- Beranda
- Stories from the Heart
Thread Horor: MENJEMPUT GELAP
...
TS
saujanastory
Thread Horor: MENJEMPUT GELAP
Halo Agan semua, salam kenal. Ane Jana, yang biasa menceritakan dan kisah horor baik berdasarkan kisah nyata, atau terinspirasi dari kisah nyata. Monggo disimak, jangan lupa diramaikan.

Sekian Agan-Agan semua, malam Minggu depan ceritanya akan dilanjutkan.
MENJEMPUT GELAP

Quote:
Original Posted By Bab 1: Kontrakan Bangsal Tiga
Hari ini kondisi cuaca cukup cerah dengan sedikit gumpalan awan berarak yang menjadi tanda bahwasanya hujan tidak akan turun. Dari balik kaca, lelaki itu memandangi jalanan sambil menyesap segelas kopi yang tak lagi panas.
Siang ini ia terpikir beberapa hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Sebuah misi yang seharusnya ia lakukan bertahun-tahun lalu. Mengunjungi tanah leluhurnya. Namun yang ia temukan adalah hal mengerikan yang seharusnya tak pernah terungkap. Sebuah rahasia masa lalu yang disimpan rapat oleh seluruh penduduk desa.
Kemal, 32 tahun. Seorang pemuda medioker yang masih terus berkutat dengan segala hobi dan kegemarannya. Kehidupan keluarganya yang sangat sederhana membuat masa kecilnya lebih terbatas jika dibandingkan dengan kawan sebayanya.
Ayahnya yang ketika itu masih berada di posisi cukup rendah di tempat kerjanya membuat hidup keluarga sangat sederhana. Ayah Kemal yang memulai karir di sebuah BUMN sebagai sekuriti hanya mendapatkan gaji 275 ribu rupiah per bulan. Saat itu masih sekitar tahun 1991.
Ibunya sedang mengandung sang adik. Sementara Kemal yang statusnya ‘disembunyikan’ berada di desa asal sang ibu. Sebuah desa tertinggal di provinsi paling timur di pulau Jawa. Sebuah desa yang pada saat itu hanya dihuni para petani, dengan kehidupan miskin dan jauh dari kata cukup.
Pada saat itu, ayah Kemal baru saja mendapatkan pekerjaanya. Dan menurut peraturan, pegawai tidak boleh menikah sebelum 3 tahun masa kerja. Karena ayah dan ibu Kemal menikah di luar ketentuan itu, maka kelahiran Kemal terpaksa disembunyikan dari rekan kerja sang ayah.
Dan ia pun dirawat oleh sang nenek, si mbok dari sang ibu.
Dalam rumah bangsal petak itu Harti sedang menggigil ketakutan. Keringat dingin membasahi tubuhnya, sementara ia hanya berada di kontrakan itu sendirian. Husin sedang bertugas sebagai sekuriti dan akan pulang pukul 11 malam. Yang mana akan tiba di rumah 20 hingga 30 menit setelah shift jaga selesai.
Sedari pukul 10, Harti mendengar ada sosok yang sedang tertawa cekikikan di depan pintu rumahnya. Sementara ia sangat tahu, bahwa lingkungan tempat tinggalnya adalah lingkungan yang sepi setelah shalat Isya.
Di dalam rumah, Harti tak bisa melakukan apa pun. Hanya bisa duduk meringkuk diatas ranjang sambil melindungi kandungannya yang sudah cukup besar. Ia hanya berdoa semampu yang ia ingat, diiringi kucuran keringat dan tubuhnya yang menggigil ketakutan.
Hingga pukul 11.25, hampir tengah malam suara vespa memecah keheningan malam itu. Husin datang dan langsung memarkirkan motornya tepat di depan rumah. Ia masuk dan disambut dengan tangisan yang memecah keheningan malam.
“Pak, di situ!! Tadi ada orang ketawa nyaring, cekikikan gak berhenti.” Harti tergagap sambil memeluk erat pinggang suaminya.
“Di mana?! Bentar, biar ku bacok kalo emang ada.” Husin langsung mengambil sebilah golok dan kembali mengecek teras rumah mereka. Dan yang ia temukan hanyalah sepinya malam dengan suara jangkrik dari
seberang jalan yang lebarnya tak lebih dari 2 meter.
