- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Diubah oleh jurigciwidey 25-08-2023 14:07
iwakcetol dan 49 lainnya memberi reputasi
48
35.6K
Kutip
433
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#93
BAB 28 - DESA
Quote:
Desa Kolong Mayit, sebuah desa kecil yang ada di tengah hutan lebat dan sudah ada selama beratus-ratus tahun yang lalu.
Desa ini memang unik, mereka yang tinggal disini masih memegang teguh adat istiadat dari leluhur mereka. mereka banyak melakukan ritual-ritual tertentu yang berkaitan dengan kehidupan mereka semua selama tinggal di desa ini.
Awalnya, mereka semua sangat tertutup, hanya sebagian orang yang diperbolehkan masuk dan keluar desa ini sebelum akhirnya mereka membuka diri.
Mereka bisa hidup secara mandiri karena ada hutan yang menyediakan segala kebutuhan untuk kehidupan mereka disana.
Sebuah batu besar yang dibelah adalah sebagai tanda bahwa Desa Kolong Mayit ada di depan mereka. awalnya mereka yang ingin pergi dan masuk ke dalam desa harus menggunakan jalan tersebut untuk berkomunikasi dengan para warga, menjual hasil hutan dan hasil tani yang akan mereka tukar dengan kebutuhan lainnya.
Kehidupan mereka terjalin begitu harmonis, meskipun hidup mereka dikelilingi oleh hutan lebat, mereka hidup dengan tenang dan damai. Meskipun dibalik itu, banyak mitos-mitos yang beredar tentang mereka. Terutama tentang para keluarga mereka yang di makamkan tepat dibawah rumah-rumah mereka.
Bukan tanpa alasan mereka memakamkan para keluarga mereka di kolong rumah-rumah panggung tempat mereka tinggal, namun karena sebuah tradisi dan kepercayaan sehingga mereka harus melakukan itu dari jaman dahulu hingga hari ini.
“Apa kita harus benar-benar melanjutkan dokumenter ini wi.”
“Sepertinya ini akan lebih menyeramkan dibandingkan dengan Leuweung Kunti yang sudah kita lewati kemarin.”
“Apalagi, gue khawatir atas apa yang terjadi di desa ini dengan rumor-rumor yang ada di dalamnya.”
Rara yang kini sedang berjalan bersama dengan Dewi menyusuri desa nampak khawatir, dia tidak bisa menutupi rasa cemasnya setelah dirinya melihat rumah-rumah panggung yang berjejer dengan sangat rapi di jalanan utama desa pada saat itu.
“Udah lu ga usah khawatir, gue dah meyakini si Ardi, Dimas, Danang kalau mereka akan tetap tinggal disini sampe dokumenter itu selesai.”
“Tadi juga gue dah berkomunikasi ke Pak Brata untuk meminta Mbah Walang lebih memperhatikan kita semua agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan seperti kemarin.”
“Ingat ra, bukannya gue matre akan uang yang akan dibayarkan oleh Pak Brata, namun ini semua juga buat kita-kita juga. ketika semuanya selesai dan kita dibayar. Elu, dan para anak-anak yang lain sudah ga perlu khawatir biaya kuliah selama dua semester kedepan.” Kata Rara dengan nada yang optimis.
Dia tersenyum, bahkan ketika dirinya berjalan bersama Rara menyusuri Desa Kolong Mayit yang terlihat asri oleh kedua mata mereka. Dewi terus-terusan menyemangati Rara agar dirinya bisa melanjutkan dokumenter yang sedang mereka kerjakan diluar kejadian-kejadian nalar yang sudah mereka alami semalam.
“Neng darimana, dari kota ya, sini masuk, ada jagung rebus”
Tiba-tiba, obrolan mereka terhenti ketika ada salah satu warga yang sedang duduk di depan rumahnya memanggil mereka, dia dengan ramah memanggil Dewi dan Rara sambil menyodorkan jagung rebus yang baru dia masak untuk di makan bersama-sama.
Wajah Rara yang awalnya cemas langsung menoleh dan tersenyum ke arahnya. Dewi awalnya merasa enggan untuk mendekat karena baru kali ini dirinya dipanggil oleh orang yang tidak dikenal disana.
Namun,
“Sini neng, jangan malu-malu, sudah wajar di desa ini mah kayak gini, apalagi kalian sudah jauh-jauh ke kota main kesini, sini makan dulu jagung rebusnya.”
