- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Diubah oleh jurigciwidey 25-08-2023 14:07
iwakcetol dan 49 lainnya memberi reputasi
48
35.6K
Kutip
433
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#97
BAB 29 - DI MALAM PERTAMA
Quote:
Sinar matahari yang awalnya terang kini redup dengan sinarnya yang merah ke kuning-kuningan ke ufuk barat. cahayanya yang menyejukan ditambah dengan suasana desa yang asri akan membuat semua orang terpana dan tidak menyangka bahwa di desa ini terdapat banyak sekali misteri yang bisa mereka telusuri.
Para warga yang awalnya pergi ke hutan atau pergi ke ladang untuk bekerja kini kembali ke desa. Mereka membawa semua hasil hutan berupa buah-buahan, dedaunan, bahkan daging hewan buruan untuk mereka makan bersama-sama dirumah.
Tak lupa juga mereka pula membawa lahang, salah satu minuman berupa air gula aren yang mereka ambil di tengah hutan. biasanya lahang akan mereka proses sehingga menjadi gula aren utuh untuk di jual keluar desa bersama dengan madu-madu hutan yang mereka ambil disana.
Mereka sengaja menjual hasil hutan yang bisa mereka ambil setiap hari, mereka tidak menjual hewan-hewan buruan yang harganya mahal, atau bunga-bunga langka seperti anggrek hutan yang tumbuh subur disana.
Karena, mereka takut akan karma yang menimpa mereka, mereka hanya mengambil sesuatu yang diperbolehkan ketua desa sesuai ritual dan tradisi yang mereka jalani.
Rara, kini nampak berdiri di tengah-tengah jalanan desa. matahari nampak menghilang dan digantikan dengan sinar bulan yang sebentar lagi sempurna bersama dengan bintang-bintang yang membanjiri langit.
Dingin, sejuk bahkan menenangkan hati. Itulah yang Rara rasakan pada saat itu, dengan jacket yang bertuliskan logo perusahan Pak Brata dirinya berjalan sendirian di tengah-tengah desa pada malam itu dan melihat rumah-rumah yang berjejer rapi dengan obor dan petromak yang menyala di depan rumah.
Tidak ada warung, tidak ada keramaian di desa ini ketika malam. Semuanya sunyi dan sepi, para warga lebih memilih untuk tinggal di dalam rumah-rumah mereka bersama keluarganya untuk menyantap makam malam dan beristirahat dibandingkan dengan harus beraktifitas di malam hari selayaknya orang-orang yang ada di kota besar.
Dirinya terus berjalan, matanya melirik ke kiri dan ke kanan, bahkan tak jarang dirinya melihat ke arah kolong rumah-rumah panggung yang kini terbuka dengan lebar setelah penutupnya sengaja di buka atas perintah ketua desa.
Terlihat jelas bagaimana batu-batu nisan itu ada disana. batu-batu nisan yang ada selama puluhan bahkan ratusan tahun yang berisi mayat-mayat dari keluarga mereka.
Tanah-tanah yang menutupinya nampak baru, karena ketika malam itu terjadi mayat itu keluar dengan sendirinya sehingga di hari berikutnya para warga harus menutup kembali makam tersebut dengan tanah yang baru sehingga makam-makam yang ada dibawah sana nampak terawat.
Dirinya berfikir. kenapa mereka terus ada disini, kenapa mereka tidak membiarkan saja mayat-mayat itu menghilang dan pergi keluar desa untuk mencari penghidupan baru yang lebih layak.
Otaknya berputar, sebagai mahasiswa sudah sewajarnya dirinya berfikir banyak hal atas apa yang terjadi di desa ini.
Namun, di tengah-tengah pikirannya yang menumpuk.
Tiba-tiba, dirinya di kejutkan oleh sesuatu yang menepuk dirinya dari belakang. sebuah tangan yang sedikit keriput menepuk punggungnya sehingga reflek dirinya pun berbalik. Dengan sedikit rasa takut yang ada pada dirinya.
