- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
SUPPORT AGAR ANE SEMANGAT TERUS UNTUK MENULIS YA, KALIAN BISA KIRIM TRAKTEER DISINI.
TRAKTIR CENDOL
Diubah oleh jurigciwidey 11-02-2026 11:19
reverbriks dan 52 lainnya memberi reputasi
51
37.5K
Kutip
437
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#73
BAB 21 DILUAR RENCANA
Quote:
“Neng, tidak apa-apa ini menunggu disini, kata neng tadi diluar sana banyak jurig nu nyiliwuri. (hantu yang bergentayangan.)”
“Tidak apa-apa ko kang, kalau memang kang adang dan kang entis memang ditugaskan oleh pak brata untuk menjaga peralatan kita diluar mah, ga apa-apa.”
“Namun, yang pasti, jangan sampe kita keluar dari area tenda ini kang.”
“Tuh, lihat, pak Aji dan Eko juga tidur nyenyak di dekat tenda pak brata, ga apa-apa ko pak, nanti Dimas sama Ardi ikut nemenin deh diluar.”
“Bener kan di,”
Rara dan Dewi yang mencoba menjelaskan bahwa mereka aman selama berada di area tenda langsung melirik ke arah Ardi dan Dimas.
Seketika mereka berdua pun menggelengkan kepala sambil menyilangkan tangannya, menandakan bahwa mereka tidak setuju atas usulan itu.
Apalagi, Ardi yang sudah trauma atas kejadian yang menimpanya di rumah singgah. memutuskan untuk langsung masuk ke dalam tenda dan beristirahat. Bahkan dia antisipasi untuk buang air kecil terlebih dahulu di blakang tenda agar dirinya tidak keluar malam lagi seperti malam sebelumnya di rumah singgah itu.
“Tidak apa-apa neng, kalau memang si akang-akang itu ga ingin tidur diluar biar kita berdua aja sambil jagain barang-barang disini.”
“Sudah tanggung jawab kita untuk melayani kalian yang akan pergi ke Desa Kolong Mayit itu neng.”
“Paling kalau ada apa-apa, kita bangunin dua orang besar yang ada disana aja, hantu cewe mah pasti takut sama dua orang besar itu, hehe,” kata Adang sambil sedikit tersenyum.
“Ya sudah, paling nanti kalau ada apa-apa bangunin kita juga ya kang, kita juga di dalam tenda siaga ko, ya meskipun dalam keadaan tidur.” kata Dewi sambil meninggalkan mereka berdua dan berjalan bersama Rara ke arah tenda.
Area tenda yang awalnya ramai dengan berbagai lampu sorot untuk pengambilan video di berbagai sisi kini sudah mulai padam secara perlahan, genset kecil yang di angkut oleh Entis dari rumah singgah kini di matikan dan membuat area tersebut menjadi gelap kembali.
Suasana yang awalnya terang benderang kini menjadi berbeda dalam sekejap. pepohonan yang menjulang tinggi, semak-semak hutan yang gelap, juga suara-suara dari hewan-hewan malam kini lebih aktif terdengar ketika mereka duduk berdua disana.
“Tis, bikin perapian yu, biar hangat, sekalian nyeduh kopi,” kata Adang yang mencoba menyibukan diri sambil mengambil beberapa kayu bakar yang sudah dia kumpulkan sewaktu siang dan menyusunnya agar mudah untuk dibakar.
Entis yang mendapatkan perintah dari Adang langsung mengangguk, dia berdiri dan mengambil dua sachet kopi serta air panas yang ada di termos kecil untuk di seduh.
Sambil membuka sachet kopi itu, dia bertanya kepada Adang yang kini fokus menyalakan api tak jauh dari dirinya berdiri pada saat itu.
“Kang, Leuweung Kunti kalau malem itu berbeda ya. bener kata si neng, baru juga berapa menit lampu mati, kayak banyak yang liatin kita.”
“Terutama di situ, tuh.”
“Hush.”
“Jangan tunjuk-tunjuk, saya juga tau akan hal itu. apalagi saya dah beberapa kali melewati jalan ini waktu sama si Abah dulu.”