Malam itu Harti terselamatkan, ia kembali tenang setelah sang suami memastikan tidak ada yang bisa ia temukan di depan rumahnya. Mereka akhirnya bisa terlelap sambil ditemani beberapa benda tajam seperti jarum, silet, gunting dan bulu landak sebagai proteksi sang jabang bayi.
Sore itu, Harti merasa sakit perut dan ingin buang hajat. Ia lalu keluar rumah melalui pintu belakang dan menuju toilet bersama yang berada tepat di belakang kontrakannya. Perlahan ia turun menuju belakang rumah, sambil memegangi perut besarnya dan melihat toilet dalam kondisi tertutup.
Harti menunggu sejenak. Karena tak ada suara, ia memutuskan untuk mendorong pintu toilet tersebut. Ia terkejut, pintu itu tak terkunci, namun di dalamnya ada seorang nenek yang sedang duduk berjongkok di atas kloset seperti sedang membuang hajat.
“Maaf, saya kira gak ada orang.” Ucapnya sambil langsung menutup pintu dan menunggu di mulut pintu rumahnya.
Beberapa menit berlalu, tak ada tanda bahwa sang nenek sudah selesai. Bahkan tidak ada suara sama sekali dari dalam toilet. Sementara hajat Harti sudah sulit untuk ditahan. Ia pun kembali mengetuk pintu toilet tersebut, seketika toilet itu terbuka. Di dalamnya tak ada orang, nenek yang sedang berjongkok di atas toilet sudah hilang.
Karena sudah menunggu lama dan tak bisa ditahan lagi. Maka Harti langsung saja masuk ke dalam toilet dan menuntaskan hajatnya yang sudah hampir tak terbendung. Sore itu, adalah pertama kali Harti melihat sosok tak asing yang mungkin saja bukan manusia.
Pagi menyingsing, hawa dingin dan sejuk mengiringi niat Harti yang ingin berjalan-jalan. Kumpulan tumbuhan pandan tumbuh di depan rumahnya yang di bawahnya merupakan genangan air. Kontrakan 3 pintu yang hanya memilik satu toilet bersama. Toilet yang berada tepat di belakang dapur rumah Harti.
Ditemani sang suami, Harti berjalan-jalan sambil menikmati udara pagi
yang segar. Disambut dengan sapaan para tetangga yang mayoritas adalah warga suku lokal. Dengan logat Kutai dan Banjar yang kental, mereka menyapa sembari menyapu atau menyiram tanaman.
“Hendak ke mana kita? Gaknya tumat lagi lahir ni. – Mau kemana? Sepertinya sebentar lagi lahiran.” ucap seorang wanita penjual kue-kue basah yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbok Joi dengan logat Kutai
yang kental.
“Ohh, bejalanan aja. Biar kena kalo lahiran lancar, – Mau jalan-jalan saja. Supaya nanti lahiran lancar,” jawab Husin dengan logat Banjar.
“Bulu landak ngan gunting jangan lupa dibawa, biar ndik dilirik kuyang, – Bulu landak sama gunting jangan lupa dibawa, supaya tidak dilirik (hantu) kuyang,” timpal Mbok Joi lagi sambil tersenyum sembari merapikan kue dagangannya.
“Iya, makasih, Mbok Joi.” Husin tersenyum sambil melanjutkan menemani Harti berjalan berkeliling.
Di kota ini, mitos dan rumor tentang kuyang memang sangat dipercaya. Terutama oleh para warga asli yang memang sangat memegang teguh kepercayaan lokal. Dan entah, percaya/tidak percaya semua itu diceritakan turun-temurun dan kabarnya memang sudah ada yang pernah membuktikan keberadaan dan kebenarannya.
Harti dan Husin berjalan menikmati pagi dengan santai. Embun masih terasa membasahi kulit, juga meninggalkan titik-titik bulir air di atas dedaunan di kiri-kanan gang. Banyak orang berlalu-lalang membawa keranjang belanjaan karena pasar juga masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Juga anak-anak sekolah yang sedang jalan bergerombol menuju tempat mereka menuntut ilmu. Juga beberapa ibu yang sedang berjalan berlainan arah. Salah satunya menggunakan kerudung dengan ujung yang melilit di lehernya.
Mereka bercakap sambil salah satunya menatap Harti yang dengan pandangan yang menyelidik. Hingga saat perpapasan, ia bahkan sampai menolehkan kepalanya memandang Harti yang sedang berjalan sambil memegangi perutnya Wanita itu menelan ludahnya sambil menjilat bibirnya sendiri.
