- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
SUPPORT AGAR ANE SEMANGAT TERUS UNTUK MENULIS YA, KALIAN BISA KIRIM TRAKTEER DISINI.
TRAKTIR CENDOL
Diubah oleh jurigciwidey 11-02-2026 11:19
reverbriks dan 52 lainnya memberi reputasi
51
37.4K
Kutip
437
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#62
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
Quote:
“Di kenapa ga di makan daging ayamnya, enak lho?” tanya Dewi yang melihat Ardi hanya makan tempe, tahu dan lalapan di pagi itu.
“Iye, biasanya lu cepet masalah makanan, lu vegetarian ya sekarang,” tambah Dimas sambil makan dengan lahapnya.
“Sama, si Rara juga ga mau makan ayamnya, kenapa lu ra, lu couplean sama si Ardi sekarang.”
“Ah lu gitu, padahal gue ngejar-ngejar elu tapi lu nya malah sama si Ardi,” kata Danang yang bercanda di tengah-tengah sarapan pagi yang mereka lakukan di pagi ini.
“Yee, kan lu tau sendiri nang, gue ga bisa pacaran dulu sebelum kuliah gue beres, lu ntar ngejar guenya pas udah lulus, pas dah kerja.”
“Mana gue juga kalau makan kan sedikit nang, inget lemak ntar kolestro, si Dimas ngamuk kalau badan gue gemukan dikit, ntar ga banyak endorse yang masuk kalau wajah gue penuh jerawat dan berat badan gue naik,” kata Rara sambil cemberut.
Rara memang harus menjaga pola makan, dan itu sudah di sepakati oleh semua tim rarasukma. apalagi karena Rara adalah ujung tombak yang seringkali tampil di depan kamera dan di media sosial, sehingga dia dituntut untuk sempurna.
Dimas yang mengelola media sosial seluruh tim seringkali memarahi Rara apabila dia terlalu banyak makan, tubuh Rara memang harus di jaga sebagaimana mestinya. berbeda dengan Dewi dan teman-temannya yang berada di belakang layar. yang tidak meperdulikan apa yang dia makan, tapi mereka harus standby dengan semua hal-hal diluar apa yang dilakukan Rara di depan kamera.
Ada alasan lain sebenarnya Rara tidak ingin makan ayam goreng disana, seperti ada sesuatu yang menolaknya untuk mengambil hal tersebut. sesuatu yang berbisik ke telinganya yang seolah-olah melarang memakan ayam yang terlihat lezat itu di depannya.
Namun, dia juga sedikit melirik ke arah Ardi. tidak biasanya Ardi nampak sedikit pendiam sekarang, dia hanya makan beberapa tempe dan tahu tanpa menyentuh ayam itu sedikit pun.
‘Ada apa sebenarnya ama tuh anak, apakah dia juga sama menghindari ayam itu untuk di makan.’
‘Biasanya tuh anak paling heboh kalau urusan makan sama si danang.’
Rara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya secara perlahan, dia menatap makanan itu sembari menatap orang-orang yang sibuk makan di depannya.
Hingga,
‘Astaga’
Wajahnya sedikit kaget ketika dia melihat Mbah Walang, matanya sedikit menatap dia dengan tatapan yang tajam sembari memasukan makanan ke arah mulutnya.
Dia juga menatap Ardi dengan tatapan yang sama pada saat itu. tidak ada obrolan apapun antara Mbah Walang, Aji dan Eko ketika sarapan tiba. Pak Brata juga nampaknya masih tertidur pulas di kamarnya dan belum bangun hingga saat ini.
‘Ada yang tidak beres.’
Batin rara terus-terus mempertanyakan hal-hal yang tidak dimengerti olehnya di pagi itu. karena ada beberapa orang yang tingkah lakunya mencurigakan di pagi ini.
***
Tak terasa, waktu kini sudah menunjukan jam sepuluh pagi. Pak Brata nampak sudah terbangun dan membersihkan diri.
Dia meminta maaf kepada mereka semua karena ada hal yang harus dia kerjakan pada malam itu sehingga dia terbangun d siang hari. Rara dan Dewi yang pada saat itu mengobrol dengan Pak Brata memaklumi apa yang dia lakukan, karena mereka berdua tau bagaimana dia harus mengontrol perusahaan meskipun dirinya sedang jauh di tempat yang susah dengan sinyal internet seperti ini sehingga dia seringkali mengorbankan jadwal tidurnya untuk urusan perusahaan.
“Bagaimana semuanya sudah siap,” kata Pak Brata sambil tersenyum.
Ardi, Dimas, Danang, Rara serta Dewi pun mengangguk. mereka membawa peralatan yang bisa mereka bawa di dalam tas punggung yang mereka pakai.
Penampilan mereka pun seketika berubah, topi safari, jacket, baju, celana, tas backpack, juga tas slempang dan sepatu semuanya baru dengan logo perusahaan Pak Brata yang menempel disana.
Di sini Pak Brata memberi kuasa penuh kepada Dewi untuk melakukan dokumentasi atas apa yang sudah dia sepakati dengan pak brata pada saat itu.