Terlihat, seorang wanita paruh baya dengan tubuhnya yang sedikit bungkuk tersenyum kepadanya. Dirinya membawa lentera dengan api kecil yang menyala, wajahnya yang keriput, rambutnya yang sudah memutih, serta wajahnya yang nampak sedikit pucat terlihat dengan jelas.
“Ma, Ma, Ma Uneh.”
Rara benar-benar kaget, Ma Uneh yang tadi siang memanggil dirinya dan Dewi kini muncul tepat di belakangnya, penampilannya ketika malam membuat Rara sedikit ketakutan karena dia mendadak muncul begitu saja dibelakangnya.
“Hehe, Nuju naun (lagi apa) neng malem-malem.”
“Kan sekarang bukan waktunya, lebih baik ke rumah aja yu, ga baik anak gadis keluar malem-malem apalagi di Desa Kolong Mayit.” Kata Ma Uneh dengan nada yang ramah.
‘Eh iya ya, kenapa gue sendirian, yang lain mana’
Batin Rara tiba-tiba tersadarkan bahwa dirinya selama ini sendirian di tengah-tengah desa. dia juga baru sadar bahwa Dewi, Danang, Ardi, Dimas bahkan Pak Brata dan Mbah Walang tidak terlihat pada saat ini.
“Sudah neng, ayu ke rumah saja, toh mereka juga ga akan nyari kalau sudah malam gini mah, mereka pasti lagi istirahat.”
Ma Uneh dengan tubuhnya yang bungkuk kini mengajak Rara untuk singgah di rumahnya yang letaknya tak jauh dari tempatnya berdiri.
Dirinya berjalan perlahan di depan, tubuhnya yang tak muda lagi membuat dia hanya bisa berjalan pelan sembari ditemani dengan lentera yang dia bawa sebagai penerang satu-satunya disana.
“Ayo masuk, hiraukan saja penutup kolong rumah yang terbuka, soalnya tadi kan ketua desa sudah menyuruh semua warga untuk membukanya untuk keperluan kalian.”
“I, Iya ma.” jawab Rara dengan sedikit gugup.
Entah mengapa, ada suatu ketertarikan bagi dirinya untuk melihat setiap kolong rumah-rumah warga yang ada disana, tubuhnya seperti ditarik untuk melihat dari dekat batu-batu nisan yang terkubur selama puluhan bahkan ratusan tahun dibawah rumah-rumah mereka.
Rasa penasaran itu begitu besar, sehingga pandangan Rara selalu teralihkan ketika dia melihatnya dari luar, dia ingin sekali masuk ke dalam sana. Ke kolong setiap rumah yang ada di desa dan melihat dengan sangat dekat makam-makam itu dengan kedua matanya.
Tangan Ma Uneh kembali melambai mengajak masuk kepada Rara yang terdiam tepat di depan rumanya. dia yang tersadarkan langsung mengangguk beberapa kali dan masuk ke dalam rumah Ma Uneh yang sederhana.
Rumah yang berdinding bilik bambu dan beratapkan rumbia dan diterangi oleh sebuah petromak yang menyala di tengah rumah membuat rumah yang sederhana itu terasa nyaman.
Di dalamnya tidak terlalu banyak barang-barang layaknya rumah-rumah yang ada di kota pada umumnya.
Hanya ada sebuah lemari tua di dalam rumah, juga perabotan-perabotan yang nampak sudah ada disana selama beberapa puluh tahun.
Rara sedikit takjub atas isi rumah yang ada di desa ini, sebuah rumah yang sederhana namun tampak nyaman untuk di tinggali.
“Neng, tunggu disini dulu ya, mau tak buatin teh manis anget dulu buat neng.” kata Ma Uneh yang mempersilahkan dirinya untuk duduk di salah satu tikar yang terbuat dari anyaman dedaunan hutan yang sudah di keringkan di tengah rumah.
Rara pun mengangguk dia akhirnya duduk dan mempersilahkan Ma Uneh untuk ke dapur. matanya melihat ke sana kemari, melihat se isi rumah, bahkan dirinya yang awalnya duduk kini berdiri kembali melihat semua perabotan-perabotan yang ada disana.
