- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
SUPPORT AGAR ANE SEMANGAT TERUS UNTUK MENULIS YA, KALIAN BISA KIRIM TRAKTEER DISINI.
TRAKTIR CENDOL
Diubah oleh jurigciwidey 11-02-2026 11:19
reverbriks dan 52 lainnya memberi reputasi
51
37.4K
Kutip
437
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#92
Bab 27 - SAMPAI
Quote:
Sinar matahari pun muncul, sinarnya yang terang dengan warna merah ke kuning-kuningan membuat suasana yang awalnya menyeramkan kini menjadi sedikit menghangat.
Suara dari kelelawar yang kini kembali ke sarangnya di hutan itu terlihat dengna jelas, mereka menutupi langit dan berusaha untuk sampai ke sarangnya sebelum dirinya tertidur pulas menunggu waktu malam tiba.
Disana, nampak seseorang berjalan dengan tubuhnya yang sedikit lesu. apa yang terjadi kemarin malam membuat tenaga nya terkuras habis, apalagi dirinya tidak menyempatkan untuk memejam mata setelah kejadian itu menimpa dirinya.
“Kang Adang, gimana, apakah Pak Brata dan yang lainnya ada di area tenda.”
Dewi berdiri, di tengah-tengah Rara yang duduk dan dimas yang tertidur pulas di bawah sebuah pohon besar yang ada di dekat mereka.
Adang yang datang dari arah jalanan setapak menuju area tenda hanya menggelengkan kepala, wajahnya yang lemas serta kantung matanya yang menghitam terlihat dengan jelas secara perlahan.
“Wi, Apakah lebih baik kita menyudahi apa yang sudah kita lakukan disini.” Kata Rara yang melihat ke arah Dewi yang berdiri di dekatnya menunggu Adang yang masih berjalan kepada mereka.
“Jujur wi, gue ga tau apa yang akan terjadi kalau kita menyelesaikan dokumenter ini, di perjalanan aja sudah kayak gini wi.”
Rara yang awalnya duduk pun kini berdiri, dia menjelaskan bahwa sudah beberapa hari ini dia mengalami mimpi yang menyuruh dirinya untuk kembali, entah apa yang sebenarnya terjadi nantinya sehingga mimpi itu terus berulang.
Rara juga mengatakan bahwa semua orang-orang disini sudah mengalami malam yang mengerikan, bahkan lebih mengerikan dari kejadian di rumah mewah itu.
Rara terus membujuk Dewi untuk menemukan semua krunya yang kini tidak bersamanya, yaitu Ardi dan Danang yang kini terpisah dan belum berkumpul lagi bersama mereka.
Setelah itu, dirinya menyarankan untuk mundur. karena dia takut keselamatan mereka terancam, sama seperti Entis yang kini menghilang.
Brakkk
“AINK GEUS NGABEJAAN, ULAH KA LEUWEUNG IEU, JADINA SI ENTIS LEUNGIT. (AKU DAH MEMBERI TAHU, JANGAN KE HUTAN INI, JADINYA SI ENTIS ILANG.)”
Di tengah rasa lelah yang melanda, ternyata Adang masih memendam rasa emosi terhadap Pak Brata dan Mbah Walang. Dia seharusnya memaksa untuk berangkat ke Leuweung Poek daripada ke Leuweung Kunti seperti saat ini.
Dewi yang berusaha tenang akhirnya bertindak, otaknya berputar dengan cepat agar Rara dan Adang tidak terus menerus mengeluh atas apa yang mereka kerjakan.
Di satu sisi, dirinya dan Pak Brata sudah membuat sebuah kontrak tertulis, dimana dirinya mau tidak mau harus menyelesaikan apa yang sudah mereka buat tentang dokumenter ini.
itu memang sebuah hal yang wajar, mengingat di dalam kontrak tertulis tersebut pihak tim Rarasukma harus membayar pinalti yang besar apabila mereka memutus kontrak itu di tengah jalan dan kembali pulang tanpa menyelesaikan dokumenter yang mereka buat.
“Sudah, sudah.”