“Hmmm.. Wangi..” batinnya.
Siang ini ia terpikir beberapa hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Sebuah misi yang seharusnya ia lakukan bertahun-tahun lalu. Mengunjungi tanah leluhurnya. Namun yang ia temukan adalah hal mengerikan yang seharusnya tak pernah terungkap. Sebuah rahasia masa lalu yang disimpan rapat oleh seluruh penduduk desa.
***
Kemal, 32 tahun. Seorang pemuda medioker yang masih terus berkutat dengan segala hobi dan kegemarannya. Kehidupan keluarganya yang sangat sederhana membuat masa kecilnya lebih terbatas jika dibandingkan dengan kawan sebayanya.
Ayahnya yang ketika itu masih berada di posisi cukup rendah di tempat kerjanya membuat hidup keluarga sangat sederhana. Ayah Kemal yang memulai karir di sebuah BUMN sebagai sekuriti hanya mendapatkan gaji 275 ribu rupiah per bulan. Saat itu masih sekitar tahun 1991.
Ibunya sedang mengandung sang adik. Sementara Kemal yang statusnya ‘disembunyikan’ berada di desa asal sang ibu. Sebuah desa tertinggal di provinsi paling timur di pulau Jawa. Sebuah desa yang pada saat itu hanya dihuni para petani, dengan kehidupan miskin dan jauh dari kata cukup.
Pada saat itu, ayah Kemal baru saja mendapatkan pekerjaanya. Dan menurut peraturan, pegawai tidak boleh menikah sebelum 3 tahun masa kerja. Karena ayah dan ibu Kemal menikah di luar ketentuan itu, maka kelahiran Kemal terpaksa disembunyikan dari rekan kerja sang ayah.
Dan ia pun dirawat oleh sang nenek, si mbok dari sang ibu.
***
Dalam rumah bangsal petak itu Harti sedang menggigil ketakutan. Keringat dingin membasahi tubuhnya, sementara ia hanya berada di kontrakan itu sendirian. Husin sedang bertugas sebagai sekuriti dan akan pulang pukul 11 malam. Yang mana akan tiba di rumah 20 hingga 30 menit setelah shift jaga selesai.
Sedari pukul 10, Harti mendengar ada sosok yang sedang tertawa cekikikan di depan pintu rumahnya. Sementara ia sangat tahu, bahwa lingkungan tempat tinggalnya adalah lingkungan yang sepi setelah shalat Isya.
Di dalam rumah, Harti tak bisa melakukan apa pun. Hanya bisa duduk meringkuk diatas ranjang sambil melindungi kandungannya yang sudah cukup besar. Ia hanya berdoa semampu yang ia ingat, diiringi kucuran keringat dan tubuhnya yang menggigil ketakutan.
Hingga pukul 11.25, hampir tengah malam suara vespa memecah keheningan malam itu. Husin datang dan langsung memarkirkan motornya tepat di depan rumah. Ia masuk dan disambut dengan tangisan yang memecah keheningan malam.
“Pak, di situ!! Tadi ada orang ketawa nyaring, cekikikan gak berhenti.” Harti tergagap sambil memeluk erat pinggang suaminya.
“Di mana?! Bentar, biar ku bacok kalo emang ada.” Husin langsung mengambil sebilah golok dan kembali mengecek teras rumah mereka. Dan yang ia temukan hanyalah sepinya malam dengan suara jangkrik dari
seberang jalan yang lebarnya tak lebih dari 2 meter.
Malam itu Harti terselamatkan, ia kembali tenang setelah sang suami memastikan tidak ada yang bisa ia temukan di depan rumahnya. Mereka akhirnya bisa terlelap sambil ditemani beberapa benda tajam seperti jarum, silet, gunting dan bulu landak sebagai proteksi sang jabang bayi.
***
Sore itu, Harti merasa sakit perut dan ingin buang hajat. Ia lalu keluar rumah melalui pintu belakang dan menuju toilet bersama yang berada tepat di belakang kontrakannya. Perlahan ia turun menuju belakang rumah, sambil memegangi perut besarnya dan melihat toilet dalam kondisi tertutup.