‘Ini kalau dijual di barang antik pasti mahal nih,’ katanya sambil melihat sebuah guci tua yang berisi abu dari dupa yang mungkin sering di nyalakan oleh Ma Uneh di waktu-waktu tertentu.
Dirinya kembali melihat-lihat isi rumah tersebut.
Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti tepat d sebuah tirai berwarna merah yang merupakan kamar dari Ma Uneh, dirinya seperti mendengar ada dua orang yang sedang berbicara di dalam sana.
Dia tau, Ma Uneh ketika siang hari bercerita bahwa dirinya tinggal sendirian karena anak-anaknya sudah menikah dan tinggal dirumah yang tak jauh dari rumahnya.
Namun, siapa dua orang yang mengobrol di dalam kamarnya Ma Uneh pada malam itu.
Rasa penasaran dari Rara akhirnya muncul. secara perlahan dirinya membuka tirai itu untuk mencari tahu siapa yang ada di dalamnya.
“Astaga….”
Rara nampak kaget, terlihat dengan jelas Mbah Walang nampak sedang duduk bersila membelakangi dirinya. Matanya terpejam, dirinya mengangguk beberapa kali sambil mengangkat kedua tangannya ke kiri dan ke kanan secara perlahan.
Awalnya Rara kebingungan atas apa yang dilakukan Mbah Walang disana, namun tiba-tiba dirinya terkejut karena secara perlahan tepat di depan dirinya muncul sebuah bayangan hitam yang sangat besar yang sedang berbicara kepadanya.
Mbah Walang yang awalnya sedang fokus disana langsung terdiam, kedua tangannya di turunkan secara perlahan.
Seperti tau bahwa ada tamu yang tidak di undang, Mbah Walang langsung menengok ke arah Rara dengan tatapan yang sangat tajam.
Mbah Walang langsung berdiri dan mendekati Rara yang masih terdiam disana dengan sangat cepat.
Dirinya tidak mengatakan satu patah katapun, dia hanya menatap rRra dengan tajam seperti marah atas apa yang sedang dilakukannya pada saat itu.
Tak lama. dengan sangat kuat dia menarik tirai itu dan menutup nya dengan sangat keras. membuat Rara mundur beberapa langkah bahkan tubuhnya pun terjatuh secara tiba-tiba.
Entah mengapa, semua yang ada di rumah itu tiba-tiba langsung menjadi gelap gulita saat Rara terjatuh.
Dan pada saat yang bersamaan.
“Woy Bangunnn.”
“Tidur aja nih anak, waktunya syuting woy, nanti tidurnya pas beres syuting aja.”
Danang yang pada saat itu mempersiapkan keperluan syuting melihat Rara yang memejamkan matanya, dirinya tertidur di tengah-tengah dirinya mempersiapkan kamera, clip on, senter, juga peralatan lainnya bersamaan dengan Dimas dan Ardi.
“Ra, ra bangun ra, ayo kita ke tempat itu bersama dengan ketua desa.” kata Dewi yang mencoba membangunkan Rara sambil menepuk-nepuk pundaknya secara perlahan.
Rara yang tertidur secara pelan-pelan membuka matanya, dan terlihat dirinya rupanya sudah ada di depan rumah ketua desa, menunggu Pak Brata juga kepala desa yang ada di dalam untuk bersama-sama ke salah satu tempat yang akan mereka pakai untuk mengambil video dokumenter mereka.
Tak lama, ketua desa pun keluar, wajahnya nampak sedikit marah ketika dirinya keluar bersama Pak Brata pada saat itu.
“Bener orang yang kamu bawa satu lagi sudah ada disana.”
“Tolong nanti kalau semuanya sudah selesai suruh dia menghadap kepada saya, karena dirinya tidak boleh semena-mena di Desa Kolong Mayit ini”
Pak Brata yang biasanya santai kini tertunduk dan mengangguk, entah apa yang sudah mereka bicarakan di dalam. karena Aji dan Eko yang seharusnya ada di samping Pak Brata pun hanya bisa menunggu diluar bersama Adang tanpa tau obrolan mereka berdua.
“Iya Pak, akan saya pastikan Mbah Walang akan menghadap Pak Cece ketika pengambilan video di malam ini selesai.”
