- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
SUPPORT AGAR ANE SEMANGAT TERUS UNTUK MENULIS YA, KALIAN BISA KIRIM TRAKTEER DISINI.
TRAKTIR CENDOL
Diubah oleh jurigciwidey 11-02-2026 11:19
reverbriks dan 52 lainnya memberi reputasi
51
37.4K
Kutip
437
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#89
Mohon maaf bagi yang sudah menunggu, rarasukma kembali update setelah masa berkabung saya berakhir
semoga saya bisa kembali rutin untuk update cerita ini ya, karena sebulan ini banyak hal yang terjadi yang membuat saya tidak bisa rutin untuk update cerita ini
semoga saya bisa kembali rutin untuk update cerita ini ya, karena sebulan ini banyak hal yang terjadi yang membuat saya tidak bisa rutin untuk update cerita ini
BAB 25 MIMPI
Quote:
Sinar bulan purnama bersinar terang menerangi langit malam, bintang-bintang berhamburan menemani bulan dengan sinarnya yang redup pada malam itu.
Rara yang terbangun di tengah-tengah hamparan padang rumput yang luas merasa heran, dia merasa bahwa tubuhnya seharusnya tidak disini, karena terakhir dia hanya mengingat bahwa tubuhnya ada di Leuweung Kunti bersama teman-temannya dan Pak Brata.
Rara pun bangkit, dia menatap hamparan rumput itu dengan sedikit kebingungan. apalagi kini dia sendirian dan tak ada yang menemaninya di tempat ini.
Dia berusaha mencari jalan untuk kembali kepada Dewi dan teman-temannya, karena dia tidak ingin membuat mereka khawatir atas apa yang terjadi pada dirinya.
Dia pun akhirnya berjalan, menyusuri rerumputan yang nampak dingin dengan embun-embun dari dedaunan yang membuat celananya basah pada malam itu, suasana malam yang dingin membuat tubuhnya terasa dingin sehingga dia mendekatkan tangannya ke arah mulut dan menghembuskan napas hangat untuk menghangatkan kedua tangannya.
Tak lama ketika dia melangkahkan kakinya, tiba-tiba langkahnya terhenti karena dia melihat sesosok bayangan dari seseorang yang pernah dia temui di dalam mimpinya.
Sosok itu juga adalah sosok yang beberapa kali memperingatinya untuk tidak melanjutkan expedisi ini karena suatu hal.
Entah mengapa, Rara seperti tidak takut atas apa yang dia lihat di depannya. Dia hanya terdiam ketika sosok yang ada di depannya mendekatinya dengan senyumannya yang hangat.
“Neng, sudahlah, pulang saja.”
“Kalau kamu tidak mau bergabung dengan kita, pulang saja, kamu akan selamat.”
Dia tersenyum sambil melihat Rara yang nampak kebingungan, bahkan Rara berkata kepadanya dengan sebuah pertanyaan yang muncul di dalam benaknya.
“Kenapa, kenapa kalian selalu muncul semenjak kejadian di rumah itu,” kata Rara dengan nada yang bingung.
“A, aku bisa saja pulang, namun teman-temanku bagaimana.”
“Sebenarnya apa yang akan terjadi disana, sehingga kalian memperingatiku hingga seperti ini”
Wanita itu terdiam, wajahnya sedikit tertunduk keitka dia mendengar hal tersebut dari Rara.
“Aku tidak bisa memberitahu apa yang akan terjadi disana, namun apabila tidak ingin hidupmu berakhir seperti kita semua, lebih baik kamu mundur dan pulang.”
“Maaf, aku hanya bisa berbicara denganmu disini, karena orang itu sengaja menutup tubuhmu agar aku tidak bisa mendekat untuk memperingatimu.”
“Aku tidak bisa memaksa, namun aku takut kalian menyesal, mereka semua mempunyai tipu daya yang bisa menjatuhkan satu sama lain.”
