Kaskus

Story

Leny.KhanAvatar border
TS
Leny.Khan
ANGKUHNYA CINTA (Part 1)
ANGKUHNYA CINTA (PART 1-22 ending)

LENY KHAN

Aku memungut lembaran daun kering yang berguguran. Menyeret kaki menuju sebuah bangku taman bercat putih. Lalu mulai kutuliskan sebuah nama di atas daun kering itu menggunakan pulpen bertinta hitam yang selalu kubawa kemana saja. Entah kenapa, aku sangat suka sekali menulis di lembaran daun kering, meskipun akhirnya daun-daun itu kubuang juga.

Nama yang sama, aksara yang sama, hanya itu yang selalu kutuliskan. Senyumku selalu merekah saat menatap aksara yang sudah tertulis. Membuat sebuah rasa yang telah kupendam  selama hampir tiga tahun ini semakin membara. Walau aku sendiri sadar, tak mungkin memiliki pria itu. Pria bernama Devan yang saat ini berstatus duda, setelah istrinya yang tak lain adalah Meera, kakak kandungku  sendiri meninggal dunia akibat kecelakaan mobil saat usia pernikahan mereka baru menginjak tiga bulan. [/font][/size]
 
Namun aku jatuh cinta pada Devan jauh sebelum itu. Aku merasakan jantungku berdebar saat pertama kali ia datang bersama Ayahnya ke rumah kami. Di mana saat itu aku baru tahu, jika dia adalah lelaki yang sudah dijodohkan Ayah untuk Meera. Begitu patah hatinya aku kala itu, mengingat cintaku yang layu sebelum sempat berkembang.
 
Tapi begitulah jodoh, Allah yang menentukan. Bahkan Devan harus merelakan kepergian Meera, saat mereka masih mereguk indahnya pernikahan dan bulan madu. Ketika bunga cinta baru mulai merekah di hati mereka.
 
Dan kini, dua tahun sudah kepergian Meera, namun aku tak melihat ada tanda-tanda Devan menemukan pengganti. Bahkan ia terlihat lebih fokus dengan urusan kantornya. Ia juga sering mampir ke rumah menemui Ayah dan Mami. Mungkin hanya sekedar silaturahmi atau sekedar menemani Ayah bermain catur di teras depan.
 
“Pu?”  Sebuah suara bariton menyapaku. Aku terperanjat, walau tanpa menoleh pun aku sudah tahu siapa pemilik suara itu.
 
“Bang Dev?” Aku menatap tak percaya. Lelaki itu langsung mendaratkan tubuhnya yang berbalut kemeja biru muda dan dasi biru dongker bermotif abstrak, lengan kemeja ia gulung sampai ke siku. Aku sangat suka dengan gayanya itu.
 
Andai ia bisa mendengar detak jantungku saat mencium aroma parfumnya yang begitu elegan, tentu ia akan tahu apa yang tengah gadis berusia 24 tahun ini rasakan.
 
“Susah banget ya nyari kamu di kampus ini,” celetuknya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling taman yang sedikit sepi. “Kamu ngapain di sini? Niat kuliah nggak sih?”
 
“Aku lagi nyari angin segar aja kok, Bang. Dosennya ada halangan, jadi jam kuliahnya tertunda dua jam, mau pulang nanggung banget. Capek bolak-balik.”
 
“Makanya, mendingan nikah aja dari pada ngejar gelar terus, ntar ketuaan nggak ada yang mau baru tahu rasa kamu!"candanya sambil tertawa.
 
Aku terdiam. ‘Andai kamu tahu, Bang. Aku memilih meneruskan S2-ku karena ingin melupakanmu sejenak. Walau sudah tak ada Meera di sampingmu, tapi aku tahu kamu begitu sulit melupakannya. Buktinya sudah dua tahun kepergian Meera, kamu masih saja sendiri.
 