Orang itu terus-terusan memanggil mereka berdua dengan senyumannya yang ramah. Rara dan Dewi yang awalnya enggan untuk mendekat akhirnya mengangguk dan mendekati orang tersebut yang duduk sambil terus-menerus tersenyum ke arah mereka.
“Duduk sini neng, kalian pasti cape, mau sekalian dibuatin teh atau kopi.”
Orang itu begitu ramah, seseorang wanita paruh baya yang nampaknya sudah berumur sekitar enam puluh hingga tujuh puluhan. dia menyambut Rara dan Dewi di rumahnya yang sederhana.
Semilir angin yang berhembus dari arah hutan membuat hawa semakin sejuk dan membuat mereka nyaman duduk di pelataran rumah dengan jagung rebus yang tersedia disana.
“Ga perlu repot-repot nek, eh bu.”
“Ini aja kita sudah berterima kasih,” kata Rara sambil tersenyum
“Iya bu, ulah repot-repot, (ga perlu repot-repot,)” kata Dewi sambil mengangguk pelan.
“Owh ya udah atuh, hehe.”
“Silahkan di makan atuh jagungnya, masih anget loh.”
Dirinya memperlkenalkan diri sebagai Ma Uneh, dia sudah lahir dan hidup di desa ini selama puluhan tahun.
Tim Rarasukma dan Pak Brata dengan kelompoknya memang diterima dengan baik oleh para warga yang tinggal di Desa Kolong Mayit, mereka tersenyum dan menyapa kepada mereka semua dan menyambut mereka seperti layaknya tamu yang sudah lama tidak bertemu selama beberapa tahun.
Sehingga, perlakuan baik yang Rara dan Dewi terima dari Ma Uneh memang wajar, karena hampir seluruh warga desa yang mereka temui disana sering tersenyum dan menyapa kepada siapapun tamu yang datang ke Desa Kolong Mayit di tengah-tengah sebuah mitos dan cerita yang menyeramkan tentang desa ini.
“Eh iya, nek, eh salah bu, maaf mau tanya kenapa disini sepi ya sekarang,” kata Dewi yang mencoba mengorek informasi tentang Desa Kolong Mayit ini untuk tambahan informasi dokumenter yang akan mereka buat nantinya.
“Ahhh, iya neng, kalau siang mah memang gini, tadi pagi kan pas ada tamu datang para warga ke hutan semua, nyari orang yang katanya hitang.”
“Yang itu tuh sekarang yang sedang di obatin di rumah Pak Cece ketua desa, nah sehabis itu mereka pasti ke hutan untuk nyari madu atau ke ladang untuk bekerja.”
“Ya udah biasa disini mah atuh neng, da hampir semuanya petani atuh.” jawabnya sambil tersenyum.
Rara sedikit terdiam, ada sesuatu yang menganggu dirinya di bawah rumah tempat mereka duduk, sebuah yang dimitoskan tentang makam yang ada di kolong rumah-rumah mereka.
Sedangkan Dewi masih mengorek informasi tentang Desa Kolong Mayit ini sebagai data yang harus dia kumpulkan.
“Eh iya, tumben-tumbenan si neng geulis (neng cantik) ini pada kesini, biasanya yang kesana itu tuh laki-laki semua, jangan ada wanita yang datang kesini dari luar desa.” Katanya sambil menatap Dewi dengan sedikit kekaguman dari matanya.
“Pasti neng anaknya si Bapak itu ya.”
“Tadi ada satu orang, terus sekarang ga tau kemana karena ga ke ketua desa dulu, nah pas agak siangan baru ada rombongan si Bapak yang di susul sama rombongan neng yang datang.”
“Pokoknya mah neng ya, nanti jangan takut, ikutin si Bapak kalau misalkan kalian bertemu si aki di desa ini ya, ikutin aja si Bapak itu pokoknya.”
Dewi dan Rara yang mendengar hal itu langsung mengangkat tangannya, dia seperti tidak setuju atas apa yang di katakan oleh Ma uneh itu.
“Owh engga, engga, kita itu sebenarnya di undang oleh Pak Brata untuk membuat dokumenter tentang Desa ini bu, kita berdua bukan anak dari Pak Brata.”
