- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Diubah oleh jurigciwidey 25-08-2023 14:07
iwakcetol dan 49 lainnya memberi reputasi
48
35.6K
Kutip
433
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#33
BAB 9 : SATU BULAN KEMUDIAN
Quote:
“Dew, sepertinya selain konten yang ada di rumah itu, view nya ga meledak lagi.”
“Bahkan pendapatan kita segini nih, bayar operasional basecamp ama bensin kendaraan dinas si Danang aja ga cukup kalau gini.”
Dimas yang sedang mengutak-ngatik laptop tiba-tiba memperlihatkan analitik dari platform konten yang mereka buat.
Rara yang kini sudah tinggal di basecamp karena kejadian itu kini lebih memilih membuat konten di siang hari, membuat suatu konten selain horror yang sudah dia jalani dan menjadi terror baginya satu bulan yang lalu.
Apa yang dia rasakan tentang malam itu di kost pun masih terasa baginya, matanya masih terbuka untuk melihat hal-hal yang tak kasat mata sekarang.
Namun, Dewi serta ketiga temannya yang kini menemani dirinya di basecamp. Membuat dirinya terasa aman, karena dirinya mempunyai teman dan mereka tidak berani mendekat untuk menampakan dirinya ketika rara sedang berada di sekitar teman-temannya.
“Apa kita harus horror lagi ya.”
Ardi yang duduk di dekat Dimas sambil memainkan game hp bersama Danang kini ikut dalam obrolan itu.
“Ah elu, kan lu tau sendiri si Rara sekarang ga mau horror-horroan lagi. ga kasian apa kemaren ampe kayak gitu,” jawab Danang yang duduk di dekatnya.
“Ya kan, dulu kita udah mau rubah konsep, lu nanti inframe sama Dewi juga, jadi lu bertiga disana. wong tugas lu cuman nyupir sama angkut-angkut dan masangin peralatan.”
“Itung-itung lu jagain si Rara, lumayan kan kalau si Rara takut ntar meluk lu,” kata Ardi sambil sedikit mengejek Danang disana.
“Hush, udah-udah tuh lu mati lho, tower kita mau ancur nih,” kata danang dengan nada yang ketus dan menyuruh Ardi kembali memandangi game HP yang sedang mereka mainkan berdua.
“Jadi gimana wi.”
Dimas yang sudah memperlihatkan data dari laptopnya kembali bertanya ke arah Dewi pada saat itu.
“mmmmm, bentar.”
“Si Rara masih belum pulang kuliah kan ya,” kata Dewi yang tiba-tiba menengok ke arah pintu pada saat itu.
Dimas menggeleng-gelengkan kepala, dia tau bahwa hari ini Rara punya jadwal kuliah yang cukup banyak. Sehingga pada saat ini dirinya sedang tidak ada di basecamp dan akan datang ketika sore hari nanti.
“Sebenarnya, gue mendapatkan email, tepat satu hari setelah kita live kemarin. ketika si Rara kecelakaan.”
“Karena melihat si rara shocknya sampe seperti itu, email itu gue ga bales, dan lupa memberitahukannya kepada lu semua, karena gue yakin si Rara pasti akan nolak.”
“tapi….”
Dewi berpikir sejenak, dia seperti memikirkan sahabatnya sekarang. Di satu sisi, konten yang dia buat sudah menjadi mata pencaharian bagi teman-teman mereka, di saat uang dari orang tua mereka di kampung yang terbatas membuat mereka harus susah payah mendapatkan penghasilan lain untuk hidupnya.
Apalagi, Danang, Dimas, Ardi dan Rara bukan berasal dari orang berada. dan dengan bantuan dirinya dan konten yang mereka buat. mereka berempat kini bisa hidup layak di tengah-tengah kuliah yang kini sedang mereka jalani di tempat itu.
“Tapi apa wi,” kata Dimas yang mencoba bertanya kembali.
“Hmmm, gue sebenarnya masih bingung.”
“Tawaran emailnya sepertinya menggiurkan, karena dia ingin membuat suatu konten seperti expedisi lagi ke salah satu tempat yang dia inginkan.”
“Dan kita ingin membuat dokumentasikan hal tersebut dengan memakai produk-produk outdoor miliknya.”
“Salah satu produk outdoor yang sedang naik daun, bahkan kini terkenal di lingkungan kampus.”
“Tapi ya, tempat itu katanya tempat yang paling seram karena tempat itu belum pernah di expose sama sekali.”
“Dan, dan dia ingin sekali konten yang dia buat viral bersama produk-produk yang dia bawa di tubuh kita, sehingga bisa meningkatkan penjualan produk mereka.”
Dimas langsung terdiam, pikirannya langsung melayang ke sebuah produk outdoor yang kini sedang booming di kalangan mahasiswa, sebuah produk yang menjadi trendsetter di kalangan anak muda karena produknya tidak hanya bisa di pakai untuk naik gunung. namun bisa dipakai untuk kegiatan sehari-hari.
Danang dan Ardi yang sedang sibuk main HP pun mendadak menghentikan permainannya, obrolan dari Dewi seperti menyedot perhatian mereka sehingga mereka terlihat sangat serius mendengarkan.
Bahkan Danang tiba-tiba berdiri dan berjalan menuju mobil yang terparkir diluar dan kembali sambil membawa sesuatu.
“Produk yang lu bicarakan ini wi,” kata Danang sambil membawa tas pinggang kecil dengan logo yang nampak familiar.
Dewi yang melihat tas yang dibawa Danang hanya mengangguk pelan dan mengiyakan bahwa itu adalah produk yang akan menjadi sponsor mereka.
“Kenapa lu ga bales email itu, dan kita bisa expedisi bersama mereka, gue yakin duitnya gede itu wi,” kata Danang yang tiba-tiba bersemangat.
“Masalahnya Rara nang, gue takut dia ketakutan lagi.”
Dewi kali ini benar-benar memikirkan sahabatnya, pikirannya tidak karuan karena dia takut hal itu terjadi lagi pada sahabatnya.
Apalagi, sekarang tidak seperti dulu lagi. hidupnya tiap malam seperti ketakutan karena dia seringkali melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh manusia lain pada umumnya.
Sehingga Dewi yang paling dekat dengan dirinya merasakan jelas perbedaan kepada sahabatnya ini.
“Ya sudah mendingan gini aja, coba lu bales aja dulu emailnya.”
“Kita negosiasi dulu, kalau perlu, kita minta dia sewain paranormal yang bisa jagain si Rara, agar dia merasa aman di perjalanan.”
“Nanti kita temukan dia dengan Rara, mau bagaimana pun Rara adalah ujung tombak dari konten kita, Rara ga ok ya kita juga ga ok,” kata Dimas yang mencoba mencari solusi akan hal itu.
Dewi yang mendengar hal itu hanya mengangguk, analitik yang ada di layar laptopnya dia close dan dengan cepat dia membuka email dari tim rarasukma, mencari email endorse itu dari tumpukan email-email spam yang masuk ke dalamnya.
“Kita jawab sekarang nih,” kata Dewi yang bertanya sekali lagi kepada mereka bertiga.
“Iya, atur waktu aja buat ketemu kita. nanti kita semua pergi kesana untuk berdiskusi, terutama untuk meyakinkan si Rara bahwa ini project gede. disana juga kita akan meminta seseorang untuk menjaga Rara agar dia tidak ketakutan lagi dibelakang kamera.”
“Jujur wi, konten kita yang horror itu lebih meledak, bahkan setelah dibagi berlima pun bisa lebih dari cukup untuk hidup kita disini.” kata Ardi yang mencoba meyakini Dewi atas apa yang sedang dia lakukan.
“Ya sudah, gue sudah bales tuh. gue juga sudah kasih kontak gue agar mereka bisa langsung menghubungi kita lagi.” jawab Dewi sambil memperlihatkan balasan email kepada mereka semua.
***
Basecamp tempat mereka tinggali adalah sebuah rumah kecil milik orang tua Dewi yang tidak di pakai. dan Dewi merupakan anak satu-satunya yang kondisi ekonominya lebih dari cukup dibandingkan dengan Rara dan teman-temannya.
Dia adalah salah satu anak dari pejabat dari kota tempat mereka kuliah, sehingga dia bisa mengcover segala kebutuhan tim rarasukma dari mulai peralatan, kendaraan bahkan uang makan bagi mereka semua.
Namun, dewi tidak semena-mena melakukan hal itu dengan gratis. dia ingin tim yang dia buat menjadi sebuah pembuktian bahwa dia bisa mencari uang sendiri tanpa ada bantuan dari orang tuanya
Karena dia tidak mau, mengikuti jejak orang tuanya di pemerintahan dan terkekang oleh suatu aturan dari keluarganya pada saat itu. sehingga, tim rarasukma sengaja dia buat agar dia bisa terbebas dan bisa melakukan apapun yang dia mau.
***
Terlihat, sebuah martabak manis di sajikan di tengah rumah. Danang dan Ardi nampak dengan lahap memakan martabak itu sebagai santapan malam ala anak kost sambil memainkan game di HP mereka dari permainan yang sempat terhenti tadi siang.
Sedangkan Dimas, terlihat masih sibuk dengan laptopnya. matanya terus-terusan menatap layar, dia yang bertugas mengelola semua akun tim rarasukma. termasuk akun Rara yang kini mencapai puluhan ribu pengikut membuat matanya tidak lepas dari layar laptopnya.
Sedangkan Dewi dan Rara, nampak sedang asik bercengrama sambil duduk di sebuah bantal kecil yang menjadi tempat favorit mereka.
Dewi sengaja menyibukan diri bersama Rara, meskipun dalam obrolannya seringkali dia melihat mata Rara yang terlihat tidak fokus melihatnya. matanya seperti sedang memandangi sesuatu yang berada di sekitar mereka.
Entah apa yang Rara lihat di setiap malamnya, namun ketika melihat hal itu. Dewi akan dengan cepat mengalihkan perhatian Rara sehingga dia kembali fokus melihat wajahnya, dan melanjutkan obrolan yang terhenti sesaat ketika pandangan Rara teralihkan.
Tak Lama.
Drrrrt, drrrrt
Hp Dewi yang disimpan disana tiba-tiba berbunyi, ada sebuah telepon masuk dari nomor yang tidak dikenal. Dewi sempat memandangi hp itu sebentar lalu mengangkatnya sambil menjawab telepon yang masuk itu.
“Hallo,” kata Dewi dengan nada yang pelan.
Terdengar sebuah suara dengan nada yang berat, sebuah suara dari seorang yang nampak sudah sedikit tua yang berbicara dengan sopan di dalam telepon yang Dewi angkat pada malam itu.
“Iya halo, apakah ini benar dengan tim rarasukma.”
“Saya Brata, pemilik dari produk yang akan mensponsori konten kalian.”
“Bisa kita atur jadwal untuk bertemu, agar kita bisa mendiskusikan semuanya sebelum saya memberikan nilai kontrak untuk mensponsori kalian nantinya.”
“Karena saya yakin, apa yang nanti kita lakukan akan membuat jagat maya heboh.”
“Karena tempat yang akan kita datangi adalah tempat yang terpencil dan belum pernah terexpose media, namun disana adalah tempat yang menyeramkan, dan itu cocok dengan kalian setelah saya melihat live yang sudah kalian lakukan di rumah berhantu itu.”
Diubah oleh jurigciwidey 09-06-2023 09:10
sampeuk dan 22 lainnya memberi reputasi
23
Kutip
Balas