- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Diubah oleh jurigciwidey 25-08-2023 14:07
iwakcetol dan 49 lainnya memberi reputasi
48
35.7K
Kutip
433
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#68
BAB 20 - MEREKA
Quote:
“Leuwung Kunti, adalah sebuah area dimana disana banyak sekali kejadian-kejadian aneh yang melibatkan salah satu mahluk berwujud wanita dengan baju berwarna putih panjang yang terbang di antara pepohonan hutan.”
“Wajahnya yang seringkali tertutup oleh rambutnya yang panjang, juga tangannya yang sangat kurus dan pucat serta kuku-kukunya yang panjang. membuat orang-orang yang melewati hutan ini akan ketakutan ketika dia di tampaki oleh mahluk itu.”
“Leuweung Kunti yang kini di tutup dan jarang sekali di lalui oleh masyarakat yang akan atau pulang dari Desa Kolong Mayit. menyimpan sebuah cerita misteri yang terjadi selama ratusan tahun.”
“Bukan tanpa sebab nama Leuweung Kunti ini ada. karena dulu Leuweung Kunti ini adalah…”
Krosak
Adang yang sedang bercerita tiba-tiba menengok ke arah belakang tenda, dia merasakan bahwa ada sesuatu yang bergerak di antara semak-semak hutan yang ada diluar dari area tendanya.
“Neng, tidak apa-apa ini teh, tadi denger ga ada suara orang yang melintas di semak-semak sana,” kata Adang yang tiba-tiba merasakan tubuhnya yang merinding.
Dewi yang pada saat itu dibelakang kamera bersama Dimas dan Ardi, langsung menoleh ke arah Mbah Walang yang berdiri tak jauh dari mereka bersama Danang.
Mbah Walang yang terlihat sedang menjaga mereka semua hanya mengangguk dan mengangkat salah satu tangannya, yang menandakan bahwa apa yang sedang kerjakan bisa dilanjutkan karena masih dalam pengawasan dirinya.
Dewi pun kembali berbalik, dan mengangkat tangannya untuk memberi tanda kepada Rara yang ada di depan bersama Adang.
Rara yang mengerti atas instruksi dari Dewi langsung mengangguk, dan menjawab atas apa yang dikatakan oleh adang.
“Tidak apa-apa kang, semuanya aman ko. silahkan dilanjut lagi, bagaimana ceritanya?”
“Ah iya, i, i, itu.”
“Jadi nama Leuweung Kunti ini bukan tanpa alasan. karena dulu ada salah satu pengunjung yang datang ke Desa Kolong Mayit melewati hutan ini.”
“Hutan ini memang mempunyai rute yang paling pendek dibandingkan dengan Leuweung Poek, sehingga bisa memangkas waktu hingga empat jam perjalanan untuk sampai kesana.”
“Namun, masyarakat Desa Kolong Mayit maupun yang tinggal diluar desa seperti leluhur kita pada waktu itu percaya, bahwa orang itu melakukan sesuatu di hutan ini.”
“Dia seperti membuang semua keilmuan yang selama ini dia pelajari, termasuk para mahluk-mahluk yang merupakan Kuntilanak yang mengikuti dirinya selama ini di hutan i….”
Krosak, krosak
“Nenggg, be, benar ini aman ga neng.”
“Suara itu terdengar lagi.”
Wajah adang bertambah pucat. dia menengok ke belakang ke area hutan yang sangat gelap. Dia merasakan bahwa ada kini ada sesuatu yang melesat dengan cepat di antara semak-semak yang tepat berada di belakang tenda yang tak jauh dari mereka.
Dewi kembali menengok ke arah Mbah Walang yang ada di belakangnya. dan dia membalasnya dengan anggukan kepala namun tatapannya terlihat sedang menatap tajam ke antara pepohonan hutan.
Sedangkan Danang, terlihat lebih santai, dia kini malah duduk di dekat Mbah Walang sambil memakan cemilan sambil memperhatikan Rara, Dewi, Dimas dan Ardi yang sedang mengambil video disana.
“Tidak apa-apa kang, lanjutin aja. kita yakin akang akan aman ko, nanti gantian sama kang Entis untuk wawancaranya ya,” kata Rara yang mencoba menenangkan Adang yang wajahnya sudah pucat disana.
Pengambilan video pada malam itu pun terus berlanjut, Rara dengan sigap bertanya kepada mereka sesuai skrip yang dewi buat di hari itu.