“Kita ada berlima totalnya, yang tiga kini sedang berdiskusi dengan ketua desa bersama Pak Brata yang mengundang kami,” Kata Dewi sambil tersenyum kecil dan menunjuk ke salah satu rumah yang ada di sudut desa.
“Owh iya, iya, kirain kalian anak dari bapak itu, padahal cantik-cantik ya tapi ya……”
“Eh, pasti kalian kesini ingin tau apa benar ada pemakaman di bawah rumah-rumah yang ada disini kan.”
“Kalian harus tahu, karena biar kalian ga penasaran nantinya.”
Entah mengapa, Ma Uneh langsung membelokan pembicaraan dan tidak melanjutkan pembahasan yang tadi setelah tau bahwa Tim Rarasukma datang dengan atas ajakan Pak Brata.
Dirinya langsung turun dan berjalan ke sebuah papan kecil yang menutup kolong rumah panggung yang ada dibawah mereka, dirinya membuat papan itu secara perlahan dan mempersilahkan untuk Rara dan Dewi melihat atas apa yang dirumorkan oleh orang-orang diluar desa pada saat ini.
Apalagi, ketika dirinya turun, sekilas dirinya melihat Rara yang dari tadi terdiam, sehingga dirinya kembali tersenyum dan berkata.
“Si neng itu sepertinya penasaran, ayo sini lihat, sudah dibuka pintunya agar bisa kalian bisa lihat.”
“Karena ya, setiap setahun sekali, ada suatu malam yang membuat mereka seperti terbangun dari tidurnya. sehingga kita sengaja menutupnya agar mereka tidak keluar dan menghilang, karena dulu pernah beberapa kali mayat yang ada dibawah rumah kita menghilang dan ditemukan di tengah hutan sehingga wajar kita mengurungnya di kolong rumah.”
Dewi yang mendengar hal itu langsung penarasan, sehingga dirinya bertanya lebih lanjut atas apa yang diceritakan oleh Ma Uneh pada saat itu.
“Emang bagaimana awalnya sampai mereka bisa di kolong rumah bu, sehingga para warga harus sengaja mengurung mereka agar jasad mereka tidak keluar dan menghilang seperti yang ibu ceritakan”
Ma Uneh kembali tersenyum, Rara dan Dewi yang sudah melihat memang benar disana ada beberapa makam yang tertutup tanpa ada cahaya yang menyinarinya membuat mereka semakin penasaran kenapa mayat-mayat itu dimakamkan disana.
“Sebenarnya, ini sudah terjadi beratus-ratus tahun yang lalu, ketika disini masih berupa kerajaan.”
“Ada beberapa keluarga yang dituduh sebagai pemakai ajaran sesat, ajaran mereka berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kerajaan.”
“Padahal mereka semua adalah orang-orang kepercayaan, para bangsawan dengan harta yang berlimpah ruah, namun karena mereka menjalankan suatu ritual mereka diburu hingga sampai ke tempat ini.”
“Tempat ini sebenarnya adalah sebuah tempat persembunyian, namun sebelum mereka meninggalkan kerajaan, sang raja bertitah bahwa semua keturunan mereka tidak akan mengenali mereka karena setiap jasad yang dimakamkan akan menghilang di malam-malam tertentu dari kuburnya.”
“Sehingga, para warga sepakat untuk mengurung para jasad keluarga mereka di bawah rumah-rumah mereka untuk menghindari hilangnya mayat-mayat itu entah kemana.”
“Ya kurang lebih seperti itu sih, cerita awal mulanya, tapi kalau ingin lebih lengkap ke ketua desa aja, yang pasti kita disini hidup dengan tradisi seperti ini dengan damai.”
“Pokoknya hati-hati aja ya neng, karena neng kan belum terbiasa dengan desa ini. kalau nanti ketemu dengan dedemit-dedemit disini ya jangan takut aja sih, karena nanti juga neng terbiasa, seperti mereka yang sudah pernah kesini, hehe”
***
Brakk
“Maneh teu apal ieu si entis nepi ka kieu, pokokna urang moal ngilu nepi ka maraneh balik, edek di dagoan di Leuweung Poek nepi ka maneh beres. (Kalian ga tau si Entis sampe seperti ini, pokoknya au tidak mau ikut sampai kalian semua pulang, akan ku tunggu kalian di Leuweung Poek ampe kalian beres.)”