“Hei, dibilangin malah ngelamun nih anak.” Devan mengibaskan tangannya di depan wajahku. “Itu apaan pegang-pegang daun kering begitu?” Ia menunjuk lembaran daun kering yang masih ku genggam.
 
Aku tergagap, segera kubuang daun-daun itu. “Nggak apa-apa Bang, iseng aja lihat bentuk daunnya yang bermacam-macam.” jawabku sekenanya.
 
“Ngomong apa sih kamu, Pu? Ngaco!” Lagi-lagi Devan tertawa.
 
“Abang ngapain ke sini? Tumben nyari aku?”
 
Gantian Devan yang terdiam. Ia menatapku sebentar, sebelum kembali menatap ke depan. “Temani abang makan siang, yuk!” ajaknya.
 
Dahiku berkerut. “Makan siang? Tumben! Dalam rangka apa?” Pura-pura bertanya padahal aku girang banget diajak Devan.
 
“Tidak dalam rangka apa-apa, hanya ingin mengajak kamu saja. Mau nggak?”
 
“Aku ....“
 
“Jangan takut, aku sudah minta izin Ayah dan Mami untuk mengajakmu, dan mereka mengizinkan.”
 
Mataku membesar. “Benarkah?”
 
Devan mengangguk seraya tesenyum.
 
“Asiiiik, ayo kita pergi!”
 
Aku pun bangkit dari duduk dan berjalan penuh semangat, aku lupa kalau sudah meninggalkan lelaki yang masih duduk di bangku putih itu. Langkahku terhenti dan aku memutar badan, menemukan lelaki itu tengah membungkuk memungut dedaunan kering yang tadi kubuang. Jantungku berdetak sangat kencang saat melihat Devan memperhatikan sebuah nama yang tadi kutulis di sana. Kugigit bibir bawahku agar tak gemetar.
 
 Aku terpaku. Menduga-duga apa yang akan Devan katakan saat ia tahu, namanya yang tertulis di helaian daun kering itu.
 
Devan menoleh dengan raut yang sulit ditebak. Lalu dengan pelan ia berjalan mendekatiku. Embusan angin mempermainkan rambut hitam kecoklatan yang kumiliki. Aku menunduk saat ia berdiri tepat di depanku.
 
“Puja ... apa ini?” Ia menunjukkan daun kering itu padaku.
 
Tak berani mengangkat kepala, aku meremas-remas jemariku sendiri.
 
“Puja, jawab Abang, apa maksud semua ini?” 
 
“Aku ... aku hanya ... aku ... itu ....”
 
“Kamu mencintai Abang?” tanyanya pelan dan hati-hati. Aku semakin menundukkan kepala. Mataku mulai terasa panas dan berkabut.
 
“Katakan Puja, apakah kamu mencintai Abang? Kenapa nama Abang ada di lembaran daun kering ini? Apakah Abang adalah seseorang yang spesial untukmu?” tanyanya antusias.
 
Dengan lembut jemarinya menyentuh daguku, lalu ia mencoba mengangkat wajahku sehingga mata kami saling bertatapan. Aku tenggelam dalam tatapan netra bermanik hitam itu. Satu persatu butiran bening membasahi pipi.
 
“Katakan, Puja!”
 
“Ya, aku mencintai Abang, sejak pertama kali Abang datang ke rumah, tapi aku begitu terluka saat tahu ... kalau Meera sudah dijodohkan dengan Abang,” uraiku jujur. Entah dapat keberanian dari mana aku mampu mengakuinya.
 
“Kenapa tidak mengatakannya sejak dulu?”
 
“Karena aku tahu diri, Meera lebih pantas untuk Abang, sedang aku dianggap masih terlalu muda untuk sebuah urusan cinta kala itu. Hingga tak ada yang menyadari perasanku ini.”
 
“Maafkan Abang yang juga tak peka dengan perasaanmu. Tapi ....“ Devan mengusap wajahnya. “Abang belum bisa menggantikan Meera dengan siapa pun saat ini, Abang terlanjur mencintai Meera. Kamu sudah Abang anggap adik kandung abang sendiri.”
 