“Ra, lu tau dengan tubuh lu yang sensitif, lu bisa tau bagaimana seramnya tempat yang akan kita datangi ini” kata Dewi yang berusaha menenangkan Rara pada saat itu.
“Meskipun Mbah Walang sudah membuatlu tidak se sensitif dulu, namun lu masih bisa merasakan mereka kan.”
“Gue sadar, gue terlalu naif, membuat semuanya harus masuk ke dalam kamera termasuk kejadian-kejadian yang sebenarnya tidak harus gue masukan ke dalamnya.”
“Gue ingin semuanya sempurna, sehingga Pak Brata puas dengan kinerja kita, karena gue tau, konten dokumenter horror itu harus penuh dengan gimmick, harus penuh dengan hal-hal yang bisa mengejutkan yang membuat penonton suka”
“Pak Brata sudah menjelaskan, bahwa tempat ini adalah tempat yang paling menyeramkan. bahkan tidak ada satu pun konten kreator yang pernah meliput tempat ini”
“Sehingga wajar, hal-hal yang menyeramkan di tempat ini bisa kita rasakan bahkan sebelum kita sampai ke desanya, dan itu hal yang wajar”
“Tapi ra.”
Dewi tiba-tiba mendekati Adang yang kini terduduk lesu, dia yang berniat meminta pertolongan orang-orang yang ada di area tenda untuk mencari Entis yang masih belum diketemukan kini sirna pada saat itu.
“Ada yang lebih penting dari apa yang lu takutkan.”
“Si Kang Entis menghilang ra, dan kita harus bisa menemukan dirinya terlebih dahulu sebelum berdiskusi tentang kelanjutan dokumenter ini.”
“Gue tau ke khawatiranlu ra, gue tau, kita coba diskusikan lagi setelah semua orang berkumpul lagi ya, karena gue rasa mereka sudah merapikan tenda-tenda mereka dan sudah berjalan ke arah desa dan menunggu kita disana.”
“Jadi, kita lanjutkan perjalanan ini hingga sampai disana, dan kita akan berdiskusi kembali sekaligus meminta bantuan warga desa untuk mencari Kang Entis.”
Dewi yang menjadi memimpin Tim Rarasukma tau bagaimana sifat-sifat dari orang-orang yang ada di dalamnya. dia berusaha mencari jalan keluar agar mereka tidak khawatir lagi akan ketakutan yang ada di dalam diri mereka pada saat ini.
Rara dan Adang terdiam, mereka mencoba mencerna apa yang Dewi katakan pada saat itu.
Tak lama, mereka secara perlahan mengangguk, bahkan Adang langsung kembali berdiri untuk berjalan lagi ke arah Desa Kolong Mayit di pagi itu.
Dewi yang melihat mereka menyetujui keputusan yang sudah mereka buat akhirnya sedikit tersenyum, bahkan dia langsung menepuk Dimas yang masih tertidur disana untuk segera melanjutkan perjalanan ke Desa Kolong Mayit sesuai dengan tujuan mereka sebelumnya.
***
Perjalanan yang mereka tempuh rupanya lumayan panjang, jalanan di hutan yang jarang dilalui oleh manusia itu membuat Adang beberapa kali terhenti karena jalanan setapak yang mereka lalui tertutup oleh rerumputan.
Namun, Adang yang tau tentang hutan ini hanya berfikir sejenak dan melanjutkan perjalanan ke arah desa.
Hutan yang menyeramkan ketika malam kini berubah ketika sinar matahari masuk ke dalamnya. mereka tak jarang mendengar suara-suara dari burung yang tinggal di atas pepohonan yang tinggi.
Tak jarang mereka juga menemukan bunga-bunga anggrek hutan yang masih asri dan harganya mahal apabila di jual di kota.
Hutan itu begitu asri, mungkin karena jarang ada manusia sehingga kehidupan di dalam hutan tidak terlalu terusik.