Sedangkan Dimas dan Ardi terlihat fokus akan peralatan yang mereka pegang, dan memastikan bahwa pengambilan video pada malam ini harus kerekam semua.
“Coba wajah pucatnya kang Adang di zoom mas, biar penonton bisa merasakan sebuah ketakutan dari orang-orang yang sedang Rara wawancarai.”
‘Tapi, jangan terlalu di zoom ke arah muka ya, geser sedikit ke kiri biar logo produk Pak Brata yang nempel di tenda kesorot,” kata Dewi yang memberi intruksi kepada Dimas pada saat itu.
Dimas hanya mengangguk dan mengangkat tangannya pada malam itu, dia tau Dewi adalah orang yang ingin segalanya sempurna, sehingga dia tau harus berbuat apa agar pengambilan video yang sedang dilakukan pada malam itu bisa mendapatkan gambar yang bagus tanpa perlu banyak di edit oleh Dimas.
Semuanya terlihat sangat fokus atas apa yang sedang dilakukan oleh mereka. angin malam yang berhembus di antara pepohonan hutan nampaknya tidak menurunkan semangat mereka untuk menyelesaikan apa yang sedang mereka lakukan pada malam ini.
meskipun.
“Gobl*g.”
Ardi tiba-tiba berteriak, dia membuka headsetnya dan melemparnya ke arah depan.
Sontak hal itu tiba-tiba membuat semua yang ada disana kaget dan mencari tau apa yang terjadi kepada Ardi.
“CUT, CUT”
“Ra, Kang Adang, Kang Entis istirahat dulu, standby aja disana.”
Dewi yang ada di dekat Dimas langsung mendekati Ardi pada saat itu.
“Lu kenapa di, bikin kaget aja.”
Ardi hanya menggelengkan kepala, tubuhnya bergetar dengan sangat hebat. tanpa menjawab apa yang Dewi katakan, dia menunjuk headset yang dia lempar untuk di dengarkan.
Dewi yang mengerti akan hal itu langsung mengambil headset tersebut dan menempelkannya di atas kepalanya. lalu Ardi pun langsung memutar ulang apa yang dia dengar sehingga Dewi tau apa yang sebenarnya terjadi kepada Ardi.
Di dalam headset itu, Dewi mendengaran percakapan antara Rara, Adang dan Entis. namun tak lama, seperti ada seseorang yang ikut mengobrol dengan mereka.
Berawal dengan suara napas yang berat yang tiba-tiba muncul, lalu tak lama kemudian di susul oleh suara kuntianak yang melengking dan tertawa keras yang membuat Ardi melempar headset tersebut.
Selanjutnya, Dewi yang masih menempelkan headset tersebut di atas kepalanya tiba-tiba mendengar kembali sebuah suara yang aneh.
Sebuah suara dari seorang wanita tua yang nampak melarang mereka untuk melanjutkan perjalanan ke desa kolong mayit.
“Ulaaaahhh, ulaaah indit kadituuu, ulaaaaahhh. (Jangaaan, jangan berangkat kesana, jangaaan.)”
“Maraneh teu apal Kolong mMayit teh naun, ulaaah, ulaaah nyiar-nyiar picilakaeun, ulaaah. (Kalian tidak tau Kolong Mayit itu apa, janganm jangan mencari sesuatu yang membuat celaka, jangaann.)”
“Kolong Mayit lain jang jelema balalageur jigah maraneh. (Kolong mayit bukan tempat untuk manusia yang baik seperti kalian.)”
“Ulah, bisi cilaka, ulah, bisi moal bisa balik ka indung bapak maneh. (Jangan, takut celaka, jangan, takut tidak bisa pulang ke ibu dan bapak kalian.)”
Mata Dewi tiba-tiba terbelalak, dia mengerti apa yang di ucapkan disana meskipun itu berbahasa sunda. dia yang mendengar hal itu langsung mengangkat kedua tangannya dan menyilangkannya. menandakan bahwa pengambilan video pada malam ini dihentikan sementara.
Apalagi.
Tanpa ada aba-aba sebelumnya, Mbah Walang tiba-tiba berlari, ke arah mereka dengan tatapan yang tajam. dia terlihat seperti ingin mengejar atas sesuatu yang menganggu pengambilan gambar dari tim rarasukma.
Danang yang melihat Mbah Walang yang berlari keluar tenda, langsung mendekati Dimas.