“Aku tak berharap menjadi pengganti Meera, aku mencintai Abang, tanpa berniat ingin memiliki Abang. Hanya mencintai, meskipun dalam diam. Maafkan jika Abang harus tahu semua ini. Aku sama sekali tak pernah berharap Abang membalas cintaku. Mencintaimu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri untukku.”  Kuhapus air mata dengan punggung tangan dan bergegas meninggalkannya. Aku lupa kalau tadi ia mengajakku makan siang.
 
“Puja! Puja tunggu!” Devan mengejar dan berhasil mencekal pergelangan tanganku.
 
“Tolong jangan permalukan aku di kampus ini, Bang!” pintaku sambil menepis tangannya. 

Devan terdiam, dan membiarkanku berlalu dari hadapannya.
 
[size=3][font="Times New Roman", serif][i]‘Ah, kenapa dia harus tahu tentang semua ini? Padahal aku sudah cukup bahagia mencintainya seperti ini. Sekarang apa yang harus kulakukan? Menghadapinya harus seperti apa? Pasti akan ada yang mengganjal saat ia datang ke rumah nanti. Ataukah ia tidak akan mengunjungi Ayah da Mami lagi karena semua ini?

Part 2 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...518b1e4a7ec131

Part 3 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cb957bc23a7240

Part 4 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cb957c6646c76f

Part 5 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...20846ce047af3e

Part 6
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...4dc1102d78507e

Part 7
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...70af7d8c39474e

Part 8
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...8f2d50b72ecf6e

Part 9
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...7d824cfa30ea0d

Part 10
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...35f9528b60b399

Part 11
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...51b66d22320f6d

Part 12
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...12384692137baf

Part 13
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...069f1892000380

Part 14
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...114e534d170179

Part 15
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...8c56678b0247ad

Part 16 https://www.kaskus.co.id/show_post/6...e4bc6bc03f2c31

Part 17 https://www.kaskus.co.id/show_post/6...c5f237fc65f77a

Part 18 https://www.kaskus.co.id/show_post/6...4035383a112c41

Part 19 https://www.kaskus.co.id/show_post/6...f9a504f732ba96

Part 20 https://www.kaskus.co.id/show_post/6...b64526fe580b43

Part 21 https://www.kaskus.co.id/show_post/6...a1b175b268b213

Part 22 (ending) https://www.kaskus.co.id/show_post/6...b16a2d3955aa48
Diubah oleh Leny.Khan 30-07-2023 00:52
Entin088Avatar border
ariesfastesAvatar border
bukhoriganAvatar border
bukhorigan dan 17 lainnya memberi reputasi
16
11.1K
64
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
Leny.KhanAvatar border
TS
Leny.Khan
#39
ANGKUHNYA CINTA (PART 12)
LENY KHAN

💐Bab 12💐

Malam beranjak ke peraduannya. Aku dan Devan masih berada di kamar yang sama. Tidur dalam pelukan hangatnya.

“Bang Dev!”

“Ya?” Tangannya asyik membelai rambutku.

“Mau jujur padaku?”

“Tentang apa?” Mata Devan terpejam, namun belum terlelap.

“Meera.”

“Apa yang ingin kamu ketahui tentang kakakmu?”

Sejenak menghela napas lega, karena mendapat sedikit sambutan darinya. Aku yakin, Devan menyimpan seribu misteri tentang Meera yang tak semua orang tahu, dan aku akan berusaha mengupasnya perlahan-lahan hingga tak satu pun ada rahasia diantara kami.

“Bagaimana caramu mencintai Meera?”

“Yang jelas tidak sama seperti Abang mencintaimu.”

“Maksud Abang?” Kutatap wajahnya, deru napasnya begitu hangat mengenai wajah.

“Abang tidak pernah mencintai Meera ... sedikit pun,” jawabnya lugas.