Harti menunggu sejenak. Karena tak ada suara, ia memutuskan untuk mendorong pintu toilet tersebut. Ia terkejut, pintu itu tak terkunci, namun di dalamnya ada seorang nenek yang sedang duduk berjongkok di atas kloset seperti sedang membuang hajat.
“Maaf, saya kira gak ada orang.” Ucapnya sambil langsung menutup pintu dan menunggu di mulut pintu rumahnya.
Beberapa menit berlalu, tak ada tanda bahwa sang nenek sudah selesai. Bahkan tidak ada suara sama sekali dari dalam toilet. Sementara hajat Harti sudah sulit untuk ditahan. Ia pun kembali mengetuk pintu toilet tersebut, seketika toilet itu terbuka. Di dalamnya tak ada orang, nenek yang sedang berjongkok di atas toilet sudah hilang.
Karena sudah menunggu lama dan tak bisa ditahan lagi. Maka Harti langsung saja masuk ke dalam toilet dan menuntaskan hajatnya yang sudah hampir tak terbendung. Sore itu, adalah pertama kali Harti melihat sosok tak asing yang mungkin saja bukan manusia.
***
Pagi menyingsing, hawa dingin dan sejuk mengiringi niat Harti yang ingin berjalan-jalan. Kumpulan tumbuhan pandan tumbuh di depan rumahnya yang di bawahnya merupakan genangan air. Kontrakan 3 pintu yang hanya memilik satu toilet bersama. Toilet yang berada tepat di belakang dapur rumah Harti.
Ditemani sang suami, Harti berjalan-jalan sambil menikmati udara pagi
yang segar. Disambut dengan sapaan para tetangga yang mayoritas adalah warga suku lokal. Dengan logat Kutai dan Banjar yang kental, mereka menyapa sembari menyapu atau menyiram tanaman.
“Hendak ke mana kita? Gaknya tumat lagi lahir ni. – Mau kemana? Sepertinya sebentar lagi lahiran.” ucap seorang wanita penjual kue-kue basah yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbok Joi dengan logat Kutai
yang kental.
“Ohh, bejalanan aja. Biar kena kalo lahiran lancar, – Mau jalan-jalan saja. Supaya nanti lahiran lancar,” jawab Husin dengan logat Banjar.
“Bulu landak ngan gunting jangan lupa dibawa, biar ndik dilirik kuyang, – Bulu landak sama gunting jangan lupa dibawa, supaya tidak dilirik (hantu) kuyang,” timpal Mbok Joi lagi sambil tersenyum sembari merapikan kue dagangannya.
“Iya, makasih, Mbok Joi.” Husin tersenyum sambil melanjutkan menemani Harti berjalan berkeliling.
Di kota ini, mitos dan rumor tentang kuyang memang sangat dipercaya. Terutama oleh para warga asli yang memang sangat memegang teguh kepercayaan lokal. Dan entah, percaya/tidak percaya semua itu diceritakan turun-temurun dan kabarnya memang sudah ada yang pernah membuktikan keberadaan dan kebenarannya.
Harti dan Husin berjalan menikmati pagi dengan santai. Embun masih terasa membasahi kulit, juga meninggalkan titik-titik bulir air di atas dedaunan di kiri-kanan gang. Banyak orang berlalu-lalang membawa keranjang belanjaan karena pasar juga masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Juga anak-anak sekolah yang sedang jalan bergerombol menuju tempat mereka menuntut ilmu. Juga beberapa ibu yang sedang berjalan berlainan arah. Salah satunya menggunakan kerudung dengan ujung yang melilit di lehernya.
Mereka bercakap sambil salah satunya menatap Harti yang dengan pandangan yang menyelidik. Hingga saat perpapasan, ia bahkan sampai menolehkan kepalanya memandang Harti yang sedang berjalan sambil memegangi perutnya Wanita itu menelan ludahnya sambil menjilat bibirnya sendiri.
“Hmmm.. Wangi..” batinnya.
***
Spoiler for Bab Selanjutnya Gan!:
Spoiler for Bab Selanjutnya Gan!:
Spoiler for Bab Selanjutnya, Gan!:
Spoiler for Lanjut lagi, Gan!:
Spoiler for Selamat bermalam Minggu, Gan!:
Spoiler for Habis konser, lanjut cerita!:
Spoiler for Telat sehari.:
Spoiler for Lanjutan lagi!:
Spoiler for Malming sendu:
Spoiler for Capek motoran:
Spoiler for Habis selesein cerita untuk KUNCEN:
Spoiler for Mau nonton layar tancap:
Spoiler for Minggu pertama Oktober!! Gas!!:
Spoiler for Udah sepertiga cerita nih!:
Sekian Agan-Agan semua, malam Minggu depan ceritanya akan dilanjutkan.