“Karena ternyata setelah dia menghilang dari tadi siang, dirinya ada di tempat itu dan akan menunggu kita datang malam ini setelah Aji dan Eko serta Adang mengecek ke sana tadi sore.”
Para warga yang awalnya pergi ke hutan atau pergi ke ladang untuk bekerja kini kembali ke desa. Mereka membawa semua hasil hutan berupa buah-buahan, dedaunan, bahkan daging hewan buruan untuk mereka makan bersama-sama dirumah.
Tak lupa juga mereka pula membawa lahang, salah satu minuman berupa air gula aren yang mereka ambil di tengah hutan. biasanya lahang akan mereka proses sehingga menjadi gula aren utuh untuk di jual keluar desa bersama dengan madu-madu hutan yang mereka ambil disana.
Mereka sengaja menjual hasil hutan yang bisa mereka ambil setiap hari, mereka tidak menjual hewan-hewan buruan yang harganya mahal, atau bunga-bunga langka seperti anggrek hutan yang tumbuh subur disana.
Karena, mereka takut akan karma yang menimpa mereka, mereka hanya mengambil sesuatu yang diperbolehkan ketua desa sesuai ritual dan tradisi yang mereka jalani.
Rara, kini nampak berdiri di tengah-tengah jalanan desa. matahari nampak menghilang dan digantikan dengan sinar bulan yang sebentar lagi sempurna bersama dengan bintang-bintang yang membanjiri langit.
Dingin, sejuk bahkan menenangkan hati. Itulah yang Rara rasakan pada saat itu, dengan jacket yang bertuliskan logo perusahan Pak Brata dirinya berjalan sendirian di tengah-tengah desa pada malam itu dan melihat rumah-rumah yang berjejer rapi dengan obor dan petromak yang menyala di depan rumah.
Tidak ada warung, tidak ada keramaian di desa ini ketika malam. Semuanya sunyi dan sepi, para warga lebih memilih untuk tinggal di dalam rumah-rumah mereka bersama keluarganya untuk menyantap makam malam dan beristirahat dibandingkan dengan harus beraktifitas di malam hari selayaknya orang-orang yang ada di kota besar.
Dirinya terus berjalan, matanya melirik ke kiri dan ke kanan, bahkan tak jarang dirinya melihat ke arah kolong rumah-rumah panggung yang kini terbuka dengan lebar setelah penutupnya sengaja di buka atas perintah ketua desa.
Terlihat jelas bagaimana batu-batu nisan itu ada disana. batu-batu nisan yang ada selama puluhan bahkan ratusan tahun yang berisi mayat-mayat dari keluarga mereka.
Tanah-tanah yang menutupinya nampak baru, karena ketika malam itu terjadi mayat itu keluar dengan sendirinya sehingga di hari berikutnya para warga harus menutup kembali makam tersebut dengan tanah yang baru sehingga makam-makam yang ada dibawah sana nampak terawat.
Dirinya berfikir. kenapa mereka terus ada disini, kenapa mereka tidak membiarkan saja mayat-mayat itu menghilang dan pergi keluar desa untuk mencari penghidupan baru yang lebih layak.
Otaknya berputar, sebagai mahasiswa sudah sewajarnya dirinya berfikir banyak hal atas apa yang terjadi di desa ini.
Namun, di tengah-tengah pikirannya yang menumpuk.
Tiba-tiba, dirinya di kejutkan oleh sesuatu yang menepuk dirinya dari belakang. sebuah tangan yang sedikit keriput menepuk punggungnya sehingga reflek dirinya pun berbalik. Dengan sedikit rasa takut yang ada pada dirinya.
Terlihat, seorang wanita paruh baya dengan tubuhnya yang sedikit bungkuk tersenyum kepadanya. Dirinya membawa lentera dengan api kecil yang menyala, wajahnya yang keriput, rambutnya yang sudah memutih, serta wajahnya yang nampak sedikit pucat terlihat dengan jelas.
“Ma, Ma, Ma Uneh.”