Aku terkejut. “Bagaimana bisa? Lalu pernikahan itu?”

Devan terdiam sejenak, matanya terbuka, hingga iris kami saling beradu. “Semua karena perjodohan yang tak mampu Abang tolak. Permintaan kedua orang tua kita yang sangat Abang hormati. Meskipun sebenarnya Abang telah jatuh cinta pada seorang gadis kekanakan yang begitu cantik, sejak pertama kali melihatnya. Tapi, mungkin saat itu kepatuhan terhadap orang tua, membuat Abang harus mengalah ... dan menerima Meera.”

“Benarkah?”

Devan mengangguk.

“Lalu kenapa saat itu Abang mengatakan kalau aku takkan bisa menggantikan Meera? Bahkan menyentuh fotonya saja aku tidak diizinkan? Juga membuatku seolah hidup di bawah bayang-bayang Meera?”

“Abang hanya ingin mendustai diri sendiri, Abang hanya ingin membuatmu membenci Abang, Abang hanya ....“

“Lalu kalau Abang memang ingin aku membenci Abang, kenapa menikahiku? Kenapa membawaku dalam kehidupan Abang?” potongku, sedikit menjauhkan diri darinya.

“Karena Abang terlalu mencintaimu, Puja.”

“Dengan cara menyakitiku?”

“Bukan, bukan begitu. Abang sama sekali tidak bermaksud menyakitimu.”

“Lalu?”

“Entahlah, Pu. Harusnya Abang tidak memintamu menikah dengan Abang, tapi ....“

“Tapi apa?” Mataku menatapnya tajam.

“Tapi Abang tidak rela melepasmu begitu saja, cinta ini terlalu besar untukmu. Abang takkan rela menerima kenyataan jika nanti kamu menjadi milik orang lain.” Gusar rautnya menjelaskan.

Aku kembali beringsut mendekatinya, masih dengan tatapan yang sama. “Benarkah cinta Abang begitu dalam untukku?” tanyaku setengah berbisik.

Devan mengangguk. “Ya, Abang sangat mencintaimu,” lirihnya.

“Abang mau melakukan apa saja agar aku bahagia bukan?”

“Tentu saja, asal jangan minta Abang menjauhimu.”

“Kalau begitu ... aku ingin ... malam ini ... Abang perlakukan aku sebagaimana seorang suami memperlakukan istrinya.” Raut wajah Devan langsung berubah pucat.

“Sentuh aku, selayaknya istri Abang, sebagaimana dulu ... Abang memperlakukan Meera meskipun Abang tidak mencintainya.”

“Kamu bicara apa Puja?” Devan gemetar, tiba-tiba ada yang aneh dengan pria ini. “Abang tidak pernah menyentuh Meera sekali pun selama hidupnya!“

“Apa? Tidak pernah? Bukankah ... ?“ Mataku terbelalak. Kulihat napas Devan naik turun, ada keringat dingin mengucur di dahinya. “Bukankah saat di otopsi, Meera dinyatakan hamil satu bulan oleh dokter?”

“Iya, itu memang benar, dan Abang sudah tahu itu semua sebelum kepergian Meera.” Suaranya terbata. Lalu ia bangkit, duduk di tepi ranjang. Aku pun ikut bangkit, duduk di sebelahnya.

Devan menyeka keringat yang menetes di dahinya. Suhu dingin AC seolah tak mampu meredamnya.

“Kalau Abang tidak pernah menyentuhnya ... bagaimana Meera bisa hamil?”

“Sudah Puja, cukup! Hentikan!” bentaknya sambil berdiri, meremas-remas rambutnya dengan gelisah. Satu sisi dari Devan yang baru kulihat detik ini, dan benar-benar membuatku terkejut. Ada apa dengannya?

***

Devan menyeka keringat yang menetes di dahinya. Suhu dingin AC tak mampu meredamnya.

“Kalau Abang tidak pernah menyentuhnya ... bagaimana Meera bisa hamil?”