“Bahkan dia ngasih nasehat jangan sekali-kali melewati Leuweung Kunti kalau malam hari.”
“Tapi ya mau gimana, kebutuhan dapur lebih penting, makanya mau tidak mau kita harus melakukan pekerjaan ini.”
Adang yang fokus membuat api unggun sambil melihat ke arah hutan, beberapa kali dia mendengar suara dari sesuatu yang sedang mengelilingi mereka semua.
Suara itu terdengar dari semak-semak hutan yang bergerak di dalam kegelapan malam. dan Adang kali ini tidak bisa melihat apa yang ada disana karena penerangan yang ada hanyalah sebuah api unggun yang dibuat oleh dirinya kali ini.
“Ini kang kopinya,” kata Entis yang memberi satu cangkir berisi kopi hitam kepadanya.
“Haaahhh, di satu sisi saya teh penasaran, di satu sisi lagi takut juga kang.”
“Penasaran kalau kita keluar dari area sini mereka akan menampakan diri mereka, soalnya seumur-umur belum pernah di tampakin sama dedemit, paling ya cuman cerita-cerita doang dari akang, dari para warga, bahkan dari tamu yang kemarin nginep.”
“Apalagi, seumur-umur belum pernah ke Desa Kolong Mayit, si Ambu suka melarang kalau kita main kesana, katanya takut di culik Sandekala.”
“Padahal penasaran pengen liat gimana sih mereka bisa hidup di atas makam keluarga mereka yang dikuburkan di kolong rumah mereka sendiri.”
“Soalnya cuman di desa itu aja ada makam di kolong rumah, di rumah kita aja paling dipake ama kandang ayam.”
Adang yang mendengar itu dari Entis hanya tersenyum sambil menyeruput kopi yang dipegang oleh kedua tangannya.
“Daripada kamu pusing, mendingan kamu ambilin cemilan gih disana. kalau ga salah ada makanan ringan yang dibawa dari mobilnya Pak Brata.”
“Lumayan cemilan orang kota, disini mah ga ada makanan kayak gitu,” kata Adang sambil menunjuk ke sebuah tas yang ada di belakang tenda mereka.
Enthis kembali mengangguk, dia berjalan melewati tenda Rara dan Dewi, juga tenda Ardi, Danang dan Dimas yang berjejer satu sama lain.
Tanpa ada rasa takut, dia berjalan perlahan mendekati tas tersebut. sebuah tas berwarna merah muda yang berisi makanan-makanan ringan untuk menambal perut mereka ketika lapar.
“Makanan apa ya, duh ini mana pake bahasa yang ga jelas gini, pake bahasa apa ini, Cina, Korea, atau Jepang.”
“Dah aneh-aneh jajanan orang kota mah, pusing bacanya.”
“Seaaaaaweeed.”
“Ah pusing, dedaunan juga ampe jadiin cemilan, disini malah jadi lauk pauk ama sambal.”
Entis terlihat fokus membuka tas tersebut dan mencari-cari makanan yang pas untuk mereka makan bersama Adang.
Namun, ketika dia sedang fokus memilih makanan ringan yang ada disana.
tiba-tiba.
Krosak, krosak
Entis langsung terdiam, terlinganya mendadak sensitif atas apa yang terjadi. dia mendengar ada sesuatu yang bergerak di semak-semak hutan yang membuatnya seketika langsung melirik ke asal suara tersebut pada malam itu.
Krosak, krosak
Suara itu terdengar kembali, bahkan kali ini terdengar lebih jelas seperti sebelumnya. seperti sedang mendekati dirinya yang ada disana.
Tangannya sedikit bergetar, namun dia yang terbiasa dengan suasana yang gelap di tempat tinggalnya tidak terlalu ketakutan akan hal itu, dia masih berfikir positif bahwa itu adalah hewan malam seperti babi hutan yang tertarik atas bau makanan yang sedang dia buka di dalam tas.
Suara itu semakin lama, semakin nyaring. hingga tak lama terdengar sebuah suara yang muncul, sebuah suara yang tiba-tiba membuat dirinya panik dan berlari seketika dari tempat itu.
***
Adang yang menunggu di dekat api unggun merasa aneh karena Entis belum kembali dari sana.
“Hadeuh, pasti dia pusing gara-gara nama makanannya aneh semua.”
“Biasa ngemil singkong rebus ya begini, dikasih cemilan kota malah bingung.”
Adang pun akhirnya berdiri, dia mencoba menghampiri Entis yang ada di ujung sana.
Namun, tak lama ketika Adang berdiri.
Entis tiba-tiba berteriak meminta tolong kepada dirinya, namun tubuhnya berlari ke arah area luar tenda seperti sedang mengejar sesuatu.
“Kang, kang tolong, si Kang Danang, si Kang Danang” kata Entis sambil berlari keluar area tenda dengan keadaan yang panik.
Tak lama, Adang langsung berteriak mencoba melarang Entis agar dirinya tidak keluar area tenda pada malam itu.
“ENTISS, JANGAN KELUAR AREA TENDA.”
Adang yang melihat Entis berlari seperti sedang mengejar sesuatu, langsung mengejarnya. namun sayangnya, Entis keburu keluar dari area tenda dan menghilang di dalam semak-semak hutan yang gelap.
Adang sempat menggelengkan kepala, dia terlihat kebingungan, apakah dia harus mengejar Entis atau membangunkan mereka semua yang kini sednag tertidur lelap.
“Argh”
Adang yang tidak bisa berfikir jernih, langsung melangkahkan kakinya keluar area tenda.
Namun, baru satu langkah. dia kembali mundur, bahkan dia menjatuhkan diri ke dalam dengan detak jantung yang berdetak kencang pada saat itu. matanya terlihat terbelalak karena ketika dia melangkahkan kakinya keluar, pemandangan akan hutan yang dia lihat di dari area tenda kini berubah drastis.
“Kunti, kunti, loba pisan kuntina. (banyak sekali kuntinya.)” kata Adang dengan posisi yang sedang duduk karena shock atas apa yang dia lihat diluar sana.
Karena tepat ketika sedang mengejar Entis yang keluar dari area tenda, dia melihat sesosok kuntianak muncul tepat di dekat wajahnya dengan banyak sekali kuntianak-kuntianak lain yang menatap dirinya dari pepohonan yang gelap pada malam itu.
“Tidak apa-apa ko kang, kalau memang kang adang dan kang entis memang ditugaskan oleh pak brata untuk menjaga peralatan kita diluar mah, ga apa-apa.”
“Namun, yang pasti, jangan sampe kita keluar dari area tenda ini kang.”
“Tuh, lihat, pak Aji dan Eko juga tidur nyenyak di dekat tenda pak brata, ga apa-apa ko pak, nanti Dimas sama Ardi ikut nemenin deh diluar.”
“Bener kan di,”
Rara dan Dewi yang mencoba menjelaskan bahwa mereka aman selama berada di area tenda langsung melirik ke arah Ardi dan Dimas.
Seketika mereka berdua pun menggelengkan kepala sambil menyilangkan tangannya, menandakan bahwa mereka tidak setuju atas usulan itu.
Apalagi, Ardi yang sudah trauma atas kejadian yang menimpanya di rumah singgah. memutuskan untuk langsung masuk ke dalam tenda dan beristirahat. Bahkan dia antisipasi untuk buang air kecil terlebih dahulu di blakang tenda agar dirinya tidak keluar malam lagi seperti malam sebelumnya di rumah singgah itu.
“Tidak apa-apa neng, kalau memang si akang-akang itu ga ingin tidur diluar biar kita berdua aja sambil jagain barang-barang disini.”
“Sudah tanggung jawab kita untuk melayani kalian yang akan pergi ke Desa Kolong Mayit itu neng.”
“Paling kalau ada apa-apa, kita bangunin dua orang besar yang ada disana aja, hantu cewe mah pasti takut sama dua orang besar itu, hehe,” kata Adang sambil sedikit tersenyum.