Perjalanan mereka yang lumayan panjang membuat mereka harus berisitrahat beberapa kali, bahkan mereka harus merasakan minum dari mata air yang ada di dalam hutan karena mereka tidak membawa perbekalan. Dimas yang awalnya mulai merekam kembali perjalanan mereka pun harus terhenti karena baterai kameranya habis sehingga dirinya hanya membawa kameranya di salah satu tangannya pada saat itu.
“Sebentar lagi kita sampai, kita hanya perlu melewati dua batu yang dibelah sebagai pembatas desa sebelum nantinya kita sampai ke Desa Kolong Mayit.” Kata Adang yang memimpin mereka dari depan.
Rara, Dewi, dan Dimas pun langsung menghela napas ketika ucapan dari Adang itu terdengar. perjalanan yang memakan waktu berjam-jam kini sudah mencapai akhirnya.
***
Dua buah batu besar kini terlihat jelas oleh mereka semua, batu yang terbelah sebagai jalan masuk Desa Kolong Mayit membuat mereka takjub atas apa yang mereka lihat.
“Dua batu ini hanya bisa kalian lewati ketika kita melewati Leuweung Kunti sebagai Jalannya.”
“Karena dua batu ini sengaja di belah oleh orang-orang jaman dahulu untuk mempersingkat perjalanan para warga desa ketika mereka keluar.”
“Karena apabila mereka melewati Leuweung Poek, mereka harus berjalan tiga jam lebih lama daripada melewati jalanan ini.”
“Jaman kakek buyutku, mereka masih memakai jalanan ini, melewati dua batu ini, namun ketika sekarang tidak mereka gunakan lagi.”
“Karena….”
“RARAAAAAA, DEWIIIIII”
Ucapan Adang terhenti, tepat ketika mereka berjalan dibawahnya dan melihat Ardi dan Danang menunggu mereka tepat di Desa Kolong Mayit yang ada di belakang mereka.
Danang hanya tersenyum melihat Rara, Dewi dan Dimas selamat. Sedangkan Ardi yang awalnya pendiam kini berteriak-teriak memanggil mereka.
“Hey, Rara sama si Dewi aja di teriakin, lah gue cape-cape bawa kamera kayak gini kagak di sambut.”
Danang yang melihat Dimas menggerutu langsung mendekat, berusaha menghibur Dimas yang pada saat itu berjalan bersama mereka.
“Dimas cayang, cini-cini kameranya, pasti berat ya bawanya.” Kata Danang sambil bercanda.
“Berisik lu!!” Jawab Dimas sambil menggerutu.
“Hahaha, lemah amat lu, segitu aja dah ngeluh, dah noh setelah nyampe lu istirahat aja ada singkong rebus disana ama nasi liwet yang sudah di sediain buat lu pada.” Kata Danang sambil tersenyum kecil.
Rara yan melihat Danang dan Ardi menghela napas panjang, dia bersyukur bahwa berdua tidak apa-apa. meskipun, Rara seperti merasakan sesuatu yang berbeda dengan Danang. karena dirinya yang sepanjang malam menghilang bersama Mbah Walang seperti tidak merasakan apa-apa seperti halnya yang terjadi kepada mereka semalam.
“Akhirnya, kalian datang juga.”
“Mohon maaf, kita semua meninggalkan kalian, bukan tanpa alasan, tapi kita ingin semuanya sesuai dengan jadwal.”
Tiba-tiba, dari arah belakang muncul Pak Brata yang berjalan mendekati mereka semua, dia berjalan dengan santai layaknya tidak terjadi apa-apa kepadanya ketika mereka bermalam di Leuweung Kunti yang menyeramkan itu.
“Ayo, sudahi dulu ngobrol-ngobrolnya, kalian pasti cape sehingga kita sudah menyiapkan makanan dan tempat untuk beristirahat di dalam.”
Adang yang melihat Pak Brata datang tiba-tiba mendekat, dia mencoba meminta tolong untuk mencari Entis yang pada saat ini masih menghilang entah kemana.
Namun, baru beberapa langkah mendekat, dengan santainya Pak Brata berkata kepada Adang pada saat itu.
“Ah iya, untuk Entis kamu ga perlu khawatir. dia sudah ditemukan dan kini sedang di obati oleh warga desa.”