“Sudah Puja, cukup! Hentikan!” bentaknya sambil berdiri, meremas-remas rambutnya dengan gelisah.

Satu sisi dari Devan yang baru kulihat detik ini, dan benar-benar membuatku terkejut. Ada apa dengannya? Aku terpaku melihatnya. Pria itu membawa diri duduk di atas sofa di sudut kamar. Ia menunduk sambil mengusap wajahnya.

Kuajak tubuh beringsut turun dari ranjang, berjalan perlahan mendekatinya, dan ikut duduk bersamanya di sofa itu. Aku tak ingin lagi menunggu, aku ingin membuat Devan mengatakan semuanya malam ini, agar semuanya jelas.

“Apa yang terjadi?” tanyaku berbisik, memegang bahunya dengan lembut, “katakan semua padaku, bukankah Abang mencintaiku? Kejujuran adalah salah satu syarat mencintai.”

Devan memandangku sejenak, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, matanya menerawang jauh. “Kamu tahu, Pu? Meera mau menikah dengan Abang, hanya karena dia tidak ingin orang tuamu tahu, jika dia mempunyai hubungan dengan salah satu karyawan Ayahmu. Hingga saat kami menikah, Meera masih berhubungan dengan lelaki itu tanpa sepengetahuan Abang. Meera tak pernah mau Abang sentuh sedikit pun.”

“Meera seperti itu? Aku tidak percaya. Karena Meera wanita baik, dan bukan ....“

“Bahkan kamu sebagai adiknya saja tidak tahu siapa dia sebenarnya.” Devan memotong ucapanku dengan tatapan tajam. Aku terdiam dibuatnya.

“Sungguh menyakitkan saat dia tidak menganggap Abang sebagai suaminya, dan dia semakin menggila saat .... “ Devan membuang pandangan dari wajahku, mengatup kedua bibir, dan kembali meremas rambutnya. “Meera bilang kalau dia tengah hamil, hasil perbuatan laknatnya dengan kekasihnya itu, hingga terjadilah pertengkaran hebat, sampai Abang bilang kalau sebenarnya Abang mencintaimu bukan dia. Abang ingin menceraikannya tapi dia menolak, dia bersikeras ingin mempertahankan pernikahan kami. Abang bilang, kalau Abang tidak mau, karena Abang begitu mencintaimu, lalu dia mengancam ....“ Devan terdiam, matanya telah basah. Wajahnya begitu gundah.

‘Meera ... memalukan sekali kelakuanmu di belakang keluarga. Hebatnya dirimu bersembunyi di balik topeng kepatuhan dan kelembutanmu itu,’ batinku geram.

“Apa yang dia katakan?” tanyaku antusias.

“Ah, sudahlah, itu tidak penting. Yang jelas, saat ini kamu aman bersama Abang, tidak akan ada yang menyakitimu.” Devan berkilah.

“Lalu suatu hari, Meera menemukan surat kesehatan Abang, dia mengancam akan memberitahu seluruh keluarga jika Abang menceraikannya, dia bilang dia akan mempermalukan Abang, dan Abang tidak mau itu terjadi, sungguh itu suatu pilihan berat buat Abang. Abang menyimpan semua aib Meera, sampai ... sampai dia pergi. Tak seorang pun yang tahu apa yang sebenarnya telah terjadi antara kami berdua.”

Jantungku berdebar. “Surat kesehatan tentang apa yang Meera temukan?” Aku berharap bukan surat kesehatan tentang penyakit yang mengerikan itu.

Devan menarik napas, tampaknya ia sedang berusaha menguasai diri. “Kamu yakin siap mendengarkannya?”

“Apa pun, aku siap mendengarkannya. Lebih baik pahit di awal, dari pada ada penyesalan di kemudian hari,” jawabku lirih.

“Abang takut ... kamu akan meninggalkan Abang.”