“Mas, ayo kita ikuti Mbah Walang, gue ikut pegang kamera, pasti ada sesuatu yang menarik untuk dilihat disana,” kata Danang yang terlihat seperti menemukan sesuatu yang menarik atas apa yang terjadi pada malam ini.
“Ah ogah ah, ntar kenapa-kenapa. kan lu sama Dewi bilang kalau diluar sana berbahaya, ntar kalau kenapa-kenapa gue disana gimana,” kata Dimas yang menolak ajakan Danang pada waktu itu.
“Ah lu cemen,”
“Wi, gimana wi, gue boleh ambil kamera buat ngambil video mbah walang di hutan sana.”
“Gue BT dari tadi duduk doang ga kontribusi apa-apa?” kata Danang yang kini mencoba bertanya kepada Dewi pada saat itu.
Dewi yang berada di dekat Ardi terlihat sedang berfikir sejenak. dia terdiam beberapa menit memikirkan ide dari danang pada saat itu.
“Ya udah, lu ikutin Mbah Walang, gue jujur ga setuju atas apa yang lu lakuin, gue ga mau lu celaka.”
“Tapi karena lu mungkin bisa jaga diri lu untuk hal ini, gue percayakan hal itu kepada lu.”
“Ambil gambar yang bagus, biar bisa kita masukin dalam video dokumentasi kita.”
Danang yang mendengar keputusan Dewi langsung tersenyum, tak lama dia langsung mengambil kamera cadangan yang ada di dekat Dimas dan berlari mengejar Mbah Walang yang keluar area tenda malam malam itu.
Tak lama kemudian.
Tepat ketika Mbah Walang dan Danang pergi.
Tiba-tiba,
Terdengar suara tertawa yang melengking dari luar area tenda mereka. mereka seperti terlihat senang, karena orang yang menjaga area itu kini menghilang dan menyisakan manusia-manusia yang siap untuk mereka terror.
Meskipun, suara dari puluhan mahluk yang tertawa itu hanya bisa di dengar oleh Rara yang paling sensitif di antara mereka semua. Sehingga hal itu membuat Rara langsung berdiri dan melihat ke sekeliling pepohonan sambil berkata ke arah Dewi.
“Wi, jangan biarkan ada orang yang keluar dari area tenda sekarang, mereka sekarang sudah mengelilingi kita dan siap menampakan wujudnya apabila kita keluar dari area tenda ini.”
“Jadi, sebisa mungkin di jangan sekali-kali keluar area tenda ini apapun alasannya.”
“Wajahnya yang seringkali tertutup oleh rambutnya yang panjang, juga tangannya yang sangat kurus dan pucat serta kuku-kukunya yang panjang. membuat orang-orang yang melewati hutan ini akan ketakutan ketika dia di tampaki oleh mahluk itu.”
“Leuweung Kunti yang kini di tutup dan jarang sekali di lalui oleh masyarakat yang akan atau pulang dari Desa Kolong Mayit. menyimpan sebuah cerita misteri yang terjadi selama ratusan tahun.”
“Bukan tanpa sebab nama Leuweung Kunti ini ada. karena dulu Leuweung Kunti ini adalah…”
Krosak
Adang yang sedang bercerita tiba-tiba menengok ke arah belakang tenda, dia merasakan bahwa ada sesuatu yang bergerak di antara semak-semak hutan yang ada diluar dari area tendanya.
“Neng, tidak apa-apa ini teh, tadi denger ga ada suara orang yang melintas di semak-semak sana,” kata Adang yang tiba-tiba merasakan tubuhnya yang merinding.
Dewi yang pada saat itu dibelakang kamera bersama Dimas dan Ardi, langsung menoleh ke arah Mbah Walang yang berdiri tak jauh dari mereka bersama Danang.
Mbah Walang yang terlihat sedang menjaga mereka semua hanya mengangguk dan mengangkat salah satu tangannya, yang menandakan bahwa apa yang sedang kerjakan bisa dilanjutkan karena masih dalam pengawasan dirinya.
Dewi pun kembali berbalik, dan mengangkat tangannya untuk memberi tanda kepada Rara yang ada di depan bersama Adang.
Rara yang mengerti atas instruksi dari Dewi langsung mengangguk, dan menjawab atas apa yang dikatakan oleh adang.
“Tidak apa-apa kang, semuanya aman ko. silahkan dilanjut lagi, bagaimana ceritanya?”
“Ah iya, i, i, itu.”
“Jadi nama Leuweung Kunti ini bukan tanpa alasan. karena dulu ada salah satu pengunjung yang datang ke Desa Kolong Mayit melewati hutan ini.”