“Sebuah dendam dan sebuah keinginan akan saling beradu disana, dan semuanya akan menyasar kalian yang tidak tau apa-apa. Sehingga, ketika korban berjatuhan kalian baru akan sadar bahwa semuanya hanyalah kedustaan yang dibalut dengan sebuah ambisi dari orang-orang yang ada di sekeliling kalian tanpa kalian ketahui”
“Karena tanpa kalian sadari, apa yang sudah terjadi selama ini saling berhubungan dan sudah direncanakan”
Sosok itu berbicara dan mencoba memperingati Rara atas apa yang akan terjadi disana, dan ketika hal itu terjadi, secara perlahan-lahan muncul bayangan-bayangan hitam, bayangan dari orang-orang yang pernah dia temui di dalam mimpi sepulangnya dari rumah mewah itu yang mengakibatkan tubuhnya sensitif dan bisa berkomunikasi dengan mereka seperti sekarang.
Mereka menatap rara dengan tatapan yang tajam. Tua, muda, laki-laki, perempuan, bahkan bayi yang sedang di gendong oleh sesosok bayangan muncul dan melihat ke arahnya.
Semakin lama, bayangan itu semakin memenuhi tempat tersebut sehingga membuat tempat dimana dia berdiri gelap gulita.
Secara perlahan, langit, rerumputan, bahkan bulan dan bintang yang dia lihat kini berubah menjadi gelap, dia seperti dipindahkan kembali ke sebuah tempat yang asing.
Sebuah tempat yang ternyata…
“RARAAAAAAAAAA.”
Sebuah teriakan tiba-tiba terdengar, kedua telinganya dengan jelas mendengar sebuah teriakan itu dengan banyaknya suara langkah kaki yang mendekati dirinya.
Tak lama, dia merasakan bahwa wajahnya di pegang oleh sesuatu dengan sebuah suara yang dia kenal.
Suara dari Dewi yang ternyata menemukan tubuh Rara yang tergeletak begitu saja di bawah batu besar yang ada di tengah hutan. Batu yang penuh dengan sesajen dibawahnya dimana disana adalah tempat bagi orang-orang yang sedang mengadakan sebuah ritual di tempat itu.
Mata Rara secara perlahan-lahan terbuka, dan dia melihat Dewi yang nampak sedih ada di dekatnya dengan Dimas dan Adang yang mengikutinya dari belakang.
Melihat Rara kini tersadarkan, tiba-tiba Dewi langsung memeluk dirinya dan meminta maaf atas apa yang terjadi.
“Maafin ra, maafin gue ra, lu jadi hilang di hutan gara-gara gue ga bisa ngawasin elu ra.”
“Maafin gue,” kata Dewi sambil menangis sambil memeluk Rara.
***
Leuweung Kunti adalah sebuah hutan yang luas yang membentang di beberapa pegunungan. Sehingga apabila kita masuk ke dalam hutan dan tersesat disana akan kecil kemungkinan untuk bisa keluar lagi tanpa ada bantuan dari orang-orang sekitar desa seperti Adang dan Entis yang sudah mengetahui medan dari Leuweung Kunti ini.
Krosak, krosak, krosak
Sebuah langkah kaki terdengar secara perlahan. Danang yang dari tadi mengikuti Mbah Walang nampaknya sedang menjaga jarak dengan dirinya yang berjalan di depan.
mbah walang tidak melakukan apapun semenjak keluar dari area tenda, dia hanya berjalan menyusuri hutan yang gelap itu sendirian ditengah-tengah kegelapan.
Nampaknya dia tidak menyadari ada kehadiran Danang disana. Atau mungkin, dia sebenarnya tahu namun dia ingin menghindari Danang sehingga dia masuk jauh ke dalam hutan pada malam itu.
Danang yang awalnya merekam kemana Mbah Walang pergi, kini mulai mematikan kameranya. Dia sepertinya tau bahwa Mbah Walang pada saat ini tidak mau direkam sehingga dia berjalan begitu jauh ke dalam hutan.