Adang begitu marahnya melihat Entis yang terluka di depannya. dia yang mengajak Entis merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada dirinya ketika berada di Leuwueng Kunti.
“Kang, udah, teu nanaun (ga apa-apa), kalau akang adat-adatan (marah-marah) seperti itu nanti si Pak Brata ga akan membayar kita.” kata Entis sambil meringis kesakitan.
Disana, Danang, Ardi, Dimas hanya terdiam. dia tidak tau Adang begitu marah ketika melihat entis seperti ini.
Aji, Eko bahkan Pak Brata malah terlihat santai atas kemarahan yang ada kepada diri Adang pada waktu itu.
Di depan Pak Cece yang merupakan ketua Desa kolong mayit yang pada itu menjenguk kondisi entis membuat dirinya harus berbicara.
“Kang Adang, akang kan tau apa maksud dan tujuan mengantarkan mereka ke desa ini kan.”
“Masalah apa yang di alami Entis, biar kita yang akan mengobati dan mengantarkan kembali ke luar desa ketika besok.”
“Karena waktu tinggal bebera[a hari hari lagi ketika hal itu terjadi, semua warga akan keluar desa di malam tersebut bersama dengan Entis dan meninggalkan Pak Brata bersama orang-orangnya untuk membuat dokumenter disini.”
“Benar kan seperti itu Pak brata,” kata ketua desa yang menoleh ke arah Pak Brata.
Dirinya yang santai sambil menghisap rokok yang dibawanya hanya mengangguk, seperti sudah mengerti atas apa yang dikatakan oleh ketua desa.
“Iya, seperti itu saja pak ketua, Adang juga sepertinya sudah tau kan, jadi ya kalau misalkan dirinya ingin keluar desa ketika malam itu tiba bersama warga desa ya silahkan, nanti jemput saya aja di Leuweung Poek ketika semuanya selesai ya.”
“Dan ya, adang ga perlu khawatir, kalau semuanya selesai saya akan membayar nya sesuai kesepakatan.”
“Namun Pak.” Pak Brata kembali menoleh ke ketua desa.
“penutup yang ada di kolong-kolong rumah panggung di desa tolong di buka semua ya, biar anak-anak ini bisa tahu apa yang ada di kolong rumah-rumah warga.” katanya sambil menepuk pundak Ardi yang ada di sebelahnya.
“Nanti kita akan pastikan tidak akan mayat yang menghilang, karena dengan adanya kita mereka hanya berkumpul di sekitar desa dan tidak menghilang ke tengah-tengah hutan sehingga para warga tidak perlu repot-repot mencari mereka.”
Ketua desa itupun mengangguk, dia kembali menoleh ke arah Adang dan Adang pun setuju atas apa yang di ucapkan Pak Brata.
“Ya sudah kalau seperti itu, sok sekarang Entis dan Adang silahkan disini saja, dan kalian bertiga silahkan berkeliling agar tahu desa ini seperti apa, karena tadi si neng juga berdua berkeliling di desa.”
“Namun, sebelum magrib tolong kembali lagi, karena kita akan memulai ritual penyambutan tamu di desa yang bisa kalian dokumentasikan nantinya.” Kata Pak Cece yang merupakan ketua desa dengan asap rokok yang mengepul dari dalam mulutnya.
Danang, Ardi dan dimas hanya mengangguk, mereka bertiga pun pamit dan keluar dari rumah ketua desa untuk menyusul Dewi dan Rara yang ada diluar.
Ketika mereka bertiga menghilang, ketua desa kembali bertanya kepada Pak Brata pada saat itu, bahkan kali ini dirinya bertanya dengan nada yang serius kepada dirinya.
“Kamana jelema anu maneh bawa hiji deui, euweuh sopan santun pisan, datang kadieu lain ngahadap heula ka aink malah langsung ngaleungit. (kemana manusia yang kamu bawa satu lagi, tidak ada sopan santunnya, datang kesini bukan menghadap dulu kepadaku malah langsung menghilang.)”
“Bawa eta jelema, ulah di saruakeun tempat ieu jeung tempat anu pernah maraneh datangan. (bawa manusia itu, jangan di samakan tempat ini dengan tempat yang kamu datangi.)”