Sehingga, tim rarasukma yang kini mempimpin perjalanan dan ditemani oleh Adang dan Entis selaku porter dan penunjuk arah. sedangkan Pak Brata, Mbah Walang dan kedua pengawalnya mengikuti mereka di belakang.
Akhirnya, perjalanan mereka pun dimulai. mereka melangkahkan kaki mereka melewati jalanan setapak ke dalam hutan.
“Hey, bengong aja, ayo, ntar suara si Rara putus kalau operatornya ga ikut jalan,” kata Dimas yang menepuk Ardi sambil memegang kamera.
“Eh, iya, iya.”
Ardi hanya mengangguk dan berajalan mengikuti Dimas. namun pandangannya terus-terusan memandangi belakang rumah yang dia lewati sekarang. dia seperti melihat sesuatu yang berbeda. dengan apa yang dia lihat semalam.
‘Bukannya kemarin malam banyak sekali tetesan darah yang ada di sana ya, seharusnya sudah mengering dan susah untuk dibersihkan.’
‘Tapi, kenapa sekarang menghilang,’ kata batinnya yang mempertanyakan tentang darah yang tiba-tiba menghilang disana.
“WOY.”
“BENGONG TERUS, KESAMBET LU, AYO CEPET, MALU SAMA PAK BRATA.”
Dimas yang sedikit emosi menepuk pundak Ardi dengan sedikit keras. dia mengajak Ardi untuk segera berjalan karena melihat Pak Brata yang mengikuti mereka dari belakang.
“Eh, iya, iya. bentar-bentar.”
“Ra, ra, bentar gue setting dulu suaranya, lupa nyetting clip on ini,” kata Ardi sambil berlari mendekati Rara yang sudah berjalan di depan sana bersama Dewi dan Danang.
gerak-gerik Ardi nampaknya di ketahui oleh Pak Brata. dia seperti melihat ada suatu keanehan ketika melihat dirinya pada saat itu.
Beberapa kali dia juga menengok ke arah rumah. tak lama. dia memanggil Mbah Walang yang berada di dekatanya.
Mbah Walang hanya mengangguk dan mendekatinya pada saat itu, lalu tak lama kemudian Pak Brata terlihat seperti sedang membisikan sesuatu kepada Mbah Walang. dia terlihat serius sambil melihat tim rarasukma disana.
Beberapa kali Mbah Walang mengangguk atas apa yang dibisikan oleh Pak Brata, hingga akhirnya. tangannya terlihat seperti sedang menunjuk Ardi dari kejauhan, dan setelah itu dia menyuruh Mbah Walang kembali ke tempat semula untuk mengawasi tim rarasukma yang pada saat ini sedang membuat video dokumenter di depan sana.
“Iye, biasanya lu cepet masalah makanan, lu vegetarian ya sekarang,” tambah Dimas sambil makan dengan lahapnya.
“Sama, si Rara juga ga mau makan ayamnya, kenapa lu ra, lu couplean sama si Ardi sekarang.”
“Ah lu gitu, padahal gue ngejar-ngejar elu tapi lu nya malah sama si Ardi,” kata Danang yang bercanda di tengah-tengah sarapan pagi yang mereka lakukan di pagi ini.
“Yee, kan lu tau sendiri nang, gue ga bisa pacaran dulu sebelum kuliah gue beres, lu ntar ngejar guenya pas udah lulus, pas dah kerja.”
“Mana gue juga kalau makan kan sedikit nang, inget lemak ntar kolestro, si Dimas ngamuk kalau badan gue gemukan dikit, ntar ga banyak endorse yang masuk kalau wajah gue penuh jerawat dan berat badan gue naik,” kata Rara sambil cemberut.
Rara memang harus menjaga pola makan, dan itu sudah di sepakati oleh semua tim rarasukma. apalagi karena Rara adalah ujung tombak yang seringkali tampil di depan kamera dan di media sosial, sehingga dia dituntut untuk sempurna.
Dimas yang mengelola media sosial seluruh tim seringkali memarahi Rara apabila dia terlalu banyak makan, tubuh Rara memang harus di jaga sebagaimana mestinya. berbeda dengan Dewi dan teman-temannya yang berada di belakang layar. yang tidak meperdulikan apa yang dia makan, tapi mereka harus standby dengan semua hal-hal diluar apa yang dilakukan Rara di depan kamera.
Ada alasan lain sebenarnya Rara tidak ingin makan ayam goreng disana, seperti ada sesuatu yang menolaknya untuk mengambil hal tersebut. sesuatu yang berbisik ke telinganya yang seolah-olah melarang memakan ayam yang terlihat lezat itu di depannya.
Namun, dia juga sedikit melirik ke arah Ardi. tidak biasanya Ardi nampak sedikit pendiam sekarang, dia hanya makan beberapa tempe dan tahu tanpa menyentuh ayam itu sedikit pun.
‘Ada apa sebenarnya ama tuh anak, apakah dia juga sama menghindari ayam itu untuk di makan.’
‘Biasanya tuh anak paling heboh kalau urusan makan sama si danang.’
Rara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya secara perlahan, dia menatap makanan itu sembari menatap orang-orang yang sibuk makan di depannya.
Hingga,
‘Astaga’
Wajahnya sedikit kaget ketika dia melihat Mbah Walang, matanya sedikit menatap dia dengan tatapan yang tajam sembari memasukan makanan ke arah mulutnya.
Dia juga menatap Ardi dengan tatapan yang sama pada saat itu. tidak ada obrolan apapun antara Mbah Walang, Aji dan Eko ketika sarapan tiba. Pak Brata juga nampaknya masih tertidur pulas di kamarnya dan belum bangun hingga saat ini.
‘Ada yang tidak beres.’
Batin rara terus-terus mempertanyakan hal-hal yang tidak dimengerti olehnya di pagi itu. karena ada beberapa orang yang tingkah lakunya mencurigakan di pagi ini.
***
Tak terasa, waktu kini sudah menunjukan jam sepuluh pagi. Pak Brata nampak sudah terbangun dan membersihkan diri.
Dia meminta maaf kepada mereka semua karena ada hal yang harus dia kerjakan pada malam itu sehingga dia terbangun d siang hari. Rara dan Dewi yang pada saat itu mengobrol dengan Pak Brata memaklumi apa yang dia lakukan, karena mereka berdua tau bagaimana dia harus mengontrol perusahaan meskipun dirinya sedang jauh di tempat yang susah dengan sinyal internet seperti ini sehingga dia seringkali mengorbankan jadwal tidurnya untuk urusan perusahaan.
“Bagaimana semuanya sudah siap,” kata Pak Brata sambil tersenyum.
Ardi, Dimas, Danang, Rara serta Dewi pun mengangguk. mereka membawa peralatan yang bisa mereka bawa di dalam tas punggung yang mereka pakai.
Penampilan mereka pun seketika berubah, topi safari, jacket, baju, celana, tas backpack, juga tas slempang dan sepatu semuanya baru dengan logo perusahaan Pak Brata yang menempel disana.
Di sini Pak Brata memberi kuasa penuh kepada Dewi untuk melakukan dokumentasi atas apa yang sudah dia sepakati dengan pak brata pada saat itu.
Sehingga, tim rarasukma yang kini mempimpin perjalanan dan ditemani oleh Adang dan Entis selaku porter dan penunjuk arah. sedangkan Pak Brata, Mbah Walang dan kedua pengawalnya mengikuti mereka di belakang.
Akhirnya, perjalanan mereka pun dimulai. mereka melangkahkan kaki mereka melewati jalanan setapak ke dalam hutan.
“Hey, bengong aja, ayo, ntar suara si Rara putus kalau operatornya ga ikut jalan,” kata Dimas yang menepuk Ardi sambil memegang kamera.
“Eh, iya, iya.”
Ardi hanya mengangguk dan berajalan mengikuti Dimas. namun pandangannya terus-terusan memandangi belakang rumah yang dia lewati sekarang. dia seperti melihat sesuatu yang berbeda. dengan apa yang dia lihat semalam.
‘Bukannya kemarin malam banyak sekali tetesan darah yang ada di sana ya, seharusnya sudah mengering dan susah untuk dibersihkan.’
‘Tapi, kenapa sekarang menghilang,’ kata batinnya yang mempertanyakan tentang darah yang tiba-tiba menghilang disana.
“WOY.”
“BENGONG TERUS, KESAMBET LU, AYO CEPET, MALU SAMA PAK BRATA.”
Dimas yang sedikit emosi menepuk pundak Ardi dengan sedikit keras. dia mengajak Ardi untuk segera berjalan karena melihat Pak Brata yang mengikuti mereka dari belakang.
“Eh, iya, iya. bentar-bentar.”
“Ra, ra, bentar gue setting dulu suaranya, lupa nyetting clip on ini,” kata Ardi sambil berlari mendekati Rara yang sudah berjalan di depan sana bersama Dewi dan Danang.
gerak-gerik Ardi nampaknya di ketahui oleh Pak Brata. dia seperti melihat ada suatu keanehan ketika melihat dirinya pada saat itu.
Beberapa kali dia juga menengok ke arah rumah. tak lama. dia memanggil Mbah Walang yang berada di dekatanya.
Mbah Walang hanya mengangguk dan mendekatinya pada saat itu, lalu tak lama kemudian Pak Brata terlihat seperti sedang membisikan sesuatu kepada Mbah Walang. dia terlihat serius sambil melihat tim rarasukma disana.
Beberapa kali Mbah Walang mengangguk atas apa yang dibisikan oleh Pak Brata, hingga akhirnya. tangannya terlihat seperti sedang menunjuk Ardi dari kejauhan, dan setelah itu dia menyuruh Mbah Walang kembali ke tempat semula untuk mengawasi tim rarasukma yang pada saat ini sedang membuat video dokumenter di depan sana.
papahmuda099 dan 21 lainnya memberi reputasi
22
Kutip
Balas
Tutup