“Aku tidak akan membiarkan kalian berdua celaka, karena kalian berdua harus selamat, karena aku menyewa kalian untuk mengantarkanku pergi dan pulang dengan selamat apapun yang terjadi.”
Suara dari kelelawar yang kini kembali ke sarangnya di hutan itu terlihat dengna jelas, mereka menutupi langit dan berusaha untuk sampai ke sarangnya sebelum dirinya tertidur pulas menunggu waktu malam tiba.
Disana, nampak seseorang berjalan dengan tubuhnya yang sedikit lesu. apa yang terjadi kemarin malam membuat tenaga nya terkuras habis, apalagi dirinya tidak menyempatkan untuk memejam mata setelah kejadian itu menimpa dirinya.
“Kang Adang, gimana, apakah Pak Brata dan yang lainnya ada di area tenda.”
Dewi berdiri, di tengah-tengah Rara yang duduk dan dimas yang tertidur pulas di bawah sebuah pohon besar yang ada di dekat mereka.
Adang yang datang dari arah jalanan setapak menuju area tenda hanya menggelengkan kepala, wajahnya yang lemas serta kantung matanya yang menghitam terlihat dengan jelas secara perlahan.
“Wi, Apakah lebih baik kita menyudahi apa yang sudah kita lakukan disini.” Kata Rara yang melihat ke arah Dewi yang berdiri di dekatnya menunggu Adang yang masih berjalan kepada mereka.
“Jujur wi, gue ga tau apa yang akan terjadi kalau kita menyelesaikan dokumenter ini, di perjalanan aja sudah kayak gini wi.”
Rara yang awalnya duduk pun kini berdiri, dia menjelaskan bahwa sudah beberapa hari ini dia mengalami mimpi yang menyuruh dirinya untuk kembali, entah apa yang sebenarnya terjadi nantinya sehingga mimpi itu terus berulang.
Rara juga mengatakan bahwa semua orang-orang disini sudah mengalami malam yang mengerikan, bahkan lebih mengerikan dari kejadian di rumah mewah itu.
Rara terus membujuk Dewi untuk menemukan semua krunya yang kini tidak bersamanya, yaitu Ardi dan Danang yang kini terpisah dan belum berkumpul lagi bersama mereka.
Setelah itu, dirinya menyarankan untuk mundur. karena dia takut keselamatan mereka terancam, sama seperti Entis yang kini menghilang.
Brakkk
“AINK GEUS NGABEJAAN, ULAH KA LEUWEUNG IEU, JADINA SI ENTIS LEUNGIT. (AKU DAH MEMBERI TAHU, JANGAN KE HUTAN INI, JADINYA SI ENTIS ILANG.)”
Di tengah rasa lelah yang melanda, ternyata Adang masih memendam rasa emosi terhadap Pak Brata dan Mbah Walang. Dia seharusnya memaksa untuk berangkat ke Leuweung Poek daripada ke Leuweung Kunti seperti saat ini.
Dewi yang berusaha tenang akhirnya bertindak, otaknya berputar dengan cepat agar Rara dan Adang tidak terus menerus mengeluh atas apa yang mereka kerjakan.
Di satu sisi, dirinya dan Pak Brata sudah membuat sebuah kontrak tertulis, dimana dirinya mau tidak mau harus menyelesaikan apa yang sudah mereka buat tentang dokumenter ini.
itu memang sebuah hal yang wajar, mengingat di dalam kontrak tertulis tersebut pihak tim Rarasukma harus membayar pinalti yang besar apabila mereka memutus kontrak itu di tengah jalan dan kembali pulang tanpa menyelesaikan dokumenter yang mereka buat.
“Sudah, sudah.”
“Ra, lu tau dengan tubuh lu yang sensitif, lu bisa tau bagaimana seramnya tempat yang akan kita datangi ini” kata Dewi yang berusaha menenangkan Rara pada saat itu.
“Meskipun Mbah Walang sudah membuatlu tidak se sensitif dulu, namun lu masih bisa merasakan mereka kan.”
