- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
SUPPORT AGAR ANE SEMANGAT TERUS UNTUK MENULIS YA, KALIAN BISA KIRIM TRAKTEER DISINI.
TRAKTIR CENDOL
Diubah oleh jurigciwidey 11-02-2026 11:19
tiokyapcing dan 51 lainnya memberi reputasi
50
36.8K
Kutip
436
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#101
Updatenya sedikit panjang karena kemarin ga update
Doain hari jumat ane ketemu sama orang yang tertarik ngangkat cerita ane terutama tentang desa kolong mayit untuk di jadiin film
semoga diberi kelancaran dan bisa tembus tentang cerita ane ini
Doain hari jumat ane ketemu sama orang yang tertarik ngangkat cerita ane terutama tentang desa kolong mayit untuk di jadiin film
semoga diberi kelancaran dan bisa tembus tentang cerita ane ini
BAB 30 - Tempat keramat
Quote:
“Jadi Bapak, kita sekarang akan berangkat kemana?”
“Jadi kita akan berangkat ke sebuah petilasan neng, sebuah petilasan dari orang-orang yang dulu menemukan tempat ini, meskipun ya desa kita mempunyai sejarah yang kelam sehingga kita menetap disini sampai hari ini. tapi, mau bagaimana pun kita harus menghormati tuan rumah yang sebenarnya, yang sudah memberikan tempat bagi kita untuk tinggal disini.”
Rara kini sudah berada di depan kamera bersama dengan Pak Cece yang merupakan ketua Desa Kolong Mayit. meskipun dirinya terlihat sedikit agak risih karena banyak sekali mata yang melihat ke arah dirinya dari kegelapan malam di desa tersebut.
Pak Cece berjalan sambil membawa sebuah keresek berisikan darah ayam, kembang tujuh rupa, juga beberapa buah dupa yang akan dibakar disana.
Memang wajar, sebuah desa di tengah hutan yang melestarikan ritual-ritual leluhur yang saling bersinggungan dengan para mahluk gaib akan selalu membuat Rara waspada. apalagi mimpi yang baru dia rasakan baru-baru ini, tentang sesosok bayangan hitam yang selalu terbayang olehnya.
Namun, Rara terlalu enggan untuk menanyakan tentang bayangan hitam itu kepada Pak Cece, karena yang dia lihat adalah Mbah Walang bukan warga Desa Kolong Mayit
Rara dan Pak Cece akhirnya berjalan menyusuri desa dengan kamera yang menyala, desa ketika yang kini sepi seperti tidak berpenghuni, suasananya sama persis dengan mimpi yang dia temui.
Sehingga dirinya merasakan suatu keanehan pada desa ini ketika menyusurinya bersama dengan Pak Cece yang ada disampingnya.
Apalagi
“Astagaaaa” kata Rara yang mendadak kaget setelah dia melihat ke arah kiri ketika berjalan menyusuri desa bersama dengan pak cece
“Cut, cut, cut”
“Lu lihat apa sih ra…..”
Dewi yang fokus di belakang mereka langsung menghentikan pengambilan video ketika melihat expresi rara seperti itu. reflek dirinya langsung melihat ke arah kiri, dan ternyata rara melihat sesuatu yang sedang duduk di salah satu rumah yang ada di sebelah mereka.
“Eh, Ma Uneh”
Dewi juga sedikit kaget karena tiba-tiba ada Ma Uneh yang duduk di depan rumahnya dan sedang melihat mereka yang sedang mengambil video pada malam itu.
Dia membawa sebuah lentera yang menjadi penerangan satu-satunya dan dia simpan di sebelahnya. rumah yang gelap gulita itu hanya diterangi oleh lentera yang dia bawa sehingga hal itu membuat rara dan beberapa orang disana kaget.
Pak Cece hanya tersenyum, dia berkata bahwa sudah biasa ma uneh diluar rumah ketika malam. dia yang hidup sendiri sering merasakan sebuah ketenangan ketika dirinya sedang berada diluar.
Danang, Ardi, Dimas yang belum sempat bertemu ma uneh hanya tersenyum. begitu juga pak brata beserta aji dan eko.
bahkan Pak Brata memerintahkan Aji dan Eko untuk mendekatinya dan memberikan beberapa lembar uang berwarna merah untuk dirinya.