Rara benar-benar kaget, Ma Uneh yang tadi siang memanggil dirinya dan Dewi kini muncul tepat di belakangnya, penampilannya ketika malam membuat Rara sedikit ketakutan karena dia mendadak muncul begitu saja dibelakangnya.
“Hehe, Nuju naun (lagi apa) neng malem-malem.”
“Kan sekarang bukan waktunya, lebih baik ke rumah aja yu, ga baik anak gadis keluar malem-malem apalagi di Desa Kolong Mayit.” Kata Ma Uneh dengan nada yang ramah.
‘Eh iya ya, kenapa gue sendirian, yang lain mana’
Batin Rara tiba-tiba tersadarkan bahwa dirinya selama ini sendirian di tengah-tengah desa. dia juga baru sadar bahwa Dewi, Danang, Ardi, Dimas bahkan Pak Brata dan Mbah Walang tidak terlihat pada saat ini.
“Sudah neng, ayu ke rumah saja, toh mereka juga ga akan nyari kalau sudah malam gini mah, mereka pasti lagi istirahat.”
Ma Uneh dengan tubuhnya yang bungkuk kini mengajak Rara untuk singgah di rumahnya yang letaknya tak jauh dari tempatnya berdiri.
Dirinya berjalan perlahan di depan, tubuhnya yang tak muda lagi membuat dia hanya bisa berjalan pelan sembari ditemani dengan lentera yang dia bawa sebagai penerang satu-satunya disana.
“Ayo masuk, hiraukan saja penutup kolong rumah yang terbuka, soalnya tadi kan ketua desa sudah menyuruh semua warga untuk membukanya untuk keperluan kalian.”
“I, Iya ma.” jawab Rara dengan sedikit gugup.
Entah mengapa, ada suatu ketertarikan bagi dirinya untuk melihat setiap kolong rumah-rumah warga yang ada disana, tubuhnya seperti ditarik untuk melihat dari dekat batu-batu nisan yang terkubur selama puluhan bahkan ratusan tahun dibawah rumah-rumah mereka.
Rasa penasaran itu begitu besar, sehingga pandangan Rara selalu teralihkan ketika dia melihatnya dari luar, dia ingin sekali masuk ke dalam sana. Ke kolong setiap rumah yang ada di desa dan melihat dengan sangat dekat makam-makam itu dengan kedua matanya.
Tangan Ma Uneh kembali melambai mengajak masuk kepada Rara yang terdiam tepat di depan rumanya. dia yang tersadarkan langsung mengangguk beberapa kali dan masuk ke dalam rumah Ma Uneh yang sederhana.
Rumah yang berdinding bilik bambu dan beratapkan rumbia dan diterangi oleh sebuah petromak yang menyala di tengah rumah membuat rumah yang sederhana itu terasa nyaman.
Di dalamnya tidak terlalu banyak barang-barang layaknya rumah-rumah yang ada di kota pada umumnya.
Hanya ada sebuah lemari tua di dalam rumah, juga perabotan-perabotan yang nampak sudah ada disana selama beberapa puluh tahun.
Rara sedikit takjub atas isi rumah yang ada di desa ini, sebuah rumah yang sederhana namun tampak nyaman untuk di tinggali.
“Neng, tunggu disini dulu ya, mau tak buatin teh manis anget dulu buat neng.” kata Ma Uneh yang mempersilahkan dirinya untuk duduk di salah satu tikar yang terbuat dari anyaman dedaunan hutan yang sudah di keringkan di tengah rumah.
Rara pun mengangguk dia akhirnya duduk dan mempersilahkan Ma Uneh untuk ke dapur. matanya melihat ke sana kemari, melihat se isi rumah, bahkan dirinya yang awalnya duduk kini berdiri kembali melihat semua perabotan-perabotan yang ada disana.
‘Ini kalau dijual di barang antik pasti mahal nih,’ katanya sambil melihat sebuah guci tua yang berisi abu dari dupa yang mungkin sering di nyalakan oleh Ma Uneh di waktu-waktu tertentu.
Dirinya kembali melihat-lihat isi rumah tersebut.
Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti tepat d sebuah tirai berwarna merah yang merupakan kamar dari Ma Uneh, dirinya seperti mendengar ada dua orang yang sedang berbicara di dalam sana.