Diubah oleh saujanastory 14-10-2023 19:36
itkgid dan 19 lainnya memberi reputasi
20
4.5K
Kutip
57
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
saujanastory
#4
Dah malam Minggu lagi, Gan. Waktunya lanjut cerita.
Bab III. Termakan Ego
“Mbak, aku turu kono yaa, soale iki malem Minggu. Sesok kerjone awan, – Mbak, aku ikut nginap di sana (rumah) yaa, soalnya ini kan malam Minggu. Besok masuk kerjanya siang,” ucap Roni yang merupakan adik Harti, ketika Harti dan Husin sedang mampir ke tempat kerja Roni yang merupakan toko elektronik di area komplek perbelanjaan Prima Niaga.
Harti hanya mengangguk dan tak banyak bicara, begitu pula dengan Husin. Mereka hanya ingin berjalan-jalan sambil ingin makan bakso di area itu. Yang mana area itu terdiri dari toko-toko elektronik, pakaian, pusat perbelanjaan dan area lapangan untuk pagelaran dan biasanya dijadikan tempat penyewaan sepeda anak-anak.
Tahun 1992, belum banyak pilihan tempat untuk jalan-jalan. Prima Niaga adalah tempat yang bisa dibilang murah, banyak pilihan dan cukup populer. Hanya saja memang kebanyakan diisi oleh deretan ruko.
“Pak, Mbak dapet telegram, katanya si Mbok sakit. Kayaknya kita mesti pulang ke Jawa, sekalian jemput Kemal,” ucap Harti disela-sela menyesap segelas es kelapa muda.
“Kalo memang sampe dapet telegram, brarti emang penting. Aku masih ada tabungan beberapa ratus ribu kalo memang mau dipakai buat pulang ke Jawa,” jawab Husin sambil mengunyah bakso.
“Yaudah, nanti biar tak kasih tau dulu si Roni. Siapa tau dia mau nginep di rumah,” timpal Harti sambil menimang Rosi di dekapannya.
“Tapi aku gak bisa lama, mungkin beberapa hari terus pulang duluan. Nanti balik bisa sama adek aja, suruh tinggal di rumah sementara. Itu pun kalo memang mau ikut,” lanjut Husin.
“Yaudah ndakpapa, yang penting aku pulang dulu. Mau rawat si Mbok, soalnya sudah terlalu tua,” jawab Harti yang akhirnya diikuti anggukan dari suaminya.
Sebagai seorang sekuriti yang bergaji 275 ribu per bulan, memiliki simpanan beberapa ratus ribu adalah sebuah berkah yang besar. Karena beruntungnya biaya persalinan dijamin oleh tempat kerja Husin.
Mereka bertiga akhirnya menyelesaikan makan bakso bergantian. Karena memang harus ada yang menggendong Rosi sembari salah satu dari mereka makan. Menjelang jam 9 malam, mereka pulang dengan berbonceng vespa.
Jalanan malam itu masih bisa dibilang ramai, lampu kuning di sepanjang tepian sungai menyinari jalan. Beberapa bagian menjadi remang karena cahaya terhalang rindangnya pohon besar. Dari kejauhan, mereka melihat sebuah rumah bagus yang tergolong mewah tepat di tepi sungai. Rumah itu bersebalah langsung dengan SPBU. Asri, bagus namun terlihat seram meskipun bangunannya cukup terawat.
Rumah itu menghadap ke jalan, di halaman sampingnya ada sebuah pohon beringin tua yang sangat besar dan rindang. Kabar mengatakan, dahulu presiden pertama pernah tinggal dan menginap. Rumor mengatakan bahwa di bawah rumah itu ada terowongan rahasia yang menghubungkan rumah dengan bangunan di seberang jalan, di atas bukit.
Tentu saja belum ada bukti konkrit mengenai terowongan yang dirumorkan. Namun banyak orang yang mengamini bahwasanya sang proklamator pernah tinggal dan menginap di rumah itu.
