meskipun suka lupa kosakata.
“Ora sibuk Mas, iki ijek ngenteni ijasah lulusan. Sing penting kabari ae Mas, – “Gak sibuk Mas, ini masih nunggu ijasah lulusan. Yang penting dikabarin aja Mas,” jawab Akbar yang memang masih berumur 19 tahun dan baru mau lulus SMA.
“Iyo Bar, pokok’e bulan iki kok. Awakmu siapno sangu karo klambi ganti ae, transport ben aku sing nanggung, – Iya Bar, pokoknya bulan ini kok. Kamu siapkan aja uang saku sama pakaian ganti, transport biar aku semua yang tanggung.” ucap Kemal mantap.
“Iyo Mas, gampang. Pokok’e kabari seminggu sak durunge, – “Iya Mas, gampang. Pokoknya kabari seminggu sebelumnya,” jawab Akbar yang memang masih menggebu-gebu.
Kemal termenung sejenak mengingat kenangan masa kecilnya, mengingat beberapa denah di desa itu. Satu hal yang paling ia ingat ada 3 hal, sawah bersumur bor yang digunakan untuk menjemur rami, sebuah kolam ikan besar berair hijau yang kabarnya angker tak jauh dari rumahnya, d888an kompleks pemakaman yang letaknya tepat di belakang masjid terbesar di desa itu.
Meskipun hanya itu yang bisa ia ingat dengan jelas, namun beberapa cerita yang konon terjadi di desa itu ikut berputar di kepalanya. Segudang cerita aneh yang tak semuanya dapat ia ingat, hanya sebagian kecil yang masih terngiang.
Dahulu, sang budhe yang masih tinggal di desa sebelah pernah bercerita. Bahwa desa asal leluhur Kemal memiliki cerita kelam. Mulai dari sering ditemukan mayat tanpa identitas di pinggir jalan, hingga beberapa gangguan yang dialami penjual sayur.
Budhe kala itu juga menceritakan bahwa seluruh warga desa sempat diancam akan “disapu” oleh sang penguasa desa. Yang berarti seluruh penduduk desa akan dikutuk dan dihujani pagebluk yang bisa menghilangkan seluruh desa. Sehingga seluruh generasi yang saat itu berada di desa bisa musnah.
Tentu saja mengingat cerita tentang betapa wingitnya desa membuat Kemal sedikit bergidik. Namun ia juga penasaran dengan kebenaran cerita masa kecilnya itu. Yang mana itu aneh, bagaimana seorang anak kecil berumur kurang dari lima tahun didongengkan cerita mengerikan seperti itu.
Namun saat itu orang tak cukup mengerti akan trauma yang bercokol di alam bawah sadar seorang anak ketika diceritakan dongeng horor mengerikan seperti itu. Mungkin saja, itu bukan sekedar dongeng. Bisa jadi, itu adalah sebuah kenyataan pahit yang nyata adanya terjadi di desa. Karena sebisa yang diingat Kemal, di desa itu masih banyak pohon beringin, trembesi, dan jejeran pohon jati di pinggir jalan yang berbatasan dengan sawah.
***
“Buk, dulu kampungnya si Mbok tuh gimana? Katanya serem, wingit?” tanya Kemal tiba-tiba pada sang ibu. Ia memanggil neneknya dengan sebutan si Mbok juga karena saat itu ia mengikuti tantenya yang masih baru puber.
“Yaa begitulah, lha wong dulu aja sempet sering nemu mayat dalam karung di pinggir jalan kok. Pasti ditaruh di pinggir jalan sebelah sawah, di bawah pohon jati.” Harti bercerita singkat.
Tak bisa dipungkiri bahwa desa itu memang terlambat mengalami kemajuan. Bahkan ketika desa lain sudah ada listrik kolektif yang hanya dinyalakan pukul 6 sore hingga 11 malam dengan mesin diesel, di desa kelahiran Harti justru belum ada sama sekali. Bahkan jalanannya masih tanah, yang akan berlumpur ketika hujan.
Seketika Kemal bertanya dan meminta sang ibu menceritakan pengalaman-pengalaman dan kejadian yang ada di desa mereka. Meskipun terlihat sedikit enggan, namun akhirnya Harti menuruti permintaan anak sulungnya. Salah satunya adalah ketika Harti pulang tahun 1993 dan menjemput Kemal….
Sampe ketemu lagi minggu depan, Gan.

Diubah oleh saujanastory 29-07-2023 20:03
itkgid dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas