- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Diubah oleh jurigciwidey 25-08-2023 14:07
iwakcetol dan 49 lainnya memberi reputasi
48
35.6K
Kutip
433
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#85
karena pekerjaan di RL
terus editor di salah satu platform meminta bikin outline cerita baru
belom podcast yang harus di update tiap minggu
sehingga baru update lagi ceritanya
mohon maaf cuman satu karena saya menulis di sela-sela pekerjaan utama
terus editor di salah satu platform meminta bikin outline cerita baru
belom podcast yang harus di update tiap minggu
sehingga baru update lagi ceritanya
mohon maaf cuman satu karena saya menulis di sela-sela pekerjaan utama
BAB 23 MENGIKUTI
Quote:
Satu jam berlalu, kemah yang awalnya ramai oleh banyak orang kini hening. Tidak ada satupun suara yang terdengar, terutama oleh Ardi yang sekarang masih di dalam tenda.
Hawa dingin yang menusuk membuat dirinya terbangun, matanya terbuka, namun dia hanya bisa menatap lampu tenda yang mengantung di atas sana.
Beberapa kali dirinya menoleh ke arah luar, tenda yang sengaja dia tutup hanya menyisakan bayangan kemerah-merahan yang redup dari sisa-sisa api unggun yang dibuat oleh Adang dan Engkus pada waktu itu.
Dia melirik HP nya yang dia simpan di dekatnya. Terlihat waktu sudah menunjukkan waktu jam dua shubuh.
‘Masih malam ternyata, kemana mereka ya.’
‘Pada hilang semua gitu.’
‘Terus nanti gue balik gimana.’
‘Mana sendirian lagi gue disini.’
‘Tau gitu gue ngikut mereka dah, daripada ditinggalin disini sendirian.’
Dia sedikit menyesali atas apa yang dia putuskan, mulutnya terus bergumam sendirian di dalam tenda sembari diterpa oleh hawa dingin yang dia rasakan pada malam itu.
Entah mengapa, suasana yang terjadi diluar benar-benar sepi, tidak seperti ketika disana masih banyak orang dengan banyak sekali gangguan dari luar area tenda.
Sekarang benar-benar hening. Tidak ada gerakan apapun bahkan dari dedaunan yang bayangannya terlihat dengan jelas dari dalam tenda oleh Ardi pada saat itu.
Ketakutan Ardi atas apa yang terjadi di dalam rumah singgah membuat dirinya terlalu enggan untuk keluar dan mencari tau atas apa yang sebenarnya terjadi.
Dia lebih memilih menjauhi hal-hal yang seperti itu sekarang. Dia sudah ketakutan ketika dia melihat kejadian itu, juga pocong yang muncul dari atas pohon dan menampaki dirinya secara langsung.
Apalagi, ada dua orang yang sedang melakukan ritual di tengah-tengah hutan. Memakan darah ayam yang di sajikan ketika pagi tiba sebagai sarapan.
Dia yakin, itu bukan mimpi. namun sosok Danang yang dia lihat nampaknya adalah sebuah halusinasi yang sengaja dibuat oleh Mbah Walang agar dia menganggap temannya ini berbuat sesuatu di dalam hutan ini.
Padahal, dia yakin. yang sebenarnya dia lihat adalah.,,
Sreeeettt
Deg, deg
Deg, deg
Di tengah-tengah lamunan itu, dia dikejutkan oleh kemunculan bayangan besar yang datang kepadanya. Nyala dari api unggun yang redup pun terhalang olehnya yang berjalan mendekati tendanya.
Apalagi, dia semakin terkejut ketika tendanya dibuka dari luar. Dia yang terbaring di dalam tenda langsung terbangun dan mundur sembari mengangkat tas rangselnya pada saat itu dengan jantungnya yang berdetak dengan sangat kencang.
‘Jangan lagi kejadian itu terjadi lagi sama gue.’
‘Tau gitu gue bareng sama mereka kalau endingnya kayak gini.’
Tubuhnya bergetar, ardi hanya bisa menggelengkan kepala karena dia pasrah tidak bisa melakukan apapun lagi di dalam tenda pada malam itu.
Wajahnya yang pucat terlihat dengan jelas, apalagi dengan napasnya yang terengah-engah dengan detak jantung yang kencang.
Dia benar-benar tidak tau siapa yang ada diluar sana. Namun ketika pemandangan diluar tenda terbuka sepenuhnya.
“Ardi, kenapa di dalam tenda terus, temenin saya disini!!”
Sebuah suara yang dia kenal terdengar, rupanya tak jauh dari tendanya. Terlihat Pak Brata sedang duduk dan meminum kopi di tengah malam dengan jacketnya yang tebal.
Dia juga menyuruh Eko untuk membangunkan ardi dan menemaninya disana, karena di area tenda hanya ada dirinya. Pak Brata dan Eko yang menjaga Pak Brata pada malam itu.
Sambil mengangkat gelas kopinya, dia menyuruh Ardi untuk mendekatinya dan meminum kopi bersama untuk melepas keheningan di dalam area tenda tersebut.
Ardi menghela napas panjang, dia tidak tau bahwa Pak Brata dan Eko masih berada di area tenda. Rasa lega menghampiri dirinya pada saat itu karena masih ada manusia yang ada di area tenda sehingga dirinya tidak terlalu ketakutan lagi.
Dia pun mengangguk dan berjalan keluar tenda untuk menemani Pak Brata yang kini berada di depan tenda. Ditemani Eko yang berjalan di belakangnya. akhirnya ardi sampai dan duduk di kursi yang sudah di sediakan.
“Ko buatin kopi buat Ardi ko”
“Eh iya di, kopi nya mau pake gula atau susu?” kata Pak Brata sambil menyeruput kopi yang dia pegang.
“Ah, kopi pake gula aja Pak,” jawab Ardi sambil mengangguk kecil.
“Oh ya, ko pake gula ya kopinya. Sekalian sambil bawa cemilan.”
Eko yang merupakan pengawal Pak Brata hanya mengangguk, dia langsung membuatkan kopi atas perintah Pak Brata. sedangkan Pak Brata seperti menikmati kopi yang dia minum di salah satu tangannya.
“Nah, kalau gini kan ada teman ngobrol,” kata Pak Brata sambil tersenyum.
“Ngobrol apa ya kira-kira.”
“Hmmmmm, gini deh.”
“Katanya, waktu sarapan pagi kamu ga mau makan daging ayam yang sudah di sajikan?”
“Kenapa di? ga suka ayam? atau ada sesuatu yang membuatmu mendadak ga suka?”
“Padahal, itu enak lho.”
***
“Kang, Kang Danang”
“Kang Danang”
“Duh kemana sih tuh anak, mau balik lagi ke area tenda ga tau arahnya kemana.”
Entis kini benar-benar tersesat di dalam hutan, dia yang mengejar Danang yang masuk ke dalam semak-semak hutan kini entah berada di mana. Suasana di sekelilingnya gelap dan hanya ada semak-semak belukan dengar pepohonan yang tinggi hingga menutup langit-langit malam yang ada di dalam sana.
Dia seperti sendirian di dalam hutan ini, dan hanya di temani oleh sebuah senter kecil yang dia bawa untuk penerangan pada malam itu.
Dia sudah berusaha untuk kembali ke area tenda, namun nampaknya hal itu tidak berhasil karena jalan yang dia lalui tadi seperti tertutup oleh semak-semak hutan yang mengakibatkan dirinya tersesat di dalamnya.
Suasana disana benar-benar gelap, Hutan yang gelap dan lembab membuat dirinya kini waspada. Dia yang tau kondisi Leuweung Kunti ketika siang, membuat dirinya lebih memilih untuk mengatur dirinya agar tidak ketakutan yang berlebih.
Dia sering mendengar cerita orang-orang yang di sesatkan di hutan oleh sesuatu, dan dia juga tau bagaimana orang-orang itu lolos dari jeratan hutan yang gelap dan menyeramkan ketika malam tiba.
Sehingga, dia lebih baik menunggu, dan tidak melakukan langkah yang sia-sia, kecuali di depan dirinya terlihat sosok danang yang harus dia tolong.
“Dimana ya Kang Danang?”
“Da geus sidik eta mah si Danang lain jurig, tapi naha leungit. (Da udah pasti itu mah si Danang bukan hantu, tapi kenapa menghilang.)”
“Ah ieu mah kacau.”
Entis mengeleng-gelengkan kepalanya sembari mulutnya yang menggerutu atas tindakan yang dia lakukan tadi.
Dia yang mencoba untuk tidak ketakutan atas apa yang terjadi kepada dirinya akhirnya melangkahkan kakinya kembali, jalan satu-satunya yang harus dia lakukan adalah mencari jalanan utama sembari mencari danang yang sedang dia kejar.
Karena ketika dirinya sudah menemukan jalanan setapak penghubung antara Desa Kolong Mayit dan desa yang ada diluar hutan maka gampang baginya untuk kembali dari hutan yang gelap ini.