“Hutan ini memang mempunyai rute yang paling pendek dibandingkan dengan Leuweung Poek, sehingga bisa memangkas waktu hingga empat jam perjalanan untuk sampai kesana.”
“Namun, masyarakat Desa Kolong Mayit maupun yang tinggal diluar desa seperti leluhur kita pada waktu itu percaya, bahwa orang itu melakukan sesuatu di hutan ini.”
“Dia seperti membuang semua keilmuan yang selama ini dia pelajari, termasuk para mahluk-mahluk yang merupakan Kuntilanak yang mengikuti dirinya selama ini di hutan i….”
Krosak, krosak
“Nenggg, be, benar ini aman ga neng.”
“Suara itu terdengar lagi.”
Wajah adang bertambah pucat. dia menengok ke belakang ke area hutan yang sangat gelap. Dia merasakan bahwa ada kini ada sesuatu yang melesat dengan cepat di antara semak-semak yang tepat berada di belakang tenda yang tak jauh dari mereka.
Dewi kembali menengok ke arah Mbah Walang yang ada di belakangnya. dan dia membalasnya dengan anggukan kepala namun tatapannya terlihat sedang menatap tajam ke antara pepohonan hutan.
Sedangkan Danang, terlihat lebih santai, dia kini malah duduk di dekat Mbah Walang sambil memakan cemilan sambil memperhatikan Rara, Dewi, Dimas dan Ardi yang sedang mengambil video disana.
“Tidak apa-apa kang, lanjutin aja. kita yakin akang akan aman ko, nanti gantian sama kang Entis untuk wawancaranya ya,” kata Rara yang mencoba menenangkan Adang yang wajahnya sudah pucat disana.
Pengambilan video pada malam itu pun terus berlanjut, Rara dengan sigap bertanya kepada mereka sesuai skrip yang dewi buat di hari itu.
Sedangkan Dimas dan Ardi terlihat fokus akan peralatan yang mereka pegang, dan memastikan bahwa pengambilan video pada malam ini harus kerekam semua.
“Coba wajah pucatnya kang Adang di zoom mas, biar penonton bisa merasakan sebuah ketakutan dari orang-orang yang sedang Rara wawancarai.”
‘Tapi, jangan terlalu di zoom ke arah muka ya, geser sedikit ke kiri biar logo produk Pak Brata yang nempel di tenda kesorot,” kata Dewi yang memberi intruksi kepada Dimas pada saat itu.
Dimas hanya mengangguk dan mengangkat tangannya pada malam itu, dia tau Dewi adalah orang yang ingin segalanya sempurna, sehingga dia tau harus berbuat apa agar pengambilan video yang sedang dilakukan pada malam itu bisa mendapatkan gambar yang bagus tanpa perlu banyak di edit oleh Dimas.
Semuanya terlihat sangat fokus atas apa yang sedang dilakukan oleh mereka. angin malam yang berhembus di antara pepohonan hutan nampaknya tidak menurunkan semangat mereka untuk menyelesaikan apa yang sedang mereka lakukan pada malam ini.
meskipun.
“Gobl*g.”
Ardi tiba-tiba berteriak, dia membuka headsetnya dan melemparnya ke arah depan.
Sontak hal itu tiba-tiba membuat semua yang ada disana kaget dan mencari tau apa yang terjadi kepada Ardi.
“CUT, CUT”
“Ra, Kang Adang, Kang Entis istirahat dulu, standby aja disana.”
Dewi yang ada di dekat Dimas langsung mendekati Ardi pada saat itu.
“Lu kenapa di, bikin kaget aja.”
Ardi hanya menggelengkan kepala, tubuhnya bergetar dengan sangat hebat. tanpa menjawab apa yang Dewi katakan, dia menunjuk headset yang dia lempar untuk di dengarkan.
Dewi yang mengerti akan hal itu langsung mengambil headset tersebut dan menempelkannya di atas kepalanya. lalu Ardi pun langsung memutar ulang apa yang dia dengar sehingga Dewi tau apa yang sebenarnya terjadi kepada Ardi.
Di dalam headset itu, Dewi mendengaran percakapan antara Rara, Adang dan Entis. namun tak lama, seperti ada seseorang yang ikut mengobrol dengan mereka.
Berawal dengan suara napas yang berat yang tiba-tiba muncul, lalu tak lama kemudian di susul oleh suara kuntianak yang melengking dan tertawa keras yang membuat Ardi melempar headset tersebut.