“kasih ke dia biar dia tidak menganggu proses pengambilan video yang sedang kita buat, bilang saja buat tambah-tambah beli beras, kita sebagai tamu harus memberi apa yang kita punya.” kata Pak Brata yang mengambil beberapa uang kertas yang ada di sakunya kepada Aji dan Eko
Mereka berdua yang mengerti atas perintah Pak Brata hanya mengangguk, lalu mendekati dirinya sambil membawa uang tersebut.
Meskipun, taklama mereka kembali dengan uang yang masih mereka pegang, ada penolakan dari Ma Uneh akan uang-uang tersebut. entah mengapa dirinya tidak mau menerima.
Dia hanya berkata, bahwa dirinya senang melihat Rara dan Dewi yang cantik, sehingga dia ingin melihat Rara dan Dewi lebih lama meskipun di malam seperti ini.
Pak Cece yang mendengar hal itu langsung ikut mendekati Ma Uneh, setelah mengobrol selama beberapa menit akhirnya dirinya kembali dan berkata kepada Dewi bahwa proses pengambilan video akan kembali berlangsung pada malam itu dan menghiraukan Ma Uneh yang masih duduk melihat mereka semua.
Pengambilan video itu kembali berlangsung, Rara yang berada di depan kamera mencoba mencari tahu semua informasi tentang Desa Kolong Mayit dari Pak Cece yang merupakan ketua desa disana.
Proses itu memakan waktu cukup lama, karena mereka berjalan keluar desa, melewati sebuah hutan kecil dibelakang desa untuk sampai ke tempat yang disebut petilasan oleh Pak Cece dan warga desa.
Di tengah-tengah syuting yang tengah berlangsung itu. Dimas nampak memperhatikan Ardi dan Danang yang nampak berbeda. mereka berdua nampak lebih pendiam dari sebelumnya, tidak terlalu banyak komunikasi dari mereka berdua terhadapnya.
Biasanya mereka akan sedikit bercanda dan saling mengejek satu sama lain di saat-saat seperti ini. Apalagi danang, yang seringkali membuat hal-hal yang tidak terduga dan bisa dijadikan konten tambahan untuk mereka.
“Lu berdua kenapa sih sekarang pendiem, waktu lu berada di Leuweung Kunti lu pada ga mengalami kejadian apapun,” kata Dimas yang berkata kepada Danang dan Ardi sambil matanya fokus ke arah kamera yang sedang menyoroti Rara dan Pak Cece pada saat itu.
“E, engga mas, gue kan di area tenda bareng Pak Brata. gue hanya menemani dirinya yang ditinggal oleh kalian,” kata Ardi yang menjawab hal itu dengan sedikit terbata-bata.
“Kalau lu nang, lu semenjak ngikut sama Mbah Walang, lu jadi sedikit pendiem. ketika tadi pas nyampe sini dan si Rara berdiskusi perihal kelanjutan dokumenter ini lu yang biasanya ngikutin apa yang Rara katakan malah cuman ngangguk-ngangguk aja.”
“Lu di guna-guna sama Mbah Walang biar mulut cablak lu diem atau gimana?” kata dimas yang berusaha mengorek atas perubahan sikap mereka berdua.
“Kalau gue ya, jujur,” kata Danang sambil melirik ke arah Pak Brata dan dua pengawalnya yang ada di belakang mereka.
“Ketika gue bawa kamera lo untuk ngejar Mbah Walang, gue tiba-tiba ga tau apa yang terjadi selanjutnya”
“Yang gue tau, gue tiba-tiba dibangunin sama Mbah Walang pas pagi tiba. lalu dia berkata bahwa gue kemaren tersesat dan ditemukan oleh Mbah Walang”
“Di saat gue yang sedang kebingungan itu, gue langsung di ajak ke desa ini. dan mbah walang entah mengapa kembali menghilang lagi.”
“Entah mengapa tiap gue mikir apa yang terjadi kemaren malem, kepala gue selalu pusing, apakah bener gue tersesat.”