Danang akhirnya mengikuti Mbah Walang dari kejauhan, dan melihat dirinya menyusuri hutan yang gelap itu sendirian tanpa ada penerangan sama sekali untuk membantu dirinya berjalan.
Mata Mbah Walang yang tajam hanya melirik ke beberapa sudut hutan, beberapa kali ketika dirinya menatap dengan tajam ke arah pepohonan yang besar itu, tak lama kemudian terdengar sebuah suara yang terbang dan menjauh dari dirinya.
Sebuah sosok putih yang terbang dengan cepat seperti ketakutan melihat Mbah Walang yang berjalan di bawahnya.
Danang benar-benar penasaran atas apa yang dilakukan oleh Mbah Walang sekarang, karena dirinya seperti sedang mencari tempat untuk melakukan sesuatu di tengah hutan tanpa diketahui oleh orang lain yagn ada di area tenda.
Terbukti, ketika dia menemukan tempat yang sedikit luas dia berhenti dan berdiri sembari memejamkan matanya seperti sedang membacakan mantera. Tak lama, dirinya duduk di tengah-tengah kegelapan yang menyelimutinya pada saat itu.
Entah apa yang dia lakukan, namun dia terlihat seperti membakar sebuah dupa yang menyengat dan membuat aura di sekitarnya mendadak menjadi aneh ketika wangi dupa itu tercium oleh Danang yang melihat dirinya dari kejauhan.
‘Ngapain tuh orang, bukannya mau ngusir para mahluk agar ga menggangu, tapi kenapa ampe jauh gini.’
Batin danang bertanya-tanya atas yang dilakukan oleh Mbah Walang disana. apalagi ketika dirinya duduk, secara samar-samar dia mengambil sebuah foto yang ada di sakunya dan melihat foto itu dengan seksama sebelum akhirnya.
Sreeett
Foto itu di sobek oleh dua tangannya di atas dupa yang sedang dia nyalakan sambil mulutnya yang terpejam seperti sedang melakukan sesuatu. entah foto siapa itu, suasana yang gelap sehingga danang tidak bisa melihat dengan seksama.
Rasa penasaran yang besar atas apa yang sedang dilakukan Mbah Walang akhirnya membuat Danang mendekati Mbah Walang secara perlahan.
Namun, tiba-tiba
Muncul sebuah tangan dari arah belakang dan menepuk danang pada saat itu. reflek Danang langsung berbalik dan melihat ada sesuatu yang berdiri tepat di belakangnya dengan sebuah mata yang sedang menatap tajam ke arahnya.
Rara yang terbangun di tengah-tengah hamparan padang rumput yang luas merasa heran, dia merasa bahwa tubuhnya seharusnya tidak disini, karena terakhir dia hanya mengingat bahwa tubuhnya ada di Leuweung Kunti bersama teman-temannya dan Pak Brata.
Rara pun bangkit, dia menatap hamparan rumput itu dengan sedikit kebingungan. apalagi kini dia sendirian dan tak ada yang menemaninya di tempat ini.
Dia berusaha mencari jalan untuk kembali kepada Dewi dan teman-temannya, karena dia tidak ingin membuat mereka khawatir atas apa yang terjadi pada dirinya.
Dia pun akhirnya berjalan, menyusuri rerumputan yang nampak dingin dengan embun-embun dari dedaunan yang membuat celananya basah pada malam itu, suasana malam yang dingin membuat tubuhnya terasa dingin sehingga dia mendekatkan tangannya ke arah mulut dan menghembuskan napas hangat untuk menghangatkan kedua tangannya.
Tak lama ketika dia melangkahkan kakinya, tiba-tiba langkahnya terhenti karena dia melihat sesosok bayangan dari seseorang yang pernah dia temui di dalam mimpinya.
Sosok itu juga adalah sosok yang beberapa kali memperingatinya untuk tidak melanjutkan expedisi ini karena suatu hal.
Entah mengapa, Rara seperti tidak takut atas apa yang dia lihat di depannya. Dia hanya terdiam ketika sosok yang ada di depannya mendekatinya dengan senyumannya yang hangat.