Hampir satu jam, akhirnya mereka berdua memecah keheningan gang sempit tempat mereka tinggal dengan cemprengnya suara knalpot vespa tua. Maklum, vespa memang sedang menjadi kendaraan yang sangat digandrungi.
Kebetulan ini adalah malam Minggu. Husin hanya bekerja sampai hari Jumat, sehingga ia bisa berakhir pekan dengan Harti seperti sebelumnya. Kemungkinan besar, Roni juga akan datang sekitar pukul sepuluh lewat selepas kerja.
Mereka memasuki rumah dengan tak lupa mengucap salam. Memang sudah kebiasaan, ada atau tidak ada orang di dalam bangunan/rumah pasti tetap mengucap salam. Meskipun sebenarnya akan menakutkan jika ada yang menjawab, padahal rumah sudah dipastikan kosong.
Sebenarnya rumah mereka hanya terdiri dari 2 ruangan yang bersekat. Ruang tamu/tv dan kamar tidur hanya disekat 2 lemari yang dijejer bersampingan dan dapur ada di sekat yang lain. Memang sebenarnya kontrakan bangsal ini masih jauh dari kata layak. Apalagi jika ada Kemal yang berumur 5 tahun sedang aktifnya bermain.
Mereka berdua akhirnya berbincang sambil menidurkan Rosi yang setengah terbangun karena gelegar suara vespa. Televisi hitam-putih yang sudah mulai usang menampilkan MacGyver yang konon bisa membuat alat-alat canggih dari barang seadaanya. Meskipun terkesan mustahil dan tak masuk akal, namun tetap saja itu merupakan tontonan yang menarik. Selain Friday the Thirteen yang tayang pukul sebelas malam setiap malam Jumat.
Husin menonton sambil bersandar dinding plywood. Dinding yang berbatasan langsung dengan kontrakan sebelah. Sementara Harti menepuk-nepuk paha Rosi sambil menyusui. Mereka berbincang pelan hingga akhirnya suara ketukan terdengar. Roni sudah selesai bekerja dan menginap seperti biasanya.
Husin membukakan pintu dan menyuruh Roni segera masuk. Sebelumnya ia melongo ke luar pintu dan menoleh kiri dan kanan. Takut ada tetangga yang terganggu. Di tangan Roni, ada sekresek terang bulan isi kacang.
“Ron, aku intuk telegram teko njowo, jarene mbok loro. Dadine aku arep muleh, nak iso kowe ra usah turu kene dewean. Soale ngarep omah nek bengi onok mbah-mbah sing ngguyu cekikikan, – Ron, aku dapat telegram dari Jawa, katanya si Mbok sakit. Jadinya aku mau pulang, kalo bisa kamu gak usah nginep di sini sendirian. Soalnya di depan rumah kalau malam ada nenek-nenek ketawa cekikian,”
ucap Harti sambil menyodorkan piring yang baru saja diambilnya dari dapur.
“Halah, mosok?! Ngapusi, sing koyok ngono iku ra ono. Wes ah, ak ben turu kene ae pas sampeyan muleh.” Sambar Roni dengan nada meremehkan dan sok berani. – Halah, masa sih?! Bohong aja, yang begitu itu gak ada. Dah lah, ak biar nginap di sini aja pas sampeyan pulang (kampung).”
“Sing penting ak wis ngomong lho yoo. Ra nanggung nek awakmu ditekani. Soale pas meteng Rosi, yen bengi mesti ono sing ngguyu nang ngarep omah. – Yang penting aku sudah bilang loh ya. Gak tanggung jawab pokoknya kalo sampe kamu didatangi. Soalnya pas hamil Rosi, tiap malam pasti ada yang ketawa di depan rumah,” jawab Harti dengan malas karena sikap adiknya yang satu ini memang sok berani.
Mereka bertiga akhirnya makan terang bulan bersama hingga hidangan benar-benar tandas. Lalu Harti memutuskan untuk tidur bersama Rosi. Sementara Husin dan Roni masih mengobrol lirih sambil menonton MacGyver.
Hingga beberapa waktu kemudian, Husin menyusul istrinya dan tinggal Roni sendirian menonton sambil minum kopi. Ia hanya tidur beralaskan karpet seadanya sambil berselimutkan sarung yang bau apeknya tidak karuan.
Beberapa saat setelah ditinggal sendirian, ia merasa kantuknya sudah menggantungi pelupuk kedua matanya. Maksud hati Roni ingin membuktikan perkataan sang kakak, namun tak ada tanda sama sekali. Sehingga akhirnya ia memutuskan untuk bergegas tidur berselimutkan sarung apek.