“Namun, ketika gue melihat rekaman dari kamera yang sempat gue rekam, gue ternyata mengikuti Mbah Walang ke dalem hutan sampe kamera itu mati, namun gue ga tau ada apa disana,” kata Danang sambil memegang kepalanya yang sedikit pusing ketika memikirkan hal itu kembali.
Ardi yang mendengar hal itu langsung melepaskan headsetnya, dia mendengarkan apa yang danang bicarakan, bahkan mereka kini saling berdekatan agar mereka bisa saling mengobrol di tengah-tengah pengambilan video yang sedang berlangsung.
Jjujur, gue mengalami keanehan selama kita disini, dimulai dari gue melihat lo nang di hutan bareng Mbah wWalang di rumah singgah itu, lalu lu yang tiba-tiba ga inget ketika ngejar Mbah Walang”
“Sebenarnya gue khawatir sehingga gue lebih banyak diam sekarang, apalagi ketika bareng Pak Brata. gue merasakan sebuah keanehan atas apa yang sedang dirinya lakukan bareng kita.”
“Namun, gue juga ga mau bikin si Dewi kecewa, dia sudah seneng banget dapet sponsor ini. apalagi duit kontraknya gede, dan kalau kita batalin ini kita harus bayar pinalti.”
“Sehingga ketika si Rara ngebet berdiskusi ketika kita semua sudah berkumpul di desa akan kelanjutan dokumenter ini, gue lebih memilh diam, dan kayaknya si Danang juga sama.”
“Jadi ya, gue sekarang ngikut-ngikut aja, karena semakin kesini. gue semakin merasa banyak keanehan di tempat ini.”
***
Nampak seseorang sedang duduk di sebuah saung kecil di tengah hutan, sekelilingnya ada sebuah batu besar dengan banyak sekali sesajen di bawahnya.
Tepat di belakang batu tersebut terdapat salah satu beringin yang besar dengan dahan-dahan pepohonannya yang rimbun sehingga membuat tempat tersebut terasa sunyi dan gelap. Lalu di sekelilingnya, terlihat banyak sekali ditumbuhi oleh pohon bambu yang menutupi tempat itu sehingga hanya ada satu jalan saja yang sudah diberi gapura oleh warga desa untuk jalan masuk dan keluar dari tempat tersebut.
Petisalan Aki Wiguna, itulah yang terlihat dari sebuah papan nama dari gapura kecil yang sudah sedikit usang.
Sebuah petilasan yang paling di hormati oleh warga desa, karena apapun yang mereka lakukan mereka pasti akan meminta petunjuk ke tempat ini untuk diberikan pencerahan seperti yang mereka lakukan oleh leluhur-leluhur mereka.
Terlihat, seseorang nampak duduk bersila dibawah batu besar itu. dan tak lama, dirinya seperti merasakan bahwa tim rarasukma beserta Pak Brata dan ketua desa datang ke petilasan pada malam ini.
Sehingga, dia akhirnya berdiri dan berusaha menyambut mereka disana.
Terdengar pula sebuah suara dari rumpun bambu yang sedang mengelilinginya ketika dirinya membuka mata dan berdiri berbalik ke arah gapura pintu masuk yang tak jauh dari dirinya.
Lama kelamaan, terlihat sebuah cahaya senter yang muncul secara perlahan dari sela-sela rumpum bambu dari luar dan perlahan masuk ke dalam.
Itu adalah Rara, Dewi bersama tim nya.
Seperti tahu bahwa dirinya belum sempat menemui Pak Cece selaku kepala desa yang ada disana. dirinya langsung menyambut mereka sehingga Dewi yang awalnya merekam pengambilan video langsung menghentikan pertemuan yang tidak dia ketahui itu.
“Maaf Pak Cece, aku belum sempat bertemu.”
“Karena aku ditugaskan oleh Pak Brata untuk menjaga anak-anak ini sehingga terkadang aku harus melakukan sesuatu diluar dari aturan yang ada di tempat ini.”
Dewi, Rara juga ketiga orang yang satu tim dengannya terlihat sedikit heran dengan perubahan sikap Mbah Walang. dirinya yang awalnya keras dengan tatapan yang tajam kini seperti menaruh hormat kepada Pak Cece.