Dengan keberaniannya dia kembali menyusuri semak-semak hutan. Senter kecil yang dia pegang dia sorotkan ke segala arah untuk mencari jalan yang tepat baginya untuk dimasuki.
Suara langkah kaki yang menginjak daun-daun kering dibawah sana terdengar dengan keras dan menggema di seluruh hutan.
Hutan yang hening ketika malam tiba membuat suara sekecil itu bisa terdengar.
Apalagi…
“Apa itu?”
Langkah Entis terhenti ketika dia melihat titik cahaya yang tak jauh darinya, titik cahaya yang sedikit tertutup oleh semak-semak hutan membuat dirinya penasaran.
Karena tidak mungkin ada orang lain selain kelompok mereka yang ada di hutan ini, karena hanya orang-orang yang nekad seperti pak brata yang ingin masuk ke Desa Kolong Mayit melalui Leuweung Kunti seperti ini.
Entis dengan keberaniannya mendekati titik cahaya tersebut, sinar dari senternya sengaja dia sorot ke arah sana agar orang yang ada di titik cahaya bisa mengetahui bahwa dirinya datang mendekat.
Benar saja, ketika dia mendekat terlihat dua orang yang terduduk lemas disana. Bahkan salah satunya terlihat menunduk dengan tubuhnya yang penuh luka.
Kedua orang itu terlihat kecapean. Mereka membelakangi Entis dengan sebuah api unggun yang sengaja dibuat untuk menghangatkan badan kedua orang tersebut.
Entis yang mengetahui kedua orang itu langsung segera mendekatinya. Dia tau dari pakaiannya bahwa itu adalah danang dan mbah walang yang nampak kecapean.
“Akhirnya ketemu juga.”
“Kenapa atuh kalian wawaniannan (terlalu berani) masuk ke hutan ini.”
“Kita aja orang kampung ga berani.”
“Jadi kan kayak gini akhirnya.”
Entis bergumam sembari mendekat, hatinya lega karena orang yang dia kejar kini muncul kembali dengan Mbah Walang yang ada di dekatnya.
“Mbah, Kang Danang, hayu kita kembali lagi ke area tenda lagi buat di obati, biar luka-luka kalian sembuh daripada diem disini mah.” kata Entis yang muncul dari belakang mereka dan menepuk pundak kalian berdua.
Namun,
Wajah lega Entis tiba-tiba berubah ketika Danang dan Mbah Walang yang sedang duduk itu memalingkan wajahnya.
Tiba-tiba, wajahnya pucat sambil berteriak karena dia tidak menyangka atas apa yang dia lihat.
“Naha wajahna rata. (kenapa wajahnya rata.)”
“E, e, e, eta mah Aden-aden. (i, i, i, itu mah Aden-aden.)”
“Argggggghhhhhh.”
Hawa dingin yang menusuk membuat dirinya terbangun, matanya terbuka, namun dia hanya bisa menatap lampu tenda yang mengantung di atas sana.
Beberapa kali dirinya menoleh ke arah luar, tenda yang sengaja dia tutup hanya menyisakan bayangan kemerah-merahan yang redup dari sisa-sisa api unggun yang dibuat oleh Adang dan Engkus pada waktu itu.
Dia melirik HP nya yang dia simpan di dekatnya. Terlihat waktu sudah menunjukkan waktu jam dua shubuh.
‘Masih malam ternyata, kemana mereka ya.’
‘Pada hilang semua gitu.’
‘Terus nanti gue balik gimana.’
‘Mana sendirian lagi gue disini.’
‘Tau gitu gue ngikut mereka dah, daripada ditinggalin disini sendirian.’
Dia sedikit menyesali atas apa yang dia putuskan, mulutnya terus bergumam sendirian di dalam tenda sembari diterpa oleh hawa dingin yang dia rasakan pada malam itu.
Entah mengapa, suasana yang terjadi diluar benar-benar sepi, tidak seperti ketika disana masih banyak orang dengan banyak sekali gangguan dari luar area tenda.
Sekarang benar-benar hening. Tidak ada gerakan apapun bahkan dari dedaunan yang bayangannya terlihat dengan jelas dari dalam tenda oleh Ardi pada saat itu.
Ketakutan Ardi atas apa yang terjadi di dalam rumah singgah membuat dirinya terlalu enggan untuk keluar dan mencari tau atas apa yang sebenarnya terjadi.
Dia lebih memilih menjauhi hal-hal yang seperti itu sekarang. Dia sudah ketakutan ketika dia melihat kejadian itu, juga pocong yang muncul dari atas pohon dan menampaki dirinya secara langsung.
Apalagi, ada dua orang yang sedang melakukan ritual di tengah-tengah hutan. Memakan darah ayam yang di sajikan ketika pagi tiba sebagai sarapan.
Dia yakin, itu bukan mimpi. namun sosok Danang yang dia lihat nampaknya adalah sebuah halusinasi yang sengaja dibuat oleh Mbah Walang agar dia menganggap temannya ini berbuat sesuatu di dalam hutan ini.
Padahal, dia yakin. yang sebenarnya dia lihat adalah.,,
Sreeeettt
Deg, deg
Deg, deg
Di tengah-tengah lamunan itu, dia dikejutkan oleh kemunculan bayangan besar yang datang kepadanya. Nyala dari api unggun yang redup pun terhalang olehnya yang berjalan mendekati tendanya.
Apalagi, dia semakin terkejut ketika tendanya dibuka dari luar. Dia yang terbaring di dalam tenda langsung terbangun dan mundur sembari mengangkat tas rangselnya pada saat itu dengan jantungnya yang berdetak dengan sangat kencang.
‘Jangan lagi kejadian itu terjadi lagi sama gue.’
‘Tau gitu gue bareng sama mereka kalau endingnya kayak gini.’
Tubuhnya bergetar, ardi hanya bisa menggelengkan kepala karena dia pasrah tidak bisa melakukan apapun lagi di dalam tenda pada malam itu.
Wajahnya yang pucat terlihat dengan jelas, apalagi dengan napasnya yang terengah-engah dengan detak jantung yang kencang.
Dia benar-benar tidak tau siapa yang ada diluar sana. Namun ketika pemandangan diluar tenda terbuka sepenuhnya.
“Ardi, kenapa di dalam tenda terus, temenin saya disini!!”
Sebuah suara yang dia kenal terdengar, rupanya tak jauh dari tendanya. Terlihat Pak Brata sedang duduk dan meminum kopi di tengah malam dengan jacketnya yang tebal.
Dia juga menyuruh Eko untuk membangunkan ardi dan menemaninya disana, karena di area tenda hanya ada dirinya. Pak Brata dan Eko yang menjaga Pak Brata pada malam itu.
Sambil mengangkat gelas kopinya, dia menyuruh Ardi untuk mendekatinya dan meminum kopi bersama untuk melepas keheningan di dalam area tenda tersebut.
Ardi menghela napas panjang, dia tidak tau bahwa Pak Brata dan Eko masih berada di area tenda. Rasa lega menghampiri dirinya pada saat itu karena masih ada manusia yang ada di area tenda sehingga dirinya tidak terlalu ketakutan lagi.
Dia pun mengangguk dan berjalan keluar tenda untuk menemani Pak Brata yang kini berada di depan tenda. Ditemani Eko yang berjalan di belakangnya. akhirnya ardi sampai dan duduk di kursi yang sudah di sediakan.
“Ko buatin kopi buat Ardi ko”
“Eh iya di, kopi nya mau pake gula atau susu?” kata Pak Brata sambil menyeruput kopi yang dia pegang.
“Ah, kopi pake gula aja Pak,” jawab Ardi sambil mengangguk kecil.
“Oh ya, ko pake gula ya kopinya. Sekalian sambil bawa cemilan.”
Eko yang merupakan pengawal Pak Brata hanya mengangguk, dia langsung membuatkan kopi atas perintah Pak Brata. sedangkan Pak Brata seperti menikmati kopi yang dia minum di salah satu tangannya.
“Nah, kalau gini kan ada teman ngobrol,” kata Pak Brata sambil tersenyum.
“Ngobrol apa ya kira-kira.”
“Hmmmmm, gini deh.”
“Katanya, waktu sarapan pagi kamu ga mau makan daging ayam yang sudah di sajikan?”
“Kenapa di? ga suka ayam? atau ada sesuatu yang membuatmu mendadak ga suka?”
“Padahal, itu enak lho.”
***
“Kang, Kang Danang”
“Kang Danang”
“Duh kemana sih tuh anak, mau balik lagi ke area tenda ga tau arahnya kemana.”
Entis kini benar-benar tersesat di dalam hutan, dia yang mengejar Danang yang masuk ke dalam semak-semak hutan kini entah berada di mana. Suasana di sekelilingnya gelap dan hanya ada semak-semak belukan dengar pepohonan yang tinggi hingga menutup langit-langit malam yang ada di dalam sana.
Dia seperti sendirian di dalam hutan ini, dan hanya di temani oleh sebuah senter kecil yang dia bawa untuk penerangan pada malam itu.