“Ya sudah, paling nanti kalau ada apa-apa bangunin kita juga ya kang, kita juga di dalam tenda siaga ko, ya meskipun dalam keadaan tidur.” kata Dewi sambil meninggalkan mereka berdua dan berjalan bersama Rara ke arah tenda.
Area tenda yang awalnya ramai dengan berbagai lampu sorot untuk pengambilan video di berbagai sisi kini sudah mulai padam secara perlahan, genset kecil yang di angkut oleh Entis dari rumah singgah kini di matikan dan membuat area tersebut menjadi gelap kembali.
Suasana yang awalnya terang benderang kini menjadi berbeda dalam sekejap. pepohonan yang menjulang tinggi, semak-semak hutan yang gelap, juga suara-suara dari hewan-hewan malam kini lebih aktif terdengar ketika mereka duduk berdua disana.
“Tis, bikin perapian yu, biar hangat, sekalian nyeduh kopi,” kata Adang yang mencoba menyibukan diri sambil mengambil beberapa kayu bakar yang sudah dia kumpulkan sewaktu siang dan menyusunnya agar mudah untuk dibakar.
Entis yang mendapatkan perintah dari Adang langsung mengangguk, dia berdiri dan mengambil dua sachet kopi serta air panas yang ada di termos kecil untuk di seduh.
Sambil membuka sachet kopi itu, dia bertanya kepada Adang yang kini fokus menyalakan api tak jauh dari dirinya berdiri pada saat itu.
“Kang, Leuweung Kunti kalau malem itu berbeda ya. bener kata si neng, baru juga berapa menit lampu mati, kayak banyak yang liatin kita.”
“Terutama di situ, tuh.”
“Hush.”
“Jangan tunjuk-tunjuk, saya juga tau akan hal itu. apalagi saya dah beberapa kali melewati jalan ini waktu sama si Abah dulu.”
“Bahkan dia ngasih nasehat jangan sekali-kali melewati Leuweung Kunti kalau malam hari.”
“Tapi ya mau gimana, kebutuhan dapur lebih penting, makanya mau tidak mau kita harus melakukan pekerjaan ini.”
Adang yang fokus membuat api unggun sambil melihat ke arah hutan, beberapa kali dia mendengar suara dari sesuatu yang sedang mengelilingi mereka semua.
Suara itu terdengar dari semak-semak hutan yang bergerak di dalam kegelapan malam. dan Adang kali ini tidak bisa melihat apa yang ada disana karena penerangan yang ada hanyalah sebuah api unggun yang dibuat oleh dirinya kali ini.
“Ini kang kopinya,” kata Entis yang memberi satu cangkir berisi kopi hitam kepadanya.
“Haaahhh, di satu sisi saya teh penasaran, di satu sisi lagi takut juga kang.”
“Penasaran kalau kita keluar dari area sini mereka akan menampakan diri mereka, soalnya seumur-umur belum pernah di tampakin sama dedemit, paling ya cuman cerita-cerita doang dari akang, dari para warga, bahkan dari tamu yang kemarin nginep.”
“Apalagi, seumur-umur belum pernah ke Desa Kolong Mayit, si Ambu suka melarang kalau kita main kesana, katanya takut di culik Sandekala.”
“Padahal penasaran pengen liat gimana sih mereka bisa hidup di atas makam keluarga mereka yang dikuburkan di kolong rumah mereka sendiri.”
“Soalnya cuman di desa itu aja ada makam di kolong rumah, di rumah kita aja paling dipake ama kandang ayam.”
Adang yang mendengar itu dari Entis hanya tersenyum sambil menyeruput kopi yang dipegang oleh kedua tangannya.
“Daripada kamu pusing, mendingan kamu ambilin cemilan gih disana. kalau ga salah ada makanan ringan yang dibawa dari mobilnya Pak Brata.”
“Lumayan cemilan orang kota, disini mah ga ada makanan kayak gitu,” kata Adang sambil menunjuk ke sebuah tas yang ada di belakang tenda mereka.
Enthis kembali mengangguk, dia berjalan melewati tenda Rara dan Dewi, juga tenda Ardi, Danang dan Dimas yang berjejer satu sama lain.