Pak Brata yang ada dibelakangnya hanya diam dan memperhatikan atas apa yang Mbah Walang lakukan. dia tidak berkomentar apa-apa karena dia tidak mau terlibat oleh sesuatu yang tidak dia ketahui pada saat itu.
Pak Cece hanya terdiam, matanya tajam seperti ada sebuah kemarahan yang dia buat. dia menatapa Mbah Walang sekitar dua menit dan berjalan mengelilinginya.
“Maneh ulah nyiar-nyiar pimasalahaheun, nu geus aya di desa ieu ulah maneh utak-atik, geus kuduna jigah kieu. soalna urang jeung warga desa saling nga hargaan ka kabeh anu hirup didieu, edek eta manusia atau bangsa lain salain ti urang. (Kamu tidak boleh mencari-cari masalah, yang sudah ada di desa ini jangan kamu utak-atik. sudah seharusnya seperti ini. karena aku dan warga desa saling menghargai semuanya yang hidup disini, mau manusia atua bangsa lain selain kita.)”
Pak Cece sempat melirik ke arah Rara dan Dewi bersama Dimas, Danang dan Ardi yang ada dibelakangnya. lalu tak lama dia berkata lagi ke Mbah Walang yang sedikit menunduk.
“Geus, ayeunamah, maneh ngobrol jeung urang di imah. tong aya didieu, ngobrol jeung urang duaan sabenerna naun maksud maneh anu benerna. tong nyieun urang lieur ku kalakuan maneh. (Sudah, sekarang, kamu berbicara kepadaku dirumah. jangan disini, ngobrol berdua denganku sebenarnya apa maksudmu yang sebenarnya. jangan bikin kita pusing dengan kelakukanmu.)”
Mbah Walang mengangguk, tanpa sekalipun dia menjawab atas apa yang dikatakan Pak Cece pada saat itu.
Pak Cece yang sedang membawa kresek untuk ritual di petilasan itu langsung memberikannya ke Rara. dia berkata bahwa Mbah Walang lebih penting dari pengambilan video yang sedang mereka ambil sekarang.
Bahkan, dia bertanya ke Pak Brata pada saat itu.
“Pak, apakah Pak Brata mau bersama anak-anak ini atau ikut pulang ke desa untuk beristirahat.”
Pak Brata tersenyum kecil, dia sepertinya tidak mau ikut bersama Tim Rarasukma tanpa ada proteksi dari Mbah Walang. sehingga dia hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan mendekati Dewi yang pada saat itu berdiri di dekat Pak Cece.
“Aku percayakan malam ini kepada kalian, kalian sudah tau kan harus seperti apa. namun mohon maaf, kita belum bisa menemani kalian sekarang.”
Pak Cece mengangguk, dia berbicara kepada Rara untuk meletakan semua yang ada di kresek itu di bawah batu besar dan menyalakan dupa yang ada disana.
“Semua yang ada disini harus berjalan sebagaimana mestinya, tidak boleh ditutup, tidak boleh dilarang, maupun tidak boleh di halang-halangi.”
Pak Cece tiba-tiba mengangkat tangannya. dan menjentikan jarinya beberapa kali sebelum akhirnya dirinya pergi bersama dengan Mbah Walang dan Pak Brata.
Tak lama, mereka pun akhirnya pergi. meninggalkan mereka berlima disana dengan senter dari kamera Dimas sebagai satu-satunya penerangnya.
“Jadi gimana ini Wi, kita lanjut saja atau gimana.” Kata Dimas sambil melihat ke sekeliling area yang penuhi oleh rumpun bambu yang lebat.
“Ya lanjut lah, paling nanti lu nang masuk frame lagi sama Rara, sekalian praktekin apa yang tadi Pak Cece katakan. lu dimas dan ardi berdiri aja di belakang gue kita shoot secara perlahan melihat Rara berjalan ke arah besar itu” kata Dewi dengan nada yang percaya diri.
Semua orang termasuk Rara mengangguk, mereka pun akhirnya bersiamp-siap untuk memulai pengambilan gambar di petilasan itu dengan kamera yang menyala.
namun
Tepat ketika Dimas menekan tombol Rekam.
Tiba-tiba
Arggggggghhhh
Ardi tiba-tiba berteriak, dia melepas headsetnya dan melemparkannya ke arah Dimas yang ada di depannya.