Selanjutnya, Dewi yang masih menempelkan headset tersebut di atas kepalanya tiba-tiba mendengar kembali sebuah suara yang aneh.
Sebuah suara dari seorang wanita tua yang nampak melarang mereka untuk melanjutkan perjalanan ke desa kolong mayit.
“Ulaaaahhh, ulaaah indit kadituuu, ulaaaaahhh. (Jangaaan, jangan berangkat kesana, jangaaan.)”
“Maraneh teu apal Kolong mMayit teh naun, ulaaah, ulaaah nyiar-nyiar picilakaeun, ulaaah. (Kalian tidak tau Kolong Mayit itu apa, janganm jangan mencari sesuatu yang membuat celaka, jangaann.)”
“Kolong Mayit lain jang jelema balalageur jigah maraneh. (Kolong mayit bukan tempat untuk manusia yang baik seperti kalian.)”
“Ulah, bisi cilaka, ulah, bisi moal bisa balik ka indung bapak maneh. (Jangan, takut celaka, jangan, takut tidak bisa pulang ke ibu dan bapak kalian.)”
Mata Dewi tiba-tiba terbelalak, dia mengerti apa yang di ucapkan disana meskipun itu berbahasa sunda. dia yang mendengar hal itu langsung mengangkat kedua tangannya dan menyilangkannya. menandakan bahwa pengambilan video pada malam ini dihentikan sementara.
Apalagi.
Tanpa ada aba-aba sebelumnya, Mbah Walang tiba-tiba berlari, ke arah mereka dengan tatapan yang tajam. dia terlihat seperti ingin mengejar atas sesuatu yang menganggu pengambilan gambar dari tim rarasukma.
Danang yang melihat Mbah Walang yang berlari keluar tenda, langsung mendekati Dimas.
“Mas, ayo kita ikuti Mbah Walang, gue ikut pegang kamera, pasti ada sesuatu yang menarik untuk dilihat disana,” kata Danang yang terlihat seperti menemukan sesuatu yang menarik atas apa yang terjadi pada malam ini.
“Ah ogah ah, ntar kenapa-kenapa. kan lu sama Dewi bilang kalau diluar sana berbahaya, ntar kalau kenapa-kenapa gue disana gimana,” kata Dimas yang menolak ajakan Danang pada waktu itu.
“Ah lu cemen,”
“Wi, gimana wi, gue boleh ambil kamera buat ngambil video mbah walang di hutan sana.”
“Gue BT dari tadi duduk doang ga kontribusi apa-apa?” kata Danang yang kini mencoba bertanya kepada Dewi pada saat itu.
Dewi yang berada di dekat Ardi terlihat sedang berfikir sejenak. dia terdiam beberapa menit memikirkan ide dari danang pada saat itu.
“Ya udah, lu ikutin Mbah Walang, gue jujur ga setuju atas apa yang lu lakuin, gue ga mau lu celaka.”
“Tapi karena lu mungkin bisa jaga diri lu untuk hal ini, gue percayakan hal itu kepada lu.”
“Ambil gambar yang bagus, biar bisa kita masukin dalam video dokumentasi kita.”
Danang yang mendengar keputusan Dewi langsung tersenyum, tak lama dia langsung mengambil kamera cadangan yang ada di dekat Dimas dan berlari mengejar Mbah Walang yang keluar area tenda malam malam itu.
Tak lama kemudian.
Tepat ketika Mbah Walang dan Danang pergi.
Tiba-tiba,
Terdengar suara tertawa yang melengking dari luar area tenda mereka. mereka seperti terlihat senang, karena orang yang menjaga area itu kini menghilang dan menyisakan manusia-manusia yang siap untuk mereka terror.
Meskipun, suara dari puluhan mahluk yang tertawa itu hanya bisa di dengar oleh Rara yang paling sensitif di antara mereka semua. Sehingga hal itu membuat Rara langsung berdiri dan melihat ke sekeliling pepohonan sambil berkata ke arah Dewi.
“Wi, jangan biarkan ada orang yang keluar dari area tenda sekarang, mereka sekarang sudah mengelilingi kita dan siap menampakan wujudnya apabila kita keluar dari area tenda ini.”
“Jadi, sebisa mungkin di jangan sekali-kali keluar area tenda ini apapun alasannya.”
sampeuk dan 22 lainnya memberi reputasi
23
Kutip
Balas