“Gue sadar, gue terlalu naif, membuat semuanya harus masuk ke dalam kamera termasuk kejadian-kejadian yang sebenarnya tidak harus gue masukan ke dalamnya.”
“Gue ingin semuanya sempurna, sehingga Pak Brata puas dengan kinerja kita, karena gue tau, konten dokumenter horror itu harus penuh dengan gimmick, harus penuh dengan hal-hal yang bisa mengejutkan yang membuat penonton suka”
“Pak Brata sudah menjelaskan, bahwa tempat ini adalah tempat yang paling menyeramkan. bahkan tidak ada satu pun konten kreator yang pernah meliput tempat ini”
“Sehingga wajar, hal-hal yang menyeramkan di tempat ini bisa kita rasakan bahkan sebelum kita sampai ke desanya, dan itu hal yang wajar”
“Tapi ra.”
Dewi tiba-tiba mendekati Adang yang kini terduduk lesu, dia yang berniat meminta pertolongan orang-orang yang ada di area tenda untuk mencari Entis yang masih belum diketemukan kini sirna pada saat itu.
“Ada yang lebih penting dari apa yang lu takutkan.”
“Si Kang Entis menghilang ra, dan kita harus bisa menemukan dirinya terlebih dahulu sebelum berdiskusi tentang kelanjutan dokumenter ini.”
“Gue tau ke khawatiranlu ra, gue tau, kita coba diskusikan lagi setelah semua orang berkumpul lagi ya, karena gue rasa mereka sudah merapikan tenda-tenda mereka dan sudah berjalan ke arah desa dan menunggu kita disana.”
“Jadi, kita lanjutkan perjalanan ini hingga sampai disana, dan kita akan berdiskusi kembali sekaligus meminta bantuan warga desa untuk mencari Kang Entis.”
Dewi yang menjadi memimpin Tim Rarasukma tau bagaimana sifat-sifat dari orang-orang yang ada di dalamnya. dia berusaha mencari jalan keluar agar mereka tidak khawatir lagi akan ketakutan yang ada di dalam diri mereka pada saat ini.
Rara dan Adang terdiam, mereka mencoba mencerna apa yang Dewi katakan pada saat itu.
Tak lama, mereka secara perlahan mengangguk, bahkan Adang langsung kembali berdiri untuk berjalan lagi ke arah Desa Kolong Mayit di pagi itu.
Dewi yang melihat mereka menyetujui keputusan yang sudah mereka buat akhirnya sedikit tersenyum, bahkan dia langsung menepuk Dimas yang masih tertidur disana untuk segera melanjutkan perjalanan ke Desa Kolong Mayit sesuai dengan tujuan mereka sebelumnya.
***
Perjalanan yang mereka tempuh rupanya lumayan panjang, jalanan di hutan yang jarang dilalui oleh manusia itu membuat Adang beberapa kali terhenti karena jalanan setapak yang mereka lalui tertutup oleh rerumputan.
Namun, Adang yang tau tentang hutan ini hanya berfikir sejenak dan melanjutkan perjalanan ke arah desa.
Hutan yang menyeramkan ketika malam kini berubah ketika sinar matahari masuk ke dalamnya. mereka tak jarang mendengar suara-suara dari burung yang tinggal di atas pepohonan yang tinggi.
Tak jarang mereka juga menemukan bunga-bunga anggrek hutan yang masih asri dan harganya mahal apabila di jual di kota.
Hutan itu begitu asri, mungkin karena jarang ada manusia sehingga kehidupan di dalam hutan tidak terlalu terusik.
Perjalanan mereka yang lumayan panjang membuat mereka harus berisitrahat beberapa kali, bahkan mereka harus merasakan minum dari mata air yang ada di dalam hutan karena mereka tidak membawa perbekalan. Dimas yang awalnya mulai merekam kembali perjalanan mereka pun harus terhenti karena baterai kameranya habis sehingga dirinya hanya membawa kameranya di salah satu tangannya pada saat itu.