Sontak hal itu membuat Dimas dan orang-orang disana langsung melihat ke arah Ardi.
“Lu kenapa sih di, udah mau mulai juga ini,” kata Dimas sambil sedikit emosi.
“I, itu, gu, gue denger suara tertawa yang keras banget ampe telinga gue sakit.”
“Su,suara dengan nada yang berat menggema di headset gue.” Kata Ardi dengan wajahnya yang tiba-tiba pucat.
“Jadi kita akan berangkat ke sebuah petilasan neng, sebuah petilasan dari orang-orang yang dulu menemukan tempat ini, meskipun ya desa kita mempunyai sejarah yang kelam sehingga kita menetap disini sampai hari ini. tapi, mau bagaimana pun kita harus menghormati tuan rumah yang sebenarnya, yang sudah memberikan tempat bagi kita untuk tinggal disini.”
Rara kini sudah berada di depan kamera bersama dengan Pak Cece yang merupakan ketua Desa Kolong Mayit. meskipun dirinya terlihat sedikit agak risih karena banyak sekali mata yang melihat ke arah dirinya dari kegelapan malam di desa tersebut.
Pak Cece berjalan sambil membawa sebuah keresek berisikan darah ayam, kembang tujuh rupa, juga beberapa buah dupa yang akan dibakar disana.
Memang wajar, sebuah desa di tengah hutan yang melestarikan ritual-ritual leluhur yang saling bersinggungan dengan para mahluk gaib akan selalu membuat Rara waspada. apalagi mimpi yang baru dia rasakan baru-baru ini, tentang sesosok bayangan hitam yang selalu terbayang olehnya.
Namun, Rara terlalu enggan untuk menanyakan tentang bayangan hitam itu kepada Pak Cece, karena yang dia lihat adalah Mbah Walang bukan warga Desa Kolong Mayit
Rara dan Pak Cece akhirnya berjalan menyusuri desa dengan kamera yang menyala, desa ketika yang kini sepi seperti tidak berpenghuni, suasananya sama persis dengan mimpi yang dia temui.
Sehingga dirinya merasakan suatu keanehan pada desa ini ketika menyusurinya bersama dengan Pak Cece yang ada disampingnya.
Apalagi
“Astagaaaa” kata Rara yang mendadak kaget setelah dia melihat ke arah kiri ketika berjalan menyusuri desa bersama dengan pak cece
“Cut, cut, cut”
“Lu lihat apa sih ra…..”
Dewi yang fokus di belakang mereka langsung menghentikan pengambilan video ketika melihat expresi rara seperti itu. reflek dirinya langsung melihat ke arah kiri, dan ternyata rara melihat sesuatu yang sedang duduk di salah satu rumah yang ada di sebelah mereka.
“Eh, Ma Uneh”
Dewi juga sedikit kaget karena tiba-tiba ada Ma Uneh yang duduk di depan rumahnya dan sedang melihat mereka yang sedang mengambil video pada malam itu.
Dia membawa sebuah lentera yang menjadi penerangan satu-satunya dan dia simpan di sebelahnya. rumah yang gelap gulita itu hanya diterangi oleh lentera yang dia bawa sehingga hal itu membuat rara dan beberapa orang disana kaget.
Pak Cece hanya tersenyum, dia berkata bahwa sudah biasa ma uneh diluar rumah ketika malam. dia yang hidup sendiri sering merasakan sebuah ketenangan ketika dirinya sedang berada diluar.
Danang, Ardi, Dimas yang belum sempat bertemu ma uneh hanya tersenyum. begitu juga pak brata beserta aji dan eko.
bahkan Pak Brata memerintahkan Aji dan Eko untuk mendekatinya dan memberikan beberapa lembar uang berwarna merah untuk dirinya.
“kasih ke dia biar dia tidak menganggu proses pengambilan video yang sedang kita buat, bilang saja buat tambah-tambah beli beras, kita sebagai tamu harus memberi apa yang kita punya.” kata Pak Brata yang mengambil beberapa uang kertas yang ada di sakunya kepada Aji dan Eko
Mereka berdua yang mengerti atas perintah Pak Brata hanya mengangguk, lalu mendekati dirinya sambil membawa uang tersebut.