“Neng, sudahlah, pulang saja.”
“Kalau kamu tidak mau bergabung dengan kita, pulang saja, kamu akan selamat.”
Dia tersenyum sambil melihat Rara yang nampak kebingungan, bahkan Rara berkata kepadanya dengan sebuah pertanyaan yang muncul di dalam benaknya.
“Kenapa, kenapa kalian selalu muncul semenjak kejadian di rumah itu,” kata Rara dengan nada yang bingung.
“A, aku bisa saja pulang, namun teman-temanku bagaimana.”
“Sebenarnya apa yang akan terjadi disana, sehingga kalian memperingatiku hingga seperti ini”
Wanita itu terdiam, wajahnya sedikit tertunduk keitka dia mendengar hal tersebut dari Rara.
“Aku tidak bisa memberitahu apa yang akan terjadi disana, namun apabila tidak ingin hidupmu berakhir seperti kita semua, lebih baik kamu mundur dan pulang.”
“Maaf, aku hanya bisa berbicara denganmu disini, karena orang itu sengaja menutup tubuhmu agar aku tidak bisa mendekat untuk memperingatimu.”
“Aku tidak bisa memaksa, namun aku takut kalian menyesal, mereka semua mempunyai tipu daya yang bisa menjatuhkan satu sama lain.”
“Sebuah dendam dan sebuah keinginan akan saling beradu disana, dan semuanya akan menyasar kalian yang tidak tau apa-apa. Sehingga, ketika korban berjatuhan kalian baru akan sadar bahwa semuanya hanyalah kedustaan yang dibalut dengan sebuah ambisi dari orang-orang yang ada di sekeliling kalian tanpa kalian ketahui”
“Karena tanpa kalian sadari, apa yang sudah terjadi selama ini saling berhubungan dan sudah direncanakan”
Sosok itu berbicara dan mencoba memperingati Rara atas apa yang akan terjadi disana, dan ketika hal itu terjadi, secara perlahan-lahan muncul bayangan-bayangan hitam, bayangan dari orang-orang yang pernah dia temui di dalam mimpi sepulangnya dari rumah mewah itu yang mengakibatkan tubuhnya sensitif dan bisa berkomunikasi dengan mereka seperti sekarang.
Mereka menatap rara dengan tatapan yang tajam. Tua, muda, laki-laki, perempuan, bahkan bayi yang sedang di gendong oleh sesosok bayangan muncul dan melihat ke arahnya.
Semakin lama, bayangan itu semakin memenuhi tempat tersebut sehingga membuat tempat dimana dia berdiri gelap gulita.
Secara perlahan, langit, rerumputan, bahkan bulan dan bintang yang dia lihat kini berubah menjadi gelap, dia seperti dipindahkan kembali ke sebuah tempat yang asing.
Sebuah tempat yang ternyata…
“RARAAAAAAAAAA.”
Sebuah teriakan tiba-tiba terdengar, kedua telinganya dengan jelas mendengar sebuah teriakan itu dengan banyaknya suara langkah kaki yang mendekati dirinya.
Tak lama, dia merasakan bahwa wajahnya di pegang oleh sesuatu dengan sebuah suara yang dia kenal.
Suara dari Dewi yang ternyata menemukan tubuh Rara yang tergeletak begitu saja di bawah batu besar yang ada di tengah hutan. Batu yang penuh dengan sesajen dibawahnya dimana disana adalah tempat bagi orang-orang yang sedang mengadakan sebuah ritual di tempat itu.
Mata Rara secara perlahan-lahan terbuka, dan dia melihat Dewi yang nampak sedih ada di dekatnya dengan Dimas dan Adang yang mengikutinya dari belakang.
Melihat Rara kini tersadarkan, tiba-tiba Dewi langsung memeluk dirinya dan meminta maaf atas apa yang terjadi.
“Maafin ra, maafin gue ra, lu jadi hilang di hutan gara-gara gue ga bisa ngawasin elu ra.”