Tanpa ada rasa takut, dia berjalan perlahan mendekati tas tersebut. sebuah tas berwarna merah muda yang berisi makanan-makanan ringan untuk menambal perut mereka ketika lapar.
“Makanan apa ya, duh ini mana pake bahasa yang ga jelas gini, pake bahasa apa ini, Cina, Korea, atau Jepang.”
“Dah aneh-aneh jajanan orang kota mah, pusing bacanya.”
“Seaaaaaweeed.”
“Ah pusing, dedaunan juga ampe jadiin cemilan, disini malah jadi lauk pauk ama sambal.”
Entis terlihat fokus membuka tas tersebut dan mencari-cari makanan yang pas untuk mereka makan bersama Adang.
Namun, ketika dia sedang fokus memilih makanan ringan yang ada disana.
tiba-tiba.
Krosak, krosak
Entis langsung terdiam, terlinganya mendadak sensitif atas apa yang terjadi. dia mendengar ada sesuatu yang bergerak di semak-semak hutan yang membuatnya seketika langsung melirik ke asal suara tersebut pada malam itu.
Krosak, krosak
Suara itu terdengar kembali, bahkan kali ini terdengar lebih jelas seperti sebelumnya. seperti sedang mendekati dirinya yang ada disana.
Tangannya sedikit bergetar, namun dia yang terbiasa dengan suasana yang gelap di tempat tinggalnya tidak terlalu ketakutan akan hal itu, dia masih berfikir positif bahwa itu adalah hewan malam seperti babi hutan yang tertarik atas bau makanan yang sedang dia buka di dalam tas.
Suara itu semakin lama, semakin nyaring. hingga tak lama terdengar sebuah suara yang muncul, sebuah suara yang tiba-tiba membuat dirinya panik dan berlari seketika dari tempat itu.
***
Adang yang menunggu di dekat api unggun merasa aneh karena Entis belum kembali dari sana.
“Hadeuh, pasti dia pusing gara-gara nama makanannya aneh semua.”
“Biasa ngemil singkong rebus ya begini, dikasih cemilan kota malah bingung.”
Adang pun akhirnya berdiri, dia mencoba menghampiri Entis yang ada di ujung sana.
Namun, tak lama ketika Adang berdiri.
Entis tiba-tiba berteriak meminta tolong kepada dirinya, namun tubuhnya berlari ke arah area luar tenda seperti sedang mengejar sesuatu.
“Kang, kang tolong, si Kang Danang, si Kang Danang” kata Entis sambil berlari keluar area tenda dengan keadaan yang panik.
Tak lama, Adang langsung berteriak mencoba melarang Entis agar dirinya tidak keluar area tenda pada malam itu.
“ENTISS, JANGAN KELUAR AREA TENDA.”
Adang yang melihat Entis berlari seperti sedang mengejar sesuatu, langsung mengejarnya. namun sayangnya, Entis keburu keluar dari area tenda dan menghilang di dalam semak-semak hutan yang gelap.
Adang sempat menggelengkan kepala, dia terlihat kebingungan, apakah dia harus mengejar Entis atau membangunkan mereka semua yang kini sednag tertidur lelap.
“Argh”
Adang yang tidak bisa berfikir jernih, langsung melangkahkan kakinya keluar area tenda.
Namun, baru satu langkah. dia kembali mundur, bahkan dia menjatuhkan diri ke dalam dengan detak jantung yang berdetak kencang pada saat itu. matanya terlihat terbelalak karena ketika dia melangkahkan kakinya keluar, pemandangan akan hutan yang dia lihat di dari area tenda kini berubah drastis.
“Kunti, kunti, loba pisan kuntina. (banyak sekali kuntinya.)” kata Adang dengan posisi yang sedang duduk karena shock atas apa yang dia lihat diluar sana.
Karena tepat ketika sedang mengejar Entis yang keluar dari area tenda, dia melihat sesosok kuntianak muncul tepat di dekat wajahnya dengan banyak sekali kuntianak-kuntianak lain yang menatap dirinya dari pepohonan yang gelap pada malam itu.
doelviev dan 25 lainnya memberi reputasi
26
Kutip
Balas
Tutup