“Soalna lamun sampe euweuh sopan santunna nepi ka si Aki apaleun, maraneh kabeh bakalan cilaka. (soalnya kalau tidak ada sopan santunnya sampai si Aki tau, kalian semua akan celaka.)”
Desa ini memang unik, mereka yang tinggal disini masih memegang teguh adat istiadat dari leluhur mereka. mereka banyak melakukan ritual-ritual tertentu yang berkaitan dengan kehidupan mereka semua selama tinggal di desa ini.
Awalnya, mereka semua sangat tertutup, hanya sebagian orang yang diperbolehkan masuk dan keluar desa ini sebelum akhirnya mereka membuka diri.
Mereka bisa hidup secara mandiri karena ada hutan yang menyediakan segala kebutuhan untuk kehidupan mereka disana.
Sebuah batu besar yang dibelah adalah sebagai tanda bahwa Desa Kolong Mayit ada di depan mereka. awalnya mereka yang ingin pergi dan masuk ke dalam desa harus menggunakan jalan tersebut untuk berkomunikasi dengan para warga, menjual hasil hutan dan hasil tani yang akan mereka tukar dengan kebutuhan lainnya.
Kehidupan mereka terjalin begitu harmonis, meskipun hidup mereka dikelilingi oleh hutan lebat, mereka hidup dengan tenang dan damai. Meskipun dibalik itu, banyak mitos-mitos yang beredar tentang mereka. Terutama tentang para keluarga mereka yang di makamkan tepat dibawah rumah-rumah mereka.
Bukan tanpa alasan mereka memakamkan para keluarga mereka di kolong rumah-rumah panggung tempat mereka tinggal, namun karena sebuah tradisi dan kepercayaan sehingga mereka harus melakukan itu dari jaman dahulu hingga hari ini.
“Apa kita harus benar-benar melanjutkan dokumenter ini wi.”
“Sepertinya ini akan lebih menyeramkan dibandingkan dengan Leuweung Kunti yang sudah kita lewati kemarin.”
“Apalagi, gue khawatir atas apa yang terjadi di desa ini dengan rumor-rumor yang ada di dalamnya.”
Rara yang kini sedang berjalan bersama dengan Dewi menyusuri desa nampak khawatir, dia tidak bisa menutupi rasa cemasnya setelah dirinya melihat rumah-rumah panggung yang berjejer dengan sangat rapi di jalanan utama desa pada saat itu.
“Udah lu ga usah khawatir, gue dah meyakini si Ardi, Dimas, Danang kalau mereka akan tetap tinggal disini sampe dokumenter itu selesai.”
“Tadi juga gue dah berkomunikasi ke Pak Brata untuk meminta Mbah Walang lebih memperhatikan kita semua agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan seperti kemarin.”
“Ingat ra, bukannya gue matre akan uang yang akan dibayarkan oleh Pak Brata, namun ini semua juga buat kita-kita juga. ketika semuanya selesai dan kita dibayar. Elu, dan para anak-anak yang lain sudah ga perlu khawatir biaya kuliah selama dua semester kedepan.” Kata Rara dengan nada yang optimis.
Dia tersenyum, bahkan ketika dirinya berjalan bersama Rara menyusuri Desa Kolong Mayit yang terlihat asri oleh kedua mata mereka. Dewi terus-terusan menyemangati Rara agar dirinya bisa melanjutkan dokumenter yang sedang mereka kerjakan diluar kejadian-kejadian nalar yang sudah mereka alami semalam.
“Neng darimana, dari kota ya, sini masuk, ada jagung rebus”
Tiba-tiba, obrolan mereka terhenti ketika ada salah satu warga yang sedang duduk di depan rumahnya memanggil mereka, dia dengan ramah memanggil Dewi dan Rara sambil menyodorkan jagung rebus yang baru dia masak untuk di makan bersama-sama.
Wajah Rara yang awalnya cemas langsung menoleh dan tersenyum ke arahnya. Dewi awalnya merasa enggan untuk mendekat karena baru kali ini dirinya dipanggil oleh orang yang tidak dikenal disana.
Namun,
“Sini neng, jangan malu-malu, sudah wajar di desa ini mah kayak gini, apalagi kalian sudah jauh-jauh ke kota main kesini, sini makan dulu jagung rebusnya.”