“Sebentar lagi kita sampai, kita hanya perlu melewati dua batu yang dibelah sebagai pembatas desa sebelum nantinya kita sampai ke Desa Kolong Mayit.” Kata Adang yang memimpin mereka dari depan.
Rara, Dewi, dan Dimas pun langsung menghela napas ketika ucapan dari Adang itu terdengar. perjalanan yang memakan waktu berjam-jam kini sudah mencapai akhirnya.
***
Dua buah batu besar kini terlihat jelas oleh mereka semua, batu yang terbelah sebagai jalan masuk Desa Kolong Mayit membuat mereka takjub atas apa yang mereka lihat.
“Dua batu ini hanya bisa kalian lewati ketika kita melewati Leuweung Kunti sebagai Jalannya.”
“Karena dua batu ini sengaja di belah oleh orang-orang jaman dahulu untuk mempersingkat perjalanan para warga desa ketika mereka keluar.”
“Karena apabila mereka melewati Leuweung Poek, mereka harus berjalan tiga jam lebih lama daripada melewati jalanan ini.”
“Jaman kakek buyutku, mereka masih memakai jalanan ini, melewati dua batu ini, namun ketika sekarang tidak mereka gunakan lagi.”
“Karena….”
“RARAAAAAA, DEWIIIIII”
Ucapan Adang terhenti, tepat ketika mereka berjalan dibawahnya dan melihat Ardi dan Danang menunggu mereka tepat di Desa Kolong Mayit yang ada di belakang mereka.
Danang hanya tersenyum melihat Rara, Dewi dan Dimas selamat. Sedangkan Ardi yang awalnya pendiam kini berteriak-teriak memanggil mereka.
“Hey, Rara sama si Dewi aja di teriakin, lah gue cape-cape bawa kamera kayak gini kagak di sambut.”
Danang yang melihat Dimas menggerutu langsung mendekat, berusaha menghibur Dimas yang pada saat itu berjalan bersama mereka.
“Dimas cayang, cini-cini kameranya, pasti berat ya bawanya.” Kata Danang sambil bercanda.
“Berisik lu!!” Jawab Dimas sambil menggerutu.
“Hahaha, lemah amat lu, segitu aja dah ngeluh, dah noh setelah nyampe lu istirahat aja ada singkong rebus disana ama nasi liwet yang sudah di sediain buat lu pada.” Kata Danang sambil tersenyum kecil.
Rara yan melihat Danang dan Ardi menghela napas panjang, dia bersyukur bahwa berdua tidak apa-apa. meskipun, Rara seperti merasakan sesuatu yang berbeda dengan Danang. karena dirinya yang sepanjang malam menghilang bersama Mbah Walang seperti tidak merasakan apa-apa seperti halnya yang terjadi kepada mereka semalam.
“Akhirnya, kalian datang juga.”
“Mohon maaf, kita semua meninggalkan kalian, bukan tanpa alasan, tapi kita ingin semuanya sesuai dengan jadwal.”
Tiba-tiba, dari arah belakang muncul Pak Brata yang berjalan mendekati mereka semua, dia berjalan dengan santai layaknya tidak terjadi apa-apa kepadanya ketika mereka bermalam di Leuweung Kunti yang menyeramkan itu.
“Ayo, sudahi dulu ngobrol-ngobrolnya, kalian pasti cape sehingga kita sudah menyiapkan makanan dan tempat untuk beristirahat di dalam.”
Adang yang melihat Pak Brata datang tiba-tiba mendekat, dia mencoba meminta tolong untuk mencari Entis yang pada saat ini masih menghilang entah kemana.
Namun, baru beberapa langkah mendekat, dengan santainya Pak Brata berkata kepada Adang pada saat itu.
“Ah iya, untuk Entis kamu ga perlu khawatir. dia sudah ditemukan dan kini sedang di obati oleh warga desa.”
“Aku tidak akan membiarkan kalian berdua celaka, karena kalian berdua harus selamat, karena aku menyewa kalian untuk mengantarkanku pergi dan pulang dengan selamat apapun yang terjadi.”
itkgid dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Kutip
Balas
Tutup