Meskipun, taklama mereka kembali dengan uang yang masih mereka pegang, ada penolakan dari Ma Uneh akan uang-uang tersebut. entah mengapa dirinya tidak mau menerima.
Dia hanya berkata, bahwa dirinya senang melihat Rara dan Dewi yang cantik, sehingga dia ingin melihat Rara dan Dewi lebih lama meskipun di malam seperti ini.
Pak Cece yang mendengar hal itu langsung ikut mendekati Ma Uneh, setelah mengobrol selama beberapa menit akhirnya dirinya kembali dan berkata kepada Dewi bahwa proses pengambilan video akan kembali berlangsung pada malam itu dan menghiraukan Ma Uneh yang masih duduk melihat mereka semua.
Pengambilan video itu kembali berlangsung, Rara yang berada di depan kamera mencoba mencari tahu semua informasi tentang Desa Kolong Mayit dari Pak Cece yang merupakan ketua desa disana.
Proses itu memakan waktu cukup lama, karena mereka berjalan keluar desa, melewati sebuah hutan kecil dibelakang desa untuk sampai ke tempat yang disebut petilasan oleh Pak Cece dan warga desa.
Di tengah-tengah syuting yang tengah berlangsung itu. Dimas nampak memperhatikan Ardi dan Danang yang nampak berbeda. mereka berdua nampak lebih pendiam dari sebelumnya, tidak terlalu banyak komunikasi dari mereka berdua terhadapnya.
Biasanya mereka akan sedikit bercanda dan saling mengejek satu sama lain di saat-saat seperti ini. Apalagi danang, yang seringkali membuat hal-hal yang tidak terduga dan bisa dijadikan konten tambahan untuk mereka.
“Lu berdua kenapa sih sekarang pendiem, waktu lu berada di Leuweung Kunti lu pada ga mengalami kejadian apapun,” kata Dimas yang berkata kepada Danang dan Ardi sambil matanya fokus ke arah kamera yang sedang menyoroti Rara dan Pak Cece pada saat itu.
“E, engga mas, gue kan di area tenda bareng Pak Brata. gue hanya menemani dirinya yang ditinggal oleh kalian,” kata Ardi yang menjawab hal itu dengan sedikit terbata-bata.
“Kalau lu nang, lu semenjak ngikut sama Mbah Walang, lu jadi sedikit pendiem. ketika tadi pas nyampe sini dan si Rara berdiskusi perihal kelanjutan dokumenter ini lu yang biasanya ngikutin apa yang Rara katakan malah cuman ngangguk-ngangguk aja.”
“Lu di guna-guna sama Mbah Walang biar mulut cablak lu diem atau gimana?” kata dimas yang berusaha mengorek atas perubahan sikap mereka berdua.
“Kalau gue ya, jujur,” kata Danang sambil melirik ke arah Pak Brata dan dua pengawalnya yang ada di belakang mereka.
“Ketika gue bawa kamera lo untuk ngejar Mbah Walang, gue tiba-tiba ga tau apa yang terjadi selanjutnya”
“Yang gue tau, gue tiba-tiba dibangunin sama Mbah Walang pas pagi tiba. lalu dia berkata bahwa gue kemaren tersesat dan ditemukan oleh Mbah Walang”
“Di saat gue yang sedang kebingungan itu, gue langsung di ajak ke desa ini. dan mbah walang entah mengapa kembali menghilang lagi.”
“Entah mengapa tiap gue mikir apa yang terjadi kemaren malem, kepala gue selalu pusing, apakah bener gue tersesat.”
“Namun, ketika gue melihat rekaman dari kamera yang sempat gue rekam, gue ternyata mengikuti Mbah Walang ke dalem hutan sampe kamera itu mati, namun gue ga tau ada apa disana,” kata Danang sambil memegang kepalanya yang sedikit pusing ketika memikirkan hal itu kembali.
Ardi yang mendengar hal itu langsung melepaskan headsetnya, dia mendengarkan apa yang danang bicarakan, bahkan mereka kini saling berdekatan agar mereka bisa saling mengobrol di tengah-tengah pengambilan video yang sedang berlangsung.
Jjujur, gue mengalami keanehan selama kita disini, dimulai dari gue melihat lo nang di hutan bareng Mbah wWalang di rumah singgah itu, lalu lu yang tiba-tiba ga inget ketika ngejar Mbah Walang”
“Sebenarnya gue khawatir sehingga gue lebih banyak diam sekarang, apalagi ketika bareng Pak Brata. gue merasakan sebuah keanehan atas apa yang sedang dirinya lakukan bareng kita.”
“Namun, gue juga ga mau bikin si Dewi kecewa, dia sudah seneng banget dapet sponsor ini. apalagi duit kontraknya gede, dan kalau kita batalin ini kita harus bayar pinalti.”
“Sehingga ketika si Rara ngebet berdiskusi ketika kita semua sudah berkumpul di desa akan kelanjutan dokumenter ini, gue lebih memilh diam, dan kayaknya si Danang juga sama.”
“Jadi ya, gue sekarang ngikut-ngikut aja, karena semakin kesini. gue semakin merasa banyak keanehan di tempat ini.”
***
Nampak seseorang sedang duduk di sebuah saung kecil di tengah hutan, sekelilingnya ada sebuah batu besar dengan banyak sekali sesajen di bawahnya.
Tepat di belakang batu tersebut terdapat salah satu beringin yang besar dengan dahan-dahan pepohonannya yang rimbun sehingga membuat tempat tersebut terasa sunyi dan gelap. Lalu di sekelilingnya, terlihat banyak sekali ditumbuhi oleh pohon bambu yang menutupi tempat itu sehingga hanya ada satu jalan saja yang sudah diberi gapura oleh warga desa untuk jalan masuk dan keluar dari tempat tersebut.
Petisalan Aki Wiguna, itulah yang terlihat dari sebuah papan nama dari gapura kecil yang sudah sedikit usang.
Sebuah petilasan yang paling di hormati oleh warga desa, karena apapun yang mereka lakukan mereka pasti akan meminta petunjuk ke tempat ini untuk diberikan pencerahan seperti yang mereka lakukan oleh leluhur-leluhur mereka.
Terlihat, seseorang nampak duduk bersila dibawah batu besar itu. dan tak lama, dirinya seperti merasakan bahwa tim rarasukma beserta Pak Brata dan ketua desa datang ke petilasan pada malam ini.
Sehingga, dia akhirnya berdiri dan berusaha menyambut mereka disana.
Terdengar pula sebuah suara dari rumpun bambu yang sedang mengelilinginya ketika dirinya membuka mata dan berdiri berbalik ke arah gapura pintu masuk yang tak jauh dari dirinya.
Lama kelamaan, terlihat sebuah cahaya senter yang muncul secara perlahan dari sela-sela rumpum bambu dari luar dan perlahan masuk ke dalam.
Itu adalah Rara, Dewi bersama tim nya.
Seperti tahu bahwa dirinya belum sempat menemui Pak Cece selaku kepala desa yang ada disana. dirinya langsung menyambut mereka sehingga Dewi yang awalnya merekam pengambilan video langsung menghentikan pertemuan yang tidak dia ketahui itu.
“Maaf Pak Cece, aku belum sempat bertemu.”
“Karena aku ditugaskan oleh Pak Brata untuk menjaga anak-anak ini sehingga terkadang aku harus melakukan sesuatu diluar dari aturan yang ada di tempat ini.”
Dewi, Rara juga ketiga orang yang satu tim dengannya terlihat sedikit heran dengan perubahan sikap Mbah Walang. dirinya yang awalnya keras dengan tatapan yang tajam kini seperti menaruh hormat kepada Pak Cece.
Pak Brata yang ada dibelakangnya hanya diam dan memperhatikan atas apa yang Mbah Walang lakukan. dia tidak berkomentar apa-apa karena dia tidak mau terlibat oleh sesuatu yang tidak dia ketahui pada saat itu.
Pak Cece hanya terdiam, matanya tajam seperti ada sebuah kemarahan yang dia buat. dia menatapa Mbah Walang sekitar dua menit dan berjalan mengelilinginya.
“Maneh ulah nyiar-nyiar pimasalahaheun, nu geus aya di desa ieu ulah maneh utak-atik, geus kuduna jigah kieu. soalna urang jeung warga desa saling nga hargaan ka kabeh anu hirup didieu, edek eta manusia atau bangsa lain salain ti urang. (Kamu tidak boleh mencari-cari masalah, yang sudah ada di desa ini jangan kamu utak-atik. sudah seharusnya seperti ini. karena aku dan warga desa saling menghargai semuanya yang hidup disini, mau manusia atua bangsa lain selain kita.)”
Pak Cece sempat melirik ke arah Rara dan Dewi bersama Dimas, Danang dan Ardi yang ada dibelakangnya. lalu tak lama dia berkata lagi ke Mbah Walang yang sedikit menunduk.
“Geus, ayeunamah, maneh ngobrol jeung urang di imah. tong aya didieu, ngobrol jeung urang duaan sabenerna naun maksud maneh anu benerna. tong nyieun urang lieur ku kalakuan maneh. (Sudah, sekarang, kamu berbicara kepadaku dirumah. jangan disini, ngobrol berdua denganku sebenarnya apa maksudmu yang sebenarnya. jangan bikin kita pusing dengan kelakukanmu.)”
Mbah Walang mengangguk, tanpa sekalipun dia menjawab atas apa yang dikatakan Pak Cece pada saat itu.
Pak Cece yang sedang membawa kresek untuk ritual di petilasan itu langsung memberikannya ke Rara. dia berkata bahwa Mbah Walang lebih penting dari pengambilan video yang sedang mereka ambil sekarang.
Bahkan, dia bertanya ke Pak Brata pada saat itu.
“Pak, apakah Pak Brata mau bersama anak-anak ini atau ikut pulang ke desa untuk beristirahat.”
Pak Brata tersenyum kecil, dia sepertinya tidak mau ikut bersama Tim Rarasukma tanpa ada proteksi dari Mbah Walang. sehingga dia hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan mendekati Dewi yang pada saat itu berdiri di dekat Pak Cece.
“Aku percayakan malam ini kepada kalian, kalian sudah tau kan harus seperti apa. namun mohon maaf, kita belum bisa menemani kalian sekarang.”
Pak Cece mengangguk, dia berbicara kepada Rara untuk meletakan semua yang ada di kresek itu di bawah batu besar dan menyalakan dupa yang ada disana.
“Semua yang ada disini harus berjalan sebagaimana mestinya, tidak boleh ditutup, tidak boleh dilarang, maupun tidak boleh di halang-halangi.”
Pak Cece tiba-tiba mengangkat tangannya. dan menjentikan jarinya beberapa kali sebelum akhirnya dirinya pergi bersama dengan Mbah Walang dan Pak Brata.
Tak lama, mereka pun akhirnya pergi. meninggalkan mereka berlima disana dengan senter dari kamera Dimas sebagai satu-satunya penerangnya.
“Jadi gimana ini Wi, kita lanjut saja atau gimana.” Kata Dimas sambil melihat ke sekeliling area yang penuhi oleh rumpun bambu yang lebat.
“Ya lanjut lah, paling nanti lu nang masuk frame lagi sama Rara, sekalian praktekin apa yang tadi Pak Cece katakan. lu dimas dan ardi berdiri aja di belakang gue kita shoot secara perlahan melihat Rara berjalan ke arah besar itu” kata Dewi dengan nada yang percaya diri.
Semua orang termasuk Rara mengangguk, mereka pun akhirnya bersiamp-siap untuk memulai pengambilan gambar di petilasan itu dengan kamera yang menyala.
namun
Tepat ketika Dimas menekan tombol Rekam.
Tiba-tiba
Arggggggghhhh
Ardi tiba-tiba berteriak, dia melepas headsetnya dan melemparkannya ke arah Dimas yang ada di depannya.
Sontak hal itu membuat Dimas dan orang-orang disana langsung melihat ke arah Ardi.
“Lu kenapa sih di, udah mau mulai juga ini,” kata Dimas sambil sedikit emosi.
“I, itu, gu, gue denger suara tertawa yang keras banget ampe telinga gue sakit.”
“Su,suara dengan nada yang berat menggema di headset gue.” Kata Ardi dengan wajahnya yang tiba-tiba pucat.
papahmuda099 dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Kutip
Balas