Gak ada yang serem, Gan. Tapi dibantu ramein dulu yaak.
Quote:
Bab III. Termakan Ego
“Mbak, aku turu kono yaa, soale iki malem Minggu. Sesok kerjone awan, – Mbak, aku ikut nginap di sana (rumah) yaa, soalnya ini kan malam Minggu. Besok masuk kerjanya siang,” ucap Roni yang merupakan adik Harti, ketika Harti dan Husin sedang mampir ke tempat kerja Roni yang merupakan toko elektronik di area komplek perbelanjaan Prima Niaga.
Harti hanya mengangguk dan tak banyak bicara, begitu pula dengan Husin. Mereka hanya ingin berjalan-jalan sambil ingin makan bakso di area itu. Yang mana area itu terdiri dari toko-toko elektronik, pakaian, pusat perbelanjaan dan area lapangan untuk pagelaran dan biasanya dijadikan tempat penyewaan sepeda anak-anak.
Tahun 1992, belum banyak pilihan tempat untuk jalan-jalan. Prima Niaga adalah tempat yang bisa dibilang murah, banyak pilihan dan cukup populer. Hanya saja memang kebanyakan diisi oleh deretan ruko.
“Pak, Mbak dapet telegram, katanya si Mbok sakit. Kayaknya kita mesti pulang ke Jawa, sekalian jemput Kemal,” ucap Harti disela-sela menyesap segelas es kelapa muda.
“Kalo memang sampe dapet telegram, brarti emang penting. Aku masih ada tabungan beberapa ratus ribu kalo memang mau dipakai buat pulang ke Jawa,” jawab Husin sambil mengunyah bakso.
“Yaudah, nanti biar tak kasih tau dulu si Roni. Siapa tau dia mau nginep di rumah,” timpal Harti sambil menimang Rosi di dekapannya.
“Tapi aku gak bisa lama, mungkin beberapa hari terus pulang duluan. Nanti balik bisa sama adek aja, suruh tinggal di rumah sementara. Itu pun kalo memang mau ikut,” lanjut Husin.
“Yaudah ndakpapa, yang penting aku pulang dulu. Mau rawat si Mbok, soalnya sudah terlalu tua,” jawab Harti yang akhirnya diikuti anggukan dari suaminya.
Sebagai seorang sekuriti yang bergaji 275 ribu per bulan, memiliki simpanan beberapa ratus ribu adalah sebuah berkah yang besar. Karena beruntungnya biaya persalinan dijamin oleh tempat kerja Husin.
Mereka bertiga akhirnya menyelesaikan makan bakso bergantian. Karena memang harus ada yang menggendong Rosi sembari salah satu dari mereka makan. Menjelang jam 9 malam, mereka pulang dengan berbonceng vespa.
Jalanan malam itu masih bisa dibilang ramai, lampu kuning di sepanjang tepian sungai menyinari jalan. Beberapa bagian menjadi remang karena cahaya terhalang rindangnya pohon besar. Dari kejauhan, mereka melihat sebuah rumah bagus yang tergolong mewah tepat di tepi sungai. Rumah itu bersebalah langsung dengan SPBU. Asri, bagus namun terlihat seram meskipun bangunannya cukup terawat.
Rumah itu menghadap ke jalan, di halaman sampingnya ada sebuah pohon beringin tua yang sangat besar dan rindang. Kabar mengatakan, dahulu presiden pertama pernah tinggal dan menginap. Rumor mengatakan bahwa di bawah rumah itu ada terowongan rahasia yang menghubungkan rumah dengan bangunan di seberang jalan, di atas bukit.
Tentu saja belum ada bukti konkrit mengenai terowongan yang dirumorkan. Namun banyak orang yang mengamini bahwasanya sang proklamator pernah tinggal dan menginap di rumah itu.
Hampir satu jam, akhirnya mereka berdua memecah keheningan gang sempit tempat mereka tinggal dengan cemprengnya suara knalpot vespa tua. Maklum, vespa memang sedang menjadi kendaraan yang sangat digandrungi.
Kebetulan ini adalah malam Minggu. Husin hanya bekerja sampai hari Jumat, sehingga ia bisa berakhir pekan dengan Harti seperti sebelumnya. Kemungkinan besar, Roni juga akan datang sekitar pukul sepuluh lewat selepas kerja.