Orang itu terus-terusan memanggil mereka berdua dengan senyumannya yang ramah. Rara dan Dewi yang awalnya enggan untuk mendekat akhirnya mengangguk dan mendekati orang tersebut yang duduk sambil terus-menerus tersenyum ke arah mereka.
“Duduk sini neng, kalian pasti cape, mau sekalian dibuatin teh atau kopi.”
Orang itu begitu ramah, seseorang wanita paruh baya yang nampaknya sudah berumur sekitar enam puluh hingga tujuh puluhan. dia menyambut Rara dan Dewi di rumahnya yang sederhana.
Semilir angin yang berhembus dari arah hutan membuat hawa semakin sejuk dan membuat mereka nyaman duduk di pelataran rumah dengan jagung rebus yang tersedia disana.
“Ga perlu repot-repot nek, eh bu.”
“Ini aja kita sudah berterima kasih,” kata Rara sambil tersenyum
“Iya bu, ulah repot-repot, (ga perlu repot-repot,)” kata Dewi sambil mengangguk pelan.
“Owh ya udah atuh, hehe.”
“Silahkan di makan atuh jagungnya, masih anget loh.”
Dirinya memperlkenalkan diri sebagai Ma Uneh, dia sudah lahir dan hidup di desa ini selama puluhan tahun.
Tim Rarasukma dan Pak Brata dengan kelompoknya memang diterima dengan baik oleh para warga yang tinggal di Desa Kolong Mayit, mereka tersenyum dan menyapa kepada mereka semua dan menyambut mereka seperti layaknya tamu yang sudah lama tidak bertemu selama beberapa tahun.
Sehingga, perlakuan baik yang Rara dan Dewi terima dari Ma Uneh memang wajar, karena hampir seluruh warga desa yang mereka temui disana sering tersenyum dan menyapa kepada siapapun tamu yang datang ke Desa Kolong Mayit di tengah-tengah sebuah mitos dan cerita yang menyeramkan tentang desa ini.
“Eh iya, nek, eh salah bu, maaf mau tanya kenapa disini sepi ya sekarang,” kata Dewi yang mencoba mengorek informasi tentang Desa Kolong Mayit ini untuk tambahan informasi dokumenter yang akan mereka buat nantinya.
“Ahhh, iya neng, kalau siang mah memang gini, tadi pagi kan pas ada tamu datang para warga ke hutan semua, nyari orang yang katanya hitang.”
“Yang itu tuh sekarang yang sedang di obatin di rumah Pak Cece ketua desa, nah sehabis itu mereka pasti ke hutan untuk nyari madu atau ke ladang untuk bekerja.”
“Ya udah biasa disini mah atuh neng, da hampir semuanya petani atuh.” jawabnya sambil tersenyum.
Rara sedikit terdiam, ada sesuatu yang menganggu dirinya di bawah rumah tempat mereka duduk, sebuah yang dimitoskan tentang makam yang ada di kolong rumah-rumah mereka.
Sedangkan Dewi masih mengorek informasi tentang Desa Kolong Mayit ini sebagai data yang harus dia kumpulkan.
“Eh iya, tumben-tumbenan si neng geulis (neng cantik) ini pada kesini, biasanya yang kesana itu tuh laki-laki semua, jangan ada wanita yang datang kesini dari luar desa.” Katanya sambil menatap Dewi dengan sedikit kekaguman dari matanya.
“Pasti neng anaknya si Bapak itu ya.”
“Tadi ada satu orang, terus sekarang ga tau kemana karena ga ke ketua desa dulu, nah pas agak siangan baru ada rombongan si Bapak yang di susul sama rombongan neng yang datang.”
“Pokoknya mah neng ya, nanti jangan takut, ikutin si Bapak kalau misalkan kalian bertemu si aki di desa ini ya, ikutin aja si Bapak itu pokoknya.”
Dewi dan Rara yang mendengar hal itu langsung mengangkat tangannya, dia seperti tidak setuju atas apa yang di katakan oleh Ma uneh itu.
“Owh engga, engga, kita itu sebenarnya di undang oleh Pak Brata untuk membuat dokumenter tentang Desa ini bu, kita berdua bukan anak dari Pak Brata.”
“Kita ada berlima totalnya, yang tiga kini sedang berdiskusi dengan ketua desa bersama Pak Brata yang mengundang kami,” Kata Dewi sambil tersenyum kecil dan menunjuk ke salah satu rumah yang ada di sudut desa.
“Owh iya, iya, kirain kalian anak dari bapak itu, padahal cantik-cantik ya tapi ya……”
“Eh, pasti kalian kesini ingin tau apa benar ada pemakaman di bawah rumah-rumah yang ada disini kan.”
“Kalian harus tahu, karena biar kalian ga penasaran nantinya.”
Entah mengapa, Ma Uneh langsung membelokan pembicaraan dan tidak melanjutkan pembahasan yang tadi setelah tau bahwa Tim Rarasukma datang dengan atas ajakan Pak Brata.
Dirinya langsung turun dan berjalan ke sebuah papan kecil yang menutup kolong rumah panggung yang ada dibawah mereka, dirinya membuat papan itu secara perlahan dan mempersilahkan untuk Rara dan Dewi melihat atas apa yang dirumorkan oleh orang-orang diluar desa pada saat ini.
Apalagi, ketika dirinya turun, sekilas dirinya melihat Rara yang dari tadi terdiam, sehingga dirinya kembali tersenyum dan berkata.
“Si neng itu sepertinya penasaran, ayo sini lihat, sudah dibuka pintunya agar bisa kalian bisa lihat.”
“Karena ya, setiap setahun sekali, ada suatu malam yang membuat mereka seperti terbangun dari tidurnya. sehingga kita sengaja menutupnya agar mereka tidak keluar dan menghilang, karena dulu pernah beberapa kali mayat yang ada dibawah rumah kita menghilang dan ditemukan di tengah hutan sehingga wajar kita mengurungnya di kolong rumah.”
Dewi yang mendengar hal itu langsung penarasan, sehingga dirinya bertanya lebih lanjut atas apa yang diceritakan oleh Ma Uneh pada saat itu.
“Emang bagaimana awalnya sampai mereka bisa di kolong rumah bu, sehingga para warga harus sengaja mengurung mereka agar jasad mereka tidak keluar dan menghilang seperti yang ibu ceritakan”
Ma Uneh kembali tersenyum, Rara dan Dewi yang sudah melihat memang benar disana ada beberapa makam yang tertutup tanpa ada cahaya yang menyinarinya membuat mereka semakin penasaran kenapa mayat-mayat itu dimakamkan disana.
“Sebenarnya, ini sudah terjadi beratus-ratus tahun yang lalu, ketika disini masih berupa kerajaan.”
“Ada beberapa keluarga yang dituduh sebagai pemakai ajaran sesat, ajaran mereka berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kerajaan.”
“Padahal mereka semua adalah orang-orang kepercayaan, para bangsawan dengan harta yang berlimpah ruah, namun karena mereka menjalankan suatu ritual mereka diburu hingga sampai ke tempat ini.”
“Tempat ini sebenarnya adalah sebuah tempat persembunyian, namun sebelum mereka meninggalkan kerajaan, sang raja bertitah bahwa semua keturunan mereka tidak akan mengenali mereka karena setiap jasad yang dimakamkan akan menghilang di malam-malam tertentu dari kuburnya.”
“Sehingga, para warga sepakat untuk mengurung para jasad keluarga mereka di bawah rumah-rumah mereka untuk menghindari hilangnya mayat-mayat itu entah kemana.”
“Ya kurang lebih seperti itu sih, cerita awal mulanya, tapi kalau ingin lebih lengkap ke ketua desa aja, yang pasti kita disini hidup dengan tradisi seperti ini dengan damai.”
“Pokoknya hati-hati aja ya neng, karena neng kan belum terbiasa dengan desa ini. kalau nanti ketemu dengan dedemit-dedemit disini ya jangan takut aja sih, karena nanti juga neng terbiasa, seperti mereka yang sudah pernah kesini, hehe”
***
Brakk
“Maneh teu apal ieu si entis nepi ka kieu, pokokna urang moal ngilu nepi ka maraneh balik, edek di dagoan di Leuweung Poek nepi ka maneh beres. (Kalian ga tau si Entis sampe seperti ini, pokoknya au tidak mau ikut sampai kalian semua pulang, akan ku tunggu kalian di Leuweung Poek ampe kalian beres.)”
Adang begitu marahnya melihat Entis yang terluka di depannya. dia yang mengajak Entis merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada dirinya ketika berada di Leuwueng Kunti.
“Kang, udah, teu nanaun (ga apa-apa), kalau akang adat-adatan (marah-marah) seperti itu nanti si Pak Brata ga akan membayar kita.” kata Entis sambil meringis kesakitan.
Disana, Danang, Ardi, Dimas hanya terdiam. dia tidak tau Adang begitu marah ketika melihat entis seperti ini.
Aji, Eko bahkan Pak Brata malah terlihat santai atas kemarahan yang ada kepada diri Adang pada waktu itu.
Di depan Pak Cece yang merupakan ketua Desa kolong mayit yang pada itu menjenguk kondisi entis membuat dirinya harus berbicara.
“Kang Adang, akang kan tau apa maksud dan tujuan mengantarkan mereka ke desa ini kan.”
“Masalah apa yang di alami Entis, biar kita yang akan mengobati dan mengantarkan kembali ke luar desa ketika besok.”
“Karena waktu tinggal bebera[a hari hari lagi ketika hal itu terjadi, semua warga akan keluar desa di malam tersebut bersama dengan Entis dan meninggalkan Pak Brata bersama orang-orangnya untuk membuat dokumenter disini.”
“Benar kan seperti itu Pak brata,” kata ketua desa yang menoleh ke arah Pak Brata.
Dirinya yang santai sambil menghisap rokok yang dibawanya hanya mengangguk, seperti sudah mengerti atas apa yang dikatakan oleh ketua desa.
“Iya, seperti itu saja pak ketua, Adang juga sepertinya sudah tau kan, jadi ya kalau misalkan dirinya ingin keluar desa ketika malam itu tiba bersama warga desa ya silahkan, nanti jemput saya aja di Leuweung Poek ketika semuanya selesai ya.”
“Dan ya, adang ga perlu khawatir, kalau semuanya selesai saya akan membayar nya sesuai kesepakatan.”
“Namun Pak.” Pak Brata kembali menoleh ke ketua desa.
“penutup yang ada di kolong-kolong rumah panggung di desa tolong di buka semua ya, biar anak-anak ini bisa tahu apa yang ada di kolong rumah-rumah warga.” katanya sambil menepuk pundak Ardi yang ada di sebelahnya.
“Nanti kita akan pastikan tidak akan mayat yang menghilang, karena dengan adanya kita mereka hanya berkumpul di sekitar desa dan tidak menghilang ke tengah-tengah hutan sehingga para warga tidak perlu repot-repot mencari mereka.”
Ketua desa itupun mengangguk, dia kembali menoleh ke arah Adang dan Adang pun setuju atas apa yang di ucapkan Pak Brata.
“Ya sudah kalau seperti itu, sok sekarang Entis dan Adang silahkan disini saja, dan kalian bertiga silahkan berkeliling agar tahu desa ini seperti apa, karena tadi si neng juga berdua berkeliling di desa.”
“Namun, sebelum magrib tolong kembali lagi, karena kita akan memulai ritual penyambutan tamu di desa yang bisa kalian dokumentasikan nantinya.” Kata Pak Cece yang merupakan ketua desa dengan asap rokok yang mengepul dari dalam mulutnya.
Danang, Ardi dan dimas hanya mengangguk, mereka bertiga pun pamit dan keluar dari rumah ketua desa untuk menyusul Dewi dan Rara yang ada diluar.
Ketika mereka bertiga menghilang, ketua desa kembali bertanya kepada Pak Brata pada saat itu, bahkan kali ini dirinya bertanya dengan nada yang serius kepada dirinya.
“Kamana jelema anu maneh bawa hiji deui, euweuh sopan santun pisan, datang kadieu lain ngahadap heula ka aink malah langsung ngaleungit. (kemana manusia yang kamu bawa satu lagi, tidak ada sopan santunnya, datang kesini bukan menghadap dulu kepadaku malah langsung menghilang.)”
“Bawa eta jelema, ulah di saruakeun tempat ieu jeung tempat anu pernah maraneh datangan. (bawa manusia itu, jangan di samakan tempat ini dengan tempat yang kamu datangi.)”
“Soalna lamun sampe euweuh sopan santunna nepi ka si Aki apaleun, maraneh kabeh bakalan cilaka. (soalnya kalau tidak ada sopan santunnya sampai si Aki tau, kalian semua akan celaka.)”
itkgid dan 19 lainnya memberi reputasi
20
Kutip
Balas
Tutup