“Maafin gue,” kata Dewi sambil menangis sambil memeluk Rara.
***
Leuweung Kunti adalah sebuah hutan yang luas yang membentang di beberapa pegunungan. Sehingga apabila kita masuk ke dalam hutan dan tersesat disana akan kecil kemungkinan untuk bisa keluar lagi tanpa ada bantuan dari orang-orang sekitar desa seperti Adang dan Entis yang sudah mengetahui medan dari Leuweung Kunti ini.
Krosak, krosak, krosak
Sebuah langkah kaki terdengar secara perlahan. Danang yang dari tadi mengikuti Mbah Walang nampaknya sedang menjaga jarak dengan dirinya yang berjalan di depan.
mbah walang tidak melakukan apapun semenjak keluar dari area tenda, dia hanya berjalan menyusuri hutan yang gelap itu sendirian ditengah-tengah kegelapan.
Nampaknya dia tidak menyadari ada kehadiran Danang disana. Atau mungkin, dia sebenarnya tahu namun dia ingin menghindari Danang sehingga dia masuk jauh ke dalam hutan pada malam itu.
Danang yang awalnya merekam kemana Mbah Walang pergi, kini mulai mematikan kameranya. Dia sepertinya tau bahwa Mbah Walang pada saat ini tidak mau direkam sehingga dia berjalan begitu jauh ke dalam hutan.
Danang akhirnya mengikuti Mbah Walang dari kejauhan, dan melihat dirinya menyusuri hutan yang gelap itu sendirian tanpa ada penerangan sama sekali untuk membantu dirinya berjalan.
Mata Mbah Walang yang tajam hanya melirik ke beberapa sudut hutan, beberapa kali ketika dirinya menatap dengan tajam ke arah pepohonan yang besar itu, tak lama kemudian terdengar sebuah suara yang terbang dan menjauh dari dirinya.
Sebuah sosok putih yang terbang dengan cepat seperti ketakutan melihat Mbah Walang yang berjalan di bawahnya.
Danang benar-benar penasaran atas apa yang dilakukan oleh Mbah Walang sekarang, karena dirinya seperti sedang mencari tempat untuk melakukan sesuatu di tengah hutan tanpa diketahui oleh orang lain yagn ada di area tenda.
Terbukti, ketika dia menemukan tempat yang sedikit luas dia berhenti dan berdiri sembari memejamkan matanya seperti sedang membacakan mantera. Tak lama, dirinya duduk di tengah-tengah kegelapan yang menyelimutinya pada saat itu.
Entah apa yang dia lakukan, namun dia terlihat seperti membakar sebuah dupa yang menyengat dan membuat aura di sekitarnya mendadak menjadi aneh ketika wangi dupa itu tercium oleh Danang yang melihat dirinya dari kejauhan.
‘Ngapain tuh orang, bukannya mau ngusir para mahluk agar ga menggangu, tapi kenapa ampe jauh gini.’
Batin danang bertanya-tanya atas yang dilakukan oleh Mbah Walang disana. apalagi ketika dirinya duduk, secara samar-samar dia mengambil sebuah foto yang ada di sakunya dan melihat foto itu dengan seksama sebelum akhirnya.
Sreeett
Foto itu di sobek oleh dua tangannya di atas dupa yang sedang dia nyalakan sambil mulutnya yang terpejam seperti sedang melakukan sesuatu. entah foto siapa itu, suasana yang gelap sehingga danang tidak bisa melihat dengan seksama.
Rasa penasaran yang besar atas apa yang sedang dilakukan Mbah Walang akhirnya membuat Danang mendekati Mbah Walang secara perlahan.
Namun, tiba-tiba
Muncul sebuah tangan dari arah belakang dan menepuk danang pada saat itu. reflek Danang langsung berbalik dan melihat ada sesuatu yang berdiri tepat di belakangnya dengan sebuah mata yang sedang menatap tajam ke arahnya.
sampeuk dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Kutip
Balas
Tutup