“Aku berjanji, akan bersikap seadil mungkin dalam menyikapi semuanya.”

“Puja ... apa pun yang akan Abang katakan, jangan pernah pergi dari hidup Abang!” Devan menangis.

Kugenggam jemarinya. “Katakan semuanya tanpa ada yang ditutupi, Bang!”

“Abang ... Abang bukan lelaki sempurna, Puja.”

Aku menahan napas.

“Abang tidak akan bisa memberimu keturunan. Abang lelaki yang sangat tidak beruntung. Untuk itulah kenapa Abang tidak pernah mau menyentuhmu, Abang takut mengecewakanmu jika ....“

“Bang,” potongku. Jujur, sebenarnya aku belum siap mendengar kenyataan ini, tapi aku tak boleh menunjukkan itu pada Devan, aku harus menjadi kekuatan untuknya. Bukankah aku mencintainya? Lalu bukankah cinta itu seharusnya saling menerima kekurangan masing-masing? Bukankah cinta itu seharusnya hadir tanpa syarat?

”Aku ingin ... kita hidup normal, layaknya suami istri yang lain. Aku ingin ... apa pun keadaan Abang, kita tetap saling mencintai. Urusan keturunan, adalah urusan Tuhan. Tidak seorang manusia pun berhak memvonisnya.” Kucoba bersikap bijak, meskipun tak kupungkiri hati terasa sedikit teriris.

Devan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak, Abang tidak bisa. Abang tidak ingin suatu hari nanti kamu kecewa karena ....“

“Siapalah kita yang bisa mengetahui masa depan?” potongku. “Bukankah Tuhan Maha Adil? Bukankah kasih sayang Tuhan tak bertepi? Lalu apa yang membuat kita ragu akan keadilan-Nya?” Aku mengulang kalimat yang pernah Mbak Rima katakan padaku.

Nanar mata teduhnya menatapku, keangkuhan yang mulai terkikis dari seorang pria bernama Devan.

“Abang siap, jika memang kamu ingin pergi.”

“Tidak akan ada yang akan pergi, baik aku atau pun Abang. Kita akan selalu bersama, kita akan selalu menjadi pasangan yang saling mencintai. Mari kita dekatkan diri pada Sang Maha Pencipta, agar kita bisa menjadi manusia yang lebih baik dan ... semoga nanti, ada takdir terindah yang akan Tuhan berikan untuk kita.”

“Puja ....” Devan menarikku ke dalam pelukannya, begitu erat. “Maafkan Abang, maafkan atas semua yang telah Abang lakukan, hingga kamu harus berada pada situasi sejauh ini.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua sudah berjalan sesuai takdir, hanya tinggal kita menjalani saja,” ucapku dengan air mata yang mulai mengalir deras.

Devan melepas pelukannya, menatap dengan mata yang sama-sama basah. Ujung jarinya dengan lembut mengusap air mataku. “Kamu siap menjalani hidup baru dengan pria tak sempurna ini?” Serak suaranya bertanya.

Kucoba tersenyum dan mengangguk. “Aku siap menjalani semuanya, asalkan ada Abang di sampingku.”

“Jangan katakan apa pun pada keluarga kita, berjanjilah! Biarkan semua berjalan apa adanya, biarkan Meera dengan segala rahasia hidupnya.”

“Iya, aku berjanji. Ini hanya tentang kita berdua, dan hanya kita berdua yang akan menjalani,” bisikku lirih.

Hening. Hanya mata yang saling bicara, ketika deru napas Devan terdengar memburu. Aku memejamkan netra saat bibirnya mengecup pelan bibirku untuk yang pertama kali.

Malam ini, semua berakhir. Devan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sejak ia menikahiku. Tak ada lagi sekat di antara kami. Semua hilang bersama hangatnya rasa cinta dan rindu yang begitu lama terpendam. Melepaskan segala gejolak hasrat yang selama ini hanya bisa tertahan karena sebuah keangkuhan tak beralasan.

***
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.