Dia tau, Ma Uneh ketika siang hari bercerita bahwa dirinya tinggal sendirian karena anak-anaknya sudah menikah dan tinggal dirumah yang tak jauh dari rumahnya.
Namun, siapa dua orang yang mengobrol di dalam kamarnya Ma Uneh pada malam itu.
Rasa penasaran dari Rara akhirnya muncul. secara perlahan dirinya membuka tirai itu untuk mencari tahu siapa yang ada di dalamnya.
“Astaga….”
Rara nampak kaget, terlihat dengan jelas Mbah Walang nampak sedang duduk bersila membelakangi dirinya. Matanya terpejam, dirinya mengangguk beberapa kali sambil mengangkat kedua tangannya ke kiri dan ke kanan secara perlahan.
Awalnya Rara kebingungan atas apa yang dilakukan Mbah Walang disana, namun tiba-tiba dirinya terkejut karena secara perlahan tepat di depan dirinya muncul sebuah bayangan hitam yang sangat besar yang sedang berbicara kepadanya.
Mbah Walang yang awalnya sedang fokus disana langsung terdiam, kedua tangannya di turunkan secara perlahan.
Seperti tau bahwa ada tamu yang tidak di undang, Mbah Walang langsung menengok ke arah Rara dengan tatapan yang sangat tajam.
Mbah Walang langsung berdiri dan mendekati Rara yang masih terdiam disana dengan sangat cepat.
Dirinya tidak mengatakan satu patah katapun, dia hanya menatap rRra dengan tajam seperti marah atas apa yang sedang dilakukannya pada saat itu.
Tak lama. dengan sangat kuat dia menarik tirai itu dan menutup nya dengan sangat keras. membuat Rara mundur beberapa langkah bahkan tubuhnya pun terjatuh secara tiba-tiba.
Entah mengapa, semua yang ada di rumah itu tiba-tiba langsung menjadi gelap gulita saat Rara terjatuh.
Dan pada saat yang bersamaan.
“Woy Bangunnn.”
“Tidur aja nih anak, waktunya syuting woy, nanti tidurnya pas beres syuting aja.”
Danang yang pada saat itu mempersiapkan keperluan syuting melihat Rara yang memejamkan matanya, dirinya tertidur di tengah-tengah dirinya mempersiapkan kamera, clip on, senter, juga peralatan lainnya bersamaan dengan Dimas dan Ardi.
“Ra, ra bangun ra, ayo kita ke tempat itu bersama dengan ketua desa.” kata Dewi yang mencoba membangunkan Rara sambil menepuk-nepuk pundaknya secara perlahan.
Rara yang tertidur secara pelan-pelan membuka matanya, dan terlihat dirinya rupanya sudah ada di depan rumah ketua desa, menunggu Pak Brata juga kepala desa yang ada di dalam untuk bersama-sama ke salah satu tempat yang akan mereka pakai untuk mengambil video dokumenter mereka.
Tak lama, ketua desa pun keluar, wajahnya nampak sedikit marah ketika dirinya keluar bersama Pak Brata pada saat itu.
“Bener orang yang kamu bawa satu lagi sudah ada disana.”
“Tolong nanti kalau semuanya sudah selesai suruh dia menghadap kepada saya, karena dirinya tidak boleh semena-mena di Desa Kolong Mayit ini”
Pak Brata yang biasanya santai kini tertunduk dan mengangguk, entah apa yang sudah mereka bicarakan di dalam. karena Aji dan Eko yang seharusnya ada di samping Pak Brata pun hanya bisa menunggu diluar bersama Adang tanpa tau obrolan mereka berdua.
“Iya Pak, akan saya pastikan Mbah Walang akan menghadap Pak Cece ketika pengambilan video di malam ini selesai.”
“Karena ternyata setelah dia menghilang dari tadi siang, dirinya ada di tempat itu dan akan menunggu kita datang malam ini setelah Aji dan Eko serta Adang mengecek ke sana tadi sore.”
sampeuk dan 18 lainnya memberi reputasi
19
Kutip
Balas
Tutup