Dia sudah berusaha untuk kembali ke area tenda, namun nampaknya hal itu tidak berhasil karena jalan yang dia lalui tadi seperti tertutup oleh semak-semak hutan yang mengakibatkan dirinya tersesat di dalamnya.
Suasana disana benar-benar gelap, Hutan yang gelap dan lembab membuat dirinya kini waspada. Dia yang tau kondisi Leuweung Kunti ketika siang, membuat dirinya lebih memilih untuk mengatur dirinya agar tidak ketakutan yang berlebih.
Dia sering mendengar cerita orang-orang yang di sesatkan di hutan oleh sesuatu, dan dia juga tau bagaimana orang-orang itu lolos dari jeratan hutan yang gelap dan menyeramkan ketika malam tiba.
Sehingga, dia lebih baik menunggu, dan tidak melakukan langkah yang sia-sia, kecuali di depan dirinya terlihat sosok danang yang harus dia tolong.
“Dimana ya Kang Danang?”
“Da geus sidik eta mah si Danang lain jurig, tapi naha leungit. (Da udah pasti itu mah si Danang bukan hantu, tapi kenapa menghilang.)”
“Ah ieu mah kacau.”
Entis mengeleng-gelengkan kepalanya sembari mulutnya yang menggerutu atas tindakan yang dia lakukan tadi.
Dia yang mencoba untuk tidak ketakutan atas apa yang terjadi kepada dirinya akhirnya melangkahkan kakinya kembali, jalan satu-satunya yang harus dia lakukan adalah mencari jalanan utama sembari mencari danang yang sedang dia kejar.
Karena ketika dirinya sudah menemukan jalanan setapak penghubung antara Desa Kolong Mayit dan desa yang ada diluar hutan maka gampang baginya untuk kembali dari hutan yang gelap ini.
Dengan keberaniannya dia kembali menyusuri semak-semak hutan. Senter kecil yang dia pegang dia sorotkan ke segala arah untuk mencari jalan yang tepat baginya untuk dimasuki.
Suara langkah kaki yang menginjak daun-daun kering dibawah sana terdengar dengan keras dan menggema di seluruh hutan.
Hutan yang hening ketika malam tiba membuat suara sekecil itu bisa terdengar.
Apalagi…
“Apa itu?”
Langkah Entis terhenti ketika dia melihat titik cahaya yang tak jauh darinya, titik cahaya yang sedikit tertutup oleh semak-semak hutan membuat dirinya penasaran.
Karena tidak mungkin ada orang lain selain kelompok mereka yang ada di hutan ini, karena hanya orang-orang yang nekad seperti pak brata yang ingin masuk ke Desa Kolong Mayit melalui Leuweung Kunti seperti ini.
Entis dengan keberaniannya mendekati titik cahaya tersebut, sinar dari senternya sengaja dia sorot ke arah sana agar orang yang ada di titik cahaya bisa mengetahui bahwa dirinya datang mendekat.
Benar saja, ketika dia mendekat terlihat dua orang yang terduduk lemas disana. Bahkan salah satunya terlihat menunduk dengan tubuhnya yang penuh luka.
Kedua orang itu terlihat kecapean. Mereka membelakangi Entis dengan sebuah api unggun yang sengaja dibuat untuk menghangatkan badan kedua orang tersebut.
Entis yang mengetahui kedua orang itu langsung segera mendekatinya. Dia tau dari pakaiannya bahwa itu adalah danang dan mbah walang yang nampak kecapean.
“Akhirnya ketemu juga.”
“Kenapa atuh kalian wawaniannan (terlalu berani) masuk ke hutan ini.”
“Kita aja orang kampung ga berani.”
“Jadi kan kayak gini akhirnya.”
Entis bergumam sembari mendekat, hatinya lega karena orang yang dia kejar kini muncul kembali dengan Mbah Walang yang ada di dekatnya.
“Mbah, Kang Danang, hayu kita kembali lagi ke area tenda lagi buat di obati, biar luka-luka kalian sembuh daripada diem disini mah.” kata Entis yang muncul dari belakang mereka dan menepuk pundak kalian berdua.
Namun,
Wajah lega Entis tiba-tiba berubah ketika Danang dan Mbah Walang yang sedang duduk itu memalingkan wajahnya.
Tiba-tiba, wajahnya pucat sambil berteriak karena dia tidak menyangka atas apa yang dia lihat.
“Naha wajahna rata. (kenapa wajahnya rata.)”
“E, e, e, eta mah Aden-aden. (i, i, i, itu mah Aden-aden.)”
“Argggggghhhhhh.”
itkgid dan 21 lainnya memberi reputasi
22
Kutip
Balas