Mereka memasuki rumah dengan tak lupa mengucap salam. Memang sudah kebiasaan, ada atau tidak ada orang di dalam bangunan/rumah pasti tetap mengucap salam. Meskipun sebenarnya akan menakutkan jika ada yang menjawab, padahal rumah sudah dipastikan kosong.
Sebenarnya rumah mereka hanya terdiri dari 2 ruangan yang bersekat. Ruang tamu/tv dan kamar tidur hanya disekat 2 lemari yang dijejer bersampingan dan dapur ada di sekat yang lain. Memang sebenarnya kontrakan bangsal ini masih jauh dari kata layak. Apalagi jika ada Kemal yang berumur 5 tahun sedang aktifnya bermain.
Mereka berdua akhirnya berbincang sambil menidurkan Rosi yang setengah terbangun karena gelegar suara vespa. Televisi hitam-putih yang sudah mulai usang menampilkan MacGyver yang konon bisa membuat alat-alat canggih dari barang seadaanya. Meskipun terkesan mustahil dan tak masuk akal, namun tetap saja itu merupakan tontonan yang menarik. Selain Friday the Thirteen yang tayang pukul sebelas malam setiap malam Jumat.
Husin menonton sambil bersandar dinding plywood. Dinding yang berbatasan langsung dengan kontrakan sebelah. Sementara Harti menepuk-nepuk paha Rosi sambil menyusui. Mereka berbincang pelan hingga akhirnya suara ketukan terdengar. Roni sudah selesai bekerja dan menginap seperti biasanya.
Husin membukakan pintu dan menyuruh Roni segera masuk. Sebelumnya ia melongo ke luar pintu dan menoleh kiri dan kanan. Takut ada tetangga yang terganggu. Di tangan Roni, ada sekresek terang bulan isi kacang.
“Ron, aku intuk telegram teko njowo, jarene mbok loro. Dadine aku arep muleh, nak iso kowe ra usah turu kene dewean. Soale ngarep omah nek bengi onok mbah-mbah sing ngguyu cekikikan, – Ron, aku dapat telegram dari Jawa, katanya si Mbok sakit. Jadinya aku mau pulang, kalo bisa kamu gak usah nginep di sini sendirian. Soalnya di depan rumah kalau malam ada nenek-nenek ketawa cekikian,”
ucap Harti sambil menyodorkan piring yang baru saja diambilnya dari dapur.
“Halah, mosok?! Ngapusi, sing koyok ngono iku ra ono. Wes ah, ak ben turu kene ae pas sampeyan muleh.” Sambar Roni dengan nada meremehkan dan sok berani. – Halah, masa sih?! Bohong aja, yang begitu itu gak ada. Dah lah, ak biar nginap di sini aja pas sampeyan pulang (kampung).”
“Sing penting ak wis ngomong lho yoo. Ra nanggung nek awakmu ditekani. Soale pas meteng Rosi, yen bengi mesti ono sing ngguyu nang ngarep omah. – Yang penting aku sudah bilang loh ya. Gak tanggung jawab pokoknya kalo sampe kamu didatangi. Soalnya pas hamil Rosi, tiap malam pasti ada yang ketawa di depan rumah,” jawab Harti dengan malas karena sikap adiknya yang satu ini memang sok berani.
Mereka bertiga akhirnya makan terang bulan bersama hingga hidangan benar-benar tandas. Lalu Harti memutuskan untuk tidur bersama Rosi. Sementara Husin dan Roni masih mengobrol lirih sambil menonton MacGyver.
Hingga beberapa waktu kemudian, Husin menyusul istrinya dan tinggal Roni sendirian menonton sambil minum kopi. Ia hanya tidur beralaskan karpet seadanya sambil berselimutkan sarung yang bau apeknya tidak karuan.
Beberapa saat setelah ditinggal sendirian, ia merasa kantuknya sudah menggantungi pelupuk kedua matanya. Maksud hati Roni ingin membuktikan perkataan sang kakak, namun tak ada tanda sama sekali. Sehingga akhirnya ia memutuskan untuk bergegas tidur berselimutkan sarung apek.
***
Gak ada yang serem, Gan. Tapi dibantu ramein dulu yaak.
Diubah oleh saujanastory 22-07-2023 18:45
itkgid dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas